Unemployer Soldiers
Thursday, January 18, 2007 4:21:19 PM
Gw mo seribu rius nih..ehm.
Badan Pusat Statistik melaporkan, tingkat penganggur terbuka Indonesia pada bulan Februari 2006 sebesar 11,1 juta orang (10,4%), sedangkan mereka yang tidak bekerja penuh (bekerja sukarela dan terpaksa) mencapai jumlah 29,9 juta orang. Jadi jumlah penganggur dan setengah menganggur (sukarelawan atau terpaksa walaupun gaji sangat tak pantas) mencapai 41 juta orang.
41 juta orang!…….bayangkan! ! !
Apabila pemerintah Indonesia cukup jeli, dengan 41 juta orang itu saja kita sudah bisa membuat orang-orang yahudi zionis di Israel dan di amerika kalang kabut (Total-total kurang dari 15 juta orang). Mari kita hitung-hitung. Apakah Kita akan menang kalau menyerang bangsa yahudi itu demi kesejahteraan dunia pada umumnya dan Indonesia pada khususnya.
Skenario pertama, kita berperang tanpa tentara penganggur. Kita akan menyerang yahudi israel saja, sebab yahudi amerika didominasi oleh yahudi-yahudi banci. Sedang yahudi israel maksimal lima puluh persen saja yang siap berperang, tapi kita anggap saja semuanya siap berperang, karena mungkin sukarelawan dari amerika dan Negara lain bisa mencapai 50% dari jumlah yahudi israel itu. Jadi, total semuanya sekitar 10 juta orang yahudi.
Berdasarkan pertimbangan perbedaan SDM dan teknologi serta factor-faktor lainnya, maka kita anggap, secara rata-rata satu orang tentara yahudi (TY) dapat membunuh 15 orang tentara nasional Indonesia (TNI). Cukup besarkan perbedaannya.
Namun karena, di sana, terdapat hammas dan hizbullah yang siap tempur dengan israel, maka israel akan kekurangan daya bunuh, sehingga dalam perperangan dengan TNI, TY hanya mampu membunuh 10 orang TNI saja. Mereka akan disibukkan juga oleh tentara hizbullah dan hammas itu. Eitt. Bagaimana dengan sekutu zionis israel?
Adapun para sekutunya, seperti Amerika, Eropa dan lian-liane, tidak akan berani membantu TY karena mereka pasti takut jika Negara lain seperti rusia, korea, amerika latin, cina, timur tengah, dan negeri-negeri yang diberi cap “dunia ketiga” (oleh amerika cs ). Kita memiliki “teman-teman” di belakang. Mengenai teknik mengajak mereka berkolaborasi, ntar gw ajarin. Di ketikan kedua yang membahas tema serupa.
Terlebih lagi Amerika sedang bermasalah dengan Irak, Taring Eropa sudah dimuseumkan (adakah perperangan abad ini yang di pelopori Eropa?) dan sekutu (baca:se-KUTU) mereka hanyalah negara-negara “Yes Boss” dan opportunistis (Mereka mengikuti tuannya dan selalu mempertimbangkan pepatah: kalah jadi abu, menang jadi arang). Jadi, kita lanjutkan perhitungan dengan tenang.
Saya ulangi, TY dapat membunuh 10 TNI, sedang TNI dapat membunuh dua TY. Eh, btw, loe bisa matematik dengan baek kan? Kalo gak, lewatin aja paragraf ini.
Taruhlah Indonesia memiliki minimal 5 juta TNI (kurang dari 1/4 % dari 170 juta penduduk Indonesia yang bekerja) yang hanya dapat membunuh 2 orang yahudi. Jika begitu, maka setiap sekali baku tembak, TNI menghabisi dua orang TY dan TY menggugurkan 10 orang TNI. Berarti, dalam jumlah (atau kualitas) baku tembak setara dengan 500.000 kali baku tembak, maka TNI akan sirna, sedangkan TY masih sisa 9000.000 orang. Berarti, kita kalah. Agar menang kita harus meningkatkan kemampuan kualitas TNI dan atau menambah jumlah tentara. Nah, Ini seribu rius-nya. Ini, di paragraf-paragraf berikut ini.
Ehm..Jika Indonesia mau, Indonesia dapat menciptakan tentara pengangguran, atau biar keren: unemployer soldier (U.S.). Indonesia dapat mengusahakan minimal 20 juta orang (50% dari 41juta pengangguran), berarti semuanya 25 juta tentara.
Dengan bantuan para pengangguran itu pemerintah bisa menyingkirkan mereka (negara asing) dari panggung politik indonesia. Dengan tenaga massa pengangguran itu, Indonesia bisa menjajah Negara lain, setelah selama ini indonesia yang selalu menjadi korban jajahan. Dengan jiwa para gerombolan penganggur itu, Indonesia bisa memiliki daya tawar untuk mengeksplorasi kekayaan alam Negara lain. Dengan sedikit bumbu “ gugur demi bangsa”, Indonesia bisa, minimal, menjadi Negara dunia kedua.
