Tujuh belas Agustus Tahun Empat Lima
Friday, 17. August 2007, 12:43:15
Indonesia tanah air nya
tanah tumpah darah kami
di sanalah dia berdiri
di pundak ibu kami
(judul: indonesia tanah air siapa)
Di hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia yang ke 62 ini, apa yang gw lakukan?
Loe musti gak mau tau, cos, sapa gw?
Tapi, gw anggap itu wajar aja, namanya juga orang keren, musti rela di cuekin..
Pagi-pagi banget, setelah mandi pagi, gw mulai bingung gak tau apa yang musti dikerjain, cos gw bener-bener gak punya acara khusus di hari merdeka ini dan temen-temen kos gw pada gak ada di kos, keluyuran entah kemana. Gw bener-bener bingung..sendirian!!
Sebenarnya, pekerjaan gw banyak banget, mulai dari mikirin tugas kuliah sampe mikirin kawin. Tapi, ya itu, cuma mikir doang, jadinya gak bisa mengusir kebingungan gw di hari merdeka ini.
So seperti biasa, kalo lagi gak jelas mo ngapain, gw gambarin ini dan itu sambil tidur-tiduran di kasur. Gambarin muka dosen ilmu kayu gw yang lagi senyum sambil pake rok, gambarin pose kekasih hati dengan menggunakan jilbab yang ada hiasan duri-durinya (jadi seperti kaktus, hehe), dan macem-macem lagi. Sementara itu, suasana di sekitar gw benar-benar hening, cuma ada sayup-sayup satu dua suara kendaraan bermotor yang lewat di depan kos. suara-suara khas perayaan tujuh belasan di kampong belum terdengar sama sekali. Akhirnya, gw ketiduran lagi.
“Anak-anak, yang mo ikut lomba, segera ke masjid ainur rohmah..!!!”
Entah itu teriakan siapa, tapi yang jelas, pas gw bangun, suara itu adalah suara yang memeriahkan suara di sekitar kos gw. Dengan tubuh yang masih tak begitu berdaya di atas kasur, Gw meraih HP gw yang gak jauh dari ketek gw. Gw liat, jam menunjukkan pukul delapanan. Waktunya makan.
Dengan agak males, gw bangun, merapikan kekasih, eh, kertas-kertas gambar yang berserakan di atas kasur, lalu menuju ke kamar mandi, cuci muka. Setelah itu gw ke westafel, menghadap ke cermin, “oh ternyata gw masih mirip tom cruise” kata hati gw. Memang, Narsis itu candunya manusia tak berpunya.
Tanpa perlu berpikir dalam-dalam seperti ketika memikirkan metode integral suatu persamaan differensial parsial dengan tujuh variable, gw berangkat menuju ke warung makan. Memang, kalo soal makan, sepertinya seluruh pikiran dan tubuh ini benar-benar ringan saja berbuat. Dan sepertinya, rakyat yang rela mengorbankan kemerdekaannya (karena dibayar Rp. 10.000,00 dan acara dangdutan) dengan mencoblos partai bajingan (maaf) merupakan salah satu bukti untuk itu.
Ada seekor tipi di warung tempat gw biasa makan. So, sesampainya diwarung itu, gw gak Cuma makan, tapi juga nonton siaran tipi yang menayangkan upacara pengibaran bendera sang saka merah putih, bendera yang konon bisa mempersulit hidup kita,.. jika ia diinjek-injek di depan pak polisi.
Di siaran itu, terlihat orang-orang yang berbaris rapi. Di antara barisan itu, ada yang bertugas menggerek bendera (paskibraka), ada yang mengamankan (polisi dan tentara), dan sepertinya ada yang ikut meramaikan suasana aja (itu lho, kameramen).
Di sekitar barisan itu, ada para penonton. Di antara para penonton itu, sepertinya gak ada yang miskin. Cos, terdiri dari duta-duta besar dari berbagai negeri, pejabat Negara (presiden dkk), dan tamu undangan lainnya (entah siapa).
Kalau kita lihat dengan benar-benar, mereka ini, para pejabat ini, sungguh-sungguh merupakan bagian dari bangsa Indonesia yang jenius dan bermartabat.
Kenapa? Karena di saat orang-orang berpanas-panas ria mengibarkan bendera pusaka itu, para penonton yang mengaku berjiwa kebangsaan ini, dengan santainya berteduh di tempat mereka menonton. Apakah mereka benar-benar perduli dengan Indonesia ini? Bullsshhh.. eh, padahal gw juga lagi nyantai di warung hehe..
Setelah siaran itu selesai, akhirnya gw pulang dengan perut yang kenyang dan otak yang penuh dengan rencana nakal.
Gw berencana, entar kalo sudah jadi presiden (amin), gw akan meniadakan upacara-upacara itu. Kenapa? Karena gw gak mau membodohi orang lain. Gw gak mau menancapkan rasa persatuan dan kesatuan ke dalam hati sanubari 225 juta jiwa rakyat bangsa Indonesia, dengan cara propaganda seperti itu.
Ya!! untuk dapat benar-benar menghargai dan menyebarkan nilai-nilai persatuan dan kesatuan, Dewan perwakilan daerah (DPD) haruslah diberikan wewenang yang besar dalam mengatur bangsa ini. Suara rakyat daerah harus diperhatikan, suara mereka harus diperlakukan sebagai suara manusia. DPD harus direvitalisasi, bukannya dimandulkan seperti selama ini. Bukannya sekedar berfungsi untuk membacakan teks proklamasi seperti tadi pagi!!!!.
Kalau tidak..kalau tidak… upacara pengibaran bendera itu hanya akan menjadi saksi bisu membuncah ruahnya gerakan-gerakan separatisme di Indonesia….















How to use Quote function: