My Opera is closing 3rd of March

IMAM BINASATI

NOFIYAH WIJAYANTI- khusnul khotimah

METODOLOGI PENELITIAN FILSAFAT

PROPOSAL PENELITIAN
KEDUDUKAN PEREMPUAN MENURUT PROF. DR. HAMKA

DI AJUKAN UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH
METODOLOGI PENELITIAN FILSAFAT




Dosen Pembimbing:
SAMSUL HUDA M.FIL


IMAM BINASATI
NIM: E01205003






FAKULTAS USHULUDDIN
JURUSAN AQIDAH FILSAFAT
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL
SURABAYA
2008




A. Latar Belakang Masalah
Terbukanya keran demokrasi dan kebebasan berbicara telah membuka suara-suara dan ide-ide yang selama ini cendrung bungkam karena ditekan oleh tindakan represif penguasa. Sekarang, setiap orang bebas mengekspresikan kehendaknya tanpa takut lagi akan dihukum, diberendel, dan diberangus oleh pihak-pihak tertentu yang merupakan perpanjangan tangan penguasa.
Salah satu bidang yang mendapat porsi yang cukup besar dan mendapatkan ruang gerak yang leluasa adalah menyangkut masalah perempuan. Isu-isu dan gerakan tentang emansipasi, kesetaraan gender, dan perjuangan hak-hak perempuan telah menjadi perbincangan dan wacana yang menarik.
Atmosfir perbincangan tentang perempuan ini semakin hangat ketika kasus-kasus pelecehan, kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan semakin menjadi-jadi. Hamper setiap hari media baik elektronik maupun cetak menayangkan berita pemerkosaan, kekerasan suami terhadap istri dan anak perempuan, tingkat aborsi yang sangat tinggi ( mencapai 4 juta kasus setiap tahunnya di Negara ini ).
Perlakuan yang diskriminatif dan semena-mena terhadap perempuan ini tidak hanya berada pada dataran kasus per kasus, namun telah menginjak dataran kebijakan pemerintah.
Prinsip persamaan telah menjadi bagian dari sistem hokum kita yang tertuang dalam pasal 27 UUD 1945. Di samping itu, pemerintah telah meratifikasi berbagai konvensi internasional seperti konvensi ILO No. 100 tentang upah yang sama untuk pekerjaan yang sama nilainya, konvensi tentang hak-hak politik perempuan dan konvensi penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan. Pemerintah pun juga telah mengeluarkan berbagai kebijakan lain, seperti: dalam peraturan tentang perkawinan dan perceraian yang bertujuan untuk meningkatkan status perempuan dalam keluarga dan masyarakat. Akan tetapi, sebenarnya jika dikaji lebih lanjut, peraturan itu justru bias gender. Sebab dalam putusannya, di satu sisi menjamin hak yang sama dalam hokum dan masyarakat antara perempuan dan laki-laki, di sisi lain dinyatakan bahwa laki-laki berperan di sektok publik dan perempuan berperan di sector privat ( di rumah saja ). Malah UU ini memberi peluang bagi seorang suami untuk beristri lebih dari satu.
Perbincangan dan perjuangan hak-hak perempuan timbul karena adanya suatu kesadaran, pergaulan, dan arus informasi yang membuat perempuan Indonesia semakin kritis dengan apa yang menimpa kaumnya. Pejuang hak-hak perempuan di Indonesia sangat dipengaruhi oleh perkembangan feminisme yanga ada di luar, baik itu di barat dan beberapa mendapat inspirasi dari feminis Islam.
Tidak ada yang salah dengan pendekatan pisau analisis yang ditawarkan oleh feminis Barat dengan berbagai alirannya ( Liberal, Radikal, Marxis dan Sosialis, Psikoanalisi dan Gender, Eksistensialis, Posmodern, Multikultural dan Global, Ekofeminisme) maupun apa yang ditawarkan oleh feminis Islam seperti, Asghar Ali Engineer, Fatimah Mernissi, Riffat Hassan, dan Aminan Wadud. Namun, latar belakang sejarah, budaya, dan sosial yang dihadapi perempuan Indonesia berbeda dengan apa yang terjadi di barat maupun di Negara-negara ( Arab ) Islam. Padahal faktor-faktor tersebut mempengaruhi kita dalam menganalisis atau membuat suatu kesimpulan dan kebijakan. Oleh karena itu, peneliti menilai dan merasa perlu adanya suatu konsep yang benar-benar berasal dari Indonesia dan sesuai dengan kultur serta kepribadian bangsa Indonesia.
Pada penelitian ini, penulis ingin menelaah tentang feminisme ini dengan mengambil pemikiran Prof. Dr. Hamka. Hal ini dikarenakan, sosok beliau telah banyak menciptakan karya-karya fenomenal yang sangat kental nuansa filosofisnya. Ada 4 buku yang telah beliau tulis yang diberi judul “Mutiara Filsafat” yaitu Tasauf Modern, Falsafah Hidup, Lembaga Budi dan Lembaga Hidup. Melalui pisau analisis filsafat manusia yang ditulis Hamka dalam karya-karyanya, peneliti mencoba untuk mengambil dan mengungkakan pandangan Hamka terhadap kedudukan perempuan.
1. Pembatasan dan Perumusan Masalah
Kriteria yang peneliti gunakan dalam menentukan buku-buku karangan Hamka yang berjumlah 75 judul adalah berkisar pada buku-buku yang yang memuat tema tentang perempuan saja. Adapun tentang pembahasannya, peneliti lebih mengfokuskan kepada tema-tema yang menyangkut: kedudukan wanita secara kodrat dan adat, hak dan kewajiban wanita di sektor publik, wanita dalam perkawinan dan warisan, serta fenomena poligami dan perceraian.
Adapun rumusan masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah:
1. Apa pandangan Hamka terhadap berbagai macam aliran feminisme yang muncul saat ini;
2. Sejauh mana matrilineal Minangkabau berpengaruh terhadap konsep Hamka mengenai perempuan;
3. Bagaimana konsep perempuan yang ideal menurut Hamka.
2. Keaslian Penelitian
Penelitian terhadap pemikiran buya Hamka dan feminisme telah dilakukan oleh beberapa peneliti, antara lain:
a. Konsep Manusia Seutuhnya menurut Prof. Dr. Hamka oleh Sukris Andayani. E, skipsi fakultas Filsafat UGM 1990.
b. Konstruksi Pemikiran Gender dalam Pemikiran Mufasir Indonesia Modern oleh Yunahar Ilyas, Desertasi Doctor bidang Ilmu Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta tahun 2004.
c. Peranan Wanita dalam Hubungan dengan Gerak dan Perkembangan Emansipasi oleh Indah Aswiyati, skipsi fakultas Filsafat 1981.
d. Tinjauan Filosofis tentang Hak-Hak Wanita menurut Doktrin Islam oleh Johan Syamsi. K, skipsi fakultas Filsafat 1981.
e. Tinjauan secara Kefilsafatan terhadap Harkat dan Martabat Wanita oleh Isnainy Hanim. H, skipsi fakultas Filsafat 1983.
f. Tinjauan Etika terhadap “ Kedudukan dan Peran Wanita dalam Adat Minangkabau” oleh Tauran Betty, skipsi fakultas Filsafat 1987.
g. Emansipasi di antara Karir dan Kodrat Wanita Indonesia ( Sebuah Telaah Filsafati ) oleh S. Handaru.P.A, skipsi fakulatas Filsafat 1991.
h. Peran Ganda sebagai Konsekuensi Sadar Moral Konsep Emansipasi Wanita oleh Eliana Sari Munthalib, skripsi fakultas Filsafat 1993.
Namun, penelitian tentang konsep dan kedudukan perempuan menurut Hamka berdasarkan referensi-referensi yang ada, belum ada yang menelitinya. Oleh karena itu, penelitian ini dapat diyakini keasliannya.
3. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat:
a. Memperkaya wawasan penulis tentang konsep dan kedudukan perempuan.
b. Memberikan sumbangan pemikiran bagi bangsa Indonesia dalam menghadapi masalah-masalah yang berkaitan dengan feminisme di Indonesia.
c. Memberikan sudut pandang baru dalam memahami kedudukan dan peran perempuan dalam kehidupan yang sesuia dengan latar belakang sosio-kultural Indonesia.

