Bunga Diatas Pusara
Monday, August 15, 2011 1:41:44 AM
Bunga indah ini terlihat kian layu. Ini, kubawakan secawan air untuk kusiramkan pada bunga-bunga indah diatas pusaramu. Meski itu tak setetespun sebanding, dengan yang telah aku tengguk dari samuderamu.
Layaknya hari-hari kemarin ketika aku masih disini, menjengukmu pada setiap waktu. Menggaungkan rasa yang ada disetiap pelosok bagian tubuhku, yang senantiasa rindu.
Aku masih belia ketika kau tinggalkan. Urat nadiku pun masih sesekali mengembang, karena menahan geram.
Kegeraman ini, lagi-lagi tentang mereka. Asa yang dulu ada, kinipun larut menghilang. Tentang satir-satir itu, yang menjadi pembatas akan sekerat makna, hari ini telah sirna.
Kepongahan demi kepongahan yang mereka pamerkan, kian tinggi menjulang. Mungkin mereka berharap, sanggup membuat sejarah dengan sepenggal dendam. Meruntuhkan dinding-dinding keyakinan dengan suara lantang, hingga menggema jauh diantara bukit-bukit keangkuhan.
Sementara bau busuk ini kian terasa kencang. Mereka hembuskan bersama angin musim kemarau, yang menjadikan tanah ditempat ini kian kering kerontang. Para pesolek itu, menghias muka mereka, yang setiap saat melonglong bak sekerumunan anjing penjilat, yang sedang bergumul berebut seonggok daging cincang.
#
Aku datang padamu, karena tak kuasa menyimpan rindu.
Ada secuil harapan dalam barisan pinta yang aku peruntukkan untukmu. Bahwa kemarau musim ini, kiranya takkan menyisakan kekeringan dihatiku.
Bunga-bunga diatas pusaramu bolehlah layu, namun keyakinan dan tekad yang telah kau tanamkan pada jiwaku, tak semudah itu tertunduk lesu.
―*―
Layaknya hari-hari kemarin ketika aku masih disini, menjengukmu pada setiap waktu. Menggaungkan rasa yang ada disetiap pelosok bagian tubuhku, yang senantiasa rindu.
Aku masih belia ketika kau tinggalkan. Urat nadiku pun masih sesekali mengembang, karena menahan geram.
Kegeraman ini, lagi-lagi tentang mereka. Asa yang dulu ada, kinipun larut menghilang. Tentang satir-satir itu, yang menjadi pembatas akan sekerat makna, hari ini telah sirna.
Kepongahan demi kepongahan yang mereka pamerkan, kian tinggi menjulang. Mungkin mereka berharap, sanggup membuat sejarah dengan sepenggal dendam. Meruntuhkan dinding-dinding keyakinan dengan suara lantang, hingga menggema jauh diantara bukit-bukit keangkuhan.
Sementara bau busuk ini kian terasa kencang. Mereka hembuskan bersama angin musim kemarau, yang menjadikan tanah ditempat ini kian kering kerontang. Para pesolek itu, menghias muka mereka, yang setiap saat melonglong bak sekerumunan anjing penjilat, yang sedang bergumul berebut seonggok daging cincang.
#
Aku datang padamu, karena tak kuasa menyimpan rindu.
Ada secuil harapan dalam barisan pinta yang aku peruntukkan untukmu. Bahwa kemarau musim ini, kiranya takkan menyisakan kekeringan dihatiku.
Bunga-bunga diatas pusaramu bolehlah layu, namun keyakinan dan tekad yang telah kau tanamkan pada jiwaku, tak semudah itu tertunduk lesu.
―*―













