My Opera is closing 3rd of March

GaPleK HaNdaYanI

Syirik dan Bahayanya

Assalamu'alaikum warohmatullohi
wabarokatuh...
Ada dua (2) jenis Syirik dari sisi
besar-
kecilnya, yakni Syirik yang Akbar
(besar), dan Syirik yangAsghar (kecil)
:
I. SYIRIK AKBAR (besar)
Konsekuensi dari Syirik Akbar adalah
menghapuskan semua amalan dan
pelakunya langsung masuk Neraka
JIKA meninggal tak bertobat (dalil
dari
Al Quran Surat An Nisaa' ayat
116 ).
Contoh dari Syirik Akbar (dan dapat
dimulai dari bid’ah) adalah seperti:
- Meminta pertolongan atau
bekerjasama dengan Jin-Setan-
Makhluk halus jenis apapun seperti
Siluman,Tuyul, Dalbo, Genderuwo,
Dewa-dewi, Makhluk Jadi-jadian
(seperti Leak, Manusia Harimau dan
sebagainya), Peri, Bidadari, yang
disebut sebagai “Mbah-Eyang” dari
kalangan Makhluk Halus, tokoh masa
lalu yang muncul kembali baik dalam
mimpi maupun muncul dari alam
ghoib dan lain-lain).
Termasuk mempercayai bahwa
makhluk-makhluk ini dapat
mendatangkan suatu manfaat atau
mudhorot(keburukan) kepada
manusia, mempengaruhi langsung
kehidupan dan takdir manusia.
- Memakai kekuatan tertentu
melalui
Jimat dengan tulisan-tulisan.
Termasuk yang dikenal sebagai
Rajjah
atau Rajjah-rajjah dengan aneka
simbol tertentu, yang juga dapat
dalam aneka bentuk seperti kertas
bertuliskan ini , kain bertuliskan ini,
kulit bertuliskan ini, Kalung dengan
ini, Cincin dengan ini, Ikat Pinggang
dengan ini, Sikep, Keris, Tombak, dan
sebagainya; untuk suatu hal-
perkara.
- Menggunakan Sihir,yang jelas
adalah dengan mengandalkan
bantuan dari yang disebutkan diatas.
Misalnya, melakukan hal-hal ajaib
non-manusiawi dengan ciri utama
adalah ini dapat dilakukannya kapan
saja ia inginkan, seperti berpindah
tempat seketika, mengetahui
rahasia-
pikiran orang, mengetahui gambaran
masa depan, mengambil-mencuri
barang dari jauh, menggunakan
Ajian
Pelet, Ajian Buluh Perindu, Susuk
untuk pesona dan/atau kecantikan
dan/atau kewibawaan dan lain-lain,
Ilmu Kebal, dan sebagainya.
- Meminta doa-pertolongan dari atau
melalui orang yang sudah mati
(walaupun yang sudah mati itu
dikenal sebagai orang 'alim-salih,
disebut-dikenal sebagai Wali atau
bahkan kepada atau melalui para
Nabi
termasuk kepada atau melalui
Rosululloh Muhammad shollollohu
‘alaihi wasallam sekalipun).
o Termasuk berdoa kepada Allah
melalui orang yang sudah mati,
walaupun orang itu dikenal,
dianggap
sebagai orang ‘alim, Ustadz, Da’i,
Tuan
Guru, Kyai, Syaikh, Habib, Sayyid,
Imam, Wali, bahkan melalui Nabi
yang
manapun sekalipun. Misalnya
dengan
kalimat(doa) yang ditujukan kepada
orang yang telah meninggal dunia
seperti ini:
“Kanjeng Sunan (Wali) -atau Mbah
Wali - tolong sampaikan doa saya
kepada (Gusti) Allah, bahwa
sayameminta … (ini dan itu) …
Bantulah saya … ”
“Yaa Musthofa, yaa Habibi, yaa
Sayyidina (dsb.) Rosululloh
Muhammad shollollohu ‘alaihi
wasallam,tolong sampaikan doa saya
kepada Allah, bahwa saya meminta

