problem kejahatan dan penderitaan dalam perspektif teodice Leibniz dan relevansinya bagi pendewasaan iman
Friday, February 22, 2008 12:46:01 PM
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG PENULISAN
Manusia hidup dalam suatu dunia yang sedang mengalami ambiguitas moral. Di satu pihak manusia mengalami banyak momen yang menyenangkan, membahagiakan dan menggembirakan, namun di pihak lain ia mengalami ketidakbahagiaan, ketidaksenangan dan penderitaan dalam dunia yang sama. Ada penderitaan yang tak terperikan, kemiskinan, rasa sakit yang mengerikan, tindakan-tindakan irasional seperti kekerasan dan penganiayaan, serta ancaman akan kematian yang datang secara mendadak.
Seorang filsuf Yunani, Epikurus sekitar 300 tahun sebelum Kristus merumuskan problem pertentangan antara kebaikan dan kemahakuasaan Allah di satu pihak dan kebobrokan dunia di pihak lain sebagai berikut:
Atau Allah ingin menghapus kebobrokan, tetapi tidak sanggup; atau Ia sanggup, tetapi tidak mau; atau Ia tidak mau dan tidak sanggup; atau Ia mau dan Ia sanggup juga. Kalau Ia mau, tetapi tidak sanggup, maka Ia lemah, hal mana tidak sesuai dengan hakikat Allah. Kalau Ia sanggup, tetapi tidak mau, maka Ia bersifat jahat yang juga tidak cocok bagi Allah. Kalau Ia tidak mau dan tidak sanggup, Ia sekaligus bersifat jahat dan lemah, karena itu Ia bukan Allah. Kalau Ia mau dan sanggup juga, satu-satunya kemungkinan yang sesuai dengan Allah- maka dari manakah kebobrokan? Atau mengapa Allah tidak menghapusnya?
Terhadap semua realitas penderitaan dan kejahatan di atas, manusia secara spontan bertanya: mengapa semuanya itu terjadi? Mengapa dunia ini penuh kekerasan dan penderitaan? Apakah ada alasan? Pertanyaan-pertanyaan eksistensial ini menggugah penulis untuk mendalami dan merefleksikan tema-tema tersebut dalam tulisan ini. Dengan berbasiskan konsep teodice Leibniz, penulis berusaha memberikan jawaban terhadap semua orang yang dalam hidupnya bergulat dengan hakekat dunia dan intervensi Allah terhadap dunia dan ciptaan-Nya.
Salah satu cara untuk memperkenalkan masalah kejahatan dan penderitaan adalah dengan bertanya bagi siapa problem itu hadir. Satu jawaban yang pasti dan lazim adalah bahwa problem kejahatan dan penderitaan adalah problem untuk theisme. Theisme percaya bahwa dunia diciptakan oleh seorang Pribadi yang mahakuasa dan mahabaik, yang disebut Allah. Kaum theis yang hadir dalam diri para penganut agama Kristiani, Yahudi, Muslim, percaya akan beberapa sifat, karakter Allah sebagai berikut. Pertama, Allah itu satu. Di sini theisme adalah sebuah bentuk dari monotheisme. Kaum monotheist, percaya hanya kepada satu Allah dan hanya kepada Dia sajalah mereka mengarahkan hati dan bersembah-sujud. Kedua, Allah adalah Pencipta dunia. Kaum theis mengklaim bahwa dunia bereksistensi karena sebuah keputusan pada pihak Allah dan karena itu bergantung kepada-Nya. Itu berarti segala sesuatu yang terjadi di dunia menjadi mungkin karena kehendak Allah. Di luar kehendak dan kontrol Allah, segala peristiwa yang terjadi tidak mungkin ada. Bagi kaum theis dunia adalah sesuatu yang kontingen. Artinya segala yang ada dan terjadi di dunia bersifat mungkin, sementara saja. Ketiga, Allah itu Mahakuasa. Bagi kaum theis Tuhan itu mahakuasa pada batas kepastian jika dan hanya jika untuk kemungkinan logikal, dengan mengatakan bahwa Tuhan menunjukkan kekuasaan-Nya secara koheren, dan menyatakan kemahakuasaan-Nya itu pada waktunya. Di sini Tuhan yang mahakuasa mesti juga terlibat dalam setiap momen kehidupan manusia dan menyatakan kemahakuasaan-Nya. Keempat, Tuhan itu personal. Kaum theis mengatakan bahwa Tuhan itu Ada yang sadar, yang dapat berpikir, memiliki intensi, berkeinginan dan berkehendak. Tidak sama seperti Allah kaum Deisme pada abad ke-18, Dia prihatin dan tertarik pada ciptaan-ciptaan-Nya. Karena itu, Dia tetap menyelenggarakan dunia setelah penciptaan. Kelima, Allah adalah kebaikan yang sempurna. Itu berarti Tuhan tidak pernah melakukan kesalahan moral. Semua tindakan dan intensinya selalu benar secara moral. Theisme mengklaim bahwa Tuhan itu penuh kebaikan dan cinta akan ciptaan-ciptaan-Nya. Dia tidak pernah menyebabkan penderitaan, kecuali ada penolakan dengan alasan moral bagi-Nya untuk melakukan hal itu.
Ada sedikit kesangsian bahwa problem kejahatan menjadi kesulitan intelektual yang serius dari theisme. Letak problemnya dalam pertanyaan sederhana: Mengapa Allah mengijinkan kejahatan dan penderitaan? Pertanyaan ini penting untuk melihat problem kejahatan dan penderitaan hanyalah masalah agama teistik dalam konteks yang luas. Bagi mereka yang menolak bahwa Allah adalah kebaikan yang sempurna tidak sulit menjawab pertanyaan- kejahatan ada karena Allah jahat di samping membimbingnya menciptakan kejahatan. Hal ini juga sangat mudah bagi mereka yang menolak bahwa Allah itu mahakuasa. Bagi mereka, adanya kejahatan karena Allah tidak mempunyai kewenangan untuk mencegah eksistensi kejahatan. Masalahnya di sini adalah, jika Allah itu mahakuasa, Dia mesti dapat mengatasi, mencegah kejahatan. Dan kalau Tuhan itu mahabaik, Dia harus berinisiatif untuk mengatasi kejahatan. Tetapi jika Allah mampu melakukan kedua-duanya, dan berkeinginan untuk mengatasi kejahatan, mengapa ada kejahatan dan penderitaan? Mengapa ada begitu banyak orang tidak bersalah mendekap dalam penjara? Mengapa gempa bumi, kelaparan yang menyebabkan kesakitan dan kematian terjadi? David Hume pernah bertanya kepada Allah: apakah Dia berkehendak untuk mencegah kejahatan dan penderitaan, tetapi tidak mampu? Dengan demikian Dia tidak berdaya, tidak mampu. Apakah Dia mampu, tetapi tidak menghendaki? Kalau begitu Dia berhati dengki. Apakah Dia mampu dan menghendaki kedua-duanya? Lalu bagaimana dengan kejahatan dan penderitaan? Menurut Leibniz sejak awal mula Allah telah memilih untuk menciptakan dunia yang terbaik dari segala kemungkinan. Hakikat Allah adalah kebaikan, sebab itu Dia menciptakan yang terbaik.
1.2 TUJUAN PENULISAN
Dalam tulisan ini, penulis mencoba menjawabi pertanyaan eksistensial tetang kejahatan dan penderitaan yang terjadi di dunia. Konsep Allah yang mahabaik dan mahakuasa yang diimani kaum theis sering dipertanyakan oleh kaum atheis. Terhadap pertanyaan ini, penulis berusaha memberi jawaban rasional dengan berbasiskan pemikiran Leibniz tentang teodice.
Leibniz mencoba memberikan jawaban rasional untuk mempertahankan eksistensi Allah. Bahwa keberadaan Allah tidak dapat disangsikan dan disingkirkan berhadapan dengan realitas kejahatan. Allah tetaplah Dia yang mahabaik dan mahakuasa, walaupun banyak penderitaan yang terjadi. Sebagai kebaikan tertinggi, Allah tetap menghendaki kebaikan dan mau menciptakan dunia yang terbaik. Menurut Leibniz, penderitaan adalah bagian dari kehidupan manusia sebagai makhluk yang fana. Hanya Allah yang memiliki predikat bebas dari penderitaan. Karena itu, penderitaan tetap eksis dan merupakan bagian dari pengalaman manusia yang membuat dunianya menjadi yang terbaik dari yang mungkin diciptakan. Allah tetaplah Dia yang mahabaik dan mahakuasa berhadapan dengan penderitaan dan kejahatan dalam dunia yang diciptakan-Nya.
1.3 METODE PENULISAN
Dalam upaya merampungkan tulisan ini, penulis menggunakan metode kepustakaan. Bahwa tulisan ini bukanlah hasil penelitian lapangan. Sebaliknya, penulis menggunakan sejumlah buku sumber sebagai materi dasar. Hal ini tidak berarti bahwa penulis mengabaikan realitas sosial sebagai sumber lain yang memberikan inspirasi bagi perampungan karya ini. Dalam hal ini, penulis menjadikan realitas kejahatan dan penderitaan sebagai acuan untuk dipersandingkan dengan pemikiran Gottried Wilhelm Leibniz sebelum akhirnya sampai pada suatu kesimpulan tertentu. Dan kesimpulan yang diambil adalah hasil permenungan pribadi dalam berkonfrontasi dengan pemikiran filosofi sejumlah filsuf yang diperoleh saat kuliah mimbar.
1.4 SISTEMATIKA PENULISAN
Tulisan ini terdiri dari Lima bab. Bab I. Pendahuluan. Dalam bab ini penulis mengemukakan latarbelakang penulisan, tujuan penulisan, metode penulisan dan sistematika penulisan. Dalam bab II, penulis membeberkan informasi singkat tentang riwayat hidup Gottfried Wilhel Leibniz dan karya-karya yang pernah dihasilkannya. Bab III merupakan bab inti yang menjelaskan konsep teodice Leibniz, kebaikan dan kemahakuasaan Allah berhadapan dengan realitas penderitaan dan kejahatan. Sementara dalam bab IV, penulis mencoba melihat relevansi konsep teodise Leibniz bagi pendewasaan iman. Bahwa iman dan kepercayaan kaum beriman dapat turut dimatangkan dengan adanya penderitaan dan kejahatan. Dan bab V merupakan bab penutup yang menjadi kesimpulan dari karya tulis ini. dalam bagian penutup ini, penulis juga memberikan catatan kritis dan saran terhadap konsep teodice Leibniz.
BAB II
GOTTFRIED WILHELM LEIBNIZ:
RIWAYAT HIDUP, KARYA DAN KONSEP TEODICE
2.1. RIWAYAT HIDUP DAN KARYA-KARYA
2.1.1. Riwayat Hidup
Gottfried Wilhel Von Leibniz dilahirkan di Leipzig, pada hari Minggu 1 juli 1646. Ayahnya bernama Friedrich Leibnutz (1597-1652), adalah seorang professor filsafat moral di universitas Leipzig. Ibunya bernama Catherina Schmuck (1621-1664), adalah isteri ketiga ayahnya Friedrich. Leibniz mempunyai seorang saudara bernama Johann Friedrich dan seorang saudari bernama Anna Catherina.
Leibniz belajar membaca dari ayahnya, sejak umur tujuh tahun jauh sebelum masuk sekolah. Minatnya sangat besar untuk belajar bahasa Latin dan Yunani. Leibniz kecil sudah belajar bahasa Latin sejak usia delapan tahun. Pada usia 12 tahun beliau mulai belajar bahasa Yunani. Filsuf rasionalist itu dibentuk dengan basis pemikiran yang memadai dari para filsuf klasik, bapa-bapa Gereja dan filsafat Skolastik. Leibniz sangat berminat pada logika. Pada usia 13 tahun Leibniz pernah mencoba memperbaiki teori-teori Aristoteles tentang kategori-kategori, yang walaupun kurang mendapat dukungan dari para gurunya.
Leibniz masuk universitas di universitas Leipzig pada hari Paskah 1661, ketika dia masih berusia empat belas tahun. Sang filsuf-teolog itu kemudian mengikuti juga kursus kesenian dengan batas waktu dua tahun, termasuk kursus dalam bidang filsafat, retorika, Matematika, bahasa Latin, Yunani dan Ibrani. Sang Filsuf rasionalist itu memperoleh gelar Baccheloriat dalam usia 17 tahun. Setelah tamat, Leibniz melanjutkan studi doktoratnya pada bidang teologi, hukum dan kedokteran. Dia kemudian meraih gelar doktor di Universitas Altdorf, sebuah kota kecil di Jerman. Leibniz kemudian tertarik dan memilih hukum, tetapi sebelum memulai kursusnya itu, beliau menghabiskan musim panas dekat universitas Jena. Di sini Leibniz berkontak dengan ide-ide Neopythagoraisme Erhard Weigel, di mana angka-angka adalah realitas fundamental dari universum.
