Skip navigation.

do santos

awali hari ini dengan senyuman

Kekerasan dan Rekonsiliasi

KEKERASAN DAN REKONSILIASI
DALAM AGAMA DI INDONESIA

I. Pendahuluan
Setiap agama telah memberi kontribusi besar terhadap perkembangan budaya perdamaian di dunia. Hal ini nampak dalam ajaran-ajarannya yang mengidealkan nilai-nilai perdamaian. Tetapi sejarah juga membuktikan bahwa sering terjadi, agama dijadikan sebagai “alat perang”. Sebagai contoh, tahun 1905, Paus Urbanus II dalam pidatonya berhasil menggerakkan Eropa agar memulai sebuah perang suci untuk merebut kembali Tanah Suci orang Kristen dari kekuasaan orang-orang Islam. Pelbagai bentuk perang antaragama atau pun kerusuhan yang berbau agama lainnya dalam skala yang kecil hingga saat ini belum juga berakhir, secara khusus seperti yang terjadi di tanah air Indonesia.
Situasi ini akan berakhir kalau masing-masing agama terbuka satu dengan yang lain, membangun budaya adil dan damai serta membangun dialog antaragama. Dalam makalah ini pemakalah secara khusus melihat kekerasan dalam agama yang terjadi di negara Indonesia serta mencari solusi terbaik.
II. Selayang Pandang: Kekerasan dan Agama
2.1. Memahami Kekerasan
Menurut kamus Inggris Collins Cobuild, kekerasan ialah, tingkah laku yang disengaja untuk melukai atau membunuh orang lain, misalnya memukul, menendang atau menggunakan senjata atau bom. Kekerasan selalu mengandaikan di dalamnya ada suatu obyek yang merupakan intensi dari perilaku tindak kekerasan (subyek). Kekerasan mengandaikan hal obyek dan subyek, maka kekerasan itu menyangkut pribadi manusia. Manusia sebagai pribadi adalah manusia konkrit yang memuat peran subyek dan obyek.
Tindakan pengobyekan manusia adalah awal dari kekerasan. Kekerasan lalu menjadi psikologi perang karena ketika dua kelompok berhadapan, yang dilihatnya bukan manusia tetapi musuh dan hanya musuh yang berani ditembak atau dibantai.
2.2. Agama
Alfred North Whitehead, seorang filsuf kelahiran Inggris, mendefinisikan agama sebagai “seni dan teori kehidupan rohani manusia, sejauh itu bergantung pada manusia itu sendiri dan pada apa yang bersifat tetap pada segala sesuatu”. Kalau demikian agama berurusan dengan unsur yang tetap di dalam alam dan kehidupan manusia yang berubah-ubah. Agama menjawabi kebutuhan dan kerinduan manusia akan yang langgeng dan permanen, akan kontinuitas di tengah pengalaman keberubahan.
Whitehead mengatakan bahwa agama adalah seni dan teori, sebenarnya mau menegaskan bahwa sesuatu yang dibuat manusia untuk mengungkapkan akan pengalamannya yang tak berubah. Agama yang telah diciptakan bukanlah bersifat natural, bukan pula sesuatu yang berasal atau berawal pada awal mula sejarah ada, melainkan agama ini bersifat artifisial. Artinya, agama bertolak dari perasaan tertentu pada manusia. Manusia sendiri yang mengungkapkan perasaan pengalamannya akan Allah. Dengan ini secara tidak langsung manusia telah mencapai kerinduannya akan Allah.
III. Memahami Kekerasan dan Rekonsiliasi Dalam Agama Di Indonesia
Dalam pidatonya pada hari ulang tahun kemerdekaan 1986, Perdana Menteri India, Rajiv Gandhi, diberitakan telah berkata: “Tak ada yang lebih tercela selain kekerasan atas nama agama. Kekerasan atas nama agama berarti menegasikan agama.” Agama bukan lagi sebagai pembawa kedamaian, tapi pembawa kehancuran, kekerasan bagi manusia. Hal ini terjadi karena agama dengan begitu gampang dijadikan sebagai sarana untuk membenarkan kepentingan-kepentingan kelompok tertentu.
3.1. Konteks Kekerasan Dalam Agama di Indonesia - Pluralisme Agama Sebagai Peluang Tantangan
Islam dan Kristen di Indonesia mempunyai sejarah pertengkaran yang panjang. Bahkan suasana pertengkaran ini sudah muncul sebelum keduanya masuk Indonesia. Sampai kini gema atau sisa-sisa ketegangan itu masih terus dirasakan. Di sana- sini muncul ketegangan serta kecurigaan di antara keduanya. Ketegangan bahkan pertikaian antar pemeluk agama terjadi di banyak negara, tidak jarang dengan akibat amat memilukan bagi semua pihak. Untuk mengatasi ketegangan tersebut muncul usaha-usaha baik dari pemerintah maupun swasta.
Tak dapat dipungkiri bahwa bangsa Indonesia hidup dalam keragaman agama. Hal ini mesti dilihat sebagai suatu realitas. Pluralitas agama sebenarnya bukan merupakan sebuah masalah, namun kenyataan yang terjadi selama ini, bahwa pluralitas agama terkadang melahirkan kekerasan. Ada beberapa jawaban yang membenarkan kenyataan ini:
Pertama: hanya ada satu agama yang benar. Pandangan semacam ini paling banyak diyakini para pemeluk agama, terutama di masa lampau. Tiap pemeluk agama umumnya menghayati bahwa agamanya adalah pemberi orientasi hidup yang paling dalam. Namun keberagaman sering secara spontan cendrung dilihat sebagai ketidakpastian. Selain itu pandangan ini sering juga diyakini sebagai kebenaran ilahi. Sisi yang tidak menguntungkan dari pandangan ini adalah sulitnya menerima serta memahami fakta pluralisme. Agama lain dipandang sebagai musuh, saingan, ancaman bahkan kafir. Pandangan ini melahirkan eksklusifisme yang destruktif dalam interaksi satu sama lain. Sejarah juga mencatat berbagai pengelaman pahit tentang pandangan ini. Pandangan ini tidak memuaskan bahkan menyinggung agama lain. Pandangan bahwa “hanya ada satu agama yang benar” dapat membawa dampak kekerasan di mana-mana. Konflik-konflik yang terjadi selama ini merupakan reaksi lanjut dari pandangan di atas. Misalnya; kerusuhan Poso di Sulawesi, pembakaran gereja-gereja dan tragedi malam Natal di Jawa, kerusuhan Maluku, pencemaran hosti yang sering terjadi di Flores dan masih banyak konflik lain yang terjadi di wilayah Nusantara ini.
Kedua: semua agama pada dasarnya adalah sama. Sering kita mendengar pendapat semacam ini. Semua agama mencari kesucian, kebaikan serta menuju tujuan yang sama. Pandangan ini memang sangat populer baik di kalangan masyarakat biasa maupun di kalangan kaum intelektual. Pandangan ini mengakui adanya perbedaan dalam tiap-tiap agama, akan tetapi perbedaan-perbadaan itu dilihat sebagai perbadaan lahiriah saja. Atau dengan kata lain, perbedaan itu tidak menyangkut kebenaran hakiki. Dengan mengakui bahwa semua agama itu sama, timbul anggapan bahwa keyakinan religius tidak lebih dari soal selera dan pilihan pribadi. Agama bagaikan barang komoditi dalam perdagangan. Pandangan ini tidak sesuai dengan etos masyarakat konsumer, di mana pembeli adalah raja. Agama adalah perkara pribadi semata. Unsur sosial yang tidak kala pentingnya dalam agama menjadi tidak berarti lagi.
Penekanan bahwa semua agama sama saja cendrung membuat orang meremehkan perbedaan-perbedaan yang nyata dalam tiap-tiap agama. Selain itu, karena menganggap semua sama, maka dengan mudah muncul toleransi, akan tetapi toleransi jenis ini adalah toleransi yang tidak kuat, yang dengan amat gampang menjadi sikap tidak peduli.
Ketiga: extra ecclesiam nulla salus (di luar gereja tidak ada keselamatan). Adagium ini sangat populer pada jaman lampau. Semua yang berada di luar gereja dianggap kafir dan tidak akan mencapai keselamatan. Oleh karena itu, pelbagai tindakan yang dilakukan gereja pada masa itu amat melukai hati banyak orang. Gereja benar-benar menjalankan misinya sebagai sumber pembawa keselamatan dan mengamini dirinya sebagai penjamin kebenaran mutlak. Tindakan pemaksaan dan kekerasan pun di ambil, misalnya; penjajahan (perang) dan hasutan. Hal seperti ini boleh dikatakan sebagai “kristenisasi”. Dewasa ini, kristenisasi masih dirasakan oleh agama tertentu. Semua yang dilakukan oleh orang kristen, bahkan dalam bentuk yang paling tidak keagamaan pun, misalnya; perjuangan hak-hak asasi, pembelaan kaum miskin dan sebagainya, dianggap sebagai “kristenisasi”. Tentu saja hal-hal seperti ini menimbulkan konflik. Namun tak dapat disangkal bahwa orang-orang kristen pun sering melakukan tindakan kekerasan dan pelecehan terhadap agama tertentu. Misalnya; hojatan terhadap Nabi Muhamad dan pelbagai tindakan lainnya yang menyakiti hati pemeluk agama yang lain.
Setiap individu tidak bisa berkembang tanpa kontak dengan individu lain. Individu-individu menemukan jati dirinya justru dalam keterkaitannya dengan individu lain bahkan menjadi bagian dari individu lain. Pluralisme mendorong agama berhadapan satu sama lain. Interaksi ini mengakibatkan agama-agama tersebut mengalami rasa identitas baru, reorientasi baru.
3.2. Mengupayakan Rekonsiliasi dan Kekerasan Dalam Agama
Rekonsiliasi berarti datang bersama, berkumpul, berjalan bersama atau satu tindakan di mana orang-orang yang sudah lama terpisah dan terpecah satu dari yang lain mulai berjalan dan berbaris bersama kembali. Seperti Hezkias menjelaskan, rekonsiliasi terdiri dari empat dimensi: rekonsiliasi dengan Allah, rekonsiliasi dengan diri, rekonsiliasi dengan sesama dan masyarakat manusia, dan rekonsiliasi dengan alam. Rekonsiliasi memiliki arti yang dalam dan bukan sekedar persoalan tidak adanya pertentangna, kekacauan atau perang. Ia merupakan keputusan, sikap total manusia untuk menjadikan dirinya lebih sempurna.
Dasar fundamental rekonsiliasi adalah martabat manusia, karena manusia diciptakan untuk hidup. Sehingga martabat manusia itulah yang harus dijunjung tinggi walapun ada perbedaan agama di antara manusia itu sendiri. Dasar rekonsiliasi sejati adalah nilai-nilai kemanusiaan yang sentral, kebenaran, keadilan, kebebasan dan cinta. Dari dasar nilai-nilai kemanusiaan ini, dapat dibangun suatu rekonsiliasi yang harmonis. Memang amat sulit mengupayakan rekonsiliasi dalam kehidupan dewasa ini. Sejarah telah membuktikan bahwa peperangan, kekacauan dan kekerasan atas nama agama selalu mewarnai kehidupan manusia.
3.3. Agama Sebagai Titik Temu Antara Rekonsiliasi dan Kekerasan
Agama mempunyai peran sentral dalam hidup dan kebudayaan manusia. Dari sana akan tercpta “toleransi”. Bersamaan dengan hembusan angin segar toleransi manusia beragama dioundang untuk masuk dalam suasana dialog demi keharmonisan. Semua agama dihimbau untuk saling menghomati dan bersama-sama bekerja sama demi keadilan sosial, kebebasan, solidaritas dan perdamaian. Dialog antaragama itu menyerupai sebuah kematian, sebuah pemberian diri satu agama kepada yang lainnya dan kesediaan semua yang lain untuk untuk diinformsikan oleh yang pertama. Karena itu dialog antaragama adalah sebuah proses memberi dan menerima di antara agama-agama, di dalamnya agama-agama akan saling membentuk.
Lebih lanjut peran agama dalam mengupayakan rekonsiliasi terletak dalam ajaran agama-agama yang menyiratkan pesan perdamaian dan pembelaan terhadap martabat manusia. Secara singkat, Spiritualitas Kristen mengajarkan perdamaian bahkan perdamaian total demi kerajaan sorga (Mat. 5:9). Dengan penekanan yang relatif sama filsafat Budha mengedepankan sikap bela rasa (compassion). Agama Hindu mengedepankan konsep “Ahimsa” yang bukan hanya berarti penolakan terhadap tindakan kekerasan tetapi lebih menekankan cinta. Agama Islam mengajarkan sikap taat dan pasrah kepada kehendak Allah. Ajaran-ajaran agama ini mesti dipegang dan dihayati oleh setiap pemeluknya demi mengatasi pelbagai bentuk kekerasan yang terjadi selama ini. Saling terbuka dan dialog menghantar manusia untuk keluar dari bencana kekerasan dan selanjutnya mencapai rekonsiliasi yang sejati.
IV. Penutup
Kekerasan tidak akan berakhir kalau masing-masing agama tidak mau membuka diri dan berdialog. Rekonsiliasi pun tidak akan tercapai, ketika kekerasan terus berjalan. Situasi ini dapat dikatakan sebagai situasi manusia yang sedang dilanda krisis kemanusiaan. Berhadapan dengan situasi ini, manusia yang terdiri dari berbagai agama mesti bertanya diri tentang perannya masing-masing sebagai orang yang beragama.
Agama sebagai suatu lembaga manusiawi juga mesti bertanya diri, membaharui komitmennya demi tercapainya keharmonisan bersama. Oleh karena itu dialog harus dikembangkan. Tiap pemeluk agama mesti menghayati nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran agamanya dan berjuang bersama demi mengatasi persoalan-persoalan kemanusiaan.
***

Bibliografi
Hart, M. H. Seratus Tokoh Yang Paling Berpengaruh Dalam Sejarah. Jakarta: Pustaka Jaya, 1983.
Hayon, N. Kekerasan: Polarisasi Manusia Sebagai Obyek, dalam Akademika, Edisi: I, Tahun VI. Maumere: Ledalero, 2000
Kleden, P. B. Dialog Antaragama Dalam Terang Filsafat Proses Alfred North Whitehead. Maumere: Ledalero, 2002.
Kartono, H. Hidup Rukun Dalam Satu Atap, dalam Rohani, Tahun XLI No. 9, September. Yogyakarta: Andi Offset, 1994.
Kaju, R. Agama dan Budaya Perdamaian, dalam Akademika, Edisi: I, Tahun VI. Maumere: Ledalero, 2000.
Tisera, G. (ed.), Mengolah Konflik Mengupayakan Perdamaian. Maumere: Ledalero, 2002.
Zaman, A. N. (ed.), Agama Untuk Manusia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000.





BAHAN PEMBANDING
http:///www.kspp.nitapleat/com.kekerasan-agama.net///
Selayang pandang: Kekerasan dan Agama
Umumnya pemahaman tentang kekerasan hanya merujuk pada tindakan yang dilakukan secara fisik dan mempunyai akibat secara langsung. Tentu saja batasan seperti ini terlalu minimalistis karena rujukannya berfokus pada peniadaan atau perusakan fisik semata. Dewasa ini apa yang menjadi penjelasan bagi pemahaman kita tentang kekerasan adalah hak-hak asasi dan martabat pribadi manusia. Perjuangan hak asasi manusia dipandang sebagai reaksi atau protes atas pengalaman penderitaan manusia . Pengalaman penderitaan itu di banyak tempat pada umumnya diakibatkan oleh kemiskinan, penindasan yang disertai kekerasan dan perlakuan yang tidak adil.
Hak asasi manusia tidak terbatas pada pemenuhan kebutuhan dasar minimum tetapi juga menyangkut hak-hak sosial kultural, politis, ekologis dan jender. Dalam hal ini kekerasan dapat didefenisikan sebagai perampasan atau peniadaan hak-hak pribadi atau kelompok-kelompok sosial dalam masyarakat. Istilah-istilah yang sering didengar dalam wacana publik seperti kekerasan ekologis, kekerasan budaya, kekerasan politik, kekerasan terhadap perempuan, kekerasan agama merujuk pada konflik kekerasan secara khusus kekerasan sosial yang sudah terstruktur. Kekerasan terstruktur ini muncul ke permukaan biasanya diakibatkan oleh adanya akar-akar struktur yang dalam. Akar struktur ini perlu dibongkar kemudian membangun konstruksi baru yang lebih mengutamakan keadilan dan perdamaian.
Tatkala menelaah tentang asal mula dari kekerasan, literatur ilmu sosial merujuknya pada tiga alasan, yaitu alasan biologis, psikologis dan sosiologis. Pertama, kekerasan dalam prilaku manusia adalah suatu yang melekat pada biologi manusia itu sendiri. Kekerasan terjadi karena kondisi-kondisi genetis dan harmonal yang khusus. Kedua, berbeda dengan penjelasan biologis, penjelasan biologis memberi tekanan pada perkembangan kepribadian, termasuk di sini mekanisme imitasi dalam prilaku pribadi dan sosial. Ketiga, penjelasan-penjelasan sosiologis berfokus pada lingkungan sosial, seperti diskriminasi etnis dan kemiskinan, sebagai sebab dari tindakan-tindakan kekerasan.
Analisa:
a. Kehidupan dan kematian:
Akibat langsung dari brutalisme dan keganasan perang, terorisme dan konflik kekerasan berakiat pada peniadaan atau paling kurang merusak fisik manusia. Umumnya, salah satu aktor utama dari kekerasan dalam bidang ini yang menimbulkan korbn adalah pemerentahan dari suatu negara. Kata-kata yang digunakan oleh Galtung dalam konteks ini adalah pembasmian, pembakaran dan pemusnahan.
b. Kesejahteraan-kesengsaraan
c. Jati diri – alienasi
d. Kebebasan – represi
Ada tiga masalah: 1). Hubungan ntar etnis/agama yang konfliktual 2) berkembangnya budaya kekerasan dan reprsi politik, lemahnya penegakan hukum di satu pihak dan berkembangluasnya kesadaran akan HAM.
Agama sendiri memuat sejumlah potensi konflik, tetapi agama bukanlah penyebab utama atau sumber utama konflik. Dalam situasi seperti ini, pengembangan relasi yang dialogal merupakan suatu keniscayaan. Dialog bukanlah sarana evangelisasi, tetapi evangelisasi itu sendiri. Dalam mengembangkan relasi yang dialogal ini ada empat hal yang harus menjadi suatu kesadaran yaitu hakekat dari dialog itu sendiri, alasan-alasan untuk berdialog, kondisi-kondoisi untuk berdialog, dan akhirnya model-model dialog yang efektif.
Kekerasan dan penindasan terjadi di mana-mana dan disetiap waktu. Kekerasan itu menjadi amat kompleks dan tidak terbatas pada kekerasan fisik saja. Kita melihat bahwa kekerasan fisik sudah mulai jarang terjadi di zaman ini dengan terkuburnya imperialisme dan kolonialisme bangsa Eropa. Apalagi di zaman ini orang-orang Eropa sudah mulai menyadari dan menghormati hak-hak asasi manusia serta mengakui secara penuh keberadaan bangsa-bangsa Asia, Afrika dan Amerika Latin. Contohnya banyak masyarakat dunia mengecam agresi militer US dan sekutunya terhadap Irak. Hal yang mau dikatakan bahwa telah tumbuh solidaritas antar bangsa untuk memperjuangkan hak-hak asasi manusia. Dalam situasi seperti itu bangsa-bangsa di dunia boleh berharap bisa hidup aman dan damai. Akan tetapi kekerasan dan penindasan ternyata semakin kompleks seiring dengan kemajuan peradapan dan kesadaran manusia. Ketika kita memahami dan merasakan betapa buruknya penindasan dan kekerasan, kitapun mulai sadar bahwa kita masih mengalami kekerasan lain yang tidak berwujud dan telah lama bercokol dalam dimensi-dimensi hidup kita. Itulah yang kita namakan kekerasan struktural. Yang tidak kelihatan dan tidak langsung.
Kekerasan struktural sering kali datang dari struktur-struktur masyarakat kita sendiri. Memang di zaman penjajahan kekerasan ini juga datang dari luar. Misalnya dalam bentuk westernisasi oleh kaum pnejajah terhadap bangsa-bangsa jajahan. Tetapi di zaman ini kekerasan struktural justru datang dari masyarakat itu sendiri. Misalnya budaya patriakil yang mengistimewakan pribadi dan peran kaum laki-laki. Kaum wanita dianggap tidak penting dan karena itu digolongkan sebagai masyarakat kelas dua. Peranan kaum wanita dan hak mereka dibatasi, misalnya dalam hal pendidikan dan profesi di luar rumah. Selain budaya patriakil ada struktur masyarakat tertentu yang menggunakan stratifikasi kekastaan. Di India misalnya terdapat kaum Dalit yang merupakan nama baru bagi orang-orang yang tertindas di negeri itu. Kaum Dalit adalah orang-orang yang berkasta rendah dan dilemparkan keluar dari sistem hirarki kasta oleh Hinduisme kaum Brahmana Aria. Bahkan kaum wanita Dalit digambarkan sebagai “debu dari segala debu”
Kekrasan struktural tidak hanya terjadi di India. Struktur masyarakat tidak hanya dibentuk oleh unsur kebudayaan tetapi juga oleh sistem-sitem lain yaitu: sistem politik, ekonomi, sosial dan religius. Di negara-negara lain kekerasan struktural justru terjadi dalam sistem-sistem ini.

1.Kekerasan politik
Politik pada dasarnya berkaitan dengan hidup bernegara dan kebijaksanaan mengatur kehidupan bernegara. Jadi politik sebetulnya tidak cuma menyangkut para pimpinan negara (pemegang kekuasaan dalam negara) tetapi juga menyangkut rakyat. Semua warga negara baik pemegang kekuasaan maupun rakyat adalah insan politik. Akan tetapi dewasa ini politik lebih sering dipahami sebagai taktik untuk mendapatkan kekuasaan. Dalam usaha untuk mendapatkan kekuasaan itu, rakyat sering dikorbankan, dan itulah yang kita namakan politik tanpa hati nurani.
Di Indonesia misalnya, dominasi partai Golkar yang pernah berkuasa selama 32 tahun. Orang lalu berkomentar bahwa di Indonesia telah bangkit kembali sistem mono-partai. Sebetulnya sistem ini berarti hanya ada satu partai dalam satu negara. Tetapi secara kontekstual di Indonesia sistem mono-partai ini berarti ada satu partai yang kuat di antara partai-partai yang lain dan partai itu mendominasi serta mencekal partai-partai yang lain. Partai yang mendominasi itu adalah Golkar sebagai “single majority”. Partai Golkar dijuluki “mesin raksasa” karena telah meluluhlantahkan bangunan demokrasi di Indonesia.
Di samping itu ada beberapa kasus kekerasan yang merupakan stigma politik dalam sejarah perpolitikan. Di Indonesia misalnya: kasus Tanjung Priok, kasus 27 Juli, Penculikan para aktivis, dan kasus Semanggi 1 dan 2 dalam rangkaian perjuangan reformasi. Kekerasan dilakukan untuk mempertahankan status quo.

2.Kekerasan ekonomi
Seringkali negara-negara yang sedang berkembang salah menentukan prioritas dalam membangun perekonomiannya. Ekonomi perkotaan lebih dititikberatkan ketimbang ekonomi pedesaan. Pembangunan di perkotaan lebih diperhatikan, fasilitas-fasilitas ekonomi serba lengkap dan selalu mendapat pasokan baru. Sedangkan di wilayah pedesaan diabaikan. Sentralisme pembangunan ekonomi pun terjadi hanya di kota-kota, sehingga timbul jurang yang lebar tingkat kehidupan ekonomi di kota dan di desa. Pembangunan-pembangunan ekonomi di kota membuka lapangan-lapangan kerja baru dan menarik para penduduk desa untuk mengadu nasib di kota. Karena tingkat urbanisasi yang tinggi maka terjadilah kepadatan penduduk kota, pengangguran, tingkat kriminalitas yang tinggi dan masalah slums yang menimbulkan efek negatif bagi kelestarian lingkungan dan sistem keindahan kota.
Pembangunan ekonomi secara besar-besaran di wilayah perkotaan menyebabkan munculnya para konglomerat yang bergerak dalam bidang produksi secara besar-besaran. Di lain pihak ada pengusaha-pengusaha kecil yang membuka usahanya di wilayah pedesaan. Tidak jarang terjadi persaingan yang tidak sehat antara pengusaha besar atau kaya dan pengusaha kecil, terutama mengenai harga sumber-sumber produksi. Para pengusaha di kota sering bersikap monopoli dalam menentukan harga.
Pembangunan di kota membutuhkan jumlah para pekerja yang banyak. Dalam setiap pabrik ada ribuan buruh yang dipekerjakan. Seringkali para pengusahan bersikap sepihak dalam menentukan upah dan jam kerja. Seringkali pengusaha juga kurang memperhatikan usia kerja. Banyak anak-anak yang dipekerjakan dengan upah yang rendah demi keuntungan pengusaha. Selain itu tidak jarang terjadi perlakuan yang tidak adil terhadap kaum buruh. Seperti tindakan pemerkosaan terhadap buruh wanita. Contohnya kasus Marsinah.
Ekonomi pasar bebas ternyata cuma menguntungkan mereka yang bermodal besar. Prinsip yang berlaku adalah: “siapa kuat dialah yang menang”. Sehingga yang miskin menjadi tetap miskin dan yang kaya menjadi semakin kaya. Institusi-institusi ekonomi dan perdagangan internasional seperti IMF, World Bank, GATT cuma menjadi lambang karena pada kenyataannya lebih banyak menuntut dari pada memberikan sumbangan. Tak heran kehadirannya di Indonesia ditolak oleh berbagai kalangan kritis.

3.Kekerasan religius
Agama sering dijadikan tameng kekerasan. Selain itu agama dijadikan dasar untuk melegitimasi tindakan kekerasan terhadap umat beragama lain. Sehingga timbul kerusuhan yang berbau agama yang bersumber dari sikap fanatisme.
Bila kita menelusuri kerusuhan-kerusuhan yang berbau agama di Indonesia, sebetulnya kerusuhan-kerusuhan itu terkomplikasi dengan krisis ekonomi, politik, sosial dan budaya yang sedang melanda negeri ini. Akan tetapi orang sering melibatkan agama dalam tindakan kekerasannya.
Menurut Dr. Hubert Muda, SVD sikap fanatik adalah suatu bentuk pemiskinan, yaitu pemiskinan terhadap diri sendiri dan terhadap diri Allah. Kerangka berpikir mereka sempit, karena mereka memahami agama sebagai agama tentang Allah bukan agama Allah. Padahal Allah itu tidak perlu dibela.
Sebagai contoh manipulasi agama ini ialah kasus jihad di Ambon, Poso, Afganistan, pengiriman sukarelawan Jihad ke Irak, partai-partai yang sarat dengan isu agama.

4.Kekerasan sosial
Sistem pengkastaan masyarakat ternyata menanamkan benih-benih kekerasan. Orang-orang Dalit di India misalnya, mendapat stigmatisasi sebagai orang-orang kelas 2 yang tersingkirkan dari hirarki pengkastaan oleh dominasi Hinduisme kaum Brahmana Aria.
Budaya patriaki mengistimewakan pribadi dan peran kaum laki-laki. Yang menjadi korban adalah kaum perempuan. Kaum perempuan diabaikan dan peranannya dianggap kurang penting. Presiden Ferdinand Marcos (mantan presiden Filiphina) pernah mengatakan bahwa pekerjaan kaum perempuan hanya untuk memuaskan kaum laki-laki di atas tempat tidur. Hak-hak kaum perempuan dibatasi seperti kesempatan untuk memperoleh pendidikan dan profesi di luar rumah.
Dewasa ini masih ada sisa-sisa sistem feodal dalam kehidupan masyarakat. Di desa m isalnya, masih terdapat orang-orang kaya yang merupakan para pemilik tanah yang luas dan menguasai sebagian besar lahan pertanian di pedesaan. Sementara warga desa yang lain menjadi buruh tani dan menjadi penggarap dilahan-lahan itu. Tentunya mereka ini selalu dirugikan.

