NUZULUL QUR'AN
Friday, August 2, 2013 8:35:55 PM
Ketika memasuki malam yang ke
17 di bulan Ramadhan sebagian
kaum muslimin dan masjid-masjid
mulai diadakan peringatan
turunnya al-Quran pertama kali
yang disebut malam peringatan
Nuzulul Quran. Hal ini juga
‘terkesan’ dikuatkan dengan
catatan kaki dalam “Al-Quran dan
Terjemahnya” surat Adh-
Dhukhan ayat 3.
ﻲِﻓ ُﻩﺎَﻨْﻟَﺰﻧَﺃ ﺂَّﻧِﺇ
ٍﺔَﻛَﺭﺎَﺒُّﻣ ٍﺔَﻠْﻴَﻟ
َﻦﻳِﺭِﺬﻨُﻣ ﺎَّﻨُﻛ ﺎَّﻧِﺇ
Sesungguhnya kami
menurunkannya pada suatu
malam yang diberkahi[1369] dan
Sesungguhnya Kami-lah yang
memberi peringatan.
[1369] malam yang diberkahi ialah
malam Al Quran pertama kali
diturunkan. di Indonesia umumnya
dianggap jatuh pada tanggal 17
Ramadhan.
Keyakinan ini bertentangan
dengan firman Allah subhanahu
wa ta’alaa dalam surat al-Qadr
ayat pertama:
ﻰِﻓ ُﻪَﻨْﻟَﺰْﻧَﺃ ﺂَّﻧ ِﺇ
ِﺭْﺪَﻘْﻟﺍ ِﺔَﻠْﻴَﻟ
“Sesungguhnya kami Telah
menurunkannya (Al Quran) pada
malam kemuliaan[1593].”
[1593] Malam kemuliaan dikenal
dalam bahasa Indonesia dengan
malam Lailatul Qadr yaitu suatu
malam yang penuh kemuliaan,
kebesaran, Karena pada malam itu
permulaan Turunnya Al Quran.
Ayat diatas dengan jelas bahwa al-
Quran diturunkan pada malam
kemulian (Lailatul Qadar) dan juga
Terlihat jelas bahwa catatan kaki
untuk ayat di atas dalam “al-
Quran dan Terjemahnya” juga
menjelaskan bahwa malam
permulaan turunnya al-Quran
adalah pada malam tersebut.
Sekarang yang menjadi
pertanyaan, kapan terjadinya
malam Lailatul Qadar, malam
dimana al-Quran itu turun ?
apakah benar pada 17 Ramadhan
seperti yang selama ini oleh
sebagian kaum muslimin Indonesia
mempertingatinya ?
Nabi shallahu’alaihi wa sallam
pernah mengabarkan kepada kita
tentang kapan akan datangnya
malam Lailatul Qadar. Beliau
pernah bersabda:
“Carilah malam Lailatul Qadar di
(malam ganjil) pada 10 hari
terakhir bulan Ramadhan” (Hadits
Riwayat Bukhari 4/225 dan Muslim
1169)
Beliau shallahu’alaihi wa sallam
juga bersabda:
“Berusahalah untuk mencarinya
pada sepuluh hari terakhir, apabila
kalian lemah atau kurang fit, maka
jangan sampai engkau lengah
pada tujuh hari terakhir” (Riwayat
Bukhori dan Muslim)
Dengan demikian telah jelas
bahwa lailatul qadar terjadi pada
sepuluh malam terakhir bulan
Ramadhan yaitu pada malam-
malam ganjilnya 21, 23, 25, 27 atau
29. Maka gugurlah keyakinan
sebagian kaum muslimin yang
menyatakan bahwa turunya al-
Quran pertama kali pada tanggal
17 Ramadhan.
Jika ada yang berargumen,
“Tanggal 17 Ramadhan yang
dimaksud adalah turunnya al-
Quran ayat pertama ke dunia
kepada Nabi shallallahu’alaihi wa
sallam yaitu surat al-‘Alaq ayat
1-5, sedangkan Lailatul qadar pada
surat al-Qadar adalah turunnya
al-Quran seluruhnya dari lauhul
mahfudz ke Baitul Izzah di langit
dunia !!?”.