Selain itu Leibniz juga menjalin kontak dengan beberapa tokoh penting. Beliau pernah mengunjungi Spinoza di negeri Belanda. Meskipun tak pernah mengakui secara terang-terangan akan pemikiran Spinoza, sesungguhnya Leibniz banyak menimba inspirasi dari pemikiran Spinoza. Leibniz juga aktif dalam bidang politik. Dalam usia dua puluh tahun dia ikut merevisi hukum kota Mainz, dan dia juga sempat diutus sebagai diplomat ke Paris untuk mengadakan wawancara dengan raja Louis XIV. Dia juga berkesempatan menjalin kontak dengan dua orang fisikawan terkenal, Boyle dan Isaak Newton, di kota London. Leibniz juga mendirikan Academy of Sciences, dan ikut mempengaruhi perkembangan ilmu pengetahuan di Rusia.
2.1.2.Karya – karya
Leibniz adalah seorang pemikir besar dan popular. Bukunya yang paling terkenal adalah Monadology (Monadologie, 17140), yang ditulis untuk Raja Eugene dari Savoy. Dalam bukunya ini Leibniz menjelaskan tentang monade-monade, sebagai satuan terkecil yang otonom, yang ada sebagai substansi. Sebagai substansi, setiap monade lengkap dalam dan mencukupi dirinya sendiri. Sebab itu monade disebut tanpa jendela. Segala yang terjadi dengan dan di dalam monade lahir dari monade itu sendiri. Itu berarti setiap monade tertutup dalam dirinya sendiri, tidak berelasi satu dengan yang lain.
Karya besarnya yang lain adalah Essays in Theodicy (Essais de Theodicee). Karya ini, adalah sebuah jawaban sistematik atas artikel Bayle yang berjudul ‘Rorarius’ dalam bukunya Historical and Critical Dictionary, yang terbit tahun 1710. Sementara karya-karyanya yang lain yang tidak kalah populer adalah Discourse on Metaphysics (Discours de metahysique), terbit tahun 1686. Dalam buku ini Leibniz berbicara juga tentang eksistensi Allah. Essai-nya tentang pemahaman manusia terbit pada tahun 1765 dengan judul New Essays On Human Understanding (Nouveaux essays sur l’entendement humain). Leibniz juga menulis buku tentang prinsip-prinsip alamiah dan rahmat yang terbit tahun 1714 di bawah judul The Principles of Nature and of Grace (Principes de la nature et de la grace). Dari sejumlah bukunya di atas kita dapat melihat bahwa Leibniz adalah seorang filsuf-teolog. Dia tidak hanya berbicara tentang manusia dan alam semesta tetapi juga berbicara tentang Tuhan. Melalui konsep Teodicenya orang dihantar untuk memahami Allah sebagai pencipta alam semesta tapi serentak dengan itu Dia memberikan kebebasan kepada alam semesta untuk beraktivitas sesuai dengan hakekatnya.
2.2. KONSEP TEODICE LEIBNIZ
2.2.1. Tuhan dan adanya Kejahatan dan Penderitaan
2.2.1.1. Problem Kejahatan.
Kejahatan bukan sekedar pelbagai perbuatan bukan baik yang keluar dari hati manusia yang amburadul, melainkan inti keras dan jahat di dalam perbuatan-perbuatan itu. Kejahatan bukan sekedar kelemahan seseorang sehingga ia mengikuti nafsu dan emosinya, terbawa oleh rasa dendam spontan, malas dan sebagainya, melainkan sikap jahat sungguh-sungguh sejauh memang termasuk di dalam kelemahan-kelemahan itu. Sikap yang betul-betul menolak tarikan hati nurani, yang nekat mau berbuat secara bohong, keji, kejam, tidak adil meskipun menyadari bahwa sikap-sikap itu jahat. Kejahatan adalah apa yang dalam bahasa agama disebut dosa.
Mengapa adanya kejahatan menjadi masalah bagi orang yang percaya akan Allah? Karena Allah adalah yang mahasuci dan membenci kejahatan, lalu mengapa Ia tidak mencegah adanya kejahatan. Bisa dikatakan bahwa Allah secara hakiki memiliki zero-tolerance terhadap kejahatan. Sebagaimana tuntutan hati nurani agar kita memilih yang baik dan bukan yang buruk bersifat mutlak, begitu pula yang jahat mutlak harus tidak ada. Dengan kata lain kita dapat memaafkan suatu pembunuhan kalau terjadi karena emosi, atau orang selingkuh karena terbawa oleh hawa nafsunya. Tetapi kejahatan adalah soal lain. Kejahatan terletak dalam kehendak seseorang yang tidak mau bersikap baik. Kejahatan ini selalu jahat dan yang jahat mutlak tidak boleh ada. Mengapa Allah yang berkuasa untuk mencegahnya, membiarkannya?
Seperti pada masalah kebebasan manusia berhadapan dengan kemahakuasaan Allah, begitu pula adanya kejahatan yang diizinkan berlangsung oleh Yang Mahasuci tidak mungkin dapat dimengerti dalam arti sebenarnya. Di sini kita sampai pada batas kemungkinan makhluk ciptaan memahami motivasi Sang Pencipta. Namun adanya kejahatan tidak seakan-akan membuktikan bahwa Allah tidak mungkin ada. Yang melakukan kejahatan bukan Allah melainkan manusia. Allah mengizinkan terjadi meskipun Ia menolaknya. Kalau Allah mau menciptakan sesuatu, maka sangat masuk akal bahwa Allah menciptakan makhluk yang berakal budi karena hanya makhluk berakal budi dapat mengakui anugerah penciptaan. Tetapi makhluk berakal budi dengan sendirinya berarti makhluk yang bebas. Bagi Allah menciptakan robot-robot yang secara otomatis berbuat sesuai dengan kehendak-Nya tidak mempunyai nilai apa pun. Allah menciptakan manusia dengan menganugerahkan kepadanya kemampuan untuk menjawab cinta kasih Allah secara bebas. Dan karena manusia sedemikian penting bagi Allah, Allah mengambil resiko bahwa manusia memakai kebebasannya untuk menolak Allah, untuk berbuat jahat. Allah sedikit pun tidak menghendaki kejahatan itu sendiri, tetapi demi manusia Allah bersedia mengambil resiko bahwa kejahatan akan terjadi.
Masalah kejahatan menjadi pergumulan yang tidak pernah selesai. Mengapa? Karena kejahatan sudah, sedang dan akan terjadi dalam perjalanan hidup manusia. Juga karena kejahatan sudah menjadi salah satu bagian penting dari hidup manusia yang memungkinkan adanya kebaikan yang lebih baik dari kebaikan sebelumnya. Adanya kejahatan membuat seleksi atas kebaikan menjadi lebih sempurna. Menurut Leibniz kejahatan tidak bertentangan dengan kebaikan Allah. Dengan kata lain, bagi Leibniz jika kejahatan itu tidak ada maka kebaikan pun tidak ada. Dan hal itu bertentangan dengan kesempurnaan Allah.
Untuk itu Leibniz menawarkan dua solusi, pertama, mengakui bahwa universum sesungguhnya tidak sempurna. Bagi Leibniz penjelasan tentang dunia yang tidak sempurna ini penting untuk menunjukkan bahwa ketidaksempurnaan secara logis perlu sebagai penjarakkan terhadap Tuhan, sebagai ada yang selalu sempurna. Tuhan tentu tidak akan mengutuk atau mempersalahkan kekurangan yang bertentangan dengan hukum-hukum logika. Kedua, ketidaksempurnaan universum adalah kemungkinan terbaik. Dunia menjadi tidak sempurna untuk merujuk pada Allah yang sempurna. Dengan demikian, mempersalahkan Allah yang telah menciptakan universum ini, sama dengan mengatakan bahwa Allah tidak harus menciptakan segala sesuatu. Hal itu berarti manusia tidak setuju bahwa Tuhan harus menciptakan dunia ini dengan segala konkuensi yang ada, seperti kejahatan dan penderitaan.
2.2.1.2. Problem Penderitaan
Masalah yang sungguh menantang iman adalah mengapa Allah dapat mengizinkan penderitaan. Problem mengapa Allah mengizinkan adanya dosa, bisa dikatakan adalah masalah Allah sendiri. Mungkin kita sendiri mengalami di lingkungan keluarga atau sahabat kita suatu kejadian di mana kita secara spontan bertanya: bagaimana Allah dapat mengizinkan sesuatu seperti itu terjadi? Misalnya terjadi gempa, tsunami dan tanah longsor yang merenggut nyawa ribuan orang, termasuk di dalamnya sahabat kenalan dan keluarga dekat kita.
Perlu diperhatikan bahwa teodice, pembenaran Allah yang baik dan mahakuasa berhadapan dengan pengalaman penderitaan ini, tidak muncul dalam lingkungan semua agama. Dalam pandangan-pandangan dualistik penderitaan dijelaskan dengan prinsip asali yang negatif. Dalam Panteisme penderitaan individual seakan-akan tenggelam dalam makna keseluruhan yang dihayati secara bersama. Masalah teodice hanya dapat muncul apabila Allah dipahami secara personal dan dialogal dan apabila masing-masing orang secara personal dianggap mempunyai nilai pada dirinya sendiri. Penderitaan menjadi masalah justeru karena yang Ilahi dipahami, bahkan dialami, sebagai kekuatan yang peduli pada manusia, yang berbelaskasih, yang suka mengampuni kesalahan manusia (daripada secara keras selalu menghukumnya), yang menyembuhkan. Atas dasar penghayatan Allah sebagai kekuatan yang peduli, menyelamatkan dan menyembuhkan, kenyataan penderitaan menjadi semakin tidak dapat dimengerti. Justeru karena itu muncul pertanyaan: Apakah Allah tidak dapat menciptakan tanpa menyiksa? Apa Allah tidak bisa atau tidak mau?
Dalam dinamika sejarah, tema penderitaan merupakan tema klasik yang menantang sekaligus inheren (tak terpisahkan) pada setiap manusia tanpa kecuali. Sejak kapan pastinya manusia mulai menderita? Penderitaan mulai dialami manusia sejak ia diberi eksistensi oleh Allah pencipta. Manusia diberi eksistensi dengan dua anasir mendasar, yaitu roh dan materi. Roh bersifat kekal, sedangkan kodrat materi adalah sementara, rapuh, binasa. Penderitaan identik dengan penghancuran. Penderitaan masuk kategori dan kualifikasi materi. Penderitaan menandai kodrat manusia sebagai barang (benda) material yang dikehendaki untuk binasa.
Penderitaan adalah fakta yang inheren pada manusia. Dia (penderitaan) tidak dapat dielakkan dengan cara dan taktik secanggih apa pun. Dia adalah suatu conditio sine qua non (absolut) untuk manusia. Penderitaan adalah kenyataan yang hanya mampu dikategorikan. Richard Swimburne menggolongkan penderitaan ke dalam empat dimensi. Pertama, penderitaan fisik. jenis penderitaan ini dialami oleh semua makhluk hidup, baik manusia maupun hewan. Kedua, penderitaan emosional, misalnya rasa ditinggalkan yang menyebabkan seseorang menderita, atau rasa frustrasi karena suatu tujuan yang diidealkan tidak tercapai. Ketiga, penderitaan yang disebabkan karena dalam batin seseorang terjadi sesuatu yang tidak enak atau tidak baik, misalnya orang yang iri akan menderita akibat iri hatinya itu. Keempat, penderitaan yang disebabkan oleh orang lain. Di sini orang berbicara tentang masalah penderitaan atau orang yang menderita secara tidak adil.
Berhadapan dengan penderitaan dan keburukan (malum), Leibniz menawarkan tiga bentuk keburukan. Dalam bukunya Theodicy, Essay on the Goodness of God, the Freedom of Man and the origin of Evil, Leibniz membedakan tiga macam keburukan:
2.2.1.2.1. Keburukan Metafisis
Keburukan metafisis disebabkan oleh ketidaksempurnaan belaka. Ketidaksempurnaan ini meliputi ada yang terbatas. Keberadaan ciptaan selalu terbatas, dan terbatas selalu berarti tidak sempurna, dan ketidaksempurnaan ini adalah akar dari kemungkinan kekeliruan dan kejahatan. Sebagai manusia yang mendapat segala keberadaan dari Allah, di manakah kita akan menemukan sumber keburukan? Jawaban atas pertanyaan ini dapat dijumpai dalam idea alam ciptaan, yang sangat jauh sebagaimana alam ini termuat dalam kebenaran-kebenaran abadi yang mana dalam pemahaman Allah secara bebas akan kehendak-Nya. Karena itu mesti dipertimbangkan bahwa ada “ketidaksempurnaan alamiah dalam ciptaan” sebelum dosa, karena ciptaan terbatas dalam esensinya. Sumber terakhir dari keburukan demikian metafisik sehingga muncul pertanyaan, bagaimana Allah tidak mampu merespons keburukan, hingga Dia menciptakan dunia dan memberi eksistensi yang terbatas dan tidak sempurna pada benda-benda? Terhadap pertanyaan ini, Leibniz menjawab, adalah lebih baik berada dari pada tidak berada sama sekali. Sejak ketidaksempurnaan dalam ciptaan tidak bergantung pada pilihan yang ilahi tetapi pada ideal esensi ciptaan, Allah tidak dapat memilih untuk menciptakan tanpa pilihan untuk menciptakan adanya yang tidak sempurna. Dia memilih, bagaimanapun untuk menciptakan dunia yang terbaik dari yang mungkin. Allah selalu menghendaki kebaikan, dan konsekuensinya, sekali memberikan keputusan ilahi untuk menciptakan, hal itu merupakan kemungkinan terbaik. Karena itu, Allah tidak dapat menghendaki “yang terbaik” tanpa menginginkan eksistensi benda-benda yang tidak sempurna. Tetap yang terbaik dari segala dunia ciptaan yang mungkin harus ada yang tidak sempurna.
