Catatan 21 September 2011
Sunday, September 25, 2011 9:50:28 PM
Walaupun tidak bisa membagi pengalamanku dengan orang lain secara langsung, setidaknya aku bisa menuliskan cerita yang aku dapat pada malam hari ini sekitar jam delapan.
Sewaktu aku melihat kakak keponakanku membaca tulisan arab didepan komputer, aku kira dia belajar bahasa arab—kegiatan rutin yang biasa dia lakukan. Ternyata sewaktu aku melihat sekilas buku yang dia baca aku mulai menanyakan,
“Buku apa sih itu?”
“Oh ini, buku (agama) yang ditulis sejak tahun 2 Hijriyah hingga sekarang, diketik, kemudian dikumpulkan dalam satu dvd.”
“Ada terjemahan bahasa inggrisnya nggak?”
“Nggak ada”
“Wah pusing aku kalau lihat tulisan arab-arab gitu!”
“Kamu aja lihat tulisan arab pusing, kamu bisa bahasa inggris sedangkan aku nggak bisa bahasa inggris”
Sebenarnya ada betulnya juga kakak keponakanku berkata seperti itu. Setiap orang memiliki keinginan dan kemauan yang berbeda, karena perkataan itulah kita bisa membagi pemikiran tentang kemauan, kecerdasan dan usaha.
Sebenarnya bisa dikatakan orang yang pintar bisa kalah dengan orang yang memiliki kemauan yang kuat dalam melihat masalah dan mengolah masalah. Orang yang memiliki IQ yang tinggi bisa dikatakan memiliki tingkat analisa dan logika yang tinggi, tetapi untuk tingkat keberhasilan dalam mengolah masalah yang memerlukan tuntutan tinggi dalam berpikir diperlukan sebuah keinginan kuat beserta pemikiran yang jenih.
Orang bodoh bisa menjadi cerdas apabila dia memiliki keinginan yang kuat untuk mengolah masalah kemudian menjalankannya tanpa banyak bicara. Semakin banyak dia mendapatkan pengalaman yang baik, maka semakin mudah pula untuk meraih keberhasilan seperti yang diinginkan.
Dan orang pintar belum tentu bisa mengolah masalah dengan baik apabila banyak berpikir dan berbicara terlebih dalam berdebat tanpa melakukan tindakan seperti yang dikatakan.
Sampai saat ini pun saya masih menemui orang tua yang beranggapan bahwa apabila seorang anak melakukan tes intelegensi (IQ) kemudian hasilnya rata-rata atau dibawah rata-rata, maka didalam pikiran mereka adalah rasa kecewa kenapa anaknya bisa sebodoh itu tidak seperti teman lainnya yang memiliki tingkat IQ yang tinggi. Akibat dari pemikiran ini, kebanyakan dari mereka melakukan pengekangan terhadap kreasi dari anak-anak mereka, menurunkan mental anak-anak mereka, akibatnya sang anak akan berpikiran negatif dan melakukan kegiatan dimana salah dan benar semuanya sama saja hanya untuk menghilangkan tekanan dan rasa kecewa yang didapatkan dari orang tua.
Padahal yang lebih penting dari itu semua adalah bagaimana mengarahkan emosi sang anak supaya lebih terarah untuk memiliki kemauan yang kuat untuk belajar, menganalisa dan menerapkan suatu hal yang kemudian hasilnya seperti yang diinginkan oleh anak maupun orang tua tanpa merugikan salah satu pihak.
Ada juga pemikiran dari orang tua bahwa setidaknya ketika mereka memasuki usia diatas sepuluh tahun, mereka sudah harus berpikir sendiri bagaimana membedakan hal yang baik dan buruk demi masa depan mereka. Supaya ketika nantinya sang anak melakukan kesalahan, orang tua hanya perlu memarahi mereka saja tanpa memberikan pengarahan yang jelas bagaimana sang anak harus bertindak. Sudah jelas ini salah.
Bisa saja didikan seperti itu diakibatkan orang tua terlalu banyak menonton film yang tidak mendidik seperti sinetron yang hanya mengundang kebencian dan amarah. Cara berpikir orang tua yang memiliki prinsip tidak peduli dan terlalu malas untuk menganalisa. Padahal tingkat kemauan yang tinggi perlu diasah kepada sang anak sejak kecil hingga ketika dia bisa mandiri seperti yang diharapkan.
Manajemen emosi memang diperlukan bagaimana harus melihat, memperhatikan, berpikir, bertindak kemudian berbicara yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dan apabila sudah terbiasa, maka kita bisa melakukannya diluar kepala. Ini sama halnya ketika kita belajar menaiki sepeda, menggambar. Karena terbiasa, kita bisa melakukannya.
