IBENK SABLENK

NON STOP FLIGHT....TIDAK MENDAPAT...!!!!

Subscribe to RSS feed

TRILOGY ADALAH...



Matanya beradu tajam dengan cahaya bulan
Menantang
Dan dalam dingin yang merajahkan huruf – huruf sepi,
Bibirnya tetap hangat
Api menunduk hormat pada jenazah ciuman yang jatuh di rumput basah
Sudah cukup saja…besok kan kukulum lagi bibir itu
Tapi bukan di bibir
Rasa ini menyesakkan ruang sebatas edaran pandang
Dia yang merapatkan tubuh padaku
Bukan karena menggigil,
Melainkan mempertemukan induk hati masing – masing

Dunia dalam kepalaku menyudahi permainan gasing
Dua jam kebelakang dan satu menit ke depan
Adalah penikam rindu yang beranak bini

Heran…baru sekali ini bulan nampak dalam mataku terang
Menyapa riang matahariku dalam dekapan.
Sebenarnya….berada berdua tanpa mata asing adalah lebih baik
Tetapi jika itu bulan…..biarkan saja
Dia sungguh diharapkan keberadaanya

Legendaku berjalan mati disini
Pengakhiran kisah menyumblim menjadi buku tanpa aksara lama
Kelak kuserahkan padanya…..untuk dibaca
Bukankah rahasiamu rahasiaku adalah kata tamat yang sesungguhnya
Maka sampai disini saja…..disini saja…legendaku mati .
Trilogy adalah milik manusia – manusia yang tak puas dengan perasaannya.




Ibenk, 18 september 2006




[/ALIGN][/B][/I][/COLOR]

PENGAP. DJUGA HARAPAN.




Seperti yang kita bicarakan satu tahun lampau. Duduk bersila dengan rokok terselip di bibir.
Berbicara masa, lalu mengalirlah kata – kata rumit yang sedikit demi sedikit mulai di mengerti.
Pernah aku melamun sebentar…sebuah pemikiran sederhana seseorang belum tentu mudah dimengerti orang lain, satu yang pasti, sang pendengar tidak bodoh tentunya.
Melihat lagi…..sama –sama memandang putihnya langit – langit yang di sana sini tergores paku. Terkelupas. Lalu berpisah.
Kepulan asap rokok pun memenuhi ruangan. Pengap. Djuga harapan. Dimana tempat kami ?
Kita di katakan terjerumus jalan masing – masing. Entah suka entah menderita. Tapi kita jalan sebab kita laki – laki. Berkeringat walau dalam kenyataanya tanpa sadar impian kita semakin jauh. Apalagi yang di cari ?
Melakukan sesuatu tanpa ada tujuan adalah hal yang sia – sia bukan ?
Aku tiada henti membukukan dosa dan mempelajarinya. Dosa satu dan lainnya berdiri sendiri dan berkembang biak. Suara – suara penyejuk seperti hambar di telinga, apalagi di hati…!!! Segalanya bergetar berbarengan. Dosa dan impian. Pahala dan ketentuan konvensional . Bertarung bertahun – tahun tiada jua menemu titik tertinggi.
Berbagai koordinat titik terkapar di sana –sini. Dan bentuk pun membutuhkan banyak waktu lagi.

Dan nanti kita tahu. Satu. Sudah sepatutnya sejak dini remaja mempunyai impian !!!


Salam 2 1 2



[/COLOR][/ALIGN][/B][/I][/SIZE]

CALON ISTRIKU SEORANG JANDA



Calon istriku seorang janda !.
Dipangkuanku tertidur seorang anak berumur 1 tahun yang tak mengenal bapak. Tidurnya pulas tanpa beban karena tiada sosok ayah dipikirannya sampai 5 tahun ke depan.
Calon istriku seorang janda dan dia mendatangiku perlahan – lahan.
Erat memelukku dari belakang seakan tidak ingin dilepaskan. Tangannya hangat menjalarkan sebuah dunia padaku. Kuambil dunia itu dan akan kubersihkan dari serpih – serpih penderitaan.
Hak hidup dan kebahagiaanya yang terenggut sudahi sekarang saja.
Tidak akan ada lagi pemandangan yang membuat hatinya pedih matanya perih. Sampai disini saja dia melihat mantan suaminya berpelukan dengan seorang wanita yang entah siapa dan darimana datangnya. Pergi tertawa meninggalkan jejak luka di hati dan kehormatan calon istriku tercinta.
Kelak kita mempunyai pemandangan sendiri yang dirindukan siapa saja !.
Isak tangisnya dipunggungku sungguh perlahan. Lebih tidak terdengar ketimbang suara air panas yang hampir mendidih di belakang. Lebih pelan dibandingkan degupan hati yang saling berbalasan.
Kubisikkan beberapa kata dan tangisnya kemudian memenuhi ruangan.
Kurasakan kepalanya mengangguk beberapa kali. Mendesak punggungku sekan mengetuk pintu dan masuk perlahan kedalamnya.
Ku sediakan untuknya tempat menangis, pengobat hati yang teriris.
Sudah tiada lagi keraguan dihatinya untuk menumpukan tiang kehidupan hanya padaku saja.
Akan kubawa dirinya jauh dimana suara – suara yang merendahkannya tidak terdengar lagi. Akan kubawa dirinya lebih jauh dan lebih jauh lagi sampai tidak seorang pun yang dikenalnya menemukan.
……………………..
Sampai langit menepi .
…………………….