2.2.1.2.2. Keburukan Fisis
Keburukan fisis terdapat dalam penderitaan dan kesengsaraan. Keburukan fisis merupakan bentuk keburukan alamiah yang terdapat dalam relitas-realitas negatif yang ditimpakan alam kepada manusia, misalnya bencana alam, penyakit dan cacat fisik yang dialami manusia. Sebagai makhluk terbatas sekaligus beriman manusia sering mempersalahkan Allah menghadapi penderitaan ini. Penderitaan dipandang sebagai kutukan Allah atas kesalahan yang dibuat manusia. Menurut Leibniz, Allah tidak pantas dan tidak patut dipersalahkan. Dia adalah Allah yang selalu menghendaki yang terbaik bagi dunia dan manusia. Tentang hal itu Leibniz menulis:
The objection will be made that God therefore creates man a sinner, he that in the beginning created him innocent. But here it must be said, with regard to the moral aspect, that God being supremely wise cannot fail to obserb certain laws, and to act according to the rules, as well physical as moral, that wisdom has made him choose. And the same reason that has made him create man innocent, but liable to fall, makes him re-creator man when he falls; for God knowledge causes the future to be for him as the present, and prevents him from rescinding the resolutions made. (Keberatan akan dibuat tentang Allah yang menciptakan manusia sebagai pendosa, dia (manusia) pada mulanya diciptakan tidak bersalah. Namun di sini harus dikatakan merujuk pada aspek moral, bahwa Allah yang Mahabijaksana itu tidak mungkin lupa mengamati hukum yang pasti, dan bertindak menurut aturan-aturan, baik secara fisik maupun moral, yang bijaksana telah membuatnya memilih. Dengan alasan yang sama, Dia telah menciptakan manusia yang tak bersalah, tetapi dapat jatuh, membuat Dia menciptakan kembali manusia ketika manusia itu jatuh; karena Allah mengetahui alasan yang futuris bagi Dia sebagai yang ada, untuk mencegahnya dari resolusi-resolusi yang telah dibuat).
2.2.1.2.3. Keburukan Moral
Keburukan moral nampak dalam dosa. Keburukan moral adalah satu keburukan yang menjadi begitu besar hanya karena ia menjadi sumber dari keburukan fisis-keburukan fisis, suatu sumber yang ada dalam satu dari sekian banyak kekuatan ciptan-ciptaan. Tentang hal itu Leibniz mengatakan:
It is again well to consider that moral evil so great only because it is a source of physical evils, a source existing in one of the most powerful of creatures, who is also most capable of causing those evil. (Penting sekali untuk mempertimbangkan bahwa keburukan moral adalah kejahatan yang begitu besar hanya karena merupakan sumber keburukan fisis, suatu sumber yang eksis dalam satu daru sekian banyak kekuatan-kekuatan ciptaan, yang sanggup menjadi sebab dari keburukan).
Keburukan moral ditimpakan manusia atas manusia seperti perang, ketidakadilan, kekerasan dan penindasan.
2.3. DUNIA TERBAIK DARI SEGALA YANG MUNGKIN
2.3.1. Apakah Allah Memilih Kemungkinan Terbaik?
Leibniz mengembangkan argumen, kemungkinan terbaik secara detail sebagai upaya untuk membuktikan – atas dasar rasionalitas kosmos- bahwa itu semacam itu eksis. Tentang kemungkinan terbaik itu Leibniz menulis sebagai berikut: God wills antecedently the good and consequently the best. Hal ini berarti sejak awal Allah berkecenderungan untuk menciptakan dan menghadirkan yang baik bagi dunia, dan hal itu nampak dalam dunia yang terbaik yang diciptakannya. Dengan demikian Leibniz berkesimpulan dari argumen kosmologis ini bahwa suatu wujud yang rasional, maha mengetahui, sempurna, maha kuasa tidak bisa tidak, harus memilih yang terbaik dari segala dunia yang mungkin. Alasannya? Seandainya Tuhan yang sempurna memilih secara sadar sebuah dunia yang kurang dari sempurna, itu akan menjadi tidak rasional. Dan hal itu tidak sesuai dengan kodratnya sebagai Tuhan yang rasional dan sempurna. Dengan demikian Allah telah memilih kemungkinan terbaik untuk menciptakan dunia.
2.3.2. Penderitaan Dalam Dunia Sebagai Yang Terbaik Dari Yang Mungkin
Leibniz berpendapat bahwa sejak awal mula Allah telah memilih untuk menciptakan dunia yang terbaik dari segala kemungkinan. Sendainya dunia yang tercipta bukanlah dunia yang terbaik, maka masih ada kemungkinan lain yang lebih baik. Itu berarti Allah tidak mengenal kemungkinan terbaik itu, dan hal ini bertentangan dengan kemahatahuan-Nya. Atau Dia tidak sanggup menciptakan yang terbaik itu, ini bertentangan dengan kemahabaikan-Nya.
Sebagai kebaikan tertinggi, allah memang menghendaki kebaikan dan mau menciptakan dunia terbaik. Dan menurut Leibniz, penderitaan adalah bagian dari kehidupan kita sebagai makhluk yang fana. Hanya Allah yang memiliki predikat bebas dari penderitaan. Penderitaan adalah bagian dari pengalaman yang membuat dunia menjadi yang terbaik dari yang mungkin diciptakan.
Allah menciptakan dunia terbaik dari kemungkinan penciptaan yang Dia miliki. Tetapi dunia yang tercipta itu bukanlah dunia yang terbaik. Dunia ini bukanlah optimum optimorum, yang terbaik dari yang terbaik. Dunia terbaik yang mungkin diciptakan adalah dunia ini, dan dunia ini menghadirkan banyak penderitaan. Penderitaan ini tak terelakkan sebagai konsekuensi dari segala kebaikan yang ada di dalam dunia ini. Sebab itu, pandangan manusia hendaknya diarahkan kepada yang baik. Dengan ini manusia belajar menerima yang buruk sebagai konsekuensi yang tak terelakkan dari berbagai kebaikan yang dihadiahkan kehidupan baginya. Tanpa penderitaan fisis, kita tidak akan mampu menikmati saat-saat bahagia kehidupan. Sebab yang positif hanya akan muncul dan menjadi kian tajam dirasakan pada sebuah latarbelakang yang kontras. Demikian pula dengan penderitaan moral dan batin. Tanpa penderitaan yang pernah dialami dan dilihat, orang tidak akan memperoleh gagasan dan daya juang yang tinggi untuk berperang melawan dan mengatasi penderitaan itu.
BAB III
RELEVANSI TEODICE LEIBNIZ
BAGI PENDEWASAAN IMAN
3.1. PENDERITAAN SEBAGAI COBAAN ALLAH ATAS KUALITAS IMAN MANUSIA
Kenyataan penderitaan adalah problem bahkan misteri yang sulit dipecahkan dengan akal sehat manusia. Sebagai animal rationale manusia tidak akan berhenti bergulat dengan penderitaan. Sebagai makhluk berkesadaran, manusia sadar akan penderitaan itu. Dalam konfrontasinya dengan penderitaan, kesadaran merupakan hal yang penting sebagai pembuka horizon pikir manusia.
Penderitaan menyentil titik kesadaran manusia untuk memahami makna penderitaan. Kesadaran menggiring budi manusia pada suatu dimensi pemahaman, bahwa manusia adalah makhluk rapuh, lemah dan tidak berdaya. Manusia mengalami kekosongan dan ketidakberartiran diri. Daya dan potensi manusiawi tidak mampu mengelakkan sepak terjang penderitaan. Penderitaan mengarahkan pikiran dan nurani manusia menuju kepada suatu horizon yang lain. Penderitaan membuka pemahaman manusia akan kehadiran sesuatu yang lain. Sesuatu yang lain itu transenden, melampaui realitas indrawi. Pada titik ini manusia beriman memahami bahwa segala kejadian kosmos termasuk evolusi benda dipengaruhi oleh daya kuasa ilahi. Maka penderitaan yang dialami manusia bukan tidak mungkin terjadi karena penyelenggaraan ilahi. Dalam arti ini penolakan terhadap penderitaan bukanlah sikap iman dan bukan juga sikap bijaksana kaum beriman. Seorang beriman memahami segala peristiwa harian dalam nuansa dan perspektif religius-teologis. Sikap kristiani yang sehat terhadap diri adalah mengakui dan menerima kondisi manusia yang rapuh, walaupun konsekuensi penerimaan ini membawa penghancuran diri manusia secara psikologis.
3.2. PENDERITAAN SEBAGAI PEMURNIAN HATI
Penderitaan bernilai secara moral. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa dengan penderitaan manusia secara perlahan mulai membenah diri dalam relasinya dengan Tuhan dan sesama. Penderitaan yang dialami yang diakibatkan oleh gempa bumi dan tsunami seperti yang dialami masyarakat di Aceh dapat memurnikan hati orang-orang yang sedang bertikai. Para pemberontak, seperti GAM akhirnya untuk sementara menyerahkan diri dan ingin berdamai dengan TNI, karena mereka percaya bahwa gempa dan tsunami adalah salah satu kutukan dari Allah atas perbuatan mereka.
Selain itu penderitaan menyentil manusia untuk menyerahkan diri secara total ke dalam penyelenggaraan ilahi. Manusia yang mengalami pemurnian hati atas penderitaan itu akan selalu menunggu kapan Tuhan mengerjakan karya-karya ajaib-Nya. Manusia menunggu kapan Tuhan menyelesaikan rencana-Nya dalam diri manusia. Tuhan mematikan kita, membedah hidup kita, memasukkan dan mengambil keluar bagian-bagian dari diri kita dan hidup kita. Situasi penderitaan menggurui manusia untuk belajar memurnikan hati dan memasrahkan diri secara total dan paripurna ke dalam tangan Tuhan. Penderitaan mengajarkan manusia sikap iman yang benar kepada siapa manusia mencari perlindungan terakhir yang tepat.
3.3. DUNIA YANG ADA PENDERITAANNYA AKAN LEBIH BAIK DARIPADA DUNIA TANPA PENDERITAAN.
Penderitaan adalah kesempatan bagi dunia yang sedang berproses ini mencapai taraf yang lebih baik. Menurut Teilhard de Chardin dunia ini dalam proses “menjadi” pada setiap tarafnya, terutama pada taraf masyarakat manusiawi. Ada peralihan dari tingkat pengada yang berkekurangan ke tingkat pengada yang sempurna, melalui kegagalan-kegagalan dan pergulatan yang tak dapat dihindari. Hal itu berarti dunia yang ada penderitaannya akan lebih baik dari dunia yang tidak ada penderitaan. Karena dunia yang ada penderitaan akan terus menerus membaharui diri dan terus-menerus dibaharui. Sementara dunia tanpa penderitaan akan tetap menjadi dunia yang labil, dan hal itu tidak mungkin terjadi dalam dunia yang yang diciptakan oleh Yang Mahabaik.
Penderitaan tidak dapat dilihat sebagai saat Tuhan menyiksa. Bagi Leibniz Allah yang telah menciptakan dunia ini akan tetap memberikan kebebasan kepada dunia untuk menentukan dirinya. Dengan demikian, penderitaan adalah konsekuensi dari kebebasan yang diberikan Allah itu. Penderitaan adalah tanda sirene bahwa manusia adalah makhluk fana yang eksistensinya bersifat temporal. Manusia adalah homo viator (makhluk peziarah) dalam dunia. Kehidupannya adalah suatu ziarah menuju horizon yang transenden, tak terbatas. Dalam istilah Teilhard de Chardin, hidup manusia adalah evolusi atau gerakan dari titik alfa sebagai awal kehidupan menuju ke titik omega sebagai akhir. Titik alfa dan omega bagi orang Kristen merupakan simbolisasi Kristus. Kehidupan dunia berlangsung di antara titik alfa dan titik omega. Penderitaan adalah hal yang wajar dan normal dalam kehidupan dunia karena tujuan final kehidupan bukanlah dunia ini. Kehidupan absolut tidak tercapai di dunia ini, tetapi berpusat, berpuncak dan mencapai kepenuhannya pada masa eskatologis. Masa eskatologis menyempurnakan nilai temporalis eksistensi manusia dan mengubahnya menjadi kedamaian abadi. Dalam kerangka ini John Powell benar ketika mengatakan bahwa penderitaan menjadi peringatan terus-menerus bahwa manusia masih dalam perjalanan. Penderitaan dapat dianalogikan dengan sebuah bintang penunjuk arah bagi manusia dalam ziarah menuju Allah.
