Komunikasi Pendidikan dan Permasalahannya
Friday, January 11, 2013 4:24:27 AM
Sejak Tuhan menciptakan manusia sebagai penghuni dunia,sejak itu pulalah komunikasi ada..Setelah Tuhan selesai menciptakan dunia, menyampaikan fatwa-Nya kepada manusia, permasalahan komunikasi mulai ada..Kalau begitu komunikasi merupakan hal yang sangat penting bagi manusia sejak dulu hingga sekarang.
Kemajuan,ketenangan,ketentraman,kehacuran,peperangan, konflik merupakan buah-buah dari komunikasi.Secara jelas dan tegas dapat dikatakan bahwa setiap sendi-sendi kehidupan komunikasi berada di dalamnya.
Komunikasi
Secara etimologis komunikasi berasal dari kata “communicare” berarti proses transformasi suatu informasi/pesan yang disampaikan kepada pihak lain.Dalam setiap sendi-sendi kehidupan manusia,dalam upaya melangsungkan kehidupan selalu diwarnai oleh komunikasi. Keberadaan diri yang terbatas merupakan salah satu indikator bahwa seorang manusia memerlukan orang lain, baik untuk mengakatualisasikan dirinya maupun memenuhi kebutuhan. Keadaan yang ada dalam diri sendiri maupun yang ada dilingkungan dapat menjadi stimulus yang dapat dipersepsi menjadi suatu pesan kemudian disampaikan kepada orang lain,sesuai dengan goal-nya. Yang lain menangkap apa yang dimaksudkan,kemudian terjadi inter-relasi yang difasilitasi oleh komunikasi.
Proses komunikasi di atas merupakan dasar analisa bahwa dalam komunikasi diperlukan informasi/pesan (message) dan dua belah pihak yakni si pemberi/penyampai pesan ( sender=komunikator) dan penerima pesan (receiver=komunikan).
Komunikator yang mempunyai informasi/pesan yang akan disampaikan kepada penerima,harus memikirkan cara,alat (media) sebagai sarana bantu penyampaian, agar pesan dapat dengan mudah diterima seperti yang dimaksudkan.Media akan memberikan bantuan percepatan respon si penerima pesan bila media mudah dimengerti, tetapi bila media yang dipilih oleh pengirim pesan tidak atau sukar dimengerti oleh si penerima pesan, respon juga akan terjadi namun tidak sesuai dengan harapan dan tujuan si pengirim pesan.
Komunikasi Pendidikan
Dunia pendidikan di Indonesia dewasa ini banyak dikeluhkan bahwa kwalitasnya semakin menurun.Banyak orang membandingkan dengan sepuluh-duapuluh tahun lalu bahwa lulusan pada saat itu mempunyai kemampuan intelektual dan daya juang lebih baik dibandingkan dengan lulusan saat ini.
Untuk menjawab,menjelaskan memang tidak mudah,karena proses pendidikan sangatlah kompleks bahkan bisa dikata multikomplek sangking banyaknya yang mempunyai kertaitan satu dengan yang lain dan saling mempengaruhinya misal sumber daya manusia, pengambil keputusan/regulator,politik,sosial budaya,ekonomi,globalisasi,ko-munikasi informasi dan masih banyak lagi.
Namun disini penulis mengajak menyoroti tentang komunikasi yang berkaitan dengan pendidikan.Pendidik adalah sumber informasi,pengetahuan ilmiah,nilai-nilai kehidupan,figur dan masih banyak lagi.Peserta didik sebagai penerima dari pendidik dan kemudian dari mengembangkannya.Pada dewasa ini iptek begitu maju,metode pendidikan pun tidak mau kalah,banyak metode dianjurkan,banyak sistem disodorkan tetapi mengapa kwalitas pendidikan di Indonesia secara nasional masih belum mampu bersaing dengan negara-negara lain.