Maka jawabnya: Benar, bahwa
turunnya al-Quran yaitu pada
Lailatul qadar seperti yang
tertuang dalam surat al-Qadar
adalah turunnya al-Quran dari
Lauhul Mahfudz ke Baitul Izzah di
langit dunia, dan setelah itu al-
Quran diturunkan secara bertahap
selama 23 tahun. Seperti
perkataan Ibnu Abbas
radliyallahu’anhu dan yang
lainnya ketika menafsirkan QS.
Ad-Dukhon ayat 3:
“Allah menurunkan al-Quran
sekaligus daru Lauh Mahfudz ke
baitul izzah (rumah kemuliaan) di
langit dunia kemudian Allah
menurunkannya secara
berangsur-angsur sesuai dengan
berbagai peristiwa selama 23
tahun kepada Rasulullah
shallallahu’alaihi wa
sallam.” (Tafsir Ibnu Katsir 8/441)
Tetapi apakah ini menjadikan
bahwa benar nya pendapat bahwa
turunnya ayat pertama (QS.
Al-‘Alaq: 1-5) kepada Nabi
shallallahu’alaihi wa sallam
adalah 17 Ramadhan ?? mari kita
simak pembahasan dibawah ini.
Pendapat Syaikh Shafiyyurrahman
al-Mubarokfury di Kitab Sirohnya
(tentang) Kapan Awal Permulaan
Wahyu.
Dalam kitab siroh beliau, beliau
menjelaskan bahwa memang ada
perbedaan pendapat diantara
pakar sejarah tentang kapan awal
mula turunnya wahyu, yaitu
turunnya surat Al-Alaq: 1-5.
Beliau menguatkan pendapat yang
menyatakan pada tanggal 21.
Beliau mengatakan:
“Kami menguatkan pendapat yang
menyatakan pada tanggal 21,
sekalipun kami tidak melihat orang
yang menguatkan pendapat ini.
Sebab semua pakar biografi atau
setidak-tidaknya mayoritas di
antara mereka sepakat bahwa
beliau diangkat menjadi Rasul
pada hari senin, hal ini diperkuat
oleh riwayat para imam hadits, dari
Abu Qotadah radliyallahu’anhu,
bahwa Rasulullah
shallallahu’alaihi wa sallam
pernah ditanya tentang puasa hari
senin. Maka beliau menjawab,
“Pada hari inilah aku dilahirkan
dan pada hari ini pula turun wahyu
(yang pertama) kepadaku.”
Dalam lafdz lain disebutkan,
“Itulah hari aku dilahirkan dan
pada hari itu pula aku diutus
sebagai rasul atau turun wahyu
kepadaku”
(Lihat shahih Muslim 1/368;
Ahmad 5/299, Al-Baihaqi
4/286-300, Al-Hakim 2/602).
Hari senin dari bulan Ramadhan
pada tahun itu adalah jatuh pada
tanggal 7, 14, 21, dan 28. Beberapa
riwayat yang shahih telah
menunjukkan bahwa Lailatul
Qodar tidak jatuh kecuali pada
malam-malam ganjil di sepuluh
hari terakhir di bulan Ramadhan.
Jadi jika kami membandingkan
antara firman Allah,
“Sesungguhnya Kami
menurunkannya (Al-Quran) pada
Lailatul Qodar”, dengan riwayat
Abu Qotadah, bahwa diutusnya
beliau sebagai rasul jatuh pada
hari senin, serta berdasarkan
penelitian ilmiah tentang jatuhnya
hari senin dari bulan Ramadhan
pada tahun itu, maka jelaslah bagi
kami bahwa diutusnya beliau
sebagai rasul jatuh pada malam
tanggal 21 dari Bulan Ramadhan.
(Lihat Kitab Siroh Nabawiyyah oleh
Syaikh Shafiyyurrahman al-
Mubarokfury Bab Di Bawah
Naungan Nubuwah, hal. 58
pustaka al-Kautsar)
Maka jelaslah bahwa pendapat
kapan al-Quran turun, baik al-
Quran turun dari Baitul Izzah ke
langit dunia atau dari langit dunia
ke Rasulullah keduanya saling
melengkapi, dan bukan terjadi di
17 Ramadhan. Wallahu’alam.
Yang bisa dipetik dari pembahasan
di atas
1. Al-Quran diturunkan pada
malam lailatul qadar bukan pada
malam yang dikenal dengan
malam ‘Nuzulul Quran’ yang
bertepatan pada tanggal 17
Ramadhan.
