Tata Cara Sholat Sebagaimana Diajarkan Nabi Saw Bagian 03
Tuesday, August 7, 2012 4:48:02 PM
Lanjutan Pembahasan Tata Cara Sholat Sebagaimana Diajarkan Nabi Shollallaahu ‘Alaihi Wa Sallam.
6. Membaca Ayat Al-Qur’an
Setelah membaca Amin, sebaiknya berhenti sejenak untuk sekedar memberikan jeda sebelum membaca ayat al-Quran. Bagi imam, hendaknya ia berhenti sejenak untuk memberikan kesempatan kepada makmum untuk membaca surat al-Fatihah.
Syaikh Nawawi al-Bantani menjelaskan hal ini di dalam kitabnya Maraqi al-Ubudiyyah:
“Disunnahkan bagi imam setelah membaca Amin di dalam sholat jahr untuk diam sejenak dengan kadar waktu sekiranya makmum dapat membaca surat al-Fatihah dengan sempurna. Hal ini dilakukan dengan syarat bahwa makmum pada umumnya terbiasa membaca surat al-Fatihah. Dan hendaknya imam pada waktu berhenti tersebut, disunnahkan membaca secara sirr (pelan) do’a-do’a, dzikr, maupun ayat-ayat al-Quran. Dan membaca ayat-ayat al-Quran itulah yang lebih utama.” (Syarh Maraqi al-Ubudiyyah)
Hukum membaca surat al-Quran adalah sunnah pada raka’at yang pertama dan raka’at yang kedua. Hal ini didasarkan kepada hadits Nabi Shollallaahu ‘alaihi wa sallam:
“Dari Musa bin Isma’il ia berkata: berkata Hammam dari Yahya dari Abdullah bin Abi Qatadah dari ayahnya, bahwasanya Nabi Shollallaahu ‘alaihi wa sallam pada dua raka’at pertama sholat dzuhur membaca surat al-Fatihah dan dua surat yang lain. Sedangkan pada dua raka’at terakhir hanya membaca surat al-Fatihah. Kadang kala suara bacaan beliau terdengar oleh kami. Dan Nabi Shollallaahu ‘alaihi wa sallam memperpanjang raka’at pertama melebihi raka’at kedua. Begitu pula yang beliau Shollallaahu ‘alaihi wa sallam lakukan pada sholat ‘Ashr dan Shubuh.” (Shahih al-Bukhari, juz 3, halaman 236 [734])
Adapun mengenai tata cara di dalam membaca surat al-Quran dijelaskan di dalam kitab Fath al-Mu’in:
“Disunnahkan membaca Basmalah bagi orang yang membaca dari pertengahan surat, hal yang demikian ini ditegaskan oleh al-Imam asy-Syafi’i Rahimahullaahu Ta’aala.” (Fath al-Mu’in, juz 1, halaman 149)
“Pada saat membaca suatu surat, namun tidak dimaksudkan untuk melanjutkan bacaannya di raka’at kedua, misalnya pada sholat tarawih, maka membaca satu surat secara sempurna lebih utama daripada membaca sebagian namun lebih panjang.” (Fath al-Mu’in, juz 1, halaman 149)
“Disunnahkan memperpanjang bacaan surat al-Quran di raka’at yang pertama daripada raka’at yang kedua, selama tidak ada dalil yang memerintahkan untuk memperpanjang bacaan di raka’at yang kedua.” (Fath al-Mu’in, juz 1, halaman 150)
“Disunnahkan untuk membaca surat sesuai urutan di dalam mushaf dan secara berurutan selama bacaan berikutnya tidak lebih panjang.” (Fath al-Mu’in, juz1, halaman 150).
http://jundumuhammad.wordpress.com/2012/02/15/tata-cara-sholat-sebagaimana-diajarkan-nabi-shollallaahu-alaihi-wa-sallam-bagian-05/
Lanjutan Pembahasan Tata Cara Sholat Sebagaimana Diajarkan Nabi Shollallaahu ‘Alaihi Wa Sallam.