Pendidik maupun peserta didik adalah manusia yang tidak terlepas oleh pengaruh globalisasi dari segala dampaknya.Proses ini banyak mempengaruhi terja-dinya pergeseran nilai-nilai dasar sebagai fundasi kehidupan yang berdampak pada per-cepatan pergeserannya tata nilai-nilai yang mempengaruhi pola kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Proses Komunikasi sudah barang tentu tidak terlepas dengan manusia dan dinamikanya.Karena komunikasi hanya dapat terjadi bila ada manusia yang melakukan-nya. Fenomena perubahan, kemajuan iptek, pergeseran nilai-nilai , pranata, kaidah-kaidah dalam setiap sendi kehidupan mempunyai pengaruh besar terhadap system dan metode dalam proses komunikasi keseharian. Pemilihan bentuk, system dan metode yang kurang cermat akan membuahkan hasil, komunikasi tidak efektif sehingga tujuan tidak tercapai.
Komunikasi akan berperan dalam peningkatan kwalitas bila,pendidik mampu mengetrapkan komunikasi dalam proses pendidikan sehingga pendidik mampu mengenal peserta didiknya,pendidik mampu mengenkoding materi pembelajaran sehingga dapat diterima oleh peserta didik,pendidik mampu menangkap dekoding peserta didik atas materi yang ditransformasikan,pendidik mampu menginternalisasi nilai-nilai yang terkandung dalam setiap materi pembelajaran baik dari bidang akademik maupun nilai-nilai humanitas dan pendidik mampu mendinami-sasikan,menumbuhkembangkan inisiative dan kreatifitas peserta didik sehingga talen-tanya dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.
Kesemuanya itu akan dapat terrealisir secara bertahap karena pada dasarnya peserta didik dalam berinteraksi dengan pendidiknya didorong oleh faktor-faktor imitasi, sugesti, identifikasi dan sympati. Dalam komunikasi pendidikan, pendidik merupakan resource person (nara sumber) baik yang berhubungan faktor kehidupan real maupun hal-hal yang sifatnya ilmiah. Selain hal-hal yang telah disebutkan di atas, faktor pemilihan media dalam kehidupan kampus yang langsung menyentuh kehidupan real segenap civitas akademika harus diciptakan. Iklim yang mendukung efektivtas proses komunikasi harus dijalankan pada segenap sendi-sendi kehidupan civitas akademika.
Permasalahan Menjadi Tantangan.
Proses komunikasi pendidikan tidak akan dapat terlepas dengan hal-hal yang berkaitan dengan sendi-sendi kehidupan.Karena dalam proses komunikasi setiap orang yang terlibat di dalamnya akan menampilkan eksistensi dirinya sebagai manusia personal yang holistik (bio-psycho-sosial-spiritual).Pada saat dirinya sedih,dia tidak akan mampu tampil lugas,lepas tanpa beban.Seorang pendidik dituntut totalitas dalam menjalankan profesinya.Totalitas akan dapat tercapai bila kondisi phisik dan psychologis mendekati pada kondisi seimbang.Standard nilai keseimbangan memang tidak mudah,karena setiap personal tuntutannya tidak sama.Umumnya standard nilai yang dipakai sebagai tolok ukur adalah standard kehidupan layak yang umum pada kondisi tertentu pada kelompok masyarakat
Memiliki tempat tinggal,mampu menyekolahkan anak pada tingkat PT,memiliki kendaraan (motor),kalau sakit dapat berobat dan kehidupan sehari-hari tidak kekurangan makan.Permasalahan ini merupakan salah satu tuntutan yang sifatnya pemenuhan kebutuhan personal sebagai seorang pendidik.Seorang manusia yang diciptakan Tuhan sebagai makluk sosial,selalu membutuhkan pemenuhan kebutuhan yang sifatnya sosial.Kebutuhan sosial yang perlu dipenuhi yakni,rasa aman,perhatian dirinya dari orang lain,pengakuan dari orang lain,dan kesempatan untuk mengaktualisasikan diri.
Unsur-unsur kebutuhan sosial rasa-rasanya bagi pendidik baik itu di institusi pendidikan pemerintah maupun yang dikelola masyarakat (yayasan) masih memprihatinkan.Masih ditambah lagi dengan sistem pendidikan yang selalu berganti regulasinya.
