PEMBAGIAN MACAM-MACAM ILMU TASAWUF
Monday, June 4, 2012 11:26:42 AM
Syeikh Imam Al-Ghozali menerangkan bahwa: Ilmu Mukkasyafah adalah ilmu bathin, yaitu
tujuan segala ilmu, yakni ilmu orang-orang shiddiqin dan muqorrabin. Yaitu suatu
ibarat cahaya yang memancar dalam hati ketika menyucikan dan membersihkannya
dari sifat-sifat yang tercela.
Mengenai nama-nama ilmu ini terkenal pula di kalangan mereka dengan sebutan-
sebutan antara lain:
1-Ilmul-Qulub (علم القلوب)
Yakni ilmu yang membicarakan tentang peranan hati dalam kehidupan manusia
yang bersifat rohaniyah serta rahasia yang terkandung di dalamnya, baik itu
sebagai sarang keimanan maupun perasaan yang dalam, sehingga mendapat
hakekat hidup yang sebenarnya.
2. Ilmu-Asror (علم الا سرار)
Yakni ilmu yang menganalisa tentang berbagai rahasia batiniyah manusia sebagai
pendorong hal ihwal lahiriyah yang didapati dengan jalan rahasia dari guru-guru
sebelum-nya serta dikembangkan menurut tata cara yang berlaku bagi mereka.
Hal ini tak dapat orang sembarangan mendapat ilmu hakikat tanpa melalui latihan
yang berat.
3. Ilmul-Bathin (علم البطين)
Yakni ilmu yang mengemukakan sendi-sendi batiniyah yang menjadi modal
pokok dalam kepuasan manusia dalam mencapai yang sebenarnya. Hanya dengan
modal batiniyah manusia dapat menyingkap alam gaib dan dapat mengetahui
rahasia alam ini dengan kesungguhan serta mencapai apa yang dimaksud karena
merasa dekat dengan yang Maha Kuasa,dan Maha Pencipta.
4. Ilmul-Ma'arif (علم المعاريف)
Yakni ilmu yang berkaitan dengan (ma'arifah) dimana pengetahuan yang tertinggi
adalah ma'arifah kepada Alloh dengan segala dimensinya. Tujuan dalam ilmu ini
adalah betul-betul meresapi apa yang diketahui tentang Alloh; sehingga dengan
itu mendorong munculnya gairah ibadah yang sebenarnya sebagai modal dasar
bagi kehidupan yang bersifat immateriil demi terciptanya kebahagiaan dunia
akhirat.
5. Ilmul-Ahwal wal Maqomat (علم المقامة)
Yakni ilmu yang membicarakan tentang tata cara mendapatkan pangkat dan
derajat di sisi Alloh dengan melalui musyahadah dan riyadhah, melalui tadbir dan
tafakur serta menggunakan perasaan yang mendalam dalam mencapai tujuan,
yaitu keridhoan Alloh.
6. Ilmus-Suluk (علم السلوك)
Yakni ilmu yang menerangkan tentang liku-liku jalan dan lorong yang ditempuh
mencapai hakekat yang sebenarnya dengan mendekatkan diri ke hadiirat Alloh
swt. melalui sang guru yang terpilih, sehingga akan terjamin kehawatiran tersesat
dari jalan yang bersimpang siur dari alam pikiran insani.
7. Ilmut-Thoriqoh (علم الطريقة)
Yakni ilmu yang menerangkan tentang cara mengarungi jalan pintas dengan
melalui syari'at menuju hakekat, berpegang kepada guru mu'tabar, dan dengan
cara itu dapat bertaqarrub kepada Allah, sehingga apa yang menjadi tujuan hidup
akan berhasil, baik itu bersifat duniawi ataupun ukhrowi.
8. Ilmul-Mukasyafah (علم المكاشفة)
Yakni ilmu yang dapat menyingkap tabir rahasia ketuhanan dengan jalan ma'rifat
(pengertian tentang keESAan alloh)yang hakiki,
sehingga manusia dapat mengungkapkan hal-hal yang orang lain
belum bisa menyingkapkannya; dengan itu akan terlepas dari hijab yang selama
ini menutupi akliyah melalui pendekatan dan ibadah ke hadirat Alloh swt.
ilmu tasawuf ini meliputi:
1. Akal dan ma'rifat (عقل و المعرفة)
2. Hati dan latihan (قلب والرياضة)
Adapun status ilmu tasawuf meliputi:
1.Menuntun sesuai dengan petunjuk, dan membuang apa yang tak sesuai dengan
tuntunan yang berlaku.
2.Berusaha sekuat tenaga menuju ke jalan Ilahi.