2. Lebih khusus lagi bahwa
turunnya wahyu kepada
Rasulullah shalallallahu’alaihi wa
sallam yang pertama adalah 21
Ramadhan, seperti pendapat
syaikh Shafiyyurahman.
3. Peringatan Nuzulul Quran 17
Ramadhan dengan dzikir tertentu
dan bentuk pengajian khusus
adalah bentuk peringatan yang
tidak pernah ada landasannya dari
al-Quran dan Hadist Rasulullah
shallahu’alaihi wa sallam,
sehingga termasuk dalam perkara
bid’ah.
4. Lailatul qadar terjadi pada
sepuluh malam terakhir yang
ganjil dibulan Ramadhan.
5. Peringatan lailatul qadar pada
malam 27 Ramadhan (atau malam
ganjil lainnya) dengan suatu
pengajian khusus juga merupakan
bid’ah karena Rasulullah
shallahu’alaihi wa sallam tidak
pernah memperingatinya
melainkan beliau shallahu’alahi
wa sallam menghidupkan malam
tersebut dengan qiyamul lail dan
memperbanyak doa.
6. Himbauan kepada para
penanggung jawab “al-Quran dan
Terjemahnya” agar meluruskan
catatan kaki atau takwil-takwil
dari ayat suci al-Quran yang hanya
merupakan anggapan-anggapan
yang tidak berdalil atau bahkan
tafsiran/takwil yang bathil.
Referensi
1. Ustadz Aunur Rofiq. Nuzulul
Quran pada bulan Romadhon.
Majalah al-Furqon Edisi 84, th ke-8
1429/ 2008
2. Abu Musa al-Atsari. Lailatul
Qadar Malam Kemulian. Majalah
adz-Dzakiroh Edisi 43, Edisi Khusus
Ramadhan-Syawal, Vol 8, No.1
1429 H
3. Al-Quran dan Terjemahnya
4. Siroh Nabawiyah, oleh Syaikh
Shafiyyurahman al-Mubarokfury
17 di bulan Ramadhan sebagian
kaum muslimin dan masjid-masjid
mulai diadakan peringatan
turunnya al-Quran pertama kali
yang disebut malam peringatan
Nuzulul Quran. Hal ini juga
‘terkesan’ dikuatkan dengan
catatan kaki dalam “Al-Quran dan
Terjemahnya” surat Adh-
Dhukhan ayat 3.
ﻲِﻓ ُﻩﺎَﻨْﻟَﺰﻧَﺃ ﺂَّﻧِﺇ
ٍﺔَﻛَﺭﺎَﺒُّﻣ ٍﺔَﻠْﻴَﻟ
َﻦﻳِﺭِﺬﻨُﻣ ﺎَّﻨُﻛ ﺎَّﻧِﺇ
Sesungguhnya kami
menurunkannya pada suatu
malam yang diberkahi[1369] dan
Sesungguhnya Kami-lah yang
memberi peringatan.
[1369] malam yang diberkahi ialah
malam Al Quran pertama kali
diturunkan. di Indonesia umumnya
dianggap jatuh pada tanggal 17
Ramadhan.
Keyakinan ini bertentangan
dengan firman Allah subhanahu
wa ta’alaa dalam surat al-Qadr
ayat pertama:
ﻰِﻓ ُﻪَﻨْﻟَﺰْﻧَﺃ ﺂَّﻧ ِﺇ
ِﺭْﺪَﻘْﻟﺍ ِﺔَﻠْﻴَﻟ
“Sesungguhnya kami Telah
menurunkannya (Al Quran) pada
malam kemuliaan[1593].”
[1593] Malam kemuliaan dikenal
dalam bahasa Indonesia dengan
malam Lailatul Qadr yaitu suatu
malam yang penuh kemuliaan,
kebesaran, Karena pada malam itu
permulaan Turunnya Al Quran.
Ayat diatas dengan jelas bahwa al-
Quran diturunkan pada malam
kemulian (Lailatul Qadar) dan juga
Terlihat jelas bahwa catatan kaki
untuk ayat di atas dalam “al-
Quran dan Terjemahnya” juga
menjelaskan bahwa malam
permulaan turunnya al-Quran
adalah pada malam tersebut.