Kulayangkan pandanganku ke luar jendela.
Ingatanku tertuju pada satu sosok. Sosok yang pernah menjadi segalanya dan hilang karenanya.
……“ dimanakah kau istriku ? apakah perceraian kita mengajarkan sesuatu padamu ? “



Salam 2 1 2


[/I][/B][/ALIGN][/SIZE]

HARI TERAKHIR

Telah kau buka apa yang kau tahu,
Sementara aku hanya mendengar
Telah kuucapkan walau terbata,
Apa yang ku tahu dan kau mulai menyimak
Rahasia yang terkuak adalah dimana ego setiap manusia menjadi taruhannya.

Gila!!
Tiada yang lebih sederhana daripada pandangan manusia gila
Pada hidup
Juga cinta
Tiada lagi gempuran yang paling susah
Selain dari pertanyaan tanpa guna atas derita sendiri – sendiri.

Ucapkan!
Bahwa wanita sealam raga dengan roh kecubung putih
Wanginya santar dan menikam
Menyetubuhi gemulainya imaji dari panasnya deru nafas laki – laki pemburu
Dan wanginya kian santar lagi menikam
Tinggal laki – laki yang terpasung
Pada getirnya karma phala
Pada nikmatnya menerkam lekuk perawan
Maka apa yang akan dia pilih…?????

Padamu selamat tinggal hanya terucap dengan derai tawa
Untukmu rindu tersirat dari jajaran kata – kata sumpah serapah
Wagiswari……dewi pengetahuan
Mengawali detak detik jantungnya
Dengan memandang lekat pada matahari siang bolong

semoga kau ada didepanku !!



ibenk
Bandung, 24 mei 2006



Darah dan Asap Rokok untuk Ibu

Ibu, aku sedang merokok sekarang. Dimana 2 batang terakhir ini adalah bukan apa – apa, tidak akan menjadi apa-apa.
Tapi kau menangis, ibu. Ya..kau menangis. Bukan karena rokok ini, tetapi lebih karena apa yang kukirimkan padamu bersama kepulan hitam rokok ini.
Sebuah surat berisi kerinduan yang telah sampai pada batas tertingginya.

Tiada seorang pun yang tahu, tiada seorang pun yang peduli
Karena mereka mempunyai ibu sendiri – sendiri.

Bisa saja aku berakal bulus padamu,ibu!
Bisa aku berkata minum susu, padahal sebotol arak yang kutenggak tiap hari.
Bisa saja aku mengakui tak pernah mendekati wanita, padahal sudah berapa keperawan yang kurenggut.
Sangat mudah mengatakan padamu hanya rokok ini yang kuhisap, kenyataannya aku menulis sambil merem melek menggauli lintingan gele.
Segala kata darimu tentang sembahyang telah ku iya – iyakan, tetapi ternyata aku lebih senang berkumpul bersama gank ku daripada sekedar bersujud di mesjid yang berjarak 5 meter dari kostan ku.
Aku mampu untuk menelponmu setiap hari, padahal sebelumnya aku telah menelpon seorang wanita yang akan kujadikan teman malam ini.
“ jangan pernah berkelahi anakku.!” Itu petuahmu. Waktu itu aku hanya tertawa, karena sudah beberapa nyawa pernah kukirim ke neraka.

Ya…dan dosa – dosa lainnya…karena aku jauh darimu…jauh dariNya.

Dan gilanya…tiada terhingga rasa ini untukmu yang tak pernah terkatakan.
Tak pernah tersirat maupun tersurat pada suratku yang dulu.

Tiada seorang pun yang tahu, tiada seorang pun yang peduli
Karena mereka mencintai ibunya sendiri – sendiri.

Aku seperti kehilangan pegangan
Welas asihmu yang serasa berhenti mengucuri nadi – nadi yang teraliri serbuk heroin.
Bangsattt…!!!! Aku adalah bangsat,ibu!!. Bahkan akulah si bangsat yang pernah menjebloskan anak tetangga kita dulu ke penjara…hahahha…tadi pun sudah kukatakan padamu…bahwa aku mampu berakal bulus pada siapa saja, ibu!

Tiada seorang pun yang tahu, tiada seorang pun yang peduli
Karena mereka lebih sibuk dengan sifatnya sendiri.

Segalanya telah kuakui. Tepat pada saat sebuah pisau menancap di dada ini, dan darah bau amis menyembur dari luka ini.
Mengapa dosaku masih berdiam diri di dalam tubuh ini ?
Mengapa tidak ikut menyembur bersama darah setan ini ?
Bukankah kata mereka sebuah penyesalan bisa meleburkan dosa – dosa ?
Benar sebuah penyesalan yang kuungkapkan padamu ?
Malaikat maut telah datang padaku. Dia berdiri beberapa langkah dihadapanku.
Akhh…tetapi mengapa kau menangis sambil memeluk tubuh berlumur dosa ini, ibu ?
Sebenarnya welas asih seperti apakah yang ingin kau ajarkan ?
Sungguh tiada sedikit pun sebuah pengertian sampai padaku.

Aku mati,ibu ! ( “ mati “ adalah kata yang paling tepat bagiku. “ gugur “ dan “ wafat “ terlalu harum bagiku )
Jangan menangis lagi karena aku tak layak untuk ditangisi !
Akh…tangismu makin deras. Dan dalam perih yang amat sangat ini tetap saja aku tidak mengerti.

Tiada seorang pun yang tahu, tiada seorang pun yang peduli
Karena mereka juga akan mati dalam ketidakmengertian.
[/FONT][/COLOR][/B][/I]