Skip navigation.

Log in | Sign up

My Freedom

Now or Never

Belajar dari Dekonstruksi Derrida

Melawan Kuasa Bahasa Pusat
Belajar dari Dekonstruksi Derrida
Jimmy Meko Hayong
Pra-Wacana
Filsafat di masa kini sedang mengalami pembalikan ke arah bahasa. Bahasa dilihat sebagai satu istilah kunci atau persoalan pokok dalam filsafat masa kini. Pada saat ini bahasa memang semakin menjadi sentral dalam diskusi-diskusi filosofis. Bahasa mempunyai peranan penting dalam kehidupan sosial dan politik. Bahasa dapat menjadi alat untuk mempersatukan. Di sini bahasa bersifat konstruktif. Namun, tak dapat dihindari juga bahwa bahasa di dalam dirinya membawa benih perpecahan. Bahasa dapat memecah belah dan menghancurkan. Karena perbedaan bahasa kelompok yang satu dapat bangkit melawan kelompok yang lain. Bahasa mempunyai potensi yang bersifat dekonstrukstif. Bahasa yang diucapkan atau pun ditulis senantiasa membawa di dalam dirinya dua kemungkinan ini. Sekarang tinggal pada para penggunanya untuk memilih kemungkinan yang mana dalam penggunaannya.
Dalam perjalanan waktu tak dapat dihindari persilangan antara bahasa dan kekuasaan. Sejarah membuktikan bahwa bahasa dapat dilihat sebagai sarana untuk melanggengkan kekuasaan. Dengan demikian secara tak sengaja telah timbul pemisahan yang tegas antara bahasa yang mendukung kekuasaan dan bahasa yang sama sekali tidak memiliki kontribusi bagi kelanggengan kekuasaan atau yang melawan dan membahayakan kekuasaan. Diskriminasi dalam berbahasa secara tak langsung telah terbentuk. Bahasa yang mendukung kekuasaan tampil sebagai yang lebih superior dibandingkan bahasa yang membahayakan kekuasaan.
Jacques Derrida, seorang filsuf postmodernisme Prancis, turunan Yahudi, sungguh menyadari peranan dan fungsi bahasa dalam kehidupan umat manusia dewasa ini dalam berbagai bidang entah filsafat, sosial, etika-politik, hukum, religius, dsb. Derrida melihat bahwa diskriminasi antara bahasa yang melanggengkan kekuasaan atau bahasa pusat terhadap bahasa yang melawan kekuasaan atau bahasa pinggiran memang ada. Bahasa pusat menjadi bagian tak terpisahkan dari wilayah publik sedangkan bahasa pinggiran hanya berada di sekitar wilayah privat. Dengan demikian yang tampil sebagai dominasi dalam percaturan berbahasa hanyalah bahasa pusat sedangkan bahasa pinggiran hanya mendiami wilayah pinggiran dan pada akhirnya dieliminasi dan dilupakan. Tulisan ini hendak menampilkan pemikiran Derrida yang memberdayakan bahasa yang mendiami wilayah pinggiran sebagai sebuah bentuk perlawanan terhadap satu bahasa kekuasaan yakni kekuasaan bahasa pusat. Bahwa kebenaran berbahasa tak selamanya menjadi dominasi kekuasaan pusat. Bahasa pinggiran juga membawa di dalam dirinya benih-benih kebenaran. Dengan melupakan bahasa pinggiran maka kita telah masuk ke dalam proses sentralisasi berbahasa dan kebenaran. Padahal menurut Derrida bahasa dan kebenaran itu bersifat desentralisasi.