Sekarang yang menjadi
pertanyaan, kapan terjadinya
malam Lailatul Qadar, malam
dimana al-Quran itu turun ?
apakah benar pada 17 Ramadhan
seperti yang selama ini oleh
sebagian kaum muslimin Indonesia
mempertingatinya ?
Nabi shallahu’alaihi wa sallam
pernah mengabarkan kepada kita
tentang kapan akan datangnya
malam Lailatul Qadar. Beliau
pernah bersabda:
“Carilah malam Lailatul Qadar di
(malam ganjil) pada 10 hari
terakhir bulan Ramadhan” (Hadits
Riwayat Bukhari 4/225 dan Muslim
1169)
Beliau shallahu’alaihi wa sallam
juga bersabda:
“Berusahalah untuk mencarinya
pada sepuluh hari terakhir, apabila
kalian lemah atau kurang fit, maka
jangan sampai engkau lengah
pada tujuh hari terakhir” (Riwayat
Bukhori dan Muslim)
Dengan demikian telah jelas
bahwa lailatul qadar terjadi pada
sepuluh malam terakhir bulan
Ramadhan yaitu pada malam-
malam ganjilnya 21, 23, 25, 27 atau
29. Maka gugurlah keyakinan
sebagian kaum muslimin yang
menyatakan bahwa turunya al-
Quran pertama kali pada tanggal
17 Ramadhan.
Jika ada yang berargumen,
“Tanggal 17 Ramadhan yang
dimaksud adalah turunnya al-
Quran ayat pertama ke dunia
kepada Nabi shallallahu’alaihi wa
sallam yaitu surat al-‘Alaq ayat
1-5, sedangkan Lailatul qadar pada
surat al-Qadar adalah turunnya
al-Quran seluruhnya dari lauhul
mahfudz ke Baitul Izzah di langit
dunia !!?”.
Maka jawabnya: Benar, bahwa
turunnya al-Quran yaitu pada
Lailatul qadar seperti yang
tertuang dalam surat al-Qadar
adalah turunnya al-Quran dari
Lauhul Mahfudz ke Baitul Izzah di
langit dunia, dan setelah itu al-
Quran diturunkan secara bertahap
selama 23 tahun. Seperti
perkataan Ibnu Abbas
radliyallahu’anhu dan yang
lainnya ketika menafsirkan QS.
Ad-Dukhon ayat 3:
“Allah menurunkan al-Quran
sekaligus daru Lauh Mahfudz ke
baitul izzah (rumah kemuliaan) di
langit dunia kemudian Allah
menurunkannya secara
berangsur-angsur sesuai dengan
berbagai peristiwa selama 23
tahun kepada Rasulullah
shallallahu’alaihi wa
sallam.” (Tafsir Ibnu Katsir 8/441)
Tetapi apakah ini menjadikan
bahwa benar nya pendapat bahwa
turunnya ayat pertama (QS.
Al-‘Alaq: 1-5) kepada Nabi
shallallahu’alaihi wa sallam
adalah 17 Ramadhan ?? mari kita
simak pembahasan dibawah ini.
Pendapat Syaikh Shafiyyurrahman
al-Mubarokfury di Kitab Sirohnya
(tentang) Kapan Awal Permulaan
Wahyu.
Dalam kitab siroh beliau, beliau
menjelaskan bahwa memang ada
perbedaan pendapat diantara
pakar sejarah tentang kapan awal
mula turunnya wahyu, yaitu
turunnya surat Al-Alaq: 1-5.
Beliau menguatkan pendapat yang
menyatakan pada tanggal 21.
Beliau mengatakan:
“Kami menguatkan pendapat yang
menyatakan pada tanggal 21,
sekalipun kami tidak melihat orang
yang menguatkan pendapat ini.
Sebab semua pakar biografi atau
setidak-tidaknya mayoritas di
antara mereka sepakat bahwa
beliau diangkat menjadi Rasul
pada hari senin, hal ini diperkuat
oleh riwayat para imam hadits, dari
Abu Qotadah radliyallahu’anhu,
bahwa Rasulullah
shallallahu’alaihi wa sallam
pernah ditanya tentang puasa hari
senin. Maka beliau menjawab,
“Pada hari inilah aku dilahirkan
dan pada hari ini pula turun wahyu
(yang pertama) kepadaku.”
