AKHLAQUL KARIMAH
Wednesday, December 25, 2013 4:05:17 AM
Keutamaan Akhlaq Mulia
ﺃَﻋُﻮْﺫُ ﺑِﺎ ﻟﻠّﻪِ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥِ ﺍﻟﺮَّﺟِﻴْﻢِ
ﺑِﺴْــــــــــــــــــﻢِ ﺍﷲِﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﻦِ ﺍﺍﺭَّﺣِﻴﻢ
Di dalam hadits yang diriwayatkan
dari sahabat Abu Hurairah
radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah
shallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﺑُﻌِﺜْﺖُ ِ ﻷُﺗَﻤِّﻢَ ﻣَﻜَﺎﺭِﻡَ )ﻭَ ﻓِﻲ ﺭِﻭَﺍﻳَﺔٍ:
ﺻَﺎﻟِﺢَ( ﺍْﻷََﺧْﻠَﺎﻕْ
“
Hanya saja aku diutus untuk
menyempurnakan akhlaq yang mulia
(dalam riwayat yang lain:
menyempurnakan kebagusan
akhlaq).” (HR. Al Bukhari dalam
Adabul Mufrad, dishahihkan oleh Asy
Syaikh Al Albani dalam Ash Shahihah
no. 45)
Syariat sebelum Islam telah menyeru
manusia untuk memiliki akhlaq
mulia. Kemudian diutuslah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam dengan membawa
kesempurnaan akhlaq
.
AKHLAK YANG MULIA MEMILIKI
BANYAK KEUTAMAAN DIANTARA NYA :
1. Orang yang memiliki akhlaq yang
bagus adalah sebaik-baiknya
manusia.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda:
ﺇِﻥَّ ﻣِﻦْ ﺧِﻴَﺎﺭِﻛُﻢْ ﺃَﺣَﺎﺳِﻨُﻜُﻢْ ﺃَﺧْﻼَﻗﺎً
“
Sesungguhnya sebaik-baik kalian
adalah yang paling bagus akhlaqnya”.
(Muttafaqun‘alaihi).
Beliau juga bersabda
,
ﺍَﻟْﺒِﺮُّ ﺣُﺴْﻦُ ﺍﻟﺨُﻠُﻖِ
“Kebaikan adalah bagusnya akhlaq”.
(HR. Muslim).
2. Orang yang memiliki akhlaq yang
mulia menjadi orang yang paling
dicintai oleh Nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda:
ﺇِﻥَّ ﻣِﻦْ ﺃَﺣَﺒِّﻜُﻢْ ﺍِﻟَﻲَّ ﺃَﺣْﺴَﻨُﻜُﻢْ ﺃَﺧْﻼَﻗﺎً
“
Sesungguhnya orang yang paling aku
cintai di antara kalian adalah yang
paling bagus akhlaqnya”. (HR. Al-
Bukhari).
3. Akhlaq yang mulia merupakan
tanda kesempurnaan iman.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda:
ﺃَﻛْﻤَﻞُ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴْﻦَ ﺇِﻳْﻤَﺎﻧﺎً ، ﺃَﺣْﺴَﻨُﻬُﻢْ ﺧُﻠُﻘﺎً ،
ﻭَﺧِﻴَﺎﺭُﻛُﻢْ ﺧِﻴَﺎﺭُﻛُﻢْ ﻟِﻨِﺴَﺎﺋِﻬِﻢْ
“
Yang paling sempurna keimanan
seseorang mu’min adalah yang paling
bagus akhlaqnya dan sebaik-baik
kalian adalah yang paling baik
terhadap istri-istrinya”. (HR. At-
Tirmidzi dan beliau berkata hasan
shahih).
4. Akhlaq mulia merupakan bagian
penting dalam agama
Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda:
ﺇِﻥَّ ﻟِﻜُﻞِّ ﺩِﻳْﻦٍ ﺧُﻠُﻘﺎً ، ﻭَﺇِﻥَّ ﺧُﻠُﻖَ ﺍْﻹِﺳْﻼَﻡِ ﺍﻟْﺤَﻴَﺎﺀُ
“
Sesungguhnya bagi setiap dien
memiliki akhlaq, dan akhlaq Islam
adalah malu.” (HR. Ibnu Majah,
hasan).
