Hanya orang yang berada dalam kebenaranlah orang yang bebas.

Subscribe to RSS feed

Tataplah wajah yang tua itu.. begitu bersinar penuh
kedamaian.. Tataplah wajah yang tua itu.. dan ambil
sedikit sinar yang memancar dari wajah yang tua itu..

uye: Diatas langit tidak ada langit, diatas langit ada sang pencipta, jaman sekarang banyak yang menatap keatas sehingga lupa menunduk.

Eksploitasi Kaum Wanita Termasuk Maksiat – Dosa

, , , ...

Termasuk dalam deretan fitnah zaman sekarang adalah eksploitasi kaum wanita. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengabarkan bahwa wanita itu adalah salah satu fitnah yang terbesar. Beliau bersabda: “Berhati-hatilah dari godaan dunia dan waspadai-lah rayuan kaum wanita, sebab fitnah pertama kali yang menimpa bani Israil adalah fitnah wanita.” (HR. Muslim)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebut wanita sebagai fitnah (sumber godaan). Dan rasul juga telah mengabarkan bahwa bani Israil tersesat karena fitnah (godaan) wanita.

Pada zaman sekarang ini eksploitasi kaum wanita banyak tersebar di mana-mana. Mayoritas kaum hawa itu berani bersolek dan menampakkan lekuk tubuh mereka di pasar dan di jalan-jalan. Memamerkan segala macam asesioris dan perhiasannya.

Barangsiapa yang Allah kehendaki terkena goda-an, maka ia akan menyorotkan matanya atau melirikkan pandangannya kepada mereka (kaum wanita itu). Hing-ga dikhawatirkan ia akan terkena godaan daya tarik wanita itu dan terpedaya lantas timbul syahwat terlarang yang mendorongnya berbuat apa yang diharamkan Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu berzina! Atau pengantar kepada zina (seperti berdua-duan tanpa mahram, berpacaran dan lain-lain-pent). Memang, wanita adalah godaan yang paling besar!

Termasuk di antaranya eksploitasi kaum wanita melalui film-film. Ini merupakan musibah dan malape-taka besar.

Demikian pula foto-foto mereka di majalah, koran-koran dan sampul barang-barang tertentu. Mereka sengaja memilih wanita-wanita cantik agar menarik minat orang, khususnya para pemuda. Dan yang lebih berbahaya lagi adalah munculnya foto-foto mereka dalam keadaan bugil atau setengah bugil yang diproduksi dengan kamera-kamera canggih dan ditebar dengan parabola. Nas`alullah al-’afiyah was salaamah

Tidak diragukan lagi hal itu termasuk bencana ter-besar pada zaman sekarang ini. Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh. Barangsiapa mensucikan dirinya, pandangannya tidak akan tertuju kepada perkara haram itu. Dan tidak akan menuruti kehendak syahwat dalam hatinya kepada wanita-wanita itu. Barangsiapa dipelihara dan dijaga oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, niscaya Dia akan menjauhkannya dari fitnah tersebut. Dan niscaya Dia akan memasukkannya ke dalam golongan orang-orang yang Allah Subhanahu wa Ta’ala kehendaki kebaikan bagi diri mereka.

(Dikutip dari: MALAPETAKA AKHIR ZAMAN DAN CARA MENGATASINYA, Karya Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin)

Disalin dari: Arsip Moslem Blogs dan sumber artikel dari Media Muslim Info

uye: Keringat bercucuran untuk menikmati rupiah, bukan takdir tapi jalan hidup, bukan kehendak tapi ujian, bukan hasil yang utama tapi perjalanan hidup yang benar menghadapi ujian.

uye: Jika belum merasakan pahit jangan mengatakan pahit itu seperti apa. Jika sudah merasakan pahit, katakan dan ungkapkan rasa itu seperti apa.

uye: Sesuatu yang indah tidak harus nampak dan semua itu akan selalu ada prasangka, selama ada sinar akan ada hikmah dari balik layar.

Mengapa Perlu Banten dan Sulinggih

, , , ...

QUESTION:

Seorang Guru Agama pernah berbincang-bincang dengan beberapa orang di mana saya termasuk di dalamnya; ada pernyataannya yang dikutip dari salah satu kitab suci sebagai berikut:

1. Dengan api, air, dan bunga yang kau haturkan kepada-Ku maka Aku akan terima.
2. Dengan cara apa pun kau datang kepadaku maka Aku akan terima.

Oleh karena titiang kurang mendalami ajaran-ajaran Agama Hindu maka dalam hati titiang bertanya-tanya, jika demikian:

1. Mengapa kita membuat banten yang sulit dan memakan biaya, katanya cukup dengan api, air, dan bunga saja sudah diterima-Nya?
2. Mengapa repot meminta Suliggih yang muput upacara, kan lebih mudah I Meme atau I Bapa saja dikenakan baju putih lalu muput upacara, toh dengan cara apapun kita datang kepada-Nya akan diterima?

