braga festival dan semua keunikannya
Sunday, January 24, 2010 1:57:23 PM
bentuk tulisan : feature
Suasana ramai menyelimuti jalan braga , Bandung sore itu. semua orang berfoto, memandangi pameran-pameran yang diadakan sepanjang jalan Braga itu. benar sekali, Bandung saat itu sedang mengadakan “BRAGA FESTIVAL ‘Bihari,Kiwari,Baring Supagi’“. Acara yang diselenggarakan tanggal 29 desember 2008 sampai dengan tanggal 31 desember 2008 ini bertempat disepanjang jalan braga,Bandung yang diisi dengan kegiatan-kegiatan yang diantaranya adalah pameran kilas balik pembangunan pariwisata 2008, pameran informasi objek dan atraksi unggulan jawa Barat, pameran hasil lomba photo kemilau nusantara, festival kuliner, pameran kriya tradisional jawa barat, pargelaran kesenian khas daerah, gelar kreativitas kawula muda, saresehan,dan lomba foto model jaman dulu.
Dikanan dan kiri semua orang saling berfoto ria dan berlalu-lalang sambil memegang jajanan yang mereka beli. Stan-stan yang letakkan ditengah jalan pun bermacam-maca, mulai dari jajanan hingga lukisan dan karya seni. Tempat itu menjadi sangat ramai bak pasar pagi. Banyak yang berfoto-foto disana, mulai dari anak remaja hingga orang tua yang membawa keluarganya. Mereka seperti terhanyut dalam nuansa indah braga dan mengingat akan jaman dulu. “ disini sangat bagus yah, bisa sebagai edukasi untuk para anak-anak, bahwa mereka tidak sepantasnya lupa akan budaya sendiri. Seperti batik-batik, atau pahatan yang nilainya luar biasa mahal, namun itu adalah karya seni Indonesia yang patut kita acungi jempol. Selain itu braga memang terkenal dengan tempat pemotretan karena nuansa jaman dulu nya itu dapet banget” kata salah seorang bapak-bapak yang membawa istri dan anaknya.
Tempat es krim yang sudah ada disana sejak tahun 1929 itu pun masih berdiri kokoh dan menjadi salah satu tempat favorit pengunjung disana. Semuanya masih seperti dulu tanpa ada perubahan sedikitpun, mesin uang jaman dulu, kursi dan bangkunya tetap sama. Tempat yang bernama “Sumber Hidangan d/h het snoephouis “ itu pun dibuka mulai dari 08:30 hingga 19:00 itu pun menjadi ajang anak muda nongkrong disana. “nuansanya dapt banget. Bener-bener unik dan jadul. Tapi asik dan menarik” kata salah satu pengunjung yang bernama heri yang sedang menyantap salah satu hidangan di restoran tersebut
tak hanya pemandangan itu saja yang dapat kita liat, melainkan di satu tembok, terpampang gambar-gambar dari kreatifitas masyarakat Bandung yang semuanya serentar harus bergambar lambang bangsa Indonesia yaitu burung garuda dengan berbagai macam tulisan disana, diantaranya adalah : lambang garuda, lambang pemersatu bangsa Indonesia, bangsa Indonesia harus mempunyai jati diri yangt kokoh! Jangan pakai lambang ini kalau selalu kalah!”. Semua kalangan bebas menulis lambang itu, muali dari anak-anak yang hanya menggambar burung saja, hingga orang dewasa yang menggambar burung garuda dengan penuh makna yang indah dipandang mata. “ ini saatnya Indonesia bangkit” kata salah seorang yang melukis gambar itu untuk ia pajang didinding tersebut.
Perjalanan pun berlanjut menyusuri jalan pameran tersebut. Kemudian tampak stan lukisan yang saat itu Ardikana sebagai pelukis lukisan tersebut. Lukisannya banyak yang menarik dan mencuri perhatian banyak orang “ ini bukan pameran pertama saya, tapi saya sangat senang bias ikut disini. Saya bangga bahwa Bandung masih perduli akan kesenian budaya Indonesia ini. Karena menurut saya, ujung hal yang sangat penting dan paling penting adalah kesenian kita. Disaat kita tidak bisa memiliki apapun untuk membantu membangun bangsa ini, maka seni dan budaya lah yang harus bergerak untuk menaikkan bangsa ini lagi “ begitu ucap sang pelukis Ardikana.
Lalu didepan tokoBrother hood, terdapat panggung dimana panggung tersebut dikerumuni banyak orang karena terdapat atraksi drama disana. Semua tertawa saat melihat laki-laki berpakaian perempua dengan make up yang sangat menor. Semua menikmati pertunjukkan itu dengan sangat takjub. “pertunjukan yang murah,meriah dan menyenangkan serta pastinya mendidik” ujar salah seorang pengunjung.
dan ada yang tak kalah menakjubkan adalah ada segerombolan lelaki yang memakai baju kayangan dulu. Mereka berfoto untuk siapa saja yang mau foto dengan mereka. Mereka adalah suwarto sebagai dalang, ari sebagai laksamana, wildan sebagai yudistira, azmo sebagai rama dan anto sebagai Buta. Mereka adalah dari STEPU (seni teater cabaret kurakabaya). Mereka melakukan hal itu dan berdandan sesuai peran merka hanya untuk eksis dan melakukan beberapa survey. Mereka punya moto yaitu “ modern lain arti mohokeun budaya karuhun” yang artinya adalah modern bukan berarti melupakan budaya sendiri.
