novel iwanmakmunmawardie "BILA RANDU BERBUNGA" kedua, halaman sembilan
Monday, 23. November 2009, 07:45:48
Pasar Klewer.
Seperti keabanyakan pasar lain, semua orang berkata-kata. Sendirian pun juga tetap bisa berkata-kata, menawarkan dagangan. "Pakaian, bu. Pakaian untuk bapak-bapak juga ada." Tak ketinggalan penjual makanan gendongan. Bukan hanya satu, tapi banyak. Mereka menjual makanan-makanan bergisi tinggi, tapi kadang dihainggapi lalat. Ditutup dengan plastik pun lalat berusaha untuk tetap saja menginjakkan kaki-kaki mereka pada makanan-makanan itu. Padahal mereka tak pernah mau mencuci kaki.
Sementara pada sebuah lorong yang di kanan dan kirinya toko-toko kain, pakaian, atau apa saja yang terbuat dari kain, sampai aromanya juga kain, Jangkar dan Kalang berjalan seenaknya, melangkah tanpa tujuan, sesekali saja berhenti, pura-pura melihat-lihat kain yang ditawarkan. Kalang tak bermaksud membeli. Dia hanya ingin berlama-lama bersama Jangkar. Bukan pula pada satu dua toko hal itu dilakukan. "Kalau dia marah?" bisik Jangkar di telinga Kalang, sambil melirik ke arah penunggu toko. Namun Kalang cuma senyum-senyum.
"Cari makan, ya?" Malahan Jangkar sendiri yang merasa kurang nyaman menyaksikan tingkah Kalang.
"Ntar..."
"Ingin beli apa sih, kamu, Ka?"
"Cuma ingin melihat-lihat, mosok dilarang? Malu ya!?"
"Kamu ndak malu?"
"Tidak." Lantas Kalang bermaksud melihat pakaian yang satu lagi.
Jangkar yang geregetan sedari tadi, segera meraih jemari Kalang. Akan menjadi jelek kalau sampai terjadi tarik-tarikan. Kalang mengalah, menurut, dan membiarkan jemarinya tetap berada dalam genggaman Jangkar.
Mereka meninggalkan penghujung los itu. Sesaat kemudian, mereka telah duduk manis pada sebuah restoran kecil yang kebetulan lagi sepi pengunjung.
"Pesan apa?" tanya Kalang.
"Es buah."
Kalang segera berdiri, mendekati satu-satunya pelayan
restoran yang sibuk menggoreng tempe. "Es buah dua!"
"Nggih," angguknya. Karena memang di meja tak ada daftar menu. "Dhahar, Mbak?"
"Ya, buatkan salad satu."
"Nggih."














