Skip navigation.

Al-Qolb

Hati yang ingin berkata-kata

Jatuh Cinta

,

Jatuh cinta. Aku tidak tahu, ini sudah yang keberapa kalinya. Sampai sekarang aku masih saja bisa jatuh cinta, padahal, selama ini, aku menganggap jatuh cinta adalah hal yang tidak ilmiah. Tidak ada definisi universal –nya. Tidak ada standar-nya. Tidak terukur. Tidak objektif. Tidak berlaku bagi Seluruh manusia. Tidak pantas untuk diakui keberadaannya, apatah lagi sampai mengalaminya. Sama seperti seseorang yang mengaku bertemu roh nenek moyangnya. Omong-kosong belaka.

Tapi, hal itulah yang selalu membuat aku pusing beberapa minggu ini. Bahkan, sampai saat ini, tanggal 17 januari 2007, hari rabu, jam 20.30 WIB, Aku tetap tidak dapat membendungnya. Membendung rasa Jatuh cinta ini. Aku tidak bisa, tidak mengakui keberadaan rasa ini. Aku bahkan merasa tidak perlu ada standar atau menunggu sampai semua orang bisa mengalami rasa yang sama denganku. Aku tidak mau tahu, ini objektif atau tidak. Ini berlaku bagi cowok lain atau tidak. Setahuku, aku mengalaminya lagi, untuk kesekian kali. Aku merasa tidak butuh definisi. Aku butuh dia.

Nah, parahnya, saat ini di depanku, di kamar kos-ku, di atas meja belajar ini, tergeletak sapu tangan biru tua dengan motif bunga mawar. Harum mewangi lagi. Milik seorang mahasiswi jurusan hubungan internasional 2004. Cewek yang membuat aku pusing sebulan ini. Bidadari yang membuatku jatuh cinta lagi.

Dari tadi pagi sampai malam ini, Aku masih bingung juga, bagaimana caranya mengembalikan sapu tangan ini.

Eh, Tahu tidak, kenapa sapu tangannya ini ada di sini, di kamar kosku ini? Tidak, tidak, bukannya terjatuh lalu aku pungut, bukan juga diberikan secara cuma-cuma oleh bidadari manis itu, tapi karena terambil olehku tanpa sengaja. Terbawa olehku tanpa sadar. Kok bisa?

Begini kisahnya, sesungguhnya, aku ini, sering mengalami hal yang demikian; Membawa barang orang lain tanpa sengaja. Entah itu berharga atau tidak, tapi biasanya barang-barang berukuran kecil saja, seperti kunci, buku, kalkulator atau baju termasuk sapu tangan.

Sebelumnya, aku kira, ini karena aku mengidap kleptomania syndrome alias gila mengutil alias suka nyuri barang orang tanpa sadar. Seperti yang biasa terjadi pada orang-orang di mall.
Ternyata tidak, sebab aku tidak hanya mengambil barang orang tanpa sengaja, tetapi aku juga meninggalkan barangku tanpa sengaja. Sapu tanganku sendiri, hingga berjumlah lima buah yang telah hilang entah ke mana. Aku juga sering kelupaan nama orang yang baru saja berkenalan denganku. Aku sering kelupaan menaruh bolpoinku. Aku sering meninggalkan buku bacaanku di kursi bus. Dan masih banyak lagi contoh kasus yang lain. Jadi, pasti ada penyebab lain yang lebih ilmiah, selain karena penyakit jiwa (klepto mania) itu.

Maka aku mencari tahu, apa yang terjadi dengan memoriku. Pastilah hal ini berkaitan dengan memori, ingatan. Aku lalu mencari ensiklopedi di perpus, nah, sekedar meyakinkan diriku bahwa aku tidak mengidap penyakit jiwa bernama kleptomania, perlulah aku sampaikan hal-hal berikut ini.
Menurut ensiklopedia yang aku baca beberapa bulan yang lalu, daya ingat atau memori kita terbagi menjadi tiga bagian.

Pertama, ingatan atau memori jangka panjang/permanen. Memori ini dibangun berdasarkan kejadian berulang-ulang atau kejadian yang bersifat luar biasa, sehingga kita dapat mengingatnya dalam waktu yang lama. Contohnya: Ingatnya kita akan ibu kita, bapak kita atau peristiwa kecelakaan yang pernah kita alami. Hal-hal itu sulit sekali untuk hilang.

