TIPS KEHARMONISAN PASANGAN SUAMI ISTRI Oleh Rosilawati Febten
Monday, May 27, 2013 10:08:45 AM
SIAPA PUN yang telah mengikatkan diri
dalam tali pernikahan tentunya
menginginkan atmosfer rumah tangga
yang harmonis. Maka yang harus
dipikirkan pertama kali adalah
bagaimana melakukan harmonisasi
hubungan suami-istri. Menjaga
keharmonisan pasangan suami-istri
(pasutri) tidaklah semudah
membalikkan telapak tangan, tapi
membutuhkan usaha dan
pengorbanan.
Berikut ini adalah sepuluh tips
mewujudkan keharmonisan pasutri,
sebagaimana ditulis Wafaa‘ Muhammad,
dalam kitabnya Kaifa Tushbihina
Zaujah Rumansiyyah:
1. Berupaya saling mengenal dan
memahami
Perbedaan lingkungan dan kondisi
tempat suami atau istri tumbuh sangat
berpengaruh dalam pembentukan
ragam selera, perilaku, dan sikap yang
berlainan pada setiap pihak dari yang
lain. Hal itu merupakan kewajiban
setiap pasutri untuk memahami
keadaan ini dan berusaha mengetahui
serta mengenal pihak lain yang menjadi
pasangan hidupnya. Mereka juga harus
mengetahui semua hal yang berkaitan
dengan situasi kehidupan yang
mempengaruhi, sehingga dapat maju ke
depan dan mewujudkan keharmonisan.
2. Perasaan timbal-balik
Suami dan istri adalah partner dalam
satu kehidupan yang direkatkan dalam
tali pernikahan; satu ikatan suci yang
mempertemukan keduanya. Tak pelak
lagi, keduanya harus berbagi suka-
duka; membagi kesedihan dan
kegembiraan bersama. Keduanya saling
berkelindan untuk menyongsong satu
cita-cita luhur yaitu mewujudkan
tatanan kehidupan berdasarkan aturan
Allah dan Rasul-Nya. Untuk memupuk
kasih sayang di masing-masing pihak,
suami membutuhkan cinta istri, dan
istri pun membutuhkan cinta suami.
…Suami dan istri harus berbagi suka-
duka, membagi kesedihan dan
kegembiraan bersama…
3. Setiap pihak harus hormat
Ketika suami atau istri memasuki
rumahnya, maka dia layak
mendapatkan penghormatan dan
apresiasi dari pasangannya. Hal itu
bertujuan untuk menjaga harkat dan
mengangkat prestise pasutri, sehingga
masing-masing merasa nyaman untuk
membangun rumah tangga harmonis.
Dalam hal ini, sudah menjadi kewajiban
pasutri untuk mencari poin-poin positif
yang dimiliki masing-masing untuk
digunakan sebagai penopang sikap
saling menghormati.
4. Berusaha menyenangkan
pasangannya
Dalam kehidupan keluarga, bahkan
dalam kehidupan sosial secara general,
jika seseorang berusaha
mengedepankan dan mengutamakan
orang lain dari dirinya sendiri, maka
berarti dia telah menanam benih-benih
cinta dan kedekatan kepada semua
orang di sekelilingnya.
Dengan demikian, setiap pasutri
disarankan untuk senantiasa
menyenangkan pasangannya, dan
mendahulukan serta
mengutamakannya dari dirinya sendiri,
demi memperkukuh ikatan cinta kasih
di antara keduanya. Pasalnya, ketika
suami melihat istri membaktikan diri
untuk menyenangkan dirinya,
tentunya dia akan melakukan sesuatu
yang bisa membuat senang dan
gembira hati istri. Hal itu dilakukannya
untuk membalas kebaikan istrinya,
atau setidaknya sebagai pengakuan
atas kebaikan tersebut.
5. Mengatasi persoalan bersama
Pernikahan merupakan bentuk relasi
partnership dan partisipasi. Partnership
yang berdiri di atas landasan kesamaan
tujuan, cita-cita, sikap, intuisi dan
perasaan, serta kolaborasi dan
solidaritas dalam memecahkan setiap
persoalan. Setiap masalah yang timbul
dalam kehidupan suami-istri, maka
masalah itu dilihat sebagai suatu
kecemasan kolektif.