5. Akhlaq yang mulia akan
mengantarkan ke derajat orang yang
senantiasa mengerjakan puasa dan
shalat malam.
Dari ‘Aisyah radiyallahu ‘anha, beliau
berkata bahwa Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda:
ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻦَ ﻟَﻴُﺪْﺭِﻙُ ﺑِﺤُﺴْﻦِ ﺧُﻠُﻘِﻪِ ﺩَﺭَﺟَﺔَ ﺍﻟﺼَّﺎﺋِﻢِ
ﺍﻟْﻘَﺎﺋِﻢِ
“
Sesungguhnya dengan akhlaq mulia
seorang mukmin akan sampai ke
derajat orang yang mengerjakan
puasa dan shalat malam.”’ (HR. Abu
Daud dan Ibnu Hibban, dishahihkan
oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih
At Targhib wat Tarhib 2643)
6. Akhlaq mulia berat timbangannya
di akhirat
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
telah menjelaskan betapa beratnya
nilai timbangan akhlaq mulia di
akhirat kelak jika dibandingkan
dengan seluruh amalan. Beliau
bersabda:
ﻣَﺎ ﻣِﻦْ ﺷَﻲْﺀٍ ﻳُﻮﺿَﻊُ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻤِﻴﺰَﺍﻥِ ﺃَﺛْﻘَﻞُ ﻣِﻦْ
ﺣُﺴْﻦِ ﺍﻟْﺨُﻠُﻖِ ﻭَﺇِﻥَّ ﺻَﺎﺣِﺐَ ﺣُﺴْﻦِ ﺍﻟْﺨُﻠُﻖِ ﻟَﻴَﺒْﻠُﻎُ
ﺑِﻪِ ﺩَﺭَﺟَﺔَ ﺻَﺎﺣِﺐِ ﺍﻟﺼَّﻮْﻡِ ﻭَﺍﻟﺼَّﻼَﺓِ
“
Tidak ada sesuatu pun yang lebih
berat timbangannya dari akhlaq
mulia ketika diletakkan di atas mizan
(timbangan amal) dan sungguh
pemilik akhlaq mulia akan mencapai
derajat orang yang mengerjakan
puasa dan shalat.” (HR. Abu Dawud
dan At Tirmidzi, dishahihkan oleh Asy
Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Ash
Shahihah No. 876)
7. Orang yang memiliki akhlaq yang
mulia mendapatkan jaminan surga
Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda:
ﺃَﻧَﺎ ﺯَﻋِﻴْﻢُ ﺑَﻴْﺖٍ ﻓِﻲْ ﺭَﺑْﺾِ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﻟِﻤَﻦْ ﺗَﺮَﻙَ
ﺍﻟْﻤِﺮَﺍﺀَ ﻭَﺇِﻥْ ﻛَﺎﻥَ ﻣُﺤِﻘًّﺎ ، ﻭَﺑَﻴْﺖٍ ﻓِﻲ ﻭَﺳْﻂِ
ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﻟِﻤَﻦْ ﺗَﺮَﻙَ ﺍﻟْﻜَﺬِﺏَ ﻭَﺇِﻥْ ﻛَﺎﻥَ ﻣَﺎﺯِﺣﺎً ،
ﻭَﺑَﻴْﺖٍ ﻓِﻲ ﺃَﻋْﻠَﻰ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﻟِﻤَﻦْ ﺣَﺴُﻦَ ﺧُﻠُﻘَﻪُ
“
Aku penjamin suatu rumah di surga
yang paling bawah bagi orang yang
meninggalkan perdebatan walaupun
dia benar. Dan aku penjamin suatu
rumah di surga bagian tengah bagi
orang yang meninggalkan berdusta
walaupun bercanda. Dan aku
penjamin sebuah rumah di surga
yang paling tinggi bagi orang yang
bagus akhlaqnya”. (HR. Abu Dawud
dan dihasankan oleh Al-Albani.)