3.4. MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK TERBATAS
Harus pula diakui bahwa manusia adalah makhluk terbatas yang tidak tuntas menyelami kehendak Allah. Sebagai makhluk terbatas manusia hanya mengenal kehendak Allah dalam keterbatasannya itu. Dia tidak bisa menyelami segala yang ada dalam kehendak Allah. Namun satu hal yang pasti bahwa apa yang dibuat Allah adalah apa yang terbaik yang diberikan untuk manusia dan dunianya. Allah tidak pernah merancang kejahatan untuk dunia. Kisah Ayub kiranya menjadi contoh yang jelas bagi pergulatan setiap orang beriman menghadapi penderitaan. Ayub adalah tokoh yang mengalami penderitaan bertubi-tubi. Penderitaan itu tidak dilihat Ayub sebagai hukuman Allah yang diimaninya. Ayub selalu melihat penderitaan sebagai berkat bagi hidupnya.
Dalam penderitaannya Ayub menulis: Apakah gerangan manusia, sehingga ia Kauanggap agung dan Kauperhatikan, dan Kaudatangi setiap pagi, dan Kauuji setiap saat? Bilakah Engkau mengalihkan pandangan-Mu dari padaku? Kalau aku berbuat dosa, apakah yang telah kulakukan terhadap Engkau, ya penjaga manusia? Mengapa Engkau menjadikan aku sasaran-Mu, sehingga aku menjadi beban bagi diriku? (Ayb 7:17-20)
Namun dalam segala keputusasaannya Ayub mau berpegang pada Allahnya dan masih tetap menaruh harapannya pada Allah itu. Meskipun kelihatannya Allah melawannya, namun Ayub berharap, bahwa Allah toh akan membebaskannya. Penderitaan tidak dipandang Ayub sebagai hukuman Allah yang diimaninya. Ayub selalu melihat penderitaan sebagai berkat bagi hidupnya.
Dengan demikian, Ayub menjadi tokoh yang menyadari keterbatasannya. Dia menyerahkan semua problem penderitaan kepada Allah yang menghendaki semuanya itu. Dan hal itulah yang membuat Ayub tetap berkanjang dalam iman menghadapi penderitaan. Ayub adalah tokoh yang berani mengatakan: “Ya Tuhan aku senantiasa berpasrah pada-Mu”. Kepasrahan Ayub ini menunjukkan keterbatasannya sebagai manusia.
. Penderitaan yang dialami Ayub tidak harus mengajak manusia untuk selalu mengalah pada penderitaan, apalagi mengatakan bahwa setiap penderitaan adalah nasib terberi. Manusia yang memiliki akal budi harus mengusahakan kebahagiaan dalam hidupnya. Namun bila dalam usaha itu dia menemukan keterbatasan, pada saat itulah manusia harus mengakui bahwa ada sesuatu yang melampaui dirinya. Penderitaan yang diakibatkan oleh gempa dan tsunami harus diakui manusia sebagai keterbatasan menghadapi segala kejadian alam. Manusia tidak sanggup, dan terbatas untuk mengatakan kepada alam bahwa gempa dan tsunami tidak harus terjadi. Keterbatasan ini menjadi kekuatan ketika orang beriman menyerahkan itu kepada Tuhan dan yakin bahwa itu merupakan satu berkat baginya.
BAB IV
PENUTUP
4.1 KRITIK
Konsep Teodise Leibniz, seakan menghadirkan hiburan baru bagi manusia untuk menerima penderitaan sebagai hal yang harus ada karena ketidaksempurnaan ciptaan. Itu berarti konsekuensi dari keberadaan manusia di dunia adalah bahwa dia harus menderita karena ketidaksempurnaan dunia itu. Namun konsep seperti ini dapat juga melemahkan usaha manusia untuk meminimalisir adanya bencana. Manusia menerima penderitaan dan kejahatan sebagai kejadian yang harus ada.
Kejahatan dan penderitaan tidak selalu menjadi konsekuensi keberadaan manusia di dunia yang tidak sempurna ini, tetapi bencana, kematian yang tidak wajar, kekerasan, pembunuhan, dan lain-lain dapat terjadi oleh tingkah laku manusia. Bencana alam seperti banjir dan tanah longsor dan keadaan musim yang tidak menentu adalah akibat dari relasi ketidakharmonisan manusia dengan alam ini. Penebangan hutan secara liar, membakar hutan untuk membuka kebun baru adalah bukti tindakan manusia yang serakah terhadap alam. Karena itu, penderitaan seperti bencana alam yang terjadi tidak harus dilihat sebagai “murka’ Allah tetapi merupakan reaksi alam dalam dirinya sendiri, karena alam mengalami ketidakharmonisan. Alam menjadi Chaos bukan kosmos (teratur). Dengan demikian, selalu ada usaha manusia untuk meminimalisir penderitaan (bencana) yang sering terjadi akhir-akhir ini. Atau misalnya terjadi pembunuhan yang mengakibatkan kematian yang tidak wajar. Hal itu karena manusia yang satu ingin menguasai yang lain. Di sana ada egoisme dalam diri manusia yang menghendaki segala sesuatu kembali kepada dirinya.
Dalam gerakan ekofeminisme, alam dilihat sebagai ibu yang mengandung dan melahirkan segala kehidupan yang ada. Karena itu, terhadap ibu yang melahirkan itu, manusia mesti memberi penghormatan lebih. Alam harus dilihat, lebih dari sekedar kumpulan benda-benda yang memberi hidup kepada manusia dan ciptaan lain. Alam mesti menjadi partner dalam relasi subjek-subjek, di mana yang satu tidak dapat menguras dan menghabiskan yang lain. Yang satu mesti memandang yang lain sebagai subjek yang patut dihargai dan dipelihara. Penghargaan dan pemeliharaan terhadap alam merupakan bukti penghargaan manusia akan kehidupannya dan kehidupan orang lain. Manusia dengan itu turut bertanggungjawab atas alam agar bencana yang sering menambah penderitaan hidupnya dapat dikurangi.
Selain itu untuk meminimalisir kejahatan dan penderitaan, manusia juga perlu menghargai satu sama lain. Emanuel Levinas adalah seorang filsuf yang menyumbangkan gagasan tentang solidaritas manusia terhadap sesamanya. Dia mencetuskan ide tentang “yang lain” yang harus dihargai dalam keberlainannya. Levinas menggunakan kata ganti orang ketiga tunggal “Dia” untuk menyebut “yang lain”. Hal itu mau menunjukkan bahwa “yang lain” bukan sebagai sesuatu. “Yang lain” adalah Dia yang heteronom, personal, eksterior. “Yang lain” adalah Dia yang lain secara radikal. Yang lain itu adalah yang tak berhingga. Tentang yang lain ini Levinas menulis:
To think the infinite, the transcendent, the Stranger, is hence not to think an object. But to think what does not have the lineaments of an object is in reality to do more than think. (Berpikir tentang infinitas, yang transenden, tentang orang asing, bukan berpikir tentang satu objek. Tetapi memikirkan apa yang melampaui batas pada satu objek yang ada dalam realitas, yang melampaui pikiran).
Artinya yang lain itu melampaui objek yang kelihatan. Sebagai yang lain secara absolut dia hanya dapat dipahami tanpa konteks dan mediasi. Dikatakan demikian, karena ia melampaui konteks. Memasukkan dia yang tak berhingga itu dalam konteksku saat ini dan kini sama dengan memperkosa keberlainannya secara gawat. Yang Tak berhingga itu bukanlah obyek pemikiran dan kesadaranku, karena aku tidak lagi bisa menjadi subyek yang mengobyekan di hadapannya. Nafsu egoku runtuh di hadapan dia.
Menurut Levinas, terdapat satu hubungan yang benar dan sejati antara aku dan yang lain. Hubungan itu tidaklah sama dengan hubungan antara yang mengetahui dan yang diketahui secara obyektif. Mengapa? Mengetahui atau mengerti sesuatu menurut Levinas, berarti menguasai, dan menindasnya. Selain itu ada yang disebut devioler (membuka tutup). Devioler berarti mendekati kenyataan dari sudut pandangan dan konteks tertentu. Mendekati kenyataan itu pun terjadi berdasarkan proyeksi ataupun kegiatan dari yang mengetahui itu sendiri. Dalam pengetahuan semacam ini, “yang lain” itu hanya tergantung pada kegiatan dari yang mengetahuinya saja. Adanya di luar dari yang mengetahuinya hanyalah suatu yang relatif saja dan tidak mutlak lagi.
Namun demikian, ada suatu pengetahuan tentang “yang lain”, dalam arti “orang lain” itu sendiri. Tetapi inisiatif untuk pengetahuan itu tidak datang dari dalam melainkan dari luar diri orang yang mengetahuinya. Pengetahuan tersebut oleh Levinas disebut “pengalaman yang mutlak” atau pengalaman yang fundamental. Dalam pengetahuan atau pengalaman yang mutlak ini, orang lain sungguh-sungguh “diketahui” serta “dialami” dalam seluruh kedirian dan keberlainannya.
Kalau pengetahuan di atas terjadi atas inisiatif orang lain, bagaimana terjadinya? Orang lain itu menyatakan dan mewahyukan dirinya kepadaku. Pewahyuan itu terjadi tidak tergantung dari posisi yang kuambil terhadapnya. Pewahyuan itu pun terjadi “tanpa sifat”, tanpa atribut, tanpa bentuk dan tanpa kategori manapun juga. Orang lain itu seakan-akan sama sekali tidak membutuhkan semua yang disebut tadi dalam pewahyuannya. Dari dan dalam dirinya sendiri dia sudah bermakna dan bernilai. Pewahyuan atau pernyataan diri ini juga disebutnya pewahyuan sebagai wajah, sebagai wajah yang telanjang. Dalam dan dengan wajahnya tampillah orang lain itu dalam keaslian, kepolosan, kedirian dan seluruh ekspresi kediriannya, dalam kepenuhan artinya serta seluruh dunia dan hidupnya.
Dengan demikian hubunganku dengan orang lain itu menjadi suatu hubungan tanpa gambar atau tanpa apa pun juga. Dengan kata lain, hubunganku dengan orang lain adalah suatu hubungan yang langsung sekali. Dalam dan melalui hubungan yang langsung inilah orang lain itu menyatakan serta mewahyukan dirinya kepadaku. Maksudnya, pewahyuan diri sebagai yang sama sekali lain dan sama sekali berada di luar daripada serta tetap asing terhadapku. Dengan relasi tanpa gambar manusia yang satu akan melihat yang lain sebagai bagian dari dirinya. Atau bahkan menurut Levinas, manusia akan merasa bertanggungjawab terhadap tanggungjawab orang lain. Melalui solidaritas tanpa batas ini dunia ini akan menjadi suatu dunia yang bebas dari segala dari segala kejahatan dan penderitaan.
4.2. SARAN
Konsep teodice Leibniz adalah sebuah konsep yang digunakan untuk mengeritik konsep Allah dalam pemahaman deisme. Bagi deisme Allah setelah menciptakan segala sesuatu yang ada di bumi ini meninggal ciptaannya itu sendiri. Di sana tidak ada lagi penyelenggaraan ilahi terhadap ciptaannya. Leibniz dalam konsep teodicenya menghadirkan penjelasan yang rasional. Penjelasan itu tentunya bermaksud untuk diterima secara rasional pula. Namun yang rasional belum tentu benar seluruhnya.
Karena itu, bagi penulis konsep teodice Leibniz hendaknya tidak menjadi semacam hiburan baru bagi para penderita. Konsep ini hendaknya dilihat sebagai suatu sumbangan rasional Leibniz bagi problem penderitaan dan kejahatan. Bahwa adanya penderitaan tidak menyebabkan konsep manusia berubah tentang kemahakuasaan dan kemahabaikan Allah. Allah tetaplah pencipta yang baik dan berkuasa, dan segala kejahatan dan penderitaan dunia ini merupakan konsekuensi dari ketidaksempurnaan ciptaan. Allah selalu menghendaki yang terbaik bagi dunia, tetapi dalam kehendak-Nya yang baik itu Dia tetap menghargai dan memberikan kebebasan kepada dunia ciptaan-Nya. Dengan memberi kebebasan itulah, Allah disebut sebagai yang mahabaik dan mahakuasa. Dia adalah Allah yang penuh pengertian dan cinta akan segala sesuatu yang sudah diciptakan-Nya.