Kedua, memori semi permanen, memori yang bersifat a priori, tanpa melibatkan seluruh panca indera dalam mengingatnya, seperti ingatan kita akan arti dari istilah karnivora, jomblo, atau terjemahan dari kata-kata asing. Walaupun hilang, memori seperti ini dapat secara langsung kita perbaiki dengan membuka ensiklopedi atau kamus. Memori ini bersifat verbal, tinggal baca ulang.

Ketiga, memori jangka pendek. Mermori ini berhubungan dengan kejadian-kejadian yang sepintas, tidak biasa kita lakukan dan biasanya tidak istimewa. Seperti membawa buku dan menaruhnya di sebarang tempat, atau membawa kunci lalu menyimpannya di kantung belakang, dan kejadian sejenisnya. Otak yang memiliki memori jangka pendek normal, akan mengingat kejadian itu dengan cukup baik. Otaknya akan mengingat di mana bukunya ditaruh barusan atau di mana kuncinya lima menit lalu disimpan. Sebaliknya, memori jangka pendek yang tidak normal akan melupakan buku tersebut dan tidak ingat sama sekali dimana juntrung-nya kunci itu. Masih menurut ensiklopedi iu, orang yang memiliki ketidak normalan yang demikian itu, dikatakan terkena penyakit amnesia. Penyakit lupa. Aku hanya pelupa, bukan seorang klepto.

Tapi, terlepas dari aku mengidap amnesia atau bukan, pelupa atau tidak, sesungguhnya sapu tangan bidadariku ini terambil olehku tanpa sengaja. Begini kisahnya.

Biasanya, setiap hari rabu, sekitar jam sembilan-an, Shinta dan teman-temannya mengadakan acara diskusi bareng di perpus. tempatnya di meja paling selatan perpus. Meja yang terjauh dari meja-meja lainnya. Meja yang strategis untuk diskusi, karena tidak akan terlalu mengganggu pengunjung perpus lain yang sedang membaca. Meja yang sama tiap minggunya. Meja Langganan mereka. Jika kamu biasa main ke perpus kampusku, maka kamu akan dengan mudah melihat meja itu. Sebab, meja itu berhadapan langsung dengan access gate perpus. Begitulah, kamu tinggal berjalan lurus saja dari access gate itu. Kamu akan melihat mereka duduk melingkari meja itu. Ingat, pada hari rabu, jam sembilan-an. Sembilan lebih sepuluh menit-an.

Jujur saja, selama tiga minggu ini, tujuanku ke perpus adalah agar aku bisa melihat dia. Shinta, Bidadari itu. Bukan lagi untuk membaca buku-- seperti saat sebelum aku jatuh cinta padanya. Jadi, tujuanku hanya agar aku bisa menikmati keindahannya, secara diam-diam. Yup, sampai tadi pagi aku masih berada di tahap ”willing”, belum sampai ke tahap ”investigation”, jadinya aku hanya ”curi-curi pandang”. Menatap mata yang indah, senyum menawan, gaya yang memukau, dan tentu saja: cerdas.

Untuk tujuanku itu, aku hadir di sana pada hari dan waktu yang sama, tapi berada di meja yang berbeda dengan meja langganan mereka, tidak begitu jauh, hanya sekitar tujuh meter dari mereka, di sebelah barat. Bidadari itu tetap bisa terlihat dengan jelasnya dan aku tetap save.
Jadi, tadi pagi sekitar jam sembilan-an, aku pergi ke perpustakaan. Dengan mengenakan jaket hitam dan celana jeans idolaku, aku menuju ke sana dengan semangat yang menggebu-gebu. Namun, ketika aku sudah tiba di perpus, ternyata mereka tidak ada di tempat biasanya. Si shinta juga tidak terlihat. ”Mungkin diskusinya sedang libur” kata hatiku.

Di meja langganan mereka, hanya terlihat si Syafi’i. Cowok bertampang bule yang biasa berbaju koko. Iya, kabarnya, ayah si syafi’i adalah muslim amrik, dan ibunya muslimah dari jogja. Terang saja ia bertampang bule.
Setahuku juga, dia adalah teman si shinta, mereka sama-sama aktif di lembaga dakwah kampus. Aku dan bule islami ini juga saling kenal, karena kami sering bertemu di masjid kampus ketika mau sholat dhuhur. Bisa dikatakan, ia juga adalah temanku.

Aku lalu melangkah mendekatinya. ”Assalaamu’alaikum” syafi’i lebih dahulu menyapaku seraya tersenyum dan mengulurkan tangannya. Aku menjawab sapaannya juga tak lupa tersenyum, dan bersalaman dengannya. Lalu aku duduk di kursi depannya, kami berhadap-hadapan.