Inilah Sejatinya akhlak Mulia
Sebagaimana yang telah disebutkan
sebelumnya bahwa akhlak mulia
mencakup dua aspek, yaitu: akhlak
mulia kepada khaliq (sang pencipta)
dan akhlak mulia kepada makhluq
(sesama manusia).
Pembahasan mengenai akhlak mulia
kepada makhluq sebenarnya cukup
luas, hanya saja untuk kali ini kita
membatasi pada manusia sebagai
makhluq sosial.
Terkait akhlak mulia kepada khaliq,
hendaknya tercakup didalamnya tiga
perkara berikut:
1. Membenarkan berita-berita dari
Allaah, baik berita tersebut terdapat
dalam Al Qur’an ataupun
disampaikan melalui lisan rasul-Nya
yang mulia dalam hadits-haditsnya.
Meskipun terkadang berita-berita
dalam Al Qur’an dan hadits-hadits
shahih itu tak sejalan dengan
keterbatasan akal kita, hendaknya kita
kesampingkan akal kita yang terbatas
dan membenarkan berita tersebut
dengan sepenuh keimanan tanpa
adanya keraguan. Karena
“Dan siapakah yang lebih benar
perkataan(nya) daripada Allah?” (QS.
An Nisaa: 87)
Konsekuensi dari pembenaran
tersebut adalah hendaknya berjuang
mempertahankan kebenaran berita
tersebut dan tidak roboh oleh
argumen-argumen para pemuja akal
yang seringkali datang menebarkan
syubhat yang meracuni pikiran.
2. Melaksanakan hukum-hukum-Nya,
meskipun terasa berat realitanya,
ketika kita harus melawan hawa
nafsu, akan tetapi hendaknya kita
berakhlak mulia kepada Allah dengan
menjalankan hukum-Nya dengan
lapang dada dan penuh suka cita dan
bukan mengharap penilaian manusia.
Misalnya, ketika kita menjalani puasa
wajib menahan lapar dan dahaga
bukanlah hal ringan bagi hawa nafsu
kita. Namun, akhlak mulia kepada
Allah adalah dengan menjalani hal
tersebut dengan lapang dada dan
ketundukan serta kepuasan jiwa.
3. Sabar dan ridha kepada takdir-Nya,
kendatipun terkadang pahit dan tak
menyenangkan, hendaknya seorang
insan berakhlak mulia kepada Allah
dengan kesabaran menjalani takdir
tersebut karena dibalik hal itu
tentunya Allah menyimpan hikmah
yang besar dan tujuan yang terpuji.
Adapun akhlak mulia kepada
makhluq, hendaknya tercakup di
dalamnya tiga hal pula:
1. Tidak menyakiti orang lain, terkait
jiwa, harta dan kehormatannya.
Dengan demikian tak sepantasnya
memukulnya tanpa alasan apalagi
membunuhnya, tak selayaknya
mencuri hartanya dan tak sepatutnya
mengolok-olok dan melukai
perasaannya dengan panggilan buruk
ataupun menggunjingnya.
Perhatikanlah sabda Rasulullaah
shallallaah ‘alayh wa sallam yang
artinya:
“Sesungguhnya darah-darah kalian,
harta-harta kalian dan kehormatan-
kehormatan kalian haram atas
kalian.” (HR. Bukhari dan Muslim)
kemudian sabdanya lagi yang artinya:
“Seorang muslim adalah orang yang
kaum muslim lainnya selamat dari
lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari).
2. Berderma dengan memberikan
bantuan berupa materi maupun non
materi (bisa berupa ilmu, motivasi,
saran dan lain-lain)
3. Bermuka manis. Hal ini hendaknya
tak dianggap remeh karena
“Janganlah engkau menganggap
enteng perbuatan baik sedikit pun,
meskipun (sekedar-pen-) engkau
berjumpa dengan saudaramu dengan
wajah berseri-seri.” (HR. Muslim).
