Belajar Bahasa dan Budaya Jepang Lewat Dorama : Nihonjin no Shiranai Nihongo
Wednesday, June 1, 2011 4:26:41 PM
Plot Cerita
Kanou Haruko adalah seorang gadis yang bercita-cita menjadi guru SMA. Sebagai batu loncatan, Haruko mengajar bahasa Jepang untuk orang asing di Nihongo Gakkou (sekolah bahasa Jepang) sebagai guru pengganti selama 3 bulan di sekolah bahasa Koubun Gakuin. Awalnya Haruko menganggap remeh pekerjaan ini karena menurut Haruko apa sih yang tak diketahui Haruko sebagai orang Jepang tentang bahasa Jepang. Ternyata…… murid-murid dalam kelas yang diajar Haruko jauh lebih kritis dari yang disangka Haruko. Selain bahasa Jepang yang dikuasai sudah lumayan lancar, mereka juga sering menanyakan berbagai macam hal tentang bahasa Jepang yang jarang diketahui orang Jepang pada umumnya. Situasi bertambah rumit dengan keras kepalanya Haruko yang menantang guru senior Takasu bertaruh untuk dapat mengusahakan seluruh murid kelas Haruko lulus ujian dengan taruhan mimpi Haruko mengajar SMA. Dilain pihak, Haruko sendiri bukan hanya mengajarkan bahasa Jepang saja, melainkan juga mendapatkan pelajaran berharga dari murid-muridnya yang notabene orang asing.
Kayaknya hal lucu yang paling banyak digeber dalam serial ini adalah bentrokan antara budaya Jepang dengan budaya luar Jepang, dimana budaya luar Jepang diwakili oleh murid-murid Haruko yang berasal dari berbagai macam negara. Belum lagi ditambah dengan karakteristik tiap-tiap murid yang punya jenis ketertarikan terhadap budaya Jepang yang berbeda. Ada murid yang memang suka bahasa Jepang, ada yang hobi Jidaigeki (e.g.: samurai dan ninja), ada yang otaku, sampai ada juga yang tertarik dengan Yakuza. Terus terang saja salah satu yang membuat saya jatuh hati dengan serial ini adalah pengalaman saya sendiri ketika belajar bahasa Jepang bersama teman-teman sekelas yang ada juga yang berasal dari manca negara. Walaupun tokoh-tokoh murid Haruko lebih gila-gilaan dibanding teman-teman sekelas bahasa Jepang saya di kursusan dulu, pengalaman ketika arubaito (kerja part-time), bentrok budaya, hingga masalah salah paham bahasa pernah mewarnai kehidupan, sama dengan apa yang dialami tokoh-tokoh murid Haruko.
Hal lucu lain yang menurut saya kuat pengaruhnya dalam mengocok perut adalah komedi permainan kata-kata. Sayangnya hal ini tak akan bisa membuat ngakak orang yang tak mengerti bahasa Jepang ataupun tidak tahu kehidupan sosial kemasyarakatan di Jepang, meski ditonton dengan teks terjemahan yang paling akurat sekalipun. Bayangkan saja, apa yang bisa ditertawakan jika hal yang lucu ditulis dalam bentuk keterangan subtitle. Yah, boleh dibilang ini lebih ke masalah feeling sih. Tapi paling tidak, kelucuan diluar permainan kata saja sudah lebih dari cukup untuk mengocok perut.
Mengenai plot drama untuk setiap episode, kalo ini sih termasuk biasa saja khas dorama buatan Jepang. Kalau kamu pernah menonton serial dorama yang berkisah tentang interaksi tokoh guru dengan murid-muridnya seperti GTO atau Gokusen, serial ini menawarkan hal yang tak jauh berbeda. Plotnya kebanyakan menceritakan perjuangan Haruko membantu murid-muridnya mengatasi masalah pribadi mereka di dalam kehidupan sehari-hari. Biasanya cerita per episode diakhiri dengan adegan betapa murid-murid Haruko menjadi respek terhadap guru eksentrik ini dengan memanggil Haruko dengan kata sensei beserta ucapan arigatou, karena dalam keseharian mereka dengan cuek memanggil Haruko dengan namanya saja (orang Jepang biasanya sangat menghormati profesi guru dengan panggilan sensei, walaupun cuma guru kelas rendahan sekalipun).
O iya. Bagi yang sedang mempelajari bahasa Jepang tingkat menengah keatas, serial ini akan sangat menolong kamu dalam mempelajari beberapa ungkapan dan istilah bahasa Jepang hingga sejarah penggunaan kata yang mungkin saja tidak akan kamu temukan di buku pelajaran. Malah dalam beberapa hal, orang Jepang sendiri umumnya belum tentu mengerti beberapa hal yang diberikan dalam bentuk pelajaran di dalam serial TV ini. Bagi penggemar budaya Jepang, serial ini juga menampilkan beberapa hal terkait dengan budaya Jepang, baik kuno maupun modern. Misalnya saja tata cara kunjungan ke Jinja (kuil Shinto), perayaan obon, permainan kartu Hanafuda, suka duka arubaito (kerja part-time) hingga fenomena maid cafe. Pokoknya mendidik bgt dehh,, seruu!
) Saya ingin membelinya, tapi karena saya bukan atau belum menjadi pebisnis, saya pikir saya belum begitu membutuhkan buku tersebut. Kalau saya membelinya, mungkin chapter 2 ini akan menjadi sangat panjang...hehe