7. Ruku’
Ruku’ merupakan salah satu rukun di dalam sholat sehingga wajib hukumnya untuk dikerjakan. Perintah untuk ruku’ ada tercantum di dalam al-Qur’an:
“Dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat, dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’ “ (QS. Al-Baqarah: 43)
Turun untuk ruku’ ada tata caranya, yaitu setelah membaca surat al-Quran, kemudian berhenti sejenak sekedar membaca bacaan Subhaanalloh, kemudian turun untuk ruku’ dengan mengangkat kedua tangan dan sembari mengucapkan bacaan takbir.
Berikut ini penjelasan dari al-Imam al-Ghazali mengenai tata cara turun untuk ruku’:
“Janganlah engkau sambung akhir bacaan surat al-Qur’an dengan takbir untuk ruku’. Akan tetapi berilah jeda dengan sekedar bacaan Subhanalloh.” (Bidayah al-Hidayah, halaman 46)
“Kemudian ucapkanlah bacaan takbir untuk ruku’. Angkatlah kedua tanganmu sebagaimana ketika takbiratul-ihram. Ucapkanlah bacaan takbir tersebut sampai sempurna melakukan ruku’.” (Bidayah al-Hidayah, halaman 46)
Pada waktu ruku’, kedua tangan diletakkan di atas kedua lutut. Posisi jari-jari direnggangkan. Kedua lutut direnggangkan sekedar satu jengkal. Punggung, leher dan kepala lurus dan rata seperti papan, posisi kepala tidak lebih rendah dan tidak pula lebih tinggi.
“Sempurnanya ruku’ itu ada empat perkara: (Pertama) Meluruskan punggung dengan leher dan kepala, sehingga menjadi seperti satu papan yang tidak bengkok. (Kedua) Menegakkan lutut. (Ketiga) Memegang kedua lutut dengan kedua telapak tangan. (Keempat) Meluruskan dan merenggangkan jari-jemari sehingga menghadap kiblat.“ (Kasyifatu as-Saja, halaman 68)
Bagi laki-laki, kedua siku direnggangkan dari lambung, sementara bagi perempuan justru sebaliknya, kedua sikunya dirapatkan dengan kedua lambungnya. Pada waktu ruku’ wajib tuma’ninah, yaitu berhenti sejenak untuk menyempurnakan ruku’.
Pada waktu ruku’ disunnahkan untuk membaca bacaan tasbih. Adapun bacaan tasbih pada waktu ruku’ dijelaskan di dalam beberapa hadits berikut ini:
“Dari Hudzaifah Radhiyallaahu ‘anhu meriwayatkan: Aku pernah sholat bersama Nabi Shollallaahu ‘alaihi wa sallam. Apabila beliau ruku’ beliau mengucapkan: {Subhaana Rabbiyal-‘Azhiimi}. Dan apabila beliau sujud beliau mengucapkan: {Subhaana Rabbiyal-A’laa}. Dan setiap membaca ayat rahmat, beliau diam lalu berdo’a memohon agar rahmat itu dianugerahkan kepada beliau, dan pada saat membaca ayat tentang adzab (siksa), beliau memohon perlindungan kepada Allah Ta’aala” (Sunan Abi Dawud, juz 3, halaman 36 [737]. Musnad Ahmad ibn Hanbal, juz 47, halaman 323 [22254]. Sunan At-Tirmidzi, juz 1, halaman 442 [243])
Di hadits yang lain, disebutkan adanya penambahan bacaan {wa bihamdihi} di dalam bacaan tasbih pada waktu ruku’:
“Diriwayatkan dari Hudzaifah Radhiyallaahu ‘anhu, bahwasanya Nabi Shollallaahu ‘alaihi wa sallam apabila beliau ruku’, beliau mengucapkan {Subhaana Rabbiyal-‘Azhiimi Wa Bihamdih} sebanyak tiga kali. Dan apabila beliau bersujud, beliau mengucapkan {Subhaana Rabbiyal-A’laa Wa Bihamdih} sebanyak tiga kali.” (Sunan ad-Daruquthni, juz 3, halaman 429 [1308])
Di dalam Sunan Abi Dawud juga disebutkan:
“Rasulullah Shollallaahu ‘alaihi wa sallam apabila ruku’ beliau mengucapkan: {Subhaana Rabbiyal-‘azhiimi wa bihamdih} tiga kali dan apabila beliau bersujud, beliau mengucapkan: {Subhaana Rabbiyal-a’laa wa bihamdih} tiga kali.” (Sunan Abi Dawud, juz 3, halaman 35 [736])
Adapun tentang permasalahan penambahan bacaan {Wabihamdihi} pada bacaan tasbih di waktu ruku’ dan sujud, ada yang berpendapat bahwa hadits tersebut adalah hadits yang dha’if, dikarenakan terdapat salah satu perawi yang tidak dhabith (tidak kuat hafalannya).
