My Opera is closing 3rd of March

kisahku

sendiri dalam sepi

Satu Hari bersama Rinjani

FILE 1
LINGKARAN HATI MERAH MUDA



“Saat pertama kali ku dengar suaramu
Hati kecilku berkata ada sesuatu
Mungkinkah dia gadis terakhir untukku
Yang selama ini kudambakan. Yeah
...”

Dari bait lagu yang kudengarkan, Eric-Bermodal Cinta gambarkan suasana hatiku yang ketika itu memang tak menentu. Hanya oleh seorang gadis SMA aku bisa seperti ini, apakah mungkin ?. Hmm rasanya aku tak kuat menahan tawa. Tapi, seketika aku mengerti. Dimana hati ini telah tercampur adukkan oleh senyawa dari satu zat yang berbeda.
Selama tiga tahun aku hampir melupakan yang namanya cinta. Bagiku, apa itu cinta ? hah, hanya bualan yang tak habis oleh kata-kata. Hanya ucapan yang menggoda. Tapi hari itu, pertama aku melihat dan menatap wajahnya seketika pula aku langsung menaruh hati yang mendalam. Membayangkannya saja membuatku semakin mabuk kepayang, seperti lagu Andra & The Bacbone.
Bayangkan saja selama tiga tahun itu hanya oleh satu gadis aku bisa merasakan kembali hatiku berbunga ketika gersang dan tandus hingga hamparan sampah pun serasa taman bunga yang harumnya merebak hingga ke penjuru dunia. Dalamnya pasifik seakan seperti genangan air di lubang kecil di tengah jalan, sampai aku tak bisa merasakan telah berada di dalam khayal yang teramat dalam. Dia yang cantik, dia yang menggoda, dan dia yang mempesona. Rinjani.
Beberapa bulan lalu, tepatnya bulan setelah Februari, Maret. Aku bertemu dengannya satu kali, disanalah benih bunga itu tersebar. “A, Fotocopy 1 rangkap” begitu ucapnya padaku yang bekerja di sebuah Toko ATK & Photo Copy sambil tersenyum dan melihat wajahku dan menyerahkan satu jilid buku, aku membalasnya dengan senyuman serupa. Hanya berselang beberapa menit saja aku sudah mengembalikan fotokopian dan satu bundel berkas asli. “Dicatat di buku ya a” pintanya, aku pun hanya tersenyum dan mengambil sebuah ballpoint menuliskan jumlah yang di Fotokopi termasuk harganya di buku bon milik langgananku. Aku melirik sedikit ke baju seragam yang dia kenakan, di dada sebelah kanannya tertulis nama, Rinjani. Tak lebih dari itu, aku hanya ingin tahu namanya saja, tak lama kemudian dia pun pergi. Aku masih berdiri menatapnya berjalan hingga jauh dan tak terlihat di ujung pandangan. Dari saat itu, ketika aku melihatnya hatiku berdegup kencang seakan melihat bidadari bersayap yang turun dari langit kemudian menghampiriku, “Ohh, Rinjani” gumamku.
Satu waktu yang menyenangkan bisa bertemu dengannya. Bukan aku mengada-ngada, tapi memang cinta itu membuat kita seperti melayang tinggi tak terkira hingga jatuh pun tak terasa dan saat kita berpijak tegak, kepala dan tangan menengadah kemudian, “sempurna”. Hari ini, dimana aku bisa tersenyum dan kemudian membayangkan sosok yang mengagumkan. Sosok yang membuai dan membelai hati dengan lembut, yang menyentuh jiwa dengan tenang yang memberi nafas dalam detak jantung yang padam.