ANSWER:
Atas pernyataan dan pertanyaan nomor 1 Pandita menjelaskan sebagai berikut:
Bhagawadgita Bab IX tentang Raja Vidyaraja Guhya Yoga, Sloka ke 26 menyatakan:

PATTRAM PUSHPAM PHALAM TOYAM, YO ME BHAKTYA PRAYACHCHHATI, TAD AHAM BHAKTYUPAHRITAM, ASNAMI PRAYATATMANAH

artinya: “Siapa yang sujud kepada-Ku dengan persembahan setangkai daun, sekuntum bunga, sebiji buah-buahan, atau seteguk air, Aku terima sebagai bakti persembahan dari orang yang berhati suci.”

Membaca Bhagawadgita, yaitu rangkuman percakapan antara Sri Krisna sebagai awatara Wisnu dengan Arjuna di medan perang Kuruksetra, tidak bisa sepotong-sepotong.

Seluruhnya ada delapan belas Bab dan 700 sloka. Bab ke-17 adalah percakapan mengenai “Sraddhatraya Vibhaga Yoga”, di mana Arjuna mengajukan pertanyaan kepada Sri Krisna: Bagaimana kalau seseorang mengadakan upacara dengan penuh khidmat dan kepercayaan tetapi melalaikan petunjuk-petunjuk kitab suci?

Sri Krisnya menjawab bahwa ada tiga macam kepercayaan yang masing-masing tergantung kepada tiap-tiap individu dengan sifat-sifatnya, yaitu baik-mulia (sattwa), aktif bernafsu (rajas), dan gelap-bodoh (tamas).

Yang bersifat sattwa pergi memuja Dewata, makan makanan yang berguna bagi pertumbuhan badan dan kesehatan, mengadakan upacara menurut petunjuk kitab suci, bermeditasi dengan keyakinan mendalam, bersedekah tanpa mengharapkan kembali.

Yang bersifat rajas pergi memuja yaksha dan raksasa makan makanan yang serba banyak rempah, mengadakan upacara dengan harapan akan pahala, bersamadi dengan maksud supaya dipuji dan disegani, bersedekah dengan harapan mendapat kembali.

Yang bersifat tamas pergi memuja roh orang mati dan setan, makan makanan yang tidak sehat, mengadakan upacara tidak menurut peraturan, bertapa beratha dengan pengertian kurang, bersedekah pada waktu dan kesempatan yang salah.

Upacara, sedekah dan tapa beratha yang tidak disertai dengan kepercayaan tidak ada artinya. Segala sesuatu di dunia ini berasal dari Ida Sanghyang Widhi Wasa, apakah yang mungkin kita persembahkan kepada-Nya?

Banten beserta segala perlengkapannya semuanya milik-Nya; tanpa dipersembahkan pun sudah milik-Nya. Jadi yang kita persembahkan hanyalah cinta kasih kita kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa.

Masalahnya, bagaimana kita mewujudkan cinta kasih kita kepada-Nya, karena manusia yang mempunyai keterbatasan pengetahuan ingin semuanya dalam wujud yang nyata.

Manusia mewujudkan perasaan hatinya dengan perilaku yang dimengerti secara nalar. Demikianlah para Maha Rsi atas wahyu-wahyu yang diterima menciptakan banten sebagai “niyasa” atau simbol perwujudan cinta kasih kepada-Nya.

Bhagawadgita-pun memberi peluang ke arah ini: “Demi kepuasanmu engkau memberi nama dan wujud kepada-Ku, tetapi sesungguhnya Aku sama sekali tidak bernama dan tidak berwujud.”

Kita membuat banten untuk membawa perasaan kita setahap demi setahap sujud bhakti kepada-Nya.

Mulai sejak mengumpulkan bahan-bahan, mejejahitan, metanding, menjunjung ke Pura, lalu menaruh banten di palinggih, semua dilakukan dengan hidmat, hati-hati, dan dengan perasaan kasih yang melimpah kehadapan-Nya. Setelah itu banten disucikan dan diantarkan puja-nya oleh Sang Wiku untuk dihaturkan kepada-Nya.

Semua prosesi itu membawa kepuasan bathin yang tiada tara kepada kita, sehingga setelah upacara selesai, perasaan kita lega karena sudah memuja-Nya.

Apakah maknanya? Apakah Ida Sanghyang Widhi Wasa mengharapkan semua persembahan material itu?

Tidak; karena Beliau sudah memiliki semuanya. Beliau hanya memperhatikan cinta kasih yang tulus dan suci yang keluar dari lubuk hati kita dalam menghadap Beliau.

Untuk siapakah cinta kasih yang kita wujudkan itu?

Hanya untuk kita sendiri! Tiada seorang pun yang tahu rahasia hati kita kepada-Nya. Jika kita dekat dengan-Nya maka Beliau pun akan dekat kepada kita; sebaliknya jika kita jauh dari-Nya maka Beliau pun akan jauh dari kita, walaupun Ida Sanghyang Widhi Wasa selalu kasih kepada ciptaan-ciptaan-Nya.

