Skip navigation.

Sign up | Lost password? | Help

Luluch In OperA

the easiest way to speak Out!

Cacingan...

Bila suatu hari, anda mendapati anak anda kurang nafsu makan, berat badan menurun, aktivitas meninggi, insomnia [susah tidur]dan terlebih lagi merasa gatal di skeitar anus pada malam hari, maka perlu diwaspadai adanya kemungkinan terkena Enterobiasis.

Enterobiasis (atau kremien, Jawa) merupakan penyakit dari Enterobiasis vermicularis (Oxyuris vermicularis,Linnaeus,1785), atau biasa disebut juga pinworm atau cacing kremi.Cacing ini merupakan salah satu Nematoda usus, dan merupakan parasit umum bagi manusia (manusia adalah satu-satunya hospes bagi cacing ini) terutama anak-anak.

Habitat dari Enterobiasis vermicularis :
1. Cacing muda & dewasa terdapat di ileum terminal, tapi cacing dewasa betina gravid [hamil] hidup di colon, terutama rectum [usus besar]
2. Telur diletakkan di daerah perianal [daerah antara genital dan anus]
3. Larva infektif ditemukan di daerah sekitar anus beberapa jam setelah dilepaskan

Penyebaran cacing ini kosmopolit, dan lebih banyak ditemukan di daerah dingin daripada daerah panas (berkaitan dengan tebal pakaian yang dipakai), dan distribusinya lebih luas daripada cacing lain & lebih banyak ditemukan pada golongan ekonomi lemah, walaupun dapat mengenai semua golongan sosial ekonomi.


Infeksi ini lebih sering terjadi pada anak-anak dibandingkan orang dewasa, terutama pada usia sekolah. Infeksi dapat terjadi pada suatu kelompok-kelompok yang hidup pada suatu lingkungan yang sama (keluarga, asrama, sekolah, dll. Bila tidak dilakukan kontrol dan pemeliharaan, infeksi bertendensi penularan dari satu orang ke orang lain sehingga infeksi dapat mengenai seluruh keluarga, asrama atau sekolah.

Penularan cacing ini dapat terjadi secara :
1. Autoinfeksi (penularan dari tangan ke mulut, sesudah menggaruk daerah perianal baik ke diri sendiri maupun ke orang lain), sangat sering.
2. Retrofeksi (larva migrasi kembali ke usus besar)
3. Inhalasi debu
4. makanan/minuman/tanah yang terkontaminasi

Infeksi cacing kremi terjadi bila menelan telur matang. Cacing betina gravid, mengandung 11.000 – 15.000 butir telur, lalu migrasi ke daerah perianal untuk bertelur. Seseorang kadang-kadang dapat merasakan adanya cacing yang merayap dalam ususnya. Telur cacing ini jarang dikeluarkan di usus, sehingga jarang ditemukan di tinja.Pada suhu badan, telur menjadi matang +/- 6 jam setelah dikeluarkan. Dan telur yang telah dikeluarkan dapat tersebar di pakaian, kain sprei, tangan & pada tubuh orang yang terinfeksi, bahkan pada debu kamar. Telur ini resisten terhadap desinfektan & udara dingin. Dan telur ini bisa tahan selama berbulan-bulan. Daur hidup cacing ini, mulai dari tertelannya telur matang sampai menjadi cacing dewasa sekitar 2 mg – 2 bulan.

Sebenarnya Enterobiasis ini relatif tidak berbahaya, karena jarang menimbulkan lesi yang berarti. Tapi gejala klinis yang sangat mengganggu adalah adanya pruritus lokal (gatal)yang disebabkan adanya iritasi sekitar anus, perineum & vagina oleh cacing betina gravid yang bermigrasi ke daerah anus & vagina. Cacing betina sendiri dapat menginfeksi saluran genital hospes wanita. Sehingga pada anak perempuan, dapat terjadi adanya vulvovaginitis [radang pada vulva dan vagina], infeksi sekunder saluran urin & eneuresis sekunder.