Untuk permasalahan ini, mari kita kaji penjelasan dari imam asy-Syaukani yang tercantum di dalam kitab Nailu al-Awthar. Di dalam kitabnya, beliau menjelaskan bahwasanya hadits ini diriwayatkan dari lima jalur, yaitu: (1) ‘Uqbah bin ‘Amir, (2) Ibn Mas’ud, (3) Hudzaifah, (4) Abu Malik al-Asy’ari, dan (5) Abu Juhaifah. Dengan banyaknya jalur periwayatan ini, maka hal ini dapat menutupi ke-dha’if-an hadits tersebut, sehingga hadits ini tidak lagi menjadi hadits dhaif, dan kedudukan hadits ini menjadi Hasan Lighairihi, sehingga dapat dijadikan hujjah.
Berikut ini penjelasan dari imam asy-Syaukani di dalam kitab Nailu al-Awthar:
“Adapun penjelasan mengenai hadits tentang penambahan lafadz {wabihamdihi} ini,
1. Disisi Abu Dawud ia diriwayatkan dari jalur ‘Uqbah bin Amir.
2. Disisi ad-Daaruquthni ia diriwayatkan dari jalur ibn Mas’ud dan Hudzaifah.
3. Disisi imam Ahmad dan ath-Thabrani hadits ini diriwayatkan dari jalur Abu Malik al-Asy’ari.
4. Disisi imam al-Hakim hadits ini diriwayatkan dari jalur Abu Juhaifah.
=====
1. Berkata Abu Dawud setelah mentakhrij hadits dari ‘Uqbah ini: bahwasanya ‘Uqbah hafalannya tidak kuat (dho’if).
2. Dan di dalam hadits ibn Mas’ud: bahwasanya As-sirri bin isma’il ia dho’if.
3. Dan pada hadits Hudzaifah: Muhammad bin Abdurrahman bin Abi Laili ia dho’if.
4. Dan pada hadits Malik: Syahr bin Husyib dho’if, dan meriwayatkan pula Ahmad dan at-Thabrani dari ibn Sa’di dari ayahnya tanpa melalui jalur ini.
5. Dan mengenai hadits dari Abu Juhaifah, sanadnya dho’if. Ibn Sholah mengingkari penambahan lafadz ini.
=====
Akan tetapi, dengan banyaknya jalur periwayatan atas hadits ini, dan ia saling mendukung, maka, pengingkaran (atas hadits) ini dapat tertolak dengan banyaknya jalur periwayatan ini.” (Nailu al-Awthar, juz 2, halaman 271)
Oleh sebab itu, maka status atau kedudukan hadits tentang adanya penambahan lafadz {Wabihamdihi} di dalam tasbih pada waktu ruku’ dan sujud adalah hadits Hasan Lighairihi, dan bukan hadits dho’if lagi dan dapat digunakan sebagai hujjah. Dan hadits ini tidak bertentangan firman Allah Ta’aala:
“Maka ber-tasbih-lah kamu dengan memuji kepada Tuhanmu dan minta ampunlah kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.” (QS. An-Nashr: 3)
Berdasarkan hadits tersebut pula, di dalam kitab Kasyifatu as-Saja, Syaikh Nawawi al-Bantani menjelaskan tentang bacaan tasbih pada saat ruku adalah: “Subhaana Rabbiyal-‘Azhiimi Wa Bihamdihi”.