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG PENULISAN
Manusia hidup dalam suatu dunia yang sedang mengalami ambiguitas moral. Di satu pihak manusia mengalami banyak momen yang menyenangkan, membahagiakan dan menggembirakan, namun di pihak lain ia mengalami ketidakbahagiaan, ketidaksenangan dan penderitaan dalam dunia yang sama. Ada penderitaan yang tak terperikan, kemiskinan, rasa sakit yang mengerikan, tindakan-tindakan irasional seperti kekerasan dan penganiayaan, serta ancaman akan kematian yang datang secara mendadak.
Seorang filsuf Yunani, Epikurus sekitar 300 tahun sebelum Kristus merumuskan problem pertentangan antara kebaikan dan kemahakuasaan Allah di satu pihak dan kebobrokan dunia di pihak lain sebagai berikut:
Atau Allah ingin menghapus kebobrokan, tetapi tidak sanggup; atau Ia sanggup, tetapi tidak mau; atau Ia tidak mau dan tidak sanggup; atau Ia mau dan Ia sanggup juga. Kalau Ia mau, tetapi tidak sanggup, maka Ia lemah, hal mana tidak sesuai dengan hakikat Allah. Kalau Ia sanggup, tetapi tidak mau, maka Ia bersifat jahat yang juga tidak cocok bagi Allah. Kalau Ia tidak mau dan tidak sanggup, Ia sekaligus bersifat jahat dan lemah, karena itu Ia bukan Allah. Kalau Ia mau dan sanggup juga, satu-satunya kemungkinan yang sesuai dengan Allah- maka dari manakah kebobrokan? Atau mengapa Allah tidak menghapusnya?
Terhadap semua realitas penderitaan dan kejahatan di atas, manusia secara spontan bertanya: mengapa semuanya itu terjadi? Mengapa dunia ini penuh kekerasan dan penderitaan? Apakah ada alasan? Pertanyaan-pertanyaan eksistensial ini menggugah penulis untuk mendalami dan merefleksikan tema-tema tersebut dalam tulisan ini. Dengan berbasiskan konsep teodice Leibniz, penulis berusaha memberikan jawaban terhadap semua orang yang dalam hidupnya bergulat dengan hakekat dunia dan intervensi Allah terhadap dunia dan ciptaan-Nya.
Salah satu cara untuk memperkenalkan masalah kejahatan dan penderitaan adalah dengan bertanya bagi siapa problem itu hadir. Satu jawaban yang pasti dan lazim adalah bahwa problem kejahatan dan penderitaan adalah problem untuk theisme. Theisme percaya bahwa dunia diciptakan oleh seorang Pribadi yang mahakuasa dan mahabaik, yang disebut Allah. Kaum theis yang hadir dalam diri para penganut agama Kristiani, Yahudi, Muslim, percaya akan beberapa sifat, karakter Allah sebagai berikut. Pertama, Allah itu satu. Di sini theisme adalah sebuah bentuk dari monotheisme. Kaum monotheist, percaya hanya kepada satu Allah dan hanya kepada Dia sajalah mereka mengarahkan hati dan bersembah-sujud. Kedua, Allah adalah Pencipta dunia. Kaum theis mengklaim bahwa dunia bereksistensi karena sebuah keputusan pada pihak Allah dan karena itu bergantung kepada-Nya. Itu berarti segala sesuatu yang terjadi di dunia menjadi mungkin karena kehendak Allah. Di luar kehendak dan kontrol Allah, segala peristiwa yang terjadi tidak mungkin ada. Bagi kaum theis dunia adalah sesuatu yang kontingen. Artinya segala yang ada dan terjadi di dunia bersifat mungkin, sementara saja. Ketiga, Allah itu Mahakuasa. Bagi kaum theis Tuhan itu mahakuasa pada batas kepastian jika dan hanya jika untuk kemungkinan logikal, dengan mengatakan bahwa Tuhan menunjukkan kekuasaan-Nya secara koheren, dan menyatakan kemahakuasaan-Nya itu pada waktunya. Di sini Tuhan yang mahakuasa mesti juga terlibat dalam setiap momen kehidupan manusia dan menyatakan kemahakuasaan-Nya. Keempat, Tuhan itu personal. Kaum theis mengatakan bahwa Tuhan itu Ada yang sadar, yang dapat berpikir, memiliki intensi, berkeinginan dan berkehendak. Tidak sama seperti Allah kaum Deisme pada abad ke-18, Dia prihatin dan tertarik pada ciptaan-ciptaan-Nya. Karena itu, Dia tetap menyelenggarakan dunia setelah penciptaan. Kelima, Allah adalah kebaikan yang sempurna. Itu berarti Tuhan tidak pernah melakukan kesalahan moral. Semua tindakan dan intensinya selalu benar secara moral. Theisme mengklaim bahwa Tuhan itu penuh kebaikan dan cinta akan ciptaan-ciptaan-Nya. Dia tidak pernah menyebabkan penderitaan, kecuali ada penolakan dengan alasan moral bagi-Nya untuk melakukan hal itu.
Ada sedikit kesangsian bahwa problem kejahatan menjadi kesulitan intelektual yang serius dari theisme. Letak problemnya dalam pertanyaan sederhana: Mengapa Allah mengijinkan kejahatan dan penderitaan? Pertanyaan ini penting untuk melihat problem kejahatan dan penderitaan hanyalah masalah agama teistik dalam konteks yang luas. Bagi mereka yang menolak bahwa Allah adalah kebaikan yang sempurna tidak sulit menjawab pertanyaan- kejahatan ada karena Allah jahat di samping membimbingnya menciptakan kejahatan. Hal ini juga sangat mudah bagi mereka yang menolak bahwa Allah itu mahakuasa. Bagi mereka, adanya kejahatan karena Allah tidak mempunyai kewenangan untuk mencegah eksistensi kejahatan. Masalahnya di sini adalah, jika Allah itu mahakuasa, Dia mesti dapat mengatasi, mencegah kejahatan. Dan kalau Tuhan itu mahabaik, Dia harus berinisiatif untuk mengatasi kejahatan. Tetapi jika Allah mampu melakukan kedua-duanya, dan berkeinginan untuk mengatasi kejahatan, mengapa ada kejahatan dan penderitaan? Mengapa ada begitu banyak orang tidak bersalah mendekap dalam penjara? Mengapa gempa bumi, kelaparan yang menyebabkan kesakitan dan kematian terjadi? David Hume pernah bertanya kepada Allah: apakah Dia berkehendak untuk mencegah kejahatan dan penderitaan, tetapi tidak mampu? Dengan demikian Dia tidak berdaya, tidak mampu. Apakah Dia mampu, tetapi tidak menghendaki? Kalau begitu Dia berhati dengki. Apakah Dia mampu dan menghendaki kedua-duanya? Lalu bagaimana dengan kejahatan dan penderitaan? Menurut Leibniz sejak awal mula Allah telah memilih untuk menciptakan dunia yang terbaik dari segala kemungkinan. Hakikat Allah adalah kebaikan, sebab itu Dia menciptakan yang terbaik.
1.2 TUJUAN PENULISAN
Dalam tulisan ini, penulis mencoba menjawabi pertanyaan eksistensial tetang kejahatan dan penderitaan yang terjadi di dunia. Konsep Allah yang mahabaik dan mahakuasa yang diimani kaum theis sering dipertanyakan oleh kaum atheis. Terhadap pertanyaan ini, penulis berusaha memberi jawaban rasional dengan berbasiskan pemikiran Leibniz tentang teodice.
Leibniz mencoba memberikan jawaban rasional untuk mempertahankan eksistensi Allah. Bahwa keberadaan Allah tidak dapat disangsikan dan disingkirkan berhadapan dengan realitas kejahatan. Allah tetaplah Dia yang mahabaik dan mahakuasa, walaupun banyak penderitaan yang terjadi. Sebagai kebaikan tertinggi, Allah tetap menghendaki kebaikan dan mau menciptakan dunia yang terbaik. Menurut Leibniz, penderitaan adalah bagian dari kehidupan manusia sebagai makhluk yang fana. Hanya Allah yang memiliki predikat bebas dari penderitaan. Karena itu, penderitaan tetap eksis dan merupakan bagian dari pengalaman manusia yang membuat dunianya menjadi yang terbaik dari yang mungkin diciptakan. Allah tetaplah Dia yang mahabaik dan mahakuasa berhadapan dengan penderitaan dan kejahatan dalam dunia yang diciptakan-Nya.
1.3 METODE PENULISAN
Dalam upaya merampungkan tulisan ini, penulis menggunakan metode kepustakaan. Bahwa tulisan ini bukanlah hasil penelitian lapangan. Sebaliknya, penulis menggunakan sejumlah buku sumber sebagai materi dasar. Hal ini tidak berarti bahwa penulis mengabaikan realitas sosial sebagai sumber lain yang memberikan inspirasi bagi perampungan karya ini. Dalam hal ini, penulis menjadikan realitas kejahatan dan penderitaan sebagai acuan untuk dipersandingkan dengan pemikiran Gottried Wilhelm Leibniz sebelum akhirnya sampai pada suatu kesimpulan tertentu. Dan kesimpulan yang diambil adalah hasil permenungan pribadi dalam berkonfrontasi dengan pemikiran filosofi sejumlah filsuf yang diperoleh saat kuliah mimbar.
1.4 SISTEMATIKA PENULISAN
Tulisan ini terdiri dari Lima bab. Bab I. Pendahuluan. Dalam bab ini penulis mengemukakan latarbelakang penulisan, tujuan penulisan, metode penulisan dan sistematika penulisan. Dalam bab II, penulis membeberkan informasi singkat tentang riwayat hidup Gottfried Wilhel Leibniz dan karya-karya yang pernah dihasilkannya. Bab III merupakan bab inti yang menjelaskan konsep teodice Leibniz, kebaikan dan kemahakuasaan Allah berhadapan dengan realitas penderitaan dan kejahatan. Sementara dalam bab IV, penulis mencoba melihat relevansi konsep teodise Leibniz bagi pendewasaan iman. Bahwa iman dan kepercayaan kaum beriman dapat turut dimatangkan dengan adanya penderitaan dan kejahatan. Dan bab V merupakan bab penutup yang menjadi kesimpulan dari karya tulis ini. dalam bagian penutup ini, penulis juga memberikan catatan kritis dan saran terhadap konsep teodice Leibniz.
BAB II
GOTTFRIED WILHELM LEIBNIZ:
RIWAYAT HIDUP, KARYA DAN KONSEP TEODICE
2.1. RIWAYAT HIDUP DAN KARYA-KARYA
2.1.1. Riwayat Hidup
Gottfried Wilhel Von Leibniz dilahirkan di Leipzig, pada hari Minggu 1 juli 1646. Ayahnya bernama Friedrich Leibnutz (1597-1652), adalah seorang professor filsafat moral di universitas Leipzig. Ibunya bernama Catherina Schmuck (1621-1664), adalah isteri ketiga ayahnya Friedrich. Leibniz mempunyai seorang saudara bernama Johann Friedrich dan seorang saudari bernama Anna Catherina.
Leibniz belajar membaca dari ayahnya, sejak umur tujuh tahun jauh sebelum masuk sekolah. Minatnya sangat besar untuk belajar bahasa Latin dan Yunani. Leibniz kecil sudah belajar bahasa Latin sejak usia delapan tahun. Pada usia 12 tahun beliau mulai belajar bahasa Yunani. Filsuf rasionalist itu dibentuk dengan basis pemikiran yang memadai dari para filsuf klasik, bapa-bapa Gereja dan filsafat Skolastik. Leibniz sangat berminat pada logika. Pada usia 13 tahun Leibniz pernah mencoba memperbaiki teori-teori Aristoteles tentang kategori-kategori, yang walaupun kurang mendapat dukungan dari para gurunya.
Leibniz masuk universitas di universitas Leipzig pada hari Paskah 1661, ketika dia masih berusia empat belas tahun. Sang filsuf-teolog itu kemudian mengikuti juga kursus kesenian dengan batas waktu dua tahun, termasuk kursus dalam bidang filsafat, retorika, Matematika, bahasa Latin, Yunani dan Ibrani. Sang Filsuf rasionalist itu memperoleh gelar Baccheloriat dalam usia 17 tahun. Setelah tamat, Leibniz melanjutkan studi doktoratnya pada bidang teologi, hukum dan kedokteran. Dia kemudian meraih gelar doktor di Universitas Altdorf, sebuah kota kecil di Jerman. Leibniz kemudian tertarik dan memilih hukum, tetapi sebelum memulai kursusnya itu, beliau menghabiskan musim panas dekat universitas Jena. Di sini Leibniz berkontak dengan ide-ide Neopythagoraisme Erhard Weigel, di mana angka-angka adalah realitas fundamental dari universum.
