Aidia is My Idea

Designed by @Suntana...

Subscribe to RSS feed

Sticky post

"Aidia is My Idea" is Back...!!!

Hidup itu aneh tapi menyenangkan. Kadang terasa begitu menyebalkan ketika segala hal tidak berjalan sesuai rencana. Namun jadi begitu menarik ketika segala sesuatu ada dalam kendali. Senang kita bisa berjumpa lagi. Aku pun sangat merindukan dunia menulis, amat merinduinya. Apa yang membuatku sejenak menghilang tidak perlu dibahas. Mari kita buka lembaran baru di blog ini. Aidia is My Idea kembali teman...
Life is weird but fun. Sometimes it feels so frustrating when things do not run according to plan. But to be so interesting when everything is in control. Glad we could meet again. I also really miss the world of writing, very miss it. What made me momentarily disappeared not need to be discussed. Let us open a new page on this blog. Aidia is My Idea is back friend...


Anggap saja 16 Juli 2011 ini adalah titik nol Aidia is My Idea. Semua tulisan di My Opera yang dipublikasikan sebelum hari ini kita anggap saja sebagai latihan menulis. Teman, bolehkah aku menuliskan ulang ide-ide masa lalu? Tentu aku takkan mampu menuliskan kata per kata sama seperti dulu. Namun akan kucoba mengingat kembali topik-topiknya. Akan kucoba menampilkan tulisan-tulisan itu dengan sudut pandang yang berbeda. Hasilnya lebih baik atau malah buruk, kalianlah jurinya.
Deem this July 16, 2011 as the Aidia is My Idea zero point. All posts in My Opera which published before today we think of it as a writing exercise. Friends, can I rewrite the ideas of the past? Of course I would not be able to write word by word the same as before. But I'll try to recall the topics. I'll try to show these writings with a different perspective. The result is better or even worse, you are the jury.

Terima kasihku tak berujung untukmu teman, keluarga, semua pihak yang membantuku melalui masa-masa sulit. Terima kasih. Ijinkan aku meluaskan terima kasih dan memberi hormat pada kalian lewat kata-kata. Mari segera kita mulai reuni tulisan ini.
Endless gratitude to you friends, family, all parties those who helped me through the difficult times. Thank you. Allow me to extend thanks and salute to you in words. Let us begin immediately this writing reunion.

Kesembuhan Bagi yang Hancur

Apa kehidupanmu hancur?



Ada kalanya seseorang akan merasakan suatu kesenangan dalam hidupnya. Namun tidak jarang pula kesedihan datang mendera. Itulah hidup, jika ada puncak maka akan diikuti suatu lembah. Teman, jika kau merasa hidupmu hancur, percayalah hal ini akan segera berubah. Akan ada pelangi setelah hujan. Akan ada kebahagiaan setelah penderitaan.

Bersabar, bersabarlah menjalani apapun yang terasa berat di saat ini. Tuhan tahu. Ya, Dia tahu tapi membiarkannya. Bukan karena Dia tidak sayang, namun karena Dia sangat menyayangi kita. Penderitaan yang dirasakan saat ini, hanyalah sementara. Semua akan indah pada waktu-Nya. Bersabarlah, teman.

Pada saat-Nya nanti, akan ada kesembuhan bagi yang hacur. Jadi bersabarlah. Luaskan sabarmu seluas samudera. Walau rasanya berat, bersyukurlah. Bersyukur masih tetap diberi nafas, masih tetap hidup. Artinya masih diberi kesempatan untuk merasakan kebahagiaan.

Read more...

What You Resist Persists

What You Resist Persists - (Carl Jung, 1875 - 1961)



Di suatu teras rumah yang luas dan terkesan mewah, Aidia dan Ares sedang duduk mengobrol. Mereka berdua tidak pernah berjumpa selama 5 tahun. Padahal mereka saling kenal sejak kuliah di Teknik Kimia Institut Teknologi Indonesia. Si laki-laki sempat menjadi Ketua Himpunan dan si wanita adalah pendukung setianya. Duet yang selalu harmonis dan diimpikan jurusan-jurusan lainnya.

