WASIAT DIRI AGAR MENJAUHI SIFAT 'UJUB (BANGGA) & TAWADHU' (RENDAH DIRI)
Tuesday, July 31, 2012 6:16:29 PM
Wasiat Nasehat ( 'Ujub & Tawadlu' )
==================================
“Jika rasa ujub menghinggapi aktifitasmu, maka lihatlah keridhoan siapa yang kau harapkan, pahala mana yang kau suka, sanksi mana yang kau benci. Maka jika engkau memikirkan satu di antara kedua hal ini, niscaya akan hadir di depan matamu apa yang sudah kamu lakukan.”
( Imam Syafi’i )
”Bagaimana cara membebaskan diri dari ‘Ujub ( merasa bangga terhadap diri sendiri )?”
”Pandanglah segala sesuatu sebagai pemberian Alloh swt, ingatlah bahwa Dia lah yang memberikan taufiq kepada kita sehingga dapat melakukan kebaikan, dan buanglah perasaan bahwa kita telah berbuat sesuatu. Kalau sudah demikian, niscaya kita akan selamat dari penyakit tersebut.”
( Sayyidina Syekh Abdul Qodir al-Jailany )
“Tawadhu’ adalah perkara yang sangat diidam-idamkan. Orang yang paling tinggi kedudukannya adalah mereka yang tidak melihat kedudukannya sendiri. Akan tetapi tawadhu’ dihadapan orang yang tidak bisa menghargai orang lain merupakan bentuk kezholiman terhadap diri sendiri.”
( Imam Syafi’i )
“Hendaklah kamu bertawadhu dan tidak menonjolkan diri. Jauhilah sikap takabur dan cinta kedudukan.”
( Sayyidina Syekh Abu Bakar bin Salim Ra )
وتعلم أن هذه الصفات لأي شيء ركبت فيك؛ فما خلقها الله تعالى لتكون أسيرها، ولكن خلقها حتى تكون أسرك، وتسخرها للسفر الذي قدامك، وتجعل إحداها مركبك، والأخرى سلاحك؛ حتى تصيد بها سعادتك. فإذا بلغت غرضك فقاوم بها تحت قدميك، وارجع إلى مكان سعادتك.
“Anda pun perlu tahu dari sifat-sifat yang mana yang ada & tersusun pada diri anda, mestikah apa yang diciptakan oleh Alloh Ta’ala menjadi perangkap dan anda pun terperangkap olehnya, ataukah anda yang mesti menundukkannya untuk suatu perjalanan sehingga yang satu menjadi kendaraan dan yang lainnya sebagai senjata, sehingga anda menemukan kebahagiaan anda. Jika anda telah sampai pada tujuan anda maka anda berdiri tegar dan kembalilah pada tempat kebahagiaan anda.”
إِنَّمَا تُوعَدُونَ لَصَادِقٌ
sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadamu pasti benar.
“Bilamana dirimu digigit oleh kekejaman masa,
maka janganlah kamu mengadu kepada manusia.
Dan janganlah kamu meminta selain kepada Alloh Tuhan yang Maha penolong, yang Maha Tahu dan yang Maha Benar.
Karena seandainya kamu hidup dan kamu telah berkeliling dari belahan barat sampai kebelahan timur,
maka tentu kamu tidak menemukan seorangpun yang mampu membuat orang lain bahagia atau sengsara.”
( Imam Husein bin Ali Bin Abu Tholib Ra )
Syari’at itu semuanya adalah hukum muamalah (pengabdian diri pada kehidupan) , ilmu itu semuanya keluasan tentang pengkajian buat penyikapan, dan makrifat itu semuanya petunjuk haq pengenalan dariNya dan jalan lurus panggilanNya semata & Ketika Alloh lenyapkan dirimu dari hawa-nafsumu dengan ketetapan dan dari kehendakmu dengan ilmu, maka kamu akan menjadi hamba sejati (murni), kemudian ketika seperti itu, maka dirimu akan terbuka, kemudian ibadah akan sirna dalam sifat ketunggalan (wahdaniyyah), maka sirna hamba dan kekal Alloh Yang Maha Mulia dan Agung.
