aci

aku cinta indonesia

Subscribe to RSS feed

Pesanan Doa Dari Sahabat

Ada segelas jamu kesabaran, semoga mampu menguatkanmu
Ada secangkir teh keimanan, semoga mampu memaniskan hari-harimu
Ada sebotol susu kesehatan, semoga menghindarkanmu dari penyakit
Ada sepiring nasi senyum, semoga mampu menghiasi wajahmu
Ada semangkuk sup air mata, semoga mampu menghangatkan hatimu
Ada sewadah sambel semangat, semoga mampu mengobarkan jiwamu
Ada sepotong puding harapan, semoga mampu membangkitkan asa dan citamu
Ada satu stel pakaian ketaqwaan, semoga mampu menunjukkan warnamu
Ada sebuah rumah kebaikan, semoga mampu membawanu ke puncak
Dan ada sebuah alunan musik persahabatan, semoga mampu membuatmu merasa tidak sendiri disini
karena kita tak pernah benar-benar sendiri berdiri di muka bimi ini

Keep smile^_^
Never Give Up !
SEMANGAT \(^o^)/

NGAWI

N.G.A.W.I
a Nice, Great, And, Wondeful place I ever had[/ALIGN]

Disini aku berdiri,dibawah naungan pohon beringin nan lebat. Setelah dua puluh kilo nangkring di jok Honda supra fit berplat nomor AE, melewati tiga belas tikungan dari arah pelosok barat menuju daerah P.G.Soedhono dan satu tikungan menuju patung meriam di jantung kota Ngawi. Menghadapi ganasnya moncong Sumber Kencono dan serbuan cahaya matahari yang tak kenal ampun. Untungnya, angin yang bergerak dari arah Australia mempemudah laju ban merek Astra yang menempel teratur di motor warna hitam ini.
Dengan maksud aku datang. Sengaja ‘mandeg’ dari aktivitas lain. Sejenak meluangkan waktu . menghindar dari cekikan rasa bosan. Hanya untuknya. Yang sedang berulang tahun tepat di hari ketujuh di bulan ketujuh ukuran tahun masehi. Aku berharap bisa memberikan sesuatu dihari bersejarahnya ini. Tapi yang bisa kulakukan hanyalah menatapi wajahnya lekat-lekat. Berusaha mengungkap kemolekan tubuhnya. Menyingkap tabir keanggunannya.
Parasnya memang tak secantik Paris milik Prancis. Namanya juga tak sengetop King of Pop yang telah almarhum, Michael Jackson. Diapun tak tumbuh sesubur New York tempat Liberty. Ia mengenakan riasan sederhana, tak setebal yang dipakai personel Kuburan Band. Gemanya samar-samar ketika sampai di Monas yang berselubung emas. Dirinya juga tak berkelas seperti Hollywood kota superstar.
Tetapi bersamanya aku merasa hidup. Ada ruang kosong di hatiku jika tak berada di sisinya. Dia memberiku sejuta memori. Menghadirkan tawa di bibirku. Juga tangis di mataku. Dia tidak sekedar membuat hari-hariku terasa berwarna, tetapi juga membuktikan bahwa aku berarti bagi orang lain. Dia memang bukan kota bintang. Tapi bintang-bintangku ada disini. Siap menyinari relung hatiku di bagian paling dalam sekalipun. Gemintang itu kunamai ayah, ibu, kakak, adik, keluarga, sahabat, dan tetangga..
Aku masih disini. Mengamati unsur asli Indonesia. Yang kata Brandes namanya pola macapat. Menghadap ke arah barat, pandanganku tertumbuk pada Masjid Agung Baiturrahman yang baru saja selesai direnovasi dan juga merupakan ‘masjid gedhe-ne Ngawi’. Mengingatkanku pada Sang Pemilik Jiwa,Allah Yang Esa. Berputar searah jarum jam, di arah utara aku disuguhi sebuah pemandangan bangunan pendopo plus perkantoran yang berdiri gagah. Menandakan bahwa disitulah pusat pemerintahan sebuah kota. Dari arah terbitnya fajar, disebelah timur kulihat bangunan sekolah. Tempat bagi anak-anak untuk berburu ilmu,memancing pengetahuan, dan merupakan alat untuk memetik cita-cita mereka. Bergerak Sembilan puluh derajat ke kanan, disebelah selatan, dinding penjara menyapaku dengan menebar hawa kelam. Seakan awas mengamati siapa saja yang melanggar hukum dan bersiap mencaplok siapapun yang tidak patuh pada aturan.
Keempat bangunan-bangunan itu berdiri mengelilingi sebuah taman yang dijuluki dengan nama ‘alun-alun’. Disitulah sekarang kakiku menjejak di bumi. Masih berusaha menggali keindahan kota Ngawi hingga ke bagian terdalam dan berharap menemukan berlian yang berkilauan.