B. TUJUAN PENELITIAN
Penelitian ini memiliki tujuan:
a. Membuat inventarisasi tentang pandangan Hamka mengenai perempuan yang terpencar-pencar dalam beberapa buku karangannya menjadi satu kesatuan.
b. Memberikan evaluasi kritis terhadap konsep-konsep feminisme Barat dan feminisme Islam dengan pisau analisis Hamka.
c. Memperoleh bahan baru dan interpretasi baru sehingga melahirkan konsep-konsep tentang perempuan yang khas dari pemikir Indonesia khususnya Hamka.

C. TINJAUAN PUSTAKA
Beberapa sarjana, penulis dan pemikir telah menulis buku dan artikel yang membahas tema-tema perempuan. Ashgar Ali Engineer, dalam bukunya “Hak-hak Perempuan dalam Islam” melakukan kajian kritis menyangkut hak-hak perempuan dalam perkawinan, perceraian, pemilikan harta benda, pewarisan, pemeliharaan anak, pemeberian kesaksian, ganjaran dan hukuman. Asghar menemptkan kembali hak-hak perempuan dalam Islam dengan semangat Al Quran sejati.
Riffat Hassan, dalam salah satu dari tiga artikelnya yang ditampilkan bersama-sama dengan empat artikel karya Fatima Mernissi dalam buku “Setara di Hadapan Allah, Relasi Laki-Laki dan Perempuan dalam Tradisi Islam Pasca Patriakhi”, mengkaji secara kritis tentang penciptaan Adam dan Hawa.
Safrudin Halimy Kamaluddin. MA, dalam bukunya “ Adat Minangkabau dalam Perspektif Hukum Islam”, menempatkan bab khusus yang membahas tentang konsep matrilineal, eksogami suku dan hokum waris adat Minangkabau yang banyak berhubungan dengan hak-hak perempuan.
Mazhar ul-Haq Khan, dalam bukunya “Wanita Islam Korban Patologi Sosial”, membahas secara khusus tema purdah (hijab) dan poligami dengan menggunakan pendekatan sosiologis.
Rosemarie Putnam, dalam bukunya “ Feminism Thought”, memberikan penjelasan komprehensif mengenai feminisme dan menguraikan aliran-aliran feminisme yang ada di dunia.
Adnan Tharsyah, dalam bukunya “Serba Serbi Wanita” , menyampaikan konsep-konsep yang ideal bagi perempuan ditinjau dari aspek biologis dan psikologis menurut ajaran Islam.