(ini dan itu) …Bantulah saya … ”
- Meminta pertolongan DARI atau
MELALUI Kuburan, mengagungkan-
mengkultuskan Kuburan, bahkan
beribadah (semedhi-meditasi, sholat,
berdzikir, membaca Al Quran, dan
sebagainya) di Kuburan, dan
berkaitan
juga dengan yang sudah disebutkan
di
atas dengan meminta pertolongan
dari atau melalui ruh atau mayyit
yang dimakamkan di kuburan itu
atau
‘anak-buahnya’.
o Ziarah Kubur adalah sunnah dan
sangat boleh dilakukan. Namun jika
lantas diikuti dengan perilaku
kesyirikan (seperti di atas), maka ini
adalah dilarang.
Misalnya kepada orang yang sudah
meninggal namun dianggap salih dan
baik yang bahkan diyakini sebagai
Wali pada masa hidupnya, ziarah ke
kuburan para Sahabat dan Ahlul Bait
rodhiollohu ‘anhum yang hidup di
masa Rosululloh shollollohu ‘alaihi
wasallam atau sesudahnya, atau
bahkan ziarah ke kuburan (para)
Nabi
pun, termasuk kuburan Rosululloh
shollollohu ‘alaihi wasallam,
sungguh
dapat menjebak menjadi Syirik, jika
lantas diikuti dengan perilaku
kesyirikan (seperti di atas).
o Dalam sejarah Islam, bahkan
Ka’bah
sebagai pusat peribadahan muslim
pernah menjadi tempat
pemyimpanan
sejumlah patung berhala dan
pemujaan terhadapnya sebelum
patung-patung itu dimusnahkan
oleh
Rosululloh shollollohu ‘alaihiwas
allam.
Pemberhalaan ini (pematungan,
pengornamenan, pencitraan, dan
sebagainya) serta pemercayaan
Tuhan menjadi banyak (Politeisme
atau Syirik) kemudian, biasanya
disebabkan pemujaan terhadap
sesosok manusia yang dianggap
mulia
dan/atau menonjol pada masanya
(mungkin sebagai bahan
memorabilia-
pengingatan mudahnya karena
jaman
dulu belum ada fotografi sepeti
sekarang ini) yang kemudian
perlahan
bergeser menjadi pemujaan-p
enuhanan terhadapnya, atau adalah
karena disebabkan khayalan
manusiawi semata akan bentuk dari
Tuhan; dan sebagainya, pada
awalnya.
Ini dapat pula dibaca antara lain di
berbagai karya “Sirah Nabawiyah”
dari
berbagai penulis terkemuka, dan
juga
“The History of the Arabs” oleh Philip
Khuri Hitti.
o Hal yang serupa, dapat terjadi
kepada pengkultusan makam atau
kuburan manusia yang dianggap
salih-muliadan/atau menonjol pada
masanya. Banyak yang berlebihan
menyikapi kuburanseseorang yang
diyakini manusia sebagai orang salih,
Kyai, Habib, Sayyid, Wali,misalnya.
Padahal, siapakah yang mengetahui
seseorang itu Wali atau tidak, selain
Allah subhanahu wata’aala?
Apakah karena seorang Muslim
melakukan berbagai keajaiban
seseorang pasti adalah Wali? Apakah
pun jika seseorang itu adalah Wali
maka ia ma’shum tak ada berdosa
sama-sekali?