Permasalahan yang selalu dan terus menerus dihadapi oleh seorang pendidik akan sangat mempengaruhi perfomance dalam menjalankan proses pembelajaran terhadap peserta didik.Minimnya keterlibatan orang tua dalam berperan serta dalam proses pendidikan lebih-lebih seusai proses pembelajaran formal.Pada akhir-akhir ini di banyak sekolah membentuk suatu wadah yang disebut dengan komite sekolah,namun sebagian program dan kegiatannya lebih banyak pada penggalian dana untuk membantu kelengkapan sarana/fasilitas. Partisipasi dalam upaya ini tetap mempunyai nilai positif, tetapi justru menimbulkan pertanyaan. Bukankah ini tanggungjawab pihak yayasan atau management institusi. Kalau sifatnya membantu okey-okey saja namun jangan menjadi porgram utama.Bukankah komite sekolah merupakan salah satu media untuk meningkatkan peran serta orang tua dalam upaya meningkatkan keberhasilan pendidikan anak-anak didiknya, selain itu komite sekolah dapat memberikan masukan-masukan kepada management sekolah untuk meningkatkan tingkat kesejahteraan para pendidik dan tenaga-tenaga penunjang lain. Sebab bila kondisi sosial ekonomi para pendidik dan tenaga penunjang lainnya berada di bawah standard kehidupan layak,sudah dapat dipas-tikan kinerjanya tidak akan seratus persen. Bila ini terjadi akan mempengaruhi keberhasilan dalam proses pembelajaran, peserta didik.
Management institusi tidak jarang menuntut pendidik loyal terhadap intitusinya,namun rasa aman,pengakuan akan prestase dan prestise kurang diakui,salah satu kasus ini akan menghambat pengaktualisasian diri seorang pendidik.Dia akan melaksanakan tugas sebagai pendidik sebatas kwajiban atau minimal,karena pengaktualisasian dirinya terhambat.Kondisi yang seperti ini sudah tentu akan menghasilkan produksi yang ala kadarnya saja yang penting tidak melanggar atau melawan ketentuan management.Ini merupakan salah satu pemenuhan kebutuhan rasa aman semu.
Institusi pendidikan katholik pada dewasa ini sering dikeluhkan oleh banyak pihak baik oleh orang tua,masyarakat, peserta didik maupun pendidik,bahwa kwalitas pendidikannya bukan semakin naik kwalitasnya,kecenderungan penurunan kwalitas sungguh-sungguh dirasa.Management sebagian besar masih terpesona masa lampau bahwa Chatolic Institution is the best pada realitasnya banyak pendidikan katolik tidak lagi the best tetapi sama saja atau lebih tinggi sedikit.Mengapa , inilah yang perlu dicari dengan meningkatkan komunikasi pendidikan di institusi yang kita banggakan,bukan pada tataran pelaksanaan proses pembelajaran saja,namun komunikasi pendidikan seyogyanya menjadi wahana dari tataran management sampai pada tataran yang paling rendah.
Transparansi standard ukur yang dipakai oleh management dalam setiap menentukan kebijakan sering kali tidak sinkron dengan persepsi, sensasi yang ditangkap oleh pendidik dan tenaga penunjang pendidikan lainnya. Ketidak ketahuan atau pura-pura tidak tahu tentang kondiri real di level operasional, yang dilakukan pihak management dalam pengambilan suatu keputusan, kebijaksanaan, berakibat pada timbul-nya kersahan atau kegelisahan.
Seyogyanya segala persepsi tentang tantangan dalam bentuk apapun yang dihadapi oleh tataran operasional maupun yayasan sebagai pemegang kebijakan dalam mencari solusi menjadi komitmen bersama, tantangan yang dihadapi secara bersama justru dapat meningkatkan menumbuhkan solidaritas yang tinggi dan sense of belonging dan akan terpatri dalam setiap person yang terlibat dalam proses pembelajaran pada suatu lembaga pendidikan.
Kesemuanya itu akan dapat membuahkan hasil dan masing-masing merasa mendapatkan tempat untuk mengaktualisasikan dirinya dalam kerangka atau koridor proses pembelajaran bila prinisp-prinsip komunikasi diimplementasikan sesuai dengan jenis, karakter tantangan yang harus dicarikan jalan keluarnya. Sifat arogansi, merasa yang lebih berhak dan yang lain sebagai tambahan hendaknya dibuang jauh-jauh, maka segala tantangan tidak akan menjadi problem yang sulit untuk dicarikan solusinya.