Dahulu, mereka saling tertarik satu sama lain. Namun perbedaan agama membatasi keinginan untuk menjadi kekasih. Walaupun hati tidak dapat berpaut, mereka tetap menjaga cinta. Saling dukung dalam segala hal. Hingga tanpa perlu mengucapkan cinta, mereka berdua mengerti satu sama lain. Akhirnya timbul keadaan dimana bukan lagi eros tapi philia. Bentuk cinta yang lebih bermakna. Dia tidak hanya menuntut namun memikirkan untuk memberi. Hingga pada suatu titik, mereka tidak lagi merasa kecewa dengan penghalang yang ada. Namun mereka bahagia karena cinta mereka akan abadi selamanya. Tidak akan pernah terkoyak oleh perselisihan, tidak akan pernah ada masalah seperti pasangan kekasih lainnya. Cinta yang putih bersih, terbebas dari segala kekotoran batin.

Tidak dipungkiri, Aidia merasa bahagia dapat melihat kembali sosok Ares. Begitupun Ares, dia menikmati saat-saat bersama Aidia kembali. Ruang dan waktu tidak mengikis apapun yang hadir di hati mereka. Bahkan status masing-masing pihak pun, tidak menjadi peredam.

"Apa hukumnya jika seseorang mangkir dari nazar?", tanya Aidia pada Ares.

"Yang jelas, pasti akan selalu ditagih. Jika tidak juga mau memenuhi, yang terberat adalah kehidupannya menjadi berat."

"Bagaimana jika pernah bernazar menyangkut tempat, lalu saat ini ingin diubah?"

"Tidak masalah. Tempat diubah tidak apa, tapi yang menjadi inti tetap dikerjakan."

"Res, hidupku jadi aneh karena nazar yang belum 100% dipenuhi."

"Berjuanglah untuk memenuhinya."

"Selama ini selalu saja ada kendala untuk memenuhinya. Kendala dari luar atau dalam diriku sendiri. Namun aku mencoba untuk menyiasatinya dengan cara lain. Sedikit berhasil, namun tetap saja pada akhirnya Tuhan ingin aku 100% memenuhinya."

"Bersyukurlah masih diingatkan. Jangan lawan lagi. Laksanakanlah, Aidia."

"Doakan aku berhasil kali ini. Apapun rintangannya, apapun yang terjadi kali ini, aku akan memenuhinya."

"Doaku selalu menyertai kamu, sahabat."

"Thanks, Ares."


* * * * *


Ya Tuhan, sebenarnya aku masih sangat gamang dengan keadaan sekarang. Aku masih tidak mengerti mengapa semua ini bisa terjadi. Haruskah sekeras ini Engkau memperingati dan menagih nazar? Namun aku bersyukur telah Engkau ingatkan. Jika memang kali ini harus dilakukan, berilah kekuatan untuk menjalaninya. Apapun yang akan terjadi, aku pasrah pada-Mu.

"Jadi apa yang akan kamu lakukan di Belitong?"

Tiba-tiba Meli memecah lamunan Aidia.

"Jadi isteri yang baik saja."

"Lalu, apa tidak mencari kerja?"

"Tidak, cukup suami saja yang mencari kerja. Ada hal lain yang akan aku kerjakan."

"Harumnya pasti kegiatan sosial atau semacam begitulah. Seperti hobi kamu selama ini."

"Exactly."

"Ya ampun, Aidia! Dari dulu tidak pernah insyaf. Apa kamu tidak ingin hidup seperti teman-teman lain yang sudah berhasil? Punya rumah mewah, mobil banyak, anak-anak sekolah di sekolah ternama, bisa jalan-jalan ke luar negeri, bonus akhir tahun berlipat-lipat dari perusahaan, punya gadget yang canggih dan lain sebagainya."

"Tidak. Hidup aku sudah cukup bahagia. Bekerja, punya jabatan yang tinggi malah membuat aku tidak punya waktu untuk orang-orang terkasih. Punya harta yang banyak malah menjadi serakah dan tidak pernah bersyukur pada Tuhan. Jadi apa gunanya hidup jika seperti itu? Apakah tahta lebih penting daripada orang tua dan suami? Apakah harta lebih penting daripada rasa syukur dan ibadah?"

"Mengapa tiba-tiba jadi agamis begini?"

"Bukan agamis, aku tidak berbicara berdasarkan kitab suci manapun. Tidak pula mengutip ayat. Aku hanya berbicara menggunakan logika."

"Okelah, Aidia. Kamu itu adalah orang yang paling pantas mendapatkan tropi sosial karena jiwa sosialmu sangat besar. Namun sekaligus secangkir kopi pahit untuk merayakan kemiskinan."

"Miskin? Aku tidak merasa miskin. Apa parameter miskin? Aku tetap mencari harta, namun bukan harta yang binasa."

"Selamat! Kamu memang gila."