Selain itu Leibniz juga menjalin kontak dengan beberapa tokoh penting. Beliau pernah mengunjungi Spinoza di negeri Belanda. Meskipun tak pernah mengakui secara terang-terangan akan pemikiran Spinoza, sesungguhnya Leibniz banyak menimba inspirasi dari pemikiran Spinoza. Leibniz juga aktif dalam bidang politik. Dalam usia dua puluh tahun dia ikut merevisi hukum kota Mainz, dan dia juga sempat diutus sebagai diplomat ke Paris untuk mengadakan wawancara dengan raja Louis XIV. Dia juga berkesempatan menjalin kontak dengan dua orang fisikawan terkenal, Boyle dan Isaak Newton, di kota London. Leibniz juga mendirikan Academy of Sciences, dan ikut mempengaruhi perkembangan ilmu pengetahuan di Rusia.
2.1.2.Karya – karya
Leibniz adalah seorang pemikir besar dan popular. Bukunya yang paling terkenal adalah Monadology (Monadologie, 17140), yang ditulis untuk Raja Eugene dari Savoy. Dalam bukunya ini Leibniz menjelaskan tentang monade-monade, sebagai satuan terkecil yang otonom, yang ada sebagai substansi. Sebagai substansi, setiap monade lengkap dalam dan mencukupi dirinya sendiri. Sebab itu monade disebut tanpa jendela. Segala yang terjadi dengan dan di dalam monade lahir dari monade itu sendiri. Itu berarti setiap monade tertutup dalam dirinya sendiri, tidak berelasi satu dengan yang lain.
Karya besarnya yang lain adalah Essays in Theodicy (Essais de Theodicee). Karya ini, adalah sebuah jawaban sistematik atas artikel Bayle yang berjudul ‘Rorarius’ dalam bukunya Historical and Critical Dictionary, yang terbit tahun 1710. Sementara karya-karyanya yang lain yang tidak kalah populer adalah Discourse on Metaphysics (Discours de metahysique), terbit tahun 1686. Dalam buku ini Leibniz berbicara juga tentang eksistensi Allah. Essai-nya tentang pemahaman manusia terbit pada tahun 1765 dengan judul New Essays On Human Understanding (Nouveaux essays sur l’entendement humain). Leibniz juga menulis buku tentang prinsip-prinsip alamiah dan rahmat yang terbit tahun 1714 di bawah judul The Principles of Nature and of Grace (Principes de la nature et de la grace). Dari sejumlah bukunya di atas kita dapat melihat bahwa Leibniz adalah seorang filsuf-teolog. Dia tidak hanya berbicara tentang manusia dan alam semesta tetapi juga berbicara tentang Tuhan. Melalui konsep Teodicenya orang dihantar untuk memahami Allah sebagai pencipta alam semesta tapi serentak dengan itu Dia memberikan kebebasan kepada alam semesta untuk beraktivitas sesuai dengan hakekatnya.
2.2. KONSEP TEODICE LEIBNIZ
2.2.1. Tuhan dan adanya Kejahatan dan Penderitaan
2.2.1.1. Problem Kejahatan.
Kejahatan bukan sekedar pelbagai perbuatan bukan baik yang keluar dari hati manusia yang amburadul, melainkan inti keras dan jahat di dalam perbuatan-perbuatan itu. Kejahatan bukan sekedar kelemahan seseorang sehingga ia mengikuti nafsu dan emosinya, terbawa oleh rasa dendam spontan, malas dan sebagainya, melainkan sikap jahat sungguh-sungguh sejauh memang termasuk di dalam kelemahan-kelemahan itu. Sikap yang betul-betul menolak tarikan hati nurani, yang nekat mau berbuat secara bohong, keji, kejam, tidak adil meskipun menyadari bahwa sikap-sikap itu jahat. Kejahatan adalah apa yang dalam bahasa agama disebut dosa.
Mengapa adanya kejahatan menjadi masalah bagi orang yang percaya akan Allah? Karena Allah adalah yang mahasuci dan membenci kejahatan, lalu mengapa Ia tidak mencegah adanya kejahatan. Bisa dikatakan bahwa Allah secara hakiki memiliki zero-tolerance terhadap kejahatan. Sebagaimana tuntutan hati nurani agar kita memilih yang baik dan bukan yang buruk bersifat mutlak, begitu pula yang jahat mutlak harus tidak ada. Dengan kata lain kita dapat memaafkan suatu pembunuhan kalau terjadi karena emosi, atau orang selingkuh karena terbawa oleh hawa nafsunya. Tetapi kejahatan adalah soal lain. Kejahatan terletak dalam kehendak seseorang yang tidak mau bersikap baik. Kejahatan ini selalu jahat dan yang jahat mutlak tidak boleh ada. Mengapa Allah yang berkuasa untuk mencegahnya, membiarkannya?
Seperti pada masalah kebebasan manusia berhadapan dengan kemahakuasaan Allah, begitu pula adanya kejahatan yang diizinkan berlangsung oleh Yang Mahasuci tidak mungkin dapat dimengerti dalam arti sebenarnya. Di sini kita sampai pada batas kemungkinan makhluk ciptaan memahami motivasi Sang Pencipta. Namun adanya kejahatan tidak seakan-akan membuktikan bahwa Allah tidak mungkin ada. Yang melakukan kejahatan bukan Allah melainkan manusia. Allah mengizinkan terjadi meskipun Ia menolaknya. Kalau Allah mau menciptakan sesuatu, maka sangat masuk akal bahwa Allah menciptakan makhluk yang berakal budi karena hanya makhluk berakal budi dapat mengakui anugerah penciptaan. Tetapi makhluk berakal budi dengan sendirinya berarti makhluk yang bebas. Bagi Allah menciptakan robot-robot yang secara otomatis berbuat sesuai dengan kehendak-Nya tidak mempunyai nilai apa pun. Allah menciptakan manusia dengan menganugerahkan kepadanya kemampuan untuk menjawab cinta kasih Allah secara bebas. Dan karena manusia sedemikian penting bagi Allah, Allah mengambil resiko bahwa manusia memakai kebebasannya untuk menolak Allah, untuk berbuat jahat. Allah sedikit pun tidak menghendaki kejahatan itu sendiri, tetapi demi manusia Allah bersedia mengambil resiko bahwa kejahatan akan terjadi.
Masalah kejahatan menjadi pergumulan yang tidak pernah selesai. Mengapa? Karena kejahatan sudah, sedang dan akan terjadi dalam perjalanan hidup manusia. Juga karena kejahatan sudah menjadi salah satu bagian penting dari hidup manusia yang memungkinkan adanya kebaikan yang lebih baik dari kebaikan sebelumnya. Adanya kejahatan membuat seleksi atas kebaikan menjadi lebih sempurna. Menurut Leibniz kejahatan tidak bertentangan dengan kebaikan Allah. Dengan kata lain, bagi Leibniz jika kejahatan itu tidak ada maka kebaikan pun tidak ada. Dan hal itu bertentangan dengan kesempurnaan Allah.
Untuk itu Leibniz menawarkan dua solusi, pertama, mengakui bahwa universum sesungguhnya tidak sempurna. Bagi Leibniz penjelasan tentang dunia yang tidak sempurna ini penting untuk menunjukkan bahwa ketidaksempurnaan secara logis perlu sebagai penjarakkan terhadap Tuhan, sebagai ada yang selalu sempurna. Tuhan tentu tidak akan mengutuk atau mempersalahkan kekurangan yang bertentangan dengan hukum-hukum logika. Kedua, ketidaksempurnaan universum adalah kemungkinan terbaik. Dunia menjadi tidak sempurna untuk merujuk pada Allah yang sempurna. Dengan demikian, mempersalahkan Allah yang telah menciptakan universum ini, sama dengan mengatakan bahwa Allah tidak harus menciptakan segala sesuatu. Hal itu berarti manusia tidak setuju bahwa Tuhan harus menciptakan dunia ini dengan segala konkuensi yang ada, seperti kejahatan dan penderitaan.
2.2.1.2. Problem Penderitaan
Masalah yang sungguh menantang iman adalah mengapa Allah dapat mengizinkan penderitaan. Problem mengapa Allah mengizinkan adanya dosa, bisa dikatakan adalah masalah Allah sendiri. Mungkin kita sendiri mengalami di lingkungan keluarga atau sahabat kita suatu kejadian di mana kita secara spontan bertanya: bagaimana Allah dapat mengizinkan sesuatu seperti itu terjadi? Misalnya terjadi gempa, tsunami dan tanah longsor yang merenggut nyawa ribuan orang, termasuk di dalamnya sahabat kenalan dan keluarga dekat kita.
Perlu diperhatikan bahwa teodice, pembenaran Allah yang baik dan mahakuasa berhadapan dengan pengalaman penderitaan ini, tidak muncul dalam lingkungan semua agama. Dalam pandangan-pandangan dualistik penderitaan dijelaskan dengan prinsip asali yang negatif. Dalam Panteisme penderitaan individual seakan-akan tenggelam dalam makna keseluruhan yang dihayati secara bersama. Masalah teodice hanya dapat muncul apabila Allah dipahami secara personal dan dialogal dan apabila masing-masing orang secara personal dianggap mempunyai nilai pada dirinya sendiri. Penderitaan menjadi masalah justeru karena yang Ilahi dipahami, bahkan dialami, sebagai kekuatan yang peduli pada manusia, yang berbelaskasih, yang suka mengampuni kesalahan manusia (daripada secara keras selalu menghukumnya), yang menyembuhkan. Atas dasar penghayatan Allah sebagai kekuatan yang peduli, menyelamatkan dan menyembuhkan, kenyataan penderitaan menjadi semakin tidak dapat dimengerti. Justeru karena itu muncul pertanyaan: Apakah Allah tidak dapat menciptakan tanpa menyiksa? Apa Allah tidak bisa atau tidak mau?
Dalam dinamika sejarah, tema penderitaan merupakan tema klasik yang menantang sekaligus inheren (tak terpisahkan) pada setiap manusia tanpa kecuali. Sejak kapan pastinya manusia mulai menderita? Penderitaan mulai dialami manusia sejak ia diberi eksistensi oleh Allah pencipta. Manusia diberi eksistensi dengan dua anasir mendasar, yaitu roh dan materi. Roh bersifat kekal, sedangkan kodrat materi adalah sementara, rapuh, binasa. Penderitaan identik dengan penghancuran. Penderitaan masuk kategori dan kualifikasi materi. Penderitaan menandai kodrat manusia sebagai barang (benda) material yang dikehendaki untuk binasa.
Penderitaan adalah fakta yang inheren pada manusia. Dia (penderitaan) tidak dapat dielakkan dengan cara dan taktik secanggih apa pun. Dia adalah suatu conditio sine qua non (absolut) untuk manusia. Penderitaan adalah kenyataan yang hanya mampu dikategorikan. Richard Swimburne menggolongkan penderitaan ke dalam empat dimensi. Pertama, penderitaan fisik. jenis penderitaan ini dialami oleh semua makhluk hidup, baik manusia maupun hewan. Kedua, penderitaan emosional, misalnya rasa ditinggalkan yang menyebabkan seseorang menderita, atau rasa frustrasi karena suatu tujuan yang diidealkan tidak tercapai. Ketiga, penderitaan yang disebabkan karena dalam batin seseorang terjadi sesuatu yang tidak enak atau tidak baik, misalnya orang yang iri akan menderita akibat iri hatinya itu. Keempat, penderitaan yang disebabkan oleh orang lain. Di sini orang berbicara tentang masalah penderitaan atau orang yang menderita secara tidak adil.
Berhadapan dengan penderitaan dan keburukan (malum), Leibniz menawarkan tiga bentuk keburukan. Dalam bukunya Theodicy, Essay on the Goodness of God, the Freedom of Man and the origin of Evil, Leibniz membedakan tiga macam keburukan:
2.2.1.2.1. Keburukan Metafisis
Keburukan metafisis disebabkan oleh ketidaksempurnaan belaka. Ketidaksempurnaan ini meliputi ada yang terbatas. Keberadaan ciptaan selalu terbatas, dan terbatas selalu berarti tidak sempurna, dan ketidaksempurnaan ini adalah akar dari kemungkinan kekeliruan dan kejahatan. Sebagai manusia yang mendapat segala keberadaan dari Allah, di manakah kita akan menemukan sumber keburukan? Jawaban atas pertanyaan ini dapat dijumpai dalam idea alam ciptaan, yang sangat jauh sebagaimana alam ini termuat dalam kebenaran-kebenaran abadi yang mana dalam pemahaman Allah secara bebas akan kehendak-Nya. Karena itu mesti dipertimbangkan bahwa ada “ketidaksempurnaan alamiah dalam ciptaan” sebelum dosa, karena ciptaan terbatas dalam esensinya. Sumber terakhir dari keburukan demikian metafisik sehingga muncul pertanyaan, bagaimana Allah tidak mampu merespons keburukan, hingga Dia menciptakan dunia dan memberi eksistensi yang terbatas dan tidak sempurna pada benda-benda? Terhadap pertanyaan ini, Leibniz menjawab, adalah lebih baik berada dari pada tidak berada sama sekali. Sejak ketidaksempurnaan dalam ciptaan tidak bergantung pada pilihan yang ilahi tetapi pada ideal esensi ciptaan, Allah tidak dapat memilih untuk menciptakan tanpa pilihan untuk menciptakan adanya yang tidak sempurna. Dia memilih, bagaimanapun untuk menciptakan dunia yang terbaik dari yang mungkin. Allah selalu menghendaki kebaikan, dan konsekuensinya, sekali memberikan keputusan ilahi untuk menciptakan, hal itu merupakan kemungkinan terbaik. Karena itu, Allah tidak dapat menghendaki “yang terbaik” tanpa menginginkan eksistensi benda-benda yang tidak sempurna. Tetap yang terbaik dari segala dunia ciptaan yang mungkin harus ada yang tidak sempurna.
