My Opera is closing 3rd of March

kisahku

sendiri dalam sepi

(No Vel) FILE 2 3D (DIAM DUDUK DAMAI)

Malam larut tanpa hening gaduh yang tersisa, rumahku surgaku “Home Sweet Home”. Di lantai atas, seperti biasa aku menyendiri, menyalakan komputer, musik lalu Online. Facebook, Web faforitku selain Twetter, Youtube dan Yahoo. Entah apa yang kupikirkan tiba-tiba aku mengambil HP dan mencari seseorang di contact number. Aku sms Lina, meminta nama acount Facebook Rinjani, karena aku tahu dia salah satu temannya. Tak lama menunggu smsku dibalas. Ooowww seperti dugaanku.
Nama akunnya Rinjani Bunga Abadi, secantik dan seindah namanya. Entah berapa lama aku memandangi wajah manis di foto profil facebook itu setelah aku cari di laman teratas, mengherankan dan mengagumkan “mengapa aku harus bertemu dengannya? karena aku tergoda?”. Alunan musik yang kudengarkan perlahan-lahan semakin mengguncang hati. Musik sayu terasa merdu membuai dan mengarahkanku ke alam bawah sadar dimana pikiranku tak sesuai dengan gerak otakku. Mungkin beribu puisi yang ku tuliskan dengan sebatang pena di atas kertas telah mewakilkan apa yang kupikirkan, yang kubayangkan.
Satu jam menunggu, laporan terakhir yang kudapat di facebook, “Rinjani Bunga Abadi menerima permintaan pertemanan anda”. Mungkin Lina yang memberitahu dia atau mungkin hanya sekedar kebetulan saja. Tak cukup sampai di situ, penasaran tingkat dalam telah menghampiri, iseng-iseng aku membuka wallnya. Update statusnya berupa kata-kata manis yang bisa membuat orang kehilangan jati dirinya mabuk kepayang, tapi di atasnya aku tuliskan “Thank for confirm and who are you” sok iseng pake bahasa inggris, entah apa artinya aku pun tak tahu. Lama menunggu balasan wall kirimanku tak ada juga jawaban. Kesal juga lama-lama, kemudian mencoba lewat obrolan dan akhirnya, OFFLINE.
Sayangnya mungkin ini bukan hariku, hanya sekedar tahu dia saja sudah membuat bahagia meskipun itu susah, tapi rasa berat yang menggantung sudah sedikit menghilang tinggal sebagian yang harus aku kurangi sebelum terbawa arus yang tak tentu arah. Inginnya aku mengenalnya lebih dekat, ya lebih dari itu mungkin tapi panjang tangan tak sepanjang kaki. Aku pesimis untuk bisa duduk berdua di suatu tempat dan menceritakan kisah-kisah romantis tentang bunga-bunga yang mekar dan menaburkan kedamaian di hati. Tapi aku mengingat sesuatu yang ganjil tentang tangan dan kaki. Tangan memang tak lebih panjang dari kaki, tapi kaki tak bisa menyentuh kepala, dengan kaki aku bisa mengejarnya dan dengan tangan aku bisa menggapainya. Aku pun tersenyum dan larut dalam buaian malam serta mimpi-mimpi indah di alam bawah sadar.

