My Opera is closing 3rd of March

AKU INGIN MENGENAL TASAWUF ISLAM

KAJIAN SUFI / ILMU / MUHASABAH / MATLA'AH / CINTA

STATUS BASMALAH DALAM SURAT FATIHAH II

Di tengah masyarakat terdapat perbedaan cara imam dalam membaca basmalah dalam shalat jahr (membaca keras). Ada yang membaca basmalah dengan keras, dan ada yang membaca dengan lirih. Hal itu terjadi karena banyaknya hadits-hadits yang membicarakan tentang bacaan basmalah dalam shalat yang kelihatannya saling bertentangan satu sama lain. Uraian berikut ini mudah-mudahan bisa memperkaya wawasan kita dan membuat kita menjadi lebih bijak dalam menanggapi perbedaan cara beribadah di kalangan umat islam khususnya.

Hadits-hadits tentang bacaan basmalah dalam shalat
Dari Nu’aim bin Abdullah al-Mujmir, ia berkata:

كُنْتُ وَرَاءَ أَبِي هُرَيْرَةَ ، فَقَرَأَ : بِسْمِ الله الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ، ثُمَّ قَرَأَ بِأُمِّ الْقُرْآنِ حَتَّى بَلَغَ {وَلا الضَّالِّينَ} قَالَ : آمِينَ ، وَقَالَ: النَّاسُ آمِينَ ، وَيَقُولُ كُلَّمَا سَجَدَ: الله أَكْبَرُ ، وَإِذَا قَامَ مِنَ الْجُلُوسِ قَالَ: الله أَكْبَرُ ، وَيَقُولُ إِذَا سَلَّمَ: وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنِّي لأَشْبَهُكُمْ صَلاَةً بِرَسُولِ الله صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم

“Aku shalat berada di belakang Abu Hurairah, beliau membaca bismillahirrahmanirrahim, lalu membaca ummul qur’an sampai pada ayat walaadldlaalliin dan membaca amin, kemudian orang-orang juga mengikutinya membaca amin. Beliau ketika akan sujud membaca; Allahu Akbar dan ketika bangun dari duduk membaca; Allahu Akbar. Setelah salam beliau berkata: “Demi Dzat yang jiwaku berada dalam kekuasaan-Nya, sesungguhnya aku adalah orang yang shalatnya paling menyerupai Rasulullah di antara kalian.” [H.R. Ad-Daruqutni, Bab Wajib membaca Bismillahirrahmaanirrahiim dalam shalat dan mengeraskan bacaannya, dan perbedaan pendapat dalam masalah tersebut, hadits no. 14. Menurut Daruqutni hadits ini shahih; H.R. al-Nasa’I, Bab Membaca Fatihah sebelum surat]

Hadits di atas diriwayatkan oleh Imam al-Nasa’i dan telah dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan al-Hakim. Al-Hakim mengatakan bahwa keshahihan hadits tersebut berdasarkan syarat yang telah ditetapkan oleh Imam Bukhari dan Muslim. Imam Baihaqi mengatakan bahwa sanad hadits di atas adalah shahih dan mempunyai beberapa syawahid (penguat eksternal). Mengomentari hadits di atas, Imam Abu Bakar al-Khathib mengatakan bahwa hadits itu adalah shahih yang tidak butuh terhadap penjelasan.

Imam al-Daruquthni juga meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ كَانَ إِذَا قَرَأَ وَهُوَ يَؤُمُّ النَّاسَ اِفْتَتَحَ الصَّلَاةَ بِبِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ. (رواه الدارقطني

“Sesungguhnya Nabi SAW ketika membaca (fatihah), sedangkan beliau mengimami para shahabat, memulai shalat dengan membaca bismillahirrahmaanirrahiim.” [H.R. al-Daruquthni, Bab Wajib membaca Bismillahirrahmaanirrahiim dalam shalat dan mengeraskan bacaannya, dan perbedaan pendapat dalam masalah tersebut, hadits no. 17]. Imam Daruquthni mengatakan bahwa semua perawi hadits tersebut adalah tsiqat.