5.Kekerasan kultural
Kekerasan ini nampak dalam tindakan pemaksaan budaya tertentu kepada orang lain yang mempunyai budayanya sendiri. Orang Flores misalnya yang mengikuti program transmigrasi ke Kalimantan, tanpa sadar turut membawa budaya Flores-nya ke sana. Atau contoh lain seperti bahasa Jawa yang mendominasi struktur bahasa Indonesia sehingga bahasa Indonesia kurang mewakili bahasa-bahasa daerah dari berbagai suku di Indonesia.
Dalam paradigma misi yang lama, Gereja memandang dunia luar (di luar gereja, red) sebagai dunia kufur di mana jiwa-jiwa hidup dalam bayangan maut dan situasi tanpa keselamatan (Extra Ecclesiam nulla salus). Atas dasar ini maka karya misi Gereja dilaksanakan dengan tujuan untuk menyelamatkan jiwa-jiwa itu dan menghimpunnya di bawah payung Gereja. Semakin banyak orang yang dibaptis, semakin banyak pula jiwa-jiwa yang diselamatkan.
Akan tetapi misi untuk penyelamatan jiwa-jiwa (cura animarum) justru menyangkali universalitas keselamatan. Bila Gereja memandang bahwa tidak ada keselamatan di luar Gereja itu berarti Gereja telah mengandangkan Allah dan memberi batasan pada kodrat Allah yang pada hakekatnya tidak terbatas. Pada hal keselamatan Allah itu ditujukan kepada semua orang tanpa pembedaan suku, agama atau pun ras.
Gereja dalam hal ini misi mesti bertobat dari paradigma ini. Misi sebagai pembebasan mesti merumuskan tujuannya dalam paradigma misi yang baru yang bukan cuma memperhatikan keselamatan jiwa tetapi keselamatan pribadi (cura hominum) secara integral (jiwa dan badan).
Secara tegas dapat dikatakan bahwa tujuan model misi sebagai pembebasan dalam paradigma misi yang baru adalah:
1)Gereja harus membebaskan manusia dari semua yang menindas dan yang membuat manusia kurang human (bdk. Luk 7:22-23)
2)Gereja harus berusaha untuk menciptakan manusia baru dan masyarakat baru (bdk. Gal 16:15 atau 2Kor 5:17)
Misi yang sesungguhnya ialah misi yang mendahulukan nilai-nilai kemanusiaan. Tujuan misi sebagai misi sebagai pembebasan mesti pertama-tama membebaskan manusianya atau menyelamatkan manusianya. Seperti ketika kita berbicara tentang agama yang tidak begelut dengan nilai-nilai kemanusiaan dan layak ditinggalkan, demikian pula misi yang tidak menyentuh esensi-esensi pribadi manusia tidak layak untuk dijalankan.
Evangelisasi Gereja sebagai salah satu bentuk konkretisasi misi mestinya dilandasi oleh prinsip “People First” ini. Dengan kata lain, evangelisasi juga perlu mengambil bentuk atau mengenakan wajah karya sosial. Hal ini dituntut pula oleh latar belakang. situasi dunia yang aktual saat ini yaitu berbagai penindasan dan kekerasan struktural dalam wajah yang kontemporer. Di Asia misalnya, masih cukup banyak negara yang tengah dilanda krisis, penindasan dan kekerasan, seperti nasib orang-orang Dalit di India, masyarakat pinggiran di Korea, para pengungsi di Timor Timur, dan nasib rakyat sipil Irak yang tengah menghadapi gencarnya agresi militer US dan sekutu-sekutunya. Gereja, dalam hal ini misi, mesti mengarahkan perhatiannya juga kepada persoalan-persoalan ini. Saatnya sekarang Gereja tidak hanya memperhatikan soal-soal iman yang doktrinal, tetapi juga soal keselamatan manusia, soal penghargaan terhadap hak asasi manusia. Karena itu Gereja mesti mengenakan wajah karya sosial ini untuk menangani hidup orang-orang yang mengalami penindasan dan kekerasan zaman ini, yang melampaui batas-batas perbedaan agama, suku, dan bangsa.
Di tingkat Gereja Indonesia, Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi menempatkan nilai-nilai kemanusiaan sebagai visi dan prioritas.. Prinsip “People First” mendapat perhatian utama. Hal ini menunjukkan bahwa Gerja Indonesia sudah sungguh-sungguh yakin akan paradigma misi yang baru, terutama tentang konsep keselamatan, bahwa tidak ada keselamatan tanpa dunia. Paradigma ini mau mengatakan bahwa manusia merupakan pokok, dan Gereja di Indonesia berjuang untuk memapankan posisi manusia itu sebagai pokok dan prioritas. Dalam konteks misi kita dapat mengatakan bahwa keselamatan itu diperuntukkan pertama-tama bagi manusia, karena manusia-lah yang membutuhkannya. Dengan itu komisi PSE mesti turut bertanggung jawab atas nasib orang-orang yang menjadi korban kekerasan di Indonesia. Komisi PSE mesti bergelut dalam karya sosial untuk menyelamatkan orang-orang yang mengalami penindasan dan kekerasan itu, seperti nasib para pengungsi di Timor Timur, di Aceh, dan nasib masyarakat pinggiran kota Jakarta yang menjadi korban aksi para penata kota yang tidak mau berkompromi dan berdialog dengan masyarakat.
Gereja universal juga perlu menyambut baik konsep dan aktualisasi Teologi Pembebasan Asia yang akrab sekali dengan maslah-masalah kemanusiaan di India dan Korea. Misalnya Teologi Minjung yang merupakan tanggapan kritis Gereja Asia terhadap permasalahan ekonomi dan sosial yang dialami masyarakat pinggiran di Korea. Hal ini dilatarbelakangi oleh proses industrialisasi secara besar-besaran. Laju industrialisasi ternyata menuntut banyak pengorbanan di sektor pertanian, di mana rakyat yang berada di pedesaan dimanfaatkan untuk menjadi tenaga kerja murah dan dituntut untuk menyiapkan makanan murah demi keberhasilan pembangunan proyek-proyek industri. Akibatnya jumlah penduduk desa menyusut dari 70% menjadi 30%, dan dalam perbandingan yang sama wilayah perkotaan menjadi padat. Akibatnya muncul “slums”di mana-mana dan para penghuninya selalu terancam penggusuran. Misi Gereja diaktualisasikan dengan kegiatan pelayanan dan advokasi bagi orang-orang ini dan menyelamatka hidup mereka dari ancaman kekuasaan yang sewenang-wenang. Model evangelisasi yang paling mendesak untuk situasi mereka ialah karya sosial dengan advokasi dan pelayanan konkret.

Sajak Leo Kleden, SVD



Minggu, 12 Agustus 2007

Sajak-sajak Leo Kleden


Surat untuk Tuhan

Pada suatu pagi yang biasa

dari musim yang sudah kulupa

Kutemukan namamu bersama cahaya

Dan sejak itulah aku ‘ngembara

Mencari engkau tanpa alamat

Mula-mula aku bertanya

Pada seorang tua yang bijaksana

Apakah ia mengenal engkau?

Ia cuma menggeleng kepala

dan berkata: Ah dia,

lebih tua dari gurun lebih muda dari embun

mungkin langit masih mengenalnya.

Aku melihat kanak-kanak

Begitu muda seperti fajar

Main kejaran di pantai pasir dan bertanya:

Adakah mereka melihat engkau?

Semua heran dan berkata:

Ia belum tiba di sini

Engkau datang terlalu dini.

Aku pergi ke taman kota

melihat sepasang anak muda

Asyik-masyuk dimabuk asmara

Mungkinkah mereka mengenal engkau?

Yang laki-laki itu berkata:

Ia hidup dalam dongeng dari beribu tahun lalu

Sisa namanya masih tercatat dalam sebuah perkamen tua.

Yang perempuan lalu menambah:

Sungguhpun hidup begitu indah

Riwayat kita teramat singkat.

Pengembara,

Mengapa mencari yang sia-sia?

Aku mencatat sementara:

Lebih tua dari gurun lebih muda dari embun

Engkau hidup dalam dongeng dari beribu tahun lalu

Apakah namamu sia-sia

dan aku datang terlalu dini?


Bertahun-tahun kemudian aku mencari seorang filsuf yang berjalan siang hari dengan lampu menyala di tangan, karena bertarung mencari yang benar. Mungkinkah dia mengenal engkau?

Sewaktu kami di jalan bertemu, ia besarkan nyala lampu lalu mendugai lubuk mataku, berseru:

Pengembara, kita sama pejalan jauh menuju langit yang tak terjangkau.

Tentang dia, aku hanya bisa bertanya, filsuf tak pernah punya jawaban. Mungkin sang nabi lebih tahu?

Aku pergi kepada sang nabi dan berkata dengan takzim: Salam padamu pewarta firman. Aku yakin, wahai nabi, engkau tahu yang kucari, ceritakan padaku tentang dia.

Ia menjawab: Aku bukan seorang nabi. Pewarta sabda hanyalah suara yang berseru di padang gurun: Siapkanlah jalan Tuhan luruskanlah lorong-lorongnya. Aku belum melihat wajahnya dan para nabi sepanjang zaman tidak pernah melihat dia. Dialah cahaya mahacahaya yang memijari matahari dan menyinari lubuk hati. Ia menuntun orang buta, membimbing langkah pengembara. Sedang mata kita yang fana tak bisa menangkap mahacahaya.


Kudengar dentang lonceng gereja, memanggil umat beribadah.

Aku pergi membawa namamu lalu bertanya kepada pendeta. Ia menjawab: Gereja mewarisi nama ini, memanggil dia dalam ibadah, tapi maknanya tetap rahasia. Coba tanya si ahli kitab, mungkin dia yang lebih tahu.

Aku pergi ke ahli kitab, mengucapkan salam dan bertanya, tapi dia tak sempat mendengar. Rupanya sudah berabad-abad ia menggali ayat suci, dan sekarang terperangkap dalam guanya sendiri. Ketika akhirnya kami bertemu kata-katanya begitu pelik sampai aku tak dapat mengerti: Mengapa mesti sekian sulit, membuat namamu rumpil rumit. Adakah relung luka di gua menyesatkan dia dari firmanmu?

Aku berpikir, sebaiknya pergi kepada penyair. Dia menyambutku dalam diam, menggumam sajak yang tak selesai:

Pada mulanya adalah Sunyi dan Sunyi itu melahirkan Kata dan Kata menciptakan alam semesta dan alam semesta menyanyikan madah. Dan semua madah kembali ke Sunyi di baris terakhir semua puisi. Tapi tak pernah seorang penyair berhasil menulis bait itu. Mungkin pertapa lebih mengenal rahsia Sunyi?

Aku pergi ke padang gurun lalu menemui sang pertapa. Ia dulunya seorang kaya, menjual tuntas semua harta dan hidup menyepi mencari Sunyi. Sebelum kutanyakan sepatah kata, ia mendengar debur jantungku, dan berkata:

Lebih kaya dari cinta, lebih miskin dari rindu. Itulah dia.

Makanya harta yang habis terjual tidak cukup membayar jalan untuk sampai ke hadiratnya. Mungkin sekali fakir miskin lebih mengenal wajah itu.

Sesampai ke pondok fakir miskin, aku langsung melupakan namamu. Yang kulihat, yang kuingat, hanyalah wajah kanak-kanak, dengan igauan dalam demam, menjerit pedih minta nasi sedang ibunya menjual diri untuk membeli sepotong roti. Pernah sang ayah mengedar ganja untuk memanen uang murah, tapi semua tinggal mimpi, ia pergi tak pernah kembali. Maka di sini di laut derita, bisakah seorang mengelak teriak dari kapal yang sedang karam? Apa makna semua doa, madah puji dan nyanyi ibadah bagi mereka yang kini tenggelam? Sungguh, di laut duka aku telah melupakan engkau. Namamu – tak lagi penting untuk diriku, dan mungkin namaku tak pernah berarti untukmu jua. Tapi mengapa di siang ini, ketika hibuk dalam letih, sesudah hilang semua pamrih, tiada terduga engkau tiba: O Cahaya mahacahaya, Sunyi suci yang melahirkan Kata, lebih kaya dari cinta lebih miskin dari rindu, di tengah wajah kanak-kanak lapar, aku sujud menyembah engkau.

Leuven, 15 Juni 2007

Musim Gugur

Di taman ini

Kutemui puing sebuah mimpi

Ada sisa matahari dan rimis badai, masih

Sepasang kekasih saling mendekap

Melekapkan diri

Dalam berahi

Yang tak pernah abadi

Sebab memang musim berkisar

Seperti cakra langit berkisar

Seperti cinta dan debar dukamu yang nyasar

Hidup hanya sebentar:

Sehembus angin masih menderu

Debur laut yang belum teduh

Di pantai pulau

Diam –

Kudengar kabut

Menyaput rambutmu

Daun jatuh

Rindu alam pun

runtuh.

Kudengar keluh

Suara salju

Menghapus tahun-tahun lampau:

Ke mana perginya daun-daun, sayangku

Ke mana perginya daun-daun?

Di taman ini

Kutemui puing sebuah mimpi

Kita akhirnya mesti pergi

Bayang-bayang sepi –

Tahu nanti

Sepasang kekasih ‘kan kembali

Membakar diri

Dalam pijar matahari.

Bunga Kecil dari Geneva

Dengan hati-hati sekali engkau mengambil bunga kecil dari halaman gereja tua di Geneva dan mengirimnya untukku, dalam suratmu dulu, pada awal musim semi. Dengan hati-hati sekali aku menanam bunga itu di antara lembar-lembar Alkitab dan menyiramnya dengan doaku yang sunyi. Saban kali kurasa rindu aku membuka halaman Firman dan menemukan lagi musim semi di bukit-bukit dan lembah-lembah, semerbaknya sampai ke relung jiwa.

Sejak kau pergi tanpa berita, hilang lenyap dalam lupa, dengan alamat sebuah dusta, aku membuka kembali Alkitab, mencari-cari bunga kecil dari halaman gereja Geneva. Yang kutemukan bau bangkai, keranda rindu, bunga mati. Di halaman gereja tertimbun sampah musim gugur.

Pepatah Waktu

Lubuk laut bisa diduga

Kenangan rindu siapa tahu

Entahkah waktu yang mengarung perahu

Membuat perantau pulang lupa?

Leo Kleden lahir di Flores Timur pada 1950, dan sekarang bekerja sebagai seorang pastor dari tarekat SVD (Societas Verbi Divini). Doktor filsafat lulusan Universitas Leuven, Belgia. Pengajar filsafat pada STF Ledalero, Maumere, Flores.

Suku Neonbenny Timor

MAK’AH NEO UISNENO
(Ritus pemberian makanan kepada nenek moyang suku Neonbenny
di daerah Dawan TTU sebagai rasa syukur dan memohon berkat dan rahmat dari nenek moyang)



Menyembah sesuatu yang dianggap kuat dan memiliki kuasa adalah suatu hal yang bukan merupakan hal baru buatku. Ritus menyembah dan memberi makan kepada sesuatu yang dianggap sacral adalah merupakan suatu tradisi yang telah diwariskan oleh nenek moyangku hingga kepadaku kini.
Sebagaimana yang kulihat dan kulakukan baik sewaktu liburan baru-baru ini maupun yang telah kulakukan dan kulihat pada liburan-liburan sebelumnya adalah penghormatan kepada leluhur (nenek moyang) dengan cara memberi sepiring nasi dan daging yang diletakkan didalam tanasak kecil, yang kemudian disimpan di sudut rumah (dalam kamar). Disamping makanan itu juga dibakar tiga batang lilin untuk menerangi perjalanan nenek moyang dan berdoa agar nenek moyang sudih menerangi keturunannya dengan penerangannya. Pemberian makanan ini (seperti yang dikatakan oleh ayahku), dimaksudkan sebagai rasa syukur atas hasil yang telah didapat dan memohon agar mereka dapat melimpahkan rahmatnya dengan memberi panen yang berlimpah untuk hari-hari selanjutnya. Sedangkan lilin yang dibakar (nini’) selain sebagai penerang dalam hidup, kepecayaan kami juga mengajarkan bahwa lilin yang ada juga berfungsi untuk menunjukkan Tiga Diri yang saya lihat sebagai Tritunggal Maha Kudus.
Secara teologis, saya melihat bahwa apa yang dilakukan oleh nenek moyang dan orang tuaku yang kemudian diwariskan kepada kami menunjukkan bahwa pada dasarnya orang tua (nenek moyang) sejak dahulu telah mengetahui adanya sesuatu yang tertinggi. Mereka telah mengetahui adanya Tuhan hanya saja mereka tak mengetahui siapakah atau apa nama Tuhan yang mereka sembah seperti yang diketahui oleh masyarakat umum pada masa sekarang. Tuhan tanpa nama telah diketahui sebagai yang maha kuasa yang memberi berkat perlindungan dan juga rahmat makanan sehingga sebagai rasa syukur, haruslah diberikan makanan kepadanya. Hal ini juga mau menunjukkan kerendahan hati kita sebagai manusia yang lemah.
Ritus memberi makanan kepada nenek moyang juga dipercaya sebagai upaya pemberian kita kepada sesama yang membutuhkan. Namun sesama yang membutuhkan ini lebih ditujukan kepada orang yang telah meninggal dunia. Dikatakan bahwa mereka ini sebelumnya sangat sombong dan banyak dosanya sehingga Allah (Allah nenek moyang) menghukum mereka dengan tidak memberi mereka makan. Makanan hanya dapat mereka peroleh bila ada orang yang melakukan ritus ini sebagaimana yang saya lihat dan pernah lakukan. Hal ini menunjukkan bahwa pada dasarnya agama nenek moyang juga mengajarkan untuk tidak boleh sombong dan tak boleh melakukan dosa agar kelak kita bisa mendapat kebahagian kekal di tempat yang telah disediakan oleh yang berkuasa. Selain itu kita juga harus berusaha untuk selalu bersyukur kepada nenek moyang dan juga tidak ingat diri.
Pada dasarnya nenek moyang juga telah mengetahui adanya Tritunggal Maha Kudus hanya saja mereka tak mengetahui apa nama dari Tritunggal Maha Kudus itu. Kepercayaan ini juga mengajarkan hal yang juga diajarkan oleh agama-agama sekarang untuk melakukan hal baik dan tidak ingat diri. Dan sekarang setelah diketahui bahwa sejak dulu telah diwariskan oleh nenek moyang, hal-hal baik oleh karena itu apa yang diajarkan perlu diamalkan dan ditanamkan didalam hati oleh semua generasinya dan dilaksakan agar kita (keturunannya) bisa memperoleh berkat dan rahmat dari
***


Ibadat Sabda: Minggu III Prapaska

IBADAT SANTAPAN SABDA – EKARISTI KERINDUAN
HARI MINGGU PRAPASKA III DALAM TAHUN A.
(KELIMA PETUGAS:P1, P2, P3, P4, P5 BERSIAP DIRI)

01.(PI). Tanda salib dan Doa Angelus. Bapa, mama, saudara-saudari, marilah kita berdiri untuk memulai ibadat kita. Kita menyadari akan kehadiran Allah di tengah kita. Mengawali ibadat ini, marilah kita terlebih dahulu menandai diri kita dengan “tanda kemenangan Kristus “ (Tanda Salib). Dalam Nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin...Malaikat Tuhan memberi kabar kepada Maria....
02.(Kelima petugas maju ke altar, berlutut lalu berdiri di belakang altar: [P1 di tengah, P2 dan P4 di kanan, P3 dan P5 di kiri]).
03.(P1). Ajakan Pembukaan. Saudara-saudari, bapa-mama, umat Allah yang terkasih dalam Kristus. Hari ini kita memasuki hari Minggu Prapaska III dalam tahun A. Sebelum kita merayakan pesta Paska, Pesta Kebangkitan Kristus, Gereja menyiapkan bagi kita sebuah masa tobat, masa puasa sebagai persiapan batin kita yang dimulai dengan Rabu Abu, hari penerimaan abu sebagai tanda tobat kita. Pada kepala kita diberi abu sebagai tanda bahwa kita berasal dari debu tanah dan juga sebagai tanda kerapuhan kita. Bersama Yesus yang berpuasa, kita mengangkat hati untuk berpuasa dan bertobat dari segala dosa dan kekurangan kita.
04.(P2). Lagu Pembukaan. Marilah kita memuji Tuhan dengan menyanyikan lagu pembukaan. (Lagu masa Prapaska).
05.(P1). Salam. Semoga Allah Bapa Yang Mahakuasa, Semoga Yesus Kristus Sang Penebus mengasihani kita dan selalu beserta kita
(U). Sekarang .....
06.(P1). Kata Pengantar. Saudara/i umat Allah yang terkasih. Kita menyadari bahwa Allah yang kita imani dalam diri Yesus Kristus adalah Dia yang mati disalibkan kemudian bangkit dari alam maut. Yesus Kristus adalah sang Penebus dosa dan Penyelamat kita. Ia diutus Bapa untuk membebaskan kita serta menebus segala dosa kita. Perlu kita sadari bahwa masa Prapaska ini adalah masa pertobatan bagi kita umat Kristen. Ini adalah saat emas bagi kita untuk melepaskan segala dosa kita; kita diberi kesempatan untuk memulihkan hubungan baik kita dengan Allah melalui tobat hati kita. Di masa Prapaska ini, kita perlu berpuasa diri dalam segala hal sehingga dengan demikian kita boleh mengambil bagian dan merayakan pesta Kebangkitan Kristus dengan hati yang benar-benar suci dan murni. Dengan demikian kita boleh bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah. Karena dosa-dosa kita, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah. Marilah di awal ibadat ini, kita siapkan hati dan diri kita dengan menyesal dan bertobat atas semua dosa dan salah kita supaya kita pantas bertemu dengan Allah dalam perayaan ini.
07.(P3). Tuhan Kasihanilah....
Tuhan Yesus Kristus, Engkau adalah Putera Allah yang bertahta di surga mulia. Engkau datang ke dunia diutus oleh Bapa untuk ada bersama manusia dan menyertai kami. Tuhan kasihanilah kami.....
(U): Tuhan .......
Tuhan Yesus Kristus, Engkau adalah sumber air kehidupan kami. Di kala kami merasa haus, Engkau memberikan kesejukan bagi kami dalam air kehidupanMu. Kristus kasihanilah kami....
(U): Kristus .......
Tuhan Yesus Kristus, sering kami minum air yang bukan air kehidupanMu walaupun kami tahu air yang kami minum itu bukan air kehidupan. Namun di kala kami memintanya kepadaMu, Engkau tetap memberinya. Tuhan kasihanilah kami....
(U): Tuhan .......
(P3). Semoga Allah yang Mahakuasa mengasihani kita, mengampuni dosa kita dan mengantar kita ke hidup yang kekal.
(U): Amin