***

Jam satu siang, gersang bukan kepalang, panasnya minta ampun. Kacida, satu kata yang menggambarkan betapa tanah subur ini berubah menjadi tandus, air langit yang mengguyur berubah liar menjadi sekumpulan bencana banjir, longsor, terpelosok amat dalam, atau satu kata yang melambangkan melebih-lebihkan pada hal yang kurang positif. Tenggorokanku kering haus rasanya, mataku pun mulai mengantuk oleh buaian angin berhembus ke daun telinga dan berbisik ‘tidurlah’. Tapi aku mencoba bertahan sambil mendengarkan sayup-sayup lagu yang dilantunkan penyanyi jepang Utada Hikaru begitu menggelora. Suara keyboard dan instrumen lainnya seolah membuatku rilex dan terbuai, tapi tetap saja mataku ini tak bisa diajak kompromi, apalagi hati dan pikiran sudah terprovokasi rasa jenuh memandangi pekerjaan yang menumpuk. Menyiksa.
Lebih baik lagi mungkin jika aku cuci muka atau sekedar jalan-jalan ke perempatan tempat bikers bayaran berkumpul. Mereka sering menggoda gadis-gadis cantik atau janda muda ataupun sekedar minum kopi kemudian dipanggil seseorang dari kejauhan, kadang juga memanggil mereka lalu mengantarnya dengan sopan ke tempat tujuan sang majikan. Ya benar, sebutan kasar mereka tukang Ojek. Dengan santai aku melangkahkan kaki meskipun tubuh ini sedikit sempoyongan karena matahari sekarang condong ke arah barat sehingga cahayanya menyilaukan pandanganku. Belum lagi panasnya yang hebat membuat kepalaku seakan terbakar. Ubun-ubunku kepanasan, ingin rasanya segera sampai di perempatan, karena disana banyak berupa-rupa minuman kaleng dingin, namun penjual es kelapa yang beradu harga promo dengan es campur, es serut atau es lainnya pun tak kalah ramai.
Jika menuruti tanggal Masehi, bulan April hingga Mei ini seharusnya tak sepanas sekarang. Tapi kita tengok menurut penanggalan dan hitungan bulan Hijriyah, biasanya satu atau dua bulan menjelang Puasa pasti gersang dan panas tak ada duanya hingga menuju Lebaran dan diakhirnya turun hujan pada malam tanggal satu Syawal atau tanggal tiga puluh malam. Bingung kan ? aku juga tak mengerti mengapa bisa seperti itu, tapi menurut analisaku yang mungkin kurang tepat itu semua fakta.
Sambil berjalan aku terus memikirkan hal itu sampai tak terasa aku telah tiba di perempatan jalan, beberapa ratus meter dari pintu rumah sekaligus toko tempatku bekerja. Tak seperti yang kupikirkan, bayanganku tadi sebelum pergi aku tarik kembali dan kusimpan di folder File Rusak. Panasnya melebihi ruang Cetak Foto-ku, aku hampir tak tahan melihat orang-orang bergulung, menunggu, dan memesan minuman menggoda dan menyegarkan itu. Semakin bingung saat pilihannya semakin banyak pedagang semakin banyak rupa yang mereka tawarkan. Huh, aku menghela nafas seketika. Kulihat anak kecil bersama ayahnya memegang satu kantong Es kelapa muda yang mengingatkanku tentang ayah, slurpp.. suaranya menggoda seakan satu teguk yang ia minum maka satu tetes yang masuk ke tenggorokanku. Glek.. aku menelan ludah.