D. LANDASAN TEORI
Menjadi laki-laki atau perempuan adalah takdir yang tidak bisa dibantah dan diingkari oleh seseorang. Jenis kelamin adalah sesuatu yang dibawa sejak lahir. Oleh karena itu, hal ini bersifat alami, kodrati dan tidak bisa berubah. Sedangkan penilaian terhadap kenyataan sebagai laki-laki atau perempuan oleh masyarakat dengan sosial dan budayanya dinamakan dengan gender ( Ilyas, Yunahar; 12-13 ).
Konstruk sosial dan budaya yang menempatkan perbedaan antara laki-laki dan perempuan telah melahirkan paham feminisme. Feminisme adalah suatu filsafat luas yang memperhatikan tempat dan kodrat perempuan dalam masyarakat (Smith, Linda dan William Rapper; 228).
Telah banyak lahir teori-teori yang membahas tentang perbedaan laki-laki dan perempuan, antara lain:
a. Teori Psikoanalisa
Menurut teori ini unsure biologislah yang menjadi faktor dominant dalam menentukan pola prilaku seseorang.
b. Teori Fungsional Struktural
Pembagian peran laki-laki dan perempuan tidak didasari oleh distrupsi dan kompetisi, tetapi lebih kepada melestarikan harmoni dan stabilitas di dalam masyrakat. Laki-laki dan perempuan menjalankan perannya masing-masing.
c. Teori Konflik
Perbedaan dan ketimpangan gender disebabkan dari penindasan dari kelas yang berkuasa dalam relasi produksi yang diterapkan dalam konsep keluarga. Terjadinya subordinasi perempuan akibat pertumbuhan hak milik pribadi.
d. Teori Sosio-Biologis
Faktor biologis dan sosial menyebabkan laki-laki lebih unggul dari perempuan. Fungsi reproduksi perempuan dianggap sebagai faktor penghambat untuk mengimbangi kekuatan dan peran laki-laki (Ilyas, Yunahar; 14-15).
Para feminis yang mempunyai kesadaran dan tampil di garda depan dalam perjuangan hak-hak perempuan terpecah dalam beberapa aliran karena perbedaan dalam memandang sebab-sebab terjadinya keadilan terhadap perempuan , bentuk perjuangan dan tujuan yang ingin dicapai. Secara garis besar, ada 4 mainstream aliran feminisme:
a. Feminisme Liberal
Mereka mengusahakan perubahan kedudukan perempuan dalam masyarakat dengan mengubah hokum. Mereka percaya bahwa perempuan telah ditindas oleh hokum yang dibuat oleh laki-laki. Dengan mengubah hokum (misalnya, dengan mengizinkan perempuan memilih, mempertahankan milik mereka sendiri setelah perkawinan, untuk cerai), tempat perempuan di masyarakat harus berubah seterusnya ( Smith, Linda dan William Rapper; 229).
b. Feminisme Radikal
Mereka percaya bahwa pengertian paling mendalam mengenai keadaan perempuan telah dibentuk dan diselewengkan oleh laki-laki. Dengan mengubah hokum, kaum feminisme Radikal percaya tidak akan mengubah prasangka-prasangka mendalam yang dimiliki oleh kaum laki-laki terhadap perempuan. Kaum feminisme radikal ingin menemukan suatu pemahaman baru mengenai apa artinya menjadi perempuan, dan suatu cara yang sama sekali baru untuk hidup bagi perempuan di dalam dunia kita ( Smith, Linda dan William Rapper; 229).
c. Feminisme Marxis
Feminisme Marxis berpendapat bahwa ketertinggalan yang dialami perempuan bukan disebabkan oleh tindakan individu secara sengaja tetapi akibat struktur sosial, politik dan ekonomi yang erat kaitannya dengan system kapitalisme. Menurut mereka, tidak mungkin perempuan dapat memperoleh kesempatan yang sama seperti laki-laki jika mereka masih tetap hidup dalam masyarakat yang berkelas ( Ilyas, Yunahar; 18 ).
d. Feminisme Sosialis
Menurut mereka hidup dalam masyarakat yang kapitalistik bukan satu-satunya penyebab utama keterbelakangan perempuan. Menurut mereka, penindasan perempuan ada di kelas manapun. Gerakan feminisme Sosialis lebih menfokuskan kepada penyadaran akan posisi mereka yang tertindas. Timbulnya kesadaran ini akan membuat kaum perempuan bangkit emosinya, dan secara kelomok diharapkan untuk mengadakan konflik langsung dengan kelompok dominant ( laki-laki), sehingga diharapkan dapat meruntuhkan sistem patriakhi (Ilyas, Yunahar; 21).
Sementara itu di wilayah lainnya ada suatu konsep masyarakat yang menjunjung tinggi harkat dan martabat perempuan melalui sistem adat yang unik, yaitu sistem matrilineal di Minangkabau. Dalam menentukan garis keturunan kesukuan, masyarakat Minangkabau masih mengikuti garis ibu, yang meminang pihak perempuan, sistem matrilokal, pemimpin rumah tangga adalah ibu bersama-sama dengan saudara laki-lakinya (mamak), dan dalam pembagian harta warisan jatuh kepada kaum perempuan sementara kaum laki-laki tidak mendapatkan apa-apa (Ilyas, Yunahar; 49).
E.METODE PENELITIAN
Penelitian ini bersifat kepustakaan murni, karena sumber datanya adalah buku-buku dan artikel –artikel yang jadi objek penelitian. Metode penelitian menggunakan model penelitian filosofis historis-faktual mngenai tokoh, dimana di sini yang menjadi kajian adalah pemikiran Prof. Dr. Hamka.
Metode yang digunakan adalah metode deskriptif-analitis. Metode deskriptif mencoba untuk memaparkan konsep-konsep pemikiran Hamka tentang perempuan. Sementara metode analitis merupkan gabungan antara deduktif, induktif, komparatif dan interpretasi. Deduktif digunakan untuk memperoleh gambaran detail tentang pemikiran Hamka dalam melihat konsep feminisme dan perempuan. Induktif digunakan untuk memperoleh gambaran utuh tentang pemikiran Hamka mengenai topic-topik yang diteliti setelah dikelompokkan secara tematik. Komparasi dipakai untuk membandingkan antara pemikiran Hamka dengan pemikiran feminisme Barat dan Islam. Terakhir, interpretasi untuk menyelami pemikiran Hamka sehingga bisa ditangkap nuansa yang dimaksudkannya.



F. DAFTAR PUSTAKA
At-Thasyah, Adnan. Serba-Serbi Wanita: Panduan Mengenal Wanita. Terjemahan Gazi Saloom. Jakarta; Penerbit Al-Mahira. Cet I.2001.
Barker, Anton dan Achmad Charris Zubair. Metode Penelitian Filsafat. Yogyakarta; Penerbit Kanisius. Cet I. 1990.
Engineer, Asghar Ali. Hak-Hak Perempuan dalam Islam. Terjemahan Farid Wajidi dan Cici Farkha Assegaf. Yogyakarta; Yayasan Bentang Budaya.1994.
Hamka. Islam dan Adat Minangkabau. Jakarta; Pustaka Panji Mas. Cet II.1985.
——— Falsafah Hidup. Jakarta; Pustaka Panji Mas. Jakarta. Cet XII. 1994.
Hassan, Riffat. “Teologi Perempuan dalam Tradisi Islam”. Dalam jurnal Ulumul Quran No. 3 Vol. V. Tahun 1994.
Ilyas, Yunahar. Kesetaraan Gender dalam Alquran: Studi Pemikiran Para Mufasir. Yogyakarta; Labda Press. 2006.
Kamaludin, Syafruddin Halimy. Adat Minangkabau dalam Perspektif Hukum Islam. Padang; Hayfa Press.2005.
Khan, Mazhar ul-Haq. Wanita Islam Korban Patologi Sosial. Terjemahan Luqman Hakim. Bandung; Pustaka.1994.
Mernissi, Fatima. Wanita di dalam Islam. Terjemahan Yaziar Radianti. Bandung; Pustaka.1994.
Penghulu, Idrus Hakimy Dt. Rajo. Rangkaian Mustika Adat Basandi Syarak di Minangkabau. Bandung; Remaja Karta. 1978.
Smith, Linda dan William Rapper. Ide-Ide Filsafat dan Agama Dulu dan Sekarang. Terjemahan Pardono Hadi. Yogyakarta; Penerbit Kanisius. Cet V. 2004.
Tong, Rosemarie Putnam. Feminist Thougt. Terjemahan Aquarini Priyatna Prabasmoro. Yogyakarta; Penerbit Jalasutra.1998.