Berkenalan dengan Derrida
Selintas membaca tulisan-tulisan Derrida akan membuat kita terbayang sosoknya yang enigmatik, senantiasa berusaha meninggalkan jejak yang mewaktu, penuh gairah, dan tak pernah mengenal kata puas.
Jacques Derrida, sang filsuf Prancis turunan Yahudi ini dilahirkan di kota El Biar, Aljazair pada 15 Juli 1930. Aljazair pada waktu itu merupakan negara jajahan Prancis. Selama menjalani masa kehidupannya di Aljazair ia mengalami gerakan anti-semitisme dan rasisme. Ia juga mengalami perjuangan yang serius dari orang-orang Aljazair untuk membebaskan diri dari penjajahan Prancis. Pengalaman Derrida yang bersentuhan langsung dengan perjuangan rakyat Aljazair ini menjadi basis yang kokoh untuk menumbuhkan kepekaan di dalam dirinya terhadap segala bentuk penindasan dan ketidakadilan terhadap rakyat kecil. Sedapat mungkin ia berjuang bagi para korban ketidakadilan dan kesewenang-wenangan dari rezim yang berkuasa.
Pada 1949 Derrida mengadakan perjalanan pertamanya ke Paris dan mulai kuliah di Lychee Louis-le-Grand. Di tempat ini ia mulai mempelajari Simone Weil. Pada 1950 Derrida mencoba masuk ke lembaga kenamaan pada waktu itu yang bernama École Normale Supériuere (ENS) namun gagal. Ia mengalami dua kali kegagalan dalam usaha mencoba masuk ke dalam lembaga ini. Lembaga ini dikelola oleh sejumlah filsuf garda depan Perancis di antaranya Michel Foucault dan Louis Althusser. Pada 1952 baru Derrida berhasil masuk ke dalam lembaga ini. Dalam kesempatan ini ia menekuni bidang psikologi dan etnologi. Ia juga menjadi aktivis dari gerakan komunis yang pada saat itu tengah menjadi trend sebagian besar intelektual Prancis. Namun dalam perjalanan selanjutnya ia meninggalkan gerakan ini karena kecewa terhadap sebagian pewaris Marxisme yang menjadikan pemikiran mereka sebagai sebuah ideologi yang tertutup.
Pada 1954 Derrida menyelesaikan studinya dengan tesis utamanya yang berjudul Problem of Genesis in the Phenomenology of Husserl. Perjalanan sang filsuf ini sepertinya tak pernah lepas dari pengalaman kegagalan. Pada 1955 Derrida mengalami kegagalan dalam ujian lisan agregasi untuk bidang psikologi. Rentetan pengalaman kegagalan yang dialami Derrida membuatnya bertumbuh dan berkembang menjadi seorang pribadi yang kokoh. Pada 1956 baru ia berhasil lulus dalam ujian lisan agregasi. Selanjutnya ia ditunjuk sebagai auditor khusus di Harvard University, Cambridge, Massachussetts. Pada 1957 ia berhasil menyelesaikan pendidikannya. Ia menyusun tesis doktoralnya dengan judul The Ideality of the Literary Object. Dari 1957 sampai 1959 Derrida mengajar bahasa Inggris dan Perancis di Kolea, wilayah dekat Aljazair untuk anak-anak tentara dalam perang kemerdekaan Aljazair. Setelah menyelesaikan pendidikannya dan menikah, Derrida mulai menempuh karier sebagai pengajar. Dari 1960 Derrida mulai mengajar di Universitas Sorbonne selama empat tahun. Pada 1964 Hyppolite dan Althusser mengundang Derrida untuk mulai mengajar di Ẻcole Normale Supẻrieure (ENS). Kegiatan mengajarnya sambil duduk sebagai asisten utama di ENS berakhir sampai dengan 1984.
Momen penting bagi perkembangan intelektualnya ketika ia diundang oleh Renẻ Girard untuk menghadiri seminar ilmiah di Universitas John Hopkins di Baltimore, USA pada 1966 yang membahas tema utama mengenai strukturalisme. Ia membawakan papernya di bawah judul “Structure, Sign and Play in the Discourse of the Human Science.” Tesis pemikiran yang dibangunnya pada saat ini adalah kematian aliran Strukturalis Prancis dengan mengritik strukturalisme Levi-Strauss. Ia menyampaikan gagasannya yang sangat brilian untuk satu publikum di Amerika Serikat yang sangat terbuka untuk gagasan baru. Di sini-lah debut Derrida dalam kancah intelektual Amerika dimulai. Setelah tahun 1966, setiap tahun Derrida diundang ke Amerika Serikat untuk kegiatan ilmiah. Menurut Derrida, Amerika merupakan sebuah tempat yang senantiasa membuka dan memberikan peluang bagi dirinya untuk menjadi seorang filsuf dunia. Dalam kesempatan ini untuk pertama kalinya ia bertemu dengan Paul de Man.
Karya publikasi Derrida dimulai dengan menerjemahkan dan memberi kata pengantar atas karya Edmund Husserl yang berjudul l’ Origine de la Gẻomẻtrie (Foundations of Geometry) pada tahun 1962. Atas karyanya ini Derrida mendapat anugerah The Jean Cavailes Prize untuk bidang epistemologi modern. Dalam karya publikasinya ini Derrida memakai konsep yang berbeda dari Husserl. Kalau Husserl menilai tulisan secara pesimistis, tulisan dapat mengaburkan makna yang sebenarnya, maka Derrida menilai tulisan secara positif, tulisan dapat memungkinkan pengartian secara baru dari pihak pembaca secara terus-menerus. Menurut Derrida tulisan membawa di dalam dirinya peran untuk membebaskan. Tulisan memberi kesempatan kepada pembaca dan memacu mereka untuk memberi pengertian baru. Pemikirannya ini diteruskan dalam berbagai karya yang diterbitkan kemudian.