Suasana ramai menyelimuti jalan braga , Bandung sore itu. semua orang berfoto, memandangi pameran-pameran yang diadakan sepanjang jalan Braga itu. benar sekali, Bandung saat itu sedang mengadakan “BRAGA FESTIVAL ‘Bihari,Kiwari,Baring Supagi’“. Acara yang diselenggarakan tanggal 29 desember 2008 sampai dengan tanggal 31 desember 2008 ini bertempat disepanjang jalan braga,Bandung yang diisi dengan kegiatan-kegiatan yang diantaranya adalah pameran kilas balik pembangunan pariwisata 2008, pameran informasi objek dan atraksi unggulan jawa Barat, pameran hasil lomba photo kemilau nusantara, festival kuliner, pameran kriya tradisional jawa barat, pargelaran kesenian khas daerah, gelar kreativitas kawula muda, saresehan,dan lomba foto model jaman dulu.
Dikanan dan kiri semua orang saling berfoto ria dan berlalu-lalang sambil memegang jajanan yang mereka beli. Stan-stan yang letakkan ditengah jalan pun bermacam-maca, mulai dari jajanan hingga lukisan dan karya seni. Tempat itu menjadi sangat ramai bak pasar pagi. Banyak yang berfoto-foto disana, mulai dari anak remaja hingga orang tua yang membawa keluarganya. Mereka seperti terhanyut dalam nuansa indah braga dan mengingat akan jaman dulu. “ disini sangat bagus yah, bisa sebagai edukasi untuk para anak-anak, bahwa mereka tidak sepantasnya lupa akan budaya sendiri. Seperti batik-batik, atau pahatan yang nilainya luar biasa mahal, namun itu adalah karya seni Indonesia yang patut kita acungi jempol. Selain itu braga memang terkenal dengan tempat pemotretan karena nuansa jaman dulu nya itu dapet banget” kata salah seorang bapak-bapak yang membawa istri dan anaknya.
Tempat es krim yang sudah ada disana sejak tahun 1929 itu pun masih berdiri kokoh dan menjadi salah satu tempat favorit pengunjung disana. Semuanya masih seperti dulu tanpa ada perubahan sedikitpun, mesin uang jaman dulu, kursi dan bangkunya tetap sama. Tempat yang bernama “Sumber Hidangan d/h het snoephouis “ itu pun dibuka mulai dari 08:30 hingga 19:00 itu pun menjadi ajang anak muda nongkrong disana. “nuansanya dapt banget. Bener-bener unik dan jadul. Tapi asik dan menarik” kata salah satu pengunjung yang bernama heri yang sedang menyantap salah satu hidangan di restoran tersebut
tak hanya pemandangan itu saja yang dapat kita liat, melainkan di satu tembok, terpampang gambar-gambar dari kreatifitas masyarakat Bandung yang semuanya serentar harus bergambar lambang bangsa Indonesia yaitu burung garuda dengan berbagai macam tulisan disana, diantaranya adalah : lambang garuda, lambang pemersatu bangsa Indonesia, bangsa Indonesia harus mempunyai jati diri yangt kokoh! Jangan pakai lambang ini kalau selalu kalah!”. Semua kalangan bebas menulis lambang itu, muali dari anak-anak yang hanya menggambar burung saja, hingga orang dewasa yang menggambar burung garuda dengan penuh makna yang indah dipandang mata. “ ini saatnya Indonesia bangkit” kata salah seorang yang melukis gambar itu untuk ia pajang didinding tersebut.
Perjalanan pun berlanjut menyusuri jalan pameran tersebut. Kemudian tampak stan lukisan yang saat itu Ardikana sebagai pelukis lukisan tersebut. Lukisannya banyak yang menarik dan mencuri perhatian banyak orang “ ini bukan pameran pertama saya, tapi saya sangat senang bias ikut disini. Saya bangga bahwa Bandung masih perduli akan kesenian budaya Indonesia ini. Karena menurut saya, ujung hal yang sangat penting dan paling penting adalah kesenian kita. Disaat kita tidak bisa memiliki apapun untuk membantu membangun bangsa ini, maka seni dan budaya lah yang harus bergerak untuk menaikkan bangsa ini lagi “ begitu ucap sang pelukis Ardikana.
Lalu didepan tokoBrother hood, terdapat panggung dimana panggung tersebut dikerumuni banyak orang karena terdapat atraksi drama disana. Semua tertawa saat melihat laki-laki berpakaian perempua dengan make up yang sangat menor. Semua menikmati pertunjukkan itu dengan sangat takjub. “pertunjukan yang murah,meriah dan menyenangkan serta pastinya mendidik” ujar salah seorang pengunjung.
dan ada yang tak kalah menakjubkan adalah ada segerombolan lelaki yang memakai baju kayangan dulu. Mereka berfoto untuk siapa saja yang mau foto dengan mereka. Mereka adalah suwarto sebagai dalang, ari sebagai laksamana, wildan sebagai yudistira, azmo sebagai rama dan anto sebagai Buta. Mereka adalah dari STEPU (seni teater cabaret kurakabaya). Mereka melakukan hal itu dan berdandan sesuai peran merka hanya untuk eksis dan melakukan beberapa survey. Mereka punya moto yaitu “ modern lain arti mohokeun budaya karuhun” yang artinya adalah modern bukan berarti melupakan budaya sendiri.












