dangdut dan pemilu
Sunday, January 24, 2010 2:06:36 PM
NAMA :FRIDA ANANDITYA (AYU)
NPM :10080006105
“dia tidak cantik ma
Dia tidak jelek ma
Yang sedang-sedang saja..yang penting dia setia
Sedalam-dalamnya lautan India,
Lebih dalam lagi cintaku padanya”
Kurang lebih seperti inilah lirik lagu yang sangat familiar ditelinga masyarakat.
Ya, dangdut, adalah salah satu budaya aliran musik asli Indonesia. Yang dimana seluruh lapisan masyarakat menyukainya. Musik yang mendayu ceria, suara “cengkok” sang penyanyi yang indah, lirik yang sederhana tapi menggigit, membuat semua orang secara sadar atau tidak sadar menggerakkan badan mengikuti irama dengan berbagai macam bentuk, ada yang menggoyangkan pinggangnya, ada yang mengacungkan 2 jempol dan menggerakkannya ke atas dan kebawah, ada yang kepalanya geleng-geleng dan masih banyak lagi.
Tapi lagi-lagi, semua hal yang berhubungan dengan “goyangan” mengakibatkan kontroversi. Dangdut yang tak bisa lepas dari dua unsur penting(suara dan goyangan). Penyanyi-penyanyi dangdut mulai mengimprovisasi gerakan-gerakan aluran musik dangdut menjadi goyangan vulgar yang mengakibatkan naiknya birahi kaum lelaki. Mungkin bila artis dangdut, mempunyai batasan-batsan tersendiri karena menjadi sorotan public dan sasaran media massa, tapi bagaimana dengan penyanyi dangdut panggilan? Yang biasanya tampil hanya dalam acara tertentu, seperti kawinan, 17an dan sejenisnya.
Kelompok kami mewawancarai seorang penyanyi panggilan bernama Desi Febrianti untuk menanyakan tanggapan tentang kehidupannya menjadi penyanyi panggilan.
Singkat cerita, kami mewawancarainya pada sebuah acara perkawinan, dimana ia membawa nama PT Pos Indonesia, dan ia hanya kerja sambilan sebagai penyanyi dangdut. Ia mengatakan bahwa tentang tarian penyanyi dangdut, itu tak lepas dari seni. Tetapi seorang seniman bias membedakan mana tarian vulgar dan mana tarian yang hanya mengikuti irama musik. Seniman juga bias menerima kritikan dari luar yang membuat mereka (seniman) introspeksi pada diri masing-masing. Menurutnya (mbak desi), ia mempunyai batasan-batasan sebagai seorang penyanyi panggilan, baju tertutup ,ketat dan hanya sedikit terbuka yang menampilkan image “seksi” dan “penasaran” . ia sangat tidak setuju dengan tarian dangdut yang terlalu seronok, seperti “Dewi Persik” yang dicekal oleh walikota tempat ia pentas. Saat itu sempat kita bergosip dan membicarakan bahwa sangat berlebihan sifat dewi persik yang menantang seorang walikota yang bisa dikatakan ia adalah iman dari daerah itu sendiri.
Ia juga berbicara bahwa ia sangat prihatin dengan teman seperjuangan yang menggunakan gerakan sebagai sumber utama pekerjaannya dan bukan dibidang tarik suara. Karena menurutnya, wanita baik dipanggung atau dimanapun tetap mempunyai harga diri dan control norma yang harus dijaga. Menurutnya sangat bukan seniman dangdut, apabila ada penyanyi dangnut yang goyangannya memperlihatkan payudara, pantat, dan bagian badan yang menonjol lainnya. Bukan hanya itu, penyanyi dangdut panggilan juga dikaitkan mempunyai “pekerjaan ganda” alias wanita malam atau pelacur. Pada saat kita menanyakan tanggapan tersebut, mbak desi memang mengiyakan adanya sekelompok orang seperti itu, dan para orang tersebut itulah yang membuat image jelek pada seni dangdut.