Pada 1967 Derrida menerbitkan tiga karya penting yaitu De la grammatologie (Of Gramatology), l’Ecriture et la diffẻrence (Writing and Difference) dan La Voix et le phẻnomẻne (Speech and Phenomena and Other Essays on Husserl’s Theory of Sign). Of Gramatology dapat dikatakan sebagi karya besar Derrida yang paling fundamental dalam pemikirannya. Di sana ia memulai sebuah proyek filsafat yang berbasis pada tulisan, sebagai perlawanan terhadap dominasi logosentrisme dalam metafisika Barat. Akhirnya tahun 1967 dimakhotai sebagai Annus Mirrabillis, tahun yang mengagumkan bagi dirinya. Pada 1972 Derrida menerbitkan tiga karya lain yang tidak kalah pentingnya yaitu, La Dissẻmination (Dissemination), Marges de la philosophie (Margins of Philosophy) dan Eperons (Spurs). Di tahun yang sama terbit juga kumpulan wawancaranya di bawah judul Positions.
Pada 2 Juni 1980 Derrida mempertahankan tesisnya di bawah judul “The Time of a Thesis: Punctuations” di Universitas Sorbonne dan menerbitkan karya dengan judul La Carte postale (The Post Card: From Socrates to Freud and Beyond). Karya ini mencoba membahas hubungan antara bahasa lisan dan tulisan dengan me-reinterpretasi teori Depth Psychology dari Freud. Pada 1986, Derrida menerbitkan sebuah memoar untuk Paul de Man. Hal ini dilatarbelakangi oleh perjumpaan antara keduanya di Universitas John Hopkins, Baltimore. Derrida cukup terpengaruh oleh pemikiran de Man tentang bahasa. Bagi Derrida, de Man-lah orang pertama yang dengan baik memperlihatkan pembacaan dekonstruktif terhadap bahasa melalui telaah-telaahnya atas teks-teks literer dan filsafat. Setahun kemudian pada 1987, Derrida menerbitkan karya dengan judul Off Spirit: Heidegger and the Question, karya ini membahas hubungan antara Heidegger dan Nazisme dan juga menerbitkan Feu la cendre (Cinders) bersama Carole Bouquet.
Pada 2000, di Amerika diluncurkan film biografi dokumenter untuk menghormati Derrida berkaitan dengan jasa dan pemikirannya untuk perkembangan ilmu filsafat. Film ini diberi judul “Derrida’s Elsewhere”. Film ini disutradarai oleh Kirby Dick dan Amy Ziering. Menurut Goenawan Mohamad film ini tidak mempunyai alur yang jelas sama sekali. Betapa sulit, mungkin enggan, mungkin pula agak bingung Derrida berbicara tentang dirinya terutama hal-hal yang otobiografis sifatnya. Ia membiarkan kamera mengikuti perjalanannya. Film ini mendapat sambutan yang cukup hangat dan tanggapan yang positif dalam kalangan intelektual dan forum festival film, misalnya Vancouver International Film Festival dan Arab Film Festival di San Fransisco.
Pada tahun-tahun terakhir hidupnya Derrida menerbitkan tiga karya yang berkaitan dengan isu geo-politik. Tiga karya itu adalah On Cosmopolitanism and Forgiveness, Politics of Friendship dan Philosophy in a Time of Terror. Buku yang ketiga ini merupakan hasil dialog Giovanna Borradori bersama Derrida dan Habermas mengenai peristiwa WTC, 11 September 2001. Akhirnya perjalanan karir intelektual sang filsuf Prancis turunan Yahudi ini harus berakhir pada tanggal 9 Oktober 2004 di kota Paris. Derrida meninggal dalam usia 74 tahun akibat kanker pankreas yang dideritanya sejak tahun 2002.
Pemikiran Derrida dikenal dan dipakai dalam banyak bidang lain tak terbatas hanya dalam bidang filsafat secara khusus gagasannya tentang dekonstruksi. Derrida juga cukup aktif dalam mengambil bagian dalam isu-isu politik global. Derrida turut berjuang bersama Jean-Pierre Vernant untuk membebaskan kaum intelektual Cekoslovakia. Derrida juga aktif dalam gerakan anti-apartheid di Afrika Selatan. Selain itu Derrida turut mendukung gerakan dari kaum intelektual Palestina. Derrida juga aktif memperjuangkan hak-hak politik kaum imigran. Ia juga memprotes kebijakan hukuman mati dan menentang politik rasisme yang diterapkan di beberapa Negara Eropa. Harus kita akui bahwa memang sulit menemukan sistem yang paten dalam berbagai uraian Derrida. Hal ini disebabkan karena cakupan pemikirannya yang begitu luas. Dengan demikian sejalan dengan pernyataan dari Roland A. Champagne “Acess to Derrida’s style is difficult” dalam kata pengantarnya untuk buku Jacques Derrida yang ditulisnya.


