My Opera is closing 3rd of March

AKU INGIN MENGENAL TASAWUF ISLAM

KAJIAN SUFI / ILMU / MUHASABAH / MATLA'AH / CINTA

LANJUTAN SEPENGGAL TEMBANG TINGGALAN PARA SEPUH ,,,,,,,,,,,,,, WALI SONGO II

tubuh dan ruh adalah syariat dan hakikat…
tidaklah mungkin syekh siti jenar sang kekasih Allah meninggalkan syariat…
Wahai pencari Tuhan…
Hakikat meninggalkan syariat selayaknya Ruh meninggalkan Jasad…
Wahai ruh… wahai ruh kenapa engkau tinggalkan aku padahal aku dan engkau adalah berasal dari satu… padahal aku dengan engkau tiada beda… engkau adalah aku dan aku adalah engkau… tidakah kaulihat diriku wahai ruh, akupun kekal hanya saja aku berubah bentuk menjadi tak kau kenal…

Kembalinya seorang hamba kepada Allah tandanya adalah ruh dan jasadnya menyatu, sehingga apabila kamu gali liang kuburnya maka takkan kau temukan apapun kecuali kosong…
Dan apabila kamu gali liang kuburnya kau menemukan mayit maka ruh telah meninggalkan jasadnya…

Wahai pencari Tuhan… Wahai pencari Tuhan… tidaklah sempurna ruh meninggalkan jasad dan tidaklah sempurna hakikat meninggalkan syariat…

Hakikat adalah alam Illahi sedangkan Syariat adalah alam dunia…

Hakikat adalah untuk Allah
Syariat adalah untuk sesama yang dihidupkan

Wahai pencari Tuhan janganlah engkau hanya mencintai matimu tapi cintailah juga hidupmu itulah baru namanya sempurna dunia akhirat…

Menjalankan hakikat berarti mencintai kematian dan menjalankan syariat berarti mencintai kehidupan…

Tidaklah mungkin seorang yang makrifat meninggalkan syariatnya… tidak mungkin seorang kekasih Allah tidak menyayangi dunia… Seorang kekasih yang mencintai Allah pastilah menyayangi alam semesta seperti mencintai dirinya sendiri karena rasanya dan Rasa Illahi telah menyatu…

Wahai pencati Tuhan tiada lain tujuan ditegakan syariat adalah agar adillah kehidupan dan tentramlah kehidupan, agar bumi tetap berputar pada porosnya…

Tahukah engkau apa itu julukan rahmatan lilalamin (rahmat bagi sekalian alam)? yaitu karena menegakan syariat untuk kebenaran dan keadilan sesama agar satu rasa satu sama lain dan agar tentram hidup kamu bermasyarakat…

Tegakanlah syariat di dalam masyaraka dan pada diri kamu sendiri sesuai dengan apa yang diberikan Allah pada-Mu karena hanya Dia lah Yang Maha Tahu yang terbaik bagi kamu…

Jalankanlah syariat dengan apa yang kamu yakini dan diturunkan kepadamu…
Maka muslim wajiblah menjalankan syariat Islam
Nasrani wajiblah menjalankan syariat Injil
Yahudi wajiblah menjalankan syariat Taurat
dst…

Aku tidak menyangkal yang kamu bawa tapi aku juga tidak membenarkan yang kamu bawa…

Saling menghormatilah satu sama lain dan berbelas kasih karena Allah itu Maha Pengasih bagi siapapun…

Itulah ajaran Nabi Muhammad SAW yang telah sempurna Makrifat dan Syariatnya…

Jika kita renungkan, agama tampaknya merupakan fenomena paling membingungkan dalam kehidupan umat manusia. Dengan spirit agama, umat manusia bisa melambung ke puncak kemanusiaannya dengan mengkekspresikan segenap kemuliaan, cinta kasih, pengorbanan, dan berbagai sikap lain yang sangat mengesankan. Namun, pada saat yang sama, agama acapkali menjadi sumber keributan paling spektakuler di muka bumi: atas nama agama orang bisa berperang bahkan saling menghancurkan.
Mengapa bisa demikian? Kita bisa menjawabnya dengan merenungkan makna agama bagi kehidupan kita sendiri. Jika kita menjadikan agama sebagai identitas kelompok, atau sebagai dasar afiliasi politik, atau sebagai topeng kekuasaan, maka perilaku kita akan cenderung agresif, ofensif. Kita menjadikan agama sebagai wasilah untuk memenuhi hasrat-hasrat jiwa rendah atau hawa nafsu kita. Maka, banyak orang kemudian justru menjadi tak nyaman oleh agama kita. Alih-alih menjadi rahmat bagi semesta alam, kita sebagai manusia beragama justru menjadi laknat bagi semesta alam.