08.(P2). Tidak ada kemuliaan dalam masa Prapaska
09.(P1). Doa Pembukaan.
Marilah kita berdoa
Allah Bapa yang Mahakuasa, Engkau menemui kami dalam diri Yesus yang adalah Penebus dan Penyelamat. Engkau adalah sumber kasih dan kebenaran. PadaMu tak ada kesalahan. Dosa kamilah yang Kautanggung. DariMu mengalir mata air kehidupan yang memberikan hidup dan menyegarkan jiwa kami. Namun terkadang kami selalu menuruti kemauan kami sendiri, mencari dan meminum air yang bukan bersumber dariMu dan kami pun tetap merasa haus. Karena itu, kami mohon semoga Roh KudusMu membaharui hidup kami sehingga hanya kepadaMu kami datang untuk menemukan kasih dan kebenaran sekaligus sebagai pengasal sumber air kehidupan yang selalu memberikan kesejukan bagi jiwa kami hingga akhir zaman. Bersihkan badan dan kuduskan jiwa kami agar kami dapat memuji dan meluhurkan Dikau ya Allah Tritunggal yang Mahakudus, Bapa, Putera dan Roh Kudus, kini dan sepanjang masa.
(U): Amin
10.(P3). Santapan Sabda. Ibu-Bapak, saudara/i umat Allah yang terkasih. Marilah kita membuka hati dan diri untuk mendengarkan Tuhan yang berbicara dan yang memberikan santapan sabda kepada kita.
(kelima petugas beranjak ke mimbar sabda)
11.(P1). Kotbah
Akulah Sumber Air Kehidupan.
Bapa, Ibu, saudara/i yang terkasih dalam Tuhan. Hari ini kita sudah memasuki hari Minggu yang ketiga dalam masa prapaska. Dalam masa-masa ini kita harus berpuasa dan berpantang diri.
Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus Tuhan...
Bacaan-bacaan suci hari ini menyuguhkan kepada kita tentang Yesus sebagai mata air kehidupan. Dalam bacaan pertama kita akan mendengar tentang bangsa Israel yang tengah dilanda kehausan. Dalam ayat 3 “Hauslah bangsa itu akan air di sana; bersungut-sungutlah bangsa itu kepada Musa dan berkata: ‘Mengapa engkau membawa kami keluar dari Mesir, untuk membunuh kami, anak-anak kami dan ternak kami dengan kehausan”. Apa yang dilakukan Musa sebenarnya adalah atas suruhan Yahwe. Ini merupakan bukti bahwa cinta Tuhan begitu besar terhadap umat Israel walaupun Tuhan tahu bahwa justru bangsa inilah yang pertama melemparkan batu kepadaNya. Kasih dan kesetiaan Tuhan tak ada batasnya. Kebesaran kasihNya ini ditunjukkanNya dengan setia mendengar omelan bangsa Israel seperti ketika mereka meminta air. Air itu pun diberikanNya walaupun bangsa Israel terus menerus mempertanyakan kehadiranNya: adakah Tuhan hadir di tengah kita? Pertanyaan ini terkesan menggelikan karena sepertinya bangsa Israel tidak menyadari besarnya kuasa Tuhan yang telah membebaskan mereka dari perbudakan di Mesir. Semuanya itu diberikan Tuhan karena Ia adalah sumber kasih dan kebenaran. DariNya lah mengalir mata air kehidupan yang menghidupkan manusia hingga akhir zaman.
Selanjutnya dalam mazmur tanggapan, kita mendengar bagaimana pemazmur berbicara tentang Allah sebagai pembela kebenaran. “Jika bukan Tuhan yang menolong aku, nyaris aku diam di tempat sunyi.” Tuhan senantiasa menolong kita di saat kita mengalami rasa kesepian dan kesunyian dalam hidup asal kita selalu berharap kepadaNya. Ketika kita mengalami rasa goyah dalam hidup, kasih setia Tuhan pasti selalu menyokong kita dan menyenangkan jiwa kita dengan penghiburan. Betapa besar kasih setia Tuhan bagi umatNya. Ketika aku berpikir kakiku goyah maka kasih setia Tuhan pasti menyokong aku. Tuhan ibarat kota benteng dan gunung batu yang senantiasa melindungi umat kesayanganNya.
Kemudian dalam bacaan kedua, kita akan mendengar bagaimana Paulus dalam suratnya kepada umat di Roma berbicara tentang iman dan kebenaran. Yang dibenarkan iman, hidup dalam damai sejahtera dengan Allah. Dengan demikian kita pun bisa dan beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia. Namun yang penting bagi kita di sini adalah bagaimana kita hidup dalam iman dan kebenaran. Dalam kasih karunia, kita akan berdiri dan bermegah serta berpengharapan akan menerima kemuliaan Allah. Pengharapan akan Allah tidak pernah mengecewakan asal kita benar-benar berharap kepadaNya karena kasih Allah itu akan dicurahkan bagi kita di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan bagi kita. Namun saudara/i, kita juga perlu bermegah dalam kesengsaraan kita, karena kesengsaraan menimbulkan ketekunan, ketekunan menimbulkan tahan uji dan pada akhirnya sampai kepada suatu pengharapan akan Allah yang berbelas kasih.
Dalam bacaan Injil kita akan mendengar bagaimana percakapan Yesus dengan perempuan Samaria. Percakapan itu terjadi di sebuah sumur yang disebut sebagai sumur Yakub. Perempuan itu datang hendak menimba air. Yesus meminta kepadanya agar perempuan itu memberikan air kepadaNya, “Berilah Aku minum...”. Permintaan Yesus ini ditanggapi dengan sebuah pertanyaan dari perempuan Samaria tersebut, “Masakan seorang Yahudi meminta air kepada seorang Samaria? Tidak kah kita saling bermusuhan?” Percakapan kemudian berlangsung menarik karena Yesus sepertinya mendesak sang perempuan untuk memberinya air. Dalam desakannya itu sangat jelas bahwa Yesus tidak pernah melihat latar belakang diriNya sebagai seorang Yahudi dan sang perempuan sebagai seorang Samaria yang nota bene saling bermusuhan. Yang dipentingkan Yesus adalah sejauh mana belas kasih yang ada dalam diri perempuan tersebut dalam mengabulkan permohonanNya. Di akhir percakapan itu Yesus mengatakan bahwa barang siapa meminum air itu akan haus lagi tetapi barang siapa meminum air yang Ia berikan, tidak akan haus untuk selama-lamanya. Pernyataan ini langsung disambar sang perempuan dengan meminta kepada Yesus air tersebut supaya ia tidak akan haus dan supaya ia tidak lagi datang ke tempat itu untuk menimba air.
Saudara-saudari umat Tuhan yang terkasih. Cinta dan kasih Tuhan selalu dan senantiasa menyertai kita. Di dalam Allah, kita senantiasa mendapat pembenaran oleh karena iman kita dan karena itu kita harus selalu berharap padaNya. Marilah dalam nama Yesus kita saling meneguhkan dan saling membenarkan dalam iman dan pengharapan. Tuhan meminta kepada kita untuk selalu hidup dalam kebenaran.
Saudara-saudari, hendaknya dalam hidup kita sehari-hari kita mencontohi teladan Tuhan kita Yesus Kristus. Kiranya di masa Prapaska ini kita benar-benar menjadi air yang senantiasa mengalirkan kesejukan bagi sesama kita yang membutuhkan air dan mereka yang mengalami kehausan. Atau kita menjadi petunjuk jalan bagi mereka yang belum mengenal sumber air kehidupan dan menghantar mereka ke sumber airNya. Marilah kita saling menyejukkan lewat tingkah laku kita, tutur kata kita yang senantiasa membawa kedamaian dan kesejukan di hati sesama kita yang lain. Semoga teladan Yesus ini menjadikan kita air hidup yang pernah Ia alirkan kepada kita lewat sakramen pembaptisan kita. Mari kita masing-masing menjadi air kehidupan bagi mereka yang membutuhkan air, agar Yesus benar-benar menampakkan wajahNya yang cerah.
Marilah bersama Paulus dan umat Roma, bersama seluruh umat manusia terlebih bersama seluruh orang Kristen kita melanjutkan masa Prapaska ini dengan lebih rajin berdoa dan menerima sakramen-sakramen khususnya pengakuan dan komuni suci. Dengan demikian kita masuk hidup baru bersama Yesus serta bangkit dari dosa dan salah kita untuk hidup pantas di hadapan Allah.
12.(P2). Aku Percaya. Setelah kita membuka hati untuk mendengarkan dan merenungkan Sabda Tuhan yang menjadi bekal hidup kita, marilah kita berdiri untuk mengakui iman dan kepercayaan kita kepada Allah Tritunggal. (Lagu Aku Percaya).
13.(P3). Doa Umat. Ya Allah, Bapa yang Mahamurah, untuk menebus dan menyelamatkan manusia, Engkau mengutus PutraMu ke dunia. Kedatangan Yesus menjadi tanda kehadiranMu di tengah kami. Yesus adalah sumber kasih. Dari padaNyalah mengalir mata air kehidupan yang senantiasa menyegarkan dan menyejukkan jiwa kami. Setiap orang yang meminum air yang berasal dariNya akan memperoleh kehidupan dan tak akan pernah haus lagi sampai selama-lamanya. Karena itu ya Tuhan, kepadaMu kami hendak menyampaikan doa-doa permohonan kami ini.
(1). Bagi Gereja Allah. Ya Bapa, berkatilah GerejaMu, para pemimpin: Paus, Para Uskup, para imam biarawan-biarawati, agar mereka senantiasa mengalirkan kasih dan kebenaran kepada umatNya. Kiranya air kehidupan yang Kaualirkan kepada mereka dapat mereka alirkan kepada umatMu yang senantiasa haus akan sabda dan kebenaranMu. Semoga air yang mereka alirkan itu membawa kehidupan abadi bagi umatMu. Marilah kita memohon....
(2).Bagi seluruh dunia. Ya Bapa, seluruh dunia adalah umat yang Kaukasihi. Sinarilah hati dan budi kami agar kami saling membagikan air kehidupan bagi sesama kami yang mengalami kehausan. Marilah kita memohon.......
(3).Bagi semua orang yang belum mengenal Allah. Ya Bapa, kembalikan kesadaran umatMu, baik mereka yang belum mengenalMu maupun bagi mereka yang tersesat dan senantiasa menjauh dari hadapanMu. Sadarkanlah mereka ya Tuhan agar mereka kembali kepadaMu sebagai sumber mata air kehidupan yang senantiasa memberikan rasa lega bagi mereka. Mereka tersesat dan mencari mata air lain untuk hidupnya namun mereka tetap merasa haus. Marilah kita memohon.....
(4).Bagi kita yang hadir di sini dan saudara-saudari kita yang tidak sempat hadir. Ya Tuhan, sadarkanlah kami bahwa tugasMu adalah tugas yang harus kami lanjutkan, untuk saling membantu sesama kami yang mengalami kehausan. Semoga mata air kehidupan yang telah Kautunjukkan kepada kami dapat kami tunjukkan kepada mereka yang belum mengenalnya. Marilah kita memohon......
(P3). Ya Bapa, bersama doa-doa ini kami persembahkan diri kami kepadaMu. Inilah ungkapan maksud baik kami kepadaMu. Semoga kami dapat mengarahkan hidup kami kepadaMu dan kepada sesama kami seturut teladan Yesus Kristus. Dialah Tuhan dan pengantara kami yang hidup dan bertahta bersama Dikau dalam persatuan dengan Roh Kudus, sepanjang segala masa.
(U). Amin
14.(P2). Persembahan. Saudara-saudari, sadar akan segala penyertaan Allah yang membebaskan, orang Israel mempersembahkan kepadaNya hasil panen pertama sebagai ungkapan rasa syukur dan terima kasih mereka kepada Allah. Hidup kita selalu diberkati Allah dan segala karya kita berhasil karena kemurahan hati Allah. Maka sebagai tanda syukur, kita membawa buah tangan kita. Marilah kita mempersembahkan derma kita. (kelima petugas mengambil persembahan lalu kembali ke belakang altar).
15.(P4). Pujian. (Umat dipersilahkan berdiri). Setelah Allah menerima diri dan persembahan kita, marilah kita memuji Dia dan berkata: Terpujilah Engkau selama-lamanya.
Kami memuji dan mengagungkan Dikau, Ya Allah yang bertahta di surga mulia. KebesaranMu memenuhi seluruh bumi dan semesta alam. Namun Engkau adalah Bapa yang dekat dengan kami. Engkau memberkati, menjaga dan melindungi kami. Kasih kebapaanMu yang senantiasa mengalir bagaikan air dalam diri kami membuat hidup kami senantiasa terarah kepada kemuliaanMu di surga. Maka kami berseru... (U). Terpujilah ....
Kami memuji dan memuliakan Dikau, ya Allah Putera, Tuhan kami Yesus Kristus. Engkau datang ke dunia dan menjadi manusia seperti kami. Dalam Perjanjian Lama, Allah hadir dalam diri Musa untuk membebaskan Israel dari perbudakan Mesir. Engkau adalah Musa baru yang hendak membebaskan dan menyelamatkan kami dari segala belenggu dan perbudakan dosa. Selama empat puluh hari di padang gurun, Engkau dicobai iblis. Namun dengan kekuatan Roh Kudus, Engkau mementahkan serangan iblis dan menjadi pemenang atas bujukan si jahat. Dengan itu, Engkau menunjukkan kekuasaanMu atas semua ciptaan. Maka kami berseru... (U). Terpujilah ....
Kami memuji dan memuliakan Dikau ya Allah Roh Kudus, cahaya sinar Allah sendiri. Engkau membuat mata dan hati kami terbuka untuk melihat kekuasaan Allah atas alam ciptaan. Kami memuji dan memuliakan Dikau karena Engkau hadir dan memberi kekuatan bagi Yesus Kristus dalam pencobaan di padang gurun. Kami yakin Engkau pun hadir beserta kami. Maka kami berseru... (U). Terpujilah ....
(P4). Maka bersama para malaikat dan semua orang kudus di surga, bersama seluruh umat manusia, bersama semua orang Kristen yang pada hari ini merayakan hari Tuhan, kami mengangkat pujian bagi kemuliaan dan kebesaranMu sambil bernyanyi....
16.(P2). Lagu Kudus.
17.(P1). Doa Persatuan umat Allah. (Umat dipersilahkan berlutut). Ya Allah Tritunggal yang Mahakudus, Bapa, Putera dan Roh Kudus. Engkau adalah Allah kami satu-satunya yang bertahta di surga mulia dengan kemegahan dan keagungan yang melampaui segala sesuatu. Namun Engkau hadir bersama umatMu yang berkumpul dan berdoa kepadaMu pada hari ini. Bukalah mata dan hati kami untuk mengalami kehadiranMu dalam segala sesuatu yang terjadi di tengah keluarga, masyarakat dan dunia kami. Bimbinglah para pemimpin bangsa di seluruh dunia supaya senantiasa berjuang menegakkan perdamaian dan kerukunan umat manusia.
Kami doakan Bapa Suci kami.... Uskup kami ..... Ingatlah akan semua orang Kristen agar bersatu hati menerima hadirnya kerajaan Allah di dunia dan mengakui Yesus sebagai sumber kehidupan yang memberikan air hidup kami. Kami berdoa untuk keluarga Kristen di seluruh dunia, para orang tua, muda-mudi dan anak-anak. Tumbuhkanlah juga panggilan untuk menjadi imam, bruder, dan suster dalam keluarga kami. Berkatilah pekerjaan kami, kebun dan tanaman kami supaya berhasil. Demikianlah juga usaha dan pencaharian kami di laut, para buruh dan yang bekerja apa saja. Lindungilah kampung halaman kami, jauhkanlah penyakit dan marabahaya.
Ingatlah pula akan saudara-saudari kami yang jauh di tanah orang, mereka yang pergi merantau. Kami berdoa pula bagi saudara-saudari kami yang sakit dan menderita, mereka yang mengalami bencana. Semoga dengan air kehidupan yang Kauberikan senantiasa memberikan rasa lega. (Marilah kita berdiri). Kini kami menyatukan suara kami untuk berdoa bersama Yesus Kristus saudara kami yang sulung itu. Bapa Kami ....
18.(P5). Doa Rosario. Marilah kita memohon dan doa perlindungan Bunda Maria. Dialah ibu kita, Ratu Surga dan Dunia yang selalu dekat dengan kita. Kita menyerahkan semua orang, segala kepentingan kita kepadanya. (10 x Salam Maria....Kemuliaan....Ya Yesus....)
19.(P2). Lagu Maria. Marilah kita menyanyikan Lagu Maria
20.(P1). Sambut Kerinduan. (Umat dipersilahkan berlutut). Ya Allah Bapa di surga, Engkau mengenyangkan umatMu Israel di padang gurun dengan roti dari langit. Karena itu berilah dan alirkan air kehidupanMu untuk melepaskan dahaga kami. Yesus Kristus PuteraMu pada malam perjamuan terakhir memberikan roti yang adalah TubuhNya dan anggur yang adalah DarahNya supaya menjadi santapan bagi jiwa kami. Pada hari ini kami Kauundang untuk mengambil bagian dalam perayaan Ekaristi kudusMu. Di banyak gereja, imam hadir untuk merayakan Ekaristi sehingga umat beriman memperoleh santapan sabda dan Tubuh dan Darah Yesus.
Pandangilah saudara-saudari kami di seluruh dunia yang tidak berkesempatan merayakan Ekaristi. Kami percaya padaMu ya Yesus.
21.(P2). Lagu Komuni. Marilah kita menyanyikan sebuah lagu komuni.
22.(P3). Pengumuman. (Umat dipersilahkan duduk). Kita mendengarkan pengumuman.
23.(P1). Doa Penutup. (Umat dipersilahkan berdiri). Ya Allah yang menyelamatkan dan membebaskan, kami bersyukur dan berterima kasih kepadaMu karena pada hari ini kami umatMu sudah berkumpul untuk memuji dan memuliakan Dikau sebagai sumber mata air kehidupan yang senantiasa mengalir dalam diri kami. Tak pernah Engkau memperhitungkan kelupaan kami. Kami mengucap syukur untuk segala kebaikan yang sudah kami terima sepanjang hidup kami. Semoga teladanMu mendorong kami untuk mengalirkan kasih itu kepada sesama kami yang lain lewat sikap dan perbuatan nyata hidup kami sesuai dengan yang Kaukehendaki. Dengan demikian kami selalu memuji dan meluhurkan Dikau, ya Allah Tritunggal yang Mahakudus, yang hidup dan memerintah sepanjang segala abad. (U). Amin.
24.(P2). Lagu Penutup. Marilah kita menyanyikan lagu penutup.
25.(P1). Berkat. Semoga Allah Bapa Sang Pencipta dan berbelas kasih memberkati kita. Semoga Allah Putera sang Gembala agung membimbing kita dan semoga Allah Roh Kudus yang hadir bersama Yesus Kristus dalam menjalankan tugas kegembalaan yang diberikan Bapa selalu menerangi jalan hidup kita. Dalam Nama Bapa ..... (U). Amin.
26.(Para petugas kembali, berlutut di depan altar dan balik menuju pintu gereja lalu balik menghadap altar). (P). Terpujilah Yesus Kristus. (U). Sampai selama-lamanya. Amin.





Ibadat Sabda: Minggu II Prapaska


IBADAT
SANTAPAN SABDA-EKARISTI KERINDUAN
HARI PRAPASKA KE II TAHUN A
(Kelima Petugas: PI,PII, PIII, PIV, PV bersiap diri)


01.(PI). Tanda Salib dan Doa Angelus. Saudara/I, marilah kita berdiri untuk memulai ibadat kita. Kita menyadari kehadiran Allah di tengah kita. Marilah kita mengawali ibadat kita dengan “Tanda Salib”. Dalam Nama Bapa… Malaikat Tuhan memberi kabar kepada Maria…
02.(kelima petugas maju ke altar, berlutut lalu berdiri di belakang altar: PI di tengah dan PIV di kanan, PIII dan PV di kiri).
03.(PI). Ajakan Pembuka. Saudara-saudari, hari ini Gereja sejagat merayakan hari Minggu Prapaskah Kedua. Moment ini merupakan suatu moment yang disiapkan oleh Gereja bagi kita untuk mempersiapkan diri menyambut kebangkitan Kristus. Selama masa-masa ini kita semua diajak untuk senantiasa bertobat dan membersihkan hati untuk menerima janji Allah dalam diri Kristus.
04.(PII). Lagu Pembuka. Marilah kita memuji Allah yang telah menunjukkan kasih setiaNya kepada kita melalui Yesus Kristus dengan menyanyikan lagu pembukaan.
05.(PI). Salam. Semoga Allah Bapa yang Mahakuasa, semoga Yesus Kristus yang menjadi tebusan kita, dan semoga Allah Roh Kudus selalu beserta kita.
(U). Sekarang dan selama-lamanya.
06.(PI). Kata Pengantar.
Hari ini kita memasuki Minggu Prapaskah Kedua. Bacaan-bacaan suci yang akan diperdengarkan kepada kita hari ini hendak menunjukkan kepada kita bahwa Allah adalah seorang Bapa yang penuh kasih setia bagi anak-anakNya terutama yang percaya dan berharap kepadaNya. Bacaan pertama diambil dari kitab Kejadian yang mengisahkan tentang penggilan Abram. Allah memanggil Abram karena Allah mengasihi Abram. Bacaan kedua diambil dari surat kedua Rasul Paulus kepada Timotius. Selanjutnya bacaan Injil dari Matius yang mengisahkan tentang Yesus yang menampakkan diriNya di atas gunung. Melalui bacaan-bacaan ini, kita semua diajak agar dalam masa prapaskah kita hendaknya menghayati pertobatan sejati agar kita mampu menimba kasih Allah melalui Kristus sendiri. Mari kita menimbah rahmat dan kasih Allah itu dalam ibadat kerinduan ini.
07.(PIII). Tuhan Kasihanilah.
= Tuhan Yesus Kristus, Engkau datang sebagai wujud pemenuhan janji Allah bagi kami umat manusia yang berdosa. Tuhan Kasihanilah kami… (U). Tuhan…
= Tuhan Yesus Kristus, Engkau hadir dalam kemuliaanMu yang besar sebagai anak tunggal Bapa. Kristus Kasihanilah Kami… (U). Kristus…
= Tuhan Yesus Kristus, berkat wafat dan kebangkitanMu, kami dapat memperoleh kemuliaan anak-anak Allah yang turut mengambil bagian dalam janji keselamatan. (U). Tuhan…
(PII). Semoga Allah yang Maharahim mengasihani kita, mengampuni dosa-dosa kita dan menghantar kita ke hidup yang kekal. (U). Amin.
08.(PIII). Tidak ada kemuliaan. Selama Adventus dan masa Prapaskah kita tidak menyanyikan lagu “kemuliaan” yang adalah lagu gembira memuji Allah. Kita tidak menyanyikan lagu kemuliaan karena kita bersedih dan meratapi segala dosa yang telah kita lakukan dan memohon ampun, maka kita langsung mendoakan doa pembukaan.
09.(PI). Doa Pembukaan. Marilah kita berdoa. Allah Bapa yang Mahakuasa, Engkaulah Bapa yang penuh kasih. Karena kasihMu itu Engkau telah memanggil Abraham sebagai teladan orang beriman dan memberkati seluruh perjalanan hidup dan keturunannya. Kami mohon, semoga Engkau juga memanggil kami semua untuk mengambil bagian dalam janji dan berkat kebapaanMu. Doa dan permohonan ini kami sampaikan kepadaMu dalam nama Yesus yang hidup dan bertahta bersama dengan Dikau dalam persekutuan dengan Roh Kudus, kini dan sepanjang masa. (U). Amin.
10.(PIII). Santapan Sabda. Marilah kita membuka hati dan diri kita untuk mendengarkan Tuhan yang berbicara dan memberikan santapan sabda kepada kita. (kelima petugas ke mimbar Sabda). (PIII). Bacaan Pertama. Kej 12:1-4a. (PII). Mazmur Tanggapan. Mazmur adalah lagu pujian Israel kepada Allah. Refrein artinya pengulangan. Kita berulang-ulang bernyanyi memuji Allah. (Mazmur 33:4-5, 18-19.20.22)
Refr. Tunjukkanlah kiranya kasih setiaMu ya Tuhan sebab pada-Mulah kami berharap.
-Sabda Tuhan selalu benar, segala sesuatu dikerjakannya dengan setia. Tuhan menyayangi keadilan dan hukum. Bumi penuh dengan kasih setiaNya. Refr.
-Tuhan menjaga hambaNya yang takut akan Dia, yang berharap akan kasih setiaNya. Untuk melepaskan mereka dari maut dan menghidupi mereka di masa kelaparan. Refr.
-Maka kita berharap pada Tuhan. Dialah penolong dan perisai kita. Tunjukkanlah kiranya kasih setiaMu Tuhan sebab pada-Mulah kami berharap. Refr.
(PIV). Bacaan Kedua. 2 Tim 1:8b-10. (PII). Pengantar Injil. Pujian dan hormat bagiMu ya Yesus Kristus. (U). Pujian… Dari dalam awan yang bercahaya terdengar suara Bapa: inilah PuteraKu terkasih dengarkanlah Dia. (U). Pujian… (PV). Marilah kita berdiri untuk mendengar Injil Suci. Tuhan bersamamu… Inilah Injil Tuhan kita Yesus Kristus menurut Mat 17:1-9.
11.(PI). Kotbah.
Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus, dalam bacaan pertama tadi kita mendengar bagaimana Allah memanggil dan menjanjikan berkat bagi Abram. Tujuan panggilan Allah terhadap Abram adalah untuk menyelamatkan Abram dari penderitaan yang dialaminya. Panggilan terhadap Abram ini disertai dengan janji berkat bahwa Allah akan memberkati Abram dan menjadikan dia sebagai bapa kaum beriman yang percaya kepada Allah. “Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar dan memberkati engakau serta membuat namamu masyur, dan engkau akan menjadi berkat”. Dalam hal ini Allah mau menyatakan bahwa Dia akan memberkati Abram dan mengangkatnya menjadi bapa bangsa yang termasyur sekaligus menjadikan Abram sebagai tanda berkat untuk semua manusia yang beriman.
Senada dengan bacaan pertama di atas, dalam bacaan kedua Rasul Paulus dalam suratnya yang kedua kepada Timotius menegaskan bahwa Allah adalah penyelamat yang telah memanggil manusia kepada kekudusan atau kesucian. “Dialah yang menyelamtkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus”, demikian ditegaskan oleh Santu Paulus. Rencana keselamatan dan panggilan Allah kepada kita manusia bukan pertama-tama karena perbuatan kita manusia, melainkan tertutama karena inisiatif Allah sendiri. Allah sendirilah yang pertama-tama mendatangi manusia dan menawarkan berkat dan keselamatan. Kasih setialah yang melatari panggilan dan tawaran Allah itu.
Selanjutnya dalam bacaan Injil, Matius mengisahkan tentang Yesus yang dimuliakan di atas gunung. Yesus adalah anak tunggal Bapa di surga. Yesus sesungguhnya diutus oleh Bapa untuk menunjukkan kasih setia Allah secara nyata dalam hidup manusia terutama melalaui kata dan tindakanNya yang berpuncak pada sengsara, wafat dan kebangkitanNya. Allah sendirilah yang menunjukkan kepada kita siapa itu Yesus yang sesungguhnya. “Inilah anak yang Kukasihi. Kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia”. Sebagai Anak Allah, Yesus juga hadir untuk menghalau kegelapan akibat dosa dalam hati manusia. Barang siapa mendengarkan dan mengikuti Yesus, itu berarti mendengarkan Bapa yang berbicara melalui Dia.
Kebesaran kasih Allah ini ditanggapi oleh pemazmur dengan iman dan harapan. Dengan iman yang teguh kita boleh berharap untuk memperoleh kasih setia Allah. Kasih setia Allah adalah satu-satunya sandaran yang bisa memungkinkan manusia untuk menerima tawaran keselamatan yang datang dari Allah sendiri.
Saudara-saudari, dari semua bacaan di atas tadi, Allah sesungguhnya mau mengatakan kepada kita bahwa Dia adalah Bapa yang penuh kasih bagi semua orang tertutama yang percaya kepadaNya. Kasih setia Allah ini nyata dalam diri Kristus yang nampak dalam kemuliaan sebagai anak tunggal Bapa penuh kasih karunia dan kebenaran. Melalui Kristus itu pula Allah akan membebaskan manusia dari belenggu penderitaan akibat dosa.
Terhadap kasih dan panggilan Allah ini, yang dituntut atau yang diminta dari kita adalah keterbukaan untuk mengikuti undangan dan penggilanNya. Kita diminta untuk selalu peka terhadap setiap bisikan Allah yang memanggil kita kepada kesucian agar kita bebas dari segala dosa dan penderitaan. Dalam hal ini kita bisa menjadikan bapa Abram sebagai teladan kita semua.
Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus, pada hari-hari dalam masa Prapaskah atau tobat ini, keterbukaan akan kasih setia Alla ini mendapat penekanan. Keterbukaan akan kasih Allah menjadi syarat untuk mencapai sebuah pertobatan yang sejati. Dengan menghayati sebuah pertobatan yang sejati, kita akan bisa mengalami kemuliaan dan kebebasan sebagai anak-anak Allah melalui pengambilan bagian dalam kebangkitan Kristus pada hari raya Paskah. Kita semua juga diminta untuk senantiasa terbuka untuk membagi kasih yang kita terima dari Allah bagi sesama kita yang sedang menanti uluran tangan kita. Kita semua diajak untuk solider dengan mereka yang mengalami penderitaan dan juga membagi rahmat pengampunan bagi mereka yang telah bersalah kepada kita. Solidaritas dan pertobatan yang sejati sesungguhnya menjadi kunci untuk menimba rahmat dan kasih Allah yang selalu menyertai kita. Semoga di masa Prapaskah ini kita betul-betul mengahayati pertobatan ini sehingga kelak di hari raya Paskah Tuhan, kita pun boleh mengalami paskah bersama Kristus. Amin.
12.(PII). Aku Percaya. Setelah kita membuka hati dan mendengar serta merenungkan sabda Tuhan yang menjadi bekal hidup kita, marilah kita berdiri untuk mengakui iman kepada Allah Tritunggal. (Lagu Aku Percaya).
13.(PIII). Doa Umat. Allah yang penuh kasih, Engkau telah menunjukkan kasih setiaMu kepada Abram dan menganugerahkan berkat baginya dan keturunannya. Kami yakin bahwa Engkau juga mengasihi kami melalui Yesus yang hadir untuk menebus kami. Dengan iman ini kami pun datang kepadaMu untuk menyampaikan doa-doa permohonan kami.
1.Bagi Gereja. Ya Bapa, bantulah Gereja yakni umatMu sendiri agar senantiasa terbuka terhadap setiap bisikan cintaMu dan agar GerejaMu betul-betul menjadi tanda berkat dan keselamatan bagi dunia. Marilah kita memohon…
2.Bagi mereka yang sedang mengalami kelelahan dan putus asa. Semoga mereka semua terbuka akan kasih Allah yang selalu menuntun manusia kepada kebahagiaan dan kegembiraan sejati dan membebaskan manusia dari segala beban yang menindih. Marilah kita memohon…
3.Bagi mereka yang menghadapi kematian. Semoga iman akan Kristus yang bangkit memberikan mereka kekuatan agar mereka mampu melihat kematian sebagai peralihan menuju hidup baru berkat kasih setia dan kebesaran Allah. Marilah kita memohon…
4.Bagi kita semua yang berkumpul di sini. Semoga kita senantiasa terbuka untuk menimba rahmat kasih Allah dan berani untuk membagi rahmat pengampunan dan solidaritas bagi sesama kita terutama di masa Prapaskah ini. Marilah kita memohon…
14.(PII). Persembahan. Allah telah menunjukkan kasih setiaNya kepada Abaraham dan kini kepada kita melalui kehadiran Yesus yang membebaskan. Kita mensyukuri semua itu. Sebagai ungkapan tanda syukur kita, marilah kita mempersembahkan seluruh diri dan apa yang kita miliki ke hadirat Allah. (kelima petugas mengambil persembahan lalu kembali ke belakang altar).
15.(PIV). Pujian. Umat dipersilahkan berdiri. Setelah Allah menerima diri dan persembahan kita, marilah kita memuji Dia dan berkata terpujilah Engkau selamanya.
= Kami memuji dan mengagungkan Dikau ya Allah karena berkat kasih setiaMu yang besar Engkau telah memanggil dan memberkati kami anak-anak-Mu agar kami selalu hidup dalam kesucian dan selalu dekat padaMu sebagai sumber kasih sejati. Maka kami berseru… (U). Terpujilah…
= Kami memuji Dikau ya Yesus Kristus karena dalam Engkaulah Allah yang menunjukkan kasih setiaNya dan sesungguhnya Engkau sendiri adalah kasih yang senantiasa menampakan kemuliaan sebagai anak Bapa penuh kasih setia dan kebenaran. Maka kami berseru… (U). Terpujilah…
= Kami memuji Dikau ya Allah Roh Kudus karena berkat kekuatanMu kami mampu untuk membuka hati terhadap setiap bisikan Allah yang selalu memanggil kami kepada pertobatan sejati sehingga kelak kami boleh mengalami kebangkitan bersama Kristus. Maka kami berseru… (U). Terpujilah…
(PIV) Maka bersama para malaikat dan semua orang kudus di surga serta bersama seluruh umat manusia secara khusus umat Kristen yang pada hari ini merayakan hari Minggu Prapaskah Kedua, kami mengangkat pujian bagi kemuliaan dan kebesaranMu sambil bernyanyi.
16.(PII). Lagu Kudus.
17.(PI). Doa Persatuan Umat Allah. Umat dipersilahkan berlutut. Ya Allah Tritunggal yang Mahakudus, Bapa, Putera dan Roh Kudus, Engkaulah Allah kami yang penuh kasih setia. Kami berdoa kepadaMu untuk semua keluarga Kristiani agar menjadi tanda dan perwujudan cinta KasihMu di tengah dunia ini dengan menghayati hidup berkeluarga secara utuh sebagaimana Bapa bersatu dalam Putera dan Roh Kudus.
Kami berdoa kepadaMu pula untuk Bapa suci kami Paus Benediktus XVI dan uskup kami Vinsensius agar mereka dilimpahi rahmat kekuatan dalam tugas dan pelayanan mereka dengan demikian semakin nampaklah kemuliaan dan cintaMu di tengah dunia melalui tugas dan pelayanan mereka. Berkatilah para imam, bruder, suster dan semua pelayan sabdaMu agar mereka setia dalam hidup dan panggilan yang telah Engkau anugerhkan bagi mereka. Bukalah hati dari setiap umatMu agar semakin hari dan terutama pada masa penuh rahmat yakni masa tobat ini, kami selalu terbuka dan setia dalam membagi kasih kepada sesama yang lain terutama mereka yang menderita. Tak lupa kami berdoa untuk mereka yang meninggalkan imannya agar berkat kebesaran kasihMu mereka boleh kembali ke jalan yang benar dan bisa bersatu dalam himpunan umat yang telah Engkau panggil. Marilah kita semua berdiri untuk menyatukan segala doa dan permohonan kita dalam doa yang diajarkan oleh Kristus sendiri. Bapa Kami…
18.(PV). Doa Rosario. Marilah kita memohon doa dan perlindungan dari Bunda Maria. Dialah pengantara kita kepada Yesus yang dengan penuh kasih keibuan senantiasa mendengarkan keluh kesah kita anak-anakNya. Kita mohon agar bersama Dia kita dapat menggunakan masa tobat ini degan sebaik-baiknya. (10 kali Salam Maria…Kemuliaan…Ya Yesus yang baik…).
19.(PII). Lagu Maria. Marilah kita menyanyikan salah satu lagu Maria.
20.(PI). Sambut Kerinduan. Umat dipersilahkan berlutut. Ya Allah Tritunggal, sebagaimana Engkau telah memberikan kekuatan kepada Abram dengan janji dan berkatMu sehingga ia mampu menempuh panggilan suciMu, maka kepada kami pun Engkau mengutus Yesus sebagai tanda cintaMu. Kami berdoa kepadaMu semoga sabda dan tubuhNya menjadi santapan yang memberikan kami kekuatan untuk menempuh panggilan hidup ini. Smoga kami juga senantiasa Kauhimpun dalam satu himpunan bersama untuk menerima santapan sabda dan tubuhNya serta mampu membagiNya kepada semua orang yang karena sakit tidak bisa berkumpul bersama kami dalam perayaan bersama ini sehingga kelah kami semua boleh mengalami kemuliaan sebagai anak-anakMu dalam kemerdekaan dan kebebasan sejati.
21.(PII). Lagu Komuni. Marilah kita menanyikan sebuah lagu komuni.
22.(PIII). Pengumuman. Umat dipersilahkan duduk. Kita mendengar pengumuman.
23.(PI). Doa Penutup. Ya Allah Bapa dalam surga, kami bersyukur untuk rahmat dan kasih setiaMu dalam seluruh ziarah perjalanan hidup kami di hari-hari yang telah lalu. Kami bersyukur pula karena kasih setiaMu itu juga Engkau telah mengundang kami untuk berkumpul bersama dalam perayaan ini sebagai saat yang tampan bagi kami untuk menimba rahmat pertobatan yang sejati. Kami mohon semoga kami mampu membagi kasih kepada sesama kami terutama mereka yang menderita. Semoga kami juga Kauperkenankan untuk menikmati hari kemuliaan bersama Kristus. Sebab Dialah Tuhan dan pengantara kami kini dan sepanjang masa. (U). Amin.
24.(PII). Lagu Penutup. Marilah kita menyanyikan lagu penutup.
25.(PI). Berkat. Semoga Allah Bapa yang Mahakuasa memberkati kita, semoga Allah Putera yang penuh kemuliaan dan semoga Allah Roh Kudus yang menerangi hati selalu menyertai kita dalam masa tobat ini. Dalam Nama Bapa… (U). Amin.
26.(Para petugas kembali, berlutut di depan altar dan balik menuju pintu Gereja lalu balik menghadap altar). (PI). Terpujilah Yesus Kristus. (U). Sampai selama-lamanya. Amin.
