***

Oh iya, bicara soal ayah, dia ayah terbaik yang pernah aku punya meskipun hanya dia satu-satunya ayahku. Satu cerita singkat tentang ayah mengalir begitu saja tanpa sadar membuatku tersenyum. Begini, ayahku keturunan jawa tulen alias asli orang jawa tepatnya jawa timur, orang yang ulet dan tanpa kenal lelah atau menyerah. Suatu ketika aku pernah bertanya mengapa bisa bertemu ibu, padahal kalian orang yang sangat jauh terpisah kataku. Waktu itu memang masih sangat polos dan serba ingin tahu. Maklum sifat orang-orang yang dilahirkan antara pertengahan Mei sampai pertengahan Juni memang seperti itu apalagi ditambah perhitungan menurut tahun cina aku tergolong orang yang selalu ingin tahu. Begitulah menurut ilmu perbintangan, kebenarannya Wallahu a’lam. Hanya ia yang maha kuasa yang tahu.
Ayah mulai bercerita padaku. Waktu ia kecil, ketika itu dia bersama dua saudaranya yaitu kakak Bu Dhe Umi dan Adik Bu Lek Ratih. Ayah masih sangat belia, kurang lebih sekitar 5 tahun lah. Dari jawa timur ia berkelana hidup di jalanan hanya dari meminta, hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan hingga akhirnya tiba di teras terakhir yang ia jumpai, dirawatlah ia disana dan diangkat menjadi anak oleh seorang pengusaha gabah (sekarang sudah bangkrut ).
Bertahun-tahun ia tinggal bersama orang tua angkat, ayah pun disekolahkan oleh orang tua barunya itu, sama seperti Bu Dhe Umi yang telah lebih dahulu sekolah sebelum ayah sementara Bu Lek Ratih, saat itu ia masih amat kecil jadi hanya di suruh diam dan bermain saja di rumah, karena memang belum mencapai batas umur pendidikan sekolah dasar, biasanya enam atau tujuh tahun. Di sanalah petualangan besar berselimut mimpi-mimpinya berawal.
Menginjak remaja ayah dimasukkan ke SMP, entah aku tak tahu karena ayah tak pernah memberitahuku dimana ia sekolah meskipun aku pernah melihat ijazah SD dan SMP serta sertifikat-sertifikat yang kurasa sangat penting baginya karena waktu itu aku masih belum bisa membaca dengan lancar, semi buta huruf .
Tiga tahun berselang, ayah lulus dari SMP begitu pula dengan Bu Dhe Umi yang sudah memasuki masa-masa paling indah di sekolah, ya SMA. Lain halnya dengan bu dhe, ayah memilih untuk tidak meneruskan sekolah lantaran ia bersikeras untuk masuk ke akademi militer, namun naas baginya dan sayang seribu sayang. Orang tua angkat ayah tak mau ia pergi dari rumah hanya karena ambisinya itu, akhirnya ia pun melampiaskan amarahnya untuk mengikuti kursus otomotif, saat itu sedang tren di kalangan anak muda. Betapa tidak, anak muda zaman dulu yang mengenal mesin apalagi bisa memperbaikinya maka cepatlah dia menggaet wanita, itulah prinsip ayahku, sama sepertiku. Kekurangan adalah pisau untuk menikam dan kelebihan adalah tameng sekaligus asahan untuk mempertajam pisaunya sebagai senjata.
Mungkin sudah garis keturunannya bahwa semua keluarga, tak lain bu dhe dan bu lek bersifat flexible, atau mungkin pelajaran pertama yang dikenalkan orang tua angkat mereka karena aku tak pernah mengetahuinya. Satu-satunya yang ku tahu ketika aku kecil banyak sekali orang mengetahui nama-nama keluarga besar kami, bahkan yang lebih heboh ketika ayah menikahi ibu di Subang (Ds. Sukamaju Kec. Compreng) kalau tak salah karena sudah belasan tahun aku meninggalkan kenangan itu yang saat ini hanya tersimpan di map dalam hati. Menurut cerita, ayah menikahi ibu dengan pesta yang meriah. Keluarga dari Ciamis, Bandung, bahkan sepupu-sepupu ayah dan saudara angkat mereka hadir di sana, yang lebih kagum adalah kenalan ayah, menurut cerita mereka tak pernah bisa dihitung jumlahnya dengan jari, mungkin sepanjang jalur pantura dari Pamanukan hingga Cirebon. Sungguh luar biasa. Dan itulah ayahku.
Ibu seorang guru agama Madrasah Ibtidaiyah di Sukawera, ia yang senang berfoto selalu menyempatkan diri ke teman baiknya bahkan bukan hanya itu, ketika Ibu Sedang sendiri dan butuh teman maka teman fotografer itulah yang menjadi andalan obat galau ibu. Seringnya ibu mampir kesana dan juga karena rumah berdekatan, suatu saat ayah datang untuk menjumpai suami teman ibuku, dia sahabat ayah. Mereka bercanda, bergurau di ruang tamu sedangkan ibu di dapur menyiapkan minuman untuk tamu agung itu, . Tak lama disana, ayah langsung pulang karena mengurus beberapa hal perihal gabah yang akan dia antar ke luar kota. Tapi, besoknya ia datang lagi hingga satu minggu berlalu kelakuan ayah semakin aneh dan membuat jengah sahabatnya, mang Marta begitu panggilannya. Maka selama satu minggu itu ia mencari pujaan hati, esoknya langsung dikenalkan. Hanya butuh satu bulan untuk meyakinkan ibu dan menjadikannya kekasihnya. Namun aku kurang tahu apa yang terjadi setelah itu, hanya tahu dari fhoto kuno ayah dan ibu yang duduk mesra memangku aku dan foto ayah yang lari terbirit-birit meninggalkan warung ketika acara siraman pengantin.