"Meli, siapakah yang gila: orang yang menikmati hidup dan berusaha tetap sadar dan berbuat yang terbaik di saat dia menerima anugerah nafas, ataukah orang yang menikmati hidup dengan hilang kesadaran dan menikmati kebahagiaan semu dari semua kemewahan yang dia peroleh dari uang?"

"Kita memang beda pandangan. Kamu itu terlalu idealis, tidak realis. Bagaimana pun hidup butuh uang, Aidia."

"Semua konsep tentang uang itu hanya ciptaan manusia, Meli."

"Apa kamu mau kita kembali ke jaman batu? Barter? Hidup di gua-gua? Berburu, menambang, bertani dan menangkap ikan?"

"Jelas! Kehidupan normal adalah seperti itu. Mengambil secukupnya dari alam untuk makan 1 hari. Tidak berlebihan. Tidak pula serakah."

"Kamu itu benar-benar gila. Mana ada orang yang ingin kembali ke jaman itu?"

"Ada! Aku dan yakin ada orang lain yang ingin seperti itu. Era industrialis ini justru yang edan! Manusia menjadi serakah. Eksploitasi alam besar-besaran. Tidak memperhatikan kelestarian lingkungan. Hutan dibabat habis untuk perumahan, mal, dan bangunan-bangunan lain yang fungsinya tidak jelas. Mental manusia menjadi rusak."

"Kita ini memang sedang mengalami kemajuan. Indonesia adalah negara berkembang."

"Berkembang ke arah mana? Perbaikan atau kehancuran? Bukankah kamu kerja di Dinas Kehutanan? Cobalah sadari apa yang terjadi di balik angka-angka yang kamu olah setiap hari. Cobalah turun ke lapangan dan carilah pembuktian apa yang sedang terjadi saat ini. Sadarlah, Meli! Sadar!"

Setelah terdiam sejenak, Meli menjawab sambil menerawang.

"Ya... Aku sering turun ke lapangan. Memang benar hutan Samarinda sekarang tidak seperti dulu."

Meli tertunduk merenung.


* * * * *


As you resist what has appeared, you adding more energy and more power to those pictures you don't like, and you are bringing more of them at a furious rate. The event or circumstances can only get bigger, because that is the law of the Universe. - (The Secret)



Mungkin aku salah selama ini. Apa yang ditentang, pada akhirnya akan balik menghantam diri kita. Jadi bagaimana seharusnya bersikap? Padahal ada hal-hal yang memang tidak baik terjadi di sekeliling. Haruskah diam? Atau adakah cara lain?

People believe that if we really want to eliminate something, focus on that. How much sense does it make for us to give the particular problem all of the energy, as opposed to focusing on trust, love, living in abundance, education, or peace? - (Lisa Nichols)



Fokus pada percaya, cinta, hidup dalam kelimpahan, pendidikan dan kedamaian. Benar, apa yang ditulis Lisa memang benar. Jika kita selalu menjadi pihak yang menyerukan kata ANTI, maka energi untuk melakukan hal yang ditentang akan semakin besar. Namun jika mencurahkan seluruh energi untuk percaya bahwa hal itu akan segera berubah, memberikan cinta pada pelaku-pelakunya, selalu mensyukuri keadaan seburuk apapun, tidak hanya berseru-seru namun melakukan sesuatu lewat mendidik para pelaku untuk melakukan hal yang lebih baik, menciptakan kedamaian, maka tidak mustahil segala keadaan pasti berubah. Di dunia ini, tidak ada yang abadi. Jika kita menginginkan perubahan, maka bukan orang lain yang harus diubah, tapi cara pandang kita.

I will never attend an anti-war rally. If you have a peace rally, invite me. - (Mother Teresa)



Baiklah, aku harus meniru Mother Teresa. Itulah cara yang benar untuk bersikap. Menempatkan diri pada pihak penentang, namun tidak memberikan kesempatan untuk lawan memperbesar energinya. Dengan damai, dengan kerja keras, beliau membuktikan pada dunia bahwa mungkin untuk menciptakan kedamaian di muka Bumi ini. Beliau memberi teladan bagaimana melayani orang lain tanpa ego. Lebih mementingkan kepentingan orang lain di atas kepentingannya sendiri. Seorang wanita yang luar biasa tegar dan keras hatinya.