Ibadat Sabda:Minggu I Prapaska

IBADAT SANTAPAN SABDA-EKARISTI KERINDUAN HARI MINGGU PRAPASKA I TAHUN A
(Para Petugas: PI, PII, PHI, PIV, PV)
01. (PI). Tanda Salib dan Doa Angelus. Saudara-saudari yang terkasih, marilah kita berdiri dan menyiapkan hati kita untuk beribadah. Man kita menandai diri kita dengan "Tanda salib". Dalam Nama Bapa.. .Malaikat Tuhan memberi kabar kepada Maria...

02. (Para petugas maju ke altar, berlutut lain herdiri di belakang altar: PI di tengah, PII dan PIV di kanan, PHI dan PV di kiri).

03. (PI). Ajakan Pembuka. Masa prapaska merupakan waktu yang tepat bagi kita untuk mengubah cara hidup kita yang lama yang penuh dengan dosa dan memulai hidup baru yang dikehendaki Allah. Dalam perayaaan prapaska minggu pertama pada hari ini kita diajak untuk menentang berbagai hal yang membawa kita kepada dosa dan melakukan apa yang Allah kehendaki. Dengan kita menjauhkan diri dan dosa dan melaksanakan apa yang Allah kehendaki mengantar kita untuk terlibat secara layak dan pantas merayakan paska keselamatan Kristus.

04. (PII). Lagu Pembuka. Marilah kita memuji kebesaran cinta Allah dengan menyanyikan lagu pembuka.

05. (PI). Salam. Semoga Allah Bapa yang mahacinta, semoga Yesus Kristus, yang mendertita, wafat, dan bangkit dan semoga Allah Roh Kudus beserta kita. (U). Sekarang...

06. (PI). Kata Pengantar. Bapa-Ibu, saudara-saudari yang terkasih. Allah merupakan Bapa yang baik. Dia selalu menghendaki yang terbaik bagi kita umatNya. Allah menghendaki agar manusia tidak meianggar finnanNya dan jatuh ke dalam dosa. Allah menghendaki supaya kita selamat dari dosa. Untuk menyelamatkan kita dari dosa Dia mengutus putra-Nya datang ke dunia. Putra-Nya datang memberikan contoh hidup yang baik bagi kita untuk selamat dari dosa. Contoh hidup yang baik yang diberikan putra-Nya adalah menolak berbagai tawaran duniawi yang dapat menjerumuskan manusia ke dalam dosa.

07. (PIIt) Tuhan Kasihanilah.
= Tuhan Yesus Kristus, akibat sikap Adam semua orang mati karena berbuat dosa, tetapi
berkat jasa-Mu semua orang memperoSeh rahmat dan hidup. Tuhan kasihanilah kami. (U)
Tuhan kasihanilah kami.
= Tuhan Yesus Kristus, akibat ketidaksetiaan Adam semua orang berdosa, tetapi berkat
ketaatan-Mu semua orang memperoleh rahmat. Kristus kasihanilah kami. (U). Kristus
kasihanilah kami.
= Tuhan Yesus Kristus, di padang gurun umat dibawa pimpinan Musa berkali-kali jatuh
ke dalam dosa, tetapi di padang gurun pula Engkau memberi teladan bagaiinana
mengalahkan godaan. Tuhan kasihanilah kami. (U). Tuhan kasihanilah kami.
(PHI). Semoga Allah yang Mahakuasa rnengasihani kita, mengampuni dosa kita dan
menghantar kita ke hidup yang kekal. (U). Amin.

08. (PII). Tidak ada kcmuliaan. Selama masa prapaska, kita tidak menyanyikan lagu kemuliaan yang adalah lagu gembira memuji Allah. Kita tidak menyanyikan kemuiiaan karena kita bersedih atas dosa-dosa kita dan memohon ampun. Karena itu, kita langsung mendoakan doa pembuka.

09. (PI). Doa Pembuka. Marilah kita berdoa: Ya Allah Bapa yang maha kuasa dan kekal, semoga dengan menjalankan masa puasa ini kami semakin mendalami misteri Kristus. Semoga masa yang menguntungkan ini kami dapat gunakan sebaik-baiknya, sehingga rahmatMu tidak kami sia-siakan, tetapi membuat kami layak hidup bersama Dia kelak. Doa ini kami sampaikan kepadaMu dengan perantaraan Kristus Tuhan kami yang hidup dan bertahta bersama dengan Dikau dalam persekutuan dengan Roh Kudus kini dan sepanjang masa (U) Amin.

10. (PHI). Santapan Sabda. Marilah kita membuka hati dan budi kita untuk mendengarkan Tuhan yang berbicara dan memberikan Santapan Sabda kepada kita.
(Kelima petugas he Mimbar Sahda). (PHI). Bacaan Pertama. Kejadian, 2: 7-9; .3: 1-7. (PII). Mazmur Tanggapan. Mazmur adalah lagu pujian Israel kepada Allah. Refrein artinya pengulangan. Kita berulang-ulang bemyanyi memuji Allah. Mzm. 50 (51): 3-4. 56a. 12-13. Refrein: Kasihanilah kami ya Tuhan, sebab kami berdosa.
*.Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setiaMu, menurut besarnya rahmatMu, hapuskanlah kesalahanku. Refrein
* Kusadari pelanggaranku, dosaku selalu membayang di hadapan mataku. Terhadap Engkau, terhadap Engkaulah aku berdosa, yang jahat di hadapan mataMu kulakukan. Refrein
* Ciptakanlah hati mumi bagiku, ya Allah, bahamilah semangat tabah dalam batinku. Janganlah kau buang aku dari hadapanMu. Janganlah kau ambil RohMu yang kudus dariku. Refrein
(PIV). Bacaan Kedua. Roma 5: 12-19. (PII). Pengantar Injil. Aleluia. Aleluia. ... (U). Aleluia...(PV). Marilah kita berdiri untuk mendengar injil suci. Tuhan bersamamu... Inilah Injil Tuhan kita Yesus Kristus menurut Mateus 4: 1-11. Demikianlah Sabda Tuhan. (U). Terpujilah Kristus.
11. (PI). Kotbah.
Bapak-Ibu, Saudara/I... Kristus.
Manusia adalah makhluk yang rapuh, mudah jatuh ke dalam dosa. Banyak hal yang membuat manusia jatuh ke dalam dosa. Salah satu di antaranya adalah karena manusia tidak mampu menahan godaan.
Bacaan pertama dari Kitab kejadian dengan jelas mengisahkan peristiwa kejatuhan manusia ke dalam dosa karena tidak menahan godaan. Di sana dilukiskan bahwa Adam dan Hawa mengiakan apa yang dikatakan ular kepada mereka yaitu memakan buah yang ada di taman. Mereka terpengaruh dengan tawaran ular, bahwa dengan mereka memakan buah itu mata mereka akan terbuka dan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat. Nampak di sana manusia tergoda untuk menyamakan kuasanya dengan kuasa Allah. Mereka melanggar apa yang Tuhan sabdakan kepada mereka " jangan kamu makan buah pohon di tengah taman itu".
Pengalaman jatuh ke dalam dosa merupakan pengalaman yang tak terelakkan oleh manusia. Meskipun manusia selalu tersandung jatuh dalam dosa, tetapi Tuhan tidak akan membuang manusia. Tuhan tetaplah Allah yang maha kasih, maha pengampun, sebab Dia adalah Allah yang penuh kerahiman. Inilah yang manjadi harapan manusia baru bagi manusia. Pemazmur melagukan kerahiman dan kemurahan Tuhan itu dalam sebuah seruan "kasihanilah aku, ya Allah." Melalui seruan pemazmur ini, kita memperoleh gambaran bahwa Allah adalah Tuhan yang selalu megampuni dan hanya dari padaNya saja kita memperoleh keselamatan dari dosa.
Pengalaman digoda atau dicoba seperti yang dialami oleh Adam dan Hawa dalam bacaan pertama juga dialami Yesus. Namun Yesus tidak jatuh ke dalam cobaan itu. Yesus, dalam Injil Matius dengan tegas menolak tiga cobaan yang diberikan kepadaNya. Pertama, Iblis menyuruh Yesus mengubah batu menjadi roti. Yesus menolaknya dengan berkata bahwa manusia bukan hidup dari roti saja tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah. Kedua, Yesus disuruh untuk menjatuhkan diriNya dari bubungan Bait Allah, hanya untuk menunjukkan keberadaan Yesus sebagai Anak Allah. Yesus melawannya dengan mengatakan: "Janganlah engkau mencobai Tuhan Allahmu." Ketiga, Iblis memperlihatkan dan memberikan kepada Yesus kerajaan duniawi dengan segala kemegahannya seandainya Yesus sujud menyemebah Iblis. Tetapi Yesus melawannya dan mengatakan: "Enyalah Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau hams menyembah Tuhan Allahmu, dan kepada Dia sajalah Engkau berbakti." Ketiga bentuk tawaran itu berusaha untuk meyakinkan manusia supaya mengabaikan kehendak Allah yang menyelamatkan dan mengutamakan kehendak manusia atau kehendak pribadi yang justru mendatangkan kehancuran (dosa). Berhadapan dengan tiga tawaran itu, Yesus menentukan sikap dasarNya yakni mengutamakan Bapa dan menempatkan yang bersifat sementara yaitu hal-hal duniawi setelah kehendak Bapa tuntas dilaksanakan dalam hidup ini.
Sikap penolakan Yesus terhadap tiga cobaan yang ditawarkan Iblis kepada-Nya merupakan salah satu sikap menentang sikap Adam dan Hawa yang mudah terpengaruh dengan godaan. Di sini Yesus tidak hanya memberikan contoh sikap yang tepat dalam mengatasi kelemahan, tetapi mengedepankan sikap dasarNya untuk menyatakan kasih-Nya kepada sesama, menghapus dosa yang manusia lakukan sejak manusia pertama sehingga manusia memperoeh keselamatan. Kalau Adam yang jatuh ke dalam dosa menyebabkan yang lainnya juga jatuh ke dalam dosa, maka Yesus datang sebagai Adam baru yang membawa keselamatan bagi semua orang melalui sikap-Nya menentang berbagai cobaan yang diberikan kepadaNya. Hal itu diungkapkan oleh Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma (Roma, 5: 12-19).
Bapak-Ibu, Saudara/i ... Kristus.
Kita sama seperti Adam dan Hawa, mudah tergoda dan cepat jatuh ke dalam dosa, tetapi Yesus membantu kita untuk bebas dari dosa. Yesus memberikan kepada kita jalan bagaimana kita menghindari dosa dalam kehidupan kita. Jalan yang Yesus berikan kepada kita adalah menolak berbagai cobaan sehingga kita tidak jatuh ke dalam dosa. Kita melakukan hal serupa seperti yang Yesus lakukan yaitu menentang berbagai hal yang tidak berguna bagi keselamatan kita.
Masa prapaska ini merupakan waktu yang tepat bagi kita untuk melakukan penyangkalan terhadap berbagai hal yang merintangi keselamatan yang Allah tawarkan kepada kita. Prapaska menjadi kesempatan bagi kita untuk menentukan sikap yang tepat berhadapan dengan tawaran-tawaran yang menggoda, entah itu datang dari luar diri kita atau pun yang datang dari keinginan had nurani kita. Kita berharap bahwa sikap dasar itu bisa membantu kita untuk membuka pintu hati kita bagi Allah yang datang menyelamatkan kita.
Kita diminta untuk mengisi masa prapaska ini dengan sikap diri kita yang tepat berhadapan dengan berbagai tawaran yang muncul. Kita diminta untuk melakukan hal yang dilakukan Yesus yaitu menempatkan kehendak Allah di atas setiap bentuk tawaran lainnya. Kita berusaha untuk menyingkirkan hal yang bisa membuat kita sesat dan mengabaikan Allah dari hidup. Pilihan hendaknya satu yaitu Allah dan menjauhi hal yang menghalangi karya keselamatan Allah atas diri kita. Agar kita mampu melakukaknnya, mari kita memohon bantuan Tuhan yang maha kasih dan pengampun itu dalam ibadat suci ini. Karena itu kita diajak untuk bersama-sama mengelilingi altar Tuhan, bersama denganNya mengadakan periamuan sehingga kita memperoleh kekuatan dalam mengatasi dosa dalam kehidupan kita. Amin.
12. (PII). Aku Percaya. Setelah kita menyantap Santapan Sabda yang menjadi bekal hidup kita, maka marilah kita berdiri untuk mengakui iman kita kepada Allah Tritunggal. (Lagu Aku Percaya).

13. (PHI). Doa Umat. Ya Allah Bapa yang Mahakuasa, kasihMu begitu besar bagi dunia. Dengan kasihMu Engkau menghapus dosa dunia. Kami mohon ya Bapa, dengarkanlah doa-doa kami.
(1). Bagi Gereja Allah. Ya Bapa, jadikanlah GerejaMu pembawa keselamatan bagi manusia. Semoga semua umat yang berkumpul di dalamnya mampu meneladani putraMu yaitu menjauhi tawaran duniawi demi keselamatan sesama.
(2). Bagi seluruh umat kristen. Ya Bapa, semoga uamatMu di seluruh dunia dengan tekun melaksanakan masa puasa ini. Semoga mereka mampu menjauhi cobaan dan dosa, sehingga nantinya mereka dapat mengikuti paska putraMu dengan hati yang layak dan pantas.
3). Bagi mereka yang meninggalkan imanNya akan Kristus. Ya Allah, curahkanlah
RohMu ke dalam diri mereka yang sudah menjauhi putraMu. Semoga dengan
RohMu mereka kembali bersatu dengan kami untuk mengimani dan meneladani hidup putra-Mu.
(4). Bagi Kita yang hadir di sini. Ya Bapa, bantulah kami dalam melaksanakan masa puasa ini. Tuntuniah kami kepada kehidupan yang Engkau kehendaki sehingga kami mampu membawa keselamatan bagi diri kami dan sesama.
(PUT). Ya Bapa, demikianlah doa-doa yang sempat kami sampaikan ke hadiratMu pada kesempatan ini. Masih banyak hal yang mesti kami sampaikan. Namun kami yakin bahwa Engkau mendengarkan rintihan umat kesayanganMu. Sudilah Engkau menerima dan mengabulkannya. Kami sampaikan ini dengan perantaraan Kristus Tuhan dan Pengantara kami, yang hidup dan bertahta bersama dengan Dikau, dalam persatuan dengan Roh Kudus, Allah sepanjang segala masa. (U). Amin.

14. (PII). Persembahan. Saudara-saudari, Allah selalu memberikan kepada kita yang terbaik. Diri dan hasil karya kita adalah pemberian Allah. Marilah kita mensyukuri pemberian Allah itu dengan memberikan diri dan hasil karya kita kepadaNya, dengan segala kelebihan dan kekurungannya. Biarkan kelebihan yang kita miliki dipelihara oleh Allah dan kekurangan yang kita miliki dibaharui-Nya. (Kelima petugas mengamhil persembahan lalu kembali ke helahang altar).

15. (PIV). Pujian. Umat dipersilahkan berdiri. Setelah Allah menerima diri dan persembahan kita, marilah kita memuji Dia dan berkata: Terpujilah Engkau selama-lamanya.
=. Kami memuji dan mengagungkan Dikau ya Allah Bapa yang mahakasih dan mahacinta. Engkau telah menciptakan kami dan ciptaan lain baik adanya. Engkau memberikan kesempatan kepada kami untuk menikmati hasil ciptaanMu demi kelangsungan hidup kami. Maka kami berseru .... (U). Terpujilah...
=. Kami memuji dan memuliakan Dikau ya Allah Putera, Tuhan Kami Yesus Kristus. Engkau adalah Allah yang menjelma menjadi manusia dan menderita, wafat serta bangkit untuk menyelamatkan kami. Kami memuji Dikau karena Engkau mampu mengatasi cobaan di padang gunm dan memberikan contoh kepada kami tentang sikap hidup yang baik dalam mengatasi cobaan. Maka kami berseru. (U). Terpujilah...
=. Kami memuji dan memuliakan Dikau ya Allah Roh Kudus. Engkaulah Allah yang memampukan kami untuk berani melaksanakan yang terbaik bagi kehidupan ini. Engkaulah Allah yang menyadarkan kami bagaimana memperlakukan diri kami sebagai pembawa keselamatan bagi sesama. Berkat bantuanMu Yesus mampu mengatasi cobaan di padang gunm, yang dari sikap-Nya menjadi contoh bagi kami untuk mengatasi berbagai cobaan dalam hidup kami. Maka kami berseru. (U). Terpujilah... (PIV). Maka bersama para malaikat dan semua orang kudus di Surga, bersama seluruh umat manusia dan segenap umat Kristen yang pada hari ini merayakan hari Minggu Prapaska pertama, kami memuji dan memuliakan kebesaranMu sambil bemyanyi.

16. (PII). Lagu Kudus.

17. (PI). Doa Persatuan Umat Allah. Umat dipersilahkan berlutut. Ya Allah Tritunggal yang Mahakudus: Bapa, Putera dan Roh Kudus. Engkau adalah Allah kami yang membenci dosa. Namun Engkau tidak membiarkan kami terlarut dalam dosa. Walaupun kami jatuh dalam dosa Engkau tetap mengasihi kami dan datang menyelamatkan kami. Kami mohon, kiranya Engkau meluputkan kami dari dosa. Bukalah hati dan budi kami untuk mampu menjalankan masa puasa ini dan menjadi kesempatan bagi kami untuk semakin bersatu denganMu. Bimbing dan terangilah para pemimpin dunia dengan Roh Kudus dan kebijaksaanMu, agar mereka mampu menuntun umatMu kepada kesatuan dan kerukunan..
Kami berdoa bagi Bapa Suci kami...dan Bapa Uskup kami...berikanlah mereka kesehatan dan kuatkanlah mereka dalam menyerukan pertobatan sehingga seliingga kami kembali bersatu denganMu dan juga dengan sesama. Kami juga berdoa bagi kesatuan dan kerukunan bagi segenap umat kristen di seluruh dunia. Persiapkanlah diri mereka dalam menyambut paska Kristus. Kiranya Engkau menyanggupkan mereka mengatasi dosa perpecahan dalam kehidupan mereka. Ingatlah pula saudara-saudari kami yang beragama lain, semoga mereka bersatu dengan kami dalam menyambut paska putraMu. Biarkan masa puasa ini merupakan kesempatan bagi kami dan mereka untuk membangun kerukunan dan persatuan.
Akhimya ya Allah Tritunggal Mahakudus, persatukanlah kami semua dalam kasih dan cintaMu sehingga kami bisa menampakkan kehadiranMu dalam diri dan hidup kami. Bimbinglah kami, agar kami dapat mempersiapkan diri dengan baik dalam menyambut paska Kristus, paska yang menyelamatkan kami umatMu.

18. (PV). Doa Rosario. Saudara dan saudari yang terkasih. Yesus yang mampu mengatasi cobaan demi keselamatan manusia dari dosa adalah putra Maria. Maria adalah ibu yang mengandung dan melahirkanNya. Karena itu marilah kitajuga menghormati bunda Maria sekaligus memohon bantuannya untuk senantiasa mendoakan kita selama menjalankan masa puasa ini. Marilah kita meluhurkan dan memohon bantuannya lewat doa roasrio (10 kali Salam Maria... Kemuliaan... Ya Yesus...).

19. (PII). Lagu Maria. Marilah kita menyanyikan lagu Maria.

20. (PI). Sambut Kerinduan. Umat dipersilahkan berlutut. Ya Bapa di Surga, Engkau adalah sumber kehidupan kami. Engkau selalu memberikan kami makanan dan minuman ketika kami haus dan lapar. Ketika umatMu Israel lapar dan haus Engkau memberikan mereka mana dan air di padang gurun. Dengan itu mereka memperoleh kekuatan untuk terus melanjutkan perjalanan mereka ke tanah terjanji, Kanaan yang berlimpah susu dan madu. Sekarang kami ada dalam perjalanan, melakukan puasa untuk bisa sampai pada surga, tempat yang Engkau janjikan kepada kami. Berikanlah kami makanan dan minuman yaitu tubuh dan darah puteraMu terkasih Tuhan kami Yesus Kristus. Biarkan tubuh dan darah-Nya menjadi makanan yang dapat memberikan kekuatan bagi kami, sehingga kami mampu menjalankan masa puasa ini dengan baik, dan pada akhimya kami boleh menikmati kebahagiaan surgawi bersaMu dan para kudusMu. Sebab Kristus putraMu itulah Tuhan dan penyelamat kami yang hidup dan bertahta bersama dengan Dikau dalam persekutuan dengan Roh Kudus, kini dan sepanjang masa. (U). Amin.

21. (PII). Lagu KomunL Marilah kita menyanyikan sebuah lagu komuni.

22. (PHI). Pengumuman. Umat dipersilahkan duduk. Kita mendengar pengumuman.

23. (PI). Doa Penutup. Umat dipersilahkan berdiri. Ya Allah yang Mahakasih dan Mahacinta, terimakasih atas kesempatan untuk berpuasa yang Engkau berikan kepada kami. Bantulah kami agar kami mampu menjalankan masa tobat ini dengan baik. Utuslah putraMu untuk memberikan teladan kepada kami tentang hidup yang benar, menolak cobaan dan dosa dalam kehidupan kami. Semoga teladan hidup-Nya itu terus menerus kami laksa-nakan dalam kehidupan kami setiap hari, sehingga dari hari ke hari kami semakin dekat denganMu dan menjauhkan diri dari dosa. Sebab putraMu itulah Tuhan penyelamat kami yang hidup dan bertahta bersama dengan Dikau kini dan sepanjang masa. (U). Amin.

24. (PII). Lagu Penutup. Marilah kita menyanyikan lagu penutup.

25. (PI). Berkat. Semoga Allah Bapa yang maha baik dan penuh kasih memberkati kita, semoga Allah Putera yang mengatasi cobaan menguatkan kita, dan semoga Allah Roh Kudus yang menaungi dan memampukan Yesus menjalankan puasa empat puluh hari di padang gunm menggerakan kita untuk terus berpuasa, Demi Nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. (U). Amin.
26. (Para petugas kembali, berlutut di depan altar dan balik menuju pintu gereja lalu balik menghadap altar). (PI). Terpujilah Yesus Kristus. (U). Sampai selama-lamanya. Amen.
Oleh: Ferdinandus Jalu NPM. 03.75.3729.

Ibadat Sabda:Minggu I Prapaska

IBADAT SANTAPAN SABDA-EKARISTI KERINDUAN HARI MINGGU PRAPASKA I TAHUN A
(Para Petugas: PI, PII, PHI, PIV, PV)
01. (PI). Tanda Salib dan Doa Angelus. Saudara-saudari yang terkasih, marilah kita berdiri dan menyiapkan hati kita untuk beribadah. Man kita menandai diri kita dengan "Tanda salib". Dalam Nama Bapa.. .Malaikat Tuhan memberi kabar kepada Maria...

