What You Resist Persists
Saturday, December 17, 2011 11:18:58 AM
What You Resist Persists - (Carl Jung, 1875 - 1961)
Di suatu teras rumah yang luas dan terkesan mewah, Aidia dan Ares sedang duduk mengobrol. Mereka berdua tidak pernah berjumpa selama 5 tahun. Padahal mereka saling kenal sejak kuliah di Teknik Kimia Institut Teknologi Indonesia. Si laki-laki sempat menjadi Ketua Himpunan dan si wanita adalah pendukung setianya. Duet yang selalu harmonis dan diimpikan jurusan-jurusan lainnya.
Dahulu, mereka saling tertarik satu sama lain. Namun perbedaan agama membatasi keinginan untuk menjadi kekasih. Walaupun hati tidak dapat berpaut, mereka tetap menjaga cinta. Saling dukung dalam segala hal. Hingga tanpa perlu mengucapkan cinta, mereka berdua mengerti satu sama lain. Akhirnya timbul keadaan dimana bukan lagi eros tapi philia. Bentuk cinta yang lebih bermakna. Dia tidak hanya menuntut namun memikirkan untuk memberi. Hingga pada suatu titik, mereka tidak lagi merasa kecewa dengan penghalang yang ada. Namun mereka bahagia karena cinta mereka akan abadi selamanya. Tidak akan pernah terkoyak oleh perselisihan, tidak akan pernah ada masalah seperti pasangan kekasih lainnya. Cinta yang putih bersih, terbebas dari segala kekotoran batin.
Tidak dipungkiri, Aidia merasa bahagia dapat melihat kembali sosok Ares. Begitupun Ares, dia menikmati saat-saat bersama Aidia kembali. Ruang dan waktu tidak mengikis apapun yang hadir di hati mereka. Bahkan status masing-masing pihak pun, tidak menjadi peredam.
"Apa hukumnya jika seseorang mangkir dari nazar?", tanya Aidia pada Ares.
"Yang jelas, pasti akan selalu ditagih. Jika tidak juga mau memenuhi, yang terberat adalah kehidupannya menjadi berat."
"Bagaimana jika pernah bernazar menyangkut tempat, lalu saat ini ingin diubah?"
"Tidak masalah. Tempat diubah tidak apa, tapi yang menjadi inti tetap dikerjakan."
"Res, hidupku jadi aneh karena nazar yang belum 100% dipenuhi."
"Berjuanglah untuk memenuhinya."
"Selama ini selalu saja ada kendala untuk memenuhinya. Kendala dari luar atau dalam diriku sendiri. Namun aku mencoba untuk menyiasatinya dengan cara lain. Sedikit berhasil, namun tetap saja pada akhirnya Tuhan ingin aku 100% memenuhinya."
"Bersyukurlah masih diingatkan. Jangan lawan lagi. Laksanakanlah, Aidia."
"Doakan aku berhasil kali ini. Apapun rintangannya, apapun yang terjadi kali ini, aku akan memenuhinya."
"Doaku selalu menyertai kamu, sahabat."
"Thanks, Ares."
* * * * *
Ya Tuhan, sebenarnya aku masih sangat gamang dengan keadaan sekarang. Aku masih tidak mengerti mengapa semua ini bisa terjadi. Haruskah sekeras ini Engkau memperingati dan menagih nazar? Namun aku bersyukur telah Engkau ingatkan. Jika memang kali ini harus dilakukan, berilah kekuatan untuk menjalaninya. Apapun yang akan terjadi, aku pasrah pada-Mu.
"Jadi apa yang akan kamu lakukan di Belitong?"
Tiba-tiba Meli memecah lamunan Aidia.
"Jadi isteri yang baik saja."
"Lalu, apa tidak mencari kerja?"
"Tidak, cukup suami saja yang mencari kerja. Ada hal lain yang akan aku kerjakan."
"Harumnya pasti kegiatan sosial atau semacam begitulah. Seperti hobi kamu selama ini."
"Exactly."
"Ya ampun, Aidia! Dari dulu tidak pernah insyaf. Apa kamu tidak ingin hidup seperti teman-teman lain yang sudah berhasil? Punya rumah mewah, mobil banyak, anak-anak sekolah di sekolah ternama, bisa jalan-jalan ke luar negeri, bonus akhir tahun berlipat-lipat dari perusahaan, punya gadget yang canggih dan lain sebagainya."
"Tidak. Hidup aku sudah cukup bahagia. Bekerja, punya jabatan yang tinggi malah membuat aku tidak punya waktu untuk orang-orang terkasih. Punya harta yang banyak malah menjadi serakah dan tidak pernah bersyukur pada Tuhan. Jadi apa gunanya hidup jika seperti itu? Apakah tahta lebih penting daripada orang tua dan suami? Apakah harta lebih penting daripada rasa syukur dan ibadah?"
"Mengapa tiba-tiba jadi agamis begini?"
"Bukan agamis, aku tidak berbicara berdasarkan kitab suci manapun. Tidak pula mengutip ayat. Aku hanya berbicara menggunakan logika."
"Okelah, Aidia. Kamu itu adalah orang yang paling pantas mendapatkan tropi sosial karena jiwa sosialmu sangat besar. Namun sekaligus secangkir kopi pahit untuk merayakan kemiskinan."
"Miskin? Aku tidak merasa miskin. Apa parameter miskin? Aku tetap mencari harta, namun bukan harta yang binasa."
"Selamat! Kamu memang gila."
"Meli, siapakah yang gila: orang yang menikmati hidup dan berusaha tetap sadar dan berbuat yang terbaik di saat dia menerima anugerah nafas, ataukah orang yang menikmati hidup dengan hilang kesadaran dan menikmati kebahagiaan semu dari semua kemewahan yang dia peroleh dari uang?"