Angin menerpaku tiada henti sejak tadi. Membawa aroma meriang di tubuhku dan bayangan Jepang di pikiranku. Suara dedaunan yang tertimpa angin begitu merdu di telingaku. Hanya dengan suara itu aku merasa seperti sedang duduk di bawah pohon sakura musim semi. Aku tergila-gila pada angin bulan Juli yang berhembus di kota ini. Sudah cukup bagiku jika bisa bertemu lagi dengan bulan Juli tahun depan, tahun berikutnya, dan seterusnya hingga nafasku benar-benar menghilang. Meski Cuma sehari, itu sudah cukup bagiku.
Dua orang gadis lewat di depan hidungku. Saling bicara satu sama lain.
“Ngawi itu bukan kota kecil,”sebuah suara kudengar.
“Lalu menurutmu ini kota besar,nggak salah?”suara yanga lain menyahut.
“Siapa bilang Ngawi kota besar, maksudku Ngawi ini lebih pantes disebut desa besar,”
“Sialan,”
Lalu samar-samar kudengar beberapa umpatan dari gadis yang terakhir bersuara itu disertai ancaman bernada canda karena temannya itu berani mengatai kota kelahirannya.
Beberapa nada sumbang tentang Ngawi memang sering melewati telingaku. Berusaha merontokkan wibawanya di mataku. Mengoyak kepercayaan diriku. Menjauhkan hatiku darinya. Jika menurut mereka cara ini akan berhasil,maka mereka salah besar! Aku akan tetap mencintainya. No matter what they say. Aku akan selalu merindukannya. No matter what they say. Kesanku tentangnya takkan pernah berubah tentangnya. No matter what they say.
Aku memang sangat berharap bisa berkeliling dunia. Dan langkah kecil kumulai dengan mengais ilmu di kota pendidikan, Jogjakarta. Tapi pasti aku kembali kesini. Senang menyebutnya sebagai kampung halamanku. Yang selama delapan belas tahun lebih telah menaungiku. Yang begitu khas dengan kripik tempe-nya. Yang penduduknya terkenal dengan logat lebay-nya. Yang isinya berupa kebun teh Jamus, air terjun Serambang, kolam renang Tawun, candi Cetho, museum Trinil, waduk Pondok, juga bangunan yang akrab kupanggil rumahku.
Sejauh apapun aku melangkah, kubawa serta semua kenangan tentangnya. Mulai dari serangan banjir yang menimpanya satu setengah tahun lalu, hingga keganasan aspalnya yang merenggut nyawa Sophan Sophian setahun lalu. Tak ketinggalan tentang hebohnya kabar ujian nasional ulang di salah satu sekolah SMA favorit yang baru-baru ini merebak.
Tentu aku harus bersyukur dilahirkan disini. Yang sejak hari pertama kehadiranku di dunia sudah di-Islam-kan oleh orangtuaku. Tanpa susah payah aku mencari kebenaran, hanya saja cukup sulit untuk menjaga kebenaran itu. Tapi ini lebih mudah ketimbang jika hari pertamaku muncul di benua Eropa.
Aku harus mengucapkan terimakasih banyak, arigato gozaimassu, zie-zie, kamsahamnidda, tashakor, syukron katsiron, shukuria, dhanyaabad, thank you very much, merci, danke, gracias, lan matur suwun sanget kepada Allah swt. Karena aku telah diberinya kota Ngawi ini dan aku telah menemukan berlian itu, tersembunyi di dalam, di sudut hatiku.
Dan khusus untuk Ngawi-ku ini kuucapkan,”Selamat ulang tahun, otanjou bi omedetou gozaimassu, chu ni sheng er kuai le, joyeux anniversaire, and happy birthday to you.”
Kau memang tak muda lagi. Enam setengah abad lebih satu tahun bahkan bisa dikata sangat tua, setidaknya bagiku. Tapi kuyakin semangatmu tak pernah kendur. Tak pernah mati mencetak generasi-generasi penerus bangsa, brilian, juga rabbani. Tak pernah layu menghidupi sekian banyak orang. Pelan tapi pasti mengikuti mode dunia. Bersolek memperbaiki diri. Untuk Indonesia.
Dirgahayu Ngawi. Jayalah terus Indonesia!


Teruntuk teman-temanku se-kabupaten Ngawi pada umumnya
Dan Zero Community pada khususnya
Inilah kota kita, kampung halaman, dan tanah air kita
Sejauh apapun kau melangkah, jangan lupa untuk kembali.

February 2012
M T W T F S S
January 2012March 2012
1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29