Skip navigation.

Al-Qolb

Hati yang ingin berkata-kata

Rembulan

wehe. kemaren gw bongkar muat barang di kamar gw, eh, malah nemu buku diary gw yang gak jelas isinya. ada tentang lagu-lagu yang pengen dibuat, ada tulisan tentang tuhan, alam semesta, lelucon-lelucon buat pidato, catatan-catatan lepas perihal kehidupan, dan macam-macam lagi deh. nah, salah satunya gw posting aja di sini..

mulai.


Ini aku. Aku menulis di bawah rembulan malam. Berteman semilir angin dan diselimuti remang-remang lampu jalan. Suara gemericik air mancur taman, juga setia menemani. Betapa syahdunya sekelilingku. Serasa tiap inci hatiku dipenuhi rindu, padahal tidak ada.

Mana mungkin ada rindu di hatiku, sementara hatiku saja tidak ada. Tidak mungkin, kan? tapi, rasa ini ada. Rasa rindu..untuk merindu..atau semacam itulah.

Kerinduan di dalam kerinduan ini benar-benar syahdu. Tanpa air mata dan tanpa senyum: syahdu yang dingin.

Perlahan-lahan, seiring gerak gemulai rembulan, kenangan-kenangan masa silam keluarsatu persatu. Tentang alam, sahabat dan tentu saja, cinta.

Eh, sebaiknya aku berbisik-bisik saja tentang cinta, sebab tampaknya rembulan malu mendengarnya.

“cinta” kataku pelan mengutip Shakespeare, “mampu mendobrak dan mengambil semuanya””.

“ya, cinta mendobrakku dan mengambil semua milikku! Padahal, aku belum pernah menemukannya! Aku hanya merasakannya!” tiba-tiba rembulan berteriak.

Rupanya ia mendengar bisik-sepiku. Tapi rembulan seperti hati, tak punya mata ketika bicara cinta, jadi ia tidak menatap garang padaku walau sepetinya marah. Ia hanya berteriak, itupun tanpa suara. Sama seperti hati yang dilanda perasan cinta.

Sesaat kemudian Aku tidak lagi berbisik pada telingaku sendiri. Aku memijit tombol-tombol mungil di depanku. Sederetan kata terukir di layar seiring dengan sederetan senyumanku. Ya, itu adalah tipuan. Deretan kata di layar itu hanya tipuan.

“Apakah dia melihat rembulan yang sama denganku?” itulah kata-kata yang terukir di layar itu. Seakan berderet untuk dipikirkan dalam seribu kesyahduan, padahal hanya deretan tipuan.

Mana ada si dia, mana ada rembulan yang sama, dan siapakah aku? Aku sendiri tidak begitu mengerti, siapakah aku?

Kalau kutanya pada rembulan tentang siapa dirinya, aku tahu, ia akan menjawab, “kaulah yang lebih tahu siapa aku”. Sedang jika aku tanyakan siapa diriku padanya, dia pasti hanya membisu. Diam sejuta bahasa. Semilyar makna bisa aku karang dalam diam-nya itu.

Tapi, apalah arti semilyar makna? Siapa yang butuh sebanyak itu? Aku hanya butuh satu makna untuk cintaku. Satu makna saja, cukup untuk membuat jiwaku menyatu dengan cinta itu, lalu menjadi jiwa yang mampu mendobrak dan mengambil semuanya. Cinta yang hidup dalam jiwa. Jiwa yang hidup.

Rembulan, masih di atas sana, sedangkan sekarang telah pukul 23:59 WIB, aku mulai mengantuk.
Sesaat sebelum menuju ke “kematian yang pertama”, kuiringkan tetes mataku bersama angin malam dan kuperuntukkan cintaku baginya, cintaku yang tak pernah kutemukan. Cinta yang tak pernah tergali dari makna. Cinta yang hanya berbentuk rasa. Cinta tanpa rindu sesungguhnya. Cinta tanpa rembulan yang benar-benar bisa bicara. Cinta yang membuat jiwaku mati dalam se-trilyun asa.





Hukum Joozu I : Setiap Blogger Pasti NarsisIkut Lomba Cerpen

How to use Quote function:

  1. Select some text
  2. Click on the Quote link

Write a comment

Comment
(BBcode and HTML is turned off for anonymous user comments.)

If you can't read the words, press the small reload icon.


Smilies

Download Opera, the fastest and most secure browser
December 2009
S M T W T F S
November 2009January 2010
1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31