Namun, ketika kita menjadikan agama sebagai sumber inspirasi untuk selalu berpegang teguh terhadap hati nurani ataupun rahsa sejati (sebuah istilah Kejawen yang menyimbolkan Kuasa Ilahi di dalam diri kita), maka sikap kita akan menjadi reflektif. Hati menjadi lembut, karena agama kita tempatkan ibarat setetes embun yang membasahi jiwa. Agama yang demikian, menjadi cahaya yang menerangi jiwa, sehingga pikiran, sikap, hati kita, menjadi lapang. Maka, orang-orang di sekeliling kitapun menjadi nyaman…kita bertransformasi menjadi rahmat bagi semesta alam.

Sejatinya…menengok ajaran-ajaran dasar agama..semestinya agama memang menjadi pemandu kita menaiki ketinggian ruhani..menyelami hakikat kebenaran yang bersembunyi di kedalaman samudera hati kita…dan mengantarkan kita untuk merapat dengan Sangkan Paraning Dumadi..yaitu Hyang Tunggal, Gusti Allah, Gusti Ingkang Murbeng Dumadi.

Ingatlah kembali sabda Kanjeng Nabi Muhammad..Inna buitstu liutammimu makarimal akhlak..Tidaklah aku diutus kecuali untuk menyempurnakan akhlak!

Ketinggian akhlak manusia terwujud ketika manusia mencapai taraf takholuk bi akhlaqilah..Berakhlak dengan akhlak Tuhan. Agama adalah medium agar kita perlahan-lahan bisa menyerap sifat-sifat Ilahi, sehingga kita menjadi Insan Mulia..yang pikirannya, perasaannya, sikapnya, hasratnya, dan tindakannya, mencerminkan Dia Yang Maha Sempurna.

Dalam konsep pengajaran Tauhid Syeikh Siti Jenar, dinyatakan bahwa sesungguhnya Sifat 20 bagi Allah, juga merupakan sifat bagi kaum mukmin sejati. Mempelajari Tauhid artinya mengupayakan agar kita sadar akan Keberadaan Dzat Yang Tunggal dengan 20 sifatnya itu, mulai wujud, qidam, baqo, dan seterusnya..lalu menyerap sifat-sifat itu ke dalam diri kita. Sehingga kita menjadi sosok yang wujud..karena memang di dalam diri kita Ruh Ilahi yang abadilah bertahta setelah hawa nafsu tertaklukkan….Keberadaan kita menjadi sejati, tak lagi palsu…karena kita bisa keluar dari kungkungan raga yang sesungguhnya tak lebih dari bayang-bayang…Kita menjadi baqa..karena esensi diri kita yang abadi itulah yang menjadi gambaran diri sejati….Kita pun menjadi mandiri..karena sudah bisa memberdayakan qudrat dan iradat-Nya yang dititipkan ke dalam diri kita…dan seterusnya.

Segenap aturan dalam agama, yang kita sebut dengan syariat, sebetulnya adalah jalan agar Cahaya Tuhan memasuki diri kita sehingga kitapun sanggup berakhlak dengan akhlak-Nya, menjadi cermin kemuliaan-Nya. Segenap ritual, shalat, puasa, zakat, dan lainnya, tak lebih dari sekadar sebagai latihan ( ritual ) agar sifat-sifat mulia melekat kepada diri kita. Ukuran kemuliaan diri pribadi kita, kita sadari justru terletak pada bagaimana kualitas keseharian kita menyangkut hubungan kita dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta. Jika kita selalu dalam keadaan eling lan waspada (senantiasa berdzikir kepada-Nya, dan selalu waspada kepada segenap keburukan hawa nafsu), lalu kitapun konsisten menebar welas asih kepada sesama, itu artinya kita adalah makhluk yang mulia.

Dengan demikian, kita tak lagi memperebutkan kebenaran agama, apalagi berperang atas nama agama. Karena yang penting adalah apakah agama sudah menerangi hati kita..dan itu tak ada hubungannya dengan orang lain. Semuanya, sebetulnya tak lebih merupakan soal “peperangan” di dalam diri kita sendiri…apakah kita tunduk kepada hawa nafsu atau nurani…???

Syariat adalah hasil daripada Makrifat (Isra Miraj)

SEPENGGAL TEMBANG TINGGALAN PARA SEPUH ,,,,,,,,,,,,,, WALI SONGOLANJUTAN SEPENGGAL TEMBANG TINGGALAN PARA SEPUH ,,,,,,,,,,,,,, WALI SONGO III

Write a comment

New comments have been disabled for this post.

February 2014
M T W T F S S
January 2014March 2014
1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28