Di atas meja, aku lihat sepintas, ada sapu tangan berwarna biru tua, beberapa buah buku yang ditumpuk, dan beberapa alat tulis. Tergeletak serampangan. Aku lihat di sekeliling kami ada beberapa orang pengunjung yang sedang membaca dan pegawai perpus yang menata buku-buku di lemari. Shinta benar-benar tidak terlihat.

Kemudian, aku berniat ngobrol saja dengan si bule islami ini, siapa tahu ada informasi berharga mengenai shinta, ”Eh, sendirian aja ya syaf?” aku membuka pembicaraan seraya memandang ke arahnya. Syafi’i tidak langsung menjawab, ia menoleh kesana-kemari seperti mencari seseorang, beberapa saat kemudian baru ia menjawab, ”oh, tidak, aku barusan sama shinta, kami sedang berdiskusi, tapi dia pergi sebentar, sedang membeli minuman ringan, biar asyik katanya..”
Aku kaget.

”Busyet !! rupanya, shinta ada di perpus. Aku harus segera menjauh dari sini, aku belum siap bertemu dengannya” seru hatiku cemas.
Belum sempat aku beranjak pergi, Syafi’i malah meneruskan bicaranya, mau tidak mau aku tetap saja di tempat itu, tidak jadi pergi. Tidak enak juga meninggalkannya. Aku dengan terpaksa mendengarkannya, tapi entah detailnya bagaimana. Sepertinya dia menceritakan materi yang mereka diskusikan barusan.

Seingatku, sambil memegang-megang benda-benda di atas meja itu, aku mendengarkan acuh-tak acuh saja pembicaraan syafi’i, aku benar-benar hanyut dalam lamunanku sendiri.

”Kenapa shinta diskusi berduaan dengan syafi’i yah? Kok tidak biasanya? Jangan-jangan...” batinku bertanya-tanya. ”Benar juga, kalau dibanding-bandingkan dengan syafi’i, aku tidak ada apa-apanya. Syafi’i bertampang bule sedang aku bertampang jawa tidak jelas. Syafi’i kuliah di kedokteran dan aku lihat dia mengendarai mobil phanter saat ke kampus, sedang aku hanya mahasiswa teknik yang mengendarai sepasang sepatu usang. Syafi’i, adalah seorang aktivis satu komunitas dakwah dengan shinta, sedang aku hanya sibuk sendirian dengan buku-buku perpus atau ikut kajian-kajian di sana-sini: tanpa komunitas. Syafi’i pemuda berbusana islami, sedang aku lebih mirip gelandangan” batinku membanding-bandingkan.

”Seandainya diadakan pemilihan, siapakah yang akan dipilih shinta sebagai kekasihnya, aku atau syafi’i? Tidak mungkin kedua-duanya, bukan?”, mungkinkah aku yang akan dipilih?

Belum sempat aku menjawab pertanyaan-pertanyaan batin itu, suara yang merdu membuyarkan lamunanku, ”assalaamu’alaikum..!!!”. Gubrak !!!. Tiba-tiba saja di depanku ada si gadis impian, shinta, “wa’alaikumussalaam,..eh, shinta?” Aku segera membalas salamnya seraya memaksa diriku untuk tenang. Aku tak tahu mau berkata apalagi, sedang kepalaku mendongak sedikit, menatap ke arahnya. Aku lihat, seperti biasanya, ia mengenakan jilbab besar, dan pakaian muslimah yang terbungkus jaket besar. Penampilan khas aktivis dakwah di kampusku. Ia juga membawa dua buah botol minuman ringan. Tentu saja, untuk dia dan syafi’i.

”sudah lama di sini?” lanjutnya tanpa menatap ke arahku, ia mengarahkan pandangannya ke atas meja, memastikan letak yang tepat untuk botol-botol yang masih dipegangnya.
”baru aja kok,..” jawabku cepat.
”wah, kalau tahu, aku beli satu lagi minumannya..” sambungnya.
”gak usah...makasih deh..” lanjutku dengan lebih cepat. Aku merasa Sungkan.

Lalu setelah menaruh botol-botol itu di atas meja, shinta duduk di kursi sebelahku, berhadapan dengan syafi’i seraya menunduk. Aku lihat, syafi’i juga menunduk. Seperti yang aku amati selama ini, hal seperti itu cukup populer di kalangan aktivis dakwah kampus, saling menundukkan pandangan. Ghawdhul bashor, istilah islami-nya. ”Mereka benar-benar serasi...” batinku lirih.