02. (Para petugas maju ke altar, berlutut lain herdiri di belakang altar: PI di tengah, PII dan PIV di kanan, PHI dan PV di kiri).

03. (PI). Ajakan Pembuka. Masa prapaska merupakan waktu yang tepat bagi kita untuk mengubah cara hidup kita yang lama yang penuh dengan dosa dan memulai hidup baru yang dikehendaki Allah. Dalam perayaaan prapaska minggu pertama pada hari ini kita diajak untuk menentang berbagai hal yang membawa kita kepada dosa dan melakukan apa yang Allah kehendaki. Dengan kita menjauhkan diri dan dosa dan melaksanakan apa yang Allah kehendaki mengantar kita untuk terlibat secara layak dan pantas merayakan paska keselamatan Kristus.

04. (PII). Lagu Pembuka. Marilah kita memuji kebesaran cinta Allah dengan menyanyikan lagu pembuka.

05. (PI). Salam. Semoga Allah Bapa yang mahacinta, semoga Yesus Kristus, yang mendertita, wafat, dan bangkit dan semoga Allah Roh Kudus beserta kita. (U). Sekarang...

06. (PI). Kata Pengantar. Bapa-Ibu, saudara-saudari yang terkasih. Allah merupakan Bapa yang baik. Dia selalu menghendaki yang terbaik bagi kita umatNya. Allah menghendaki agar manusia tidak meianggar finnanNya dan jatuh ke dalam dosa. Allah menghendaki supaya kita selamat dari dosa. Untuk menyelamatkan kita dari dosa Dia mengutus putra-Nya datang ke dunia. Putra-Nya datang memberikan contoh hidup yang baik bagi kita untuk selamat dari dosa. Contoh hidup yang baik yang diberikan putra-Nya adalah menolak berbagai tawaran duniawi yang dapat menjerumuskan manusia ke dalam dosa.

07. (PIIt) Tuhan Kasihanilah.
= Tuhan Yesus Kristus, akibat sikap Adam semua orang mati karena berbuat dosa, tetapi
berkat jasa-Mu semua orang memperoSeh rahmat dan hidup. Tuhan kasihanilah kami. (U)
Tuhan kasihanilah kami.
= Tuhan Yesus Kristus, akibat ketidaksetiaan Adam semua orang berdosa, tetapi berkat
ketaatan-Mu semua orang memperoleh rahmat. Kristus kasihanilah kami. (U). Kristus
kasihanilah kami.
= Tuhan Yesus Kristus, di padang gurun umat dibawa pimpinan Musa berkali-kali jatuh
ke dalam dosa, tetapi di padang gurun pula Engkau memberi teladan bagaiinana
mengalahkan godaan. Tuhan kasihanilah kami. (U). Tuhan kasihanilah kami.
(PHI). Semoga Allah yang Mahakuasa rnengasihani kita, mengampuni dosa kita dan
menghantar kita ke hidup yang kekal. (U). Amin.

08. (PII). Tidak ada kcmuliaan. Selama masa prapaska, kita tidak menyanyikan lagu kemuliaan yang adalah lagu gembira memuji Allah. Kita tidak menyanyikan kemuiiaan karena kita bersedih atas dosa-dosa kita dan memohon ampun. Karena itu, kita langsung mendoakan doa pembuka.

09. (PI). Doa Pembuka. Marilah kita berdoa: Ya Allah Bapa yang maha kuasa dan kekal, semoga dengan menjalankan masa puasa ini kami semakin mendalami misteri Kristus. Semoga masa yang menguntungkan ini kami dapat gunakan sebaik-baiknya, sehingga rahmatMu tidak kami sia-siakan, tetapi membuat kami layak hidup bersama Dia kelak. Doa ini kami sampaikan kepadaMu dengan perantaraan Kristus Tuhan kami yang hidup dan bertahta bersama dengan Dikau dalam persekutuan dengan Roh Kudus kini dan sepanjang masa (U) Amin.

10. (PHI). Santapan Sabda. Marilah kita membuka hati dan budi kita untuk mendengarkan Tuhan yang berbicara dan memberikan Santapan Sabda kepada kita.
(Kelima petugas he Mimbar Sahda). (PHI). Bacaan Pertama. Kejadian, 2: 7-9; .3: 1-7. (PII). Mazmur Tanggapan. Mazmur adalah lagu pujian Israel kepada Allah. Refrein artinya pengulangan. Kita berulang-ulang bemyanyi memuji Allah. Mzm. 50 (51): 3-4. 56a. 12-13. Refrein: Kasihanilah kami ya Tuhan, sebab kami berdosa.
*.Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setiaMu, menurut besarnya rahmatMu, hapuskanlah kesalahanku. Refrein
* Kusadari pelanggaranku, dosaku selalu membayang di hadapan mataku. Terhadap Engkau, terhadap Engkaulah aku berdosa, yang jahat di hadapan mataMu kulakukan. Refrein
* Ciptakanlah hati mumi bagiku, ya Allah, bahamilah semangat tabah dalam batinku. Janganlah kau buang aku dari hadapanMu. Janganlah kau ambil RohMu yang kudus dariku. Refrein
(PIV). Bacaan Kedua. Roma 5: 12-19. (PII). Pengantar Injil. Aleluia. Aleluia. ... (U). Aleluia...(PV). Marilah kita berdiri untuk mendengar injil suci. Tuhan bersamamu... Inilah Injil Tuhan kita Yesus Kristus menurut Mateus 4: 1-11. Demikianlah Sabda Tuhan. (U). Terpujilah Kristus.
11. (PI). Kotbah.
Bapak-Ibu, Saudara/I... Kristus.
Manusia adalah makhluk yang rapuh, mudah jatuh ke dalam dosa. Banyak hal yang membuat manusia jatuh ke dalam dosa. Salah satu di antaranya adalah karena manusia tidak mampu menahan godaan.
Bacaan pertama dari Kitab kejadian dengan jelas mengisahkan peristiwa kejatuhan manusia ke dalam dosa karena tidak menahan godaan. Di sana dilukiskan bahwa Adam dan Hawa mengiakan apa yang dikatakan ular kepada mereka yaitu memakan buah yang ada di taman. Mereka terpengaruh dengan tawaran ular, bahwa dengan mereka memakan buah itu mata mereka akan terbuka dan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat. Nampak di sana manusia tergoda untuk menyamakan kuasanya dengan kuasa Allah. Mereka melanggar apa yang Tuhan sabdakan kepada mereka " jangan kamu makan buah pohon di tengah taman itu".
Pengalaman jatuh ke dalam dosa merupakan pengalaman yang tak terelakkan oleh manusia. Meskipun manusia selalu tersandung jatuh dalam dosa, tetapi Tuhan tidak akan membuang manusia. Tuhan tetaplah Allah yang maha kasih, maha pengampun, sebab Dia adalah Allah yang penuh kerahiman. Inilah yang manjadi harapan manusia baru bagi manusia. Pemazmur melagukan kerahiman dan kemurahan Tuhan itu dalam sebuah seruan "kasihanilah aku, ya Allah." Melalui seruan pemazmur ini, kita memperoleh gambaran bahwa Allah adalah Tuhan yang selalu megampuni dan hanya dari padaNya saja kita memperoleh keselamatan dari dosa.
Pengalaman digoda atau dicoba seperti yang dialami oleh Adam dan Hawa dalam bacaan pertama juga dialami Yesus. Namun Yesus tidak jatuh ke dalam cobaan itu. Yesus, dalam Injil Matius dengan tegas menolak tiga cobaan yang diberikan kepadaNya. Pertama, Iblis menyuruh Yesus mengubah batu menjadi roti. Yesus menolaknya dengan berkata bahwa manusia bukan hidup dari roti saja tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah. Kedua, Yesus disuruh untuk menjatuhkan diriNya dari bubungan Bait Allah, hanya untuk menunjukkan keberadaan Yesus sebagai Anak Allah. Yesus melawannya dengan mengatakan: "Janganlah engkau mencobai Tuhan Allahmu." Ketiga, Iblis memperlihatkan dan memberikan kepada Yesus kerajaan duniawi dengan segala kemegahannya seandainya Yesus sujud menyemebah Iblis. Tetapi Yesus melawannya dan mengatakan: "Enyalah Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau hams menyembah Tuhan Allahmu, dan kepada Dia sajalah Engkau berbakti." Ketiga bentuk tawaran itu berusaha untuk meyakinkan manusia supaya mengabaikan kehendak Allah yang menyelamatkan dan mengutamakan kehendak manusia atau kehendak pribadi yang justru mendatangkan kehancuran (dosa). Berhadapan dengan tiga tawaran itu, Yesus menentukan sikap dasarNya yakni mengutamakan Bapa dan menempatkan yang bersifat sementara yaitu hal-hal duniawi setelah kehendak Bapa tuntas dilaksanakan dalam hidup ini.
Sikap penolakan Yesus terhadap tiga cobaan yang ditawarkan Iblis kepada-Nya merupakan salah satu sikap menentang sikap Adam dan Hawa yang mudah terpengaruh dengan godaan. Di sini Yesus tidak hanya memberikan contoh sikap yang tepat dalam mengatasi kelemahan, tetapi mengedepankan sikap dasarNya untuk menyatakan kasih-Nya kepada sesama, menghapus dosa yang manusia lakukan sejak manusia pertama sehingga manusia memperoeh keselamatan. Kalau Adam yang jatuh ke dalam dosa menyebabkan yang lainnya juga jatuh ke dalam dosa, maka Yesus datang sebagai Adam baru yang membawa keselamatan bagi semua orang melalui sikap-Nya menentang berbagai cobaan yang diberikan kepadaNya. Hal itu diungkapkan oleh Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma (Roma, 5: 12-19).
Bapak-Ibu, Saudara/i ... Kristus.
Kita sama seperti Adam dan Hawa, mudah tergoda dan cepat jatuh ke dalam dosa, tetapi Yesus membantu kita untuk bebas dari dosa. Yesus memberikan kepada kita jalan bagaimana kita menghindari dosa dalam kehidupan kita. Jalan yang Yesus berikan kepada kita adalah menolak berbagai cobaan sehingga kita tidak jatuh ke dalam dosa. Kita melakukan hal serupa seperti yang Yesus lakukan yaitu menentang berbagai hal yang tidak berguna bagi keselamatan kita.
Masa prapaska ini merupakan waktu yang tepat bagi kita untuk melakukan penyangkalan terhadap berbagai hal yang merintangi keselamatan yang Allah tawarkan kepada kita. Prapaska menjadi kesempatan bagi kita untuk menentukan sikap yang tepat berhadapan dengan tawaran-tawaran yang menggoda, entah itu datang dari luar diri kita atau pun yang datang dari keinginan had nurani kita. Kita berharap bahwa sikap dasar itu bisa membantu kita untuk membuka pintu hati kita bagi Allah yang datang menyelamatkan kita.
Kita diminta untuk mengisi masa prapaska ini dengan sikap diri kita yang tepat berhadapan dengan berbagai tawaran yang muncul. Kita diminta untuk melakukan hal yang dilakukan Yesus yaitu menempatkan kehendak Allah di atas setiap bentuk tawaran lainnya. Kita berusaha untuk menyingkirkan hal yang bisa membuat kita sesat dan mengabaikan Allah dari hidup. Pilihan hendaknya satu yaitu Allah dan menjauhi hal yang menghalangi karya keselamatan Allah atas diri kita. Agar kita mampu melakukaknnya, mari kita memohon bantuan Tuhan yang maha kasih dan pengampun itu dalam ibadat suci ini. Karena itu kita diajak untuk bersama-sama mengelilingi altar Tuhan, bersama denganNya mengadakan periamuan sehingga kita memperoleh kekuatan dalam mengatasi dosa dalam kehidupan kita. Amin.
12. (PII). Aku Percaya. Setelah kita menyantap Santapan Sabda yang menjadi bekal hidup kita, maka marilah kita berdiri untuk mengakui iman kita kepada Allah Tritunggal. (Lagu Aku Percaya).

13. (PHI). Doa Umat. Ya Allah Bapa yang Mahakuasa, kasihMu begitu besar bagi dunia. Dengan kasihMu Engkau menghapus dosa dunia. Kami mohon ya Bapa, dengarkanlah doa-doa kami.
(1). Bagi Gereja Allah. Ya Bapa, jadikanlah GerejaMu pembawa keselamatan bagi manusia. Semoga semua umat yang berkumpul di dalamnya mampu meneladani putraMu yaitu menjauhi tawaran duniawi demi keselamatan sesama.
(2). Bagi seluruh umat kristen. Ya Bapa, semoga uamatMu di seluruh dunia dengan tekun melaksanakan masa puasa ini. Semoga mereka mampu menjauhi cobaan dan dosa, sehingga nantinya mereka dapat mengikuti paska putraMu dengan hati yang layak dan pantas.
3). Bagi mereka yang meninggalkan imanNya akan Kristus. Ya Allah, curahkanlah
RohMu ke dalam diri mereka yang sudah menjauhi putraMu. Semoga dengan
RohMu mereka kembali bersatu dengan kami untuk mengimani dan meneladani hidup putra-Mu.
(4). Bagi Kita yang hadir di sini. Ya Bapa, bantulah kami dalam melaksanakan masa puasa ini. Tuntuniah kami kepada kehidupan yang Engkau kehendaki sehingga kami mampu membawa keselamatan bagi diri kami dan sesama.
(PUT). Ya Bapa, demikianlah doa-doa yang sempat kami sampaikan ke hadiratMu pada kesempatan ini. Masih banyak hal yang mesti kami sampaikan. Namun kami yakin bahwa Engkau mendengarkan rintihan umat kesayanganMu. Sudilah Engkau menerima dan mengabulkannya. Kami sampaikan ini dengan perantaraan Kristus Tuhan dan Pengantara kami, yang hidup dan bertahta bersama dengan Dikau, dalam persatuan dengan Roh Kudus, Allah sepanjang segala masa. (U). Amin.

14. (PII). Persembahan. Saudara-saudari, Allah selalu memberikan kepada kita yang terbaik. Diri dan hasil karya kita adalah pemberian Allah. Marilah kita mensyukuri pemberian Allah itu dengan memberikan diri dan hasil karya kita kepadaNya, dengan segala kelebihan dan kekurungannya. Biarkan kelebihan yang kita miliki dipelihara oleh Allah dan kekurangan yang kita miliki dibaharui-Nya. (Kelima petugas mengamhil persembahan lalu kembali ke helahang altar).

15. (PIV). Pujian. Umat dipersilahkan berdiri. Setelah Allah menerima diri dan persembahan kita, marilah kita memuji Dia dan berkata: Terpujilah Engkau selama-lamanya.
=. Kami memuji dan mengagungkan Dikau ya Allah Bapa yang mahakasih dan mahacinta. Engkau telah menciptakan kami dan ciptaan lain baik adanya. Engkau memberikan kesempatan kepada kami untuk menikmati hasil ciptaanMu demi kelangsungan hidup kami. Maka kami berseru .... (U). Terpujilah...
=. Kami memuji dan memuliakan Dikau ya Allah Putera, Tuhan Kami Yesus Kristus. Engkau adalah Allah yang menjelma menjadi manusia dan menderita, wafat serta bangkit untuk menyelamatkan kami. Kami memuji Dikau karena Engkau mampu mengatasi cobaan di padang gunm dan memberikan contoh kepada kami tentang sikap hidup yang baik dalam mengatasi cobaan. Maka kami berseru. (U). Terpujilah...
=. Kami memuji dan memuliakan Dikau ya Allah Roh Kudus. Engkaulah Allah yang memampukan kami untuk berani melaksanakan yang terbaik bagi kehidupan ini. Engkaulah Allah yang menyadarkan kami bagaimana memperlakukan diri kami sebagai pembawa keselamatan bagi sesama. Berkat bantuanMu Yesus mampu mengatasi cobaan di padang gunm, yang dari sikap-Nya menjadi contoh bagi kami untuk mengatasi berbagai cobaan dalam hidup kami. Maka kami berseru. (U). Terpujilah... (PIV). Maka bersama para malaikat dan semua orang kudus di Surga, bersama seluruh umat manusia dan segenap umat Kristen yang pada hari ini merayakan hari Minggu Prapaska pertama, kami memuji dan memuliakan kebesaranMu sambil bemyanyi.

16. (PII). Lagu Kudus.

17. (PI). Doa Persatuan Umat Allah. Umat dipersilahkan berlutut. Ya Allah Tritunggal yang Mahakudus: Bapa, Putera dan Roh Kudus. Engkau adalah Allah kami yang membenci dosa. Namun Engkau tidak membiarkan kami terlarut dalam dosa. Walaupun kami jatuh dalam dosa Engkau tetap mengasihi kami dan datang menyelamatkan kami. Kami mohon, kiranya Engkau meluputkan kami dari dosa. Bukalah hati dan budi kami untuk mampu menjalankan masa puasa ini dan menjadi kesempatan bagi kami untuk semakin bersatu denganMu. Bimbing dan terangilah para pemimpin dunia dengan Roh Kudus dan kebijaksaanMu, agar mereka mampu menuntun umatMu kepada kesatuan dan kerukunan..
Kami berdoa bagi Bapa Suci kami...dan Bapa Uskup kami...berikanlah mereka kesehatan dan kuatkanlah mereka dalam menyerukan pertobatan sehingga seliingga kami kembali bersatu denganMu dan juga dengan sesama. Kami juga berdoa bagi kesatuan dan kerukunan bagi segenap umat kristen di seluruh dunia. Persiapkanlah diri mereka dalam menyambut paska Kristus. Kiranya Engkau menyanggupkan mereka mengatasi dosa perpecahan dalam kehidupan mereka. Ingatlah pula saudara-saudari kami yang beragama lain, semoga mereka bersatu dengan kami dalam menyambut paska putraMu. Biarkan masa puasa ini merupakan kesempatan bagi kami dan mereka untuk membangun kerukunan dan persatuan.
Akhimya ya Allah Tritunggal Mahakudus, persatukanlah kami semua dalam kasih dan cintaMu sehingga kami bisa menampakkan kehadiranMu dalam diri dan hidup kami. Bimbinglah kami, agar kami dapat mempersiapkan diri dengan baik dalam menyambut paska Kristus, paska yang menyelamatkan kami umatMu.

18. (PV). Doa Rosario. Saudara dan saudari yang terkasih. Yesus yang mampu mengatasi cobaan demi keselamatan manusia dari dosa adalah putra Maria. Maria adalah ibu yang mengandung dan melahirkanNya. Karena itu marilah kitajuga menghormati bunda Maria sekaligus memohon bantuannya untuk senantiasa mendoakan kita selama menjalankan masa puasa ini. Marilah kita meluhurkan dan memohon bantuannya lewat doa roasrio (10 kali Salam Maria... Kemuliaan... Ya Yesus...).

19. (PII). Lagu Maria. Marilah kita menyanyikan lagu Maria.

20. (PI). Sambut Kerinduan. Umat dipersilahkan berlutut. Ya Bapa di Surga, Engkau adalah sumber kehidupan kami. Engkau selalu memberikan kami makanan dan minuman ketika kami haus dan lapar. Ketika umatMu Israel lapar dan haus Engkau memberikan mereka mana dan air di padang gurun. Dengan itu mereka memperoleh kekuatan untuk terus melanjutkan perjalanan mereka ke tanah terjanji, Kanaan yang berlimpah susu dan madu. Sekarang kami ada dalam perjalanan, melakukan puasa untuk bisa sampai pada surga, tempat yang Engkau janjikan kepada kami. Berikanlah kami makanan dan minuman yaitu tubuh dan darah puteraMu terkasih Tuhan kami Yesus Kristus. Biarkan tubuh dan darah-Nya menjadi makanan yang dapat memberikan kekuatan bagi kami, sehingga kami mampu menjalankan masa puasa ini dengan baik, dan pada akhimya kami boleh menikmati kebahagiaan surgawi bersaMu dan para kudusMu. Sebab Kristus putraMu itulah Tuhan dan penyelamat kami yang hidup dan bertahta bersama dengan Dikau dalam persekutuan dengan Roh Kudus, kini dan sepanjang masa. (U). Amin.

21. (PII). Lagu KomunL Marilah kita menyanyikan sebuah lagu komuni.

22. (PHI). Pengumuman. Umat dipersilahkan duduk. Kita mendengar pengumuman.

23. (PI). Doa Penutup. Umat dipersilahkan berdiri. Ya Allah yang Mahakasih dan Mahacinta, terimakasih atas kesempatan untuk berpuasa yang Engkau berikan kepada kami. Bantulah kami agar kami mampu menjalankan masa tobat ini dengan baik. Utuslah putraMu untuk memberikan teladan kepada kami tentang hidup yang benar, menolak cobaan dan dosa dalam kehidupan kami. Semoga teladan hidup-Nya itu terus menerus kami laksa-nakan dalam kehidupan kami setiap hari, sehingga dari hari ke hari kami semakin dekat denganMu dan menjauhkan diri dari dosa. Sebab putraMu itulah Tuhan penyelamat kami yang hidup dan bertahta bersama dengan Dikau kini dan sepanjang masa. (U). Amin.

24. (PII). Lagu Penutup. Marilah kita menyanyikan lagu penutup.

25. (PI). Berkat. Semoga Allah Bapa yang maha baik dan penuh kasih memberkati kita, semoga Allah Putera yang mengatasi cobaan menguatkan kita, dan semoga Allah Roh Kudus yang menaungi dan memampukan Yesus menjalankan puasa empat puluh hari di padang gunm menggerakan kita untuk terus berpuasa, Demi Nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. (U). Amin.
26. (Para petugas kembali, berlutut di depan altar dan balik menuju pintu gereja lalu balik menghadap altar). (PI). Terpujilah Yesus Kristus. (U). Sampai selama-lamanya. Amen.
Oleh: Ferdinandus Jalu NPM. 03.75.3729.