Dari Anas bin Malik berkata,

صَلَّيْتُ خَلْفَ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم، وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ. فَكَانُوْا يَسْتَفْتِحُوْنَ بِالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. لَا يَذْكُرُوْنَ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. فِي أَوَّلِ قِرَاءَةٍ، وَلَا فِي آخِرِهَا.

" Aku biasa shalat di belakang Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam., di belakang Abu Bakar, ''Umar dan ''Usman. Mereka hanya memulai bacaan dengan ''Alhamdulillahi rabbil ''alamin'' dan tidak pernah kudengar mereka membaca ''Bismillahirrahmanirrahim'' pada awal bacaan (Al-Fatihah) dan tidak pula penghabisannya. " [HR. Bukhari no. 743 dan Muslim no. 399]

Ibn Abdullah ibn Mughaffal berkata,

سَمِعَنِيْ أَبِي وَأَنَا فِي الصَّلَاةِ أَقُوْلُ " بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ " فَقَالَ لِي: أي بني محدث إِيَّاكَ وَالْحَدَثَ، قَالَ: وَلَمْ أَرَ أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِ رسول الله صلى الله عليه وسلم كَانَ أَبْغَضُ إِلَيْهِ الْحَدَثَ فِي الْإِسْلَامِ، يَعْنِي مِنْهُ، وَقَالَ: وَقَدْ صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم، وَمَعَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ فَلَمْ أَسْمَعُ أَحَدًا مِنْهُمْ يَقُوْلُهَا، فَلَا تَقُلْهَا، إِذَا أَنْتَ صَلَّيْتَ فَقُلْ {اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ}

“Ayahku memperdengarkan kepadaku ketika aku di dalam sholat membaca “bismilla-hirrokhma-nirrikhi-m”, maka ia berkata kepadaku,”anakku, itu muhdats (hal baru/ bid’ah). Jauhilah olehmu hal-hal yang diada-adakan (bid’ah). Ia berkata, “Aku belum pernah melihat kebencian para sahabat Rasulullah melebihi kebenciannya terhadap hal-hal yang diada-adakan (bid’ah) dalam Islam. Dan aku telah shalat bersama dengan Nabi saw, dan bersama Abu Bakar, dan bersama Umar, dan bersama Usman. Dan belum pernah aku mendengar salah seorang dari mereka membacanya (bismilla-hirrokhma-nirrokhi-m). Oleh karena itu janganlah engkau membacanya. Dan jika engkau shalat bacalah dengan “al-hamdu lilla-hi robbil ‘a-lami-n”.
Menurut Abu ‘Isa al-Tirmidzi, hadis ini berkualitas hasan.
Kandungan hadis ini, menurut al-Tirmizi, diamalkan oleh para sahabat nabi seperti Abu Bakar, Umar, Usman, Ali dan sebagainya. Dan juga diamalkan oleh para ulama tabi’in. Menurut Sufyan al-Tsauri, ibn al-Mubarak, Ahmad dan Ishak, mereka tidak membaca basmalah secara keras, melainkan membacanya dalam hati.
(HR. Tirmidzi, hadits no. 244)

Anas ibn Malik berkata,

صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يُسْمِعْنَا قِرَاءَةَ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ وَصَلَّى بِنَا أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ فَلَمْ نَسْمَعْهَا مِنْهُمَا

“telah shalat bersama kami Rasulullah saw, dan beliau tidak memperdengarkan bacaan “bismilla-hirrohma-nirrohi-m”. Dan telah sholat pula bersama kami Abu Bakar dan Umar, dan keduanya juga tidak memperdengarkan bacaan tersebut”. (HR. Nasaiy (Sunan, al-Iftitah: 896). Hadis ini munqathi’ karena dalam sanadnya Manshur ibn Zadzan tidak bertemu dengan Anas ibn Malik. Hadis ini da’if.