“Disunnahkan ketika ruku’ untuk membaca: Subhaana Rabbiyal ‘azhiimi wa bihamdih (Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung dan dengan memuji kepada-Nya.” (Kasyifatu as-Saja, halaman 68)
http://jundumuhammad.wordpress.com/2012/02/17/tata-cara-sholat-sebagaimana-diajarkan-nabi-shollallaahu-alaihi-wa-sallam-bagian-06/
6. Membaca Ayat Al-Qur’an
Setelah membaca Amin, sebaiknya berhenti sejenak untuk sekedar memberikan jeda sebelum membaca ayat al-Quran. Bagi imam, hendaknya ia berhenti sejenak untuk memberikan kesempatan kepada makmum untuk membaca surat al-Fatihah.
Syaikh Nawawi al-Bantani menjelaskan hal ini di dalam kitabnya Maraqi al-Ubudiyyah:
“Disunnahkan bagi imam setelah membaca Amin di dalam sholat jahr untuk diam sejenak dengan kadar waktu sekiranya makmum dapat membaca surat al-Fatihah dengan sempurna. Hal ini dilakukan dengan syarat bahwa makmum pada umumnya terbiasa membaca surat al-Fatihah. Dan hendaknya imam pada waktu berhenti tersebut, disunnahkan membaca secara sirr (pelan) do’a-do’a, dzikr, maupun ayat-ayat al-Quran. Dan membaca ayat-ayat al-Quran itulah yang lebih utama.” (Syarh Maraqi al-Ubudiyyah)
Hukum membaca surat al-Quran adalah sunnah pada raka’at yang pertama dan raka’at yang kedua. Hal ini didasarkan kepada hadits Nabi Shollallaahu ‘alaihi wa sallam:
“Dari Musa bin Isma’il ia berkata: berkata Hammam dari Yahya dari Abdullah bin Abi Qatadah dari ayahnya, bahwasanya Nabi Shollallaahu ‘alaihi wa sallam pada dua raka’at pertama sholat dzuhur membaca surat al-Fatihah dan dua surat yang lain. Sedangkan pada dua raka’at terakhir hanya membaca surat al-Fatihah. Kadang kala suara bacaan beliau terdengar oleh kami. Dan Nabi Shollallaahu ‘alaihi wa sallam memperpanjang raka’at pertama melebihi raka’at kedua. Begitu pula yang beliau Shollallaahu ‘alaihi wa sallam lakukan pada sholat ‘Ashr dan Shubuh.” (Shahih al-Bukhari, juz 3, halaman 236 [734])
Adapun mengenai tata cara di dalam membaca surat al-Quran dijelaskan di dalam kitab Fath al-Mu’in:
“Disunnahkan membaca Basmalah bagi orang yang membaca dari pertengahan surat, hal yang demikian ini ditegaskan oleh al-Imam asy-Syafi’i Rahimahullaahu Ta’aala.” (Fath al-Mu’in, juz 1, halaman 149)
“Pada saat membaca suatu surat, namun tidak dimaksudkan untuk melanjutkan bacaannya di raka’at kedua, misalnya pada sholat tarawih, maka membaca satu surat secara sempurna lebih utama daripada membaca sebagian namun lebih panjang.” (Fath al-Mu’in, juz 1, halaman 149)
“Disunnahkan memperpanjang bacaan surat al-Quran di raka’at yang pertama daripada raka’at yang kedua, selama tidak ada dalil yang memerintahkan untuk memperpanjang bacaan di raka’at yang kedua.” (Fath al-Mu’in, juz 1, halaman 150)
“Disunnahkan untuk membaca surat sesuai urutan di dalam mushaf dan secara berurutan selama bacaan berikutnya tidak lebih panjang.” (Fath al-Mu’in, juz1, halaman 150).
http://jundumuhammad.wordpress.com/2012/02/15/tata-cara-sholat-sebagaimana-diajarkan-nabi-shollallaahu-alaihi-wa-sallam-bagian-05/
Lanjutan Pembahasan Tata Cara Sholat Sebagaimana Diajarkan Nabi Shollallaahu ‘Alaihi Wa Sallam.
7. Ruku’
Ruku’ merupakan salah satu rukun di dalam sholat sehingga wajib hukumnya untuk dikerjakan. Perintah untuk ruku’ ada tercantum di dalam al-Qur’an:
“Dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat, dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’ “ (QS. Al-Baqarah: 43)
Turun untuk ruku’ ada tata caranya, yaitu setelah membaca surat al-Quran, kemudian berhenti sejenak sekedar membaca bacaan Subhaanalloh, kemudian turun untuk ruku’ dengan mengangkat kedua tangan dan sembari mengucapkan bacaan takbir.
