profil pelukis ternama yang tidak lulus kuliah
Sunday, January 24, 2010 2:14:09 PM
“Dunia itu berawal dari seni. Bgaiamana tidak? Apa namanya ketika kita melihat pemandangan yang desa yang begitu indah,natural dan amat sangat mengesankan. Tidak ada cacat sedikitpun. Itu seni! Itu sebuah keajaiban alam yang begitu membuat semua orang terpana. Sama halnya dengan binatang, sangat tidak mungkin kita manusia bisa membuat rumah seperti sarang lebah. Sarang lebah begitu dasyat dan kuatnya, menggantung dipohon dan melawan gravitasi bumi.sehebat apapun ilmu Ilmiah manusia, pasti mengalahkan Ilmu alam. Karenanya seni itu patut dipertahankan, apapun bentuknya, yang pasti seni membuat segalanya menjadi lebih hidup. Dan hal yang patut ditamankan dibenak semua orang adalah Benteng terkahir sebuah Negara adalah seni dan Budayanya. Bukan pada tangan pemerintah dan para politikus busuk yang menghancurkan kemurnian dan keaslian daripada Negara itu sendiri dan hanya mementingkan kelompok-kelompok kecil saja.” ucap salah seorang pelukis asal Jakarta ini. Kang Ardi Kana namanya.
Ia adalah salah satu pelukis ternama di Bandung yang sore itu sedang duduk di gallerynya yang ada di Jln Pasar Seni, Sabuga Selasa (16/12),dengan tangan kanan terdapat kuas dan rokok ditangan kirinya. Ia duduk santai dengan mata begitu konsentrasi pada finishing lukisannya tersebut. Setelah selesai, ia memandangi gambar tersebut dan menikmatinya. Namun, tetap saja ia merasa sedikit tidak puas “baguslah kalu saya tidak puas, karena menurut saya, dimana-mana seniman tidak pernah puas, kalau puas, berarti ia pasti akan berhenti jadi pelukis”ucapnya sambil minum Bandrek”ini minuman favorit para seniman”sambil tersenyum.
Tiap hari ia selalu memainkan warna diatas kanvas putih untuk menghasilkan karya yang bisa menjual, bisa dinikmati untuk dirinya sendiri, dan untuk orang lain. Ia yang lahir pada tanggal 8 januari 1954 Di Jakarta ini sudah mulai senang menggambar saat ia masih kecil. Ia yang dari kecil dibesarkan dan bersekolah di Bandung, ini mulai dari Tk sampai SMA, ia sudah meraih bermacam-macam penghargaan kejuaraan lomba menggambar dan melukis. salah satu contohnya adalah beliau memenangkan lomba melukis seluruh SMA dibandung yang pada masa itu ia bersekolah di SMA Pasundan satu. Saat SMA pun ia mulai menjulal lukisannya kepada beberapa guru yang diantaranya bernama Pak Tiki,guru kewarganegaraan. Pada saat SMP yang juga bersekolah di SMP pAsundan 1 Bandung, ia sering dimintai tolong temannya untuk menggambar sesuatu untuk temannya tersebut.
Selesai ia SMA, tidak langsung masuk ke jenjang perkuliahan, karena adanya perdebatan orangtua dan anak. Kang Ardi kekeuh ingin masuk ke Universitas jurusan Seni. Namun orangtuanya yang bekerja sebagai tentara dengan sifatnya yang dictator sangat tidak mengizinkan. Menurut ayahnya, seni baik itu melukis, musik ataupun lainnya itu tidak bisa dijadikan sebuah mata pencaharian pokok. Namun Kang Ardi percaya bahwa ia bisa hidup dengan sangat berkecukupan dengan menjadi seniman. Perdebatan itu membuat kang Ardi mogok kuliah selama setahun.” Saya tidak mau masuk jurusan yang tidak saya cintai. Karena menurut saya, masa depan itu ada ditangan saya, bukan kedua orangtua saya. daripada saya menyesal dikemudian hari, saya mogok kuliah, samai setahun kemudian saya berhasil merobohkan benteng orangtua saya. Akhirnya saya mulai kuliah tahun 1973 di Asri Yogyakarta jurusan STSRI”ucapnya. Kemudian karena factor malas dan lain hal, iapun pindah ke IKIP Bandung atau sekarang sudah berganti UPI jurusan FKSS pada tahun 1974. dan ia berkuliah disana hanya bertahan selama 2 tahun, selebihnya, ia mulai bekerja karena merasa jenuh dengan perkuliahan dan ingin cepat-cepat merasa seperti seniman sejati yang bebas, tidak mau menjadi seorang pekerja yang mempunyai bos dan harus disuruh-suruh.