Ibadat Sabda: Hari Raya kristus Raja

IBADAT
SANTAPAN SABDA-EKARISTI KERINDUAN HARI RAYA TUHAN YESUS KRISTUS RAJA SEMESTA ALAM TAHUN A
(kelima petugas: PI, PII, PIII, PIV dan PV bersiap tin)
1. (PI). Tanda Salib dan Doa Angelus.
Saudara-saudari, marilah kita berdiri untuk memulai ibadat kita. Kita menyadari kehadiran Allah di tengah kita. Marilah kita menandai diri kita dengan "Tanda Salib". Dalam Nama Bapa... Malaikat Tuhan memberi khabar kepada Maria...
2. (Kelima petugas maju he depart altar, berhttut lalu berdiri di belakang altar: PI di tengah, PH dan PIVdi kafian, PJ1] dan PVdi kiri).
3. (PI). Ajakan Pembuka
Saudara-saudari, hari ini kita semua berkumpul di rumah Tuhan ini, untuk merayakan ibadah sabda hari Raya Tuhan Yesus Kristus Raja Semesta Alam, Dialah Raja yang akan datang merajai dunia, sehingga manusia akan memperoleh kedamaian. Marilah kita mengangkat hati dan budi kita untuk memuji dan memuliakan Allah melalui Putera-Nya dengan menyanyikan lagu pembukaan.
4. (PII). Lagu Pembukaan
5. (PI). Salam.
Semoga Allah Bapa yang mahabelaskasih yang telah mengutus Yesus Kristus, Raja damai nienggerakkan hati kita untuk taat kepada pewartaan-Nya dan semoga Allah Roh Kudus memberi kita kekuatan untuk hidup sebagai seorang murid yang taat kepada kehendak Allah.
6. (PI). Kata Pengantar. Bapak, ibu, Saudara/i yang terkasih dalam Tuhan. Pada hari Minggu terakhir tahun liturgi Gereja ini kita merayakan hari raya Tuhan Yesus Kristus Raja semesta alam. Pesta Kristus Raja mau menyadaikan kita untuk melihat sejauh niana kita telah menghayati hidup sebagai orang kristen di tengah masyarakat Sejauh mana perhaiian dan cinta yang kita berikan kepada sesama yang miskin, menderita dan yang sangat membutuhkan bantuan kita. Karena bila kita memperhatikan sesama yang miskin dan menderita di dunia ini, akan menerima ganjaran kebahagiaan hidup kekal. Dan sebaliknya bila kita hanya mementingkan diri sendiri akan menerima hukuman. Karena ita marilah kita memohon kekuatan Roh Kudus dari Kristus Raja semesta alam a gar kita senantiasa memberikan cinta, perhatian dan kasih sayang kepada sesama yang membutuhkan bantuan kita. Dan mereka yang mencintai dan melayani sesama dengan ikhlas hati akan mendengar perkataan ini, "Marilah hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah kerajaan yang telah disediakan baginiu sejak dunia dijadikan" (Mat 25:34).
7. (PIII). Tuhan kasihanilah.
(P). Tuhan Yesus Kristus, Engkaulah Putera Allah Pencipta langit dan bmni. Tuhan kasihanilah kami.
(U). Tuhan, kasihanilah kami.
(P). Tuhan Yesus Kristus, Engkaulah Putera manusia yang telah berjasa membebaskan umat manusia dengan sengsara, wafat dan kebangkitanMu. Kristus, kasihanilah kami.
(U). Kristus, kasihanilah kami.
(P). Tuhan Yesus Kristus, Engkaulah Raja semesta alam, Putera sulung yang pertama bangkit dari alam maut Tuhan, kasihanilah kami.
(U). Tuhan, kasihanilah kami.
08. (PII). Kemuliaan. Marilah kita memuji dan meluhurkan Tuhan dalam lagu kemuliaan
09. (PL) DoaPembukaan
(P). Marilah berdoa: Allah Bapa yang mahakuasa dan kekal, Engkau telah mengangkat Putera-Mu menjadi Raja, penguasa alam semesta. Demi membebaskan dan menyelamatkan kami la rela menanggung segala dosa dan kelemahan kami, bahkan sampai wafat di palang penghinaan. Dengan demikian, la telah membuka bagi kami jalan menuju keselamatan. Kami mohon, agar seluruh hidup kami merupakan ungkapan pujian, penghormatan dan kebaktian kepadaMu sampai saat kedatangan-Nya kembali. Demi Kristus Tuhan dan pengantara kami yang hidup dan berkuasa bersama dengan Dikau dalam persekutuan Roh Kudus Allah sepanjang segala masa.
(U).Amin
10. (PHI). Santapan Sabda.
Marilah kita membuka hati dan diri kita untuk mendengarkan Tuhan yang berbicara, yang adalah makanan rohani kita- (kelima petugas ke mimbar sabda).
(PHI). Bacaan Pertama. Yeh 34:11-12.15-17.
(PII). Mazmur Tanggapan, (Mazmur adalah lagu pujian Israel kepada Allah. Refrein artinya: pengulangan. Kita bernyanyi berulang-ulang memuji Allah). Mzm 22 (23) l-2a.2b-3.5-6. Refr: Tuhanlah, Gembalaku, aku takkanberkekurangan.
• Tuhanlah gembalaku, aku takkan berkekurangan. la membaringkan daku di padang rumput yang hijau.
• la membimbing aku ke air yang tenang, dan menyegarkan daku. la menuntun aku di jalan yang turus, demi nama-Nya yang kudus.
• Engaku menyediakan hidangan bagiku di hadapan segala lawanku. Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak, pialaku penuh berlimpah.
• Kerelaan dan kemurahan-Mu mengiringi aku seumur hidupku.
Aku akan diam di dalam rumah Tuhan sepanjang masa.
(PIV). Bacaan Kedua. 1 Kor 15:20-26.28
(PII), Pengantar Injil
(PII). Alleluya, Alleluya.
(U). Alleluya, alleluya.
(PII). Terpujilah yang datang atas nama Tuhan. Terpujilah kerajaan yang telah tiba, kerajaan Bapa kita Daud.
(U). Alleluya, alleluya
(PV). Marilah kita berdiri untuk mendengarkan Injil Suci.
(PV). Tuhan bersamamu...
(U). Dan bersama Rohmu.
(PV). Inilah Injil Tuhan kita Yesus Kristus menurut Mateus 25:31-46
(U). Dimuliakanlah Tuhan (PV). Demikianlah Sabda Tuhan...
(U). Terpujilah Kristus...
ll.(PI). Kotbah
Bapa, ibu saudara-daudari yang terkasih dalam Kristus…
Hari ini kita merayakan hari raya Kristus Raja semesta alam. Dalam tahun liturgis hari raya Kristus Raja semesta alam ini merupakan akhir dari masa biasa dan kita akan memasuki masa penantian. Bacaan-bacaan pada hari raya ini berbicara tentang bagaimana tanggung jawab kita sebagai orang kristen dalam hidup bersama. Allah menghendaki agar setiap kita bertanggung jawab terhadap sesama terutama yang kecil, miskin, menderita dan yang tersisihkan dalam lingkungan masyarakat
Dalam bacaan pertama dikisahkan tentang tanggung jawab pemimpin Israel terhadap umat Allah. Allah menghendaki seorang pemimpin yang sungguh memperhatikan domba-domba-Nya. Mereka harus memperhatikan dan membebaskan sesama yang miskin, menderita dan tertindas agar hidup bebas sebagaimana adanya. Namun dalam kenyataan, sebagai gembala mereka telah gagal dalam memikul tanggung jawab atas domba-dombanya. Karena itu Allah datang melawan mereka untuk menghukum mereka dan menyelamatkan domba-domba. Allah sendiri akan mengambil tanggung jawab para gembala. Allah akan menjadi gembala yang baik, memperhatikan domba-domba dan mengumpulkan mereka yang tercerai-berai. Gembala yang memperhatikan domba-domba-Nya akan menerima ganjaran, tetapi gembala yang mementingkan dirinya sendiri akan di hukum.
Sementara penginjil Matius dalam injil hari ini melukiskan seorang gembala yang mulia yaitu Yesus. Yesus tampil sebagai gembala dan hakim tertinggi atas segala bangsa, sebagai raja yang menegakkan keadilan. Kesempatan telah diberi kepada setiap orang. Saat menuai seperti dikatakan dalam perumpamaan lalang di antara gandum telah tiba (Mat 13:24-30). Lalang diberkas dan dibakar dan gandum dikumpul dalam lumbung. Ketika penderitaan-Nya, Yesus pernah diolok sebagai raja (Mat 27:29) maka di sini Dia sungguh hadir sebagai hakim dan raja itu.
Saudara/i yang terkasih dalam Kristus.
Yang menjadi kriterium penghakiman ialah kasih, perbuatan baik terhadap sesama, khususnya terhadap mereka yang menderita, yang kecil seperti dikatakan dalam Injil hari ini: mereka yang lapar, yang haus, yang asing. yang telanjang, yang sakit dan yang dalam penjara, Dalam ucapan bahagia, justru orang yang miskin dikatakan berbahagia (Mat 5:3). Kini dalam penghakiman perbuatan terhadap mereka menjadi ukuran kebahagiaan orang kristen atau tidak. St Paulus dalam 1 Kor 13:13 mengatakan: "Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih dan yang paling besar di antaranya ialah kasih."
Termasuk dalam perbuatan baik itu adalah perhatian dan sentuhan manusiawi, simpati terhadap mereka yang membutuhkan. Jenis manusia yang disebutkan di atas adalah mereka yang sering disisihkan, mereka yang membutuhkan kasih. Yang termasuk perbuatan baik bukan juga perbuatan yang luar biasa, tetapi perbuatan biasa sehari-hari yang dapat dijangkau setiap manusia tanpa perlu mengandaikan fasilitas, asal saja seorang punya hati terhadap orang lain. Jadi yang mau ditekankan di sini bukan kepribadian dari sang gembala, akan tetapi bagaimana manusia menghayati hidupnya di dunia ini. Dalam teks ini dipentingkan juga tentang motif perbuatan baik, yakni karena Yesus sendiri yang mana Dia hadir untuk semua orang tidak ada perhitungan pribadi. Yesus juga mengidentikkan diri-Nya dengan orang-orang yang paling hina. Yesus dekat dengan mereka yang hina karena kasih-Nya. Yesus lebih dekat dengan kita daripada hati kita sendiri. Saudara/i yang terkasih dalam Kristus.
Bagaimana ganjaran bagi mereka yang berbahagia dan hukuman bagi mereka yang jahat? Dalam bacaan yang kita dengar, ganjaran diungkapkan sebagai berikut: "Mari, hai kamu yang terberkati oleh BapaKu, terimalah kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan" (Mat 25:34). Dalam ucapan-ucapan itu dilukiskan bagaimana ganjaran itu bagi yang berbahagia. Penghakiman didasarkan pada perbuatan kasih tetapi ganjaran justru diberi Bapa, tersedia sejak ciptaan. Ganjaran itu bukan karena melulu hak, tetapi karena anugerah dari Allah. Dua aspek ini perlu ditanggapi secara serius. bukan bertentangan melainkan saling mendukung. Dalam lukisan tentang ganjaran itu terkandung gagasan tentang Allah Bapa sebagai awal dan akhir semua rencana keselamatan. Allahlah yang telah menciptakan dan kini pula yang memberikan ganjaran, menyempurnakan ciptaan-Nya. Putera menyerahkan kembali kerajaan kepada Bapa yang telah mengutus-Nya. Maka semua menjadi “yang diberkati” Bapa (1 Kor 15:23-25). Yang menerima ganjaran masuk ke dalam hidup yang kekal, hidup bersama Allah.
Satu hal terakhir yang perlu diingat yakni bahwa kisah penghakiman terakhir bukan terutama menunjukkan bagaimana persisnya proses penghakiman melainkan mengajar bagaimana seterusnya hidup orang kristen kini dalam penantian. Teks ini menunjukkan bahwa untuk selamat atau hukuman justru terletak pada hari ini, bagaimana hubungan dengan sesama yang paling membutuhkan. Penginjil memadukan secara resmi antara kasih, perbuatan baik bagi sesama dan hubungan dengan Yesus sendiri. Yang kita lakukan untuk sesama yang menderita kita lakukan itu terhadap Yesus sendiri.
Saudara/i yang terkasih dalam Tuhan Yesus.
Sebagai orang kristen kita dituntut agar memperhatikan juga sesama kita. Kita hendaknya memberi perhatian dan cinta kepada mereka yang membutuhkan. Hari ini, kita merayakan hari raya Yesus Kristus Raja Semesta Alam. Melalui sabda Tuhan yang kita dengar marilah kita bangun dalam hati kita suatu niat dan tekad baru agar kita senantiasa melayani sesama kita dengan cinta. Karena yang melayani dengan cinta akan menikmati kerajaan Allah. Semoga.
12. Aku Percaya
(PII). Aku Percaya. Setelah kita membuka hati dan mendengar serta merenungkan sabda Tuhan yang menjadi bekal hidup kita, marilah kita berdiri untuk mengakui iman kita kepada Allah Tritunggal.(Lagu aku Percaya).
13. (PIIl). DoaUmat
Marilah kita berdoa kepada Tuhan Raja semesta alam dan sumber keselamatan semua orang, dengan menyampaikan doa-doa pemohonan kita:
(PI). Bagi para petugas Gereja:
Ya Kristus Raja alam semesta, berkatilah dan kuatkanlah semua petugas Gereja-Mu
agar mereka sungguh-sungguh menghayati sabda-Mu dalam seluruh karya pelayanannya sehingga semakin banyak orang yang mengenai dan tnengikuti-Mu dan memperoleh keselamatan. Marilah kita mohon.....
(PII). Bagi para pejabat pemerintehan: Ya Kristus Raja mahapengasih, perhatikanlah para pejabat pemerintehan kami dan curahkanlah ke dalam hati mereka Roh Kudus-Mu, agar dalam menjalankan tugasnya mereka senantiasa memperhatikan semua orang seturut kehendakMu dan mampu membawa kesejahteraan dan kedamaian bagi seluruh masyarakat. Marilah kite memohon...
(PIV). Bagi para penderita:
Ya Raja semeste alam, sadarkanlah dan kuatkanlah saudara-saudari kami yang menderita agar mereka senantiasa berharap kepada-Mu sebagai sumber kekuatan. Marilah kita memohon…
(PV). Bagi kita semua:
Ya Kristus raja semesta alam, kobarkanlah cinta kasih-Mu dalam diri kami agar dalam kehidupan sehari-hari kami saling memperhatikatt dan saling melayani satu sama lain. Marilah kita mohon....
(PHI). Allah Bapa yang mahakuasa dan kekal, demikianlah doa dan permohonan yang kami sampaikan kepada-Mu dengan perantaraan Kristus Raja semesta a lam. Kami mohon kuatkanlah kami agar kami pun mampu meneladani Putera-Mn dan mengam,alkan sabda-Mu dalam kesaksian liidup kami. Demi Kristus Tuhan dan pengantara kami.
(U). Amin

14. Persembahan
(PII) Bapa, ibu, Saudara/I yang terkasih, Allah sang gembala senantiasa memperhatikan umat Israel dengan menyertai mereka selama mengembara di padang gurun. la tak pernah meninggalkan mereka sendirian. Sebagai ungkapan syukur mereka mempersembahkan seluruh usaha dan karya mereka kepada Allah. Sebagaimana mereka, kitapun yakin bahwa segala keberhasilan, kebaikan an kebahagiaan berasal dari Allah. Hidup kita selalu diberkati Allah dan segala karya kita berhasil karena kemurahan hati Allah. Maka sebagai ungkapan syukur, marilah kita mempersembahkan seluruh hidup kita kepada-Nya. (kelima petugas mengambil persembahan lalu kembali ke altar).
15. Pujian
(PIV). (umat dipersilahkan berdiri)
Setelah Allah menerima diri dan persembahan kita, marilah kita memuji E>ia dan berkata : Terpujilah Engkau selama-lamanya
•(PIV). Kami memuji dan mengagungkan Dikau ya Allah Bapa yang bertahta mulia. Kebesaran-Mu memenuhi seluruh bumi dan semesta alam, Namun Engkau adalah Bapa yang mahabelaskasih yang senantiasa mengharapkan keselamatan kami. Engkau rela mengutus Putera-Mu yang tunggal menderita demi menyelamatkan kami. Kasih kebapaan-Mu membuat hidup kami senatiasa terarah kepada kerajaan keselamatan-Mu. Maka kami berseru.... (U).Terpujilah…
•(PIV). Kami memuji dan memuliakan Dikau, Ya Allah Putera, Tuhan kami Yesus Kristus Raja alam semesta. Engkau datang ke dunia dan menjadi manusia seperti kami. Dalam Perjanjian Lama, Allah hadir dalam diri para nabi untuk menyerukan pertobatan kepada bangsa Lsrael dari segala kejahatan mereka. Engkau juga mengalami percobaan bahkan Engkau rela mati di kayu salib demi menjalankan perintah Bapa-Mu, untuk menyelamatkan kami. Maka kami bersem. (U). Terpujilah...
•(PIV). Kami memuji dan memuliakan Dikau ya Allah Roll Kudus, cahaya sinar Allah sendiri, Engkau membuat mata dan hati kami terbuka imtuk melihat kemurahan hati Allah dan untuk menyelamatkan kami- Kami memuji dan memuliakan Dikau karena Engkau hadir dan menggerakkan para nabi dan Tuhan Yesus Raja semesta alam untuk senantiasa taat kepada kehendak Bapa, demi menjalankan karya keselamatan Bapa. Maka kami berseru: (U). Terpujilah...
•(PIV). Maka bersama para malaekat dan semua orang kudus di surga, bersama seluruh umat manusia, bersama semua umat kristen yang pada liari ini merayakan hari Raya Tuhan Yesus Kristus Raja semesta alam kanii mengangkat pujian bagi kemuliaan dan kebesaran-Mu sambil bernyanyi.
16. (PII). Lagu Kudus
17. (PI). Doa Persatuan Umat Allah.
Umat dipersilahkan berlutut. Ya Allah Tritunggal yang mahakudus, Bapa, Putera dan Roh Kudus. Engkau adalah Allah kami satu-satunya yang bertahta di surga mulia dengan kemegahan dan keagungan yang melampaui segala sesiiatu. Namun, Engkau hadir bersama umat-Mu yang berkumpul berdoa kepada-Mu pada hari mi. Bukalah mata dan hati kami untuk mengalami kehadiran-Mii dalam segala sesuatu yang terjadi di tengah keluarga, masyarakat dan dunia kami. Bimbinglah para pemimpin di seluruh dunia supaya berjuang menegakkan perdamaian dan kerukunan umat manusia.
Kami doakan bagi Bapa Suci kami...Bapa Uskup kami.- ingatlah akan semua umat kristen agar bersatu hati menerima hadimya Kerajaan Allah di dunia, bertobat dan percaya kepada mjil. Kami berdoa untuk keluarga kristen di seturuh dunia.. para orang tua, muda-mudi dan anak-anak. Tumbuhkanlah juga panggilan imtuk menjadi imam, bruder dan suster dalam keluarga kami. Berkatilah pekerjaan kami, kebun dan tanaman kami supaya berhasil. Demikianlah juga usaha dan pencaharian kami di laut, para buruh dan yang bekeria apa saja. Lindungilah kampung lialaman kami, jauhkanlah segala penyakit dan marabahaya. Ingatlah saudara-saudari kami yang jauh di tanah orang, mereka yang merantau.
Kami berdoa pula bagi saudara/i kami yang sakit dan menderita, mereka yang mengalami bencana. Satukanlah leanri semua di bawah sayap perlindungan-Mu yang aman, agar kaini sungguh-«unguh berjuang untuk terus bertahan dalam menghadapi setiap tantangan hidup ini, sebagai seorang murid Tuhan. Bapa kami…
18. (PV).DoaRosann».
Marilah kita memohon doa dan perlindungan dari Bunda Maria. Dialah ibu kita, Ratu surga dan dunia yang selalu dekat dengan kitaa Kita menyerahkan semua orang, segala kepentingan kita kepadanya. Terutama agar kita dapat menggunakan minggu ini dengan sebaik-baiknya untuk mewujudkan Kerajaan Allah di dunia ini, dengan mentaati segala penntah-Nya- (10 kali Salam Maria…Kemuliaaii...Ya Yesus…).
19. (PII). Lagu Maria.
Marilah kita menyanyikan sebuah lagu Maria.
20. (PI). Sanibut Kerinduan (Umatdipersilahkan berlutut).
Ya Allah Bapa di surga, Engkau mengeyangkan umat-Mu Israel di padang gurun dengan roti dari langit. Yesus Kristus Putera-Mu pada malam perjamuan akhir memberikan roti yang adalah tubuh-Nya dan anggur yang adalah darah-Nya supaya menjadi santapan bagi jiwa kami. Pada hari Raya Tuhan Yesus Kristus Raja semesta alam ini, di banyak Gereja imam hadir untuk merayakan Ekaristi sehingga umat beriman dapat menerima santapan sabda dan santapan Tubuh-Darah Yesus.
Pandangilah kami dan saudara/i kami di seluruh dunia, yang tidak berkesempatan merayakan Ekaristi; Kami percaya pada-Mu ya Yesus. Engkau mau memberi kamijuga santapan Tubuh-Darah-Mu. Datanglah dan tinggallah di dalam hati kamu. Engkau yang mau menjadi satu dengan kami dan membuat diri kami serupa dengpn diri-Mu. Buatlah hati dan diri kami selalu pantas untuk menerima-Mu. Semoga setiap kali, bila ada perayaan Ekaristi, kami berkumpul dan menyiapkan hati dan diri kami sebaik-baiknya untuk menerima santapan Sabda dan santapan Tubuh Darah-Mu yang adalah harta yang paling mulia.
Semoga Engkau yang telah taat melaksanakan kehendak Bapa rnemberi kami kekuatan untuk sanggup bertindak sesuai dengan pewartaan sabda-Mu dan mempersembahkan tubuh kami sebagai ibadah yang sejati kepada-Mu. Mampukanlah kami untuk selalu merasa rindu bequmpa dengan Dikau dalam setiap situasi hidup kami. Semoga kerinduan kami menjadi tanda ketaatan kami kepada kehendak-Mu. Dengan keyakinan akan rahmat-Mu yang membebaskan dan menyelamatkan kami, tegutikanlah mat kami untuk selalu memuji dan bersyukur kepada-Mu. Kami sampaikan doa syukur dan permchonan kami dengan berseru: kemuliaan kepada Bapa…
(U). Amin
21. Lagu Komuni. Marilah kita menyanyikan sebuah lagu komuni.
22. (PHI). Pengumuman. (Umat dipersilahkan duduk).
Man kita mendengarkan pengumuman-pengumuman berikut desngan paiuh perhatian dan teliti.
23. (PI). Doa Penutup. (Umat dipersilahkan berdiri).
(PI). Marilah Berdoa:
Allah Bapa penuli kasih dan kerahkuan. kami telah Engkau perkenankan dan Engkau persatukan di sekitar altar ini dan telah Kau terima dalam cinta kasih-Mu yang menyelamatkan kami dari maut dangan menikmati santapan sabda. Kami mohon tinggalah di tengah-tengah kami dan anugerahkanlah Roh cinta-Mu di antara kami, agar kanri mampu menjalin relasi yang baik sehingga terciptalah kerukunan dan perdamaian dalam diri, keluarga dan lingkungan kami. Demi Kristus Tuhan dan pengantara kami. (U).Amin
24. (PII). Lagu Penutup. Marilah kita menyanyikan lagu penutup.
25. (PI). Berkat.
Semoga Allah maha belas kasih dan maha pengampun, mengampuni segala dosa kita dan memberkati seluruh kegiatan kita selama minggu ini, semua orang yang membutuhkan doa kita dan yang pernah kita janjikan doa. Dalam Mama Bapa... (U).Amin
26. (para petugas kembali, ke taint di depan altar dan balik menuju pintu Gereja lalu balik menghadap altar).
(PI:) Terpujilah Yesus Kristus.
(U). Sampai selaina-lamanya.
(U). Amin.
Oleh Longginus Lengi NPM: 03.75.3765.

ARTUR SCHOPENHAUER

DUA JALAN PELEPASAN KEHENDAK
DALAM DIRI MANUSIA
MENURUT PANDANGAN ARTUR SCHOPENHAUER
Oleh: Agustinus Benny

1.PENDAHULUAN

1.1. Latarbelakang Penulisan
Masalah penderitaan adalah masalah yang menggelisahkan manusia. Manusia mempertanyakan kenapa ia harus menderita, apa penyebab penderitaan yang dialaminya. Lebih lanjut muncul pertanyaan bagaimana mengatasi penderitaan itu? Haidegger pernah mengungkapkan, ketika manusia lahir ia sudah cukup tua untuk mati . Mengapa manusia lahir dan sesudah itu harus mati? Kenapa harus ada penderitaan yang berujung pada kematian di atas dunia ini? Dari pertanyaan-pertanyaan ini mendorong manusia merefleksikan kenyataan penderitaan dan mau memaknai hidupnya di dunia.
Dalam mengisi hidupnya di dunia yang sementara ini manusia kembali merefleksikan akan arti penderitaan. Arthur Schopenhauer, filsuf Jerman abad ke-19 merefleksikan penderitaan dalam kaitan dengan usaha pelepasan kehendak. Bagi dia jalan untuk keluar dari penderitaan adalah jalan pelepasan kehendak yaitu pelepasan estetis dan pelepasan etis.
Dalam penulisan ini, penulis menguraikan dua jalan pelepasan kehendak menurut Arthur Schopenhauer ketika berhadapan dengan penderitaan seraya membuat catatan kritis atasnya. Penulis sadar tidak ada kehidupan di dunia ini tanpa penderitaan dan tidak ada penderitaan yang tidak bisa diatasi. Oleh karena itu dua jalan pelepasan kehendak merupakan suatu tawaran untuk memaknai hidup.

1.2. Tujuan Penulisan
Paper ilmiah yang penulis garap ini pada hakikatnya memiliki tujuan ganda. Pertama: tulisan ini merupakan suatu kewajiban formil bagi setiap mahasiswa Filsafat di STFK Ledalero sebelum menggarap skripsi yang adalah suatu kewajiban dan satu kriteria sebelum mendapat gelar strata satu jurusan Filsafat. Kedua: penulis ingin mendalami pemikiran Arthur Schopenhauer tentang dua jalan pelepasan dari unsur kehendak yang mengekang kehidupan manusia di dunia ini.

1.3. Metodologi Penulisan
Untuk menyelesaikan paper sederhana ini, penulis memilih untuk menggunakan metode studi kepustakaan. Dalam proses studi kepustakaan, penulis mengumpulkan sejumlah referensi berupa buku yang berhubungan dengan tema dan gagasan Arthur Schopenhauer, kemudian mendalaminya demi menemukan inspirasi untuk mengembangkan pikirannya.

1.4. Sistematika Penulisan
Dalam membuat tulisan ilmiah ini, penulis berusaha menggarap tema ke dalam sub-sub tema yang terdiri dari empat bab. Sistematika penulisannya sebagai berikut:
Pada bab I berisikan pendahuluan. Dalam bab ini, penulis menguraikan tentang latar belakang penulisan, tujuan penulisan, metodologi penulisan dan sistematika penulisan.
Bab II. Arthur Schopenhauer dan dasar pemikirannya. Dalam bagian ini, penulis menguraikan tentang siapa itu Arthur Schopenhauer dan juga karya-karya tulis yang telah ia berikan semasa ia berkarya di dunia. Penulis sengaja mengangkat dan mengulas tentang riwayat hidup dan karya-karya dari Arthur Schopenhauer agar dapat membuka wawasan dan dapat mengetahui tentang siapa itu Schopenhauer dan latar belakang kehidupannya dan juga tentang tulisan-tulisan yang telah dihasilkannya sebagai dasar pemikirannya tentang penderitaan dan dua jalan pelepasan kehendak.
Bab III. Dua jalan pelepasan menurut pandangan Arthur Schopenhauer. Bab ini merupakan inti dari tulisan ini. Secara khusus penulis menguraikan tentang arti dari kata pelepasan dan kehendak itu sendiri yang menjadi persoalaan utama. Selain itu penulis juga menguraikan pengantar singkat dari apa yang mau digarap sehubungan dengan pemikiran Schopenhauer, tentang dua jalan pelepasan dari unsur kehendak. Selanjutnya penulis mendalami dua jalan pelepasan itu sendiri yang merupakan jalan penyelesaian dari permasalahan kehendak itu sendiri. Kedua jalan itu adalah kontemplasi estetis dan jalan etis. Dalam bagian ini penulis juga mengetengahkan catatan singkat dari penulis yang didalamnya juga dimuat sikap penulis dalam menanggapi ide dari Shopenhauer.
Bab IV. Penutup. Bab ini merupakan epilog logis dari keseluruhan bahan yang penulis garap. Sebagai catatan penutup, penulis kembali menegaskan apa yang telah diulas sebelumnya.


2.MENGENAL ARTUR SCHOPENHAUER DAN DASAR PEMIKIRANNYA

2.1. Mengenal Artur Schopenhauer
Shopenhauer dapat disebut sebagai seorang filsuf yang masih mempunyai hubungan erat dengan idealisme Jerman dan murid ideal dari Kant. Tetapi Schopenhauer merupakan satu figur yang asing dalam deretan filsuf Eropa, teristimewa karena keperibadian dan karena filsafat India. Ia lahir dari sebuah keluarga pedagang di kota Danzig pada tanggal 22 Februari 1788. Ketika kota Danzig diserahkan kepada Prusia tahun 1793, keluarganya turut berimigrasi ke Hamburg dan menetap di sana sampai ayahnya meninggal tahun 1805. Ibunya adalah seorang Novelis yang kemudian mendirikan sebuah salon di Weimar. Di tempat inilah Schopenhauer kemudian berkenalan dengan Göthe yang sangat berpengaruh dalam kehidupannya selanjutnya.
Masa pendidikan Schopenhauer ditempuhnya selama dua tahun di Prancis, beberapa bulan di London dan juga di Swiss dan Austria. Selepas kematian ayahnya, ia masuk Universitas Göttingen sebagai mahasiswa kedokteran sebelum belajar fisika, kimia dan botani. Secara khusus pada kesempatan ini untuk pertama kali ia membaca karya-karya Plato dan Kant. Kedua tokoh ini kemudian menjadi tokoh yang sangat berpengaruh dalam pemikirannya dalam bidang filsafat.
Di Universitas Berlin, Schopenhauer sengaja meminta mata kuliahnya diberikan pada jam sama seperti Hegel, dengan harapan bahwa orang akan membanjiri kuliahnya dan menjauhkan Hegel yang terlalu berbelit-belit. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Selama dua puluh tahun pertama, karya utamanya tidak banyak dikenal. Kalau kemudian filsafat Scopenhauer diperhatikan, itu lebih karena kekecewaan di Jerman dan Eropa pada umumnya setelah revolusi pada tahun 1848. Revolusi dipandang tidak mendatangkan perubahan seperti yang dibicarakan oleh Kant dan Hegel. Karena itu, sikap pesimistis menemukan pada Schopenhauer penjelasan filosofisnya. Sejak tahun 1850 karyanya mulai dikenal.
2.2. Dasar Pemikiran Schopenhauer
Pandangan filosofis Schopenhauer terungkap dalam karya utamanya: Die Welt Wille und Vorstellung (Dunia sebagai kehendak dan gambaran). Dunia adalah gambaran, itulah satu-satunya kebenaran a priori yang kita miliki. Kita memiliki gambaran tentang dunia dan kita hanya mengenal dunia seturut gambaran yang sudah terbentuk itu. Sebuah benda an sich tidak dapat kita kenal. Yang dapat kita kenal adalah benda dalam penampilannya kepada kita.
Untuk dapat masuk dan mengenal dunia, kita tidak menemukan jalan dari luar. Dari luar, kita tidak menemukan pintu untuk masuk ke dalam rumah dunia ini. Yang ada hanya satu pintu dan pintu itu ada dalam diri kita sendiri yaitu kehendak. Pengetahuan yang benar adalah pengetahuan yang lahir dari kehendak. Bagi Schopenhauer kebenaran tidak tidak lahir dari pemikiran, kesadaran atau rasio melainkan datang dari lapisan yang lebih mendalam. Manusia sebenarnya didorong untuk hidup dan kehendak itu menggunakan ratio sebagai budaknya.

2.3. Penderitaan dan Keselamatan
Schopenhauer melihat kehidupan sebagai penderitaan karena menurutnya kehendak itu terbatas, sementara kemungkinan pemenuhan kehendak terbatas pula. Kita tidak akan pernah menemukan pemenuhan dan pemuasan semua dorongan keinginan nafsu kita. Kalau demikian, sumber penderitaan adalah diri kita sendiri.
Penderitaan mengungkapkan kehendak sebagai daya yang terbesar pada manusia. Kekuatan kehendak menjadi nyata dalam penderitaan, sebab penderitaan lahir dari perbedaan antara kehedak dan kemampuan untuk memenuhinya. Manusia selalu merasa tidak puas, mengalami munculnya keinginan yang satu sesudah pemuasan yang lain. Sebuah penderitaan muncul setelah penderitaan yang lain diatasi. Penderitaan itu adalah realitas yang biasa di dunia, sedangkan kebahagiaan hanyalah sebuah negativitas, yakni ketiadaan dari penderitaan.