Selanjutnya Bhagawadgita Bab III mengenai Karma Yoga,

Sloka 12:

ISHTAN BHOGAN HI VO DEVA, DASYANTE YAJNA BHAVITAH, TAIR DATTAN APRADAYAI BHYO, YO BHUNKTE STENA EVA SAH

artinya: “Dengan pemujaanmu Ida Sanghyang Widhi Wasa akan memberkahi kebahagiaan bagimu, mereka yang tiada membalas rahmat ini kepada-Nya, sesungguhnya adalah pencuri.”

Sloka 13:

YAJNA SISHTASINAH SANTO, MUCHYANTE SARVA KILBISHAIH, BHUNJATE TE TV AGHAM PAPA, YE PACHANTY ATMA KARANAT

artinya: “Yang baik makan setelah upacara bhakti akan terlepas dari segala dosa, tetapi menyediakan makanan lezat hanya bagi diri sendiri, mereka ini sesungguhnya makan dosa.”

Sloka 14:

ANNAD BHAVANTI BHUTANI, PARJANYAD ANNASAMBHAVAH, YAJNAD BHAVATI PARJANYO, YAJNAH KARMA SAMUDBHAVAH

artinya: “Karena makanan mahluk hidup, karena hujan makanan tumbuh, karena persembahan hujan turun, dan persembahan lahir karena kerja.”

Sloka 12-13-14 ini menyimpulkan bahwa wujud bhakti kita kepada-Nya antara lain mempersembahkan “sarin tahun” atau hasil kerja kita terlebih dahulu kepada-Nya setelah itu barulah kita “ngelungsur.”

Ada dua istilah yang dikenal dalam rangkaian Yadnya, yaitu “upacara” dan “upakara”.

Istilah upacara terdiri dari dua kata, yaitu “upa” artinya “berhubungan dengan” dan “cara” artinya “gerakan/ aktivitas/ kegiatan” Jadi upacara artinya kegiatan/ pelaksanaan suatu yadnya dengan proses tertentu.

Istilah upakara terdiri dari dua kata, yaitu “upa” artinya seperti tersebut di atas, dan “kara” artinya “perbuatan/ pekerjaan dengan tangan”. Upakara adalah segala sesuatu berbentuk materi yang dibuat dengan tangan untuk keperluan upacara. Secara visual upakara antara lain berbentuk banten.

Dalam Bhagawadgita Bab II sloka 10 ada dijelaskan tentang landasan Yadnya.

Bahwa tujuan kita mengadakan upacara sebagai landasan yadnya adalah untuk mewujudkan hubungan yang harmonis antara Ida Sanghyang Widhi Wasa, manusia, dan alam, dalam keterkaitan sebagai berikut:

* Ida Sanghyang Widhi Wasa (Prajapati) ber-yadnya menciptakan manusia dan alam
* Manusia (Praja) ber-yadnya untuk Prajapati dan alam
* Kamadhuk (alam) memberikan kemakmuran kepada manusia

Manusia yang melaksanakan upacara Yadnya disebut melaksanakan Karma Yoga.

Lontar Yadnya Prakerti menjelaskan pula bahwa banten adalah “lambang”: Ida Sanghyang Widhi Wasa, manusia, dan alam.

Banten berasal dari kata “wanten” sebagai pengembangan kata “wantu” yang artinya dalam Bahasa Indonesia: bantu; jadi banten adalah alat bantu bagi manusia Hindu dalam berkonsentrasi mewujudkan bhakti dan cinta kasihnya kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa.

Oleh karena itu di beberapa daerah di Bali, banten juga disebut sebagai bhakti. Manusia membutuhkan alat bantu dalam berkonsentrasi ke hadapan-Nya, karena keterbatasan pengetahuan (jnana).

Bagi para Maha Rsi yang tingkat jnana-nya sudah tinggi, tidak banyak menggunakan alat bantu dalam berhubungan dengan Ida Sanghyang Widhi Wasa.

Dari lontar Dwijendra Tattwa dapat dibaca bahwa Ida Danghyang Dwijendra (Danghyang Nirartha) yang tinggal di Bali di abad ke-15 Masehi mempunyai tingkat jnana yang sangat tinggi, sehingga beliau digelari pula Ida Pedanda Sakti Wawu Rawuh.

Beliau tidak menggunakan alat bantu dalam berhubungan dengan Yang Maha Kuasa, bahkan ketika sampai waktunya Beliau moksah di suatu tempat yang kini dikenal sebagai Pura Uluwatu.

Di zaman kini, belum ada umat Hindu di Bali yang tingkat jnana-nya tinggi, sehingga kita masih memerlukan alat bantu antara lain banten itu tadi.