PROPOSAL PENELITIAN
UPAYA MENINGKATKAN INTERAKSI SISWA DENGAN GURU DALAM PROSES BELAJAR-MENGAJAR
BAHASA INGGRIS DI SMP NEGERI I MLATI

DI AJUKAN UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH
METODOLOGI PENELITIAN FILSAFAT







Dosen Pembimbing:
SAMSUL HUDA M.FIL




MOCHAMMAD HANAFI
NIM: E01205012




FAKULTAS USHULUDDIN
JURUSAN AQIDAH FILSAFAT
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL
SURABAYA
2008

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, social, dan emosional siswa dan merupakan kunci penentu menuju keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi. Didalam bahasa Inggris terdapat berbagai macam aspek yang harus diperhatikan dalam upaya penguasaan kompetensi berbahasa Inggris. Berbagai macam aspek tersebut saling berkaitan satu sama lainnya, seperti mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Untuk mencapai kompetensi berbahasa tersebut kurikulum sekarang sekarang ini, yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), berangkat dari seperangkat rasional teoritis dan praktis yang mendasari semua keputusan perumusan standar kompetensi, kompetensi dasar dan indicator dalam kurikulum.
Mendengarkan merupakan aspek yang sangat signifikan dalam pencapaian kompetensi dalam berbahasa Inggris. Diharapkan siswa mampu memahami berbagai makna (interpersonal, ideasional, dan tekstual) dalam berbagai teks lisan interaksional, dan menolong terutama yang berbentuk deskriptif, naratif, spoof/recount, prosedur, report dan anekdot.
Dalam konteks berbahasa, diharapkan siswa mampu memahami makna gagasan (ideational function), yakni fungsi bahasa untuk mengemukakan atau mengkontruksi gagasan atau informasi yang didengarnya. Kemudian fungsi interpersonal (interpersonal function), yakni fungsi bahasa untuk berinteraksi dengan sesama manusia yang mengungkapkan tindak tutur yang dilakukan, sikap, perasaan dan sebagainya. Terakhir ialah fungsi tekstual (textual function), yakni fungsi yang mengatur bagaimana teks atau bahasa yang diciptakan ditata sehingga tercapai kohesi dan koherensinya, sehingga mudah dipahami orang yang mendengarkan atau membacanya.
Konteks berbahasa berperan sentral dalam memahami berbagai teks lisan interaksional, terutama yang berbentuk deskriptif, naratif, spoof/recount, prosedur, report dan anekdot. Karena berbagai jenis teks tersebut selalu ada dan hadir dalam kehidupan sehari-hari siswa. Jika siswa tidak mampu memahami berbagai jenis teks lisan tersebut, maka siswa akan kesulitan dalam berbahasa Inggris baik untuk berkomunikasi atau pun mengungkapkan gagasan yang dia dengar dan ungkapkan.
Kompetensi berbahasa menjadi salah satu kompetensi yang tidak bisa terlepas dari kegiatan berbahasa, oleh karena berbagai fungsi sentral dalam pencapaian kompetensi berbahasa Inggris. Mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis memiliki peran sentral dalam bahasa Inggris, seperti memahami berbagai makna (interpersonal, ideasional, dan tekstual) dalam berbagai teks lisan interaksional, dan menolong terutama yang berbentuk deskriptif, naratif, spoof/recount, prosedur, report dan anekdot, diperlukan kompetensi mendengarkan yang baik dalam bahasa Inggris.