Ini hanya sebuah gagasan.
Pertama-tama, pemerintah harus mau berbohong dengan menyatakan bahwa tidak ada lagi yang dapat dilakukan pemerintah terhadap mereka, sebab lapangan pekerjaan penuh, mereka tidak memiliki keahlian yang berarti atau keuangan Negara tak cukup untuk menanggung hidup mereka apalagi memberdayakan mereka. Atau alasan-alasan “masuk akal” lainnya.
Bohong demi masyarakat yang dominan (golongan pekerja kan lebih banyak, 159 juta orang) = Bohong demi bangsa dan negara = Bohong demi kebaikan. Itu rumus demokrasi. Dominan yang diperjuangkan, bukan?
Pemerintah harus menanamkan dalam pikiran mereka (para penganggur) bahwa mereka benar-benar tidak berguna, dan mati adalah hal terbaik bagi mereka. Harus seperti itu.
Selain itu, jangan lupa, pemerintah juga harus menyingkirkan orang-orang yang berusaha menyuarakan hak-hak mereka atau memanfaatkan mereka sebagai massa pemberontak, pemerintah harus mencamkan hal ini. Jangan sampai ada pihak-pihak oposisi dalam hal ini. Pihak yang menentang kebijakan ini harus secepat mungkin di “tenangkan”.
Kedua, para penganggur tersebut harus memiliki daerah pemukiman tersendiri, pemerintah harus menyediakan pulau khusus buat mereka. Pulau yang layak huni. Mereka perlu diisolasi.
Saya pikir, dari segi ketersediaan tempat, ini bukan masalah yang berarti, sebab Indonesia masih memiliki kurang lebih 6000 pulau yang tak berpenghuni tersebar di nusantara. Sekali lagi, pulau yang layak huni, jadi harap dipilih pulau yang memiliki kondisi flora, fauna dan iklim serta topografinya memadai untuk kehidupan manusia.
Hal ini juga bukan masalah, sebab Indonesia memiliki badan meteorology dan geofisika yang cukup handal dalam hal ini serta LSM-LSM yang memiliki sense of environtment seperti WWF, IKAGI dan WALHI. Semua instansi itu bisa diupayakan (dipaksa) untuk menentukan pulau yang berkarakter yang demikian.
Dengan kebijakan ini, para penganggur akan merasa lebih diperhatikan. Tidak apa-apa, hanya merasa diperhatikan. Mereka akan lebih berterima kasih. kita juga akan demikian kan?, jika diberi rumah baru dan mendapatkan teman-teman senasib seperjuangan. Kita akan berterima kasih pada si pemberi. Para pengangguran itu akan benar-benar berterima kasih. Tapi itu tidak cukup untuk mencetak mereka sebagai tameng hidup. Masih ada beberapa langkah lagi yang harus dilakukan pemerintah, agar bisa memanfaatkan dengan “baik” para penganggur ini.
Selanjutnya, yang ketiga, pemerintah harus melakukan brain washing terhadap mereka. Mungkin dengan teknik-teknik persuasive biasa atau teknik cuci otak yang canggih.
Tapi mengingat Indonesia adalah negeri miskin dan bodoh, tidak memiliki alat atau tenaga ahli yang memadai dalam bidang ini, cara pertama lebih pantas untuk diterapkan. Menggunakan teknik persuasive sederhana.
Missal, dengan teknik reciprocation, alias teknik balas jasa.
Melalui cara ini, pertama-tama pemerintah harus membiarkan mereka menghadapi alam tersebut tanpa bantuan apa-apa, sekitar satu bulan (jangan lama-lama) saja.
Bagaimanapun memadainya kondisi alam tersebut, para penganggur itu tetap akan merasa sangat kesulitan hidup tanpa bantuan pemerintah, karena begitulah perilaku ekonomi penduduk Indonesia yang konsumtif. Mereka tidak biasa mandiri.
Lalu, setelah dua bulan, setelah mereka sangat tersiksa, pemerintah harus memberikan mereka bantuan-bantuan yang cukup berarti (alat berkebun, pupuk, sembako, pakaian dan tempat tinggal sederhana) sehingga mereka lebih merasa diperhatikan lagi. Untuk melaksanakan langkah yang satu ini harus secepatnya, jangan sampai sebagian dari mereka sempat mati. Ketika terlihat mereka sudah mulai sekarat, kebijakan ini harus langsung dilaksanakan.
Biarkan hal ini dinikmati mereka selama satu atau dua tahun lamanya. Biarkan merekamenikmati bantuan-bantuan pemerintah. Beras, mie, pakaiaan dingin, obat nyamuk, perobatan, rumah sederhana, jamban, dan sebagainya.
Selama masa “menikmati” ini, pemerintah harus membuat propaganda-propaganda yang bisa meningkatkan semangat nasionalisme mereka.