Menurut fungsinya, banten dapat dikelompokkan menjadi lima bagian, yaitu:

1. Banten sebagai palinggih Ida Sanghyang Widhi Wasa atau manifestasi-Nya, misalnya: dewa-dewi, daksina linggih, lingga, sanggahurip, puspa, dll.
2. Banten sebagai pensucian misalnya: banyuawang, prayascita, durmenggala, padudusan, dius kamaligi, dll.
3. Banten sebagai pesaksi, misalnya: suci, ardenareswari, catur, cane, peras, guru, panca saraswati, gana, dll.
4. Banten sebagai ayaban (kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa dan/ atau Manifestasi-Nya) misalnya: sesayut pengambean, dedari, pulagembal, bebangkit, tadah pawitra, tadah sukla, tadah kala, canang meraka, daksina, ajuman, saiban, beakala, caru, gana, jerimpen, sarad, dll.
5. Banten sebagai tataban (kepada manusia) misalnya sambutan. Jenis banten untuk tataban memang sedikit, karena banten untuk ayaban bisa merangkap sebagai tataban dalam pemahaman bahwa manusia ngelungsur tataban dari ayaban Ida Bethara.

Yang perlu dipikirkan sekarang adalah upaya untuk menyederhanakan jumlah dan jenis banten agar upacara dapat diselenggarakan dengan efektif dan efisien, terjangkau oleh umat yang kehidupannya sederhana.

Bila memahami pengelompokan banten seperti yang diuraikan di atas, dengan mudah dapat ditentukan banten-banten apa saja yang diperlukan dalam suatu upacara.

Pertama, tetapkanlah banten pesaksi, karena ini yang dinamakan “hulu” sebagai permohonan kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa untuk menyaksikan/ mensahkan penyelenggaraan upacara.

Setelah itu tetapkan banten pesucian yang berfungsi mensucikan upakara.

Kemudian tetapkan banten palinggih Ida Sanghyang Widhi Wasa atau manifestasi-Nya yang akan dihaturi persembahan.

Selanjutnya tetapkan banten ayaban dan tataban sesuai dengan tujuan upacara.

Perimbangan jenis banten agar sepadan dan berpedoman ke “hulu”. Bila hulu menggunakan suci, yang lain-lainnya (atau “teben”) jangan menggunakan banten yang lebih tinggi dari suci.

Demikian pula mengenai banten ayaban, gunakan hanya ayaban untuk manifestasi-Nya yang sesuai dengan tujuan upacara; misalnya dalam upacara perkawinan, kita tidak perlu memakai banten gana karena yang kita puja dalam upacara itu adalah Sanghyang Semara-Ratih.

Demikian seterusnya ke banten-banten lainnya.

Dalam menyelenggarakan upacara, konsep: Desa – Kala – Patra digunakan dengan pemahaman sebagai berikut:

1. Desa, adalah penggunaan upakara yang sesuai dengan bahan-bahan yang tersedia di daerah itu
2. Kala, adalah penyelenggaraan upacara sesuai dengan waktu yang tersedia (misalnya lamanya cuti/ liburan yang bisa dimanfaatkan untuk menyelenggarakan upacara)
3. Patra, adalah kemampuan material yang ada untuk menunjang upacara

Dewasa ini masalah “Patra” inilah yang perlu dikaji dengan tujuan bagaimana caranya menyelenggarakan upacara sesuai dengan kemampuan material, agar tidak sampai berhutang atau menjual barang-barang berharga.

Untuk itu perlu kesadaran “Tri Manggalaning Yadnya”, yaitu:

1. Sang Yajamana, yaitu mereka yang beryadnya,
2. Sang Widia, yaitu tukang banten,
3. Sang Sadaka, yaitu Sulinggih yang muput karya.

Kesadaran Sang Yajamana adalah tidak memaksakan diri berupacara secara mewah di luar batas kemampuannya antara lain dengan motif-motif demonstrasi, rasa malu, dll.

Kesadaran Sang Widia adalah tidak menggunakan kesempatan menjual banten dengan harga yang berlipat-lipat dari harga pokok; Sang Widia hendaknya berpikir bahwa profesinya itu adalah di jalan Dharma.

Kesadaran Sang Sadaka adalah tidak menetapkan “tarif” yang tinggi bagi jasanya muput karya; Beliau hendaknya juga berfikir bahwa sasana Kawikon adalah tidak mengejar materi keduniawian, bahkan wajib membantu umatnya yang miskin, sebagaimana kutipan Bhagawadgita Bab XVIII, mengenai Samnyasa Yoga, sloka ke-2:

SRIBHAGAWAVAN UVACHA: KAMYANAM KARMANAM NYASAM, SAMNYASAM KAVAYO VIDUH, SARVAKARMAPHALA TYAGAM, PRAHUS TYAGAM VICHAKSHANAH

artinya: “Sri Bhagawan (Sri Krisna) menjawab: Para Pandita menyatakan samnyasa, tidak melaksanakan kerja yang didorong nafsu, dan menolak pahala semua kerja, oleh orang arif bijaksana dikatakan tyaga”.