Tapi lepas dari kontroversi itu, dangdut tetap menjadi salah satu yang terfavorit bagi Indonesia. Seperti lagu project pop-dangdut is the music of my country. Dan karena disukai semua kalangan itulah maka hampir pada semua acara- acara diselipkan para penyanyi dangdut untuk menarik penonton. Taktik menarik penyanyi dangdut dalam beberapa acara ini rupanya dipakai juga dalam dunia pergulatan politik. Pemilihan gubernur jawa Barat, mengambil taktik ini saat berkampanye untuk menarik perhatian dari masyarakat. Dan rupanya taktik ini sukses berat. Semua kalangan datang dan mengikuti acara kampaye Cagub tersebut bukan untuk mendengar pidato calon gubernur serta visi dan misi mereka, melainkan untuk bergabung dan menonton acara dangdutannya kampanye calon gubernur tersebut. Memang tidak semua orang seperti itu,namun menurut data yang saya terima, karena pada saat itu saya sempat satu angkot dengan segerombolan orang berbaju sama, warna orange depannya gambar pasangan cagub “HADE”. Sedikit cuplikan hasil pembicaraan kami:
Bu, ikut kampanye yah?
Iya neng..
Mmm, apa ibu tim sukses HADE?
Tim sukses? Wah, bukan neng..
Oh, ibu Cuma pendukung HADE yah?
Buka juga non, saya sama keluarga mau kesini supaya dapet stiker gratis sama liat dangdutan non..
Oohhh…
Hmm, gara-gara kejadian tersebut, saya jadi semakin tidak yakin akan orang yang dipilih oleh masyarakat nanti. Apakah ia dipilih karena dipercaya oleh masyarakat mampu mengubah jawa barat menjadi lebih baik, atau mungkin malah hanya karena “dangdut” dan “kaos gratis”?
Kutipan wawancara:
Sejak kapan ibu menjadi penyanyi?
Dari sd saya sudah suka menyanyi.karena lingkungan, orang tua, ayah saya seorang penyanyi. Dan ibu saya seorang penyanyi keroncong yang pernah juara di propinsi jawa barat dan tingkat nasional. Tapi orang tua saya sendiri tidak pernah berkeinginan anaknya untuk menjadi seorang penyanyi. akhirnya saya tidak menyanyi tapi hanya mengikuti kejuaran – kejuaran daerah, saya juga ikut les tari jaipong yang lagi booming pada tahun 1989. Teruskan ada band juga, jadi saya ikut – ikutan menyanyi.akhirnya saya jadi menyanyi lagi
Ibu bisa menyanyi dangdut?
Bisa sekali – kali tapi tidak terlalu ahli soalnya karakter saya dari keroncong, tahun 1984 sampai final jabar juara harapan 2, saat itu sudah ada kerja dan punya anak 1, saya nyanyi tidak untuk acara kantor saja
Ibu bergabung dengan band ini kapan?
Sejak tahun 1976, di saat bekerja di PT Pos Indonesia, di sana saya juga menyanyi. Jadi pada saat itu saya baru keluar dari pekerjaan sekertaris, grup dari PT Pos Indonesia. Di saat mau casting turi, saya diminta bergabung jadi selain menyanyi akhirnya saya menjadi karyawan PT Pos Indonesia
Ibu suka ngisi acara dikampung2 juga?
Jarang paling sekali2, tapi biasanya nyanyi di acara kawainan di gedung2 seperti ini, terkadang saya sebagai pembawa acaranya.
Ada anggapan bahwa penyanyi keliling itu terutama dangdut terkesan murahan, bagaimana tanggapan ibu?
Kebetulan adik saya adalah seorang penyanyi dangdut. Sekarang dia kerja di salah satu stasiun tv di Bandung sebagai penyanyi dangdut juga. Pendapat saya tentang ini tentang yang tadi adalah memang didalam seni itu sering di kaitkan ke dalam hal yang negative. Apalagi dangdut yang penampilanynya sedikit senorok. Saya pikir kadang norak, meskipun saya bukan anti dangdut tapi menurut saya seharusnya penyanyi dangdut tidak harus berpenampilan seperti itu. Dengan pakainya yang biasa2 saja dan dandanan yang tidak seronok pun bias juga menaraik perhatin penonton. kadang suka menyayangkan malah terkadang ada yang berprofesi ganda, karena dengan hal2 yang seperti itu dekat sekali.