Bahasa Pusat: Suatu Cara Berbahasa Dalam Melanggengkan Kekuasaan
Bahasa dan kekuasaan mempunyai kaitan yang erat. Bahasa dapat melanggengkan keberlangsungan suatu kekuasaan. Namun juga ada kemungkinan lain bahwa bahasa dapat menghancurkan kekuasaan yang ada. Bahasa yang melanggengkan kekuasaan adalah bahasa yang mengarah kepada sebuah sistem pemikiran yang menghasratkan sesuatu yang bersifat tunggal, universal, total, abadi, dan pada akhirnya represif karena menyingkirkan yang lain, yang berbeda darinya. Sedangkan bahasa yang dianggap sebagai bahasa yang mempunyai daya untuk menghancurkan sebuah bentuk kekuasaan yang represif adalah suatu bentuk bahasa yang mendiami wilayah pinggiran. Bahasa jenis ini dianggap sebagai yang lain, yang berbeda. Karena dia lain, berbeda maka dia pantas untuk dieliminasi, dilupakan dan disingkirkan. Bahasa pusat menjamin adanya kebenaran yang satu, kesamaan dan keseragaman sedangkan bahasa pinggiran menjamin adanya kreativitas, kebebasan dan pluralitas. Kelanggengan dan kestabilan suatu sistem kekuasaan sangat didukung oleh adanya kesamaan dan keseragaman. Sedangkan kreativitas, kebebasan dan pluralitas merupakan sebuah bentuk ancaman dari dalam terhadap kelanggengan suatu bentuk kekuasaan.
Sejarah filsafat Barat ditandai dengan adanya dominasi tunggal satu wilayah pusat atas wilayah lain atau wilayah pinggiran. Sistem penjajahan seperti ini dikenal dengan nama logosentrisme. Hanya pusat saja yang memiliki kebenaran. Dan segala bentuk kebenaran yang lain berada di bawah kontrol pusat. Tak ada tempat bagi kebenaran lain di luar pusat. Karena itu kebenaran lain yang berada di wilayah pinggiran kurang mendapat perhatian bahkan perlahan-lahan mulai dilupakan. Dengan itu dalam sejarah filsafat Barat telah ditanam benih kekerasan dan sistem diskriminasi dalam hal berbahasa dan cara membaca. Hanya boleh ada sebuah cara berbahasa dan membaca. Satu cara berbahasa dan membaca ini merupakan milik pusat. Hanya pusat saja yang dapat menentukan cara berbahasa dan membaca terhadap teks atau peristiwa. Akibatnya cara berbahasa dan membaca yang lain harus dipaksa untuk seragam dengan cara pusat. Bila tidak maka cara berbahasa dan membaca yang lain itu akan disingkirkan dan hanya mendiami wilayah-wilayah pinggiran dan privat.
Cara berbahasa dan membaca yang menjadi milik pusat amat dekat dengan kelanggengan kekuasaan. Dalam cara berbahasa dan membaca ini yang terjadi adalah sebuah proses sentralisasi kebenaran. Hanya ada satu pusat yang menjamin adanya kebenaran. Pusat ini tampil sebagai pengontrol kebenaran. Karena itu, kebenaran milik pusat merupakan satu-satunya jenis kebenaran yang ada. Kebenaran di luar kontrol pusat yang mendiami wilayah pinggiran haruslah kebenaran yang sesuai dengan kebenaran pusat yang sifatnya melanggengkan kekuasaan. Kalau kebenaran wilayah pinggiran tak sanggup menyesuaikan diri dengan kebenaran pusat dan dilihat membahayakan kelanggengan kekuasaan maka kebenaran seperti ini perlu dieliminasi. Kebenaran dalam berbahasa dan membaca yang hanya bertumpu pada satu pusat merupakan sebuah sistem yang melemahkan kreativitas berbahasa dan membaca. Dengan demikian dalam cara berbahasa dan membaca hanya ada satu cara berbahasa dan membaca yang bersifat totaliter dan dominatif. Dalam bahasa pusat tak ada permainan dan perbedaan. Segalanya dilebur dalam ketunggalan dan kekakuan.