“eh, kamu mau ikutan diskusi vid?” Tanyanya kemudian padaku dengan kepala yang masih tertunduk.

“wah, makasih aja deh,..aku ada urusan lain, bentar lagi juga pergi..” aku menolak dengan cepat, sambil mendongakkan kepala sebentar, sedang tanganku memain-mainkan benda-benda di atas meja, mencoba menetralkan rasa-rasa yang aneh di dada: Cemburu dan Grogi.

Kemudian shinta mengambil salah-satu buku berbahasa inggris dari atas meja dan ia berujar, ”ini, buku yang kami diskusikan”.

”Tetang game theory... Syafi’i kan pandai bahasa inggris, jadinya aku bisa tanya-tanya ke dia…” lanjutnya lagi.

”oh, iya, iya…” sambutku pelan seraya menatap ke syafi’i yang masih menunduk dan senyum-senyum kecil.

”syafi’i kan bule amrik..he-he” kataku lagi merasa lucu. Tentu lucu, kan?. Masa’ bule amrik tidak bisa english.

”ah, kita sama-sama belajar,..” kata syafi’i kemudian. Mungkin ia bermaksud merendahkan diri, atau mungkin juga basa-basi. Entahlah.

”Begini, tadi, kita sampai di definisi game theory kan?” kata si bule sambil mengambil buku yang dipegang shinta tadi.

”Iya,..bener” sambung shinta.

”Game theory adalah nama sebuah teori yang baru-baru ini dikembangkan untuk mengendalikan konflik,...bla..bla…” Syafi’i melanjutkan percakapan seraya membaca english book itu.

Aku merasa tertarik juga untuk mendengarkan sebentar. Tidak lama, shinta menimpali perkataan si bule islami itu, lalu dibalas si bule, lalu shinta lagi, diskusipun menghangat. Aku hanya pendengar.

”Hebat!!!” seruku dalam hati.

Hanya beberapa menit saja, mereka sudah beradu argumentasi dengan serius. Mengenai; mungkin atau tidak-nya teori tersebut untuk diterapkan pada pelaku konflik yang berbeda, seperti separatis irlandia dan GAM indonesia.

Mereka juga masih dalam posisi kepala yang sama-sama tertunduk, sesekali saja salah satunya mendongakkan kepala, sesekali juga mereka beradu pandang. Orang-orang yang tidak biasa melihat hal itu pasti merasa aneh.

”Benar-benar serasi, sama-sama cerdasnya dan sama-sama tampak islami-nya” batinku lagi. Tanganku masih sibuk dengan benda-benda di atas meja.

Sesekali mereka berdua juga tertawa kecil karena selipan gurauan masing-masing, sesekali juga aku ikut ketawa kecil.

Tapi jujur saja, diam-diam aku merasa gondokan. Tanpa bermaksud berada di tempat itu lebih lama, aku merasa perlu pamit untuk pergi.

Setelah berbasa-basi sebentar dan mengucapkan salam, akhirnya aku melangkah meninggalkan mereka hingga keluar dari perpus, lalu keluar dari kampus, menelusuri rute jalan menuju kos-ku. Sesampainya di kamarku, aku melepaskan jaket lalu menuju ke tempat tidur, membaringkan diri. Menatap ke langit-langit kamar seraya tercenung.

”What’s happen to me..?” Jeritku dalam hati.

”is the love breaking me?” jeritku lagi. Tapi, kali ini sambil berguling-guling di kasur kecilku.
Masih dengan kondisi dan posisi seperti itu, tanpa sengaja pandanganku tertuju pada jaketku. Terlihat semacam ujung kain yang terkulai menjulur keluar dari kantung jaket itu, kain berwarna biru tua...sepertinya…

”..Alamak!!!” seruku pelan.

”Sapu tangan yang di atas meja tadi terbawa!!!” seruku lagi.

Aku segera berdiri dan mengambil sapu tangan itu, kuperhatikan dengan seksama, terlihat samar-samar tulisan kecil di bagian ujungnya. Sebab, hurufnya berwarna gelap sedang sapu tangannya juga berwarna gelap. Aku coba mengejanya perlahan.

”ES..HA..I..EN..TE...waaaa!
SHINTA!!!” teriakku lepas.