Sewaktu aku melihat kakak keponakanku membaca tulisan arab didepan komputer, aku kira dia belajar bahasa arab—kegiatan rutin yang biasa dia lakukan. Ternyata sewaktu aku melihat sekilas buku yang dia baca aku mulai menanyakan,
“Buku apa sih itu?”
“Oh ini, buku (agama) yang ditulis sejak tahun 2 Hijriyah hingga sekarang, diketik, kemudian dikumpulkan dalam satu dvd.”
“Ada terjemahan bahasa inggrisnya nggak?”
“Nggak ada”
“Wah pusing aku kalau lihat tulisan arab-arab gitu!”
“Kamu aja lihat tulisan arab pusing, kamu bisa bahasa inggris sedangkan aku nggak bisa bahasa inggris”
Sebenarnya ada betulnya juga kakak keponakanku berkata seperti itu. Setiap orang memiliki keinginan dan kemauan yang berbeda, karena perkataan itulah kita bisa membagi pemikiran tentang kemauan, kecerdasan dan usaha.
Sebenarnya bisa dikatakan orang yang pintar bisa kalah dengan orang yang memiliki kemauan yang kuat dalam melihat masalah dan mengolah masalah. Orang yang memiliki IQ yang tinggi bisa dikatakan memiliki tingkat analisa dan logika yang tinggi, tetapi untuk tingkat keberhasilan dalam mengolah masalah yang memerlukan tuntutan tinggi dalam berpikir diperlukan sebuah keinginan kuat beserta pemikiran yang jenih.
Orang bodoh bisa menjadi cerdas apabila dia memiliki keinginan yang kuat untuk mengolah masalah kemudian menjalankannya tanpa banyak bicara. Semakin banyak dia mendapatkan pengalaman yang baik, maka semakin mudah pula untuk meraih keberhasilan seperti yang diinginkan.
Dan orang pintar belum tentu bisa mengolah masalah dengan baik apabila banyak berpikir dan berbicara terlebih dalam berdebat tanpa melakukan tindakan seperti yang dikatakan.
Sampai saat ini pun saya masih menemui orang tua yang beranggapan bahwa apabila seorang anak melakukan tes intelegensi (IQ) kemudian hasilnya rata-rata atau dibawah rata-rata, maka didalam pikiran mereka adalah rasa kecewa kenapa anaknya bisa sebodoh itu tidak seperti teman lainnya yang memiliki tingkat IQ yang tinggi. Akibat dari pemikiran ini, kebanyakan dari mereka melakukan pengekangan terhadap kreasi dari anak-anak mereka, menurunkan mental anak-anak mereka, akibatnya sang anak akan berpikiran negatif dan melakukan kegiatan dimana salah dan benar semuanya sama saja hanya untuk menghilangkan tekanan dan rasa kecewa yang didapatkan dari orang tua.
Padahal yang lebih penting dari itu semua adalah bagaimana mengarahkan emosi sang anak supaya lebih terarah untuk memiliki kemauan yang kuat untuk belajar, menganalisa dan menerapkan suatu hal yang kemudian hasilnya seperti yang diinginkan oleh anak maupun orang tua tanpa merugikan salah satu pihak.
Ada juga pemikiran dari orang tua bahwa setidaknya ketika mereka memasuki usia diatas sepuluh tahun, mereka sudah harus berpikir sendiri bagaimana membedakan hal yang baik dan buruk demi masa depan mereka. Supaya ketika nantinya sang anak melakukan kesalahan, orang tua hanya perlu memarahi mereka saja tanpa memberikan pengarahan yang jelas bagaimana sang anak harus bertindak. Sudah jelas ini salah.
Bisa saja didikan seperti itu diakibatkan orang tua terlalu banyak menonton film yang tidak mendidik seperti sinetron yang hanya mengundang kebencian dan amarah. Cara berpikir orang tua yang memiliki prinsip tidak peduli dan terlalu malas untuk menganalisa. Padahal tingkat kemauan yang tinggi perlu diasah kepada sang anak sejak kecil hingga ketika dia bisa mandiri seperti yang diharapkan.
Manajemen emosi memang diperlukan bagaimana harus melihat, memperhatikan, berpikir, bertindak kemudian berbicara yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dan apabila sudah terbiasa, maka kita bisa melakukannya diluar kepala. Ini sama halnya ketika kita belajar menaiki sepeda, menggambar. Karena terbiasa, kita bisa melakukannya.