***

Bisa-bisanya aku tertawa. Pagi ini, dingin yang menyelimuti dunia hingga menusuk tulang dan raga tak seperti biasanya. Mentari yang terlambat datang hingga rincik hujan yang semakin deras memanjakan hijau daun yang hampir layu. Kupandangi hampir setiap pepohonan yang melambai diterpa badai kecil begitu riangnya menyambut tetesan air dari langit. Tetesan air yang lebat berjatuhan di dahan pohon, kadang terlihat disambut dedaunan di ranting kering hingga akhirnya terjatuh dan di telan bumi.
Secangkir teh sudah cukup menghangatkan dan mengembalikan suhu tubuhku. Secara normal, seharusnya bulan ini musim panas tetapi hujan di pagi ini membuatku merasa heran, apalagi jalanan di depan rumah sedang ramai. Sebagian besar orang memutar balik kendaraan mereka yang hendak bekerja dan sebagian lagi memilih berteduh dan menunggu hujan kembali reda. “Hanya sebentar” kata orang yang aku temui berteduh di depan rumah. “Oh, mungkin sebentar lagi juga reda ya pak” kataku membenarkan argumennya.
Tak habis pikirnya hari itu sungguh hari yang sangat berat bagiku. Betapa tidak, aku takut hujan yang lebat tak cepat reda ditambah banjir yang sering melanda sekeliling rumah menambah satu masalah yang sangat serius. Selain itu, aku takut tak bisa bertemu dengannya. Ya, meskipun baru mengenal dan meskipun baru aku saja dan dia belum tahu siapa aku tapi tetap yang kurindukan adalah menambah satu senyuman hari ini untuk dirinya seorang. Pikiranku bertambah kacau lebih dari sekedar galau, mungkin bisa disebut risau.
Karyawan pamanku bersiap membuka toko, sekelebat hawa dingin masuk membekukan debu yang beterbangan didalamnya, rasa dingin itu seperti di kutub utara. Ctrek !! satu persatu mesin foto copy dinyalakan sekejap saja hawa panas dari mesin menghangatkan ruangan. Bagai ikan yang diberi air oksigen kembali mengisi ruangan yang dapat kuhirup dan kunikmati, aku menghela nafas panjang dengan tangan yang menjulur ke belakang mesin.
“Hmm... andai saja tiap hari seperti ini lama-lama membuatku jadi keriput dan malas mandi” ucapku agak keras. Mereka yang mendengarku mengoceh sendiri dan tersenyum. “Bukannya kau malas mandi seperti biasanya ?” ucap karyawan yang sangat dekat denganku membalikan perkataanku, Sial..!! ucapku dalam hati. “Alaah kau juga sama saja” aku menimpal. Gelagak tawapun langsung tumpah menambah kehangatan di cuaca buruk hari ini. Seperti biasa, Omku yang kadang pemalas tak mau bangun dari tempat tidur hingga matahari tak redup lagi. Sebagai gantinya, terpaksa aku penanggung jawab semua yang ada di dalam toko termasuk Radit dan Doni kedua karyawan sekaligus anak buah Omku sebelum kerja di lantai dua.
Satu motor lagi terparkir di depan toko, tapi kali ini seorang gadis dia langsung berlari dan berteduh. Aku, Radit, dan Doni langsung memperhatikan langkahnya, seingatku dia yang selalu bersama Rinjani mungkin teman satu sekolahnya. “Aa, boleh ikut berteduh gak?” dia bertanya padaku yang kebetulan sedang duduk memegang secangkir teh. “Oya boleh” jawabku “Mau kemana Neng?” tanyaku. Dia pun menjawabnya dengan lembut dan kata-kata yang halus. Sehalus wajahnya sejauh yang kulihat “berangkat PKL A, padahal tinggal dikit lagi” seperti itu jawabnya.
Dari berteduh akhirnya dia berbicara panjang lebar dan menjadi obrolan yang panjang hingga tak segan kami bercanda. Seketika aku kagum melihat anak SMA seperti dia, santun ramah dan sopan. Namun halnya karet yang mempunyai sifat fleksibel secara alami, ditarik kemanapun pasti kembali ke bentuk semula tapi karet tak tahan api, jika terbakar akan hangus dan tak membekas, itulah dia sebagai orang yang baru aku kenal. Hmm sungguh mengagumkan.
Lama aku berbincang-bincang dibawah rincik hujan. Dia Sinta, kubaca dari pengenalnya seorang siswi di SMEA tempat Rinjani sekolah, aku tahu dari logo sekolah yang sama persis milik Rinjani. Anak yang rajin yang mau membantu orang tuanya mengerjakan pekerjaan rumah yang seharusnya oleh Ibu dan Ayahnya, karena dia menceritakan bagaimana dia sampai terlambat yang seharusnya tiga puluh menit dari tadi dia sudah tiba.
Waktu memang berputar dengan cepat ketika kami sedang nyaman dalam posisi yang menyenangkan. Kuhabiskan pagi ini dengan menemani seorang gadis SMEA jelita, baik hati, ramah dan supel. Tak sengaja “Kamu tahu Rinjani?” pertanyaan itu terlontar begitu saja, mengagetkannya. Dia diam, keningnya mulai mengerenyit dan menatapku tajam. “Koq tahu, aku punya teman namanya Rinjani” dia balik bertanya sambil menunjukku. “Kemarin aku bertemu dengannya” kataku gugup “lagipula aku sering lihat kalian boncengan pulang sekolah sama-sama” kataku sekali lagi. Dia tersenyum dan melemparkan mukanya dari hadapanku.
