Barack Obama 08 vs Indonesia 09
Tuesday, January 20, 2009 2:13:16 AM
2009... Indonesia akan merayakan pesta demokrasi, hampir setahun penuh, sedari Maret saat kampanye dimulai sampai 20 Oktober ketika Presiden terpilih dilantik...
Hari ini, 20 Januari, warga Amerika (dan mungkin warga dunia) sedang merayakan kemenangan seorang Barack Obama menjadi Presiden ke 44 negara adidaya... Merayakan kemenangan American Dream... bisa menjadi apa saja yang diimpikan warganya... (be all you can be, begitu slogan Angkatan Darat AS untuk menarik para pelamarnya).
Mengesampingkan semua persyaratan dan asumsi yang harus dipenuhi, proses reformasi di Indonesia telah memungkinkan, seorang warga biasa di Indonesia untuk menapaki tangga mobilisasi vertikal melalui jalur politik yang kian liberal... di semua tingkatan... mulai dari anggota DPRD Kabupaten/Kota, DPRD Provinsi sampai DPR dan DPD, mulai dari menjadi Bupati/Walikota, Gubernur, berbagai jabatan politik tingkat nasional, sampai Presiden.
Tetapi proses reformasi masih menyisakan pekerjaan rumah besar di bidang lain... Ekonomi. Kita mengenal ungkapan, "memperluas kesempatan berusaha... memperluas kesempatan kerja... dan lain sebagainya. Tetapi, pada kenyataannya, proses yang selama ini terjadi tidak pernah memperluas peluang mobilisasi vertikal dalam perekonomian. Coba perhatikan, seberapa banyak pemain baru individual atau korporasi yang menanjak sejak reformasi... Bukankah hanya itu-itu saja. Parahnya lagi, mungkin saja ada beberapa yang baru, tetapi terkait erat dengan mereka yang menapaki mobilisasi vertikal jalur politik...
Bukankah semua pihak sadar, pemerintah sendirian tidak mungkin mampu menyediakan jutaan lapangan kerja yang dibutuhkan untuk mengurangi tingkat pengangguran Indonesia, apalagi sampai memotong setengahnya??? Tapi, bukankah kita mendapat pelajaran dari krisis 1997, bagaimana dampaknya ketika perusahaan-perusahaan besar yang dibanggakan karena mampu membuka lapangan kerja yang besar, bangkrut karena salah urus dan menimbulkan pengangguran dalam jumlah besar??? Pelajaran itu pun masih ditunjukan juga oleh krisis keuangan yang kini sedang berlangsung... Lantas apa salahnya jika kita bisa semakin memperlebar pintu masuk atau memperluas lapangan yang bisa membuat setiap orang memiliki peluang yang sama untuk melakukan mobilisasi vertikal dalam perekonomian dengan berusaha mandiri... Bukankah Yunus telah membuktikan bahwa itu bisa dilakukan??? Memang sebagai homo economicus, pemerintah cenderung bekerja efisien dengan membuka kesempatan kepada mereka yang bisa dengan cepat membuka lapangan kerja banyak.
Kalau pun kesempatan kerja terbuka luas dan pengangguran berkurang, struktur kemiskinan tidak terselesaikan di akarnya karena hanya bertopang di lahan yang sempit yang dimiliki segelintir. Selain itu, struktur tinggi yang bertopang di lahan sempit, meskipun sepertinya efisien, tidak tahan menghadapi terpaan angin kencang apalagi goncangan gempa bumi. Memperluas lahan akan memperkokoh struktur tinggi dalam menghadapi berbagai gejolak.
Setelah itu, masih juga ada persoalan kita yakni, mengupayakan agar peluang mobilitas vertikal yang diperluas harus bisa juga mengupayakan terciptanya "keadilan" yang semakin bisa membuka peluang terciptanya pemerataan kesejahteraan. Bukankah bila ini bisa diupayakan, maka pasar kita yang potensial akan menjadi pasar yang semakin riil... yang pada gilirannya akan semakin menciptakan peluang yang luas bagi pertumbuhan???
Saya kira kegembiraan yang dirayakan di AS setidaknya bisa memberi kita harapan baru... Tetapi, yang masih mengganjal, akankah pemilu Indonesia sepanjang tahun 2009 menghasilkan perubahan yang memperluas peluang mobilisasi vertikal dalam perekonomian... atau setidaknya memperluas peluang berusaha atau memulai usaha bagi semua lapisan... dan tentunya juga perbaikan formalitas demokrasi yang membuat persaingan mobilitas vertikal dalam politik semakin transparan dan terbuka.