Menurut jumlah dan jenis upakara, maka upacara Yadnya ada tiga tingkat, yaitu: Utama, Madya, dan Kanista.

Pemilihan tingkat itulah berdasarkan konsep desa-kala-patra tadi. Tingkat upacara yang Kanista tidak berarti lebih rendah dari tingkat Madya dan Utama. Demikian pula tingkat yang Utama tidak berarti lebih super dari tingkat Madya dan Kanista.

Kembalilah pada bagian awal dari pembicaraan kita tadi bahwa diterima atau tidak diterimanya persembahan kita kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa, tergantung dari: ketulusan hati, kesucian pikiran/ perkataan/ perbuatan, dan kepasrahan kita kehadirat-Nya.

Mengenai pernyataan dan pertanyan yang kedua, Pandita menjelaskan sebagi berikut: Bhagawadgita Bab IV, tentang Jnana Yoga, sloka ke-11 berbunyi:

YE YATHA MAM PRAPADYANTE, TAMS TATHAI VA BHAJAMY AHAM, MAMA VARTMA NUVARTANTE, MANUSHYAH PARTHA SARVASAH

artinya: “Jalan mana pun ditempuh manusia, kearah-Ku semuanya Ku-terima, dari mana-mana semua mereka, menuju jalan Ku oh Parta”.

Dalam sloka ini Sri Krisna menyatakan kepada Arjuna (Parta) betapa Tuhan/ Ida Sanghyang Widhi Wasa menemui tiap orang yang mengharapkan karunia dari-Nya dan menerima mereka yang menempuh jalan-Nya.

Tuhan/ Ida Sanghyang Widhi Wasa tidak ingin menghapus harapan tiap-tiap orang yang tumbuh menurut kodratnya dan tidak memihak. Hanya pada masing-masing orang menurut jalan dan kepercayaannya sendiri untuk mencapai Tuhanlah terletak perbedaan, yang bukan merupakan pilihan-Nya.

Jalan upacara, jalan sembahyang, jalan falsafah, atau jalan meditasi semuanya menuju Tuhan/ Ida Sanghyang Widhi Wasa yang satu. Di sini Sri Krisna tidak menyebut cara atau jalan yang tertentu untuk mencapai hubungan dengan Tuhan/ Ida Sanghyang Widhi Wasa, sebab semuanya menuju Tuhan Yang Maha Esa.

Hanya orang yang belum tinggi tingkat spirituilnya tidak bisa mengakui cara atau jalan orang lain untuk mencapai Tuhan Yang Maha Esa.

Jadi kesimpulannya, sloka ini intinya memberi kebebasan tentang cara atau jalan yang dipilih manusia menuju Tuhan, dalam wujud pemahaman Agama Hindu, yaitu: Bhakti Marga, Karma Marga, Jnana Marga, dan Yogi (Raja) Marga, yang dapat dilakukan bersama-sama atau bertahap sesuai dengan kemampuan masing-masing individu.

Berkaitan dengan pertanyaan di atas, yang menyangkut tentang tatacara nganteb banten atau muput suatu upacara, haruslah diperhatikan kesucian lahir bathin dan tingkat jnananya. Kesucian lahir adalah kebersihan fisik dan tata berpakaian yang suci.

Mengenai kesucian bathin, antara lain ada pada Bhagawadgita Bab IV tentang Jnana Yoga, sloka ke-10 berbunyi:

VITA RAGA BHAYA KRODHA, MANMAYA MAM UPASRITAH, BAHAVO JNANA TAPASA, PUTA MADBHAVAM AGATAH

Artinya: “Terbebas dari hawa nafsu takut dan benci, bersatu dan berlindung pada-Ku, dibersihkan oleh kesucian budi pekerti, banyak yang telah mencapai diri-Ku”.

Selanjutnya Bhagawadgita Bab IX, tentang Raja Vidyaraja Guhya Yoga, sloka ke-34 berbunyi:

MANMANA BHAVA MADBHAKTO, MADYAJI MAM NAMASKURU, MAM EVAI SHYASI YUKTVAI VAM, ATMANAM MATPARAYANAH

artinya: “Pusatkan pikiranmu pada-Ku berbakti pada-Ku, bersujud pada-Ku sembahlah Aku, dan setelah engkau mendisiplinkan jiwamu, Aku jadi tujuanmu tertinggi kau akan tiba pada-Ku”.

Kemudian Bhagawadgita Bab XVII tentang Sraddhatraya Vibhaga Yoga, sloka ke-13 berbunyi:

VIDHIHINAM ASRISHTANNAM, MANTRAHINAM ADAKSHINAM, SRADDHAVIRAHITAM YAJNAM, TAMASAM PARICHAKSHATE

Artinya: “Upacara yang tidak menurut peraturan, di mana makanan tidak dihidangkan, tanpa ucapan mantra dan tanpa daksina, dan tanpa kepercayaan dinamakan tamasa”. (Tamasa artinya perbuatan yang bodoh dan malas).