Kemajuan,ketenangan,ketentraman,kehacuran,peperangan, konflik merupakan buah-buah dari komunikasi.Secara jelas dan tegas dapat dikatakan bahwa setiap sendi-sendi kehidupan komunikasi berada di dalamnya.
Komunikasi
Secara etimologis komunikasi berasal dari kata “communicare” berarti proses transformasi suatu informasi/pesan yang disampaikan kepada pihak lain.Dalam setiap sendi-sendi kehidupan manusia,dalam upaya melangsungkan kehidupan selalu diwarnai oleh komunikasi. Keberadaan diri yang terbatas merupakan salah satu indikator bahwa seorang manusia memerlukan orang lain, baik untuk mengakatualisasikan dirinya maupun memenuhi kebutuhan. Keadaan yang ada dalam diri sendiri maupun yang ada dilingkungan dapat menjadi stimulus yang dapat dipersepsi menjadi suatu pesan kemudian disampaikan kepada orang lain,sesuai dengan goal-nya. Yang lain menangkap apa yang dimaksudkan,kemudian terjadi inter-relasi yang difasilitasi oleh komunikasi.
Proses komunikasi di atas merupakan dasar analisa bahwa dalam komunikasi diperlukan informasi/pesan (message) dan dua belah pihak yakni si pemberi/penyampai pesan ( sender=komunikator) dan penerima pesan (receiver=komunikan).
Komunikator yang mempunyai informasi/pesan yang akan disampaikan kepada penerima,harus memikirkan cara,alat (media) sebagai sarana bantu penyampaian, agar pesan dapat dengan mudah diterima seperti yang dimaksudkan.Media akan memberikan bantuan percepatan respon si penerima pesan bila media mudah dimengerti, tetapi bila media yang dipilih oleh pengirim pesan tidak atau sukar dimengerti oleh si penerima pesan, respon juga akan terjadi namun tidak sesuai dengan harapan dan tujuan si pengirim pesan.
Komunikasi Pendidikan
Dunia pendidikan di Indonesia dewasa ini banyak dikeluhkan bahwa kwalitasnya semakin menurun.Banyak orang membandingkan dengan sepuluh-duapuluh tahun lalu bahwa lulusan pada saat itu mempunyai kemampuan intelektual dan daya juang lebih baik dibandingkan dengan lulusan saat ini.
Untuk menjawab,menjelaskan memang tidak mudah,karena proses pendidikan sangatlah kompleks bahkan bisa dikata multikomplek sangking banyaknya yang mempunyai kertaitan satu dengan yang lain dan saling mempengaruhinya misal sumber daya manusia, pengambil keputusan/regulator,politik,sosial budaya,ekonomi,globalisasi,ko-munikasi informasi dan masih banyak lagi.
Namun disini penulis mengajak menyoroti tentang komunikasi yang berkaitan dengan pendidikan.Pendidik adalah sumber informasi,pengetahuan ilmiah,nilai-nilai kehidupan,figur dan masih banyak lagi.Peserta didik sebagai penerima dari pendidik dan kemudian dari mengembangkannya.Pada dewasa ini iptek begitu maju,metode pendidikan pun tidak mau kalah,banyak metode dianjurkan,banyak sistem disodorkan tetapi mengapa kwalitas pendidikan di Indonesia secara nasional masih belum mampu bersaing dengan negara-negara lain.
Pendidik maupun peserta didik adalah manusia yang tidak terlepas oleh pengaruh globalisasi dari segala dampaknya.Proses ini banyak mempengaruhi terja-dinya pergeseran nilai-nilai dasar sebagai fundasi kehidupan yang berdampak pada per-cepatan pergeserannya tata nilai-nilai yang mempengaruhi pola kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Proses Komunikasi sudah barang tentu tidak terlepas dengan manusia dan dinamikanya.Karena komunikasi hanya dapat terjadi bila ada manusia yang melakukan-nya. Fenomena perubahan, kemajuan iptek, pergeseran nilai-nilai , pranata, kaidah-kaidah dalam setiap sendi kehidupan mempunyai pengaruh besar terhadap system dan metode dalam proses komunikasi keseharian. Pemilihan bentuk, system dan metode yang kurang cermat akan membuahkan hasil, komunikasi tidak efektif sehingga tujuan tidak tercapai.