Mungkin ini hanya impian di siang bolong... karena kita mungkin masih butuh waktu untuk berproses... tapi apa salahnya bermimpi...
Hari ini, 20 Januari, warga Amerika (dan mungkin warga dunia) sedang merayakan kemenangan seorang Barack Obama menjadi Presiden ke 44 negara adidaya... Merayakan kemenangan American Dream... bisa menjadi apa saja yang diimpikan warganya... (be all you can be, begitu slogan Angkatan Darat AS untuk menarik para pelamarnya).
Mengesampingkan semua persyaratan dan asumsi yang harus dipenuhi, proses reformasi di Indonesia telah memungkinkan, seorang warga biasa di Indonesia untuk menapaki tangga mobilisasi vertikal melalui jalur politik yang kian liberal... di semua tingkatan... mulai dari anggota DPRD Kabupaten/Kota, DPRD Provinsi sampai DPR dan DPD, mulai dari menjadi Bupati/Walikota, Gubernur, berbagai jabatan politik tingkat nasional, sampai Presiden.
Tetapi proses reformasi masih menyisakan pekerjaan rumah besar di bidang lain... Ekonomi. Kita mengenal ungkapan, "memperluas kesempatan berusaha... memperluas kesempatan kerja... dan lain sebagainya. Tetapi, pada kenyataannya, proses yang selama ini terjadi tidak pernah memperluas peluang mobilisasi vertikal dalam perekonomian. Coba perhatikan, seberapa banyak pemain baru individual atau korporasi yang menanjak sejak reformasi... Bukankah hanya itu-itu saja. Parahnya lagi, mungkin saja ada beberapa yang baru, tetapi terkait erat dengan mereka yang menapaki mobilisasi vertikal jalur politik...
Bukankah semua pihak sadar, pemerintah sendirian tidak mungkin mampu menyediakan jutaan lapangan kerja yang dibutuhkan untuk mengurangi tingkat pengangguran Indonesia, apalagi sampai memotong setengahnya??? Tapi, bukankah kita mendapat pelajaran dari krisis 1997, bagaimana dampaknya ketika perusahaan-perusahaan besar yang dibanggakan karena mampu membuka lapangan kerja yang besar, bangkrut karena salah urus dan menimbulkan pengangguran dalam jumlah besar??? Pelajaran itu pun masih ditunjukan juga oleh krisis keuangan yang kini sedang berlangsung... Lantas apa salahnya jika kita bisa semakin memperlebar pintu masuk atau memperluas lapangan yang bisa membuat setiap orang memiliki peluang yang sama untuk melakukan mobilisasi vertikal dalam perekonomian dengan berusaha mandiri... Bukankah Yunus telah membuktikan bahwa itu bisa dilakukan??? Memang sebagai homo economicus, pemerintah cenderung bekerja efisien dengan membuka kesempatan kepada mereka yang bisa dengan cepat membuka lapangan kerja banyak.
Kalau pun kesempatan kerja terbuka luas dan pengangguran berkurang, struktur kemiskinan tidak terselesaikan di akarnya karena hanya bertopang di lahan yang sempit yang dimiliki segelintir. Selain itu, struktur tinggi yang bertopang di lahan sempit, meskipun sepertinya efisien, tidak tahan menghadapi terpaan angin kencang apalagi goncangan gempa bumi. Memperluas lahan akan memperkokoh struktur tinggi dalam menghadapi berbagai gejolak.
Setelah itu, masih juga ada persoalan kita yakni, mengupayakan agar peluang mobilitas vertikal yang diperluas harus bisa juga mengupayakan terciptanya "keadilan" yang semakin bisa membuka peluang terciptanya pemerataan kesejahteraan. Bukankah bila ini bisa diupayakan, maka pasar kita yang potensial akan menjadi pasar yang semakin riil... yang pada gilirannya akan semakin menciptakan peluang yang luas bagi pertumbuhan???
Saya kira kegembiraan yang dirayakan di AS setidaknya bisa memberi kita harapan baru... Tetapi, yang masih mengganjal, akankah pemilu Indonesia sepanjang tahun 2009 menghasilkan perubahan yang memperluas peluang mobilisasi vertikal dalam perekonomian... atau setidaknya memperluas peluang berusaha atau memulai usaha bagi semua lapisan... dan tentunya juga perbaikan formalitas demokrasi yang membuat persaingan mobilitas vertikal dalam politik semakin transparan dan terbuka.
Mungkin ini hanya impian di siang bolong... karena kita mungkin masih butuh waktu untuk berproses... tapi apa salahnya bermimpi...