Era industrialis yang sangat meresahkan ini bisa diperangi dengan tidak memberinya energi untuk bertahan. Bisa, pasti bisa. Asalkan terus percaya, mujijat itu pasti terjadi. Dari seluruh penjuru dunia sudah banyak orang yang mulai mengambil tindakan nyata. Suatu saat, perjuangan kami pasti berhasil. Suatu saat, kami semua akan bersatu. Laskar-laskar perubahan yang tidak ingin kehidupan ini binasa karena kebodohan manusia. Memang kiamat besar akan terjadi suatu saat nanti, namun bukan saat ini. Kiamat besar bukan akibat kebodohan semata, namun karena semua orang telah terbebaskan dari penderitaan. Mereka telah mampu bertemu muka dengan Sang Pencipta sehingga tidak ada lagi alasan untuk mengulang kembali kehidupan dan memperbaiki kesalahan. Mereka semua telah berjajar di Taman Firdaus. Ketika itulah kehidupan akan di-reset.

Ya Tuhan, berilah kekuatan pada kami, untuk memerangi hal-hal yang kurang baik dengan cara yang benar. Luaskan sabar kami seluas samudera di muka Bumi ini, agar dapat terus berjuang. Demi terjaganya kelestarian alam yang Kau anugerahi pada kami. Demi tegaknya kembali moral bangsa Indonesia. Demi bersatunya Bumi Nusantara dari Sabang sampai Merauke. Tidak ada lagi penderitaan. Semoga semua mahluk berbahagia. Semoga semua mahluk merasakan kedamaian. Semoga semua mahluk hidup dalam keharmonisan. Semoga semua mahluk terbebaskan.

Perjalanan Terakhir 2011 (2011 Last Trip)

Ternyata memang benar Tuhan menyukai orang-orang yang penyabar. Sabar, sabar dan sabar selama 32 tahun, akhirnya berbuah manis. Kaktus berduri kini bunganya telah tampak, ulat telah berubah menjadi kupu-kupu cantik, semua hal yang awalnya tampak tidak adil dalam sekejap berganti menjadi anugerah yang tidak terkira. Hingga tak ada kata-kata yang mampu mewakili keindahan dan nikmat yang Dia berikan.

Tuhan, terima kasih untuk semua anugerah-Mu. Kau sungguh baik. Ketika Kau pojokkan hingga ujung batas kemampuan, awalnya aku berpikir Kau sungguh tidak adil. Namun setelah hujan badai berlalu, kudapat melihat pelangi kasih-Mu. Kau buktikan bahwa mujizat-Mu ada. Mujizat-Mu benar-benar nyata. Tak ada satupun hal yang Kau lewatkan, semua yang dahulu pernah kuminta dengan air mata, kini Kau sajikan dalam nampan kebahagiaan.

Dalam heningnya pagi, dalam doa setelah Sholat Subuh, diri ini merasakan sensasi ringan. Seluruh semesta tertunduk hidmat dalam sunyi pada Dia sang pencipta Pagi. Suasana yang membawaku hingga pada satu titik puncak kehidupan, Tuhan. Di hadapan-Nya, semua hal terasa damai. Antara jasmani dan mental mulai tampak selaput pembatas. Ada perasaan cinta yang berlimpah-limpah membungkus seluruh badan, dari ujung kepala hingga ujung kaki. Disusul sensasi getaran listrik yang sangat halus.

Inilah perasaan-perasaan yang menyenangkan. Tenang seimbang... Jangan mengharapkan perasaan menyenangkan untuk tetap tinggal dan tidak menolak perasaan tidak menyenangkan. Tenang... Seimbang...

Tiba-tiba terdengar suara alarm dari Nokia 5000d. Sudah saatnya memulai aktivitas rutin. Bersiap-siap menghadapi keruhnya udara Jakarta yang dipenuhi polutan. Hidup memang butuh perjuangan. Sebuah SMS dari seorang teman menanti untuk dibaca.

How are you, babe? Are you happy? Hasan is trying to contact Trevor. Do you have Trevor's email?
Sender: Wieland Furrer
Sent: 11:55:06PM
14 Dec 2011

I'm healthy and happy, darling. Yes, I know how to contact Trevor. Here it is trevoraclauss@gmail.com or Skype account trevor.clauss. Now he is in Singapore and waiting his visa approved by Burma government. Trevor want to go to the monastery and become to be a monk for a year first. If he feels comfortable, then continue for rest of his life. Please pass the greeting to Hasan.
Sent to: Wieland Furrer
Sent: 06:05:07AM
Today

"Ayo, temani Dad sarapan."

Tiba-tiba Dad sudah ada di depan pintu kamar.

"Ok."