Kesimpulannya adalah bahwa seseorang yang bertindak sebagai pemimpin upacara, yaitu “nganteb banten” bagi seorang Ekajati atau “muput karya” bagi seorang Dwijati hendaknya memperhatikan sloka-sloka tersebut di atas.

Bukan pakaian atau atribut lain yang menentukan seseorang boleh nganteb atau muput. Pakaian dan atribut yang dikenakan oleh seorang Pemangku atau seorang Pandita bukan untuk ditunjukkan kepada orang lain, tetapi justru untuk diri beliau sendiri.

Misalnya seorang Pandita rambutnya di-prucut, adalah sebagai simbol “ngeret indriya”, berpakaian putih/ kuning sebagai simbol kesucian, membawa tongkat (teteken) sebagai simbol sudah lingsir yang patut menjadi suri tauladan generasi muda.

Dengan berpakaian seperti itu beliau selalu mengingatkan diri sendiri agar waspada, “eling ring raga”, menjaga ucapan pikiran dan perbuatan tidak menyimpang dari Trikaya Parisuda.

Apabila orang tua kita sudah mampu mewujudkan sloka-sloka tersebut di atas, boleh saja nganteb banten.

Demikianlah jawaban ini disampaikan, semoga memuaskan.

Dicopy dari: http://stitidharma.org4//fc
zx
pzxsv9'

Kenapa di Hindu Banyak Sekali Melaksanakan Upacara Agama?

, , , ...

QUESTION:

Ida Pandita Sri Bhagawan yang saya hormati, saya ingin menyampaikan pengalaman saya ketika masih bertugas di luar Bali. Banyak teman-teman saya yang non-Bali bertanya, kenapa orang-orang Bali (Hindu) banyak sekali melaksanakan upacara-upacara agama, apakah memang begitu cara mereka beragama.

Jika demikian halnya alangkah banyak uang yang dikeluarkan untuk melaksanakan ajaran agama.

Pertanyaan teman saya ini tidak dapat saya jawab dengan tuntas, karena saya melihat kita di Bali memang demikian, banyak berupacara ini dan itu. Ketika itu saya hanya menjawab bahwa kita di Bali memang begitu sejak dahulu sebagaimana diturunkan oleh leluhur kita.

Pertanyaan saya kepada Ida Pandita Sri Bhagawan, apakah kita melaksanakan ajaran agama memang harus dengan banyak berupacara yang menghabiskan dana berjuta-juta?

ANSWER:

Terima kasih atas pertanyannya yang sangat bagus. Pandita akan mengawali penjelasan tentang adanya tiga kerangka agama Hindu, yaitu: Tattwa, Susila, dan Upacara.

Yang dimaksud dengan Tattwa adalah cara kita melaksanakan ajaran agama dengan mendalami pengetahuan dan filsafat agama.

Susila adalah cara kita beragama dengan mengendalikan pikiran, perkataan, dan perbuatan sehari-hari agar sesuai dengan kaidah-kaidah agama.

Upacara adalah kegiatan keagamaan dalam bentuk ritual Yadnya, yang dikenal dengan Panca Yadnya: Dewa, Rsi, Pitra, Manusa, dan Bhuta Yadnya.

Yang berkaitan dengan pertanyaan anda adalah kegiatan-kegiatan upacara yang lebih banyak terlihat dilaksanakan oleh umat Hindu di Bali, sedangkan segi-segi tattwa dan susila kurang diperhatikan, padahal menurut Weda Sruti, cara kita beragama di tiap “yuga” berbeda-beda.

Yuga adalah suatu siklus zaman yang lama waktunya di setiap zaman tidak menentu. Zaman keberadaan jagat raya ini dibagi dalam empat yuga, yaitu Kerta Yuga, Tritya Yuga, Dwipara Yuga, dan Kali Yuga.

Tiap periode (yuga) dikaitkan dengan unsur-unsur pokok:

1. Perimbangan jumlah penduduk (manusia) dengan alam (kamadhuk)
2. Pengaruh zaman pada sifat-sifat manusia
3. Sumber-sumber alam yang tersedia

Zaman Kerta disebut sebagai zaman yang paling stabil, yaitu penduduk yang tidak banyak, sifat-sifat manusia yang baik/ positif, dan tersedianya sumber-sumber alam yang melimpah.

Kestabilan itu selanjutnya makin berkurang sehingga di zaman Kali keadaan sudah jauh berbeda, terutama mengenai berkurangnya sumber-sumber alam, dan perilaku manusia yang makin jauh dari dharma.

Oleh karena itu Hyang Widhi melalui para Maha Rsi mengingatkan umat manusia agar pelaksanaan ajaran agama tidak sama pada setiap zaman.