Hadis dari Anas

عَنْ أَنَسٍ كان رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ كَانُوا يَفْتَتِحُونَ الْقِرَاءَةَ بالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Dari Anas bahwa Nabi saw dan Abu Bakar dan ‘Umar dan Usman, semuanya memulai bacaannya dengan “al-hamdu lilla-hi robbil ‘a-lami-n”. (HR.Tirmidzi, bab “Memulai membaca Al-quran dengan Alhamdulillahirabbil ‘aalamiin” hadits no. 246) Abu Isa berkata hadits ini Hasan shahih.

Imam Ahmad dalam Musnadnya dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya yang juga bersumber dari Anas menyebutkan:

وَكَانُوْا لَا يَجْهَرُوْنَ بِبِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ.

“Mereka tidak mengeraskan bacaan bismillahirrahmanirrahim.”

Hadis dari Abdullah ibn ‘Abbas:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْتَتِحُ صَلَاتَهُ بِبِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Abdullah ibn ‘Abbas berkata, “Bahwa Rasulullah saw memulai bacaan shalatnya dengan “bismilla-hirrohma-nirrohi-m”. (HR.Tirmidzi, bab “Memulai membaca Al-quran dengan Alhamdulillahirabbil ‘aalamiin” hadits no. 245; HR. Daruqtni Bab Wajib membaca Bismillahirrahmaanirrahiim dalam shalat dan mengeraskan bacaannya, dan perbedaan pendapat dalam masalah tersebut, hadits no. 6)
Abu ‘Isa al-Tirmizi menyatakan bahwa hadis ini tidak ada masalah dalam sanadnya. Menurutnya, sebagian sahabat telah melaksanakan hadis ini, diantaranya adalah Abu hurairah, ‘Abdullah ibn ‘Umar, ‘Abdullah ibn ‘Abbas, dan ‘Abdullah ibn al-Zubair. Pendapat ini juga dipegangi oleh imam al-Syafi’i.

Hadits Nabi SAW:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَجْهَرُ بِالْبَسْمَلَةِ

Dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW (selalu) mengeraskan suaranya ketika membaca basmalah (dalam shalat). (HR Bukhari)
Menjelaskan hadits ini, 'Ali Nayif Biqa'i dalam tahqiq kitab Idza Shahha al-Hadits Fahuwa Madzhabi karangan Syeikh as-¬Subki menjelaskan:

"Ibn Khuzaimah berkata dalam kitab Mushannaf-nya menyatakan, pendapat yang menyatakan sunnah mengeraskan basmalah merupakan pendapat yang benar. Ada hadits dari Nabi SAW dengan sanad yang muttashil (urutan perawi hadfts yang sampai langsung kepada Nabi Muhanzmad SAW), tidak diragukan, serta tidak ada keraguan dari para ahli hadfts tentang shahih serta muttashil-nya sanad hadfts ini. Lalu Ibn Khuzaimah berkata, telah jelas dan telah terbukti bahwa Nabi SAW (dalam hadits tersebut) mengeraskan bacaan basmalah dalam shalat.” (Ma’na Qawl al-Imam al-Muththalibi Izda Shahha al-Hadits Fahuwa Madzhabi, hal 161)


Pendapat Para Ulama
Ibnu Rusyd dalam kitab Bidayatul Mujtahid berkata :

اختلفوا في قراءة بسم الله الرحمن الرحيم في افتتاح القراءة في الصلاة، فمنع ذلك مالك في الصلاة المكتوبة جهرا كانت أو سرا، لا في استفتاح أم القرآن ولا في غيرها من السور، وأجاز ذلك في النافلة. وقال أبو حنيفة والثوري وأحمد يقرؤها مع أم القرآن في كل ركعة سرا، وقال الشافعي: يقرؤها ولا بد في الجهر جهرا وفي السر سرا