B. Identifikasi Masalah
Masalah kurangnya interaksi siswa dalam bahasa Inggris dalam proses belajar-mengajar di SMP N 1 MLATI ialah guru, siswa, aktivitas, waktu dan fasilitas. Jika berbagai komponen diatas tidak berjalan sebagaimana mestinya maka proses belajar-mengajar khususnya pada kompetensi mendengarkan. Dari kompenen-komponen belajar-mengajar diatas, berbagai masalah muncul dalam proses belajar-mengajar bahasa Inggris khususnya kompetensi mendengarkan.
Guru memiliki peran yang sangat signifikan dalam proses belajar-mengajar bahasa Inggris, kompetensinya guru-guru SMP N 1 MLATI masih kurang dalam proses belajar-mengajar bahasa Inggris. Masih banyak guru yang menggunakan metode-metode yang tidak sejalan dengan kurikulum sekarang ini, yaitu Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) khususnya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).
Komponen siswa dalam proses belajar-mengajar bahasa Inggris meliputi faktor psikologis, sikap, motivasi, dan bakat berbahasa dari siswa tersebut. Kemudian komponen lainnya ialah aktivitas siswa, banyak kecenderungan proses belajar-mengajar tidak sejalan dengan tujuan pengajaran bahasa Inggris khususnya kompetensi mendengarkan. Terakhir ialah waktu dan fasilitas, waktu yang tersedia untuk proses belajar-mengajar bahasa Inggris masih kurang pendistribusiannya, porsi yang diberikan masih kurang dengan kompetensi yang lain seperti berbicara, membaca dan kompetensi menulis.