…Setiap masalah yang timbul
dalam kehidupan suami-istri,
harus dipandang sebagai suatu
kecemasan kolektif…
Paradigma demikian memicu suami agar
berusaha bekerja keras dalam rangka
memberikan kehidupan mulia bagi istri
dan anak-anaknya. Pun demikian, istri
akan berusaha menjalankan urusan
rumah tangga sesuai prosedur yang
disepakati bersama. Upaya yang
dilakukan oleh suami dan istri tersebut
merupakan solusi untuk memecahkan
masalah bersama. Pun demikian, baik
suami maupun istri tidak perlu
menyembunyikan problemnya, bahkan
diperlukan kejujuran dan transparansi
demi menumbuhkan benih-benih
kepercayaan dan saling pengertian,
sehingga mudah menemukan solusi.
Bisa jadi, permasalahan memiliki
dampak positif untuk meneguhkan
ikatan suami-istri.
6. Sikap qana’ah
Di antara tanda keharmonisan cinta
pasutri adalah sikap merasa puas
dengan yang ada (qana’ah); merasa
puas dengan prasarana hidup yang
tersedia. Kelanjutan sikap manja,
kebiasan hidup serba ada, boros dan
berfoya-foya pada masa kecil atau
remaja termasuk salah satu faktor
yang memicu pertikaian pasutri. Sikap
demikian berlawanan dengan
kedewasaan yang menuntut
pandangan realistis tentang kehidupan.
Hal-hal picisan dan glamor yang
digembar-gemborkan media publikasi
sejatinya tidak akan menciptakan
kebahagiaan. Karena kebahagiaan
sejati memancar dari hati dan jiwa
terdalam, bukan bertolak dari aspek-
aspek materi yang justru memicu
kesenjangan dan konflik pasutri.
7. Sikap toleransi kedua belah pihak
Sungguh sangat tidak logis jika setiap
pihak mengharapkan perilaku ideal
permanen dari pasangannya dalam
hubungan rumah tangga, karena
menurut tabiatnya, manusia kadang
salah dan benar. Suami atau istri
kadang lupa dan khilaf sehingga kerap
mengulangi kesalahan serta
kekeliruannya. Dia mungkin melakukan
kesalahan karena ketidaktahuan, dan
mengulanginya tanpa disadarinya. Jika
setiap pihak berkeinginan untuk
menghukum, menghakimi, atau
membalas dendam untuk setiap
kesalahan yang dilakukan
pasangannya, maka berarti dia merusak
fondasi keharmonisan rumah tangga.
…Kesalahan tidak perlu diikuti dengan
tekanan, cacian, dan intimidasi,
terutama jika kesalahan itu tidak
berkaitan dengan norma-norma
keislaman…
Jika kita mencela segala hal, maka kita
tidak akan menemukan sesuatu yang
tidak kita cela. Melakukan kesalahan
adalah hal lumrah yang hanya
membutuhkan pelurusan, pengarah,
dan petunjuk, yang dibarengi dengan
sikap penyesalan dan keinginan untuk
berubah lebih baik. Kesalahan tidak
perlu diikuti dengan tekanan, cacian,
dan intimidasi, terutama jika kesalahan
itu tidak berkaitan dengan norma-
norma keislaman. Yakinlah bahwa
seseorang tidak akan kehabisan cara
yang sesuai untuk mengoreksi
kesalahan dan penyimpangan
pasangannya. Jalan terbaik dalam hal
ini adalah nasihat yang tenang dan
membuat pasangannya merasa bahwa
hal itu adalah untuk kebaikan diri dan
keluarganya.
8. Berterus-terang
Sikap terus terang, kejujuran, dan
keberanian adalah kunci kebahagiaan
kehidupan rumah tangga yang tidak
mungkin nihil dari kesalahan. Dalam
artian, jika Anda melakukan kesalahan,
maka yang harus Anda lakukan adalah
bergegas meminta maaf, berani
mengakuinya, dan berjanji tidak akan
mengulanginya lagi di kemudian hari.
Sikap tersebut sama sekali tidak berarti
menistakan status dan harga diri Anda.