Pruritus ani yang terjadi menyebabkan penderita sering menggaruk daerah sekitar anus, sehingga timbul luka garuk di sekitar anus. Keadaan ini membuat penderita menjadi terganggu, karena gejala ini sering timbul di malam hari. Penderita menjadi kurang tidur, dan karena kualitas kuantitas tidur terganggu, maka penderita tidak dapat berisitirahat dengan semestinya dan mempengaruhi aktivitas harian. Misal pada anak usia sekolah, dapat terjadi penurunan kemampuan menerima pelajaran.

Diagnosis "cacingan" ini ditegakkan dengan cara menemukan telur dan cacing dewasa. Telur dapat mudah diambil dengan cara "Anal swab", spatel ditempelkan di sekitar anus pada pagi hari sebelum anak buang air besar dan cebok. Sebaiknya pemeriksaan dilakukan 3 hari berturut-turut untuk memperkuat diagnosa.

Infeksi cacing ini dapat sembuh sendiri, bila tidak ada reinfeksi, tanpa pengobatan pun infeksi akan berakhir. Obat pilihan untuk infeksi ini adalah pemberian Pyrantel Pamoat, Mebendazol. Pengobatan sebaiknya dilakukan secara menyeluruh pada kelompok tempat tinggal dan dilakukan secara periodik.

Tapi bagaimanapun juga lebih baik melakukan pencegahan daripada melakuakn pengobatan. Hal terpenting adalah menjaga kebersihan pribadi. Sebagai contoh, biasakan anak untuk menjaga kebersihan tangan dan kaki, memotong kuku pendek, mencuci tangan dan kaki sebelum makan dan tidur, sering membersihkan daerah perianal, dan bagi penderita,disarankan untuk memakai celana panjang sewaktu tidur, supaya kasur tidak terkontaminasi.

Anggrek dari Numfor...

,



Papua sebagai salah satu pulau besar di Indonesia yang masih alami, memiliki kekayaan dan keanekaragaman hayati yang sangat berlimpah.

Hal ini saya saksikan sendiri ketika saya bertugas di pulau Numfor di wilayah Teluk Cendrawasih, Papua. Pulau dengan luas 331.26 Km2 ini bisa dibilang perawan. Hutan-hutannya didominasi pepohononan yang sangat tinggi dan rapat, dan belum terjamah [and I hope will not]. Banyak sekali saya jumpai tanaman-tanaman yang belum pernah saya saksikan sebelumnya, atau yang dulu hanya saya tahu dari ‘dengar-dengar” saja. Contohnya, “Buah Merah”, “Sarang semut”, “Keris papua”, dll

Selain itu, disini saya sering menjumpai anggrek. Ya, anggrek Papua dengan bermacam jenis. Mulai dari anggrek yang umum dikenal orang ; Anggrek Macan [Grammatophyllum speciosum], Anggrek daun bulat, Anggrek kelinci,dll. Hingga ke jenis-jenis lain yang saya tidak ketahui namanya.

Awalnya saya kurang begitu suka dengan tanaman, tapi berhubung teman perawat yang tinggal bersama dengan saya sangat menyukai bunga, akhirnya saya pun mulai menyukainya. Sampai-sampai halaman depan rumah kami penuh dengan berbagai jenis anggrek!

Sebenarnya tidaklah sulit untuk mencari anggrek di Numfor, selain penduduk rata-rata memeliharanya, kita juga dapat mendapatkannya sendiri dengan hunting di hutan. Karena hutan di Numfor masih sangat bagus dan belum dieksplorasi, cukup gampang untuk menemukan anggrek-anggrek liar tersebut.

Anggrek yang paling sering ditemui di Numfor ialah jenis Anggrek Macan dan Anggrek Daun Bulat. Anggrek Macan ini sangat cantik sekali, bunganya berwarna dasar kuning atau hijau dengan bintik-bintik coklat, mirip dengan totol macan!! Anggrek ini bila berbunga, tahan lumayan lama, dan tingginya bisa mencapai 1 meter lebih.




