My Opera is closing 3rd of March

GaPleK HaNdaYanI

Jangan Mencela Waktu

"Sial banget hari ini, kami selalu
kalah jika bertanding pas hari
Rabu?", ujar seseorang ketika kalah
bertanding futsal.
"Bulan Suro, bulan penuh petaka!",
kata seseorang yang sering menaruh
sial pada bulan Suro ketika ia dapati
berbagai musibah.

Bolehkah mencela waktu seperti itu?

Perlu kita ketahui bersama bahwa
mencela waktu adalah kebiasaan
orang-orang musyrik. Mereka
menyatakan bahwa yang
membinasakan dan mencelakakan
mereka adalah waktu. Allah pun
mencela perbuatan mereka ini. Allah
Ta’ala berfirman,
ﻭَﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﻣَﺎ ﻫِﻲَ ﺇِﻟَّﺎ ﺣَﻴَﺎﺗُﻨَﺎ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ
ﻧَﻤُﻮﺕُ ﻭَﻧَﺤْﻴَﺎ ﻭَﻣَﺎ ﻳُﻬْﻠِﻜُﻨَﺎ ﺇِﻟَّﺎ
ﺍﻟﺪَّﻫْﺮُ ﻭَﻣَﺎ ﻟَﻬُﻢْ ﺑِﺬَﻟِﻚَ ﻣِﻦْ ﻋِﻠْﻢٍ
ﺇِﻥْ ﻫُﻢْ ﺇِﻟَّﺎ ﻳَﻈُﻨُّﻮﻥَ
”Dan mereka berkata: "Kehidupan
ini tidak lain hanyalah kehidupan di
dunia saja, kita mati dan kita hidup
dan tidak ada yang akan
membinasakan kita selain masa
(waktu)", dan mereka sekali-kali
tidak mempunyai pengetahuan tentang
itu, mereka tidak lain hanyalah
menduga-duga saja.” (QS. Al
Jatsiyah [45] : 24).
Jadi, mencela
waktu adalah sesuatu yang tidak
disenangi oleh Allah. Itulah kebiasan
orang musyrik dan hal ini berarti
kebiasaan yang jelek.

Begitu juga dalam berbagai hadits
disebutkan mengenai larangan
mencela waktu.

Dalam shohih Muslim, dibawakan
Bab dengan judul ’larangan mencela
waktu (ad-dahr)’. Di antaranya
terdapat hadits dari Abu Hurairah,
Rasulullah shallallahu ’alaihi wa
sallam bersabda,
ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﺰَّ ﻭَﺟَﻞَّ ﻳُﺆْﺫِﻳﻨِﻰ ﺍﺑْﻦُ
ﺁﺩَﻡَ ﻳَﺴُﺐُّ ﺍﻟﺪَّﻫْﺮَ ﻭَﺃَﻧَﺎ ﺍﻟﺪَّﻫْﺮُ
ﺃُﻗَﻠِّﺐُ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞَ ﻭَﺍﻟﻨَّﻬَﺎﺭَ
”Allah ’Azza wa Jalla
berfirman,’Aku disakiti oleh anak
Adam. Dia mencela waktu, padahal
Aku adalah (pengatur) waktu, Akulah
yang membolak-balikkan malam dan
siang.” (HR. Muslim no. 6000)

Dalam lafadz yang lain, beliau
shallallahu ’alaihi wa sallam
bersabda,
ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﺰَّ ﻭَﺟَﻞَّ ﻳُﺆْﺫِﻳﻨِﻰ ﺍﺑْﻦُ
ﺁﺩَﻡَ ﻳَﻘُﻮﻝُ ﻳَﺎ ﺧَﻴْﺒَﺔَ ﺍﻟﺪَّﻫْﺮِ . ﻓَﻼَ
ﻳَﻘُﻮﻟَﻦَّ ﺃَﺣَﺪُﻛُﻢْ ﻳَﺎ ﺧَﻴْﺒَﺔَ ﺍﻟﺪَّﻫْﺮِ .
ﻓَﺈِﻧِّﻰ ﺃَﻧَﺎ ﺍﻟﺪَّﻫْﺮُ ﺃُﻗَﻠِّﺐُ ﻟَﻴْﻠَﻪُ
ﻭَﻧَﻬَﺎﺭَﻩُ ﻓَﺈِﺫَﺍ ﺷِﺌْﺖُ ﻗَﺒَﻀْﺘُﻬُﻤَﺎ
”Allah ’Azza wa Jalla
berfirman,’Aku disakiti oleh anak
Adam. Dia mengatakan ’Ya khoybah
dahr’ [ungkapan mencela waktu, pen].
Janganlah seseorang di antara kalian
mengatakan ’Ya khoybah
dahr’ (dalam rangka mencela waktu,
pen). Karena Aku adalah (pengatur)
waktu. Aku-lah yang membalikkan
malam dan siang. Jika suka, Aku
akan menggenggam keduanya.” (HR.
Muslim no. 6001)

An Nawawi rahimahullah dalam
Syarh Shohih Muslim (7/419)
mengatakan bahwa orang Arab dahulu
biasanya mencela masa (waktu)
ketika tertimpa berbagai macam
musibah seperti kematian, kepikunan,
hilang (rusak)-nya harta dan lain
sebagainya sehingga mereka
mengucapkan ’Ya khoybah
dahr’ (ungkapan mencela waktu, pen)
dan ucapan celaan lainnya yang
ditujukan kepada waktu.