Komunikasi akan berperan dalam peningkatan kwalitas bila,pendidik mampu mengetrapkan komunikasi dalam proses pendidikan sehingga pendidik mampu mengenal peserta didiknya,pendidik mampu mengenkoding materi pembelajaran sehingga dapat diterima oleh peserta didik,pendidik mampu menangkap dekoding peserta didik atas materi yang ditransformasikan,pendidik mampu menginternalisasi nilai-nilai yang terkandung dalam setiap materi pembelajaran baik dari bidang akademik maupun nilai-nilai humanitas dan pendidik mampu mendinami-sasikan,menumbuhkembangkan inisiative dan kreatifitas peserta didik sehingga talen-tanya dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.
Kesemuanya itu akan dapat terrealisir secara bertahap karena pada dasarnya peserta didik dalam berinteraksi dengan pendidiknya didorong oleh faktor-faktor imitasi, sugesti, identifikasi dan sympati. Dalam komunikasi pendidikan, pendidik merupakan resource person (nara sumber) baik yang berhubungan faktor kehidupan real maupun hal-hal yang sifatnya ilmiah. Selain hal-hal yang telah disebutkan di atas, faktor pemilihan media dalam kehidupan kampus yang langsung menyentuh kehidupan real segenap civitas akademika harus diciptakan. Iklim yang mendukung efektivtas proses komunikasi harus dijalankan pada segenap sendi-sendi kehidupan civitas akademika.
Permasalahan Menjadi Tantangan.
Proses komunikasi pendidikan tidak akan dapat terlepas dengan hal-hal yang berkaitan dengan sendi-sendi kehidupan.Karena dalam proses komunikasi setiap orang yang terlibat di dalamnya akan menampilkan eksistensi dirinya sebagai manusia personal yang holistik (bio-psycho-sosial-spiritual).Pada saat dirinya sedih,dia tidak akan mampu tampil lugas,lepas tanpa beban.Seorang pendidik dituntut totalitas dalam menjalankan profesinya.Totalitas akan dapat tercapai bila kondisi phisik dan psychologis mendekati pada kondisi seimbang.Standard nilai keseimbangan memang tidak mudah,karena setiap personal tuntutannya tidak sama.Umumnya standard nilai yang dipakai sebagai tolok ukur adalah standard kehidupan layak yang umum pada kondisi tertentu pada kelompok masyarakat
Memiliki tempat tinggal,mampu menyekolahkan anak pada tingkat PT,memiliki kendaraan (motor),kalau sakit dapat berobat dan kehidupan sehari-hari tidak kekurangan makan.Permasalahan ini merupakan salah satu tuntutan yang sifatnya pemenuhan kebutuhan personal sebagai seorang pendidik.Seorang manusia yang diciptakan Tuhan sebagai makluk sosial,selalu membutuhkan pemenuhan kebutuhan yang sifatnya sosial.Kebutuhan sosial yang perlu dipenuhi yakni,rasa aman,perhatian dirinya dari orang lain,pengakuan dari orang lain,dan kesempatan untuk mengaktualisasikan diri.
Unsur-unsur kebutuhan sosial rasa-rasanya bagi pendidik baik itu di institusi pendidikan pemerintah maupun yang dikelola masyarakat (yayasan) masih memprihatinkan.Masih ditambah lagi dengan sistem pendidikan yang selalu berganti regulasinya.