Berbahasa a la Derrida
Cara berbahasa dan pembacaan a la Derrida tak dapat dipisahkan dari ciri khas gaya postmodern yang sangat menekankan pluralitas dan cerita-cerita kecil. Gaya Derrida juga bermaksud untuk menghancurkan kekuasaan logosentrisme. Pluralitas mengandaikan adanya proses desentralisasi kebenaran. Kebenaran itu mengalami diseminasi, proses penyebaran, mendiami berbagai wilayah. Kebenaran yang diseminatif tidak hanya mendiami satu pusat saja. Kebenaran seperti ini juga merembes masuk dan mendiami wilayah pinggiran, wilayah privat para korban. Tak ada lagi satu pusat yang mendominasi kebenaran dalam cara berbahasa dan membaca. Di sini gaya postmodernisme sangat menekankan adanya keberagaman dalam berbahasa dan membaca. Sedangkan cerita-cerita kecil yang selama ini mendiami wilayah-wilayah pinggiran coba untuk diangkat. Cerita-cerita kecil merupakan sebuah bentuk ketersingkiran dari adanya dominasi cerita-cerita besar. Cerita-cerita besar merupakan milik pusat dan para pemegang kekuasaan sedangkan cerita-cerita kecil adalah dunia pinggiran dari mereka yang menjadi korban dari sistem tunggal dalam berbahasa dan membaca.
Berdasarkan kekhasan era postmodernisme ini yang merayakan pluralitas dan mengangkat cerita-cerita kecil dari para korban maka Derrida pun mengambil kekhasan ini dan memasukkannya ke dalam caranya berbahasa dan membaca. Gaya Derrida dalam berbahasa dan membaca pun tak dapat dilepaspisahkan dari gaya dekonstruksi yang dicetuskannya. Gaya dekonstruksi Derrida berusaha untuk menghancurkan gaya berbahasa dan membaca yang bersifat tunggal, universal, total dan abadi. Gaya seperti ini akhirnya bersifat represif. Gaya yang merupakan milik suatu pusat tertentu ini berusaha untuk menyingkirkan yang lain, yang berbeda dari dirinya. Karena itu ciri khas gaya pusat yang dilawan Derrida ini adalah mengandalkan keseragaman dan anti-keberagaman. Gaya pusat merupakan sebuah sistem yang mapan dan stabil. Dekonstruksi Derrida mau menekankan keberagaman, keberbedaan yang merupakan syarat mutlak kemungkinan hubungan dengan yang lain, yang berbeda dalam iklim keterbukaan. Gaya dekonstruksi Derrida merupakan sebuah gaya berbahasa dan membaca yang anti-kemapanan. Gaya represif seperti ini-lah yang ingin Derrida lawan dengan gaya dekonstruksinya. Derrida dengan gaya dekonstruksinya mau mencegah adanya keseragaman, kebenaran yang satu dan bersifat tertutup. Karena klaim seperti ini mengandung benih kekerasan dan bersifat diskriminatif.
Gaya dekonstruksi Derrida berhasrat untuk membongkar segala bentuk kemapanan yang telah menjadi banal. Dekonstruksi Derrida merupakan suatu bentuk pembelaan yang radikal terhadap yang lain, yang berbeda. Dekonstruksi Derrida adalah sebuah gaya berbahasa dan membaca yang bersifat membebaskan. Dekonstruksi gaya Derrida merupakan suatu cara berbahasa dan membaca yang menggeser pusat sebagai acuan dan membuka peluang bagi pemikiran-pemikiran yang ada di pinggiran untuk berperan. Dengan menggeser kedudukan pusat sebagai acuan, Derrida juga menghapuskan setiap oposisi yang diskriminatif, yang mengunggulkan yang satu atas yang lain. Derrida dan dekonstruksinya hendak mengangkangi pusat yang selama ini berkuasa dalam hal berbahasa, membaca dan mengontrol kebenaran. Dengan demikian bahasa-bahasa pinggiran yang selama ini didiamkan akhirnya dapat menemukan bentuk pengejawantahannya yang semestinya. Bahasa pinggiran yang selama ini dilihat sebagai yang lain, yang berbeda telah menjadi suatu cara lain dalam membahasakan kebenaran. Akhirnya para korban dapat menemukan bahasa mereka sendiri untuk memperjuangkan dan menyuarakan perjuangan dan kerinduan hati mereka.