Matahari mulai menunjukkan sinarnya, langitpun tak lagi gelap seperti saat aku bangun tadi. Tapi, lonely kata yang mencakup segala aspek kesendirian, gelap, dingin, sunyi meskipun cahaya itu telah menghangatkan seluruh bumi. Pikiranku menjamah dari ujung timur ke ujung barat, dari pasifik ke Hindia, dari benua biru hingga benua putih dan abu-abu, hmm abu-abu apa ada benua seperti itu ?. Aku bentangkan layar dan melaju mengikuti arus, mengelilingi dunia dengan satu sentuhan ajaib dibalik cahaya berbentuk gambar tiga dimensi (3D). Click, suara itu dari genggaman tangan kananku. Maka seketika munculah papan surfing di depanku Mobile Partner dan kujelajahi dunia mulai dari yang terdekat, Asia, Australia, Eropa, Amerika, Arktik, Antartika, Mongolia, Slovenia, dan banyak lagi negara yang belum pernah aku jamah itu.
Bermula dari pintu gerbang yang anggun nan cantik bak nirwana dunia, segalanya ada. Di pinggir pantai google, langkah pertamaku sebelum mengarungi samudera ilusi dunia maya dan berangkat menuju pulau biru dengan berbagai komunitas, facebook. Pulau merpati biru yang tetap berseri menghembuskan semilir angin segar ditambah suara burung-burung kecil yang banyak berkicau, twitter. Dan yang satu ini yang paling ku andalkan dalam prihal kirim mengirim surat, professional, cepat dan tegas, dua serdadu pengaman data pribadi Yahoo Mail dan Google Mail.
Bermula dari pulau biru itu. Banyak putri duyung yang sontak mengejukan setiap yang menemuinya, cantik bukan main. Pesonanya melambai menyembul dibawah gelombang menampilkan sudut gambar dari setiap lekuk wajah yang sengaja dipasang untuk mengingat identitas. Disekelilingnya pangeran-pangeran tampan menebar pesona demi menarik perhatian duyung tadi, aku ?? seolah tak peduli padahal aku ingin . Melaju mencari komunitas, didepanku banyak sekali perdebatan tentang segala hal, bermula dari saling jawab lalu berargumen bahwa ini itu blaa blaa blaa hingga akhirnya menjadi kekacauan dan perpecahan antar bangsa. Dimulai membicarakan makanan, jalan, sosial, politik, pemerintah, bahkan presiden, maka itulah aku mengerti mengapa selama ini presiden selalu diam dan seolah tak peduli karena itulah indonesia penuh diwarnai intrik, konflik, dan politik.
Kaula muda yang dimabuk cinta, mengungkapkan beribu puisi untuk sang pujaan hati disanalah tempat mereka, anak ABG belasan tahun yang kerap mericuh riuh tak jelas siapa yang menerima puisi itu sebenarnya. Ada pula yang meracu teu puguh marah-marah, menyebut mereka yang dihardik dengan nama binatang yang kotor. Aku tak kuat melihatnya. Di keributan dunia maya itu berhembus angin segar yang mengantarku pada diskusi yang paling aku sukai, membahas tentang perilaku, sikap, moral, agama, dan yang berhubungan dengan cinta tentunya.
Disanalah aku tenang membaca kolom komentar satu-satu dari para hadirin. Berbeda dengan yang lain, disini sungguh menyenangkan. Tak ada kata binatang kotor yang terlontar, mereka semua sama, yang bertujuan untuk membahas dan mencari jalan keluar atau hanya diskusi tentang hal-hal positif bukan sebaliknya yang saling hardik.
Bercampur ras, suku, bangsa, agama, mereka semua menaruh hormat dan kerukunan antar warga. Terlebih jika kita mengenal satu sama lain maka baris komentar itu seakan hidup jika dibaca dari awal. Aku suka iri dengan teman-teman lainnya, tak jarang pula aku selalu menjadi bahan diskusi hingga akhirnya aku diminta menjadi admin komunitas tersebut karena setiap kali admin membuat tulisan tentang pemecahan argumen yang sulit dipatahkan aku menjadi solusi yang baik dan paling banyak mengumpulkan cap jempol. Fantastis.
Tak heran teman-teman menyebutku anak kuper yang tak pernah pergi kemana-mana. Suasana dunia mayalah yang mengubahku menjadi seperti itu yang awalnya begundal tengik, anak kurang ajar, berandal, dan apalah aku disebut mereka dengan hal yang berbau negatif kini menjelma menjadi sosok yang tak suka keluar rumah jika tak ada yang dibutuhkan. Tapi jika aku pikir kembali merekalah yang menyebutku anak kuper yang memang benar-benar kuper.
Pergaulan mereka hanya di lingkungan itu-itu saja, sedangkan aku telah berjumpa dengan berbagai suku bangsa dari negara yang berbeda dan saling bertukar informasi tentang keadaan masing-masing negara meski di dunia maya. Setiap berita baru terbit aku langsung tahu, setiap ada kejadian apapun yang dekat atau jauh di negeri sana aku pun tahu, sekecil apapun itu. Kali ini aku sependapat dengan ayah bahwa nama Irfan cocok untuk karakterku yang serba ingin tahu, penasaran dan selalu ingin mencoba.

Satu Hari bersama Rinjani

Write a comment

New comments have been disabled for this post.

February 2014
M T W T F S S
January 2014March 2014
1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28