Seni Memimpin Ala Nelson Mandela
Thursday, 9. October 2008, 14:43:31
Mantan Presiden Afrika Selatan yang juga peraih Nobel Perdamaian, Nelson Mandela telah menapaki perjalanan panjang dalam hidupnya. Dia tepat berusia 90 tahun pada 18 Juli 2008 ini. Pria yang kini sudah harus memakai tongkat saat berjalan, memiliki nama lengkap Nelson Rolihlahna Mandela. Dalam bahasa Xhosa Rolihlahna berarti pembuat onar.
Nyatanya, dia memang telah “membuat onar” sepanjang hidupnya –tentu dalam makna positif bagi kaum kulit hitam yang dibelanya mati-matian.
Pria yang menghabiskan 27 tahun masa hidupnya dalam penjara ini berhasil memerdekakan bangsanya dari rezim apartheid yang resialis, penuh prasangka dan kekerasan.
Berikut adalah prinsip kepimimpinan yang bisa kita ambil dari sosok Mandela, yang merupakan tulisan Richard Stengel, wartawan Time sekaligus editor buku Long Walk To Freedom: The Autobiography of Nelson Mandela.
Prinsip itu dikenal dengan sebutan Aturan Madiba (Madiba’s Rules). Madiba adalah nama marga, sekaligul nama panggilan sayang rakyat Afrika Selatan terhadap Mandela.
1.Aturan Pertama:
“Berani bukanlah tiadanya rasa takut. Keberanian menginspirasi orang untuk mengatasi rasa takut”.
Mandela bukannya tak pernah takut. Suatu ketika, pesawat yang ditumpangi Mandela mengalami kerusakan mesin. Ditengah mereka yang panik, Mandela malah duduk santai sambil membaca koran. Belakangan dia bilang, dia juga sangat takut. Dia berpura-pura berani. Itu yang justru menenangkan orang lain.
2.Aturan kedua:
“Memimpin dari depan. Tetapi jangan meningal kan kekuatan bagian belakang”.
Saat Mandela memutuskan berdialog dengan pemerintah apartheid, banyak temannya menudingnya sudah “menjual diri”. Mandela kemudian mendatanginya satu per satu dan membujuknya pelan-pelan.
3.Aturan Ketiga:
“Memimpin dari belakang, dan biarkan orang percaya bahwa mereka berada di depan”.
Mandela biasa membiarkan orang lain mengemukakan pendapatnya dahulu. Setelah itu, dia menyimpulkan dan menyampaikan pendapatnya sendiri.
“Adalah bijak membuat orang melakukan sesuatu dan membuatnya berpikir bahwa mereka menjalankannya karena merasa memiliki ide itu,” ungkap Mandela.
4.Aturan Keempat:
“Kenali musuhmu dan pelajari olahraga favoritnya”.
Tahun 1960-an, Mandela harus menghadapi orang-orang kulit putih Afsel yang menciptakan sistem apartheid. Mamdela tahu bahwa suatu ketika dia akan bernegosiasi dengan mereka. Mandela akhirnya mendalami bahasa dan kesukaan mereka dalam berolah raga sebagai sarana baginya untuk bisa dekat dan memahami pola pikir mereka (musuhnya).
5.Aturan Kelima:
“Dekatlah dengan temanmu, tetapi harus lebih dekat dengan musuhmu”.
6.Aturan Keenam:
“Perhatikan penampilan, jangan lupa untuk tersenyum”.
Penampilan adalah salah-satu hal yang selalu dijaga oleh Mandela. Senyum, katanya, merupakan senjata ampuh untuk meluluhkan hati orang yang diajak bicara.
7.Aturan Ketujuh:
“TAk ada perbedaan antara kulit putih dan kulit hitam”.
8.Aturan Kedelapan:
“Berhenti berkarier adalah juga memimpin”. Seorang pemimpim tidak selalu menjadi orang nomor Satu. Kekalahan juga harus bisa diterima oleh seorang pemimpin. Itu menunjukan bahwa kepemimpinannya tidak selamanya harus dengan cara duduk menjadi orang nomor satu.
(Ari Nursanti/”PR”, source “Time”)
















myagu # 13. November 2008, 15:07
hi_care # 14. November 2008, 06:00