Ciamis tanggal 15 bulan Juni tahun 1990 hari Jum’at kurang lebih antara jam satu atau jam dua, semuanya berharap cemas. Ayah yang waktu itu baru pulang dari Masjid bersama Kakek gugup menanti buah hati yang telah lama bersembunyi didalam perut isteri dan anaknya. Bahkan ayahku sempat lemas karena mendengar jeritan ibu yang begitu nyaring seperti lengkingan kumandang adzan dari Toa di Masjid sebelah rumah, namun hanya sekejap, dan aku lahir. Seketika suara keras tangis bayi mungil seberat tak lebih dari dua kilo diselingi adzan yang ditiupkan di kuping kanan dan iqomat di kuping kiri bayi menghempaskan suasana cemas, resah dan gelisah. Hanya ada satu mimik wajah yang tengah merayakan hal itu. Senyum merekah menghiasi wajah mereka di rumah panggung sederhana itu.
Ibu senang bukan buatan, namun menyisakan satu mimik masih kesakitan. Bahagia karena hari itu hari ulang tahunnya dan aku sebagai kado istimewa dari tuhan untuknya, sakit ?? jelas saja karena telah mengeluarkan benda berdiameter lebih dari sepuluh senti dari perutnya melalui kemaluannya. Tapi itulah ibuku orang yang tegar dan kuat, bahkan saudaranya terkagum-kagum olehnya.
Ayah histeris berteriak dalam hati, namun bibirnya tetap komat-kamit membaca mantra yang kakek ajarkan. Mendoakanku agar kelak menjadi anak yang berguna bagi bangsa, agama dan negara. Anak Pertama katanya lemas, namun tak menyurutkan niatnya untuk tetap menggendongku. Paraji segera mengambil aku yang masih bayi ke jolang untuk membersihkan sisa-sisa darah yang menempel di tubuh kecilku itu. Tak lama, ayah memberiku nama. Hanya butuh satu minggu untuk mencari nama yang tepat, begitu cepatnya. Ia mewariskan satu nama yang berharga yang kelak membawaku ke berbagai pengetahuan yang luar biasa. ‘Irfan’, nama pertamaku diambil dari kata dalam bahasa arab ‘arofa yu’rifu ‘irfanan yang berarti orang yang tahu atau pengetahuan, dan nama tengah diambil dari nama akhir ibu dan ayahku Rohati dan Sujani (Suyani) ‘Rohmayani’ dan nama terakhirku adalah warisan dari nama bulan yang bertepatan dengan lahirnya aku dan warisan dari adik ibuku ‘Hafizh’. Irfan Rohmayani Hafizh yang berarti orang yang akan mengetahui segalanya tentang ilmu pengetahuan ucap ayahku ketika aku diejek karena nama tengahku mirip nama seorang perempuan. Dan jika diingat dan dibayangkan sungguh lucu aku waktu kecil dulu, mungkin.
Bertahun-tahun aku hidup di Subang bersama ayah dan ibu, masa kecilku kuhabiskan di sana. Suatu waktu di Pasar Malam di komidi putar, aku dek Pipit dan dek Adik kedua anak Lek ratih dan Lek Yanto suaminya, bu dhe Umi, Ibuku, dan Mas Hendri Sudarmanto yang sedang menikmati liburan musim panas bergembira bersama. Ayahku ? dia menjajal menjadi bisnisman yang terjun langsung ke lapangan sebagai penjual asongan yang tak pernah surut dari pembeli, kesana kemari dan akhirnya semua dagangannya habis. Apapun yang kumau ia turuti tak peduli ia sedang berdagang atau tidak, namun yang kutahu ia adalah pekerja keras sekeras kepala batunya ia yang tak pernah patah semangat seperti tulang dan mental bajanya, meskipun ditertawakan dia tetap percaya diri dan hanya diri sendiri yang ia yakini mampu melewati tantangan apapun. Karena setiap tantangan tak semudah seperti orang-orang yang mudah melewatinya dan tak serumit seperti orang-orang yang susah melewatinya, tapi ayah pernah berkata kepadaku, ajaran yang sangat penting yang mesti aku anut. Tetatpkanlah hatimu, jika hatimu berkata kiri maka kirilah yang kau ambil jika kamu berkata kanan maka kananlah yang kau ambil dan jika hatimu takut maka takutlah yang muncul di perasaanmu tapi jika hatimu berani maka apapun yang didepan takkan pernah kamu takuti, tanpa meninggalkan ajaran agama kita. Katanya sungguh bijak.

***[/FONT][/SIZE]

(No Vel) FILE 2 3D (DIAM DUDUK DAMAI)

Write a comment

New comments have been disabled for this post.

February 2014
M T W T F S S
January 2014March 2014
1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28