Menghidupkan Bahasa Pinggiran: Sebuah Perlawanan Terhadap Dominasi Kekuasaan Bahasa Pusat
Why would one mourn for the center? Is not the center, the absence of play and difference, another name for death? (Mengapa orang akan berkabung untuk sang pusat? Bukankan sang pusat, ketidakhadiran dari permainan dan perbedaan, sebuah nama lain untuk kematian?). Proyek besar Derrida dalam usaha untuk menggeser pusat sebagai acuan dan menghidupkan keberadaan wilayah pinggiran perlu dirayakan secara besar-besaran. Dengan ini sistem dominasi yang bersifat diskriminatif dalam berbahasa dan membaca teks berupa fakta atau peristiwa sejarah yang selama ini terjadi bisa mulai ditandingi. Permainan dan pluralitas berbahasa dan membaca telah menjadi suatu bentuk perlawanan terhadap sistem berbahasa dan membaca yang bersifat tunggal. Ketunggalan dan kesatuan dalam berbahasa dan membaca teks merupakan sebuah cara untuk melanggengkan kekuasaan. Bila bahasa pinggiran tetap didiamkan maka kelanggengan suatu kekuasaan akan tetap berjalan. Dengan itu proses diskriminasi dan penafian terhadap pluralitas dan cerita-cerita kecil akan kehilangan bentuknya.
Bagaimana pun juga perlawanan terhadap kuasa bahasa pusat yang melanggengkan kekuasaan perlu terus disuarakan. Klaim tunggal atas kebenaran dengan menggunakan satu cara berbahasa dan membaca di bawah kontrol pusat adalah suatu bentuk penindasan. Di dalamnya tak ada proses pembebasan. Di sana kreativitas dari orang-orang untuk berbahasa dan membaca secara lain, berbeda dan beragam dikekang. Cara berbahasa dan membaca yang bersifat tunggal adalah suatu bentuk kemunduran. Di sana ada proses pemiskinan dan pemaksaan. Sistem seperti ini mesti dilawan dan kalau bisa dihancurkan. Karena di dalamnya ada jaminan akan kelanggengan kekuasaan dan kemapan suatu sistem. Menantang dan mempertanyakan sistem seperti ini merupakan sebuah panggilan kemanusiaan. Karena di dalam panggilan untuk melawan dominasi pusat ini akhirnya suara-suara para korban yang selama ini dipinggirkan dan didiamkan dapat disuarakan. Mereka adalah orang-orang yang selama ini cerita-cerita mereka dan tentang mereka disingkirkan dan dilupakan karena merupakan ancaman bagi kemapanan dan kestabilan dari suatu bentuk kekuasaan.
Bahasa pinggiran perlu dihidupkan sebagai sebuah bentuk perlawanan atas kuasa pusat yang telah mapan, langgeng dan stabil. Sistem kekuasaan yang menjamin kelanggengan dan kemapanan perlu terus diganggu dan digoyahkan. Bahasa pinggiran adalah bahasa-bahasa privat yang selama ini dilarang untuk ditampilkan ke dalam wacana publik. Bahasa pinggiran adalah bahasa-bahasa yang menyimpan cerita-cerita kecil dari para korban. Bahasa pinggiran adalah bahasa-bahasa yang menjamin adanya pluralitas. Di dalam bahasa pinggiran ada kekhasan untuk senantiasa bermain dan menunda kebenaran. Di sana ada proses kreativ. Dengan menghidupkan bahasa pinggiran dominasi pusat perlahan-lahan mulai digugat dan dipertanyakan. Bahasa pinggiran yang selama ini mendiami wilayah privat akhirnya dapat menjadi wacana publik dan tak takut untuk diperbincangkan. Bahasa pinggiran yang menyimpan cerita-cerita kecil akhirnya dapat tampil sebagai oposisi bagi cerita-cerita besar yang terlalu dominatif. Dan, dalam bahasa pinggiran ada keberagaman yang perlu dirayakan. Dengan demikian kekuasaan bahasa pusat yang mapan dan langgeng dapat menemukan lawannya yang sepadan.

