Subscribe to RSS feed

Bunga Diatas Pusara

Bunga indah ini terlihat kian layu. Ini, kubawakan secawan air untuk kusiramkan pada bunga-bunga indah diatas pusaramu. Meski itu tak setetespun sebanding, dengan yang telah aku tengguk dari samuderamu.

Layaknya hari-hari kemarin ketika aku masih disini, menjengukmu pada setiap waktu. Menggaungkan rasa yang ada disetiap pelosok bagian tubuhku, yang senantiasa rindu.

Aku masih belia ketika kau tinggalkan. Urat nadiku pun masih sesekali mengembang, karena menahan geram.

Kegeraman ini, lagi-lagi tentang mereka. Asa yang dulu ada, kinipun larut menghilang. Tentang satir-satir itu, yang menjadi pembatas akan sekerat makna, hari ini telah sirna.

Kepongahan demi kepongahan yang mereka pamerkan, kian tinggi menjulang. Mungkin mereka berharap, sanggup membuat sejarah dengan sepenggal dendam. Meruntuhkan dinding-dinding keyakinan dengan suara lantang, hingga menggema jauh diantara bukit-bukit keangkuhan.

Sementara bau busuk ini kian terasa kencang. Mereka hembuskan bersama angin musim kemarau, yang menjadikan tanah ditempat ini kian kering kerontang. Para pesolek itu, menghias muka mereka, yang setiap saat melonglong bak sekerumunan anjing penjilat, yang sedang bergumul berebut seonggok daging cincang.
#

Aku datang padamu, karena tak kuasa menyimpan rindu.
Ada secuil harapan dalam barisan pinta yang aku peruntukkan untukmu. Bahwa kemarau musim ini, kiranya takkan menyisakan kekeringan dihatiku.

Bunga-bunga diatas pusaramu bolehlah layu, namun keyakinan dan tekad yang telah kau tanamkan pada jiwaku, tak semudah itu tertunduk lesu.

―*―

Senandung Kubur

Air matamu takkan mampu membasahi bumi, untuk menuaikan kembali tubuhnya yang telah kaku, kawan. Peluhmu takkan bisa merayu matahari, untuk menyemaikan kembali ruhnya yang telah pulang, teman. Ratapmu takkan dapat mengambil hati rembulan, untuk meramu malam menjadi sebuah kenangan, seperti saat-saat yang lalu, sayang. Semua kalian pun akan sama seperti dia hari ini, berhadapan dengan suatu dimensi, untuk sebuah penantian yang teramat panjang.

Seragam yang Ia pakai hari ini pun pastinya akan kau kenakan, saat ketetapan-Nya hari itu datang menjelang. Yah, baju kebesaranmu yang ternyata hanya lembaran kain putih tanpa lukisan. Kain putih yang membungkus sekerat makna, yang hanya bisa terbaca oleh mereka yang tak membiarkan mata batinnya terlantarkan ternista. Yang tak merelakan nuraninya teraniaya. Yang tak membutakan mata jiwanya hanya dengan tersedu dan mengiba.

Bongkah-bongkah tanah yang hari ini jatuh diatas tubuhnya, yang pasti pula akan menimpamu. Tempat pengasingan yang sekarang menjadi rumahnya, suatu saat nantipun akan kau tempati. Maka, apakah yang telah kau lakukan dalam perjalanan mengarungi kehidupan, itulah yang akan menjadi teman dalam kesendirian ini, kawan. Teman yang dapat menerangi dalam kegelapan, dan menjadi penghidang, dengan hidangan yang sebelumnya belum pernah kau dapatkan, beserta jamuan tarian bidadari. Atau teman itu menjadi sesuatu yg membuat dirimu kesakitan yang teramat dalam, yang sebelumnya pun tak pernah kau rasakan. Terkadang kau memang tak mau tahu akan kedatangannya. Dan itulah yang menjadikanmu bagai jenazah yang tak menyadari kematiannya.

Apa yang telah kau dapatkan darinya kawan? Apa yang telah kau siapkan untuk menyambutnya teman? Pertanyaan itu akan terus berputar menunggu jawaban yang kian hilang, seperti perahu kecilmu yang kehilangan pengayuh saat menantang gelombang. Sedangkan pada saat yang sama kau harus berlabuh di sebuah daratan yg berpasir mutiara. Ini adalah pilihan kawan. Tetap dijalan-Nya, maka bintang-bintang akan menuntun perahu kecilmu yang sedang kehilangan arah, sampai ke tujuan. Atau berpaling dari-Nya, maka selamanya takkan kau temukan bahagia.

Ia adalah ketetapan yang pasti kan datang, kawan. Ia adalah cuilan sejarah yang pasti terjadi tanpa terdeteksi, teman. Dia adalah kematian, sayang. Ia senandungkan pesan-pesan-Nya kepada kalian.
―――――――――

Aku Bukan Mimpinya

Hamparan pasir putih ini menjadi saksi bisu,
ketika langkahku membuang kegelisahan di penghujung pagi yang lalu.

Angin senja mengantar rombongan ombak-ombak kecil, menyapa kaki yang mulai gontai membawa sebungkus kenangan yang masih terngiang.

Lupakan saja! sapa pengembara kecil, dengan seonggok rumah mungil dipunggungnya.
Kembalilah tertawa! sambut burung-burung ceria, yang lewat membawa kabar bahagia.

Jauh disana, sedang bercengkrama barisan ombak, yang sesekali menggoda sampan-sampan kecil para pengarung samudra.
Wahai alam, bersama kalian
kularungkan kesedihan!.

Hemm..
Sesak sekali nafas ini kuhembuskan.
Keras sekali dada ini berguncang.

Aku bersandar pada ranting-ranting bakau, yang mulai menua.
Mencoba melepas kenangan, yang entah aku bisa membuang atau tidak.
Kenangan saat entah kapan hari itu aku mengenalnya, saat sesaat kurasakan indah bersamanya, sebelum semuanya sirna.

Tersentak aku terjaga, ketika surya mulai beranjak keperaduannya. Bersama penghuni malam yang mulai bernyanyi dengan kidung indahnya.

Seakan mereka berkata, pulanglah... kau bukan mimpinya!

―――――
troso, maret 2009