C. Batasan Masalah
Untuk tidak meluasnya masalah dalam penelitian ini maka penelitian lebih ditekankan pada penelitian interaksi siswa dengan guru dalam proses belajar-mengajar bahasa Inggris di SMP N 1 MLATI.
D. Rumusan Masalah
Penelitian tindakan (Action Research) mengenai interaksi siswa dengan guru dalam proses pembelajaran bahasa Inggris di SMP N 1 MLATI hendaknya dapat menjawab masalah-masalah yang berkaitan dengan masalah tersebut. Bagaimana meningkatkan interaksi siswa dalam pembelajaran bahasa Inggris.
E. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini ialah untuk meningkatkan interaksi siswa dengan guru dalam proses pembelajaran mendengarkan di SMP N 1 MLATI. Karena dengan kurangnya interaksi siswa dengan guru dalam proses pembelajaran di SMP N 1 MLATI kompetensi dalam bahasa Inggris (listening, speaking, reading, writing) kurang.
F. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat:
a) Berguna bagi para guru, mereka dapat memperbaiki proses pembelajaran bahasa Inggris di SMP N 1 MLATI.
b) Berguna bagi siswa, agar mereka dapat mengetahui dimana kelemahan mereka dalam bahasa Inggris dalam berbagai kompetensi , dan bagaimana memperbaiki dan meningkatkan kemampuan berbahasa mereka.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Deskripsi Teori
A.1. Uraian Definisi Penelitian Tindakan (AR)
Dalam perkembangannya penelitian tindakan tidak dapat melepaskan diri dari pengaruh aliran-aliran dalam dunia penelitian ilmiah tentang cara pandang atau perspektif terhadap gejala yang ada. Dengan demikian ada sedikitnya tiga model penelitian tindakan, yaitu model positivisme, model interpositivisme, dan model teori kritik social (Social Critical Theory). Sejalan dengan ketiga model tersebut, definisi penelitian tindakan menjadi sangat bervariasi sesuai masalah dan perspektif yang ada. Salah satu definisi yang merangkum semua unsur dalam penelitian tindakan diberikan oleh Kemmis dan Taggart (via McCutcheon dan Jung, 1990), yaitu sebagai berikut.
Action research is characterized as systematic inquiry that is collective, collaborative, self-reflective, critical and undertaken by the participants of the inquiry. The goals of such research are the understanding of practice and the articulation of a rationale or philosophy of practice in order to improve practice.
Dari kutipan diatas dapat diketahui bahwa penelitian tindakan adalah suatu upaya pencarian (inquiry) untuk memahami kegiatan praktek dan menemukan (articulation) rasional atau filsafat praktek agar dapat meningkatkan praktek itu sendiri. Upaya pencarian dan penemuan tersebut dilakukan oleh peserta atau pelaku pencarian tersebut. Upaya tersebut bersifat sistematik, kolektif, kolaboratif, reflektif, kritik, yang semuanya mengisyaratkan tentang bagaiman upaya tersebut dilaksanakan, atau metoda. sebagai suatu personal theory of practice, penelitian tindakan nampaknya tidak memerlukan suatu asumsi dasar atau suatu prinsip-prinsip dasar, akantetapi tidak demikian halnya. Menurut Max van Manen (1990 : 50) menyatakan bahwa ada lima asumsi dasar yang secara sebagian atau seluruhnya mewarnai berbagai model penelitian tindakan, yaitu: democracy assumption, external knowledge assumption, reflection-action assumption, change assumption, teacher-as-researcher assumption. Garis besar isi kelima asumsi tersebut adalah sebagai berikut.
Asumsi demokrasi mengacu ke suatu cara pandang bahwa hubungan antara peneliti (researcher) dengan pelaku tindakan (practitioner) harus berdasarkan prinsip kebersamaan dan kesamaan derajat. Demokratik secara moral selalu berarti simetrik, egaliter, dan baik: secara pragmatic berarti hubungan atas-bawah dan dominasi salah sat pihak tidak akan membuahkanperubahan nyata.
Asumsi pengetahuan luar berarti bahwa tujuan penelitian tindakan ialah meninjau kembali bagaiman teori-teori dan hasil penelitian yang sudah mantap dapat betul-betul berperan dalam dunia kegiatan praktek. Teori tidak dipandang sebagai sesuatu yag terlepas dengan kehidupan nyata, sehingga istilah teori dan praktek harus diganti dengan istilah refleksi dan aksi (reflection and action).