Dangdut sering dikaitkan dengan inul dan goyanganya, apakah itu perlu atau hanya vokalnya saja?
Menurut saya gerakan itu alami, kalau goyangan yah silahkan saja. Tapi kan ada batasanya. Jangan terlalu over, kalau perlu ditambahkan kalau tampil di depan umum atau yang heterogen ada laki, perempuan dan anak2 , janganlah bertarian yang seperti iti. Tapi apabila ditempat yang khusus, kaya amerika yang menyediakan,tarian seperti itu sah2 saja
Kampanye pilkada itu ada dangdutan, menurut ibu apa yang membuat para kampanye menyiasati dangdut?
Itu termasuk politik, coba di tampilkan khasidahan pasti yang datang hanya sedikit, tapi kan kalau dangdut itu heterogen. Cuma kalau gerakan itu kembali lagi pada si penyanyinya sendiri. Yang dimana semua aperatur mencekal pada tarian seperti itu, contoh inul, dewi persik, karena dianggap mengundang nafsu birahi
………………………….
Dari tahun berapa teh Desy menjadi penyanyi dangdut?
Dari tahun berapa ya, sudah 4 tahun
Kenapa memilih dangdut bukan memilih jenis musik yang lain?
Soalnya emang suka dangdut. Hobi dari kecil.
Teh Desy pernah manggung di mana saja dan pernah di undang untuk mengisi acara hajatan?
Sering manggungnya di bekasi ama di sukabumi. Ngisi acara hajatan juga sering.
Kalau di undang untuk mengisi acara kampanye – kampanye politik pernah tidak?
Pernah , kemarin – kemarin manggung buat acara kelurhan di sukabumi gitu. Tapi nggak tahu buat kampanye apa…
Teh Desy kemarin ikut nyoblos tidak?
Waktu pas ada pencoblosan belum 17 tahun. Jadi nggak ikutan
Kalau misal waktu itu sudah boleh nyoblos, Teh Desy ngejagoin siapa?
Ngejagoin yang nomor 3 ….
NPM :10080006105
“dia tidak cantik ma
Dia tidak jelek ma
Yang sedang-sedang saja..yang penting dia setia
Sedalam-dalamnya lautan India,
Lebih dalam lagi cintaku padanya”
Kurang lebih seperti inilah lirik lagu yang sangat familiar ditelinga masyarakat.
Ya, dangdut, adalah salah satu budaya aliran musik asli Indonesia. Yang dimana seluruh lapisan masyarakat menyukainya. Musik yang mendayu ceria, suara “cengkok” sang penyanyi yang indah, lirik yang sederhana tapi menggigit, membuat semua orang secara sadar atau tidak sadar menggerakkan badan mengikuti irama dengan berbagai macam bentuk, ada yang menggoyangkan pinggangnya, ada yang mengacungkan 2 jempol dan menggerakkannya ke atas dan kebawah, ada yang kepalanya geleng-geleng dan masih banyak lagi.
Tapi lagi-lagi, semua hal yang berhubungan dengan “goyangan” mengakibatkan kontroversi. Dangdut yang tak bisa lepas dari dua unsur penting(suara dan goyangan). Penyanyi-penyanyi dangdut mulai mengimprovisasi gerakan-gerakan aluran musik dangdut menjadi goyangan vulgar yang mengakibatkan naiknya birahi kaum lelaki. Mungkin bila artis dangdut, mempunyai batasan-batsan tersendiri karena menjadi sorotan public dan sasaran media massa, tapi bagaimana dengan penyanyi dangdut panggilan? Yang biasanya tampil hanya dalam acara tertentu, seperti kawinan, 17an dan sejenisnya.
Kelompok kami mewawancarai seorang penyanyi panggilan bernama Desi Febrianti untuk menanyakan tanggapan tentang kehidupannya menjadi penyanyi panggilan.