Bacaan basmalah sebelum membaca Al-Fatihah dan ayat al-Quran diperselisihkan para fuqaha. Malik berpendapat bahwa bacaan basmalah dalam semua shalat fardu itu dilarang. Larangan itu termasuk pula ketika shalat jahr (suara bacaan keras) atau sirr (bacaan tidak diperdengarkan) untuk surat Al-Fatihah atau ayat-ayat Al-Quran. Namun bacaan basmalah diperkenankan untuk shalat sunat.
Abu Hanifah, Tsauri, dan Ahmad bin Hambal berpendapat bahwa bacaan basmalah hanya dibaca sirr bersama Al-Fatihah untuk setiap rekaat. Sedang Syafi’i berpendirian bahwa bacaan basmalah itu harus dibaca ketika shalat jahr atau sirr.
[Bidayatul Mujtahid 1, hal. 272]

Imam Syafi’i dalam kitab Al-Umm berkata :

أن أنس بن مالك أخبره قال صلى معاوية بالمدينة صلاة فجهر فيها بالقراءة فقرأ بسم الله الرحمن الرحيم لأم القرآن ولم يقرأ بها للسورة التي بعدها حتى قضى تلك القراءة ولم يكبر حين يهوى حتى قضى تلك الصلاة فلما سلم ناداه من سمع ذلك من المهاجرين من كل مكان يا معاوية أسرقت الصلاة أم نسيت فلما صلى بعد ذلك قرأ بسم الله الرحمن الرحيم للسورة التي بعد أم القرآن وكبر حين يهوى ساجدا

Diriwayatkan dari Anas bin Malik, ia berkata : Muawiyah pernah melaksanakan shalat di Madinah lalu ia men-jahr-kan bacaan dengan membaca Bismillahirrahmaanirrahiim untuk ummul Qur’an, dan tidak membaca Bismillahirrahmaanirrahiim untuk surah setelah surah Al-Fatihah sampai menyelesaikan bacaan itu.

Ia tidak bertakbir ketika membungkuk hingga selesai. Tatkala memberi salami a diseru oleh orang yang mendengarnya-dari orang-orang Muhajirin- dari segala tempat, “Hai Muawiyah, apakah anda mencuri sholat atau lupa?” Sesudah itu ia membaca Bismillahirrahmaanirrahiim untuk surah sesudah Ummul Qur’an, dan ia bertakbir ketika membungkuk untuk sujud.
[Ringkasan Kitab Al-Umm 1, hal. 166]

Al-Qurtubhi berkata :

هذا قول حسن، وعليه تتفق الآثار عن أنس ولا تتضاد ويخرج به من الخلاف في قراءة البسملة. وقد روي عن سعيد بن جبير قال: هذا محمد يذكر رحمان اليمامة - يعنون مسيلمة - فأمر أن يخافت ببسم الله الرحمن الرحيم، ونزل: "ولا تجهر بصلاتك ولا تخافت بها" [الإسراء:110]. قال الترمذي الحكيم أبو عبدالله: فبقي ذلك إلى يومنا هذا على ذلك الرسم وإن زالت العلة، كما بقي الرمل في الطواف وإن زالت العلة، وبقيت المخافتة في صلاة النهار وإن زالت العلة

Pendapat ini (membaca basmalah dengan samar bersama dengan surah al-Fatihah) adalah pendapat yang baik dan sesuai dengan atsar yang diriwayatkan dari Anas, serta tidak bertentangan dengannya. Pendapat inipun dapat mengeluarkan orang-orang dari silang pendapat seputar hukum membaca basmalah. Diriwayatkan dari Sa’ad bin Jubair, dia berkata, “Dahulu orang musyrik selalu mendatangi masjid. Apabila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam membaca bismillahirrahmaanirrahiim, maka mereka berkata, ‘Muhammad ini sedang menyebutkan Rahman Al-Yamamah’ Maksud mereka adalah Musailamah. Oleh karena itulah beliau diperintahkan untuk menyamarkan bacaan bismillahirrahmaanirrahiim, lalu turunlah ayat :

قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَنَ أَيًّا مَا تَدْعُوا فَلَهُ الأسْمَاءُ الْحُسْنَى وَلا تَجْهَرْ بِصَلاتِكَ وَلا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلا

“Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah kamu merendahkannya” (QS. Al-Israa 17 : 110).