3.DUA JALAN PELEPASAN KEHENDAK DALAM DIRI MANUSIA MENURUT PANDANGAN ARTUR SCHOPENHAUER

3.1. Memaknai Arti Pelepasan Kehendak
Kata “pelepasan” berasal dari kata dasar lepas: dapat bergerak (lari) ke mana-mana: tidak tertambat, bebas dari ikatan; tidak terikat lagi, melarikan diri, bebas dari hukuman. Kata ini kemudian mendapat awalan ke- dan akhiran –an menjadi kata “pelepasan”: proses, cara, perbuatan, pemecatan (dari tugas), dubur, anus. Dari arti kata di atas kata pelepasan mengandung arti suatu proses lepas dari sesuatu.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata kehendak berasal dari kata dasar hendak: mau; akan; bermaksud akan. Kata ini kemudian mendapat awalan ke- menjadi “kehendak”: kemauan; keinginan dan harapan yang keras. Dari arti kata ini, kata kehendak mengandung arti kemauan atau keinginan dan harapan yang keras untuk dapat memiliki sesuatu atau dapat mencapai sesuatu.
Dalam Kamus Filsafat, kata kehendak mengandung beberapa pengertian. Istilah ini mengacu pada suatu potensi, fakultas atau daya di dalam manusia yang terlibat di dalam pengambilan keputusan. Hal ini berhubungan dengan ratio seseorang dalam mengambil suatu keputusan. Kamus Filsafat melihat kehendak sebagai: Mengetahui dan menghendaki merupakan dua bentuk fundamental kegiatan spiritual. Menghendaki tidak mutlak dalam arti bahwa menghendaki lebih mengacu pada usaha untuk mencapai yang baik yang akan dicapai atau dihasilkan. Kegiatan dasar kehendak adalah afirmasi terhadap nilai atau cinta. Objek khusus kehendak mutlak adalah nilai mutlak atau kebaikan pada dirinya. Kehendak itu sendiri merupakan suatu keinginan akan sesuatu hanya kalau kebaikan tidak disamakan dengan kehendak atau sama sekali tidak dihubungkan dengan kehendak. Sedangkan objek khusus kehendak sama dengan objek khusus kehendak mutlak yaitu nilai pada diri sendiri. Objek dari kegiatan kehendak diinginkan karena kebaikannya sedikit banyak memberikan sumbangan bagi penyempurnaan seseorang yang menghendakinya.

3.2.3. Menurut Pandangan Para Filsuf
Para filsuf melihat arti kehendak secara berbeda-beda menurut pandangan mereka masing-masing: Nietzsche (1844-1900), melihat kehendak sebagai kehendak untuk berkuasa. Kehendak untuk berkuasa adalah kharakter dari segala yang ada. Ini merupakan jawaban atas pertanyaan apa artinya “berada”. Berada berarti berada seturut kehendak untuk berkuasa. Segala sesuatu yang ada selalu berada dalam proses menjadi. Kehendak memberi jawaban dalam dirinya “ya atas kehidupan”. Karena ia menghendaki sesuatu yang lain maka ia terbuka terhadap apa yang lain itu. Tidak ada pemisahan antara kehendak dan yang dikehendaki. Dalam kehendak kita menemukan diri kita sebagaimana diri kita berada. Dengan demikian kehendak selalu ada dalam diri manusia sekalipun manusia kadang tak menyadari akan eksistensi kehendak itu sendiri. Sedangka Kant, (1724-1804) melihat kehendak sebagai bagian dari keinginan yang beraksi dalam bentuk konsep. Ia hampir menyamakan kehendak dengan ratio. Fakultas kehendak dapat bekerja tanpa memperhitungkan keinginan dan kecendrungan dan penentu kegiatan-kegiatan kehendak adalah ratio praktis sendiri . Dikatakan bahwa prinsip-prinsip praktis adalah proposisi-proposisi yang berisi ketentuan umum kehendak, yang memiliki beberapa aturan praktis. Prinsip-prinsip itu bersifat subjektif, atau berupa maksim-maksim, ketika kondisi ini oleh subjek dianggap sahih hanya bagi kehendaknya sendiri. Prinsip-prinsip itu bersifat objektif, atau merupakan hukum praktis, ketika kondisi tersebut oleh subjek diketahui objektif, yakni sahih untuk kehendak setiap mahluk rasional .
Dengan mengasumsikan bahwa akal budi murni mempunyai sebuah dasar praktis yang mencakupi untuk menentukan kehendak, maka dijumpai adanya hukum-hukum praktis. Namun, semua prinsip praktis hanyalah maksim-maksim. Di dalam kehendak makhluk rasional yang dipengaruhi oleh perasaan, mungkin saja terjadi konflik antara maksim dan hukum praktis yang diketahui oleh makhluk tersebut. Misalnya, seorang dapat menganggap sebagai maksimnya sikap untuk tidak toleren terhadap tindakan balas dendam, tetapi pada saat yang sama mengetahui bahwa sikap ini hanya maksimnya sendiri, bukan hukum praktis, dan bahwa jika dianggap sebagai aturan untuk kehendak setiap makhluk rasional, sikap itu inkonsisten dengan dirinya sendiri.
Hegel, 1770-1854) mengaitkan kehendak dengan apa yang disebut pengetahuan. Roh absolut “Geist” yang mewujudkan diri dalam kehendak dan dalam sapere/ pengetahuan. Unsur yang paling dominan dalam kehendak adalah intelek. Intelek membimbing pengetahuan untuk menunjukkan dirinya sebagai sesuatu yang berada. Ia kemudian melihat kehendak dalam konteks kekuasaan. Menghendaki adalah kemampuan untuk memimpin atau menguasai. Kehendak untuk lebih kuat berarti kehendak untuk lebih di atas, melampaui yang lain. Dalam proses tertentu ia menjadi sangat kreatif dan pada waktu yang lain lebih destruktif sebagai penyebab kehancuran.
Dalam doktrin Aristoteles dan Plato tentang tiga bagian jiwa, kehendak terletak antara ratio dan nafsu-nafsu. Bagi keduanya, kehendak lebih dekat dengan yang pertama daripada yang terakhir. Ratiolah yang berfungsi mengontrol kehendak. Manusia berkewajiban membangun kebiasaan-kebiasaan yang baik yang memungkinkan kontrol macam ini. Aquinas mengikuti garis yang sama. Kehendak didefinisikan sebagai nafsu intelektual yang dipengaruhi dan mempengaruhi ratio.
Bagi Hobbes, (1588-1679) kehendak berhubungan dengan nafsu-nafsu. Malahan ia menganggap kehendak sebagai mata rantai terakhir dari rangkaian nafsu-nafsu yang menuju tindakan. Ia memandang tenaga kehendak sebagai hampir tak terbatas dibandingkan dengan keterbatasan yang dilalui ratio. Baginya, kekuatan kehendaklah yang memungkinkan kebebasan manusia.

3.3.Dua Jalan Pelepasan dari Penderitaan
Adakah jalan keluar dari lembah penderitaan ini? Dikatakan bahwa pengetahuan bukanlah jalan keluar yang tepat, sebab semakin tinggi derajat sebuah mahluk yang ditandai kesanggupan pengetahuan, semakin besar pula kesanggupannya untuk menderita. Pada tahap ini, Schopenhauer melihat adanya sebuah jalan keluar yang ditawarkan oleh kesenian. Kesenian adalah permenungan tentang sesuatu terlepas dari relasi kausalitas dan terpisah dari penentuan kehendak. Kesenian adalah kemampuan untuk hanya memperhatikan, untuk membiarkan yang ada berbicara, untuk menjadi sangat objektif, dan dari pengamatan itu dapat mengulangi yang diamat dalam karya seni.
Bagi Schopenhauer individu-individu dapat mengatasi dunia dan penderitaannya dengan kontemplasi filosofis, transendensi melalui pengalaman estetis dan belas kasihan . Inilah yang dinamakan jalan pelepasan kehendak. Manusia semestinya tidak bergembira karena manusia hidup, sebaliknya harus meratapi fakta tersebut. Lebih baik tiada daripada ada, lebih baik tiada daripada hidup. Bagi Schopenhauer kehidupan adalah sesuatu yang seharusnya tidak ada. Kalau seorang individu memilih, dia akan menolak kehidupan sebab dia telah mengerti bahwa dunia ini sia-sia. Semua keadaan dalam kehidupan berakhir sebagai frustrasi, tidak bahagia, ilusi atau menyakitkan. Hal ini disebabkan hidup di dunia selalu diliputi oleh penderitaan, keputusaasaan, ketidakpastian, kekecewaan, ketidakberdayaan, kehilangan harapan dan kematian. Schopenhauer kemudian menyimpulkan bahwa dunia ini merupakan kemungkinan yang terburuk, tidak ada yang lebih buruk yang dapat diciptakan atau dibayangkan. Dunia dilihat sebagai ungkapan dari kehendak yang buta serta irasional. Segala sesuatu memiliki kehendak untuk hidup dan konsekuensinya ialah adanya penderitaan.
Di alam yang bebas, kehendak yang demikian menampakkan diri dalam berbagai wujud makhluk hidup yang hanya akan melihat dan menyantap makhluk-makhluk lain. Dunia dan manusia menurut dasarnya yang terdalam merupakan kehendak. Dorongan untuk mempertahankan hidup dan memperoleh kesejahteraan adalah dua hal yang juga merupakan kemauan kehendak yang memaksa orang untuk melakukan apa yang disebut dosa. Menurutnya, setiap keinginan yang sudah dipuaskan menghasilkan keinginan baru yang juga harus dipuaskan lagi, dan begitu seterusnya tanpa berhenti. Namun kemungkinan-kemungkinan untuk memuaskannya terbatas, sehingga tidak ada yang bisa benar-benar memuaskan. Kenyataan untuk terus memuaskan diri secara terus-menerus semacam ini, pada suatu taraf orang akan merasa bosan dan frustrasi. Hal ini dilihat oleh schopenhauer sebagai penderitaan. Apabila telah ada satu penderitaan maka akan muncul penderitaan baru.
Apakah penyebab dari semua penderitaan ini? Hal ini disebabkan oleh kehendak itu sendiri. Menurutnya, seperti yang dikutip oleh Simon Petrus, “karena disiksa dan didorong oleh tuntutan-tuntutan kehendak untuk hidup. Kehendak untuk hidup itu adalah Dosa Asal. Maksudnya, sama seperti dosa asal yang membawa penderitaan bagi semua keturunan Nabi Adam, demikian juga kehendak untuk hidup menjadi sebab bagi banyak malapetaka dan kesengsaraan yang menimpa manusia”. Dalam mengatasi kenyataan di atas ia menawarkan dua jalan. Kedua jalan itu adalah kontemplasi estetis dan jalan etis. Untuk dapat mendalami ajarannya tentang dua jalan pelepasan ini, maka pada uraian selanjutnya akan dilihat dan diuraikan lebih jelas tentang dua jalan ini.

3.3.1.Kontemplasi Estetis
Dengan kontemplasi estetis, manusia dapat memadamkan hasrat-hasratnya. Karya seni atau hal yang berhubungan dengan seni bisa menimbulkan gairah. Kesenian adalah jalan permenungan tentang sesuatu terlepas dari relasi kausalitas dan terpisah dari penentuan kehendak. Kesenian adalah kemampuan untuk hanya memperhatikan, untuk membiarkan yang ada berbicara, untuk menjadi sangat objektif, dan dari pengamatan itu dapat mengulangi yang diamat dalam karya seni. Dan hal ini hanya ada pada orang-orang jenius. Yang jenius adalah yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada sesuatu.
Schopenhauer memberi tempat istimewa bagi seni. Dalam seni orang dapat mengenal aspek pembentukkan ulang dari kenyataan. Bidang itu adalah musik . Musik adalah ungkapan langsung dari kehendak dan dengan demikian ia berasal dari hakekat dunia. Di dalamnya seluruh dunia dan manusia menunjukkan dirinya. Melalui musik kehendak semesta langsung berbicara kepada kita. Musik adalah realitas di belakang konsep-konsep yang menawarkan diri secara langsung. Agendi atau aksi dilihat Schopenhauer sebagai kehendak dari sang seniman. Tugas seni harus memimpin subjek untuk membebaskan diri dari objektivitas tertentu untuk menggapai idea murni. Sang seniman dalam mencipta, harus membebaskan diri dari objek karya seni untuk menggapai idea di balik karya seni itu. Ini hanya mungkin lewat kontemplasi melalui mediasi karya seni. Seni adalah unsur pengetahuan yang mengandung kontemplasi murni tentang esensi yang benar lewat mediasi objek seni itu sendiri.
Schopenhauer sadar bahwa karya seni bisa menimbulkan gairah, lalu menimbulkan naluri-naluri yang lebih rendah yang tak lain adalah manifestasi kehendak. Namun ini dilihatnya sebagai suatu hal yang bukan merupakan kehendak estetis. Sebuah pengalaman estetis adalah usaha memandang objek keindahan bukan sebagai objek nafsu. Sebuah kontemplasi estetis adalah usaha menemukan makna keindahan dalam objek itu. Baru dengan sikap kontemplatif ini manusia tanpa pamrih, lalu bebas dari perbuatan kehendak atau penderitaan.
Kontemplasi estetis memang hanya mungkin untuk sementara waktu saja. Ia dapat seakan-akan untuk sementara melindungi kita terhadap keresahan dorongan dan keinginan, tetapi kita tak dapat mengunci diri di dalamnya untuk selamanya. Saat kontemplasi manusia lupa akan penderitaannya, jiwanya tentram, tapi sesudah itu dia akan mengalami penderitaan lagi. Pelarian yang dilakukannya ini hanya bersifat sementara waktu saja. Hal ini bukanlah suatu hal yang kekal, yang dapat memberikan ketenangan abadi kepada manusia.

3.3.2.Jalan Etis
Jalan etika adalah jalan yang baik menuju pembebasan. Pelepasan yang langgeng adalah pelepasan yang dapat diperoleh lewat jalan etis. Kehendak adalah suatu tuntutan dalam diri yang harus dipenuhi. Kehendak dapat menjadi cambuk yang mematikan dalam hidup seseorang. Oleh karena itu kehendak dapat menghasilkan penderitaan yang dapat disimpulkan juga bahwa kehidupan itu adalah suatu hal yang buruk atau jahat.
Schopenhauer melihat penderitaan itu seperti orang Kristen yang harus memikul salib sebagai penderitaan dan seruan untuk menolak dunia sebagai jalan keluar dari penderitaan. Penolakan terhadap dunia, itulah jalan lain untuk membebaskan diri dari kehendak. Dengan demikian kalau manusia mau lepas dari penderitaan dan kejahatan hidup ini dia harus menolak kehendak untuk hidup. Namun hal yang tak menyenangkan dari pandangan ini bahwa orang harus bunuh diri. Ini berarti bahwa tindakan bunuh diri adalah suatu tindakan moral yang tinggi. Hal itu juga berarti bahwa orang enggang berhadapan dengan suatu perkara yang dianggap tidak dapat ditangani. Menghadapi kenyataan ini, Schopenhauer berhasil menjawabnya dengan mengatakan bahwa tindakan bunuh diri justru merupakan sikap tunduk kepada kehendak untuk hidup itu, bukan penolakan atasnya. Keinginan untuk bunuh diri menurutnya seperti yang dikutip oleh Hardiman merupakan ungkapan tersembunyi dari kehendak untuk hidup. Jadi, dengan bunuh diri orang malah melakukan kejahatan. Jalan yang harus ditempuh bukannya bunuh diri, melainkan moralitas. Moralitas adalah suatu hal yang sangat khas dalam filsafatnya. Manusia merasa bebas hanya dari tampak luarnya saja (secara fenomenal), padahal secara hakiki (numenal) manusia adalah budak kehendak. Pada kenyataan ini, manusia berusaha keluar dari kenyataan fenomena ini dengan berusaha untuk menemukan sebuah simpati etis terhadap manusia lain. Hal yang dilakukan adalah dengan melakukan kebaikan. Dengan kebaikan manusia berharap dapat menemukan cinta kasih yang dapat melepaskan dirinya dari sikap egoisme dan kelekatan manusia pada hasrat-hasrat rendah dan dengan itu dia telah berusaha untuk menolak kehendak. Bila orang telah sampai pada taraf ini, dunia dianggapnya sebagai sebuah ketiadaan dan akan mencapai Nirvana. Nirvana adalah pemadaman total kehendak; dan karena kehendak itu lenyap, dunia juga menjadi ketiadaan (banyak dipengaruhi oleh ajaran Buddha) . Dengan mencapai Nirwana orang akan mengalami ketiadaan eksistensi individualnya. Dengan itu pula keinginan tidak akan ada lagi, tidak ada kehendak dan tidak ada dunia.

3.4.Catatan Kritis Atas Pandangan Schopenhauer Tentang Dua Jalan Pelepasan
Dari uraian diatas, penulis dapat melihat bahwa pada dasarnya Schopenhauer memusuhi hidup ini. Hidup ini dilihatnya sebagai belenggu yang terus melilit diri. Hal-hal lahiriah dalam diri manusia/ dorongan-dorongan (Keinginan, nafsu, insting, hasrat dan kemauan) merupakan unsur yang selalu ada dan selalu mewarnai diri manusia. Bila manusia mengelak akan keberadaan hal-hal di atas berarti manusia telah menyangkal diri dan hidupnya sendiri, apalagi kalau keinginan seseorang tak dapat dipenuhi. Keadaan menderita dan kecewa akan terus mewarnai perilaku manusia yang kemudian akan menyengsarakan manusia itu sendiri.
Manusia adalah makhluk yang diciptakan Tuhan sebagai makhluk yang mempunyai kelebihan dalam bertindak dan berpikir. Hal ini didorong oleh kehendak akal yang ada pada diri manusia. Kesenangan dilihat sebagai sesuatu yang sangat diinginkan dalam kodrat alami kita. Namun tak dapat disangkal pula bahwa kehendak dapat menyebabkan kesengsaraan pada diri manusia. Kehendak yang berakibatkan kesengsaraan ini dilihat oleh Schopenhauer sebagai hal yang tak baik dan harus dihindari. Itu berarti, ia tidak mengakui kodrat manusia lagi. Oleh karena itu ia harus melihat kembali kebelakang bagaimanakah manusia itu diciptakan menurut kodratnya. Manusia telah dianugerahi Tuhan seperti yang ada sekarang. Itu berarti manusia juga punya kehendak. Jalan yang ditawarkannya memang dapat mengurangi penderitaan manusia tapi tak dapat menghilangkannya. Mati bukanlah jalan keluar yang tepat karena yang dapat mengambil nyawa seseorang hanyalah Tuhan. Bunuh diri adalah perbuatan yang menamatkan hayat atau perbuatan memusnahkan diri karena enggan berhadapan dengan suatu perkara yang dianggap tak dapat ditangani. Tindakan bunuh diri lazimnya berlaku kepada mereka yang menghadapi tekanan. Mereka ini akan bertindak di luar akal pemikiran yang waras. Penulis lebih mendukung pemikiran Kant bahwa dalam kehendak ada kesesuaian secara menyeluruh keinginan dengan hukum moral yang merupakan kondisi paling tinggi dari kebaikan tertinggi. Kesesuaian ini pasti dimungkinkan sebagaimana objeknya, karena dia termasuk didalam perintah yang mengharuskan kita untuk lebih mementingkan objeknya. Kesesuaian antara kehendak dengan hukum moral adalah kesucian yang merupakan kesempurnaan di mana tidak ada makhluk rasional di dunia indra yang mampu memisahkannya.


4.PENUTUP
Manusia adalah makhluk berkehendak. Sebagai manusia yang berkehendak, ia dapat melakukan apa saja untuk memenuhi dirinya. Keadaan untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup yang terus-menerus dan sulit untuk dihindarkan adalah sebuah penderitaan. Hal ini yang dilihat oleh Schopenhauer. Penderitaan ini sangat menyiksa hidup manusia.
Sehubungan dengan hal di atas, ia menawarkan dua jalan pembebasan. Kedua jalan itu adalah jalan kontemplasi estetis dan jalan etis. Jalan kontemplasi estetis ditempuh melalui musik. Lewat musik atau seni orang dapat melepaskan penderitaan yang dideritanya karena unsur kehendak. Dengan kontemplasi estetis, manusia dapat memadamkan hasrat-hasratnya. Karya seni atau hal yang berhubungan dengan seni bisa menimbulkan gairah. Cara pertama ini meliputi semua bidang kesenian dengan memuncak pada seni musik sebagai suatu penghentian ‘tekanan’ kehendak umum dan buta, tetapi hanya selama pengalaman akan seni itu ada. Kesenian adalah jalan permenungan tentang sesuatu terlepas dari relasi kausalitas dan terpisah dari penentuan kehendak. Kesenian adalah kemampuan untuk hanya memperhatikan, untuk membiarkan yang ada berbicara, untuk menjadi sangat objektif, dan dari pengamatan itu dapat mengulangi yang diamat dalam karya seni.
Jalan etis adalah jalan kedua yang ditawarkan olehnya ditempuh dengan cara menolak hidup ini. Jalan yang kedua ini tetap pada pengingkaran diri (askese). Hidup yang penuh penderitaan harus dilalui atau dilewati dengan penderitaan. Namun itu tidak berarti baginya untuk menghalalkan kematian. Hal itu telah melanggar hukum moral. Tindakan bunuh diri hanya merupakan suatu sikap tunduk kepada kehendak yang akan tetap membawa penderitaan. Orang harus berbuat baik dalam terang cinta kasih yang kemudian membawanya pada kehidupan di Nirvana.
Kedua jalan diatas dilihat oleh penulis bukanlah suatu jalan yang baik sebab menghindar dari kenyataan yang hanya sementara waktu bukanlah cara yang paling baik apalagi harus bunuh diri. Kematian dengan cara bunuh diri bukanlah suatu cara yang halal dan itu melanggar moral. Hal itu juga berarti bahwa ia tak menghendaki hidup ini. Hidup hanya bisa diakhiri oleh Tuhan.


DAFTAR PUSTAKA

1. KAMUS:
Bagus Lorens, Kamus Filsafat (Gramedia Pustaka Utama: Jakarta, 2000).
Departemen P&K, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2002), Edisi ke-3.

2. BUKU-BUKU:

Budi Kleden, Paul, Membongkar Derita (Maumere: Penerbit Ledalero, 2006).
Hardiman, F. Budi, Filsafat Modern Dari Machiavelli Sampai Nietzsche (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2004).
L. Tjahjadi, Simon Petrus, Petualangan Intelektual, Konfrontasi dengan Para Filsuf dari Zaman Yunani Hingga Zaman Modern (Yogyakarta: Kanisius, 2004).
Mudji Sutrisno Fx, Christ Verhaak, Estetika Filasafat Keindahan (Yogyakarta: Kanisius, 1993).
Mudji Sutrisno, FX, (ed), Manusia Dalam Pijar-pijar Kekayaan Dimensinya (Yogyakarta: Kanisius, 1993)
Kant, Imannuel, (terj), Kritik Atas Akal Budi Praktis (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005).
Van der Weij P. A., Filsuf-Filsuf Besar Tentang Manusia (Kanisius:Yogyakarta, 2000).

3. MAJALAH, MANUSKRIP DAN KUTIPAN INTERNET

Ceunfin, Frans, Etika, (ms), STFK Ledalero, 2003
Baghi, Felix, “Estetika”, Catatan Kuliah Mimbar, STFK Ledalero, 2007.
Kebung, Kondrad, Filsafat manusia, Maumere, 2006.
Seri Buku Vox, Seri/46/2/2002.
Wikipedia, http://ms.wikipedia.org/wiki/Bunuh diri, Diakses tanggal 10 Maret 2007
Wikipedia, http://en.wikipedia.org/wiki/Arthur Schopenhauer#aesthetics, Diakses 10, Maret 2007




ARTUR SCHOPENHAUER

DUA JALAN PELEPASAN KEHENDAK
DALAM DIRI MANUSIA
MENURUT PANDANGAN ARTUR SCHOPENHAUER
Oleh: Agustinus Benny

1.PENDAHULUAN

1.1. Latarbelakang Penulisan
Masalah penderitaan adalah masalah yang menggelisahkan manusia. Manusia mempertanyakan kenapa ia harus menderita, apa penyebab penderitaan yang dialaminya. Lebih lanjut muncul pertanyaan bagaimana mengatasi penderitaan itu? Haidegger pernah mengungkapkan, ketika manusia lahir ia sudah cukup tua untuk mati . Mengapa manusia lahir dan sesudah itu harus mati? Kenapa harus ada penderitaan yang berujung pada kematian di atas dunia ini? Dari pertanyaan-pertanyaan ini mendorong manusia merefleksikan kenyataan penderitaan dan mau memaknai hidupnya di dunia.
Dalam mengisi hidupnya di dunia yang sementara ini manusia kembali merefleksikan akan arti penderitaan. Arthur Schopenhauer, filsuf Jerman abad ke-19 merefleksikan penderitaan dalam kaitan dengan usaha pelepasan kehendak. Bagi dia jalan untuk keluar dari penderitaan adalah jalan pelepasan kehendak yaitu pelepasan estetis dan pelepasan etis.
Dalam penulisan ini, penulis menguraikan dua jalan pelepasan kehendak menurut Arthur Schopenhauer ketika berhadapan dengan penderitaan seraya membuat catatan kritis atasnya. Penulis sadar tidak ada kehidupan di dunia ini tanpa penderitaan dan tidak ada penderitaan yang tidak bisa diatasi. Oleh karena itu dua jalan pelepasan kehendak merupakan suatu tawaran untuk memaknai hidup.

1.2. Tujuan Penulisan
Paper ilmiah yang penulis garap ini pada hakikatnya memiliki tujuan ganda. Pertama: tulisan ini merupakan suatu kewajiban formil bagi setiap mahasiswa Filsafat di STFK Ledalero sebelum menggarap skripsi yang adalah suatu kewajiban dan satu kriteria sebelum mendapat gelar strata satu jurusan Filsafat. Kedua: penulis ingin mendalami pemikiran Arthur Schopenhauer tentang dua jalan pelepasan dari unsur kehendak yang mengekang kehidupan manusia di dunia ini.

1.3. Metodologi Penulisan
Untuk menyelesaikan paper sederhana ini, penulis memilih untuk menggunakan metode studi kepustakaan. Dalam proses studi kepustakaan, penulis mengumpulkan sejumlah referensi berupa buku yang berhubungan dengan tema dan gagasan Arthur Schopenhauer, kemudian mendalaminya demi menemukan inspirasi untuk mengembangkan pikirannya.

1.4. Sistematika Penulisan
Dalam membuat tulisan ilmiah ini, penulis berusaha menggarap tema ke dalam sub-sub tema yang terdiri dari empat bab. Sistematika penulisannya sebagai berikut:
Pada bab I berisikan pendahuluan. Dalam bab ini, penulis menguraikan tentang latar belakang penulisan, tujuan penulisan, metodologi penulisan dan sistematika penulisan.
Bab II. Arthur Schopenhauer dan dasar pemikirannya. Dalam bagian ini, penulis menguraikan tentang siapa itu Arthur Schopenhauer dan juga karya-karya tulis yang telah ia berikan semasa ia berkarya di dunia. Penulis sengaja mengangkat dan mengulas tentang riwayat hidup dan karya-karya dari Arthur Schopenhauer agar dapat membuka wawasan dan dapat mengetahui tentang siapa itu Schopenhauer dan latar belakang kehidupannya dan juga tentang tulisan-tulisan yang telah dihasilkannya sebagai dasar pemikirannya tentang penderitaan dan dua jalan pelepasan kehendak.
Bab III. Dua jalan pelepasan menurut pandangan Arthur Schopenhauer. Bab ini merupakan inti dari tulisan ini. Secara khusus penulis menguraikan tentang arti dari kata pelepasan dan kehendak itu sendiri yang menjadi persoalaan utama. Selain itu penulis juga menguraikan pengantar singkat dari apa yang mau digarap sehubungan dengan pemikiran Schopenhauer, tentang dua jalan pelepasan dari unsur kehendak. Selanjutnya penulis mendalami dua jalan pelepasan itu sendiri yang merupakan jalan penyelesaian dari permasalahan kehendak itu sendiri. Kedua jalan itu adalah kontemplasi estetis dan jalan etis. Dalam bagian ini penulis juga mengetengahkan catatan singkat dari penulis yang didalamnya juga dimuat sikap penulis dalam menanggapi ide dari Shopenhauer.
Bab IV. Penutup. Bab ini merupakan epilog logis dari keseluruhan bahan yang penulis garap. Sebagai catatan penutup, penulis kembali menegaskan apa yang telah diulas sebelumnya.


