Friday, 2. January 2009, 05:56:20
Setelah berusaha melakukan perlawanan sekian lama di depan pesta pembantaian itu, Imam Husain as mencoba menjauh dari pasukan lawan untuk mengatur nafas. Namun, tiba-tiba sebuah batu melayang dari arah musuh dan mengena kepala beliau. Darah pun mengucur deras lagi. Belum selesai beliau mengusap darahnya yang suci itu, dada beliau diterjang sebuah anak panah bermata tiga. Tertembus panah beracun itu, beliau berucap: "Bismillahi wa billahi wa ala millati rasulillah".
Beliau menatap langit dan berdesah lagi: "Ilahi, sesungguhnya Engkau mengetahui mereka telah membunuh seseorang di muka bumi yang tak lain adalah putera Nabi".[ 9 ]
Copy from:
http://d.scribd.com/docs/aimyhoygctx47ztbvi0.pdf
Di saat beliau semakin kehabisan tenaga itu, beliau mencabut anak panah itu dari dadanya. Darah kembali menggenang. Sebagian beliau hamburkan ke atas dan sebagian yang lain beliau usapkan ke wajahnya sambil berucap: "Beginilah aku jadinya hingga aku bertemu dengan datukku Rasulullah sawaw dalam keadaan berlumuran darah, lalu aku adukan kepada beliau: '
fulan, fulan telah membunuhku'."[ 10 ]
Puas menatap pemandangan seperti ini, bala tentara musuh sejenak menghentikan kebrutalannya. Mereka terkekeh-kekeh menyaksikan Imam Husain as berdoa: "Ya Rabbi, aku bersabar atas ketetapanMu, tiada Tuhan selainMu, wahai Penolong orang-orang yang memohon pertolongan. Tiada Tuhan Pemelihara kami selainMu, tiada Tuhan Yang Patut disembah kecuali Engkau. Aku bersabar atas ketentuan (hukum)Mu, wahai Pelindung orang-orang yang tak memiliki perlindungan, wahai Zat Yang Maha Kekal dan Tak Berpenghabisan, wahai Yang Menghidupkan orang yang sudah mati, wahai Zat Yang Menghakimi setiap jiwa sesuai perbuatannya, hakimilah antara aku dan mereka, sesungguhnya Engkau adalah yang terbaik diantara para hakim".[ 11 ]
Setelah itu sempat terjadi keheningan beberapa saat. Untuk sementara waktu masih belum ada seorang pun yang berani tampil sebagai pembunuh utama cucu Rasulullah sawaw itu di depan Allah SWT kelak.
Diriwayatkan bahawa saat itu pula tiba-tiba Imam Husain as didatangi bayangan wajah datuk dan ayahnya. Wajah-wajah suci itu bertutur kepada beliau: "Cepatlah kemari, sesungguhnya kami sangat merindukanmu di surga".[ 12 ]
Keheningan itu ternyata tak berlangsung lama. Umar bin Saad kembali buas dan memerintahkan anak buahnya untuk segera menghabisi riwayat Imam Husain as. Maka tampillah Shabats sebagai orang pertama yang berani mendaratkan mata pedangnya ke kepala Imam Husain as. Namun, saat mata Imam as menatap tajam wajah Shabats, tubuh pria kurang ajar ini tiba-tiba bergemetaran lalu menggigil keras sehingga pedang yang di tangannya terhempas ke tanah.
Dengan wajah pucat pria itu berkata kepada Umar bin Sa'ad: "Hai Putera Saad, kamu tidak mau membunuh sendiri Husain agar nanti akulah yang akan dibalas. Tidak. Aku tidak mau bertanggungjawab atas darah Husain".
Syabats segera ditegur oleh seseorang bernama Sannan bin Anas. "Kenapa kamu tidak jadi membunuhnya?!" Tanya Samnan ketus.
Syabats menjawab: "Dia menatap wajahku, Sannan! Kedua matanya menyerupai mata Rasulullah sawaw. Sungguh, aku segan membunuh seseorang yang mirip dengan Rasulullah sawaw".
Sannan dengan bongkaknya berkata: "Berikan kepadaku pedangmu itu, karena akulah yang lebih patut untuk membunuhnya". Begitu pedang itu pindah ke tangannya, Sannan segera menenggerkannya di atas kepala beliau.
Imam yang sudah tak berdaya itu kembali menatap wajah orang yang berniat menghabisinya itu. Seperti yang dialami, Syabats, tubuh Sannan yang kotor itu tiba-tiba juga menggigil ketakutan setelah ditatap Imam dengan tajam.
Sannan mengambil langkah mundur sambil berucap: "Aku berlindung kepada Tuhannya Husain dari pertemuan denganNya dalam keadaan berlumuran darah Husain".