Akhir Kata
Perjuangan untuk melawan dan menghancurkan sang pusat akan terus berlangsung. Salah satu bentuk perlawanannya adalah menghidupkan bahasa pinggiran yang merupakan salah bentuk pengejawantahan dari gaya dekonstruksi Derrida dalam hal berbahasa dan membaca. Di dalam bahasa seperti ini ada kebebasan dan kreativitas yang dijamin. Ada penghormatan terhadap segala yang beda dan yang lain. Penghargaan terhadap cerita-cerita kecil dan pluralitas akan menjadi kekhasannya. Namun yang perlu dihindari adalah munculnya dominasi dan diskriminasi gaya baru dari bahasa pinggiran itu sendiri.

Kepustakaan
Al-Fayadl, Muhammad. Derrida. Yogyakarta: LKiS, 2005.
Champagne, Roland A. Jacques Derrida. New York, Twayne’s World Authors Series, 1995.
Derrida, Jacques. Writing and Difference, Translated, with an Introduction and Additional Notes by Alan Bass. Chicago: The University of Chicago Press, 1978.
Sugiharto, I. Bambang. Postmodernisme: Tantangan Bagi Filsafat, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1996.
Majalah BASIS edisi khusus Derrida, No. 11-12, Tahun ke-54, November-Desember 2005.

Help Me

Tolong aku. Aku tak tahu memulai dari mana.

Help Me

Tolong aku. Aku tak tahu memulai dari mana.

Help Me

Tolong aku. Aku tak tahu memulai dari mana.
Download Opera, the fastest and most secure browser
November 2009
M T W T F S S
October 2009December 2009
1
2 3 4 5 6 7 8
9 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30