Pada saat itu menggambar,melukis dan seni adalah segala-galanya. “sampai saat ini saya bersyukur sekali telah menentukan jalan yang sesuai keinginan saya dan membuahkan hasil yang bisa dibanggakan orangtua saya juga.”.
Setelah berhenti kuliah, ia bekerja di salah satu perusahaan Optical diBandung, kemudian sempat dipindahkan disemarang. Tahun 1977 ia menikah dan membuka usaha optical sendiri di Jln Lengkong Besar yang bernama “Oskar Optical”. Namun selang beberapa tahun, perusahaan optical tersebut bangkrut karena modal yang terbatas. Lalu ia mulai membuat komunitas pelukis yang bernama “Hisma” dan membuat pameran seni yang pertama kalinya Dibandung dengan komunitasnya. Sambil tetap melukis, ia bekerja menjadi Bartender di Blue Diamond, sebuah night club dari mulai tahun 1983-1985.
Walaupun ia melukis juga, namun kehidupannay kurang lengkap karena ia merasa kurang totalitas dengan adanya pekerjaan lain selain melukis.beliau merasa ia harus berubah.,” saya merasa saya harus memperjuangkan cita-cita saya terdahulu yang sempat terlupakan karena factor ekonomi saya dan istri yang tetap harus hidup, yaitu saya ingin menjadi seorang pelukis, tanpa adanya pekerjaan lain. Karena itu saya mengasingkan diri”. Ia pergi ke Bali tahun 1986 dengan meninggalkan Istri dan anak untuk mencari jati dirinya yang telah hilang. Ia mulai memperdalam serta mentotalitaskan pembelajaran melukisnya dan mulai mengenal banyak seniman dan pelukis disana. “saya belajar secara autodidact disana. banyak hal yang saya peroleh dari bali. Tempat dimana bisa dikatakan berjasa untuk saya” sambil mengucapkan kata-kata tersebut, matanya menerawang mengingat kembali kejadian sekitar 26 tahun yang lalu.
Ia dibali kurang lebih selama 12 tahun. Namun, perjuangannya membuahkan keuntungan yang besar. Setelah ia merasakan totalitas dalam melukis. Lukisannya pun lebih banyak terjual dengan harga yang Fantastic . “saya melukis untuk bermacam-macam orang. Tidak harus saya jual kepada orang yang suka dan tau akan seni. Ada beberapa orang pembeli dalam membeli lukisan. Ada yang membeli karena ia tahu seni, ada yang membeli lukisan karena ia suka ,seperti pemandangan dan hal-hal lainnya yang tidak abstrak, dan ada juga yang membeli lukisan karena memang untuk memenuhi desain ruangan atau rumahnya, ada juga yang kolektor lukisan. Dan harga yang saya tawarkan pada merekapun berbeda. Tergantung kebutuhan mereka.” Beliau menjelaskan.lukisannyapun dijual mulai dari sekitar 1 jutaan hingga puluhan dan bahkan ratusan juta.
Dalam kehidupannya dibali yang kauh dari istri dan anaknya, iapun mengakui adanya perselingkuhan dikota yang sangat indah itu “ saya mempunyai kenangan indah disana. Tidak hanya melukis, namun saya sempat berselingkuh dengan bule yang menetap disana”. Beliau tak memungkiri bahwa kehidupan yang kesepian itu membuatnya tersadar bahwa ia membutuhkan kasih sayang tanpa harus pulang ke Bandung. “saya tidak mau pulang sebelum membawa hasil yang maksimal”. Pada saat itu mulailah kang Ardi bertemu dengan buke itu dan menjalin hubungan yang cukup lama. Tapi kemudian mereka tersadar bahwa hal tersebut adalah sesuatu yang harus disudahi. “cerita percintaan yang terlarang itu juga termasuk memberi warna kehidupan untuk saya”ucapnya.