Berikut ini penjelasan dari al-Imam al-Ghazali mengenai tata cara turun untuk ruku’:
“Janganlah engkau sambung akhir bacaan surat al-Qur’an dengan takbir untuk ruku’. Akan tetapi berilah jeda dengan sekedar bacaan Subhanalloh.” (Bidayah al-Hidayah, halaman 46)
“Kemudian ucapkanlah bacaan takbir untuk ruku’. Angkatlah kedua tanganmu sebagaimana ketika takbiratul-ihram. Ucapkanlah bacaan takbir tersebut sampai sempurna melakukan ruku’.” (Bidayah al-Hidayah, halaman 46)
Pada waktu ruku’, kedua tangan diletakkan di atas kedua lutut. Posisi jari-jari direnggangkan. Kedua lutut direnggangkan sekedar satu jengkal. Punggung, leher dan kepala lurus dan rata seperti papan, posisi kepala tidak lebih rendah dan tidak pula lebih tinggi.
“Sempurnanya ruku’ itu ada empat perkara: (Pertama) Meluruskan punggung dengan leher dan kepala, sehingga menjadi seperti satu papan yang tidak bengkok. (Kedua) Menegakkan lutut. (Ketiga) Memegang kedua lutut dengan kedua telapak tangan. (Keempat) Meluruskan dan merenggangkan jari-jemari sehingga menghadap kiblat.“ (Kasyifatu as-Saja, halaman 68)
Bagi laki-laki, kedua siku direnggangkan dari lambung, sementara bagi perempuan justru sebaliknya, kedua sikunya dirapatkan dengan kedua lambungnya. Pada waktu ruku’ wajib tuma’ninah, yaitu berhenti sejenak untuk menyempurnakan ruku’.
Pada waktu ruku’ disunnahkan untuk membaca bacaan tasbih. Adapun bacaan tasbih pada waktu ruku’ dijelaskan di dalam beberapa hadits berikut ini:
“Dari Hudzaifah Radhiyallaahu ‘anhu meriwayatkan: Aku pernah sholat bersama Nabi Shollallaahu ‘alaihi wa sallam. Apabila beliau ruku’ beliau mengucapkan: {Subhaana Rabbiyal-‘Azhiimi}. Dan apabila beliau sujud beliau mengucapkan: {Subhaana Rabbiyal-A’laa}. Dan setiap membaca ayat rahmat, beliau diam lalu berdo’a memohon agar rahmat itu dianugerahkan kepada beliau, dan pada saat membaca ayat tentang adzab (siksa), beliau memohon perlindungan kepada Allah Ta’aala” (Sunan Abi Dawud, juz 3, halaman 36 [737]. Musnad Ahmad ibn Hanbal, juz 47, halaman 323 [22254]. Sunan At-Tirmidzi, juz 1, halaman 442 [243])
Di hadits yang lain, disebutkan adanya penambahan bacaan {wa bihamdihi} di dalam bacaan tasbih pada waktu ruku’:
“Diriwayatkan dari Hudzaifah Radhiyallaahu ‘anhu, bahwasanya Nabi Shollallaahu ‘alaihi wa sallam apabila beliau ruku’, beliau mengucapkan {Subhaana Rabbiyal-‘Azhiimi Wa Bihamdih} sebanyak tiga kali. Dan apabila beliau bersujud, beliau mengucapkan {Subhaana Rabbiyal-A’laa Wa Bihamdih} sebanyak tiga kali.” (Sunan ad-Daruquthni, juz 3, halaman 429 [1308])
Di dalam Sunan Abi Dawud juga disebutkan:
“Rasulullah Shollallaahu ‘alaihi wa sallam apabila ruku’ beliau mengucapkan: {Subhaana Rabbiyal-‘azhiimi wa bihamdih} tiga kali dan apabila beliau bersujud, beliau mengucapkan: {Subhaana Rabbiyal-a’laa wa bihamdih} tiga kali.” (Sunan Abi Dawud, juz 3, halaman 35 [736])
Adapun tentang permasalahan penambahan bacaan {Wabihamdihi} pada bacaan tasbih di waktu ruku’ dan sujud, ada yang berpendapat bahwa hadits tersebut adalah hadits yang dha’if, dikarenakan terdapat salah satu perawi yang tidak dhabith (tidak kuat hafalannya).