"Kita memang beda pandangan. Kamu itu terlalu idealis, tidak realis. Bagaimana pun hidup butuh uang, Aidia."
"Semua konsep tentang uang itu hanya ciptaan manusia, Meli."
"Apa kamu mau kita kembali ke jaman batu? Barter? Hidup di gua-gua? Berburu, menambang, bertani dan menangkap ikan?"
"Jelas! Kehidupan normal adalah seperti itu. Mengambil secukupnya dari alam untuk makan 1 hari. Tidak berlebihan. Tidak pula serakah."
"Kamu itu benar-benar gila. Mana ada orang yang ingin kembali ke jaman itu?"
"Ada! Aku dan yakin ada orang lain yang ingin seperti itu. Era industrialis ini justru yang edan! Manusia menjadi serakah. Eksploitasi alam besar-besaran. Tidak memperhatikan kelestarian lingkungan. Hutan dibabat habis untuk perumahan, mal, dan bangunan-bangunan lain yang fungsinya tidak jelas. Mental manusia menjadi rusak."
"Kita ini memang sedang mengalami kemajuan. Indonesia adalah negara berkembang."
"Berkembang ke arah mana? Perbaikan atau kehancuran? Bukankah kamu kerja di Dinas Kehutanan? Cobalah sadari apa yang terjadi di balik angka-angka yang kamu olah setiap hari. Cobalah turun ke lapangan dan carilah pembuktian apa yang sedang terjadi saat ini. Sadarlah, Meli! Sadar!"
Setelah terdiam sejenak, Meli menjawab sambil menerawang.
"Ya... Aku sering turun ke lapangan. Memang benar hutan Samarinda sekarang tidak seperti dulu."
Meli tertunduk merenung.
* * * * *
As you resist what has appeared, you adding more energy and more power to those pictures you don't like, and you are bringing more of them at a furious rate. The event or circumstances can only get bigger, because that is the law of the Universe. - (The Secret)
Mungkin aku salah selama ini. Apa yang ditentang, pada akhirnya akan balik menghantam diri kita. Jadi bagaimana seharusnya bersikap? Padahal ada hal-hal yang memang tidak baik terjadi di sekeliling. Haruskah diam? Atau adakah cara lain?
People believe that if we really want to eliminate something, focus on that. How much sense does it make for us to give the particular problem all of the energy, as opposed to focusing on trust, love, living in abundance, education, or peace? - (Lisa Nichols)
Fokus pada percaya, cinta, hidup dalam kelimpahan, pendidikan dan kedamaian. Benar, apa yang ditulis Lisa memang benar. Jika kita selalu menjadi pihak yang menyerukan kata ANTI, maka energi untuk melakukan hal yang ditentang akan semakin besar. Namun jika mencurahkan seluruh energi untuk percaya bahwa hal itu akan segera berubah, memberikan cinta pada pelaku-pelakunya, selalu mensyukuri keadaan seburuk apapun, tidak hanya berseru-seru namun melakukan sesuatu lewat mendidik para pelaku untuk melakukan hal yang lebih baik, menciptakan kedamaian, maka tidak mustahil segala keadaan pasti berubah. Di dunia ini, tidak ada yang abadi. Jika kita menginginkan perubahan, maka bukan orang lain yang harus diubah, tapi cara pandang kita.
I will never attend an anti-war rally. If you have a peace rally, invite me. - (Mother Teresa)
Baiklah, aku harus meniru Mother Teresa. Itulah cara yang benar untuk bersikap. Menempatkan diri pada pihak penentang, namun tidak memberikan kesempatan untuk lawan memperbesar energinya. Dengan damai, dengan kerja keras, beliau membuktikan pada dunia bahwa mungkin untuk menciptakan kedamaian di muka Bumi ini. Beliau memberi teladan bagaimana melayani orang lain tanpa ego. Lebih mementingkan kepentingan orang lain di atas kepentingannya sendiri. Seorang wanita yang luar biasa tegar dan keras hatinya.
Era industrialis yang sangat meresahkan ini bisa diperangi dengan tidak memberinya energi untuk bertahan. Bisa, pasti bisa. Asalkan terus percaya, mujijat itu pasti terjadi. Dari seluruh penjuru dunia sudah banyak orang yang mulai mengambil tindakan nyata. Suatu saat, perjuangan kami pasti berhasil. Suatu saat, kami semua akan bersatu. Laskar-laskar perubahan yang tidak ingin kehidupan ini binasa karena kebodohan manusia. Memang kiamat besar akan terjadi suatu saat nanti, namun bukan saat ini. Kiamat besar bukan akibat kebodohan semata, namun karena semua orang telah terbebaskan dari penderitaan. Mereka telah mampu bertemu muka dengan Sang Pencipta sehingga tidak ada lagi alasan untuk mengulang kembali kehidupan dan memperbaiki kesalahan. Mereka semua telah berjajar di Taman Firdaus. Ketika itulah kehidupan akan di-reset.
Ya Tuhan, berilah kekuatan pada kami, untuk memerangi hal-hal yang kurang baik dengan cara yang benar. Luaskan sabar kami seluas samudera di muka Bumi ini, agar dapat terus berjuang. Demi terjaganya kelestarian alam yang Kau anugerahi pada kami. Demi tegaknya kembali moral bangsa Indonesia. Demi bersatunya Bumi Nusantara dari Sabang sampai Merauke. Tidak ada lagi penderitaan. Semoga semua mahluk berbahagia. Semoga semua mahluk merasakan kedamaian. Semoga semua mahluk hidup dalam keharmonisan. Semoga semua mahluk terbebaskan.