Di zaman Kerta dan Tritya, pelaksanaan upacara-upacara yadnya dengan menggunakan sarana upakara (banten) lebih menonjol daripada pengetahuan agama (tattwa) dan susila karena:

1. Sumber-sumber alam masih melimpah
2. Tingkat kecerdasan manusia masih rendah di mana segi positifnya manusia belum mempunyai pikiran macam-macam (masih lugu) dan gampang dibimbing oleh para Maha Rsi untuk melaksanakan ajaran agama

Di zaman Dwipara, apalagi di zaman Kali seperti sekarang ini cara kita melaksanakan ajaran agama harusnya lebih menekankan segi tattwa dan susila daripada upacara karena:

1. Kemampuan alam menyediakan keperluan manusia berkurang disebabkan jumlah penduduk meningkat drastis sedangkan alam: lahan, tanaman dan binatang makin berkurang.

2. Kecerdasan manusia meningkat namun dengan berbagai dampak negatifnya seperti: sad-ripu (kama, lobha, kroda, mada, moha, dan matsarya) yang semakin menonjol, dan umat makin sulit dibimbing oleh para pemuka agama selain karena jumlah mereka terbatas, juga karena banyak umat yang tidak menyadari perlunya siraman rohani.

Umat lebih mementingkan kebutuhan materi seperti sandang, pangan, papan, tetapi kurang memperhatikan kesehatan rohani, padahal kesehatan rohani akan membawa manusia pada perasaan yang suci, tenang, damai, dan bahagia.

Dengan penjelasan di atas, Pandita ingin menyampaikan bahwa di zaman sekarang ini umat agar melaksanakan tiga kerangka agama Hindu dengan bobot yang lebih banyak pada segi pemahaman tattwa dan menjaga susila sebaik-baiknya.

Upacara-upacara Yadnya tetap perlu dilaksanakan namun diupayakan sesederhana mungkin dengan biaya upakara yang terjangkau oleh kemampuan masing-masing. Janganlah memaksakan diri mencari dana seperti menjual tanah warisan leluhur, mencari hutang yang besar, lebih-lebih dengan ber-KKN.

Di beberapa tempat ada penduduk suatu desa yang mencari dana membangun Pura atau melaksanakan upacara Yadnya dengan mengadakan tajen. Hal ini tentulah sangat bertentangan dengan ajaran agama, karena tajen adalah judi, dan judi dilarang dalam agama Hindu.

Para leluhur kita telah mengajarkan bahwa sesajen (banten) itu dapat disederhanakan. Oleh karena itu dilihat dari volumenya, bebanten dapat dikelompokkan pada tiga jenis, yaitu:

1. Banten yang alit
2. Banten yang madya
3. Banten yang utama

Banten sederhana (alit) tidaklah berati nilainya lebih rendah daripada yang madya dan utama, demikian sebaliknya. Yang menentukan sukses tidak suksesnya upacara Yadnya tidaklah terletak pada banten saja, tetapi yang lebih penting adalah niat berkorban dalam kesucian yang tulus dan iklas sebagaimana hakekat pengetian “Yadnya”.

Dalam konteks ini ada tiga jenis Yadnya, yaitu:

1. Satwika Yadnya
2. Rajasika Yadnya
3. Tamasika Yadnya

Satwika Yadnya adalah Yadnya yang dilaksanakan secara tulus, suci, dan sesuai dengan kemampuan.

Rajasika Yadnya adalah Yadnya yang didorong oleh keinginan menonjolkan diri seperti kekayaan, kekuasaan, dan hal-hal yang bersifat feodalisme: kebangsawanan, kesombongan, penonjolan soroh, dll.

Tamasika Yadnya adalah Yadnya yang dilaksanakan oleh orang-orang yang tidak mengerti pada tujuan Yadnya. Dengan demikian jelaslah bahwa Yadnya yang terbaik adalah Satwika Yadnya.

Mengenai bebanten, ada disebutkan dalam lontar Yadnya Prakerti bahwa kita mempersiapkan banten sesuai dengan Desa, Kala, dan Patra.

Yang dimaksud dengan Desa adalah menggunakan bahan-bahan banten yang berasal dari lingkungan tempat tinggal kita. Kala adalah waktu yang tersedia untuk menyiapkan banten, dan Patra adalah dana yang tersedia untuk membeli bahan-bahan.

Jika kita perhatikan sekarang, banyak sekali umat menggunakan bahan-bahan banten yang tidak berasal dari desa kita seperti buah apel, pir, anggur, dan lain-lain.

Buah-buahan lokal seperti sabo, manggis, ceroring, kepundung, wani, kucalcil. dll. hampir tidak nampak. Itu tandanya bahwa di kebun-kebun penduduk jenis buah-buahan itu sudah langka.

Selain itu busung, biu, bahkan bebek dan ayam sudah didatangkan dari luar Bali. Busung datang dari Lombok atau Sulawesi, biu, bebek, dan ayam ber ton-ton didatangkan dari Jawa.

Keadaan seperti ini hendaknya menjadi perhatian kita yang serius dengan mengambil langkah-langkah yang positif misalnya: menanami lahan-lahan dengan bahan-bahan banten seperti pisang, kelapa gading, bunga-bungaan, buah-buahan, dll. Para peternak/ petani lebih giat lagi memelihara binatang seperti ayam, bebek, babi dll.