Hal itu justru mendorong pihak lain
untuk menghormati, mempercayai, dan
memaafkan Anda.
9. Kepedulian dan solidaritas
Bagian fragmen terindah kehidupan
rumah tangga adalah kepedulian dan
solidaritas yang dilakoni suami atau istri
dalam menghadapi kesulitan dengan
kesabaran dan perjuangan luar biasa.
Tatkala istri berdiri di samping
suaminya, maka suami akan merasa
kuat dan penuh percaya diri, begitu
juga sebaliknya. Ketika istri atau suami
merasakan bahwa pasangannya
merasa kuat dan percaya diri, maka dia
akan merasa jiwanya diliputi kedamaian
dan ketenteraman. Sisi ini pada
kenyataannya merupakan esensi
pernikahan dan integrasi batin di antara
kedua belah pihak.
10. Kearifan
Kearifan satu sama lain –hingga pada
situasi yang paling suram— membantu
meletakkan fondasi kukuh
keharmonisan. Bisa jadi, dikarenakan
sebuah kesalahan, suami atau istri
memiliki kemampuan hebat untuk
mencelakai pasangannya, hanya saja
kearifan mencegahnya melakukan hal
itu. Kearifan memperkokoh semangat
kesepahaman di antara keduanya. Atau
salah satu pasutri mungkin merasa
lebih berhak dalam hal tertentu,
namun setelah berpikir ulang tentang
hal itu, dia tidak lagi keukeuh
mempertahankan pendapatnya yang
bisa memicu friksi.
…masalah silih berganti menghampiri.
Maka, kearifan adalah benteng kokoh
yang melindungi keluarga dari
disharmonisasi…
Ketika dia mundur dengan motif
kearifan, maka dia berarti melenyapkan
aroma konflik dan perselisihan. Namun
jika sikap mau menang sendiri dan
superioritas negatif menggantikan
posisi kearifan, maka kedamaian dan
kemapanan kehidupan rumah tangga
akan tercederai. Jika demikian, tak
heran jika masalah silih berganti
menghampiri. Maka, kearifan adalah
benteng kokoh yang melindungi
keluarga dari disharmonisasi.
dalam tali pernikahan tentunya
menginginkan atmosfer rumah tangga
yang harmonis. Maka yang harus
dipikirkan pertama kali adalah
bagaimana melakukan harmonisasi
hubungan suami-istri. Menjaga
keharmonisan pasangan suami-istri
(pasutri) tidaklah semudah
membalikkan telapak tangan, tapi
membutuhkan usaha dan
pengorbanan.
Berikut ini adalah sepuluh tips
mewujudkan keharmonisan pasutri,
sebagaimana ditulis Wafaa‘ Muhammad,
dalam kitabnya Kaifa Tushbihina
Zaujah Rumansiyyah:
1. Berupaya saling mengenal dan
memahami
Perbedaan lingkungan dan kondisi
tempat suami atau istri tumbuh sangat
berpengaruh dalam pembentukan
ragam selera, perilaku, dan sikap yang
berlainan pada setiap pihak dari yang
lain. Hal itu merupakan kewajiban
setiap pasutri untuk memahami
keadaan ini dan berusaha mengetahui
serta mengenal pihak lain yang menjadi
pasangan hidupnya. Mereka juga harus
mengetahui semua hal yang berkaitan
dengan situasi kehidupan yang
mempengaruhi, sehingga dapat maju ke
depan dan mewujudkan keharmonisan.
2. Perasaan timbal-balik
Suami dan istri adalah partner dalam
satu kehidupan yang direkatkan dalam
tali pernikahan; satu ikatan suci yang
mempertemukan keduanya. Tak pelak
lagi, keduanya harus berbagi suka-
duka; membagi kesedihan dan
kegembiraan bersama. Keduanya saling
berkelindan untuk menyongsong satu
cita-cita luhur yaitu mewujudkan
tatanan kehidupan berdasarkan aturan
Allah dan Rasul-Nya. Untuk memupuk
kasih sayang di masing-masing pihak,
suami membutuhkan cinta istri, dan
istri pun membutuhkan cinta suami.