Singkat cerita, kami mewawancarainya pada sebuah acara perkawinan, dimana ia membawa nama PT Pos Indonesia, dan ia hanya kerja sambilan sebagai penyanyi dangdut. Ia mengatakan bahwa tentang tarian penyanyi dangdut, itu tak lepas dari seni. Tetapi seorang seniman bias membedakan mana tarian vulgar dan mana tarian yang hanya mengikuti irama musik. Seniman juga bias menerima kritikan dari luar yang membuat mereka (seniman) introspeksi pada diri masing-masing. Menurutnya (mbak desi), ia mempunyai batasan-batasan sebagai seorang penyanyi panggilan, baju tertutup ,ketat dan hanya sedikit terbuka yang menampilkan image “seksi” dan “penasaran” . ia sangat tidak setuju dengan tarian dangdut yang terlalu seronok, seperti “Dewi Persik” yang dicekal oleh walikota tempat ia pentas. Saat itu sempat kita bergosip dan membicarakan bahwa sangat berlebihan sifat dewi persik yang menantang seorang walikota yang bisa dikatakan ia adalah iman dari daerah itu sendiri.
Ia juga berbicara bahwa ia sangat prihatin dengan teman seperjuangan yang menggunakan gerakan sebagai sumber utama pekerjaannya dan bukan dibidang tarik suara. Karena menurutnya, wanita baik dipanggung atau dimanapun tetap mempunyai harga diri dan control norma yang harus dijaga. Menurutnya sangat bukan seniman dangdut, apabila ada penyanyi dangnut yang goyangannya memperlihatkan payudara, pantat, dan bagian badan yang menonjol lainnya. Bukan hanya itu, penyanyi dangdut panggilan juga dikaitkan mempunyai “pekerjaan ganda” alias wanita malam atau pelacur. Pada saat kita menanyakan tanggapan tersebut, mbak desi memang mengiyakan adanya sekelompok orang seperti itu, dan para orang tersebut itulah yang membuat image jelek pada seni dangdut.
Tapi lepas dari kontroversi itu, dangdut tetap menjadi salah satu yang terfavorit bagi Indonesia. Seperti lagu project pop-dangdut is the music of my country. Dan karena disukai semua kalangan itulah maka hampir pada semua acara- acara diselipkan para penyanyi dangdut untuk menarik penonton. Taktik menarik penyanyi dangdut dalam beberapa acara ini rupanya dipakai juga dalam dunia pergulatan politik. Pemilihan gubernur jawa Barat, mengambil taktik ini saat berkampanye untuk menarik perhatian dari masyarakat. Dan rupanya taktik ini sukses berat. Semua kalangan datang dan mengikuti acara kampaye Cagub tersebut bukan untuk mendengar pidato calon gubernur serta visi dan misi mereka, melainkan untuk bergabung dan menonton acara dangdutannya kampanye calon gubernur tersebut. Memang tidak semua orang seperti itu,namun menurut data yang saya terima, karena pada saat itu saya sempat satu angkot dengan segerombolan orang berbaju sama, warna orange depannya gambar pasangan cagub “HADE”. Sedikit cuplikan hasil pembicaraan kami:
Bu, ikut kampanye yah?
Iya neng..
Mmm, apa ibu tim sukses HADE?
Tim sukses? Wah, bukan neng..
Oh, ibu Cuma pendukung HADE yah?
Buka juga non, saya sama keluarga mau kesini supaya dapet stiker gratis sama liat dangdutan non..
Oohhh…
Hmm, gara-gara kejadian tersebut, saya jadi semakin tidak yakin akan orang yang dipilih oleh masyarakat nanti. Apakah ia dipilih karena dipercaya oleh masyarakat mampu mengubah jawa barat menjadi lebih baik, atau mungkin malah hanya karena “dangdut” dan “kaos gratis”?
Kutipan wawancara:
Sejak kapan ibu menjadi penyanyi?
Dari sd saya sudah suka menyanyi.karena lingkungan, orang tua, ayah saya seorang penyanyi. Dan ibu saya seorang penyanyi keroncong yang pernah juara di propinsi jawa barat dan tingkat nasional. Tapi orang tua saya sendiri tidak pernah berkeinginan anaknya untuk menjadi seorang penyanyi. akhirnya saya tidak menyanyi tapi hanya mengikuti kejuaran – kejuaran daerah, saya juga ikut les tari jaipong yang lagi booming pada tahun 1989. Teruskan ada band juga, jadi saya ikut – ikutan menyanyi.akhirnya saya jadi menyanyi lagi
Ibu bisa menyanyi dangdut?