Langkah lainnya kembali kepada bahasan di atas, yaitu buatlah sesajen atau banten dengan sederhana tetapi tidak menyimpang dari sastra-sastra agama sehingga semua umat dapat melaksanakan upacara yadnya sesuai dengan kemampuan keuangannya masing-masing.

Sekianlah jawaban Pandita, semoga memuaskan.

Dicopy dari: http://stitidharma.org

Biografi Presiden Soekarno

, , , ...

Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno yang biasa dipanggil Bung Karno, lahir di Blitar, Jawa Timur, 6 Juni 1901 dan meninggal di Jakarta, 21 Juni 1970. Ayahnya bernama Raden Soekemi Sosrodihardjo dan ibunya Ida Ayu Nyoman Rai. Semasa hidupnya, beliau mempunyai tiga istri dan dikaruniai delapan anak. Dari istri Fatmawati mempunyai anak Guntur, Megawati, Rachmawati, Sukmawati dan Guruh. Dari istri Hartini mempunyai Taufan dan Bayu, sedangkan dari istri Ratna Sari Dewi, wanita turunan Jepang bernama asli Naoko Nemoto mempunyai anak Kartika..

Masa kecil Soekarno hanya beberapa tahun hidup bersama orang tuanya di Blitar. Semasa SD hingga tamat, beliau tinggal di Surabaya, indekos di rumah Haji Oemar Said Tokroaminoto, politisi kawakan pendiri Syarikat Islam. Kemudian melanjutkan sekolah di HBS (Hoogere Burger School). Saat belajar di HBS itu, Soekarno telah menggembleng jiwa nasionalismenya. Selepas lulus HBS tahun 1920, pindah ke Bandung dan melanjut ke THS (Technische Hoogeschool atau sekolah Tekhnik Tinggi yang sekarang menjadi ITB). Ia berhasil meraih gelar "Ir" pada 25 Mei 1926.


Kemudian, beliau merumuskan ajaran Marhaenisme dan mendirikan PNI (Partai Nasional lndonesia) pada 4 Juli 1927, dengan tujuan Indonesia Merdeka. Akibatnya, Belanda, memasukkannya ke penjara Sukamiskin, Bandung pada 29 Desember 1929. Delapan bulan kemudian baru disidangkan. Dalam pembelaannya berjudul Indonesia Menggugat, beliau menunjukkan kemurtadan Belanda, bangsa yang mengaku lebih maju itu.

Pembelaannya itu membuat Belanda makin marah. Sehingga pada Juli 1930, PNI pun dibubarkan. Setelah bebas pada tahun 1931, Soekarno bergabung dengan Partindo dan sekaligus memimpinnya. Akibatnya, beliau kembali ditangkap Belanda dan dibuang ke Ende, Flores, tahun 1933. Empat tahun kemudian dipindahkan ke Bengkulu.

Setelah melalui perjuangan yang cukup panjang, Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945. Dalam sidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945, Ir.Soekarno mengemukakan gagasan tentang dasar negara yang disebutnya Pancasila. Tanggal 17 Agustus 1945, Ir Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Dalam sidang PPKI, 18 Agustus 1945 Ir.Soekarno terpilih secara aklamasi sebagai Presiden Republik Indonesia yang pertama.

Sebelumnya, beliau juga berhasil merumuskan Pancasila yang kemudian menjadi dasar (ideologi) Negara Kesatuan Republik Indonesia. Beliau berupaya mempersatukan nusantara. Bahkan Soekarno berusaha menghimpun bangsa-bangsa di Asia, Afrika, dan Amerika Latin dengan Konferensi Asia Afrika di Bandung pada 1955 yang kemudian berkembang menjadi Gerakan Non Blok.

Pemberontakan G-30-S/PKI melahirkan krisis politik hebat yang menyebabkan penolakan MPR atas pertanggungjawabannya. Sebaliknya MPR mengangkat Soeharto sebagai Pejabat Presiden. Kesehatannya terus memburuk, yang pada hari Minggu, 21 Juni 1970 ia meninggal dunia di RSPAD. Ia disemayamkan di Wisma Yaso, Jakarta dan dimakamkan di Blitar, Jatim di dekat makam ibundanya, Ida Ayu Nyoman Rai. Pemerintah menganugerahkannya sebagai "Pahlawan Proklamasi". (Dari Berbagai Sumber)

uye: Kerajaan yang besar dipimpin oleh orang yang bermulut besar, berbadan besar, bertingkah sangat besar, suka menunjukkan wibawa yang besar, dimasanya selalu ada bencana yang besar, anak buahnya punya keinginan yang besar, rakyat yang sengsara perutnya semakin mem besar, suka membiarkan masalah yang besar, suka muncul ketika ada event besar, seluruh pendukungnya menikmati harta yang sangat besar, dosanya sungguh besar.