Anggrek daun bulat ini daunnya mirip daun anggrek ungu yang sering kita jumpai di Jawa. Namun anggrek daun bulat ini bunganya berwarna kuning. Bila sudah tua, dia tinggi sekali. Saya pernah menemukan anggrek daun bulat ini dengan tinggi hampir 2 meter!! Sangat besarrr… Pastilah umurnya sudah berpuluh-puluh tahun…



Anggrek daun kelinci [ Saya tidak tahu apakah benar ini anggrek kelinci, ini hanya berdasarkan penyebutan dari masyarakat Numfor] itu daunnya kecil-kecil, bunganya mirip dengan anggrek macan namun lebih kecil, berwarna dasar kuning dengan bintik-bintik jingga!! Sangat cantik.

Ada juga anggrek-anggrek lainnya seperti anggrek cendrawasih, anggrek rumput, dan anggrek-anggrek yang tidak saya ketahui namanya. Mulanya saya tidak percaya bahwa tanaman-tanaman itu anggrek [benar-benar seperti rumput biasa], namun ketika mereka berbunga. Wah, memang benar! cantik sekali…

Bila kita datang ke pelabuhan pada saat ada kapal perintis, maka kita akan melihat banyak anggrek yang hendak dibawa ke Biak ataupun Manokwari. Kebanyakan sih hendak dijual di kota, karena harganya lumayan mahal, apalagi yang sedang berbunga. Yang sering dibawa ya anggrek macan dan anggrek daun bulat yang sudah besar

Saya mendapatkan anggrek dengan meminta anak tetangga saya [Elis dan Maxsi]untuk mencarikan anggrek, selain itu bila saya puskel ke desa-desa, kadang saya meminta kepada mereka, kadang juga ada pasien-pasien saya yang membawakan saya anggrek [Seperti Bu Yakomina Manggara dan Bu Sarah], tapi saya juga pernah hunting ke hutan [tetap saja yang mengambil si Elis :D ]

Anggrek yang saya kumpulkan waktu itu lumayan banyak, apalagi ditambah dengan yang diberi oleh pak Yoel Krey [terima kasih pak]. Bapa nya Eta Krey ini rela keluar amsuk hutan demi mencarikan anggrek untuk saya [“sebagai kenang-kenangan dok!”]. kaget juga waktu dating dengan membawa 2 karung anggrek [Oh My God…]. Saya bingung juga untuk membawanya. Akhirnya saya bawa ke Biak dan setelah dipilah-pilah, sebagian saya bagikan kepada teman-teman dokter PTT saya.

Saya lebih memilih membawa yang kecil-kecil, yang jarang didapat, serta yang mempunyai nilai historis bagi saya [anggrek yang diberikan oleh Elis, Maxsi, Bu Yakomina dan Bu Sarah]

Ayah saya [yang penggemar bunga] senang sekali ketika saya membawakan beliau anggrek. Anggrek-anggrek itu ditanam di belakang rumah, and so far so good… Mungkin tumbuh dengan bagus karena iklim di Purwodadi yang hampir sama dengan Numfor [sama panasnya]. Beberapa waktu lalu pun anggreknya sudah sempat ada yang berbunga. Wah… senang!! Selalu mengingatkan saya akan rumah tempat tinggal saya di Numfor yang halaman depannya dipenuhi dengan anggrek

Leaving Numfor...

, ,

Published by Luluch The Cinnamon on Tuesday, April 22, 2008 di 12:22 PM


2 hari lagi, aku akan pergi meninggalkan Biak Numfor, kembali lagi ke Jawa. Yap… masa tugasku sebagai dokter PTT di kabupaten Biak Numfor sudah hampir berakhir.

Aku turun dari Numfor tanggal 18 April lalu, naik Twin Outer bersama mbak Rani. Senang juga punya kesempatan naik Twin Outer ketika kembali ke Biak, soalnya biasanya dari Numfor ke Biak aku naik kapal Yapwairon.