Dalam dunia tasawuf, diketahui ada dua corak pemikiran yang masing-masing
diwakili oleh syekh imam Al-Ghazali dan syeikh Ibnu Arabi.
syekh Al-Ghazali lebih condong berfikir falsafi,
sedangkan syekh Ibnu Arabi lebih condong dengan Hikmatul-Ilahiyah.
syekh Al-Ghazali yang menitik-beratkan kepada aqliyah, mengambil keraguan sebagai dasar tingkat
pertama dalam jenjang keyakinan, manakala manusia sudah sampai kepada batasnya,
maka ia akan bertemu dengan keimanan, dan kesibukan akal akan berhenti dengan
latihan jiwa dan raga.
Sedang syekh Ibnu Arabi yang menitikberatkan kepada hati (قلب) dengan
hikmatul Ilahiyah, manusia akan mendapatkan pengetahuan, dengan melatih jiwa dan
menekan hawa nafsu, dimana hawa nafsu merupakan penghalang antara manusia
dengan Nur Illahi. Manakala manusia sampai ke taraf 'arifin maka ia dapat
mempelajari dan meneliti segala ilmu pengetahuan dengan segala ragamnya
Pada hakekatnya dasar-dasar Ilmu Tasawuf itu tercermin dalam ajaran-
ajarannya, dengan segala bentuk dan manifestasinya, apakah itu merupakan jenjang
tangga atau terminal yang harus dilalui oleh para ahli tasawuf, yang disebut
maqomat atau mujahadah,di samping secara perasaan mereka telah mengubah tingkah sedikit
demi sedikit dalam mencapai tujuan, atau semuanya ajaran itu dikembalikan kepada
usul (pokok) syar'iyah.Walaupun demikian titik berat dasar yang mereka pegang pada umumnya
berlandaskan kepada kefakiran, sebagaimana diungkapkan oleh para ahli seperti
halnya:
Syeikh Ma'ruf Al-Karakhi mengatakan :
التصوف أخذ بالحقائق واليأس ممافي أيد الخلائق فمن لم يتحقق بافقر لم يتحقق بالتصوف
Artinya :
"Tasawuf adalah mengambil hakekat sesuatu, dan berputus asa dari apa yang ada di
tangan manusia (makhluk), barang siapa yang tidak berpegang kepada kefakiran,
maka dia tidak berpegang kepada tasawuf"
Sedang menurut syekh Ruwaim Bin Ahmad Al-baghdad
التصوف مبني علي ثلاثة حصال التمسك بالفقر والافتقار,والتحقيق بالبذل والاءيثار , وترك التعرض والاختيار
"Tasawuf" dibina atas tig a dasar: 1- berpegang kepada kefakiran dan iftiqar,2-
berkepayahan dan mementingkan orang lain, dan 3- meninggalkan kepentingan dan
pilihan".
Sedang menurut syekh Abil-Hasan An-Nawari mengatakan:
نعت الفقير السكون عند العدم والبذل بالايثارعند الوجود
Artinya :
"Sifat orang fakir ialah berdiam diri di kala dia tidak punya, dan memberikan serta
mendahulukan kepentingan orang lain di kala berada ".
syekh Assahrowardi dalam kitabnya "Awariful-Ma'arif" menyatakan bahwa
kadangkala kata-kata fakir dipergunakan pada tasawuf, dan kadangkala kata-kata
tasawuf dipergunakan pada fakir.
As-Syibli ketika ditanya tentang hakekat fakir beliau mengatakan:
ان لا يستغني بشئ دون الحق
Artinya :
"Tidak membutuhkan sesuatu selain dari pada Allah "
Pengertian ini semua berlandaskan kepada sabda Rosululloh SAW
yang diriwayatkan oleh syekh Ibnu Umar ra:
لكل شئ مفتاح ومفتاح الجنة حب المساكين والفقراء الصبر هم جلساء الله تعالي يوم القيامة
Artinya :
"Setiap sesuatu ada kuncinya, dan kunci surga adalah cinta kepada orang miskin
dan fakir yang shobar, mereka berada di majlis Alloh pada hari kiamat".
"Fakir" di sini adalah merupakan hakekat tasawuf asas dan tulang
punggungnya yakni standar kehidupan para sufi adalah berfakiran.
Para ahli tasawuf berusaha mendekatkan diri ke hadirat Allah swt. dengan
jalan melatih jiwa dan raga, membersihkan diri dari kekotoran rohani. Dalam usaha
tersebut mereka tidak sampai sekaligus ke taraf yang tinggi, namun harus melalui
beberapa terminal (maqam, pos) yang harus ditempuh dengan
mujahadah (kesungguhan hati).