Syaikh Al ‘Utsaimin berkata: “Bermuka
manis adalah menampakkan wajah
berseri-seri ketika berjumpa dengan
orang lain, lawannya adalah bermuka
masam. “ kemudian beliau
membawakan kisah Ibnu ‘Abbas
radhiyallaah ‘anhu yang ditanya
tentang kebaikan maka Ibnu ‘Abbas
radhiyallaah ‘anhu menjawab, “wajah
yang berseri-seri dan tutur kata yang
halus.” Syaikh kemudian
menyebutkan syair milik seorang
penyair yang artinya,
“Wahai anakku sesungguhnya
kebaikan itu sesuatu yang mudah
Wajah yang berseri-seri dan tutur
kata yang ramah”
Meskipun demikian, bermuka manis
ini tak kemudian tanpa arahan. Hal
itu karena terkadang kita perlu
bermuka masam untuk menghindari
bahaya tertentu. Misalnya, ketika kita
bertemu dengan seorang yang olah
bicaranya pandai dan berpengaruh
tetapi dlm perkara yang buruk maka
hendaknya kita tunjukkan muka
masam kita sebagai tanda
ketidaksukaan kita terhadap dirinya.
Hal itu disebabkan jika kita bermuka
manis padanya dikhawatirkan kita
akan terbawa pengaruhnya & sulit
melepaskan diri dari pengaruhnya yg
buruk.
Dengan demikian, kita perlu
mengingat nasehat nan berfaidah
dari Imam Ibnul Qayyim
Rahimahullaah dalam kitabnya
Ighatsah Al-Lahafan Min Mashayidi
Asy Syaithan:
“Termasuk dari macam-macam
perangkap syaitan dan tipu dayanya
bahwa syaitan mengajak seorang
hamba Allah kepada berbagai macam
bentuk dosa dan kenistaan dengan
sebab akhlak baik si hamba tersebut
dan kemurahan hatinya…”
Oleh karena itu, dalam bab bermuka
manis ini hendaknya kita
menempatkan sesuai pada
tempatnya.
demikianlah kiranya yang bisa
diuraikan. Semoga bermanfaat di
dunia hingga di akhirat yang kekal.
Syaikh As sa’dy dlm kitabnya, Bahjah
Qulubil Abrar menyebutkan pula
bahwa akhlak mulia kpd makhluq
adalah badzalun nadaa (suka
membantu orang lain), ihtimaalul
adzaa (bersabar dng gangguan orang
lain) dan kafful adzaa (tidak
mengganggu orang lain
ﺃَﻋُﻮْﺫُ ﺑِﺎ ﻟﻠّﻪِ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥِ ﺍﻟﺮَّﺟِﻴْﻢِ
ﺑِﺴْــــــــــــــــــﻢِ ﺍﷲِﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﻦِ ﺍﺍﺭَّﺣِﻴﻢ
Di dalam hadits yang diriwayatkan
dari sahabat Abu Hurairah
radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah
shallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﺑُﻌِﺜْﺖُ ِ ﻷُﺗَﻤِّﻢَ ﻣَﻜَﺎﺭِﻡَ )ﻭَ ﻓِﻲ ﺭِﻭَﺍﻳَﺔٍ:
ﺻَﺎﻟِﺢَ( ﺍْﻷََﺧْﻠَﺎﻕْ
“
Hanya saja aku diutus untuk
menyempurnakan akhlaq yang mulia
(dalam riwayat yang lain:
menyempurnakan kebagusan
akhlaq).” (HR. Al Bukhari dalam
Adabul Mufrad, dishahihkan oleh Asy
Syaikh Al Albani dalam Ash Shahihah
no. 45)
Syariat sebelum Islam telah menyeru
manusia untuk memiliki akhlaq
mulia. Kemudian diutuslah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam dengan membawa
kesempurnaan akhlaq
.
AKHLAK YANG MULIA MEMILIKI
BANYAK KEUTAMAAN DIANTARA NYA :
1. Orang yang memiliki akhlaq yang
bagus adalah sebaik-baiknya
manusia.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda:
ﺇِﻥَّ ﻣِﻦْ ﺧِﻴَﺎﺭِﻛُﻢْ ﺃَﺣَﺎﺳِﻨُﻜُﻢْ ﺃَﺧْﻼَﻗﺎً
“
Sesungguhnya sebaik-baik kalian
adalah yang paling bagus akhlaqnya”.
(Muttafaqun‘alaihi).