Tentu saja hal itu bisa dilaksanakan dengan cara mengisolasi mereka dari dunia luar. Jangan sampai ada “suara-suara” yang mengajak mereka memberontak. Dengan cara, memberikan mereka TV yang berisi siaran-siaran propaganda. Nasionalisme, hiburan-hiburan, kekejaman-kekejaman negeri asing, kebaikan-kebaikan pemerintah, kata-kata yang menggugah, kajian-kajian islam yang memanajemen qolbu, dan tayangan-tayangan semacam itu.
Jauhkan informasi-informasi yang lain dari mereka, buat mereka hanya memikirkan bahwa mereka masih tidak cukup berguna bagi bangsa Indonesia, bahwa mereka telah ditolong oleh pemerintah dan masyarakat Indonesia yang bekerja, bahwa mereka telah berhutang budi pada kelompok pekerja.
Selanjutnya, buat mereka sadar, bahwa Indonesia memiliki musuh-musuh dari luar negeri (yahudi zionis, misalnya) yang merupakan biang dari keterpurukan bangsa Indonesia, bahwa Indonesia bisa jadi memerlukan tenaga mereka jika ancaman tersebut menjadi bahaya yang nyata.
Hal ini bisa berjalan sukses jika informasi yang “mengganggu” dari luar (kenyataan sebenarnya) di-counter secara penuh.
Kemudian, keempat, pemerintah harus mewajibkan bagi mereka, para penganggur yang sudah “terkondisikan” itu, untuk menjadi tentara sukarela, The unemployee soldiers. Jadi, seperti kebijakan tentara sipil. Bedanya, kebijakan ini disesuaikan dengan keadaan indonesia yang miskin. Mereka hanya menjadi suicide bomber.
Sekali lagi, karena Indonesia Negara miskin, maka mereka hanya pantas menjadi suicide bomber, spesialis bom bunuh diri. Mereka tidak pantas dipersenjatai, kita tidak memiliki dana yang cukup untuk itu. Ngutang lagi? No Way.
Indonesia sudah cukup kerepotan untuk mengurusi kebutuhan tentara regular, sehingga tidak pantas mengkhawatirkan nasib unemployer soldiers itu.
Mereka harus dilatih menjadi tentara-tentara yang tahu bagaimana menjadi “pasukan perisai”, “pasukan babi-buta” dan “pasukan orangan sawah”. Apa saja itu fungsinya?
Begini...
Pasukan perisai betugas menjadi tameng hidup bagi tentara regular,
Pasukan babi-buta bertugas menyerang secara membabi-buta (dengan senjata, bom, bamboo atau tangan kosong) ke arah musuh saat musuh agak lengah seperti yang dilakukan oleh mafioso itali dan para pelaku kamikaze.
Pasukan orangan sawah bertugas mengelabui musuh dengan berusaha menjadi sasaran serangan tipuan.
Sisa tugas perperangan ditangani oleh tentara regular. Semua itu dengan perhitungan-perhitungan sebagaimana di atas tadi. Tentara kita akan sanggup mengalahkan tentara zionis yang berjumlah lima kali-lipat itu.
Terakhir, jika pemerintah memenangkan perperangan dengan cara ini (saya pikir kita akan menang), the unemployer soldiers harus diberi sanjungan dan tetap diperlakukan sebagaimana biasanya; diisolasi beserta keluarganya, di re-upgrade nasionalismenya, dibantu seperlunya.
Selanjutnya pemerintah harus mempersiapkan rencana-rencana penjajahan terhadap negeri lain, dengan cara yang sama. Namun jika indonesia tetap kalah juga.. berarti kita telah mengurangi pengangguran.
Ehm, Ini hanya sebuah gagasan…. Bentar lagi gw kan lulus, dan belum tentu dapet kerja alias siap jadi pengangguran. Tapi, jika ini dilaksanakan, kan jadi bisa ke israel dengan gratissss.....coz, sampe sana, gw mbelot. Emang enak jadi tentara siap mati. Gak la yawww...hehehe. Gw akan mbelot ke israel, di sana orang ParKer kaya gw kan bisa berkembang. O iya, parker itu kepanjangan dari pintar dan keren. Mo muntah,...muntah aja.
Ayo, pak presiden..awas kalo gw sampe gak dapet kerja yachh..(suara ati sesungguhnya..hik-hik-hik).















K a Y L apurelight # Sunday, January 28, 2007 8:37:56 AM
Joozujoozuzuzu # Tuesday, February 6, 2007 9:59:29 AM
K a Y L apurelight # Friday, February 9, 2007 5:35:23 AM
Joozujoozuzuzu # Friday, February 9, 2007 10:53:47 AM
i'v just joined an english course in my college which presented by american corner. i think i'll find mylove there..ups, no,no, i mean that i'll find my english talent there.. i joined intermediate program.. how do you think about that?.. i'm still keren? .. hohoho..
di zaman ini, Seorang presiden kan harus bisa bahasa inggris..
cicero said that "the good man speak well" .. but, absolutly in english.. isn't it?
hehe.. moga-moga aja..amennn..
see you
Arief Prabuarief_prabu # Saturday, January 23, 2010 4:49:58 AM
Joozujoozuzuzu # Monday, February 22, 2010 10:55:03 AM