Ar-Tirmidzi, Al-Hakim Abu Abdilah berkata, “Oleh karena itulah lafadz basmalah tetap eksis sampai hari ini dengan bentuk tulisannya meskipun tidak ada alasannya. Sebagaimana lari-lari kecil tetap ada di dalam thawaf, meskipun tidak ada alasannya, dan juga sebagaimana menyamarkan suara tetap berlaku pada shalat di siang hari, meskipun tidak ada alasannya,”

[Tafsir Al-Qurtubhi 1, hal. 249]

Ibnu Katsir dalam Kitab Tafsir Ibnu Katsir berkata :
فهذه مآخذ الأئمة رحمهم الله في هذه المسألة وهي قريبة لأنهم أجمعوا على صحة من جهر بالبسملة ومن أسر ولله الحمد والمنة

Demikianlah dasar-dasar pengambilan pendapat para imam mengenai masalah ini, dan tidak terjadi perbedaan pendapat, karena mereka telah sepakat bahwa shalat bagi orang yang men-jahr-kan atau yang men-sirr-kan basmalah adalah sah. Segala Puji bagi Allah.
[Tafsir Ibnu Katsir 1, hal. 20]

Sayyid Sabiq dalam kitab Fiqih Sunnah berkata : Ibnul Qayyim telah memberikan komentar :”Kadang-kadang Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam membaca bismillahirrahmaanirrahiim dengan suara keras, tetapi beliau sering membacanya dengan suara perlahan. Merupakan suatu hal yang tidak diragukan lagi bahwa beliau tidak selamanya membaca basmalah dengan suara keras, yakni sebanyak lima kali pada tiap siang dan malam, pada waktu bermukim maupun ketika bermusyafir. Hal inilah yang tidak disadari oleh para Khulafaur Rasyidin, sebagian besar sahabatnya, tabi’in dan tabi’it tabi’in”
[Fiqih Sunnah 1, hal. 191]

Imam Ash-Shan’ani dalam kitab Subulussalam berkata :
Telah terjadi perdebatan panjang di kalangan ulama dalam masalah ini karena perbedaan madzhab. Namun yang lebih logis ialah bahwa beliau Shallallaahu ‘alaihi wasallam kadang membacanya dengan suara keras dan kadang membacanya dengan suara lirih.
[Subulussalam 1, hal. 459]

selebihnya BAGI UMMAT ISLAM MANA YANG LEBIH BAIK BUAT AL-HAQ ITU TERGANTUNG PADA KEIMANAN MASING-MASING DAN JANGAN SALING MERPERDEBATKAN KARENA YANG MENILAI IBADAH & UBUDIYAHNYA MU'MIN DAN MUSLIM ITU HANYA ALLOH SEMATA KARENA ITU MAUTHLAQ URUSAN ALLOH SWT KITA HANYA MEMPERBAIKI DALAM UBUDIYAH ... DAN BID'AH ITU BUKAN SEBAGAI HUKUM ... NAMUN MASALAH KECOCOKAN TINGKAH LAKU YANG KITA ANGGAP COCOK SAJA ... KARENA KALO BID'AH ITU MENJADI PEMBATASAN DALAM BERIBADAH MALAH AKAN MERUSAK HUBUNGAN ANTARA ALLOH DAN MAHLUQNYA ... WALLOHUA'LAM ,,, SEMOGA KITA TERJAGA DARI FITNAH'' AHLU DUNYA DAN FITNAH AJARAN DAJJAL LA'NATULLOH ,,,,

STATUS BASMALAH DALAM SURAT FATIHAH IPESAN-PESAN PADA KHOLIFAH DIRI .....

Write a comment

New comments have been disabled for this post.

February 2014
M T W T F S S
January 2014March 2014
1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28