Untung saja teman-teman kos-ku belum pulang, jadinya tidak ada yang dengar dengan jelas teriakan itu. Lalu aku taruh saja sapu tangan itu di meja belajar, dan aku terkulai lemas di kasur. Belum tahu harus berbuat apa dengan sapu tangan itu.

Itulah yang terjadi. Sekarang, sapu tangan itu masih tergeletak di meja belajarku. Sapu tangan biru tua ini ternyata milik shinta.

Beberapa saat setelah aku menyadari keberadaannya di jaketku, aku mencoba menerka-nerka apa yang telah terjadi sehingga ia bisa terbawa.

Di perpus tadi,sapu tangan itu hanya terlihat sepintas, berada di atas meja bersama benda-benda lainnya. Dan sepertinya, akibat pikiranku yang disibukkan dengan prasangka-prasangka negatif terhadap syafi'i, antara sadar dan tidak, sapu tangan itu aku ambil dan aku main-mainkan seperti anak-anak kecil yang memain-mainkan ujung bajunya ketika di marahi oleh ibunya.
Mungkin sejauh itu aku hanya memain-mainkan sapu tangan itu, hingga kemudian Shinta datang dan membuat aku terserang grogi berat, sehingga kemudian dengan tidak sadar, benar-benar tidak sadar, sapu tangan itu aku masukkan ke jaketku..
Sepertinya, Cemburu merusak separuh fungsi memori jangka pendekku, grogi merusak sebagiannya lagi.

Aku harus bertindak. Aku tidak ingin fungsi otakku rusak sepenuhnya. Aku tidak ingin menjadi si majnun, aku tidak ingin menjadi si romeo, aku tidak ingin menjadi penghuni RSJ atau kuburan, karena cinta yang tidak jelas. Aku tidak ingin seperti majnun, ataupun romeo.

Pertama kali yang harus aku lakukan, tentu saja, mengembalikan sapu tangan miliknya.
Lalu mencari tahu, apakah dia berpotensi untuk menjadi kekasih hatiku atau tidak sama sekali (investigating).

Jika berpotensi, maka setelah itu perlu mempersiapkan waktu dan tempat untuk membahas hubungan selanjutnya secara strategis (Designing).

Kemudian, membangun dengan baik hubungan tersebut (contructing) dan terakhir, menjalaninya (operating).

Eittt, Mengembalikan sapu tangan ini pada Shinta? Waaa…What should I say to her?

To be continued…
It’s titled :
“Ia memenuhi bilik jantungku…”

weehe.. ternyata, susah banget yach buat novel. gw mo nyerah aja deh. tadinya, permulaan ini mo gw buang. tapi, ntar gak jadi-jadi buat novel deh. Padahal gw harus melaksanakan apa yang gw canangkan.. so, gw taruh post aja di sini, ntar gw terusin, jelek atau jelek banget terserah deh, yang penting novel gw harus kelar maret ini. gw terbitin (maunya), trus gw bedah sendiri di kampus gw....

tapi gw terima kritik dan saran lho.. biar gw tau, kurang atau kurang banget-nya di mana. tidak perlu bertanya kepada rumputnya si mas ebiet. hehe. peace.

DIALOG KUCING DENGAN TUHANUnemployer Soldiers

Comments

K a Y L a 28. January 2007, 08:47

:idea: kayanya lo ga pny bakat jd novelis tp jurnalis :mad: fallin in love lo, isinya rumus2 n tinjauan ilmiah smua :irked: gmana gw bs bantu sdg balikin saputangan aj ga brani.. p: apalg klo gw saranin tembak lsg aj tu cewe :D impossible bgt :down: buruan tembak sbelum d ambil syafi'i :rolleyes:

Anonymous 19. February 2007, 09:14

Anonymous writes:

jangan di tembak!!!!!! tapi di lamar aja!!!
hidup yang halal2 ajalah... jangan main tembak

cahaya_malam 21. March 2007, 07:54

heheheh..dug..dug..dug... jantung ane smp berdetak keras..
kiraiin.....
beneren...
baru mau diberi uang lamaran hehehe...
ad jeyekkkkkkkkkkkkkkk

Joozu 22. March 2007, 10:55

haha.. jeyek jeyek gini kakaknya cantik lho..kikikikik..

How to use Quote function:

  1. Select some text
  2. Click on the Quote link

Write a comment

Comment
(BBcode and HTML is turned off for anonymous user comments.)

If you can't read the words, press the small reload icon.


Smilies

Download Opera, the fastest and most secure browser
December 2009
S M T W T F S
November 2009January 2010
1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31