ارح نفسك من التدبير فما قام به غيرك لا تقم بهلنفسك
TENANGKAN DIRI & HATIMU DARI URUSAN TADBIR (mengatur) KARENA APA YANG DIATUR OLEH SELAIN-MU TENTANG URUSAN DIRIMU, TIDAK PERLU ENGKAU CAMPUR TANGAN BIARKAN ALLOH YANG MAHA MENGATUR
(ibnu 'athoo'illah asaakandari)
==================================
“Jika rasa ujub menghinggapi aktifitasmu, maka lihatlah keridhoan siapa yang kau harapkan, pahala mana yang kau suka, sanksi mana yang kau benci. Maka jika engkau memikirkan satu di antara kedua hal ini, niscaya akan hadir di depan matamu apa yang sudah kamu lakukan.”
( Imam Syafi’i )
”Bagaimana cara membebaskan diri dari ‘Ujub ( merasa bangga terhadap diri sendiri )?”
”Pandanglah segala sesuatu sebagai pemberian Alloh swt, ingatlah bahwa Dia lah yang memberikan taufiq kepada kita sehingga dapat melakukan kebaikan, dan buanglah perasaan bahwa kita telah berbuat sesuatu. Kalau sudah demikian, niscaya kita akan selamat dari penyakit tersebut.”
( Sayyidina Syekh Abdul Qodir al-Jailany )
“Tawadhu’ adalah perkara yang sangat diidam-idamkan. Orang yang paling tinggi kedudukannya adalah mereka yang tidak melihat kedudukannya sendiri. Akan tetapi tawadhu’ dihadapan orang yang tidak bisa menghargai orang lain merupakan bentuk kezholiman terhadap diri sendiri.”
( Imam Syafi’i )
“Hendaklah kamu bertawadhu dan tidak menonjolkan diri. Jauhilah sikap takabur dan cinta kedudukan.”
( Sayyidina Syekh Abu Bakar bin Salim Ra )
وتعلم أن هذه الصفات لأي شيء ركبت فيك؛ فما خلقها الله تعالى لتكون أسيرها، ولكن خلقها حتى تكون أسرك، وتسخرها للسفر الذي قدامك، وتجعل إحداها مركبك، والأخرى سلاحك؛ حتى تصيد بها سعادتك. فإذا بلغت غرضك فقاوم بها تحت قدميك، وارجع إلى مكان سعادتك.
“Anda pun perlu tahu dari sifat-sifat yang mana yang ada & tersusun pada diri anda, mestikah apa yang diciptakan oleh Alloh Ta’ala menjadi perangkap dan anda pun terperangkap olehnya, ataukah anda yang mesti menundukkannya untuk suatu perjalanan sehingga yang satu menjadi kendaraan dan yang lainnya sebagai senjata, sehingga anda menemukan kebahagiaan anda. Jika anda telah sampai pada tujuan anda maka anda berdiri tegar dan kembalilah pada tempat kebahagiaan anda.”
إِنَّمَا تُوعَدُونَ لَصَادِقٌ
sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadamu pasti benar.
“Bilamana dirimu digigit oleh kekejaman masa,
maka janganlah kamu mengadu kepada manusia.
Dan janganlah kamu meminta selain kepada Alloh Tuhan yang Maha penolong, yang Maha Tahu dan yang Maha Benar.
Karena seandainya kamu hidup dan kamu telah berkeliling dari belahan barat sampai kebelahan timur,
maka tentu kamu tidak menemukan seorangpun yang mampu membuat orang lain bahagia atau sengsara.”
( Imam Husein bin Ali Bin Abu Tholib Ra )
Syari’at itu semuanya adalah hukum muamalah (pengabdian diri pada kehidupan) , ilmu itu semuanya keluasan tentang pengkajian buat penyikapan, dan makrifat itu semuanya petunjuk haq pengenalan dariNya dan jalan lurus panggilanNya semata & Ketika Alloh lenyapkan dirimu dari hawa-nafsumu dengan ketetapan dan dari kehendakmu dengan ilmu, maka kamu akan menjadi hamba sejati (murni), kemudian ketika seperti itu, maka dirimu akan terbuka, kemudian ibadah akan sirna dalam sifat ketunggalan (wahdaniyyah), maka sirna hamba dan kekal Alloh Yang Maha Mulia dan Agung.
ارح نفسك من التدبير فما قام به غيرك لا تقم بهلنفسك
TENANGKAN DIRI & HATIMU DARI URUSAN TADBIR (mengatur) KARENA APA YANG DIATUR OLEH SELAIN-MU TENTANG URUSAN DIRIMU, TIDAK PERLU ENGKAU CAMPUR TANGAN BIARKAN ALLOH YANG MAHA MENGATUR
(ibnu 'athoo'illah asaakandari)