Ada sementara mereka yang membuat pos-pos itu dengan sederhana,
seperti halnya dari,qona'ah,
tanpa qona'ah tak akan tercapai sebuahtawakkal,tanpa adanya tawakkal tak akan ada taslim,
sebagaimana tanpa taubat tak akan ada inabah,tanpa war a' tak akan ada zuhud.
tujuan segala ilmu, yakni ilmu orang-orang shiddiqin dan muqorrabin. Yaitu suatu
ibarat cahaya yang memancar dalam hati ketika menyucikan dan membersihkannya
dari sifat-sifat yang tercela.
Mengenai nama-nama ilmu ini terkenal pula di kalangan mereka dengan sebutan-
sebutan antara lain:
1-Ilmul-Qulub (علم القلوب)
Yakni ilmu yang membicarakan tentang peranan hati dalam kehidupan manusia
yang bersifat rohaniyah serta rahasia yang terkandung di dalamnya, baik itu
sebagai sarang keimanan maupun perasaan yang dalam, sehingga mendapat
hakekat hidup yang sebenarnya.
2. Ilmu-Asror (علم الا سرار)
Yakni ilmu yang menganalisa tentang berbagai rahasia batiniyah manusia sebagai
pendorong hal ihwal lahiriyah yang didapati dengan jalan rahasia dari guru-guru
sebelum-nya serta dikembangkan menurut tata cara yang berlaku bagi mereka.
Hal ini tak dapat orang sembarangan mendapat ilmu hakikat tanpa melalui latihan
yang berat.
3. Ilmul-Bathin (علم البطين)
Yakni ilmu yang mengemukakan sendi-sendi batiniyah yang menjadi modal
pokok dalam kepuasan manusia dalam mencapai yang sebenarnya. Hanya dengan
modal batiniyah manusia dapat menyingkap alam gaib dan dapat mengetahui
rahasia alam ini dengan kesungguhan serta mencapai apa yang dimaksud karena
merasa dekat dengan yang Maha Kuasa,dan Maha Pencipta.
4. Ilmul-Ma'arif (علم المعاريف)
Yakni ilmu yang berkaitan dengan (ma'arifah) dimana pengetahuan yang tertinggi
adalah ma'arifah kepada Alloh dengan segala dimensinya. Tujuan dalam ilmu ini
adalah betul-betul meresapi apa yang diketahui tentang Alloh; sehingga dengan
itu mendorong munculnya gairah ibadah yang sebenarnya sebagai modal dasar
bagi kehidupan yang bersifat immateriil demi terciptanya kebahagiaan dunia
akhirat.
5. Ilmul-Ahwal wal Maqomat (علم المقامة)
Yakni ilmu yang membicarakan tentang tata cara mendapatkan pangkat dan
derajat di sisi Alloh dengan melalui musyahadah dan riyadhah, melalui tadbir dan
tafakur serta menggunakan perasaan yang mendalam dalam mencapai tujuan,
yaitu keridhoan Alloh.
6. Ilmus-Suluk (علم السلوك)
Yakni ilmu yang menerangkan tentang liku-liku jalan dan lorong yang ditempuh
mencapai hakekat yang sebenarnya dengan mendekatkan diri ke hadiirat Alloh
swt. melalui sang guru yang terpilih, sehingga akan terjamin kehawatiran tersesat
dari jalan yang bersimpang siur dari alam pikiran insani.
7. Ilmut-Thoriqoh (علم الطريقة)
Yakni ilmu yang menerangkan tentang cara mengarungi jalan pintas dengan
melalui syari'at menuju hakekat, berpegang kepada guru mu'tabar, dan dengan
cara itu dapat bertaqarrub kepada Allah, sehingga apa yang menjadi tujuan hidup
akan berhasil, baik itu bersifat duniawi ataupun ukhrowi.
8. Ilmul-Mukasyafah (علم المكاشفة)
Yakni ilmu yang dapat menyingkap tabir rahasia ketuhanan dengan jalan ma'rifat
(pengertian tentang keESAan alloh)yang hakiki,
sehingga manusia dapat mengungkapkan hal-hal yang orang lain
belum bisa menyingkapkannya; dengan itu akan terlepas dari hijab yang selama
ini menutupi akliyah melalui pendekatan dan ibadah ke hadirat Alloh swt.
ilmu tasawuf ini meliputi:
1. Akal dan ma'rifat (عقل و المعرفة)
2. Hati dan latihan (قلب والرياضة)
Adapun status ilmu tasawuf meliputi:
1.Menuntun sesuai dengan petunjuk, dan membuang apa yang tak sesuai dengan
tuntunan yang berlaku.
2.Berusaha sekuat tenaga menuju ke jalan Ilahi.