Sejak dari sebulan lalu, sudah excited untuk pulang. Kasarnya sih “menghitung hari” hehehe. Seusai puskel dari Baruki, paman Simson mengadakan rapat kilat tentang kepulanganku. Disetujui bahwa akan ada acara perpisahan resmi dari Puskesmas, dan acara piknik bersama di pulau Manem.

Minggu, 13 April, aku pergi berkeliling Numfor naik motor bersama Bafith. Wah… my last chance to see all of Numfor. Tujuan pertama ke kepala air Warembi [mata air], kemudian diteruskan ke Teluk Duai-Bruyadori yang indah sekali… dari situ kami pergi ke pantai Manggari, diteruskan ke Mandori!! Wah… akhirnya kesampaian juga untuk pergi ke Mandori, ujungnya Numfor Timur Jauh.

Dari Mandori kami berputar ke Numfor Barat Jauh, ke Pakreki lagi untuk melihat “pulau Numfor” yang asli, terus ke Teluk Kopowi di Namber. Wahh… Teluk Kopowi ini my favourite place… cantik banget!!. Abis dari itu, kembali lagi ke Numfor Barat, pantai Asaibori… hehehe… walau capeknya naudszubillah… tapi puas…



Senin, 14 April, kami sibuk memasak untuk acara perpisahanku. Tidak hanya aku dan petugas Puskesmas saja, tapi juga dibantu oleh masyarakat sekitar. Hidangannya sederhana, ikan saus, “sayur kota” [sayur sop!], sayur singkong, tumis buncis, telur, es kelapa dan… babi kecap!

Jangan terperangah. I’m a moslem… I don’t intend it.

Dan masakan babi kecap ini adalah suatu “keberuntungan” [buat orang-orang sekitar Puskesmas], karena saat paman bersama anak-anak sedang mengambil daun singkong di kebunnya Mbak Rosa, pas ], ada Babi Hutan. Si Gusti [anak tetangga sebelah] bawa parang, langsung dilempar kearah babi itu, kena kepala. Babinya semaput hehehe. Langsung deh dihantam Pak Simson… yah, inilah calon “hidangan utama” acara perpisahanku…

Walaupun yang membantu aku masak mayoritas beragama Kristen Protestan, mereka mengerti kalau babi itu haram buat kaum muslim. Mereka juga mengerti untuk tidak memasak dalam panci yang sama. Jadi kami memasak makanan lainnya di rumah Aho, babi itu dimasak di rumah paman Simson. Mereka berkata padaku bahwa aku sungguh beruntung, karena bisa mendapatkan babi untuk perpisahanku. Gratis pula! [kan babi tuh barang mehel]. Yah… I really-really appreciate it…

Perpisahan itu rencananya diadakan jam 19.00 WIT. Tapi sampai lewat waktu, tamu-tamu belum datang. Aduh… ternyata pak Camat mengadakan acara ibadah keret dirumahnya.

Wah… miskoordinasi nih… Jadi kami terpaksa menunggu sampai pak Hengky [pak camat] menyelesaikan acaranya baru kemudian menghadiri acara kami. Akhirnya kami baru bisa memulai acara pada jam 21.30 WIT, wah… too late… mana hujan pula… Jadi yang datang ke acara ya tidak terlalu banyak, tapi tetap lumayan rame.

Selasa, 15 April, seharusnya kami pergi ke pulau Manem hari ini. Langit cerah, tapi sejak pagi angin menderu-deru tidak berhenti. Acara pergi ke Pulau Manem batal! Namanya menyabung nyawa kalau tetap nekat ke Manem… Agak sedih sih… tapi berdoa biar esoknya cuaca cerah sehingga kami bisa pergi ke Pulau Manem.




Rabu, 16 April, akhirnya pergi ke Manem juga!! Tepat tengah hari, dengan naik Johnson, kami-petugas Puskesmas-dan beberapa masyarakat sekitar pergi ke Pulau Manem. Pulau Manem ini terletak tepat di depan Teluk Kopowi-Namber, bisa dicapai dengan naik perahu atau Johnson. Dari Kameri, kami menempuh 1,5 jam perjalanan naik Johnson.