Beliau juga bersabda
,
ﺍَﻟْﺒِﺮُّ ﺣُﺴْﻦُ ﺍﻟﺨُﻠُﻖِ
“Kebaikan adalah bagusnya akhlaq”.
(HR. Muslim).
2. Orang yang memiliki akhlaq yang
mulia menjadi orang yang paling
dicintai oleh Nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda:
ﺇِﻥَّ ﻣِﻦْ ﺃَﺣَﺒِّﻜُﻢْ ﺍِﻟَﻲَّ ﺃَﺣْﺴَﻨُﻜُﻢْ ﺃَﺧْﻼَﻗﺎً
“
Sesungguhnya orang yang paling aku
cintai di antara kalian adalah yang
paling bagus akhlaqnya”. (HR. Al-
Bukhari).
3. Akhlaq yang mulia merupakan
tanda kesempurnaan iman.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda:
ﺃَﻛْﻤَﻞُ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴْﻦَ ﺇِﻳْﻤَﺎﻧﺎً ، ﺃَﺣْﺴَﻨُﻬُﻢْ ﺧُﻠُﻘﺎً ،
ﻭَﺧِﻴَﺎﺭُﻛُﻢْ ﺧِﻴَﺎﺭُﻛُﻢْ ﻟِﻨِﺴَﺎﺋِﻬِﻢْ
“
Yang paling sempurna keimanan
seseorang mu’min adalah yang paling
bagus akhlaqnya dan sebaik-baik
kalian adalah yang paling baik
terhadap istri-istrinya”. (HR. At-
Tirmidzi dan beliau berkata hasan
shahih).
4. Akhlaq mulia merupakan bagian
penting dalam agama
Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda:
ﺇِﻥَّ ﻟِﻜُﻞِّ ﺩِﻳْﻦٍ ﺧُﻠُﻘﺎً ، ﻭَﺇِﻥَّ ﺧُﻠُﻖَ ﺍْﻹِﺳْﻼَﻡِ ﺍﻟْﺤَﻴَﺎﺀُ
“
Sesungguhnya bagi setiap dien
memiliki akhlaq, dan akhlaq Islam
adalah malu.” (HR. Ibnu Majah,
hasan).
5. Akhlaq yang mulia akan
mengantarkan ke derajat orang yang
senantiasa mengerjakan puasa dan
shalat malam.
Dari ‘Aisyah radiyallahu ‘anha, beliau
berkata bahwa Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda:
ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻦَ ﻟَﻴُﺪْﺭِﻙُ ﺑِﺤُﺴْﻦِ ﺧُﻠُﻘِﻪِ ﺩَﺭَﺟَﺔَ ﺍﻟﺼَّﺎﺋِﻢِ
ﺍﻟْﻘَﺎﺋِﻢِ
“
Sesungguhnya dengan akhlaq mulia
seorang mukmin akan sampai ke
derajat orang yang mengerjakan
puasa dan shalat malam.”’ (HR. Abu
Daud dan Ibnu Hibban, dishahihkan
oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih
At Targhib wat Tarhib 2643)
6. Akhlaq mulia berat timbangannya
di akhirat
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
telah menjelaskan betapa beratnya
nilai timbangan akhlaq mulia di
akhirat kelak jika dibandingkan
dengan seluruh amalan. Beliau
bersabda:
ﻣَﺎ ﻣِﻦْ ﺷَﻲْﺀٍ ﻳُﻮﺿَﻊُ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻤِﻴﺰَﺍﻥِ ﺃَﺛْﻘَﻞُ ﻣِﻦْ
ﺣُﺴْﻦِ ﺍﻟْﺨُﻠُﻖِ ﻭَﺇِﻥَّ ﺻَﺎﺣِﺐَ ﺣُﺴْﻦِ ﺍﻟْﺨُﻠُﻖِ ﻟَﻴَﺒْﻠُﻎُ
ﺑِﻪِ ﺩَﺭَﺟَﺔَ ﺻَﺎﺣِﺐِ ﺍﻟﺼَّﻮْﻡِ ﻭَﺍﻟﺼَّﻼَﺓِ
“
Tidak ada sesuatu pun yang lebih
berat timbangannya dari akhlaq
mulia ketika diletakkan di atas mizan
(timbangan amal) dan sungguh
pemilik akhlaq mulia akan mencapai
derajat orang yang mengerjakan
puasa dan shalat.” (HR. Abu Dawud
dan At Tirmidzi, dishahihkan oleh Asy
Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Ash
Shahihah No. 876)