2.2.1.2.2. Keburukan Fisis
Keburukan fisis terdapat dalam penderitaan dan kesengsaraan. Keburukan fisis merupakan bentuk keburukan alamiah yang terdapat dalam relitas-realitas negatif yang ditimpakan alam kepada manusia, misalnya bencana alam, penyakit dan cacat fisik yang dialami manusia. Sebagai makhluk terbatas sekaligus beriman manusia sering mempersalahkan Allah menghadapi penderitaan ini. Penderitaan dipandang sebagai kutukan Allah atas kesalahan yang dibuat manusia. Menurut Leibniz, Allah tidak pantas dan tidak patut dipersalahkan. Dia adalah Allah yang selalu menghendaki yang terbaik bagi dunia dan manusia. Tentang hal itu Leibniz menulis:
The objection will be made that God therefore creates man a sinner, he that in the beginning created him innocent. But here it must be said, with regard to the moral aspect, that God being supremely wise cannot fail to obserb certain laws, and to act according to the rules, as well physical as moral, that wisdom has made him choose. And the same reason that has made him create man innocent, but liable to fall, makes him re-creator man when he falls; for God knowledge causes the future to be for him as the present, and prevents him from rescinding the resolutions made. (Keberatan akan dibuat tentang Allah yang menciptakan manusia sebagai pendosa, dia (manusia) pada mulanya diciptakan tidak bersalah. Namun di sini harus dikatakan merujuk pada aspek moral, bahwa Allah yang Mahabijaksana itu tidak mungkin lupa mengamati hukum yang pasti, dan bertindak menurut aturan-aturan, baik secara fisik maupun moral, yang bijaksana telah membuatnya memilih. Dengan alasan yang sama, Dia telah menciptakan manusia yang tak bersalah, tetapi dapat jatuh, membuat Dia menciptakan kembali manusia ketika manusia itu jatuh; karena Allah mengetahui alasan yang futuris bagi Dia sebagai yang ada, untuk mencegahnya dari resolusi-resolusi yang telah dibuat).
2.2.1.2.3. Keburukan Moral
Keburukan moral nampak dalam dosa. Keburukan moral adalah satu keburukan yang menjadi begitu besar hanya karena ia menjadi sumber dari keburukan fisis-keburukan fisis, suatu sumber yang ada dalam satu dari sekian banyak kekuatan ciptan-ciptaan. Tentang hal itu Leibniz mengatakan:
It is again well to consider that moral evil so great only because it is a source of physical evils, a source existing in one of the most powerful of creatures, who is also most capable of causing those evil. (Penting sekali untuk mempertimbangkan bahwa keburukan moral adalah kejahatan yang begitu besar hanya karena merupakan sumber keburukan fisis, suatu sumber yang eksis dalam satu daru sekian banyak kekuatan-kekuatan ciptaan, yang sanggup menjadi sebab dari keburukan).
Keburukan moral ditimpakan manusia atas manusia seperti perang, ketidakadilan, kekerasan dan penindasan.
2.3. DUNIA TERBAIK DARI SEGALA YANG MUNGKIN
2.3.1. Apakah Allah Memilih Kemungkinan Terbaik?
Leibniz mengembangkan argumen, kemungkinan terbaik secara detail sebagai upaya untuk membuktikan – atas dasar rasionalitas kosmos- bahwa itu semacam itu eksis. Tentang kemungkinan terbaik itu Leibniz menulis sebagai berikut: God wills antecedently the good and consequently the best. Hal ini berarti sejak awal Allah berkecenderungan untuk menciptakan dan menghadirkan yang baik bagi dunia, dan hal itu nampak dalam dunia yang terbaik yang diciptakannya. Dengan demikian Leibniz berkesimpulan dari argumen kosmologis ini bahwa suatu wujud yang rasional, maha mengetahui, sempurna, maha kuasa tidak bisa tidak, harus memilih yang terbaik dari segala dunia yang mungkin. Alasannya? Seandainya Tuhan yang sempurna memilih secara sadar sebuah dunia yang kurang dari sempurna, itu akan menjadi tidak rasional. Dan hal itu tidak sesuai dengan kodratnya sebagai Tuhan yang rasional dan sempurna. Dengan demikian Allah telah memilih kemungkinan terbaik untuk menciptakan dunia.
2.3.2. Penderitaan Dalam Dunia Sebagai Yang Terbaik Dari Yang Mungkin
Leibniz berpendapat bahwa sejak awal mula Allah telah memilih untuk menciptakan dunia yang terbaik dari segala kemungkinan. Sendainya dunia yang tercipta bukanlah dunia yang terbaik, maka masih ada kemungkinan lain yang lebih baik. Itu berarti Allah tidak mengenal kemungkinan terbaik itu, dan hal ini bertentangan dengan kemahatahuan-Nya. Atau Dia tidak sanggup menciptakan yang terbaik itu, ini bertentangan dengan kemahabaikan-Nya.
Sebagai kebaikan tertinggi, allah memang menghendaki kebaikan dan mau menciptakan dunia terbaik. Dan menurut Leibniz, penderitaan adalah bagian dari kehidupan kita sebagai makhluk yang fana. Hanya Allah yang memiliki predikat bebas dari penderitaan. Penderitaan adalah bagian dari pengalaman yang membuat dunia menjadi yang terbaik dari yang mungkin diciptakan.
Allah menciptakan dunia terbaik dari kemungkinan penciptaan yang Dia miliki. Tetapi dunia yang tercipta itu bukanlah dunia yang terbaik. Dunia ini bukanlah optimum optimorum, yang terbaik dari yang terbaik. Dunia terbaik yang mungkin diciptakan adalah dunia ini, dan dunia ini menghadirkan banyak penderitaan. Penderitaan ini tak terelakkan sebagai konsekuensi dari segala kebaikan yang ada di dalam dunia ini. Sebab itu, pandangan manusia hendaknya diarahkan kepada yang baik. Dengan ini manusia belajar menerima yang buruk sebagai konsekuensi yang tak terelakkan dari berbagai kebaikan yang dihadiahkan kehidupan baginya. Tanpa penderitaan fisis, kita tidak akan mampu menikmati saat-saat bahagia kehidupan. Sebab yang positif hanya akan muncul dan menjadi kian tajam dirasakan pada sebuah latarbelakang yang kontras. Demikian pula dengan penderitaan moral dan batin. Tanpa penderitaan yang pernah dialami dan dilihat, orang tidak akan memperoleh gagasan dan daya juang yang tinggi untuk berperang melawan dan mengatasi penderitaan itu.
BAB III
RELEVANSI TEODICE LEIBNIZ
BAGI PENDEWASAAN IMAN
3.1. PENDERITAAN SEBAGAI COBAAN ALLAH ATAS KUALITAS IMAN MANUSIA
Kenyataan penderitaan adalah problem bahkan misteri yang sulit dipecahkan dengan akal sehat manusia. Sebagai animal rationale manusia tidak akan berhenti bergulat dengan penderitaan. Sebagai makhluk berkesadaran, manusia sadar akan penderitaan itu. Dalam konfrontasinya dengan penderitaan, kesadaran merupakan hal yang penting sebagai pembuka horizon pikir manusia.
Penderitaan menyentil titik kesadaran manusia untuk memahami makna penderitaan. Kesadaran menggiring budi manusia pada suatu dimensi pemahaman, bahwa manusia adalah makhluk rapuh, lemah dan tidak berdaya. Manusia mengalami kekosongan dan ketidakberartiran diri. Daya dan potensi manusiawi tidak mampu mengelakkan sepak terjang penderitaan. Penderitaan mengarahkan pikiran dan nurani manusia menuju kepada suatu horizon yang lain. Penderitaan membuka pemahaman manusia akan kehadiran sesuatu yang lain. Sesuatu yang lain itu transenden, melampaui realitas indrawi. Pada titik ini manusia beriman memahami bahwa segala kejadian kosmos termasuk evolusi benda dipengaruhi oleh daya kuasa ilahi. Maka penderitaan yang dialami manusia bukan tidak mungkin terjadi karena penyelenggaraan ilahi. Dalam arti ini penolakan terhadap penderitaan bukanlah sikap iman dan bukan juga sikap bijaksana kaum beriman. Seorang beriman memahami segala peristiwa harian dalam nuansa dan perspektif religius-teologis. Sikap kristiani yang sehat terhadap diri adalah mengakui dan menerima kondisi manusia yang rapuh, walaupun konsekuensi penerimaan ini membawa penghancuran diri manusia secara psikologis.
3.2. PENDERITAAN SEBAGAI PEMURNIAN HATI
Penderitaan bernilai secara moral. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa dengan penderitaan manusia secara perlahan mulai membenah diri dalam relasinya dengan Tuhan dan sesama. Penderitaan yang dialami yang diakibatkan oleh gempa bumi dan tsunami seperti yang dialami masyarakat di Aceh dapat memurnikan hati orang-orang yang sedang bertikai. Para pemberontak, seperti GAM akhirnya untuk sementara menyerahkan diri dan ingin berdamai dengan TNI, karena mereka percaya bahwa gempa dan tsunami adalah salah satu kutukan dari Allah atas perbuatan mereka.
Selain itu penderitaan menyentil manusia untuk menyerahkan diri secara total ke dalam penyelenggaraan ilahi. Manusia yang mengalami pemurnian hati atas penderitaan itu akan selalu menunggu kapan Tuhan mengerjakan karya-karya ajaib-Nya. Manusia menunggu kapan Tuhan menyelesaikan rencana-Nya dalam diri manusia. Tuhan mematikan kita, membedah hidup kita, memasukkan dan mengambil keluar bagian-bagian dari diri kita dan hidup kita. Situasi penderitaan menggurui manusia untuk belajar memurnikan hati dan memasrahkan diri secara total dan paripurna ke dalam tangan Tuhan. Penderitaan mengajarkan manusia sikap iman yang benar kepada siapa manusia mencari perlindungan terakhir yang tepat.
3.3. DUNIA YANG ADA PENDERITAANNYA AKAN LEBIH BAIK DARIPADA DUNIA TANPA PENDERITAAN.
Penderitaan adalah kesempatan bagi dunia yang sedang berproses ini mencapai taraf yang lebih baik. Menurut Teilhard de Chardin dunia ini dalam proses “menjadi” pada setiap tarafnya, terutama pada taraf masyarakat manusiawi. Ada peralihan dari tingkat pengada yang berkekurangan ke tingkat pengada yang sempurna, melalui kegagalan-kegagalan dan pergulatan yang tak dapat dihindari. Hal itu berarti dunia yang ada penderitaannya akan lebih baik dari dunia yang tidak ada penderitaan. Karena dunia yang ada penderitaan akan terus menerus membaharui diri dan terus-menerus dibaharui. Sementara dunia tanpa penderitaan akan tetap menjadi dunia yang labil, dan hal itu tidak mungkin terjadi dalam dunia yang yang diciptakan oleh Yang Mahabaik.
Penderitaan tidak dapat dilihat sebagai saat Tuhan menyiksa. Bagi Leibniz Allah yang telah menciptakan dunia ini akan tetap memberikan kebebasan kepada dunia untuk menentukan dirinya. Dengan demikian, penderitaan adalah konsekuensi dari kebebasan yang diberikan Allah itu. Penderitaan adalah tanda sirene bahwa manusia adalah makhluk fana yang eksistensinya bersifat temporal. Manusia adalah homo viator (makhluk peziarah) dalam dunia. Kehidupannya adalah suatu ziarah menuju horizon yang transenden, tak terbatas. Dalam istilah Teilhard de Chardin, hidup manusia adalah evolusi atau gerakan dari titik alfa sebagai awal kehidupan menuju ke titik omega sebagai akhir. Titik alfa dan omega bagi orang Kristen merupakan simbolisasi Kristus. Kehidupan dunia berlangsung di antara titik alfa dan titik omega. Penderitaan adalah hal yang wajar dan normal dalam kehidupan dunia karena tujuan final kehidupan bukanlah dunia ini. Kehidupan absolut tidak tercapai di dunia ini, tetapi berpusat, berpuncak dan mencapai kepenuhannya pada masa eskatologis. Masa eskatologis menyempurnakan nilai temporalis eksistensi manusia dan mengubahnya menjadi kedamaian abadi. Dalam kerangka ini John Powell benar ketika mengatakan bahwa penderitaan menjadi peringatan terus-menerus bahwa manusia masih dalam perjalanan. Penderitaan dapat dianalogikan dengan sebuah bintang penunjuk arah bagi manusia dalam ziarah menuju Allah.