Well, itu adalah pengalaman pertamaku naik Johnson. Serem juga… soalnya saat itu laut masih agak gelombang… Apalagi aku dan Bafith duduk didepan, goyangnya kapal terasa sekali… Dan so pasti basah kuyup terkena pecahan ombak. Huwahhh… asin!

Syukur Alhamdulillah kami sampai di Manem dengan selamat. No doubt, Manem memang indah. Kami langsung berjalan berkeliling mengelilingi Manem, 1 jam an saja. Sehabis itu, mandi-mandi di pantai sepuasnya… Oh ya, saat itu aku juga berkesempatan untuk makan lobster!! Hehehe… pas kebetulan ada yang dapat lobster saat “molo” [mencari ikan]. Tanpa dikasi bumbu apa-apa, lobster itu langsung dibakar saja. Tapi rasanya… wah… lezat luar biasa… senang deh…

Menjelang malam, kami kembali ke darat via Namber. Jadi kami naik Johnson dari Manem ke Namber, kemudian dari Namber kami naik mobil puskesmas ke Kameri. Di mobil kami semua diam saja, kecapekan…

Hari rabu, aku siap-siap packing. Beberapa barang yang kurang berguna buatku, kulungsurkan ke tuan rumahku [mbak Rosa, perawat yang tinggal bersamaku] dan masyarakat sekitar. Baju-baju dan barang lainnya cukup dimasukkan dalam 2 tas sedang saja… Tapi tentu saja aku tidak kembali ke Biak hanya dengan membawa 2 tas, tambahannya banyak!

Apa aja yang kubawa dari Numfor?Ada 2 kardus plus 1 karung anggrek!! Yap… sejak di Numfor kan aku jatuh cinta ma anggrek, maka selama ini aku semangat ngumpulin anggrek. Rata-rata sih dikasih, tapi ada juga beberapa yang beli. Ditotal sih ada sekitar 13 jenis anggrek yang kudapat hehehe. Tapi itupun belum cukup… ada beberapa tanaman yang kutaksir, aku sekalian bawa… jadi bagasiku banyak sekali hehehe

Oh ya saat itu aku dikasih ayam jago oleh mama Oce lho… Aduh… terharu… Niatnya sih mau nyumbang ayam jantan buat acara perpisahanku, tapi karena telat, kata beliau terserah deh mau diapain. Kalau naik kapal sih oke saja bawa ayam, tapi saat itu kan mau naik pesawat. Jadi untuk menjaga perasaan Mama Oce, aku tetap membawa kardus berisi Pyo [nama ayam jago itu hihihi :D ], tapi sesampainya di bandara, aku minta ayam itu dibawa pulang ke Kameri dan dimasak buat orang-orang Puskesmas saja… Terimakasih ya Mama Oce…



Aku pergi ke bandara dilepas oleh Bafith, Paman Simson, Bu Oce, Bu Gery, n Buce. Petugas puskesmas lainnya tidak bisa mengantar karena ada urusan mendesak berkaitan dengan masalah yang menimpa salah satu petugas Pkm kami.

Overall… selain senang, ada perasaan sedih juga. Kehilangan.

Bulan-bulan lalu mungkin aku sangat-sangat menunggu saat-saat ini. Tapi nggak disangka juga, saat menjelang pulang begini aku malah jadi malas-malasan buat pulang. Kalau bukan karena ada urusan-urusan yang harus segera dibereskan di Jawa, mungkin aku menunda waktu kepulanganku.