2.MENGENAL ARTUR SCHOPENHAUER DAN DASAR PEMIKIRANNYA

2.1. Mengenal Artur Schopenhauer
Shopenhauer dapat disebut sebagai seorang filsuf yang masih mempunyai hubungan erat dengan idealisme Jerman dan murid ideal dari Kant. Tetapi Schopenhauer merupakan satu figur yang asing dalam deretan filsuf Eropa, teristimewa karena keperibadian dan karena filsafat India. Ia lahir dari sebuah keluarga pedagang di kota Danzig pada tanggal 22 Februari 1788. Ketika kota Danzig diserahkan kepada Prusia tahun 1793, keluarganya turut berimigrasi ke Hamburg dan menetap di sana sampai ayahnya meninggal tahun 1805. Ibunya adalah seorang Novelis yang kemudian mendirikan sebuah salon di Weimar. Di tempat inilah Schopenhauer kemudian berkenalan dengan Göthe yang sangat berpengaruh dalam kehidupannya selanjutnya.
Masa pendidikan Schopenhauer ditempuhnya selama dua tahun di Prancis, beberapa bulan di London dan juga di Swiss dan Austria. Selepas kematian ayahnya, ia masuk Universitas Göttingen sebagai mahasiswa kedokteran sebelum belajar fisika, kimia dan botani. Secara khusus pada kesempatan ini untuk pertama kali ia membaca karya-karya Plato dan Kant. Kedua tokoh ini kemudian menjadi tokoh yang sangat berpengaruh dalam pemikirannya dalam bidang filsafat.
Di Universitas Berlin, Schopenhauer sengaja meminta mata kuliahnya diberikan pada jam sama seperti Hegel, dengan harapan bahwa orang akan membanjiri kuliahnya dan menjauhkan Hegel yang terlalu berbelit-belit. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Selama dua puluh tahun pertama, karya utamanya tidak banyak dikenal. Kalau kemudian filsafat Scopenhauer diperhatikan, itu lebih karena kekecewaan di Jerman dan Eropa pada umumnya setelah revolusi pada tahun 1848. Revolusi dipandang tidak mendatangkan perubahan seperti yang dibicarakan oleh Kant dan Hegel. Karena itu, sikap pesimistis menemukan pada Schopenhauer penjelasan filosofisnya. Sejak tahun 1850 karyanya mulai dikenal.
2.2. Dasar Pemikiran Schopenhauer
Pandangan filosofis Schopenhauer terungkap dalam karya utamanya: Die Welt Wille und Vorstellung (Dunia sebagai kehendak dan gambaran). Dunia adalah gambaran, itulah satu-satunya kebenaran a priori yang kita miliki. Kita memiliki gambaran tentang dunia dan kita hanya mengenal dunia seturut gambaran yang sudah terbentuk itu. Sebuah benda an sich tidak dapat kita kenal. Yang dapat kita kenal adalah benda dalam penampilannya kepada kita.
Untuk dapat masuk dan mengenal dunia, kita tidak menemukan jalan dari luar. Dari luar, kita tidak menemukan pintu untuk masuk ke dalam rumah dunia ini. Yang ada hanya satu pintu dan pintu itu ada dalam diri kita sendiri yaitu kehendak. Pengetahuan yang benar adalah pengetahuan yang lahir dari kehendak. Bagi Schopenhauer kebenaran tidak tidak lahir dari pemikiran, kesadaran atau rasio melainkan datang dari lapisan yang lebih mendalam. Manusia sebenarnya didorong untuk hidup dan kehendak itu menggunakan ratio sebagai budaknya.

2.3. Penderitaan dan Keselamatan
Schopenhauer melihat kehidupan sebagai penderitaan karena menurutnya kehendak itu terbatas, sementara kemungkinan pemenuhan kehendak terbatas pula. Kita tidak akan pernah menemukan pemenuhan dan pemuasan semua dorongan keinginan nafsu kita. Kalau demikian, sumber penderitaan adalah diri kita sendiri.
Penderitaan mengungkapkan kehendak sebagai daya yang terbesar pada manusia. Kekuatan kehendak menjadi nyata dalam penderitaan, sebab penderitaan lahir dari perbedaan antara kehedak dan kemampuan untuk memenuhinya. Manusia selalu merasa tidak puas, mengalami munculnya keinginan yang satu sesudah pemuasan yang lain. Sebuah penderitaan muncul setelah penderitaan yang lain diatasi. Penderitaan itu adalah realitas yang biasa di dunia, sedangkan kebahagiaan hanyalah sebuah negativitas, yakni ketiadaan dari penderitaan.


3.DUA JALAN PELEPASAN KEHENDAK DALAM DIRI MANUSIA MENURUT PANDANGAN ARTUR SCHOPENHAUER

3.1. Memaknai Arti Pelepasan Kehendak
Kata “pelepasan” berasal dari kata dasar lepas: dapat bergerak (lari) ke mana-mana: tidak tertambat, bebas dari ikatan; tidak terikat lagi, melarikan diri, bebas dari hukuman. Kata ini kemudian mendapat awalan ke- dan akhiran –an menjadi kata “pelepasan”: proses, cara, perbuatan, pemecatan (dari tugas), dubur, anus. Dari arti kata di atas kata pelepasan mengandung arti suatu proses lepas dari sesuatu.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata kehendak berasal dari kata dasar hendak: mau; akan; bermaksud akan. Kata ini kemudian mendapat awalan ke- menjadi “kehendak”: kemauan; keinginan dan harapan yang keras. Dari arti kata ini, kata kehendak mengandung arti kemauan atau keinginan dan harapan yang keras untuk dapat memiliki sesuatu atau dapat mencapai sesuatu.
Dalam Kamus Filsafat, kata kehendak mengandung beberapa pengertian. Istilah ini mengacu pada suatu potensi, fakultas atau daya di dalam manusia yang terlibat di dalam pengambilan keputusan. Hal ini berhubungan dengan ratio seseorang dalam mengambil suatu keputusan. Kamus Filsafat melihat kehendak sebagai: Mengetahui dan menghendaki merupakan dua bentuk fundamental kegiatan spiritual. Menghendaki tidak mutlak dalam arti bahwa menghendaki lebih mengacu pada usaha untuk mencapai yang baik yang akan dicapai atau dihasilkan. Kegiatan dasar kehendak adalah afirmasi terhadap nilai atau cinta. Objek khusus kehendak mutlak adalah nilai mutlak atau kebaikan pada dirinya. Kehendak itu sendiri merupakan suatu keinginan akan sesuatu hanya kalau kebaikan tidak disamakan dengan kehendak atau sama sekali tidak dihubungkan dengan kehendak. Sedangkan objek khusus kehendak sama dengan objek khusus kehendak mutlak yaitu nilai pada diri sendiri. Objek dari kegiatan kehendak diinginkan karena kebaikannya sedikit banyak memberikan sumbangan bagi penyempurnaan seseorang yang menghendakinya.

3.2.3. Menurut Pandangan Para Filsuf
Para filsuf melihat arti kehendak secara berbeda-beda menurut pandangan mereka masing-masing: Nietzsche (1844-1900), melihat kehendak sebagai kehendak untuk berkuasa. Kehendak untuk berkuasa adalah kharakter dari segala yang ada. Ini merupakan jawaban atas pertanyaan apa artinya “berada”. Berada berarti berada seturut kehendak untuk berkuasa. Segala sesuatu yang ada selalu berada dalam proses menjadi. Kehendak memberi jawaban dalam dirinya “ya atas kehidupan”. Karena ia menghendaki sesuatu yang lain maka ia terbuka terhadap apa yang lain itu. Tidak ada pemisahan antara kehendak dan yang dikehendaki. Dalam kehendak kita menemukan diri kita sebagaimana diri kita berada. Dengan demikian kehendak selalu ada dalam diri manusia sekalipun manusia kadang tak menyadari akan eksistensi kehendak itu sendiri. Sedangka Kant, (1724-1804) melihat kehendak sebagai bagian dari keinginan yang beraksi dalam bentuk konsep. Ia hampir menyamakan kehendak dengan ratio. Fakultas kehendak dapat bekerja tanpa memperhitungkan keinginan dan kecendrungan dan penentu kegiatan-kegiatan kehendak adalah ratio praktis sendiri . Dikatakan bahwa prinsip-prinsip praktis adalah proposisi-proposisi yang berisi ketentuan umum kehendak, yang memiliki beberapa aturan praktis. Prinsip-prinsip itu bersifat subjektif, atau berupa maksim-maksim, ketika kondisi ini oleh subjek dianggap sahih hanya bagi kehendaknya sendiri. Prinsip-prinsip itu bersifat objektif, atau merupakan hukum praktis, ketika kondisi tersebut oleh subjek diketahui objektif, yakni sahih untuk kehendak setiap mahluk rasional .
Dengan mengasumsikan bahwa akal budi murni mempunyai sebuah dasar praktis yang mencakupi untuk menentukan kehendak, maka dijumpai adanya hukum-hukum praktis. Namun, semua prinsip praktis hanyalah maksim-maksim. Di dalam kehendak makhluk rasional yang dipengaruhi oleh perasaan, mungkin saja terjadi konflik antara maksim dan hukum praktis yang diketahui oleh makhluk tersebut. Misalnya, seorang dapat menganggap sebagai maksimnya sikap untuk tidak toleren terhadap tindakan balas dendam, tetapi pada saat yang sama mengetahui bahwa sikap ini hanya maksimnya sendiri, bukan hukum praktis, dan bahwa jika dianggap sebagai aturan untuk kehendak setiap makhluk rasional, sikap itu inkonsisten dengan dirinya sendiri.
Hegel, 1770-1854) mengaitkan kehendak dengan apa yang disebut pengetahuan. Roh absolut “Geist” yang mewujudkan diri dalam kehendak dan dalam sapere/ pengetahuan. Unsur yang paling dominan dalam kehendak adalah intelek. Intelek membimbing pengetahuan untuk menunjukkan dirinya sebagai sesuatu yang berada. Ia kemudian melihat kehendak dalam konteks kekuasaan. Menghendaki adalah kemampuan untuk memimpin atau menguasai. Kehendak untuk lebih kuat berarti kehendak untuk lebih di atas, melampaui yang lain. Dalam proses tertentu ia menjadi sangat kreatif dan pada waktu yang lain lebih destruktif sebagai penyebab kehancuran.
Dalam doktrin Aristoteles dan Plato tentang tiga bagian jiwa, kehendak terletak antara ratio dan nafsu-nafsu. Bagi keduanya, kehendak lebih dekat dengan yang pertama daripada yang terakhir. Ratiolah yang berfungsi mengontrol kehendak. Manusia berkewajiban membangun kebiasaan-kebiasaan yang baik yang memungkinkan kontrol macam ini. Aquinas mengikuti garis yang sama. Kehendak didefinisikan sebagai nafsu intelektual yang dipengaruhi dan mempengaruhi ratio.
Bagi Hobbes, (1588-1679) kehendak berhubungan dengan nafsu-nafsu. Malahan ia menganggap kehendak sebagai mata rantai terakhir dari rangkaian nafsu-nafsu yang menuju tindakan. Ia memandang tenaga kehendak sebagai hampir tak terbatas dibandingkan dengan keterbatasan yang dilalui ratio. Baginya, kekuatan kehendaklah yang memungkinkan kebebasan manusia.

3.3.Dua Jalan Pelepasan dari Penderitaan
Adakah jalan keluar dari lembah penderitaan ini? Dikatakan bahwa pengetahuan bukanlah jalan keluar yang tepat, sebab semakin tinggi derajat sebuah mahluk yang ditandai kesanggupan pengetahuan, semakin besar pula kesanggupannya untuk menderita. Pada tahap ini, Schopenhauer melihat adanya sebuah jalan keluar yang ditawarkan oleh kesenian. Kesenian adalah permenungan tentang sesuatu terlepas dari relasi kausalitas dan terpisah dari penentuan kehendak. Kesenian adalah kemampuan untuk hanya memperhatikan, untuk membiarkan yang ada berbicara, untuk menjadi sangat objektif, dan dari pengamatan itu dapat mengulangi yang diamat dalam karya seni.
Bagi Schopenhauer individu-individu dapat mengatasi dunia dan penderitaannya dengan kontemplasi filosofis, transendensi melalui pengalaman estetis dan belas kasihan . Inilah yang dinamakan jalan pelepasan kehendak. Manusia semestinya tidak bergembira karena manusia hidup, sebaliknya harus meratapi fakta tersebut. Lebih baik tiada daripada ada, lebih baik tiada daripada hidup. Bagi Schopenhauer kehidupan adalah sesuatu yang seharusnya tidak ada. Kalau seorang individu memilih, dia akan menolak kehidupan sebab dia telah mengerti bahwa dunia ini sia-sia. Semua keadaan dalam kehidupan berakhir sebagai frustrasi, tidak bahagia, ilusi atau menyakitkan. Hal ini disebabkan hidup di dunia selalu diliputi oleh penderitaan, keputusaasaan, ketidakpastian, kekecewaan, ketidakberdayaan, kehilangan harapan dan kematian. Schopenhauer kemudian menyimpulkan bahwa dunia ini merupakan kemungkinan yang terburuk, tidak ada yang lebih buruk yang dapat diciptakan atau dibayangkan. Dunia dilihat sebagai ungkapan dari kehendak yang buta serta irasional. Segala sesuatu memiliki kehendak untuk hidup dan konsekuensinya ialah adanya penderitaan.
Di alam yang bebas, kehendak yang demikian menampakkan diri dalam berbagai wujud makhluk hidup yang hanya akan melihat dan menyantap makhluk-makhluk lain. Dunia dan manusia menurut dasarnya yang terdalam merupakan kehendak. Dorongan untuk mempertahankan hidup dan memperoleh kesejahteraan adalah dua hal yang juga merupakan kemauan kehendak yang memaksa orang untuk melakukan apa yang disebut dosa. Menurutnya, setiap keinginan yang sudah dipuaskan menghasilkan keinginan baru yang juga harus dipuaskan lagi, dan begitu seterusnya tanpa berhenti. Namun kemungkinan-kemungkinan untuk memuaskannya terbatas, sehingga tidak ada yang bisa benar-benar memuaskan. Kenyataan untuk terus memuaskan diri secara terus-menerus semacam ini, pada suatu taraf orang akan merasa bosan dan frustrasi. Hal ini dilihat oleh schopenhauer sebagai penderitaan. Apabila telah ada satu penderitaan maka akan muncul penderitaan baru.
Apakah penyebab dari semua penderitaan ini? Hal ini disebabkan oleh kehendak itu sendiri. Menurutnya, seperti yang dikutip oleh Simon Petrus, “karena disiksa dan didorong oleh tuntutan-tuntutan kehendak untuk hidup. Kehendak untuk hidup itu adalah Dosa Asal. Maksudnya, sama seperti dosa asal yang membawa penderitaan bagi semua keturunan Nabi Adam, demikian juga kehendak untuk hidup menjadi sebab bagi banyak malapetaka dan kesengsaraan yang menimpa manusia”. Dalam mengatasi kenyataan di atas ia menawarkan dua jalan. Kedua jalan itu adalah kontemplasi estetis dan jalan etis. Untuk dapat mendalami ajarannya tentang dua jalan pelepasan ini, maka pada uraian selanjutnya akan dilihat dan diuraikan lebih jelas tentang dua jalan ini.

3.3.1.Kontemplasi Estetis
Dengan kontemplasi estetis, manusia dapat memadamkan hasrat-hasratnya. Karya seni atau hal yang berhubungan dengan seni bisa menimbulkan gairah. Kesenian adalah jalan permenungan tentang sesuatu terlepas dari relasi kausalitas dan terpisah dari penentuan kehendak. Kesenian adalah kemampuan untuk hanya memperhatikan, untuk membiarkan yang ada berbicara, untuk menjadi sangat objektif, dan dari pengamatan itu dapat mengulangi yang diamat dalam karya seni. Dan hal ini hanya ada pada orang-orang jenius. Yang jenius adalah yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada sesuatu.
Schopenhauer memberi tempat istimewa bagi seni. Dalam seni orang dapat mengenal aspek pembentukkan ulang dari kenyataan. Bidang itu adalah musik . Musik adalah ungkapan langsung dari kehendak dan dengan demikian ia berasal dari hakekat dunia. Di dalamnya seluruh dunia dan manusia menunjukkan dirinya. Melalui musik kehendak semesta langsung berbicara kepada kita. Musik adalah realitas di belakang konsep-konsep yang menawarkan diri secara langsung. Agendi atau aksi dilihat Schopenhauer sebagai kehendak dari sang seniman. Tugas seni harus memimpin subjek untuk membebaskan diri dari objektivitas tertentu untuk menggapai idea murni. Sang seniman dalam mencipta, harus membebaskan diri dari objek karya seni untuk menggapai idea di balik karya seni itu. Ini hanya mungkin lewat kontemplasi melalui mediasi karya seni. Seni adalah unsur pengetahuan yang mengandung kontemplasi murni tentang esensi yang benar lewat mediasi objek seni itu sendiri.
Schopenhauer sadar bahwa karya seni bisa menimbulkan gairah, lalu menimbulkan naluri-naluri yang lebih rendah yang tak lain adalah manifestasi kehendak. Namun ini dilihatnya sebagai suatu hal yang bukan merupakan kehendak estetis. Sebuah pengalaman estetis adalah usaha memandang objek keindahan bukan sebagai objek nafsu. Sebuah kontemplasi estetis adalah usaha menemukan makna keindahan dalam objek itu. Baru dengan sikap kontemplatif ini manusia tanpa pamrih, lalu bebas dari perbuatan kehendak atau penderitaan.
Kontemplasi estetis memang hanya mungkin untuk sementara waktu saja. Ia dapat seakan-akan untuk sementara melindungi kita terhadap keresahan dorongan dan keinginan, tetapi kita tak dapat mengunci diri di dalamnya untuk selamanya. Saat kontemplasi manusia lupa akan penderitaannya, jiwanya tentram, tapi sesudah itu dia akan mengalami penderitaan lagi. Pelarian yang dilakukannya ini hanya bersifat sementara waktu saja. Hal ini bukanlah suatu hal yang kekal, yang dapat memberikan ketenangan abadi kepada manusia.

3.3.2.Jalan Etis
Jalan etika adalah jalan yang baik menuju pembebasan. Pelepasan yang langgeng adalah pelepasan yang dapat diperoleh lewat jalan etis. Kehendak adalah suatu tuntutan dalam diri yang harus dipenuhi. Kehendak dapat menjadi cambuk yang mematikan dalam hidup seseorang. Oleh karena itu kehendak dapat menghasilkan penderitaan yang dapat disimpulkan juga bahwa kehidupan itu adalah suatu hal yang buruk atau jahat.
Schopenhauer melihat penderitaan itu seperti orang Kristen yang harus memikul salib sebagai penderitaan dan seruan untuk menolak dunia sebagai jalan keluar dari penderitaan. Penolakan terhadap dunia, itulah jalan lain untuk membebaskan diri dari kehendak. Dengan demikian kalau manusia mau lepas dari penderitaan dan kejahatan hidup ini dia harus menolak kehendak untuk hidup. Namun hal yang tak menyenangkan dari pandangan ini bahwa orang harus bunuh diri. Ini berarti bahwa tindakan bunuh diri adalah suatu tindakan moral yang tinggi. Hal itu juga berarti bahwa orang enggang berhadapan dengan suatu perkara yang dianggap tidak dapat ditangani. Menghadapi kenyataan ini, Schopenhauer berhasil menjawabnya dengan mengatakan bahwa tindakan bunuh diri justru merupakan sikap tunduk kepada kehendak untuk hidup itu, bukan penolakan atasnya. Keinginan untuk bunuh diri menurutnya seperti yang dikutip oleh Hardiman merupakan ungkapan tersembunyi dari kehendak untuk hidup. Jadi, dengan bunuh diri orang malah melakukan kejahatan. Jalan yang harus ditempuh bukannya bunuh diri, melainkan moralitas. Moralitas adalah suatu hal yang sangat khas dalam filsafatnya. Manusia merasa bebas hanya dari tampak luarnya saja (secara fenomenal), padahal secara hakiki (numenal) manusia adalah budak kehendak. Pada kenyataan ini, manusia berusaha keluar dari kenyataan fenomena ini dengan berusaha untuk menemukan sebuah simpati etis terhadap manusia lain. Hal yang dilakukan adalah dengan melakukan kebaikan. Dengan kebaikan manusia berharap dapat menemukan cinta kasih yang dapat melepaskan dirinya dari sikap egoisme dan kelekatan manusia pada hasrat-hasrat rendah dan dengan itu dia telah berusaha untuk menolak kehendak. Bila orang telah sampai pada taraf ini, dunia dianggapnya sebagai sebuah ketiadaan dan akan mencapai Nirvana. Nirvana adalah pemadaman total kehendak; dan karena kehendak itu lenyap, dunia juga menjadi ketiadaan (banyak dipengaruhi oleh ajaran Buddha) . Dengan mencapai Nirwana orang akan mengalami ketiadaan eksistensi individualnya. Dengan itu pula keinginan tidak akan ada lagi, tidak ada kehendak dan tidak ada dunia.

3.4.Catatan Kritis Atas Pandangan Schopenhauer Tentang Dua Jalan Pelepasan
Dari uraian diatas, penulis dapat melihat bahwa pada dasarnya Schopenhauer memusuhi hidup ini. Hidup ini dilihatnya sebagai belenggu yang terus melilit diri. Hal-hal lahiriah dalam diri manusia/ dorongan-dorongan (Keinginan, nafsu, insting, hasrat dan kemauan) merupakan unsur yang selalu ada dan selalu mewarnai diri manusia. Bila manusia mengelak akan keberadaan hal-hal di atas berarti manusia telah menyangkal diri dan hidupnya sendiri, apalagi kalau keinginan seseorang tak dapat dipenuhi. Keadaan menderita dan kecewa akan terus mewarnai perilaku manusia yang kemudian akan menyengsarakan manusia itu sendiri.
Manusia adalah makhluk yang diciptakan Tuhan sebagai makhluk yang mempunyai kelebihan dalam bertindak dan berpikir. Hal ini didorong oleh kehendak akal yang ada pada diri manusia. Kesenangan dilihat sebagai sesuatu yang sangat diinginkan dalam kodrat alami kita. Namun tak dapat disangkal pula bahwa kehendak dapat menyebabkan kesengsaraan pada diri manusia. Kehendak yang berakibatkan kesengsaraan ini dilihat oleh Schopenhauer sebagai hal yang tak baik dan harus dihindari. Itu berarti, ia tidak mengakui kodrat manusia lagi. Oleh karena itu ia harus melihat kembali kebelakang bagaimanakah manusia itu diciptakan menurut kodratnya. Manusia telah dianugerahi Tuhan seperti yang ada sekarang. Itu berarti manusia juga punya kehendak. Jalan yang ditawarkannya memang dapat mengurangi penderitaan manusia tapi tak dapat menghilangkannya. Mati bukanlah jalan keluar yang tepat karena yang dapat mengambil nyawa seseorang hanyalah Tuhan. Bunuh diri adalah perbuatan yang menamatkan hayat atau perbuatan memusnahkan diri karena enggan berhadapan dengan suatu perkara yang dianggap tak dapat ditangani. Tindakan bunuh diri lazimnya berlaku kepada mereka yang menghadapi tekanan. Mereka ini akan bertindak di luar akal pemikiran yang waras. Penulis lebih mendukung pemikiran Kant bahwa dalam kehendak ada kesesuaian secara menyeluruh keinginan dengan hukum moral yang merupakan kondisi paling tinggi dari kebaikan tertinggi. Kesesuaian ini pasti dimungkinkan sebagaimana objeknya, karena dia termasuk didalam perintah yang mengharuskan kita untuk lebih mementingkan objeknya. Kesesuaian antara kehendak dengan hukum moral adalah kesucian yang merupakan kesempurnaan di mana tidak ada makhluk rasional di dunia indra yang mampu memisahkannya.


4.PENUTUP
Manusia adalah makhluk berkehendak. Sebagai manusia yang berkehendak, ia dapat melakukan apa saja untuk memenuhi dirinya. Keadaan untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup yang terus-menerus dan sulit untuk dihindarkan adalah sebuah penderitaan. Hal ini yang dilihat oleh Schopenhauer. Penderitaan ini sangat menyiksa hidup manusia.
Sehubungan dengan hal di atas, ia menawarkan dua jalan pembebasan. Kedua jalan itu adalah jalan kontemplasi estetis dan jalan etis. Jalan kontemplasi estetis ditempuh melalui musik. Lewat musik atau seni orang dapat melepaskan penderitaan yang dideritanya karena unsur kehendak. Dengan kontemplasi estetis, manusia dapat memadamkan hasrat-hasratnya. Karya seni atau hal yang berhubungan dengan seni bisa menimbulkan gairah. Cara pertama ini meliputi semua bidang kesenian dengan memuncak pada seni musik sebagai suatu penghentian ‘tekanan’ kehendak umum dan buta, tetapi hanya selama pengalaman akan seni itu ada. Kesenian adalah jalan permenungan tentang sesuatu terlepas dari relasi kausalitas dan terpisah dari penentuan kehendak. Kesenian adalah kemampuan untuk hanya memperhatikan, untuk membiarkan yang ada berbicara, untuk menjadi sangat objektif, dan dari pengamatan itu dapat mengulangi yang diamat dalam karya seni.
Jalan etis adalah jalan kedua yang ditawarkan olehnya ditempuh dengan cara menolak hidup ini. Jalan yang kedua ini tetap pada pengingkaran diri (askese). Hidup yang penuh penderitaan harus dilalui atau dilewati dengan penderitaan. Namun itu tidak berarti baginya untuk menghalalkan kematian. Hal itu telah melanggar hukum moral. Tindakan bunuh diri hanya merupakan suatu sikap tunduk kepada kehendak yang akan tetap membawa penderitaan. Orang harus berbuat baik dalam terang cinta kasih yang kemudian membawanya pada kehidupan di Nirvana.
Kedua jalan diatas dilihat oleh penulis bukanlah suatu jalan yang baik sebab menghindar dari kenyataan yang hanya sementara waktu bukanlah cara yang paling baik apalagi harus bunuh diri. Kematian dengan cara bunuh diri bukanlah suatu cara yang halal dan itu melanggar moral. Hal itu juga berarti bahwa ia tak menghendaki hidup ini. Hidup hanya bisa diakhiri oleh Tuhan.


DAFTAR PUSTAKA

1. KAMUS:
Bagus Lorens, Kamus Filsafat (Gramedia Pustaka Utama: Jakarta, 2000).
Departemen P&K, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2002), Edisi ke-3.

2. BUKU-BUKU:

Budi Kleden, Paul, Membongkar Derita (Maumere: Penerbit Ledalero, 2006).
Hardiman, F. Budi, Filsafat Modern Dari Machiavelli Sampai Nietzsche (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2004).
L. Tjahjadi, Simon Petrus, Petualangan Intelektual, Konfrontasi dengan Para Filsuf dari Zaman Yunani Hingga Zaman Modern (Yogyakarta: Kanisius, 2004).
Mudji Sutrisno Fx, Christ Verhaak, Estetika Filasafat Keindahan (Yogyakarta: Kanisius, 1993).
Mudji Sutrisno, FX, (ed), Manusia Dalam Pijar-pijar Kekayaan Dimensinya (Yogyakarta: Kanisius, 1993)
Kant, Imannuel, (terj), Kritik Atas Akal Budi Praktis (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005).
Van der Weij P. A., Filsuf-Filsuf Besar Tentang Manusia (Kanisius:Yogyakarta, 2000).

3. MAJALAH, MANUSKRIP DAN KUTIPAN INTERNET

Ceunfin, Frans, Etika, (ms), STFK Ledalero, 2003
Baghi, Felix, “Estetika”, Catatan Kuliah Mimbar, STFK Ledalero, 2007.
Kebung, Kondrad, Filsafat manusia, Maumere, 2006.
Seri Buku Vox, Seri/46/2/2002.
Wikipedia, http://ms.wikipedia.org/wiki/Bunuh diri, Diakses tanggal 10 Maret 2007
Wikipedia, http://en.wikipedia.org/wiki/Arthur Schopenhauer#aesthetics, Diakses 10, Maret 2007