Dalam dunia tasawuf, diketahui ada dua corak pemikiran yang masing-masing
diwakili oleh syekh imam Al-Ghazali dan syeikh Ibnu Arabi.
syekh Al-Ghazali lebih condong berfikir falsafi,
sedangkan syekh Ibnu Arabi lebih condong dengan Hikmatul-Ilahiyah.
syekh Al-Ghazali yang menitik-beratkan kepada aqliyah, mengambil keraguan sebagai dasar tingkat
pertama dalam jenjang keyakinan, manakala manusia sudah sampai kepada batasnya,
maka ia akan bertemu dengan keimanan, dan kesibukan akal akan berhenti dengan
latihan jiwa dan raga.
Sedang syekh Ibnu Arabi yang menitikberatkan kepada hati (قلب) dengan
hikmatul Ilahiyah, manusia akan mendapatkan pengetahuan, dengan melatih jiwa dan
menekan hawa nafsu, dimana hawa nafsu merupakan penghalang antara manusia
dengan Nur Illahi. Manakala manusia sampai ke taraf 'arifin maka ia dapat
mempelajari dan meneliti segala ilmu pengetahuan dengan segala ragamnya
Pada hakekatnya dasar-dasar Ilmu Tasawuf itu tercermin dalam ajaran-
ajarannya, dengan segala bentuk dan manifestasinya, apakah itu merupakan jenjang
tangga atau terminal yang harus dilalui oleh para ahli tasawuf, yang disebut
maqomat atau mujahadah,di samping secara perasaan mereka telah mengubah tingkah sedikit
demi sedikit dalam mencapai tujuan, atau semuanya ajaran itu dikembalikan kepada
usul (pokok) syar'iyah.Walaupun demikian titik berat dasar yang mereka pegang pada umumnya
berlandaskan kepada kefakiran, sebagaimana diungkapkan oleh para ahli seperti
halnya:
Syeikh Ma'ruf Al-Karakhi mengatakan :
التصوف أخذ بالحقائق واليأس ممافي أيد الخلائق فمن لم يتحقق بافقر لم يتحقق بالتصوف
Artinya :
"Tasawuf adalah mengambil hakekat sesuatu, dan berputus asa dari apa yang ada di
tangan manusia (makhluk), barang siapa yang tidak berpegang kepada kefakiran,
maka dia tidak berpegang kepada tasawuf"
Sedang menurut syekh Ruwaim Bin Ahmad Al-baghdad
التصوف مبني علي ثلاثة حصال التمسك بالفقر والافتقار,والتحقيق بالبذل والاءيثار , وترك التعرض والاختيار
"Tasawuf" dibina atas tig a dasar: 1- berpegang kepada kefakiran dan iftiqar,2-
berkepayahan dan mementingkan orang lain, dan 3- meninggalkan kepentingan dan
pilihan".
Sedang menurut syekh Abil-Hasan An-Nawari mengatakan:
نعت الفقير السكون عند العدم والبذل بالايثارعند الوجود
Artinya :
"Sifat orang fakir ialah berdiam diri di kala dia tidak punya, dan memberikan serta
mendahulukan kepentingan orang lain di kala berada ".
syekh Assahrowardi dalam kitabnya "Awariful-Ma'arif" menyatakan bahwa
kadangkala kata-kata fakir dipergunakan pada tasawuf, dan kadangkala kata-kata
tasawuf dipergunakan pada fakir.
As-Syibli ketika ditanya tentang hakekat fakir beliau mengatakan:
ان لا يستغني بشئ دون الحق
Artinya :
"Tidak membutuhkan sesuatu selain dari pada Allah "
Pengertian ini semua berlandaskan kepada sabda Rosululloh SAW
yang diriwayatkan oleh syekh Ibnu Umar ra:
لكل شئ مفتاح ومفتاح الجنة حب المساكين والفقراء الصبر هم جلساء الله تعالي يوم القيامة
Artinya :
"Setiap sesuatu ada kuncinya, dan kunci surga adalah cinta kepada orang miskin
dan fakir yang shobar, mereka berada di majlis Alloh pada hari kiamat".
"Fakir" di sini adalah merupakan hakekat tasawuf asas dan tulang
punggungnya yakni standar kehidupan para sufi adalah berfakiran.
Para ahli tasawuf berusaha mendekatkan diri ke hadirat Allah swt. dengan
jalan melatih jiwa dan raga, membersihkan diri dari kekotoran rohani. Dalam usaha
tersebut mereka tidak sampai sekaligus ke taraf yang tinggi, namun harus melalui
beberapa terminal (maqam, pos) yang harus ditempuh dengan
mujahadah (kesungguhan hati).
Ada sementara mereka yang membuat pos-pos itu dengan sederhana,
seperti halnya dari,qona'ah,
tanpa qona'ah tak akan tercapai sebuahtawakkal,tanpa adanya tawakkal tak akan ada taslim,
sebagaimana tanpa taubat tak akan ada inabah,tanpa war a' tak akan ada zuhud.