Bisa sekali – kali tapi tidak terlalu ahli soalnya karakter saya dari keroncong, tahun 1984 sampai final jabar juara harapan 2, saat itu sudah ada kerja dan punya anak 1, saya nyanyi tidak untuk acara kantor saja
Ibu bergabung dengan band ini kapan?
Sejak tahun 1976, di saat bekerja di PT Pos Indonesia, di sana saya juga menyanyi. Jadi pada saat itu saya baru keluar dari pekerjaan sekertaris, grup dari PT Pos Indonesia. Di saat mau casting turi, saya diminta bergabung jadi selain menyanyi akhirnya saya menjadi karyawan PT Pos Indonesia
Ibu suka ngisi acara dikampung2 juga?
Jarang paling sekali2, tapi biasanya nyanyi di acara kawainan di gedung2 seperti ini, terkadang saya sebagai pembawa acaranya.
Ada anggapan bahwa penyanyi keliling itu terutama dangdut terkesan murahan, bagaimana tanggapan ibu?
Kebetulan adik saya adalah seorang penyanyi dangdut. Sekarang dia kerja di salah satu stasiun tv di Bandung sebagai penyanyi dangdut juga. Pendapat saya tentang ini tentang yang tadi adalah memang didalam seni itu sering di kaitkan ke dalam hal yang negative. Apalagi dangdut yang penampilanynya sedikit senorok. Saya pikir kadang norak, meskipun saya bukan anti dangdut tapi menurut saya seharusnya penyanyi dangdut tidak harus berpenampilan seperti itu. Dengan pakainya yang biasa2 saja dan dandanan yang tidak seronok pun bias juga menaraik perhatin penonton. kadang suka menyayangkan malah terkadang ada yang berprofesi ganda, karena dengan hal2 yang seperti itu dekat sekali.
Dangdut sering dikaitkan dengan inul dan goyanganya, apakah itu perlu atau hanya vokalnya saja?
Menurut saya gerakan itu alami, kalau goyangan yah silahkan saja. Tapi kan ada batasanya. Jangan terlalu over, kalau perlu ditambahkan kalau tampil di depan umum atau yang heterogen ada laki, perempuan dan anak2 , janganlah bertarian yang seperti iti. Tapi apabila ditempat yang khusus, kaya amerika yang menyediakan,tarian seperti itu sah2 saja
Kampanye pilkada itu ada dangdutan, menurut ibu apa yang membuat para kampanye menyiasati dangdut?
Itu termasuk politik, coba di tampilkan khasidahan pasti yang datang hanya sedikit, tapi kan kalau dangdut itu heterogen. Cuma kalau gerakan itu kembali lagi pada si penyanyinya sendiri. Yang dimana semua aperatur mencekal pada tarian seperti itu, contoh inul, dewi persik, karena dianggap mengundang nafsu birahi
………………………….
Dari tahun berapa teh Desy menjadi penyanyi dangdut?
Dari tahun berapa ya, sudah 4 tahun
Kenapa memilih dangdut bukan memilih jenis musik yang lain?
Soalnya emang suka dangdut. Hobi dari kecil.
Teh Desy pernah manggung di mana saja dan pernah di undang untuk mengisi acara hajatan?
Sering manggungnya di bekasi ama di sukabumi. Ngisi acara hajatan juga sering.
Kalau di undang untuk mengisi acara kampanye – kampanye politik pernah tidak?
Pernah , kemarin – kemarin manggung buat acara kelurhan di sukabumi gitu. Tapi nggak tahu buat kampanye apa…
Teh Desy kemarin ikut nyoblos tidak?
Waktu pas ada pencoblosan belum 17 tahun. Jadi nggak ikutan
Kalau misal waktu itu sudah boleh nyoblos, Teh Desy ngejagoin siapa?
Ngejagoin yang nomor 3 ….