Kami pun menuruni tangga berdua, menuju ruang makan. Penasaran dengan sajian apa yang akan kami dapati pagi ini. Tidak lama kemudian Mom pun turun dan bergabung bersama kami. Suasana pagi yang menyenangkan, dapat kumpul bersama Dad dan Mom. Sambil sarapan kami bersenda gurau atau hanya sekedar mengobrol tentang hal apapun. Ada kalanya kami membahas tentang pekerjaan Mom, di saat lain membahas pekerjaanku, sering pula Dad yang bercerita tentang tempat kerjanya.

Benar-benar momen kebersamaan pagi yang sangat berharga. Kami dapat mengobrol seperti ini kembali besok pagi. Itulah realita roda kesibukan kota Metropolitan. Memberdayakan anugerah waktu namun sekaligus mematikan kesempatan memberi waktu untuk orang-orang terkasih.

Target. Itulah yang ada di pikiran setiap orang di kota-kota besar. Bekerja sudah seperti nafas, hingga tingkat kesadaran untuk semua aktivitas tidak terkontrol. Lupa, tidak konsentrasi dan akhirnya lelah. Itulah yang menjadi teman akrab penghuni kota besar. Wajah-wajah tidak bahagia tampak dimana-mana. Frustasi menggantung di mata orang-orang. Tampang cantik dan tampan, parfum semerbak, busana nan rupawan, aksesoris yang memikat, dan gadget dengan harga selangit, namun jelas mereka tidak menikmati semua itu. Lalu apa artinya semua kemewahan itu?


* * * * *


"Jadi kapan lagi kita rapat untuk lebih memantau kemajuan projek?"

Tanya Hendrik, rekan satu tim di JATAM.

Hendrik orang yang menyenangkan. Di usianya yang masih terbilang muda, dia sudah menduduki jabatan yang penting di Jaringan Advokasi Tambang (JATAM). Dia orang yang sangat rajin, kritis, pandai dan selalu memiliki ide-ide yang brilian. Kami bekerja sama menggarap projek Menyelamatkan Paru-Paru Sumba.

"Setelah aku kembali dari Kalten dan Tegal ya..."

"Kapan?"

"Awal Januari 2012."

"Waduh! Kelamaan kalee."

"Tidak, tenang saja. Asalkan semua berjalan lancar, maka Time Schedule bisa terpenuhi. Tenang."

"Oke deh, kalau begitu. Emang ada acara apa di Klaten dan Tegal?"

"Hmmm ini adalah perjalanan terakhir di penghujung tahun 2011. Kisah pencarian akan ditutup di Klaten."

"Apa maksudnya neh? Aku tidak mengerti."

"Panjang, Drik, ceritanya. Intinya ini adalah perjalanan terakhir aku deh dan ini adalah perjalanan yang sangat penting. Setelah itu ada kehidupan baru yang akan dijalani."

"Jadi nikahnya kapan?"

"Insyaallah Februari 2012. Mohon doanya, agar semua lancar dan kami selalu jadi pasangan yang bahagia hingga akhir."

"Amin. Aku doain jadi rumah tangga yang SaMaWa."

"Thanks, Hendrik."

"Aku pulang ya... Sampai bertemu lagi tahun depan. Selamat sore."

"Hati-hati, Aidia. Siapa yang antar ke depan?"

"Tenang saja. Ada Sultan dan Iis. Bye."

Perjalanan terakhir... Perjalanan untuk memenuhi janji. Perjalanan untuk mengisi baterai kehidupan yang tergerus gelombang-gelombang ketidakseimbangan. Perjalanan untuk lebih menguasai pelajaran tentang menciptakan kolam ketenangan batin. Kembali belajar cara-cara memelihara batin agar tetap tenang seimbang. Sadar akan semua sensasi yang timbul. Belajar mengendalikan pikiran, bukan dikendalikan pikiran. Belajar mengenali hawa nafsu dan tahu mana yang patut dipenuhi dan mana yang harus dikekang. Sekali lagi menghadapi ujian kesakitan dan kesabaran sehingga benar-benar paham arti dari lautan kesabaran. Pasrah dan hidup hanya untuk hari ini.

Klaten dan Tegal akan jadi tempat menimba ilmu terakhir. Tahun depan, 2012, sudah saatnya mempraktekkan apapun yang sudah dipelajari selama 32 tahun. Walau pada hakikatnya proses belajar tidak akan pernah berhenti. Namun di rumah terakhir itulah, rumah tepi laut yang selalu diidam-idamkan, aku memilih menghentikan pencarian. Apa yang dicari telah didapat. Apa yang diminta telah dipenuhi. Selanjutnya adalah nazar yang sempat terputus yang harus digenapi, hingga terpenuhi semua janji.