Untuk permasalahan ini, mari kita kaji penjelasan dari imam asy-Syaukani yang tercantum di dalam kitab Nailu al-Awthar. Di dalam kitabnya, beliau menjelaskan bahwasanya hadits ini diriwayatkan dari lima jalur, yaitu: (1) ‘Uqbah bin ‘Amir, (2) Ibn Mas’ud, (3) Hudzaifah, (4) Abu Malik al-Asy’ari, dan (5) Abu Juhaifah. Dengan banyaknya jalur periwayatan ini, maka hal ini dapat menutupi ke-dha’if-an hadits tersebut, sehingga hadits ini tidak lagi menjadi hadits dhaif, dan kedudukan hadits ini menjadi Hasan Lighairihi, sehingga dapat dijadikan hujjah.
Berikut ini penjelasan dari imam asy-Syaukani di dalam kitab Nailu al-Awthar:
“Adapun penjelasan mengenai hadits tentang penambahan lafadz {wabihamdihi} ini,
1. Disisi Abu Dawud ia diriwayatkan dari jalur ‘Uqbah bin Amir.
2. Disisi ad-Daaruquthni ia diriwayatkan dari jalur ibn Mas’ud dan Hudzaifah.
3. Disisi imam Ahmad dan ath-Thabrani hadits ini diriwayatkan dari jalur Abu Malik al-Asy’ari.
4. Disisi imam al-Hakim hadits ini diriwayatkan dari jalur Abu Juhaifah.
=====
1. Berkata Abu Dawud setelah mentakhrij hadits dari ‘Uqbah ini: bahwasanya ‘Uqbah hafalannya tidak kuat (dho’if).
2. Dan di dalam hadits ibn Mas’ud: bahwasanya As-sirri bin isma’il ia dho’if.
3. Dan pada hadits Hudzaifah: Muhammad bin Abdurrahman bin Abi Laili ia dho’if.
4. Dan pada hadits Malik: Syahr bin Husyib dho’if, dan meriwayatkan pula Ahmad dan at-Thabrani dari ibn Sa’di dari ayahnya tanpa melalui jalur ini.
5. Dan mengenai hadits dari Abu Juhaifah, sanadnya dho’if. Ibn Sholah mengingkari penambahan lafadz ini.
=====
Akan tetapi, dengan banyaknya jalur periwayatan atas hadits ini, dan ia saling mendukung, maka, pengingkaran (atas hadits) ini dapat tertolak dengan banyaknya jalur periwayatan ini.” (Nailu al-Awthar, juz 2, halaman 271)
Oleh sebab itu, maka status atau kedudukan hadits tentang adanya penambahan lafadz {Wabihamdihi} di dalam tasbih pada waktu ruku’ dan sujud adalah hadits Hasan Lighairihi, dan bukan hadits dho’if lagi dan dapat digunakan sebagai hujjah. Dan hadits ini tidak bertentangan firman Allah Ta’aala:
“Maka ber-tasbih-lah kamu dengan memuji kepada Tuhanmu dan minta ampunlah kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.” (QS. An-Nashr: 3)
Berdasarkan hadits tersebut pula, di dalam kitab Kasyifatu as-Saja, Syaikh Nawawi al-Bantani menjelaskan tentang bacaan tasbih pada saat ruku adalah: “Subhaana Rabbiyal-‘Azhiimi Wa Bihamdihi”.
“Disunnahkan ketika ruku’ untuk membaca: Subhaana Rabbiyal ‘azhiimi wa bihamdih (Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung dan dengan memuji kepada-Nya.” (Kasyifatu as-Saja, halaman 68)
http://jundumuhammad.wordpress.com/2012/02/17/tata-cara-sholat-sebagaimana-diajarkan-nabi-shollallaahu-alaihi-wa-sallam-bagian-06/










