Skip navigation.

Ngeblog dengan jempol

Berceloteh gojeg guyon namun wagu

Trotoar

,


Entah apa orang menyebutnya.Ibu-ibu yang berpapasan dengan saya tadi menamakannya tanggulan (Sebuah cerita dari jl.bulevard,kelapa gading).Ibu kota selama ini memang tak pernah bersahabat dengan pejalan kaki.

Idaman

Suatu siang...

IDAMAN belum tentu ideal,belum tentu juga aman dan nyaman.Masih banyak copet di sana-sini.Apalagi menjelang lebaran seperti sekarang ini,ada aja orang cari kesempatan dalam kesempitan.saya pernah lihat orang nyopet,pernah lihat juga copet di gebukin.Alhamdulilah belum pernah kecopetan,semoga tidak (foto:Terminal kali deres,metro mini kali deres-kota..)

Pengemis dadakan

Jakarta di banjiri pengemis.Adalah hal yang lumrah apabila tiap bulan ramadhan terutama menjelang lebaran,jakarta semakin banyak pengemis.Ibarat ada gula ada semut,itulah jakarta.Tradisi yang berulang dari tahun ke tahun.Mereka kebanyakan berasal dari daerah pinggiran jakarta dan sebagian jawa barat dan jawa tengah.Pengemis sendiri ada dua golongan,pertama yang mengemis semata karena terpaksa atau mempertahankan hidup.Misalnya sudah tua atau cacat fisik,sehingga tidak bisa bekerja atau mencari nafkah."Untuk golongan seperti ini tidak ada salahnya kalau kita ngasih sedekah".yang lainya golongan yang menjadikan mengemis sebagai profesi atau bisnis,sehingga ada orang yang menjadi agen pengemis.Hal inilah yang menjadi sumber pokok permasalahan ketertiban DKI.Perda DKI nomor 8 tahun 2007 melarang masyarakat memberi sumbangan bagi gelandangan dan pengemis di jalanan.yang tertangkap memberkan sedekah di jalanan bisa kena sanksi kurungan tiga bulan atau denda maksimal 20 juta.
Di jalanan ada pengemis
Di pasar ada pengemis
Di mall ada pengemis
Di masjid ada pengemis
Di gereja ada pengemis
Di rumah makan ada pengemis
Di kuburan ada pengemis
itulah pengemis di jakarta.Selalu menyisakan masalah buat pemerintah DKI.Dan untuk urusan penertiban,satpol pp keparat ahlinya.

Pergi taraweh

Malam itu tidak seperti biasa,gendut keluar rumah.Dandan necis,pakai minyak wangi pula.Saya yang lagi nongkrong di perempatan deket kios rokok mencoba tuk menyapa.

tindak pundi mbakyu..?


gendut mlengos,cuek bebek,ngak nanggepin saya.Berlalu sambil pencet-pencet hape dan sesekali mbenerin celananya yang mlorot.Bau minyak wanginya masih tersisa,wangi yang bikin saya eneg,pengen muntah.
"Duh...nduk,mau traweh kok pakai dandan dan minyak wangi,bawa-bawa henpon segala"Kata pakdhe yang duduk di sebelah saya.

Bocah-bocah itu...

Sebuah pemandang yang membuat hati saya miris dan sempat mengelus dada.Minggu malam yang cerah,selepas isya,di salah satu sudut perempatan lampu merah bulevard kelapa gading,di pertengahan bulan juni lalu dalam perjalanan pulang dari tempat kost seorang teman di daerah cempaka putih.Di bawah lampu merah itu seorang bocah kecil lucu,mungkin belum genap 2 tahun umurnya,sepertinya baru bisa berjalan,di sampingnya ada beberapa anak yang lebih tua dan seorang gadis kecil sekitar umur 6 tahun dengan tampang yang lusuh dan kulit hitam,sepertinya bekas terbakar matahari.kenapa bocah2 ini ada di tempat seperti ini? saya ndak tau,saya yakin mereka tidak sedang bermain-main.Tempat ini tidak layak untuk bermain,terlalu berbahaya! lalu apa yang mereka kerjakan? adakah orang tua mereka? adakah orang yang mengawasi mereka dari kejauhan? pasti ada,saya yakin.Setiap lampu merah menyala si gadis kecil dan beberapa anak lainya ini mencoba menghampiri kendaraan yang berhenti,si bocah menunggu di pinggir jalan.Dengan kemoceng di tangan kanan dan sebuah kain lap yang lusuh di tangan kiri,si gadis kecil beraksi.Berharap ada orang yang berbaik hati memberinya sedikit uang.

Anak-anak seperti mereka mungkin jumlahnya puluhan,bisa ratusan,yang tersebar di pelosok ibu kota.Bocah2 ini rentan sekali terhadap eksploitasi,baik secara ekonomi maupun seksual,perdagangan,penculikan,pelecehan dan kekerasan baik fisik maupun mental.

Malam itu dengan perut yang kosong karena dari siang belum makan saya berjalan melewati lampu merah seolah semua itu adalah hal yang lumrah tanpa rasa bersalah sedikitpun.Apakah bocah-bocah itu sudah makan? apa yang mereka makan? ah...bukan urusan saya.Sekitar 100 meter dari lampu merah tempat bocah-bocah itu,sebuah rumah makan dengan nama yang susah di ucapkan oleh lidah jawa dan dengan menu makanan yang baru pertama kali saya mendengarnya,yang harganya lumayan mahal untuk ukuran orang seperti saya,orang-orang rela antri untuk makan.sedih saya melihatnya.

Read more...