Syirik Asghar (kecil),dibagi menjadi
yang:
(1) Zhahir (nyata):
“Barangsiapa bersumpah dengan
selain Nama Allah subhanahu wa
ta’aala maka ia telah berbuat Kufur
atau Syirik.“
(HR At Tirmidzi no
1535,Al Hakim I/18 & IV/297, Ahmad
II/34, 69, 86 dari ‘Abdullah bin Umar -
rodhiollohu ‘anhu -)
Misalnya:
Bersumpah "Demi Rosululloh!",
"Demi
Ka'bah!", "Demi Bapak-Ibuku!", dsb.
Ini
tidak perlu dan tidak diperbolehkan
dalam agama.
Jika masih ingin 'seperti' ini, boleh,
jika
diubah menjadi, "Demi Allah
subhanahu wa ta’aala
yangmengutus
Rosululloh!", "Demi Allah
subhanahu
wa ta’aala yang mempunyai Ka'bah!",
"Demi Allah subhanahu wa ta’aala
yang menggenggam hidup-mati
nyawa Bapak-Ibuku!"
Dan sebagainya.
(2) Khafi (yang tersembunyi):
Yakni Syirik yang berada dalam
keinginan dan niat, seperti:
- Riyaa’ (ingin dipuji orang) dan
sum’ah (ingin didengar orang)
- Melakukan amal-ibadah
mendekatkan diri kepada Allah
subhanahu wa ta’aala tetapi ia ingin
mendapatkan pujian atau balasan
dari
manusia, dll.
Contoh atau misalnya:
- Mengucapkan tahlil(“Laa ilaa ha
illallah”), tahmid ”Alhamdulillah”),
takbir (“Allahu akbar”, tasbih
(“Subhanallah”), berbuat amal baik
agamis, dan sebagainya, jika di depan
atau di sekitar orang yang ia ingin
membuat kesan baik terhadap orang
itu (agar dikira sebagai orang baik,
'alim, dsb).
- Membaguskan bacaan AlQuran
karena di sekitarnya ada orang yang
ia
segani-hormati-cintai.
- Sholat dengan khusyu' karena ada
orang yang ia hormati-cintai-hormati
di sekitarnya.
- Bersedekah karena ingin dianggap
dermawan, baik, terhormat,
beragama.
- Menolong seseorang bukan karena
niat murni karena Allah, melainkan
karena berharap imbalan sesuatu
hal,
pamrih, dari manusia. Misalnya:
• Meminjami uang agar orang yang
dipinjami uang itu sungkan,
berhutang-budi (selain berhutang
uang)kepadanya.
• Meniadakan hutang agar orang itu
berhutang budi kepadanya. Dan
termasuk mungkin agar satu saat
hutang budi ini dijadikan alat untuk
memaksa orang itu melakukan
sesuatu yang takdisukainya.
• Menolong-berbuat baik kepada
seseorang agar orang yang
ditolongny
a jatuh cinta kepadanya.
• Meniadakan hutang (baik hutang
material maupun hutang budi)
seorang perempuan (atau lelaki)
yang
disenanginya agar perempuan (atau
lelaki) itu takluk kepadanya, mau
diperistrinya, yang sebenarnya
adalah
suatu bentuk ‘pemerasan terselubun
g’, dan sebagainya.
• Dan lain-lain.
- Berkhutbah, berdakwah,
memberikan pengajian dan
sebagainya supaya dianggap
hebat-‘alim-terhormat-baik-agamis,
dan sebagainya.
Juga karena mengharapkan uang-
imbalan-penghargaan dari manusia,
bukan karena Allah subhanahu wa
ta’aalaatau bukan karena
mengharapkan ridho (kerelaan) dari
Allah subhanahu wata’aala.
Termasuk di antaranya adalah
memasang tarif tertentu untuk
khutbah, dakwah, pengajian, dan
sebagainyaitu.
- Tampil berbaju yang dianggap
sebagai ‘standar baju atau busana
muslim’ dengan segala kelengkapa
nnya supaya dianggap muslim, ‘alim,
salih, sedang mode, dan sebagainya,
bukan karena supaya menjalankan
syari’at Islam dan mendekat kepada
Allah, berhias untuk Allah, karena
Tauhid.
- Dll.
Maka amalan yang tercampur
dengan
riyaa’ ini, tertolak, sesuai dalil dari
Al
Quran Surat Al Kahfi ayat 110.
Dan ingatlah bahwa:
Rosululloh shollollohu‘alaihi
wasallam bersabda, “Sesungguhnya
yang paling aku takutkan atas kalian
adalah Syirik Kecil.” Mereka (para
Sahabat rodhiollohu ‘anhum)
bertanya,“Apakah Syirik Kecil itu
wahai Rosululloh?” Beliau
menjawab,
“Yaitu Riyaa’.“
(Dikutip dari Hadits
Riwayat (Imam) AhmadV/428-429
dan
Al Baihaqi dalam “Syarhus Sunnah”
XIV/324 no 4135 dari Sahabat
Mahmud
bin Labid - rodhiollohu ‘anhu -)Ancaman bagi yang berbuat Syirik:
1. Allah subhanahu wata’aala tidak
akan mengampuninya jika ia mati
dalam kesyirikan dan tidak bertaubat
terlebih dahulu (dalil dari
Al Quran
Surat An Nisaa’ ayat 116 )
2. Surga diharamkan untuk orang
Musyrik (dalil dari
Al Quran Surat Al
Maaidah ayat 72 )
3. Syirik menghapuskan pahala
seluruh amal kebaikan (dalil dari
Al
Quran Surat Al An’aam ayat 88, Al
Quran Surat Az Zumar ayat 65
)
4. Orang Musyrik itu halal darah dan
hartanya (dalil dari
Al Quran Surat At
Taubah ayat 47-54 terutama ayat
50 )
dengan catatan pelaksanannya
harus
melalui otoritas (penguasa-
pemerintahan) muslim yang adil dan
diakui, bukan sembarangan
dilakukan
individu muslim. Asbabun Nuzul
(sebab turunnya ayat) dari ayat
kelimapuluh (50) dari Surat At
Taubah itu adalah mengenai mereka
yang munafiq, syirik dalam berjuang
yang seakan-akan di jalan Allah,
seakan-akan karena Allah, namun
justru berkhianat terhadap umat,
dalam Perang Tabuk.
Al Quran Surat Al An’aam 153:
Dan bahwa (yang Kami perintahkan
ini) adalah jalanKu yang lurus, maka
ikutilah dia, dan janganlah kamu
mengikuti jalan-jalan (yang lain),
karena jalan-jalan itu mencerai-b
eraikan kamu dari jalanNya. Yang
demikian itu diperintahkan Allah
agar
kamu bertakwa.
Tafsirnya oleh Rosululloh
Muhammad - shollollohu ‘alaihi
wasallam - sendiri:
Dari ‘Abdullah bin Mas’ud, ia berkata:
Rosululloh - shollollohu ‘alaihi
wasallam - telah membuat untuk
kami satu garis lurus dengan
tangannya.
Kemudian beliau bersabda, “Inilah
jalan Allah yang lurus”
Lalu beliau membuat beberapa garis
ke sebelah kanan dan kiri, kemudian
beliau bersabda, “Inilah jalan-jalan
(yang begitu banyak) yang bercerai-
b
erai, atas setiap jalan itu terdapat
syaithan yang mengajak ke
arahnya.”
Kemudian beliau membaca Al An
‘aam
(ayat) 153.
(HR. Ahmad, Ibnu Hibban, Hakim, Ibnu
Abi ‘Ashim di kitabnya As Sunnah)
Wallohua'lam. Wastaghfirulloh.
Walhamdulillah

4 Kali Disambar Petir, Pria Ini Dikubur Hidup-hidupRendah Hati 1.

Write a comment

New comments have been disabled for this post.

February 2014
M T W T F S S
January 2014March 2014
1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28