Terlepas dari cerita singkat percintaan beliau membuat beberapa pameran di Bandung, Jakarta, dan yang Amazing adalah pamerannya hingga Perth Australia. Ia juga mempunyai gallery sendiri di bandung, yaitu “Sanggar Olah Seni” Jln Siliwangi No.7, dan “tikalika Gallery” Jln Bungur No.37. ia juga membuka cabang di bali, di “Enhai café&gallery” Jln PopiesLine no 2, Kuta Bali. Namun pada tahun 2002 pada saat terjadi Bom Bali, ia pulang ke Bandung karena saat itu suasana sangan tidak memungkinkan orang perantauan untuk tinggal disana.
beliau membuat pameran-pameran bersama teman-temannya diberbagai tempat, diantaranya dibandung yaitu: Exhibition with Marsilea in MIDC Building (1978), Exhibition with Liga seni Rupa Indonesia in West Java Museum (1980), Exhibition in Bale Sumur Bandung Building(1982), Exhibition in Topaz Galleria Hotel (1982), Exhibition in Bandung giri Gahana Hotel (1982), Exhibition in Yayasan pusat Kebudayaan (2004), Exhibition “Sillaturahmi Daun-Daun” Gallery kita (2004), Exhibition with Nuansa Sunda Exhibition in Topaz Balleria hotel (2004), Exhibition art Deco Is Back in tikalika Gallery (2004), Exhibition From Bandung for Asia Africa in Gallery kita (2004), Exhibition in pendopo building (2005), Exhibition Roman Bandung in Gallery kita (2005), perjalanan in SOS Gallery (2005) , The Best 50 of painting, Lanraad Building (2005), ITB Science & Technology Art Fair (2005), Exhibition in Mayesti Apartment (2005), Exhibition In Upi Campus (2005), week End Art Fair in Bandung Gallery (2006), Week End Art Fair in Red Point Gallery(2006), Exhibition in Braga City Walk resort (2006), Exhibition “Suara Hati” in Papandayan Hotel (2006), Exhibition “Citra Kembara” in Goong Gallery (2007), Week End Art in Tikalika Gallery (2007), Exhibition “orkestrasi Lebah” in Goong Gallery (2007), dan Tribute to Barli-100 plus Indonesia Painter exhibition in Blar Seni Barli(2007). Lalu membuat pameran di Jakarta antara lain; exhibition with “Kelompok 9 pelukis Bandung” in INVAS Money Changer Building (2003), exhibition in Grand Melia Hotel (2003), exhibition with Basuki Bawono in Borobudur Hotel (2004). Dan yang luar biasa adalah :” exhibition in Perth Australia (1992)”
“hidup saya sangat berarti sekarang. Saya tidak pernah merasa jenuh atau bosan atau bahasa gaulnya Moodian dalam melukis. Karena menjadi pelukis adalah panggilan jiwa untuk saya. Melukis adalah kebutuhan Finansial dan Psikologis untuk saya. Dan saya bersyukur dengan karya-karya saya yang diminati segelincir orang, Walaupun penghasilan tidak bisa diprediksi membuat saya bisa hidup, menafkahi dan membiayai sekolah dan kuliah ketiga anak saya. Dan ingat, hidup adalah pilihan. Dan setiap kamu mengambil satu pilihan, berusahalah yang terbaik, jangan pernah mundur apalagi menyerah. Tunjukkan kalau pilihanmu memang yang terbaik untuk semua pihak.”
Ia adalah salah satu pelukis ternama di Bandung yang sore itu sedang duduk di gallerynya yang ada di Jln Pasar Seni, Sabuga Selasa (16/12),dengan tangan kanan terdapat kuas dan rokok ditangan kirinya. Ia duduk santai dengan mata begitu konsentrasi pada finishing lukisannya tersebut. Setelah selesai, ia memandangi gambar tersebut dan menikmatinya. Namun, tetap saja ia merasa sedikit tidak puas “baguslah kalu saya tidak puas, karena menurut saya, dimana-mana seniman tidak pernah puas, kalau puas, berarti ia pasti akan berhenti jadi pelukis”ucapnya sambil minum Bandrek”ini minuman favorit para seniman”sambil tersenyum.
Tiap hari ia selalu memainkan warna diatas kanvas putih untuk menghasilkan karya yang bisa menjual, bisa dinikmati untuk dirinya sendiri, dan untuk orang lain. Ia yang lahir pada tanggal 8 januari 1954 Di Jakarta ini sudah mulai senang menggambar saat ia masih kecil. Ia yang dari kecil dibesarkan dan bersekolah di Bandung, ini mulai dari Tk sampai SMA, ia sudah meraih bermacam-macam penghargaan kejuaraan lomba menggambar dan melukis. salah satu contohnya adalah beliau memenangkan lomba melukis seluruh SMA dibandung yang pada masa itu ia bersekolah di SMA Pasundan satu. Saat SMA pun ia mulai menjulal lukisannya kepada beberapa guru yang diantaranya bernama Pak Tiki,guru kewarganegaraan. Pada saat SMP yang juga bersekolah di SMP pAsundan 1 Bandung, ia sering dimintai tolong temannya untuk menggambar sesuatu untuk temannya tersebut.