Asumsi refleksi-aksi berarti bahwa hubungan antara teori dan praktek harus bersiat dinamik, siklik atau spiral. Proses refleksi akan menghasilkan sesuatu yag penuh pertimbangan nalar (thoughtfulness) yang kemudian dituangkan menjadi suatu rencana tindakan tang penuh dengan taktik (tactfulness), atau istilahnya strategic action. Seorang guru yang tactful adalah seseorang yang tindakan mengajarnya penuh dengan penalaran, karena tactfulness hanya dapat diekspresikan dalam suatu taktik yang penuh dengan pemikiran reflektif.
Asumsi perubahan mengacu kepada perubahan dalam rangka perbaikan. Asumsi ini sangat mendasar sehingga penelitian tindakan sering didefinisikan sebagai suatu proses yang dilakukan guru untuk mengubah atau melakukan perubahan dalam kegiatan pembelajarannya. Proses perubahan disini mengandung dua aspek, yaitu proses perubahan yang prospektif (memandang dan merencanakan) dan yang bersifat retrospektif (memandang kembali apa yag telah terjadi). Yang pertama bertujuan menemukan bentuk thoughtfulness, sementara yang kedua bermaksud membuat bentuk tactfulness.
Asumsi guru sebagai peneliti mengacu kepada tujuan utama seorang guru dalam melakukan penelitian tindakan. Dalam konteks ini dibedakan dua istilah dalam dunia pendidikan, yaitu pemecahan masalah (Problem solving question) yang lebih dekat dengan istilah pengajaran (teaching), dan masalah pembermaknaan (meaning question) yang lebih dekat dengan istilah pendidikan (education). Siklus refleksi-aksi seperti disingung didepan, yang dilakukan oleh guru, merupakan proses mencari dan menemukan cara baru yang lebih mampu memicu dan memacu proses belajar dalam diri siswa yang berdasarkan kebermaknaan, bukan pemerolehan pengetahuan, tetapi pengalaman. Hasil akhir yang ingin dicapai ialah suatu bentuk kematangan pribadi yang oleh Manen (1990 :159) disebut dengan istilah pedagogical fitness dipihak guru, atau pelaku penelitian pada umumnya. Untuk memperjelas hal ini, berikut adlah pernyataan Manen tentang kesamaptaan pedagogic.
“Thus the experience of reflecting on past pedagogical experience enables me to enrich and make more thoughtful my future pedagogical experience. This is not just an intellectual after but rather a matter of pedagogical fitness of the whole body person. What we might call “pedagogical fitness” is a cognitive, emotional, moral, emphatic and physical preparedness. Indeed tactful acting is very much an affair of the whole embodied person: heart, mind, and embodied being”.

A.2. Penelitian Tindakan Kelas (AR)
Berbagai varian dan teori diatas apa dan bagaimana penelitian tindakan kelas. Apabila jiwa dan semangat, dan cara kerja action research diterapkan dalam konteks pendidikan bahasa sebagai metode pembelajaran bahasa, dapat diprakirakan bahwa dunia pendidikan bahasa akan dapat direncanakan, dilaksanakan dan dikembangkan dengan pesat yang pada akhirnya mampu memberikan hasil yang sesuai dengan cita-cita pendidikan nasional. Dunia pendidikan bahasa berisi berbagai macam variabel dengan sifat yang beragam pula , yang memungkinkan diterapkannya berbagai macam model penelitian tindakan. Berbagai macam variabel tersebut juga menunjukan keterkaitan yang tinggi, yang merupakan kondisi yang sangat tepat untuk pengelolaan dan penemuan strategic action berdasarkan proses refleksi yang penuh dengan pertimbangan nalar atau thoughtful reflection.
B. Kerangka Berfikir
Berdasarkan deskripsi teori yang telah diuraikan tadi, jelas bahwa penelitian tindakan (action research) adalah suatu upaya pencarian (inquiry) untuk memahami kegiatan praktek dan menemukan (articulation) rasional atau filsafat praktek agar dapat meningkatkan praktek itu sendiri. Baqhkan sering terjadi kesalahan persepsi tentang penelitian tindakan.
Untuk dapat meningkatkan interaksi siswa dengan gurunya dalam proses pembelajaran bahasa Inggris, perlunya suatu proses yang baik dan berjalan baiknya komponen-komponen dalam pengajaran di SMP N 1 MLATI VII. Proses pembelajaran dapat lebih mencapai hasil yang maksimal jika guru dan siswanya terjdi interaksi diantara mereka. Jika hal itu tidak terjadi, maka proses belajar-mengajar akan sia-sia, tidak adanya kebermaknaan