Setelah dikuatkan dengan berbagai
dalil di atas, jelaslah bahwa mencela
waktu adalah sesuatu yang telarang.
Kenapa demikian? Karena Allah
sendiri mengatakan bahwa Dia-lah
yang mengatur siang dan malam.

Apabila seseorang mencela waktu
dengan menyatakan bahwa bulan ini
adalah bulan sial atau bulan ini
selalu membuat celaka, maka sama
saja dia mencela Pengatur Waktu,
yaitu Allah ’Azza wa Jalla.

Perlu diketahui bahwa mencela waktu
bisa membuat kita terjerumus dalam
dosa bahkan bisa membuat kita
terjerumus dalam syirik akbar (syirik
yang mengekuarka pelakunya dari
Islam). Perhatikanlah rincian Syaikh
Muhammad bin Sholih Al Utsaimin
rahimahullah dalam Al Qoulul Mufid
’ala Kitabit Tauhid berikut.

Mencela waktu itu terbagi menjadi
tiga macam:

Pertama; jika dimaksudkan hanya
sekedar berita dan bukanlah celaan,
kasus semacam ini diperbolehkan.
Misalnya ucapan, ”Kita sangat
kelelahan karena hari ini sangat
panas” atau semacamnya. Hal ini
diperbolehkan karena setiap amalan
tergantung pada niatnya. Hal ini
juga dapat dilihat pada perkataan
Nabi Luth ’alaihis salam,
ﻫَـﺬَﺍ ﻳَﻮْﻡٌ ﻋَﺼِﻴﺐٌ
”Ini adalah hari yang amat
sulit." (QS. Hud [11] : 77)

Kedua; jika menganggap bahwa
waktulah pelaku yaitu yang membolak-
balikkan perkara menjadi baik dan
buruk, maka ini bisa termasuk syirik
akbar. Karena hal ini berarti kita
meyakini bahwa ada pencipta bersama
Allah yaitu kita menyandarkan
berbagai kejadian pada selain Allah.
Barangsiapa meyakini ada pencipta
selain Allah maka dia kafir.
Sebagaimana seseorang meyakini
bahwa ada sesembahan selain Allah,
maka dia juga kafir.

Ketiga; jika mencela waktu karena
waktu adalah tempat terjadinya
perkara yang dibenci, maka ini adalah
haram dan tidak sampai derajat syirik.
Tindakan semacam ini termasuk
tindakan bodoh (alias ’dungu’) yang
menunjukkan kurangnya akal dan
agama. Hakikat mencela waktu, sama
saja dengan mencela Allah karena
Dia-lah yang mengatur waktu, di
waktu tersebut Dia menghendaki
adanya kebaikan maupun kejelekan.
Maka waktu bukanlah pelaku.
Tindakan mencela waktu semacam ini
bukanlah bentuk kekafiran karena
orang yang melakukannya tidaklah
mencela Allah secara langsung. –
Demikianlah rincian dari beliau
rahimahullah yang sengaja kami
ringkas-

Maka perhatikanlah saudaraku,
mengatakan bahwa waktu tertentu
atau bulan tertentu adalah bulan sial
atau bulan celaka atau bulan penuh
bala bencana, ini sama saja dengan
mencela waktu dan ini adalah sesuatu
yang terlarang. Mencela waktu bisa
jadi haram, bahkan bisa termasuk
perbuatan syirik. Hati-hatilah dengan
melakukan perbuatan semacam ini.

Oleh karena itu, jagalah selalu lisan
ini dari banyak mencela. Jagalah hati
yang selalu merasa gusar dan tidak
tenang ketika bertemu dengan satu
waktu atau bulan yang kita anggap
membawa malapetaka. Ingatlah di sisi
kita selalu ada malaikat yang akan
mengawasi tindak-tanduk kita.

ﻭَﻟَﻘَﺪْ ﺧَﻠَﻘْﻨَﺎ ﺍﻟْﺈِﻧْﺴَﺎﻥَ ﻭَﻧَﻌْﻠَﻢُ ﻣَﺎ
ﺗُﻮَﺳْﻮِﺱُ ﺑِﻪِ ﻧَﻔْﺴُﻪُ ﻭَﻧَﺤْﻦُ ﺃَﻗْﺮَﺏُ
ﺇِﻟَﻴْﻪِ ﻣِﻦْ ﺣَﺒْﻞِ ﺍﻟْﻮَﺭِﻳﺪِ ) 16 ( ﺇِﺫْ
ﻳَﺘَﻠَﻘَّﻰ ﺍﻟْﻤُﺘَﻠَﻘِّﻴَﺎﻥِ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﻴَﻤِﻴﻦِ
ﻭَﻋَﻦِ ﺍﻟﺸِّﻤَﺎﻝِ ﻗَﻌِﻴﺪٌ ) 17 )
”Dan sesungguhnya Kami telah
menciptakan manusia dan mengetahui
apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan
para malaikat Kami lebih dekat
kepadanya daripada urat lehernya,
(yaitu) ketika dua orang malaikat
mencatat amal perbuatannya, seorang
duduk di sebelah kanan dan yang lain
duduk di sebelah kiri.” (QS. Qaaf
[50] : 16-17)

Semoga Allah memberi taufik untuk
menjaga lisan ini dari murka-Nya.

Kembali Kepada Alloh SwtAKHLAQUL KARIMAH

Write a comment

New comments have been disabled for this post.

February 2014
M T W T F S S
January 2014March 2014
1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28