Ramadhan di Negeri Asing
Sunday, August 21, 2011 1:52:58 AM
Berbagai tempat dikunjungi. Mulai dari sekedar mencari inspirasi untuk ditulis, merenung, memperhatikan pola kehidupan dan kebiasaan masyarakat Gantung, mengobservasi dan menganalisa permasalahan individu per individu, berkenalan dengan orang-orang baru, mengamati lingkungan, hingga berusaha mencari solusi untuk masa depan.
Awal berada di Gantung, terus terang saya sedikit sulit beradaptasi dengan cuaca. Sinar matahari begitu ganas mencumbui tiap benda yang ditemuinya. Karpet pasir mineral menambah tinggi suhu bagaikan efek rumah kaca, mereka menyerap energi Sang Apollo dan berfungsi sebagai konduktor panas. Hutan yang hilang secara gaib, dicari dari ujung ke ujung pun tidak ditemukan. Ah... Inilah potret wajah Ibu Pertiwi di Negeri Laskar Pelangi.
Begitu banyak orang hidup penuh dengan penderitaan, padahal Negeri ini begitu kaya. Ironi yang menunjukkan sisi humoris Tuhan. Dia sediakan suatu kekayaan melimpah dan membiarkan umatNya yang mengelola. Apa yang terjadi seterusnya, Dia hanya tersenyum memperhatikan. Dia tahu begitu banyak penderitaan, tapi Dia diam untuk menguji ketangguhan dan kesabaran umatNya.
Begitu banyak anak-anak yang tingkat pendidikannya masih tergolong rendah. Ada yang ingin meneruskan kuliah tapi tidak ada biaya. Ada juga yang dengan sukarela meninggalkan bangku sekolah demi beberapa kilogram timah setiap harinya, dengan menggadaikan nyawa. Timah di Negeri ini bagai dua sisi mata uang logam, berkah sekaligus kutukan.
Pernah suatu kali begitu hanyut dalam penderitaan mereka. Begitu sesak dada ini hingga tak tahu lagi harus menuliskan apa. Apakah nama untuk suatu penderitaan yang dinikmati? Kebodohan? Kemalasan? Apatis?
Itulah sekelumit kisah Ramadhan di Negeri Asing. Jauh dari orang tua dan sanak saudara. Sepi selalu memeluk hati, menyisakan ruang kosong di sudut paling dasar. Suara Ibu dan bertukar pikiran dengan Ayah begitu dirindukan. Segenggam rindu untuk suatu tempat di atas Gunung Geulis. Akan tersimpan selalu rasa ini hingga tiba saatnya arungi angkasa dan kembali ke desa nan hijau di Pulau Jawa.







InggoBuluck # Monday, August 22, 2011 3:06:33 AM
Aidialigan0510 # Monday, August 22, 2011 4:51:29 AM
InggoBuluck # Monday, August 22, 2011 7:19:31 AM
Aidialigan0510 # Monday, August 22, 2011 8:48:33 AM
InggoBuluck # Monday, August 22, 2011 10:07:44 AM
Aidialigan0510 # Monday, August 22, 2011 10:34:11 AM
InggoBuluck # Monday, August 22, 2011 11:56:20 AM
Aidialigan0510 # Monday, August 22, 2011 12:04:07 PM