Selesai ia SMA, tidak langsung masuk ke jenjang perkuliahan, karena adanya perdebatan orangtua dan anak. Kang Ardi kekeuh ingin masuk ke Universitas jurusan Seni. Namun orangtuanya yang bekerja sebagai tentara dengan sifatnya yang dictator sangat tidak mengizinkan. Menurut ayahnya, seni baik itu melukis, musik ataupun lainnya itu tidak bisa dijadikan sebuah mata pencaharian pokok. Namun Kang Ardi percaya bahwa ia bisa hidup dengan sangat berkecukupan dengan menjadi seniman. Perdebatan itu membuat kang Ardi mogok kuliah selama setahun.” Saya tidak mau masuk jurusan yang tidak saya cintai. Karena menurut saya, masa depan itu ada ditangan saya, bukan kedua orangtua saya. daripada saya menyesal dikemudian hari, saya mogok kuliah, samai setahun kemudian saya berhasil merobohkan benteng orangtua saya. Akhirnya saya mulai kuliah tahun 1973 di Asri Yogyakarta jurusan STSRI”ucapnya. Kemudian karena factor malas dan lain hal, iapun pindah ke IKIP Bandung atau sekarang sudah berganti UPI jurusan FKSS pada tahun 1974. dan ia berkuliah disana hanya bertahan selama 2 tahun, selebihnya, ia mulai bekerja karena merasa jenuh dengan perkuliahan dan ingin cepat-cepat merasa seperti seniman sejati yang bebas, tidak mau menjadi seorang pekerja yang mempunyai bos dan harus disuruh-suruh.
Pada saat itu menggambar,melukis dan seni adalah segala-galanya. “sampai saat ini saya bersyukur sekali telah menentukan jalan yang sesuai keinginan saya dan membuahkan hasil yang bisa dibanggakan orangtua saya juga.”.
Setelah berhenti kuliah, ia bekerja di salah satu perusahaan Optical diBandung, kemudian sempat dipindahkan disemarang. Tahun 1977 ia menikah dan membuka usaha optical sendiri di Jln Lengkong Besar yang bernama “Oskar Optical”. Namun selang beberapa tahun, perusahaan optical tersebut bangkrut karena modal yang terbatas. Lalu ia mulai membuat komunitas pelukis yang bernama “Hisma” dan membuat pameran seni yang pertama kalinya Dibandung dengan komunitasnya. Sambil tetap melukis, ia bekerja menjadi Bartender di Blue Diamond, sebuah night club dari mulai tahun 1983-1985.
Walaupun ia melukis juga, namun kehidupannay kurang lengkap karena ia merasa kurang totalitas dengan adanya pekerjaan lain selain melukis.beliau merasa ia harus berubah.,” saya merasa saya harus memperjuangkan cita-cita saya terdahulu yang sempat terlupakan karena factor ekonomi saya dan istri yang tetap harus hidup, yaitu saya ingin menjadi seorang pelukis, tanpa adanya pekerjaan lain. Karena itu saya mengasingkan diri”. Ia pergi ke Bali tahun 1986 dengan meninggalkan Istri dan anak untuk mencari jati dirinya yang telah hilang. Ia mulai memperdalam serta mentotalitaskan pembelajaran melukisnya dan mulai mengenal banyak seniman dan pelukis disana. “saya belajar secara autodidact disana. banyak hal yang saya peroleh dari bali. Tempat dimana bisa dikatakan berjasa untuk saya” sambil mengucapkan kata-kata tersebut, matanya menerawang mengingat kembali kejadian sekitar 26 tahun yang lalu.
Ia dibali kurang lebih selama 12 tahun. Namun, perjuangannya membuahkan keuntungan yang besar. Setelah ia merasakan totalitas dalam melukis. Lukisannya pun lebih banyak terjual dengan harga yang Fantastic . “saya melukis untuk bermacam-macam orang. Tidak harus saya jual kepada orang yang suka dan tau akan seni. Ada beberapa orang pembeli dalam membeli lukisan. Ada yang membeli karena ia tahu seni, ada yang membeli lukisan karena ia suka ,seperti pemandangan dan hal-hal lainnya yang tidak abstrak, dan ada juga yang membeli lukisan karena memang untuk memenuhi desain ruangan atau rumahnya, ada juga yang kolektor lukisan. Dan harga yang saya tawarkan pada merekapun berbeda. Tergantung kebutuhan mereka.” Beliau menjelaskan.lukisannyapun dijual mulai dari sekitar 1 jutaan hingga puluhan dan bahkan ratusan juta.