BAB III
METODE PENELITIAN
A. Desain Penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian, maka penelitian ini termasuk jenis penelitian action research (penelitian tindakan). Dalam hal ini desain atau rancangan penelitian berupa perbaikan proses dalam pembelajaran bahasa Inggris. Dalam hal ini yag harus diperhatikan hendaknya ialah input, proses, dan output. Jika dalam proses pembelajaran bahasa Inggris terjadi ketidaksesuaian dengan tujuan pendidikan atau kurikulum maka proses tersebut harus segera diperbaiki, guna keberhasilan tujuan pendidikan di Indonesia.
B. Teknik Pengumpulan Data
1. Observasi, berbagai masalah yang hadir dalam proses belajar-mengajar bahasa Inggris di kelas VI SMP N 1 MLATI. Dari hasil observasi peneliti mencatat, mengakategorisasikan dan menentukan masalah yang akan menjadi focus penelitian.
2. In-depth interview, peneliti mengumpulkan data dengan meng-in-depth interview 30 siswa kelas VI dan guru bahasa Inggris di SMP N 1 MLATI, interview dilakukan berdasarkan pada kategorisasi pertama





C. Instrument Penelitian
Instrument yang digunakan pada penelitian ini adalah :
• Satu kelas berisi 30 siswa dan guru bahasa Inggris SMA kelas VI SMP N 1 MLATI.
• Tabel penelitian, berupa table quesioner
D. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data melalui prosedur dibawah ini:
1. Membuat kuesioner berdasarkan data, berdasarkan bobotnya masing-masing.
Contoh quesioner:
No Data Berat Sedang Ringan
1
2
3
…30
Kemudian mereduksi data, memilih yang sedang, masalah yang berat dan sulit diselesaikan disisihkan dan masalah yang ringan tidak usah masukan dalam object penelitian. Dengan mengambil data yang sedang, diharapkan masalah yang diambil pun dapat diselesaikan.
2. mengkategorisasikan data, dari hasil reduksi data di atas, kemudian peneliti mengkategorisasikan data tersebut menjadi data Sangat Urgen (SU), Urgen (U) dan Tidak Urgen (TU). Kemudian memilih yang Sangat Urgen (SU), karena hal ini sangat penting sekali untuk dilakukan ‘action’.

No Data Sangat Urgen (SU) Urgen (U) Tidak Urgen (TU)
1
2
3
…30

E. Langkah-langkah
Melakukan observasi ke SMP N 1 MLATI untuk:
1. Mencari data tentang proses, komponen, atau hambatan yang ada disekolah
2. Menganalisa proses, komponen, atau hambatan yang ada disekolah
3. Membuat deskripsi tentang proses, komponen, atau hambatan yang ada disekolah
4. Membuat solusi yang tepat untuk dipakai sebagai pemecahan masalahnya.

F. Format Pelaporan :
I. Pendahuluan
A. Latar Belakang Masalah
B. Identifikasi Masalah
C. Batasan Masalah
D. Rumusan Masalah
E. Tujuan Penelitian
F. Manfaat Penelitian

II. Kajian Pustaka
A. Deskripsi Teori
A.1. Uraian Definisi Penelitian Tindakan (AR)
A.2. Penelitian Tindakan Kelas (AR)
B. Kerangka Berfikir

III. Hasil Penelitian
A. Desain penelitian
B. Teknik Pengumpulan Data
C. Instrument Penelitian
D. Teknik Analisis Data
E. Langkah-langkah
F. Format Pelaporan :


BERMAIN DENGAN AIR TERJUN.ADUH.......... DINGIN SEKALI! BENAR ITU!tugas met.fils

Write a comment

New comments have been disabled for this post.

February 2014
M T W T F S S
January 2014March 2014
1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28