Kini tibalah giliran Syimir bin Dziljausan. Pria yang menutupi wajah dan hanya menyisakan celah untuk matanya ini menghampiri Sannan sambil mengumpat. "Semoga ibumu meratapi kematianmu, kenapa urung membunuhnya!?" Maki Syimir.
Sannan menjawab: "Tatapan matanya mengingatkanku pada keberanian ayahnya. Aku takut. Aku tak berani membunuhnya".
Sambil menyeringai Syimir berseru: "Berikan pedang itu kepadaku. Demi Allah, tak ada seorangpun yang lebih layak dariku untuk membunuh Husain. Akulah yang akan menghabisinya, walaupun dia mirip AlMustafa
ataupun AlMurtadha".
Syimir berpaling ke arah pasukannya lalu membentak: "Hai, tunggu apa lagi?! Cepat bunuh dia!!"
Tanpa basa-basi lagi, satu anak panah melesat ke arah Imam Husain as dari Hissin bin Numair. Sejurus kemudian yang lain ikut ramai-ramai menghajar Imam Husain as sehingga tak ada anggota tubuh suci cucu Rasulullah sawaw itu yang luput dari hantaman benda tajam, dan benda tumpul. Batu-batu pun bahkan ikut meremukkan tubuh beliau.
Syimir bersumbar lagi: "Ha, ha, ha, tak ada orang yang lebih patut dariku untuk membunuh Husain".
Dia bergerak mendekati Imam Husain as yang terbaring di tanah lalu menduduki dada Imam Husain as yang masih bergerak turun turun naik. Imam as mencoba membuka kedua kelopak matanya dan menatap wajah Syimir yang menyeringai di depan wajah beliau, namun tatapan beliau kali ini tak meluluhkan hati Syimir yang sudah sangat membatu.
Bukannya ketakutan, dari mulut Syimir yang tertutup kain itu malah keluar kata-kata: "Aku bukanlah seperti mereka yang mengurungkan niat untuk membunuhmu itu. Demi Allah, akulah yang akan menceraikan kepalamu dari jasadmu, walaupun aku tahu kamu adalah orang yang paling mulia karena datuk, ayah, dan ibumu itu."
"Hai siapa kamu sehingga berani menduduki tubuh yang sering diciumi oleh Rasulullah sawaw ini?"
"Aku Syimir bin Dzil Jausyan!"
"Apakah kamu tahu siapa aku?"
"Aku tahu persis, Ayahmu adalah Ali AlMurtadha, ibumu Fatimah Azzahra, datukmu Muhammad alMustafa,
dan nenekmu Khadijah AlKubra."
"Alangkah celakanya kamu. Kamu tahu siapa aku, tetapi mengapa akan membunuhku dengan cara seperti ini?"
"Supaya aku bisa mendapat imbalan besar dari Yazid bin Muawiyah".
"Kamu lebih menyukai imbalan dari Yazid daripada syafaat datukku?"
"Yah, aku lebih menyukai imbalan dari Yazid."
"Karena tidak ada pilihan lain bagimu kecuali membunuhku, maka berilah aku seteguk air."
"Oh tidak! Itu tidak mungkin, kamu tidak mungkin bisa meneguknya sebelum kamu meneguk kematian."
Syimir kemudian menyingkap dan melepas kain penutup muka yang hanya menyisakan celah untuk kedua matanya yang juling itu. Maka, nampaklah seluruh wajah Syimir yang buruk, kasar, belang, dan ditumbuhi bulu-bulu keras itu. Mulutnya ditutup oleh penutup seperti penutup mulut anjing supaya tak menggigit.
Melihat wajah Syimir, Imam Husain as segera berucap: "Benar apa yang dikatakan oleh Rasulullah."
"Apa yang dikatakan datukmu itu?!" Tanya Syimir angkuh.
"Datukku pernah berkata kepada ayahku, 'Ali: Sesungguhnya puteramu ini akan dibunuh oleh
seseorang yang berkulit belang, bermata juling, bertutup mulut seperti anjing, dan berambut
keras seperti bulu babi.'"
"Datukmu telah menyamakanku dengan anjing?! Demi Allah, aku akan memisahkan kepalamu dari lehermu".
Syimir mencabut pedang dari sarungnya dan tanpa membuang waktu lagi, lelaki bengis itu mengayunkan pedangnya sekuat-kuat hatinya ke leher cucu Rasulullah sawaw dan putera Fatimah Azzahra itu. Sekali tebas, kepala manusia mulia itu terlepas dari badannya. Terpisahnya kepala manusia suci itu disusul dengan suara takbir tiga kali dari liang mulut bala tentara Umar bin Saad yang busuk itu.
Kepala yang dulu sering diciumi oleh Rasulullah SAWAW itu ditancapkan ke hujung tombak.
Di antara mereka terdengar teriakan keras: "Bergembiralah hai Amir! Inilah Syimir yang
telah membunuh Husain!"
Langitpun kelabu. Bumi meratap pilu.
http://abatasya.net/content/category/8/47/86/ 15