…Suami dan istri harus berbagi suka-
duka, membagi kesedihan dan
kegembiraan bersama…
3. Setiap pihak harus hormat
Ketika suami atau istri memasuki
rumahnya, maka dia layak
mendapatkan penghormatan dan
apresiasi dari pasangannya. Hal itu
bertujuan untuk menjaga harkat dan
mengangkat prestise pasutri, sehingga
masing-masing merasa nyaman untuk
membangun rumah tangga harmonis.
Dalam hal ini, sudah menjadi kewajiban
pasutri untuk mencari poin-poin positif
yang dimiliki masing-masing untuk
digunakan sebagai penopang sikap
saling menghormati.
4. Berusaha menyenangkan
pasangannya
Dalam kehidupan keluarga, bahkan
dalam kehidupan sosial secara general,
jika seseorang berusaha
mengedepankan dan mengutamakan
orang lain dari dirinya sendiri, maka
berarti dia telah menanam benih-benih
cinta dan kedekatan kepada semua
orang di sekelilingnya.
Dengan demikian, setiap pasutri
disarankan untuk senantiasa
menyenangkan pasangannya, dan
mendahulukan serta
mengutamakannya dari dirinya sendiri,
demi memperkukuh ikatan cinta kasih
di antara keduanya. Pasalnya, ketika
suami melihat istri membaktikan diri
untuk menyenangkan dirinya,
tentunya dia akan melakukan sesuatu
yang bisa membuat senang dan
gembira hati istri. Hal itu dilakukannya
untuk membalas kebaikan istrinya,
atau setidaknya sebagai pengakuan
atas kebaikan tersebut.
5. Mengatasi persoalan bersama
Pernikahan merupakan bentuk relasi
partnership dan partisipasi. Partnership
yang berdiri di atas landasan kesamaan
tujuan, cita-cita, sikap, intuisi dan
perasaan, serta kolaborasi dan
solidaritas dalam memecahkan setiap
persoalan. Setiap masalah yang timbul
dalam kehidupan suami-istri, maka
masalah itu dilihat sebagai suatu
kecemasan kolektif.
…Setiap masalah yang timbul
dalam kehidupan suami-istri,
harus dipandang sebagai suatu
kecemasan kolektif…
Paradigma demikian memicu suami agar
berusaha bekerja keras dalam rangka
memberikan kehidupan mulia bagi istri
dan anak-anaknya. Pun demikian, istri
akan berusaha menjalankan urusan
rumah tangga sesuai prosedur yang
disepakati bersama. Upaya yang
dilakukan oleh suami dan istri tersebut
merupakan solusi untuk memecahkan
masalah bersama. Pun demikian, baik
suami maupun istri tidak perlu
menyembunyikan problemnya, bahkan
diperlukan kejujuran dan transparansi
demi menumbuhkan benih-benih
kepercayaan dan saling pengertian,
sehingga mudah menemukan solusi.
Bisa jadi, permasalahan memiliki
dampak positif untuk meneguhkan
ikatan suami-istri.
6. Sikap qana’ah
Di antara tanda keharmonisan cinta
pasutri adalah sikap merasa puas
dengan yang ada (qana’ah); merasa
puas dengan prasarana hidup yang
tersedia. Kelanjutan sikap manja,
kebiasan hidup serba ada, boros dan
berfoya-foya pada masa kecil atau
remaja termasuk salah satu faktor
yang memicu pertikaian pasutri. Sikap
demikian berlawanan dengan
kedewasaan yang menuntut
pandangan realistis tentang kehidupan.
Hal-hal picisan dan glamor yang
digembar-gemborkan media publikasi
sejatinya tidak akan menciptakan
kebahagiaan. Karena kebahagiaan
sejati memancar dari hati dan jiwa
terdalam, bukan bertolak dari aspek-
aspek materi yang justru memicu
kesenjangan dan konflik pasutri.