* * * * *


"Serius mau nikah lagi? Apa tidak kapok?"

Pertanyaan Andry, sang koordinator Jatam, terngiang-ngiang malam ini. Memang ada sedikit takut terselip di relung hati terdalam. Mampukah aku melalui kehidupan yang baru nanti?

Tiba-tiba tersadar. "Nanti" adalah masa depan. Untuk apa mengkhawatirkan masa depan? Selalulah hidup untuk hari ini. Selalulah sadar untuk apapun yang dikerjakan dan dirasakan. Hidup bukan masalah yang harus dipecahkan, tapi realita yang harus dijalani. Ah... sekali lagi aku hampir terkecoh. Hampir mengoyak kolam sendiri.

Berubah, semua perasaan pasti berubah. Malam itu aku belajar menikmati rasa takut. Memperhatikannya, mengenali rupanya, menikmatinya, lalu sadar akhirnya dia pergi. Itulah hukum alam, semua pasti berubah.

Terminal terakhir dalam hidup telah ditemukan. Apa yang harus dikerjakan sudah jelas. Sekarang yang terpenting adalah sabar dan tetap tenang seimbang. Jalani hari demi hari hingga tiba pada saatnya memulai hidup baru kembali. Tampak jelas sebuah buku kosong menanti di depan sana. Dia menanti diisi dengan kisah-kisah baru. Kisah-kisah yang penuh semangat positif.

Praise and bless everything in the world, and you will dissolve negativity and discord and align yourself with the highest frequency -- LOVE! (Lisa Nichols)



(c) 2011, Aidia is My Idea

Terminal Penumpang Laskar Pelangi

,

Jurnal Perjalanan @Tanjung Pandan, Belitung
Senin, 19 September 2011
Travel Journal @Tanjung Pandan, Belitung
Monday, 19 September 2011



I LOVE MONDAY!! Hari Senin yang menyenangkan, dapat berkumpul bersama teman-teman Telapak. Terlebih lagi, Mr. Glen adalah orang yang sangat menyenangkan dan selalu menceritakan banyak hal. Dia juga mau membagikan pengetahuannya tentang cara menanam yang baik. Selain itu banyak hal yang bisa saya pelajari dari pengalamannya sebagai pemimpin Telapak Belitung.



Di temani secangkir kopi pahit khas Belitung dan sekotak Dunkin Donuts, kami asyik membahas banyak hal. Sekali-kali disela oleh panggilan telepon. Ramses, si kekar yang kemayu, baru saja tiba dari Bogor. Dia asyik menyapa ular Sanca kesayangannya. Rizky, si cantik yang pandai memasak, asyik melayani kami. Suasana di Kedai Telapak ini begitu hangat dan kekeluargaan. Tambah menyenangkan karena kami bisa online dan menyapa teman-teman lainnya di Bogor, Samarinda, Jakarta, Belanda, Denmark, Mexico, Venezuela dan tempat lainnya di berbagai belahan dunia.



Tiba-tiba suatu panggilan telepon masuk ke HP Mr. Glen. Ada kiriman paket dari Bangka untuk beliau yang harus diambil di Pelabuhan. Mr. Glen mengajakku jalan-jalan ke Pelabuhan.



Terminal Penumpang Laskar Pelangi adalah terminal yang baru didirikan di tahun 2011. Dengan warna-warna menyala, membuatnya menjadi bangunan paling indah di Pelabuhan Laut Tanjung Pandan. Selain terminal penumpang, ada juga pelabuhan untuk kapal-kapal kargo dan kapal penumpang.



Terminal Penumpang Laskar Pelangi khusus untuk kapal express dengan tujuan Belitung - Batam - Palembang. Ada dua kapal yang beroperasi, yaitu Marina Bahari dan Express Batam. Kapasitas penumpang yang dapat diangkut dalam kapal-kapal ini sekitar 150 penumpang beserta barang bawaan. Terminal tersebut berada di muara sungai Cerucuk. Tempat yang menarik dan menyenangkan dikunjungi bila Anda sedang bermain di Tanjung Pandan. Apalagi jika Anda punya hobi mengamati orang-orang. Dari tempat ini bisa mengamati aktivitas bongkar muat barang, penumpang yang naik turun, lelang ikan, serta aktivitas di gudang ikan.



Aidia is My Idea @Tanjung Pandan, Belitung