Dalam lafdz lain disebutkan,
“Itulah hari aku dilahirkan dan
pada hari itu pula aku diutus
sebagai rasul atau turun wahyu
kepadaku”
(Lihat shahih Muslim 1/368;
Ahmad 5/299, Al-Baihaqi
4/286-300, Al-Hakim 2/602).
Hari senin dari bulan Ramadhan
pada tahun itu adalah jatuh pada
tanggal 7, 14, 21, dan 28. Beberapa
riwayat yang shahih telah
menunjukkan bahwa Lailatul
Qodar tidak jatuh kecuali pada
malam-malam ganjil di sepuluh
hari terakhir di bulan Ramadhan.
Jadi jika kami membandingkan
antara firman Allah,
“Sesungguhnya Kami
menurunkannya (Al-Quran) pada
Lailatul Qodar”, dengan riwayat
Abu Qotadah, bahwa diutusnya
beliau sebagai rasul jatuh pada
hari senin, serta berdasarkan
penelitian ilmiah tentang jatuhnya
hari senin dari bulan Ramadhan
pada tahun itu, maka jelaslah bagi
kami bahwa diutusnya beliau
sebagai rasul jatuh pada malam
tanggal 21 dari Bulan Ramadhan.
(Lihat Kitab Siroh Nabawiyyah oleh
Syaikh Shafiyyurrahman al-
Mubarokfury Bab Di Bawah
Naungan Nubuwah, hal. 58
pustaka al-Kautsar)
Maka jelaslah bahwa pendapat
kapan al-Quran turun, baik al-
Quran turun dari Baitul Izzah ke
langit dunia atau dari langit dunia
ke Rasulullah keduanya saling
melengkapi, dan bukan terjadi di
17 Ramadhan. Wallahu’alam.
Yang bisa dipetik dari pembahasan
di atas
1. Al-Quran diturunkan pada
malam lailatul qadar bukan pada
malam yang dikenal dengan
malam ‘Nuzulul Quran’ yang
bertepatan pada tanggal 17
Ramadhan.
2. Lebih khusus lagi bahwa
turunnya wahyu kepada
Rasulullah shalallallahu’alaihi wa
sallam yang pertama adalah 21
Ramadhan, seperti pendapat
syaikh Shafiyyurahman.
3. Peringatan Nuzulul Quran 17
Ramadhan dengan dzikir tertentu
dan bentuk pengajian khusus
adalah bentuk peringatan yang
tidak pernah ada landasannya dari
al-Quran dan Hadist Rasulullah
shallahu’alaihi wa sallam,
sehingga termasuk dalam perkara
bid’ah.
4. Lailatul qadar terjadi pada
sepuluh malam terakhir yang
ganjil dibulan Ramadhan.
5. Peringatan lailatul qadar pada
malam 27 Ramadhan (atau malam
ganjil lainnya) dengan suatu
pengajian khusus juga merupakan
bid’ah karena Rasulullah
shallahu’alaihi wa sallam tidak
pernah memperingatinya
melainkan beliau shallahu’alahi
wa sallam menghidupkan malam
tersebut dengan qiyamul lail dan
memperbanyak doa.
6. Himbauan kepada para
penanggung jawab “al-Quran dan
Terjemahnya” agar meluruskan
catatan kaki atau takwil-takwil
dari ayat suci al-Quran yang hanya
merupakan anggapan-anggapan
yang tidak berdalil atau bahkan
tafsiran/takwil yang bathil.
Referensi
1. Ustadz Aunur Rofiq. Nuzulul
Quran pada bulan Romadhon.
Majalah al-Furqon Edisi 84, th ke-8
1429/ 2008
2. Abu Musa al-Atsari. Lailatul
Qadar Malam Kemulian. Majalah
adz-Dzakiroh Edisi 43, Edisi Khusus
Ramadhan-Syawal, Vol 8, No.1
1429 H
3. Al-Quran dan Terjemahnya
4. Siroh Nabawiyah, oleh Syaikh
Shafiyyurahman al-Mubarokfury