7. Orang yang memiliki akhlaq yang
mulia mendapatkan jaminan surga
Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda:
ﺃَﻧَﺎ ﺯَﻋِﻴْﻢُ ﺑَﻴْﺖٍ ﻓِﻲْ ﺭَﺑْﺾِ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﻟِﻤَﻦْ ﺗَﺮَﻙَ
ﺍﻟْﻤِﺮَﺍﺀَ ﻭَﺇِﻥْ ﻛَﺎﻥَ ﻣُﺤِﻘًّﺎ ، ﻭَﺑَﻴْﺖٍ ﻓِﻲ ﻭَﺳْﻂِ
ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﻟِﻤَﻦْ ﺗَﺮَﻙَ ﺍﻟْﻜَﺬِﺏَ ﻭَﺇِﻥْ ﻛَﺎﻥَ ﻣَﺎﺯِﺣﺎً ،
ﻭَﺑَﻴْﺖٍ ﻓِﻲ ﺃَﻋْﻠَﻰ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﻟِﻤَﻦْ ﺣَﺴُﻦَ ﺧُﻠُﻘَﻪُ
“
Aku penjamin suatu rumah di surga
yang paling bawah bagi orang yang
meninggalkan perdebatan walaupun
dia benar. Dan aku penjamin suatu
rumah di surga bagian tengah bagi
orang yang meninggalkan berdusta
walaupun bercanda. Dan aku
penjamin sebuah rumah di surga
yang paling tinggi bagi orang yang
bagus akhlaqnya”. (HR. Abu Dawud
dan dihasankan oleh Al-Albani.)
Inilah Sejatinya akhlak Mulia
Sebagaimana yang telah disebutkan
sebelumnya bahwa akhlak mulia
mencakup dua aspek, yaitu: akhlak
mulia kepada khaliq (sang pencipta)
dan akhlak mulia kepada makhluq
(sesama manusia).
Pembahasan mengenai akhlak mulia
kepada makhluq sebenarnya cukup
luas, hanya saja untuk kali ini kita
membatasi pada manusia sebagai
makhluq sosial.
Terkait akhlak mulia kepada khaliq,
hendaknya tercakup didalamnya tiga
perkara berikut:
1. Membenarkan berita-berita dari
Allaah, baik berita tersebut terdapat
dalam Al Qur’an ataupun
disampaikan melalui lisan rasul-Nya
yang mulia dalam hadits-haditsnya.
Meskipun terkadang berita-berita
dalam Al Qur’an dan hadits-hadits
shahih itu tak sejalan dengan
keterbatasan akal kita, hendaknya kita
kesampingkan akal kita yang terbatas
dan membenarkan berita tersebut
dengan sepenuh keimanan tanpa
adanya keraguan. Karena
“Dan siapakah yang lebih benar
perkataan(nya) daripada Allah?” (QS.
An Nisaa: 87)
Konsekuensi dari pembenaran
tersebut adalah hendaknya berjuang
mempertahankan kebenaran berita
tersebut dan tidak roboh oleh
argumen-argumen para pemuja akal
yang seringkali datang menebarkan
syubhat yang meracuni pikiran.
2. Melaksanakan hukum-hukum-Nya,
meskipun terasa berat realitanya,
ketika kita harus melawan hawa
nafsu, akan tetapi hendaknya kita
berakhlak mulia kepada Allah dengan
menjalankan hukum-Nya dengan
lapang dada dan penuh suka cita dan
bukan mengharap penilaian manusia.
Misalnya, ketika kita menjalani puasa
wajib menahan lapar dan dahaga
bukanlah hal ringan bagi hawa nafsu
kita. Namun, akhlak mulia kepada
Allah adalah dengan menjalani hal
tersebut dengan lapang dada dan
ketundukan serta kepuasan jiwa.