Dalam kehidupannya dibali yang kauh dari istri dan anaknya, iapun mengakui adanya perselingkuhan dikota yang sangat indah itu “ saya mempunyai kenangan indah disana. Tidak hanya melukis, namun saya sempat berselingkuh dengan bule yang menetap disana”. Beliau tak memungkiri bahwa kehidupan yang kesepian itu membuatnya tersadar bahwa ia membutuhkan kasih sayang tanpa harus pulang ke Bandung. “saya tidak mau pulang sebelum membawa hasil yang maksimal”. Pada saat itu mulailah kang Ardi bertemu dengan buke itu dan menjalin hubungan yang cukup lama. Tapi kemudian mereka tersadar bahwa hal tersebut adalah sesuatu yang harus disudahi. “cerita percintaan yang terlarang itu juga termasuk memberi warna kehidupan untuk saya”ucapnya.
Terlepas dari cerita singkat percintaan beliau membuat beberapa pameran di Bandung, Jakarta, dan yang Amazing adalah pamerannya hingga Perth Australia. Ia juga mempunyai gallery sendiri di bandung, yaitu “Sanggar Olah Seni” Jln Siliwangi No.7, dan “tikalika Gallery” Jln Bungur No.37. ia juga membuka cabang di bali, di “Enhai café&gallery” Jln PopiesLine no 2, Kuta Bali. Namun pada tahun 2002 pada saat terjadi Bom Bali, ia pulang ke Bandung karena saat itu suasana sangan tidak memungkinkan orang perantauan untuk tinggal disana.
beliau membuat pameran-pameran bersama teman-temannya diberbagai tempat, diantaranya dibandung yaitu: Exhibition with Marsilea in MIDC Building (1978), Exhibition with Liga seni Rupa Indonesia in West Java Museum (1980), Exhibition in Bale Sumur Bandung Building(1982), Exhibition in Topaz Galleria Hotel (1982), Exhibition in Bandung giri Gahana Hotel (1982), Exhibition in Yayasan pusat Kebudayaan (2004), Exhibition “Sillaturahmi Daun-Daun” Gallery kita (2004), Exhibition with Nuansa Sunda Exhibition in Topaz Balleria hotel (2004), Exhibition art Deco Is Back in tikalika Gallery (2004), Exhibition From Bandung for Asia Africa in Gallery kita (2004), Exhibition in pendopo building (2005), Exhibition Roman Bandung in Gallery kita (2005), perjalanan in SOS Gallery (2005) , The Best 50 of painting, Lanraad Building (2005), ITB Science & Technology Art Fair (2005), Exhibition in Mayesti Apartment (2005), Exhibition In Upi Campus (2005), week End Art Fair in Bandung Gallery (2006), Week End Art Fair in Red Point Gallery(2006), Exhibition in Braga City Walk resort (2006), Exhibition “Suara Hati” in Papandayan Hotel (2006), Exhibition “Citra Kembara” in Goong Gallery (2007), Week End Art in Tikalika Gallery (2007), Exhibition “orkestrasi Lebah” in Goong Gallery (2007), dan Tribute to Barli-100 plus Indonesia Painter exhibition in Blar Seni Barli(2007). Lalu membuat pameran di Jakarta antara lain; exhibition with “Kelompok 9 pelukis Bandung” in INVAS Money Changer Building (2003), exhibition in Grand Melia Hotel (2003), exhibition with Basuki Bawono in Borobudur Hotel (2004). Dan yang luar biasa adalah :” exhibition in Perth Australia (1992)”
“hidup saya sangat berarti sekarang. Saya tidak pernah merasa jenuh atau bosan atau bahasa gaulnya Moodian dalam melukis. Karena menjadi pelukis adalah panggilan jiwa untuk saya. Melukis adalah kebutuhan Finansial dan Psikologis untuk saya. Dan saya bersyukur dengan karya-karya saya yang diminati segelincir orang, Walaupun penghasilan tidak bisa diprediksi membuat saya bisa hidup, menafkahi dan membiayai sekolah dan kuliah ketiga anak saya. Dan ingat, hidup adalah pilihan. Dan setiap kamu mengambil satu pilihan, berusahalah yang terbaik, jangan pernah mundur apalagi menyerah. Tunjukkan kalau pilihanmu memang yang terbaik untuk semua pihak.”