Permasalahan yang selalu dan terus menerus dihadapi oleh seorang pendidik akan sangat mempengaruhi perfomance dalam menjalankan proses pembelajaran terhadap peserta didik.Minimnya keterlibatan orang tua dalam berperan serta dalam proses pendidikan lebih-lebih seusai proses pembelajaran formal.Pada akhir-akhir ini di banyak sekolah membentuk suatu wadah yang disebut dengan komite sekolah,namun sebagian program dan kegiatannya lebih banyak pada penggalian dana untuk membantu kelengkapan sarana/fasilitas. Partisipasi dalam upaya ini tetap mempunyai nilai positif, tetapi justru menimbulkan pertanyaan. Bukankah ini tanggungjawab pihak yayasan atau management institusi. Kalau sifatnya membantu okey-okey saja namun jangan menjadi porgram utama.Bukankah komite sekolah merupakan salah satu media untuk meningkatkan peran serta orang tua dalam upaya meningkatkan keberhasilan pendidikan anak-anak didiknya, selain itu komite sekolah dapat memberikan masukan-masukan kepada management sekolah untuk meningkatkan tingkat kesejahteraan para pendidik dan tenaga-tenaga penunjang lain. Sebab bila kondisi sosial ekonomi para pendidik dan tenaga penunjang lainnya berada di bawah standard kehidupan layak,sudah dapat dipas-tikan kinerjanya tidak akan seratus persen. Bila ini terjadi akan mempengaruhi keberhasilan dalam proses pembelajaran, peserta didik.
Management institusi tidak jarang menuntut pendidik loyal terhadap intitusinya,namun rasa aman,pengakuan akan prestase dan prestise kurang diakui,salah satu kasus ini akan menghambat pengaktualisasian diri seorang pendidik.Dia akan melaksanakan tugas sebagai pendidik sebatas kwajiban atau minimal,karena pengaktualisasian dirinya terhambat.Kondisi yang seperti ini sudah tentu akan menghasilkan produksi yang ala kadarnya saja yang penting tidak melanggar atau melawan ketentuan management.Ini merupakan salah satu pemenuhan kebutuhan rasa aman semu.
Institusi pendidikan katholik pada dewasa ini sering dikeluhkan oleh banyak pihak baik oleh orang tua,masyarakat, peserta didik maupun pendidik,bahwa kwalitas pendidikannya bukan semakin naik kwalitasnya,kecenderungan penurunan kwalitas sungguh-sungguh dirasa.Management sebagian besar masih terpesona masa lampau bahwa Chatolic Institution is the best pada realitasnya banyak pendidikan katolik tidak lagi the best tetapi sama saja atau lebih tinggi sedikit.Mengapa , inilah yang perlu dicari dengan meningkatkan komunikasi pendidikan di institusi yang kita banggakan,bukan pada tataran pelaksanaan proses pembelajaran saja,namun komunikasi pendidikan seyogyanya menjadi wahana dari tataran management sampai pada tataran yang paling rendah.
Transparansi standard ukur yang dipakai oleh management dalam setiap menentukan kebijakan sering kali tidak sinkron dengan persepsi, sensasi yang ditangkap oleh pendidik dan tenaga penunjang pendidikan lainnya. Ketidak ketahuan atau pura-pura tidak tahu tentang kondiri real di level operasional, yang dilakukan pihak management dalam pengambilan suatu keputusan, kebijaksanaan, berakibat pada timbul-nya kersahan atau kegelisahan.
Seyogyanya segala persepsi tentang tantangan dalam bentuk apapun yang dihadapi oleh tataran operasional maupun yayasan sebagai pemegang kebijakan dalam mencari solusi menjadi komitmen bersama, tantangan yang dihadapi secara bersama justru dapat meningkatkan menumbuhkan solidaritas yang tinggi dan sense of belonging dan akan terpatri dalam setiap person yang terlibat dalam proses pembelajaran pada suatu lembaga pendidikan.
Kesemuanya itu akan dapat membuahkan hasil dan masing-masing merasa mendapatkan tempat untuk mengaktualisasikan dirinya dalam kerangka atau koridor proses pembelajaran bila prinisp-prinsip komunikasi diimplementasikan sesuai dengan jenis, karakter tantangan yang harus dicarikan jalan keluarnya. Sifat arogansi, merasa yang lebih berhak dan yang lain sebagai tambahan hendaknya dibuang jauh-jauh, maka segala tantangan tidak akan menjadi problem yang sulit untuk dicarikan solusinya.