3.4. MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK TERBATAS
Harus pula diakui bahwa manusia adalah makhluk terbatas yang tidak tuntas menyelami kehendak Allah. Sebagai makhluk terbatas manusia hanya mengenal kehendak Allah dalam keterbatasannya itu. Dia tidak bisa menyelami segala yang ada dalam kehendak Allah. Namun satu hal yang pasti bahwa apa yang dibuat Allah adalah apa yang terbaik yang diberikan untuk manusia dan dunianya. Allah tidak pernah merancang kejahatan untuk dunia. Kisah Ayub kiranya menjadi contoh yang jelas bagi pergulatan setiap orang beriman menghadapi penderitaan. Ayub adalah tokoh yang mengalami penderitaan bertubi-tubi. Penderitaan itu tidak dilihat Ayub sebagai hukuman Allah yang diimaninya. Ayub selalu melihat penderitaan sebagai berkat bagi hidupnya.
Dalam penderitaannya Ayub menulis: Apakah gerangan manusia, sehingga ia Kauanggap agung dan Kauperhatikan, dan Kaudatangi setiap pagi, dan Kauuji setiap saat? Bilakah Engkau mengalihkan pandangan-Mu dari padaku? Kalau aku berbuat dosa, apakah yang telah kulakukan terhadap Engkau, ya penjaga manusia? Mengapa Engkau menjadikan aku sasaran-Mu, sehingga aku menjadi beban bagi diriku? (Ayb 7:17-20)
Namun dalam segala keputusasaannya Ayub mau berpegang pada Allahnya dan masih tetap menaruh harapannya pada Allah itu. Meskipun kelihatannya Allah melawannya, namun Ayub berharap, bahwa Allah toh akan membebaskannya. Penderitaan tidak dipandang Ayub sebagai hukuman Allah yang diimaninya. Ayub selalu melihat penderitaan sebagai berkat bagi hidupnya.
Dengan demikian, Ayub menjadi tokoh yang menyadari keterbatasannya. Dia menyerahkan semua problem penderitaan kepada Allah yang menghendaki semuanya itu. Dan hal itulah yang membuat Ayub tetap berkanjang dalam iman menghadapi penderitaan. Ayub adalah tokoh yang berani mengatakan: “Ya Tuhan aku senantiasa berpasrah pada-Mu”. Kepasrahan Ayub ini menunjukkan keterbatasannya sebagai manusia.
. Penderitaan yang dialami Ayub tidak harus mengajak manusia untuk selalu mengalah pada penderitaan, apalagi mengatakan bahwa setiap penderitaan adalah nasib terberi. Manusia yang memiliki akal budi harus mengusahakan kebahagiaan dalam hidupnya. Namun bila dalam usaha itu dia menemukan keterbatasan, pada saat itulah manusia harus mengakui bahwa ada sesuatu yang melampaui dirinya. Penderitaan yang diakibatkan oleh gempa dan tsunami harus diakui manusia sebagai keterbatasan menghadapi segala kejadian alam. Manusia tidak sanggup, dan terbatas untuk mengatakan kepada alam bahwa gempa dan tsunami tidak harus terjadi. Keterbatasan ini menjadi kekuatan ketika orang beriman menyerahkan itu kepada Tuhan dan yakin bahwa itu merupakan satu berkat baginya.
BAB IV
PENUTUP
4.1 KRITIK
Konsep Teodise Leibniz, seakan menghadirkan hiburan baru bagi manusia untuk menerima penderitaan sebagai hal yang harus ada karena ketidaksempurnaan ciptaan. Itu berarti konsekuensi dari keberadaan manusia di dunia adalah bahwa dia harus menderita karena ketidaksempurnaan dunia itu. Namun konsep seperti ini dapat juga melemahkan usaha manusia untuk meminimalisir adanya bencana. Manusia menerima penderitaan dan kejahatan sebagai kejadian yang harus ada.
Kejahatan dan penderitaan tidak selalu menjadi konsekuensi keberadaan manusia di dunia yang tidak sempurna ini, tetapi bencana, kematian yang tidak wajar, kekerasan, pembunuhan, dan lain-lain dapat terjadi oleh tingkah laku manusia. Bencana alam seperti banjir dan tanah longsor dan keadaan musim yang tidak menentu adalah akibat dari relasi ketidakharmonisan manusia dengan alam ini. Penebangan hutan secara liar, membakar hutan untuk membuka kebun baru adalah bukti tindakan manusia yang serakah terhadap alam. Karena itu, penderitaan seperti bencana alam yang terjadi tidak harus dilihat sebagai “murka’ Allah tetapi merupakan reaksi alam dalam dirinya sendiri, karena alam mengalami ketidakharmonisan. Alam menjadi Chaos bukan kosmos (teratur). Dengan demikian, selalu ada usaha manusia untuk meminimalisir penderitaan (bencana) yang sering terjadi akhir-akhir ini. Atau misalnya terjadi pembunuhan yang mengakibatkan kematian yang tidak wajar. Hal itu karena manusia yang satu ingin menguasai yang lain. Di sana ada egoisme dalam diri manusia yang menghendaki segala sesuatu kembali kepada dirinya.
Dalam gerakan ekofeminisme, alam dilihat sebagai ibu yang mengandung dan melahirkan segala kehidupan yang ada. Karena itu, terhadap ibu yang melahirkan itu, manusia mesti memberi penghormatan lebih. Alam harus dilihat, lebih dari sekedar kumpulan benda-benda yang memberi hidup kepada manusia dan ciptaan lain. Alam mesti menjadi partner dalam relasi subjek-subjek, di mana yang satu tidak dapat menguras dan menghabiskan yang lain. Yang satu mesti memandang yang lain sebagai subjek yang patut dihargai dan dipelihara. Penghargaan dan pemeliharaan terhadap alam merupakan bukti penghargaan manusia akan kehidupannya dan kehidupan orang lain. Manusia dengan itu turut bertanggungjawab atas alam agar bencana yang sering menambah penderitaan hidupnya dapat dikurangi.
Selain itu untuk meminimalisir kejahatan dan penderitaan, manusia juga perlu menghargai satu sama lain. Emanuel Levinas adalah seorang filsuf yang menyumbangkan gagasan tentang solidaritas manusia terhadap sesamanya. Dia mencetuskan ide tentang “yang lain” yang harus dihargai dalam keberlainannya. Levinas menggunakan kata ganti orang ketiga tunggal “Dia” untuk menyebut “yang lain”. Hal itu mau menunjukkan bahwa “yang lain” bukan sebagai sesuatu. “Yang lain” adalah Dia yang heteronom, personal, eksterior. “Yang lain” adalah Dia yang lain secara radikal. Yang lain itu adalah yang tak berhingga. Tentang yang lain ini Levinas menulis:
To think the infinite, the transcendent, the Stranger, is hence not to think an object. But to think what does not have the lineaments of an object is in reality to do more than think. (Berpikir tentang infinitas, yang transenden, tentang orang asing, bukan berpikir tentang satu objek. Tetapi memikirkan apa yang melampaui batas pada satu objek yang ada dalam realitas, yang melampaui pikiran).
Artinya yang lain itu melampaui objek yang kelihatan. Sebagai yang lain secara absolut dia hanya dapat dipahami tanpa konteks dan mediasi. Dikatakan demikian, karena ia melampaui konteks. Memasukkan dia yang tak berhingga itu dalam konteksku saat ini dan kini sama dengan memperkosa keberlainannya secara gawat. Yang Tak berhingga itu bukanlah obyek pemikiran dan kesadaranku, karena aku tidak lagi bisa menjadi subyek yang mengobyekan di hadapannya. Nafsu egoku runtuh di hadapan dia.
Menurut Levinas, terdapat satu hubungan yang benar dan sejati antara aku dan yang lain. Hubungan itu tidaklah sama dengan hubungan antara yang mengetahui dan yang diketahui secara obyektif. Mengapa? Mengetahui atau mengerti sesuatu menurut Levinas, berarti menguasai, dan menindasnya. Selain itu ada yang disebut devioler (membuka tutup). Devioler berarti mendekati kenyataan dari sudut pandangan dan konteks tertentu. Mendekati kenyataan itu pun terjadi berdasarkan proyeksi ataupun kegiatan dari yang mengetahui itu sendiri. Dalam pengetahuan semacam ini, “yang lain” itu hanya tergantung pada kegiatan dari yang mengetahuinya saja. Adanya di luar dari yang mengetahuinya hanyalah suatu yang relatif saja dan tidak mutlak lagi.
Namun demikian, ada suatu pengetahuan tentang “yang lain”, dalam arti “orang lain” itu sendiri. Tetapi inisiatif untuk pengetahuan itu tidak datang dari dalam melainkan dari luar diri orang yang mengetahuinya. Pengetahuan tersebut oleh Levinas disebut “pengalaman yang mutlak” atau pengalaman yang fundamental. Dalam pengetahuan atau pengalaman yang mutlak ini, orang lain sungguh-sungguh “diketahui” serta “dialami” dalam seluruh kedirian dan keberlainannya.
Kalau pengetahuan di atas terjadi atas inisiatif orang lain, bagaimana terjadinya? Orang lain itu menyatakan dan mewahyukan dirinya kepadaku. Pewahyuan itu terjadi tidak tergantung dari posisi yang kuambil terhadapnya. Pewahyuan itu pun terjadi “tanpa sifat”, tanpa atribut, tanpa bentuk dan tanpa kategori manapun juga. Orang lain itu seakan-akan sama sekali tidak membutuhkan semua yang disebut tadi dalam pewahyuannya. Dari dan dalam dirinya sendiri dia sudah bermakna dan bernilai. Pewahyuan atau pernyataan diri ini juga disebutnya pewahyuan sebagai wajah, sebagai wajah yang telanjang. Dalam dan dengan wajahnya tampillah orang lain itu dalam keaslian, kepolosan, kedirian dan seluruh ekspresi kediriannya, dalam kepenuhan artinya serta seluruh dunia dan hidupnya.
Dengan demikian hubunganku dengan orang lain itu menjadi suatu hubungan tanpa gambar atau tanpa apa pun juga. Dengan kata lain, hubunganku dengan orang lain adalah suatu hubungan yang langsung sekali. Dalam dan melalui hubungan yang langsung inilah orang lain itu menyatakan serta mewahyukan dirinya kepadaku. Maksudnya, pewahyuan diri sebagai yang sama sekali lain dan sama sekali berada di luar daripada serta tetap asing terhadapku. Dengan relasi tanpa gambar manusia yang satu akan melihat yang lain sebagai bagian dari dirinya. Atau bahkan menurut Levinas, manusia akan merasa bertanggungjawab terhadap tanggungjawab orang lain. Melalui solidaritas tanpa batas ini dunia ini akan menjadi suatu dunia yang bebas dari segala dari segala kejahatan dan penderitaan.
4.2. SARAN
Konsep teodice Leibniz adalah sebuah konsep yang digunakan untuk mengeritik konsep Allah dalam pemahaman deisme. Bagi deisme Allah setelah menciptakan segala sesuatu yang ada di bumi ini meninggal ciptaannya itu sendiri. Di sana tidak ada lagi penyelenggaraan ilahi terhadap ciptaannya. Leibniz dalam konsep teodicenya menghadirkan penjelasan yang rasional. Penjelasan itu tentunya bermaksud untuk diterima secara rasional pula. Namun yang rasional belum tentu benar seluruhnya.
Karena itu, bagi penulis konsep teodice Leibniz hendaknya tidak menjadi semacam hiburan baru bagi para penderita. Konsep ini hendaknya dilihat sebagai suatu sumbangan rasional Leibniz bagi problem penderitaan dan kejahatan. Bahwa adanya penderitaan tidak menyebabkan konsep manusia berubah tentang kemahakuasaan dan kemahabaikan Allah. Allah tetaplah pencipta yang baik dan berkuasa, dan segala kejahatan dan penderitaan dunia ini merupakan konsekuensi dari ketidaksempurnaan ciptaan. Allah selalu menghendaki yang terbaik bagi dunia, tetapi dalam kehendak-Nya yang baik itu Dia tetap menghargai dan memberikan kebebasan kepada dunia ciptaan-Nya. Dengan memberi kebebasan itulah, Allah disebut sebagai yang mahabaik dan mahakuasa. Dia adalah Allah yang penuh pengertian dan cinta akan segala sesuatu yang sudah diciptakan-Nya.









Unregistered user # Tuesday, January 19, 2010 3:12:55 PM