3. Sabar dan ridha kepada takdir-Nya,
kendatipun terkadang pahit dan tak
menyenangkan, hendaknya seorang
insan berakhlak mulia kepada Allah
dengan kesabaran menjalani takdir
tersebut karena dibalik hal itu
tentunya Allah menyimpan hikmah
yang besar dan tujuan yang terpuji.
Adapun akhlak mulia kepada
makhluq, hendaknya tercakup di
dalamnya tiga hal pula:
1. Tidak menyakiti orang lain, terkait
jiwa, harta dan kehormatannya.
Dengan demikian tak sepantasnya
memukulnya tanpa alasan apalagi
membunuhnya, tak selayaknya
mencuri hartanya dan tak sepatutnya
mengolok-olok dan melukai
perasaannya dengan panggilan buruk
ataupun menggunjingnya.
Perhatikanlah sabda Rasulullaah
shallallaah ‘alayh wa sallam yang
artinya:
“Sesungguhnya darah-darah kalian,
harta-harta kalian dan kehormatan-
kehormatan kalian haram atas
kalian.” (HR. Bukhari dan Muslim)
kemudian sabdanya lagi yang artinya:
“Seorang muslim adalah orang yang
kaum muslim lainnya selamat dari
lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari).
2. Berderma dengan memberikan
bantuan berupa materi maupun non
materi (bisa berupa ilmu, motivasi,
saran dan lain-lain)
3. Bermuka manis. Hal ini hendaknya
tak dianggap remeh karena
“Janganlah engkau menganggap
enteng perbuatan baik sedikit pun,
meskipun (sekedar-pen-) engkau
berjumpa dengan saudaramu dengan
wajah berseri-seri.” (HR. Muslim).
Syaikh Al ‘Utsaimin berkata: “Bermuka
manis adalah menampakkan wajah
berseri-seri ketika berjumpa dengan
orang lain, lawannya adalah bermuka
masam. “ kemudian beliau
membawakan kisah Ibnu ‘Abbas
radhiyallaah ‘anhu yang ditanya
tentang kebaikan maka Ibnu ‘Abbas
radhiyallaah ‘anhu menjawab, “wajah
yang berseri-seri dan tutur kata yang
halus.” Syaikh kemudian
menyebutkan syair milik seorang
penyair yang artinya,
“Wahai anakku sesungguhnya
kebaikan itu sesuatu yang mudah
Wajah yang berseri-seri dan tutur
kata yang ramah”
Meskipun demikian, bermuka manis
ini tak kemudian tanpa arahan. Hal
itu karena terkadang kita perlu
bermuka masam untuk menghindari
bahaya tertentu. Misalnya, ketika kita
bertemu dengan seorang yang olah
bicaranya pandai dan berpengaruh
tetapi dlm perkara yang buruk maka
hendaknya kita tunjukkan muka
masam kita sebagai tanda
ketidaksukaan kita terhadap dirinya.
Hal itu disebabkan jika kita bermuka
manis padanya dikhawatirkan kita
akan terbawa pengaruhnya & sulit
melepaskan diri dari pengaruhnya yg
buruk.
Dengan demikian, kita perlu
mengingat nasehat nan berfaidah
dari Imam Ibnul Qayyim
Rahimahullaah dalam kitabnya
Ighatsah Al-Lahafan Min Mashayidi
Asy Syaithan:
“Termasuk dari macam-macam
perangkap syaitan dan tipu dayanya
bahwa syaitan mengajak seorang
hamba Allah kepada berbagai macam
bentuk dosa dan kenistaan dengan
sebab akhlak baik si hamba tersebut
dan kemurahan hatinya…”
Oleh karena itu, dalam bab bermuka
manis ini hendaknya kita
menempatkan sesuai pada
tempatnya.
demikianlah kiranya yang bisa
diuraikan. Semoga bermanfaat di
dunia hingga di akhirat yang kekal.
Syaikh As sa’dy dlm kitabnya, Bahjah
Qulubil Abrar menyebutkan pula
bahwa akhlak mulia kpd makhluq
adalah badzalun nadaa (suka
membantu orang lain), ihtimaalul
adzaa (bersabar dng gangguan orang
lain) dan kafful adzaa (tidak
mengganggu orang lain