7. Sikap toleransi kedua belah pihak
Sungguh sangat tidak logis jika setiap
pihak mengharapkan perilaku ideal
permanen dari pasangannya dalam
hubungan rumah tangga, karena
menurut tabiatnya, manusia kadang
salah dan benar. Suami atau istri
kadang lupa dan khilaf sehingga kerap
mengulangi kesalahan serta
kekeliruannya. Dia mungkin melakukan
kesalahan karena ketidaktahuan, dan
mengulanginya tanpa disadarinya. Jika
setiap pihak berkeinginan untuk
menghukum, menghakimi, atau
membalas dendam untuk setiap
kesalahan yang dilakukan
pasangannya, maka berarti dia merusak
fondasi keharmonisan rumah tangga.
…Kesalahan tidak perlu diikuti dengan
tekanan, cacian, dan intimidasi,
terutama jika kesalahan itu tidak
berkaitan dengan norma-norma
keislaman…
Jika kita mencela segala hal, maka kita
tidak akan menemukan sesuatu yang
tidak kita cela. Melakukan kesalahan
adalah hal lumrah yang hanya
membutuhkan pelurusan, pengarah,
dan petunjuk, yang dibarengi dengan
sikap penyesalan dan keinginan untuk
berubah lebih baik. Kesalahan tidak
perlu diikuti dengan tekanan, cacian,
dan intimidasi, terutama jika kesalahan
itu tidak berkaitan dengan norma-
norma keislaman. Yakinlah bahwa
seseorang tidak akan kehabisan cara
yang sesuai untuk mengoreksi
kesalahan dan penyimpangan
pasangannya. Jalan terbaik dalam hal
ini adalah nasihat yang tenang dan
membuat pasangannya merasa bahwa
hal itu adalah untuk kebaikan diri dan
keluarganya.
8. Berterus-terang
Sikap terus terang, kejujuran, dan
keberanian adalah kunci kebahagiaan
kehidupan rumah tangga yang tidak
mungkin nihil dari kesalahan. Dalam
artian, jika Anda melakukan kesalahan,
maka yang harus Anda lakukan adalah
bergegas meminta maaf, berani
mengakuinya, dan berjanji tidak akan
mengulanginya lagi di kemudian hari.
Sikap tersebut sama sekali tidak berarti
menistakan status dan harga diri Anda.
Hal itu justru mendorong pihak lain
untuk menghormati, mempercayai, dan
memaafkan Anda.
9. Kepedulian dan solidaritas
Bagian fragmen terindah kehidupan
rumah tangga adalah kepedulian dan
solidaritas yang dilakoni suami atau istri
dalam menghadapi kesulitan dengan
kesabaran dan perjuangan luar biasa.
Tatkala istri berdiri di samping
suaminya, maka suami akan merasa
kuat dan penuh percaya diri, begitu
juga sebaliknya. Ketika istri atau suami
merasakan bahwa pasangannya
merasa kuat dan percaya diri, maka dia
akan merasa jiwanya diliputi kedamaian
dan ketenteraman. Sisi ini pada
kenyataannya merupakan esensi
pernikahan dan integrasi batin di antara
kedua belah pihak.
10. Kearifan
Kearifan satu sama lain –hingga pada
situasi yang paling suram— membantu
meletakkan fondasi kukuh
keharmonisan. Bisa jadi, dikarenakan
sebuah kesalahan, suami atau istri
memiliki kemampuan hebat untuk
mencelakai pasangannya, hanya saja
kearifan mencegahnya melakukan hal
itu. Kearifan memperkokoh semangat
kesepahaman di antara keduanya. Atau
salah satu pasutri mungkin merasa
lebih berhak dalam hal tertentu,
namun setelah berpikir ulang tentang
hal itu, dia tidak lagi keukeuh
mempertahankan pendapatnya yang
bisa memicu friksi.
…masalah silih berganti menghampiri.
Maka, kearifan adalah benteng kokoh
yang melindungi keluarga dari
disharmonisasi…
Ketika dia mundur dengan motif
kearifan, maka dia berarti melenyapkan
aroma konflik dan perselisihan. Namun
jika sikap mau menang sendiri dan
superioritas negatif menggantikan
posisi kearifan, maka kedamaian dan
kemapanan kehidupan rumah tangga
akan tercederai. Jika demikian, tak
heran jika masalah silih berganti
menghampiri. Maka, kearifan adalah
benteng kokoh yang melindungi
keluarga dari disharmonisasi.