Waktu pesawat lepas landas, aku sedih… Thinking that maybe I wont see Numfor anymore [although I hope I have chance to visit Numfor again someday later]. Thinking that I left one of beautiful things in my life…

I left Pkm Kameri, I left Numfor, I left its beauties [things that I’ll keep forever in my memory]

I left Bafith, “dear soulmate”-ku di Kameri, yang walaupun kadang-kadang menyebalkan, tapi aku bisa bilang bahwa im so grateful that I was placed in Kameri with him. He helped me so much, kadang-kadang kemalasanku tercover olehnya hehehe. Thanks ya Fith

I left Puskesmas’people ; Paman Simson Kapisa, Pak Yance Sanggenafa, Mbak Rosa Tandana, Mas Aho beserta istri, Mbak Eka Winarsih, Bu Oce Kafiar, Bu Gerarda Noriwari, pak Yoel Krey, Pak Musa Marisan, Pak Klemens Kauyan, Buce Kamer, Hengki Mambraku. Thank you so much for all…

I left people in Numfor, which are very-very kind to me... Elis, Maxsi, Pati, Mama Rema, Mama Gusti, Mama Oce, Ibu Yakomina Manggara, etc…Thanks for everything…

And of course I left JOKER!! Permainan kartu yang sangat-sangat-sangat sering kami mainkan… Di Jawa kayaknya jarang deh yang main kartu Joker

Ahh… 6 bulan yang sangat-sangat-sangat kaya…

Sarat pengalaman dan kenangan, yang aku yakin bahwa ini akan menjadi modal berharga bagi hidupku kedepannya…

Numfor and its people have special place in my heart, they left beautiful memories in my life. And I hope that I left beautiful memories in Numfor too…

Kembali ke Numfor

Nanti sore aku kembali ke Numfor, naik kapal feri Cendrawasih [maunya sih naik kapal patroli ini aja... heheh]. Ya, aku cuma turun di Biak selama 6 hari saja. Inginnya sih lebih lama, namun mengingat susahnya transportasi ke Numfor sekarang, lebih baik ambil kesempatan yang ada. Soalnya tanggal 19 kami sudah harus ada di Numfor

Pada tanggal 19 Maret, di Numfor Barat akan ada kegiatan KKR [Kegiatan Kebangunan Rohani], kami diharapkan ada sebagai bantuan kesehatan. Maunya sih tanggal 19 tuh lengkap, karena Bupati Biak akan menghadiri pembukaan acara itu

Dulu pesawat Twin Otter terbang 2 x seminggu ke Foo [Numfor], sekarang jadwalnya berubah, menjadi 1x seminggu saja. Itupun jadwalnya nggak jelas hari dan jam terbangnya, karena pesawatnya dipakai ke beberapa rute lainnya dan sering "something wrong", masalah teknis gitu... jadi, walaupun aku sudah booking seat untuk penerbangan Senin depan, karena penerbangannya sendiri belum bisa dipastikan, aku nggak mau ambil risiko pesawat batal.

Dan Cendrawasih merupakan satu-satunya kapal yang berlayar ke Numfor minggu ini. Dulu-dulu kami masih bisa mengandalkan kapal putih [kapal besar] macam papua Lima, Papua Satu untuk ke Numfor. Namun sekarang ini, Papua Satu masuk dok, sedangkan Papua Lima mengalami perubahan rute berlayar, sehingg jadwal rute Biak-Numfor jadi sebulan sekali. Pusing...

Jadinya untuk mencapai Numfor via laut ya naik feri Cendrawasih atau kapal Bintang 23. Sama-sama horrible... Kalau nggak kepaksa dan keburu aja... gak mau deh. Dua-duanya punya track record buruk. Si Cendrawasih nih pernah dihantam ombak hingga terbalik di pelabuhan [bayangkan, kapal feri segede itu terbalik!]. Sedangkan dengan si Bintang 23... aku pernah punya pengalaman pahit. Naik kapal ini menuju Numfor, baru 2 jam perjalanan tiba-tiba kapal ini putar balik ke Biak, takut badai!

Setelah pikir-pikir... akhirnya kami [aku dan Bafith] memutuskan untuk kembali ke Numfor naik kapal feri saja. Lagian masa kerjaku tinggal 1 bulan saja, jadi lebih baik aku menikmati waktu di Numfor lebih lama :smile: [aduh, sudah mulai senang bercampur sedih bila memikirkan akan meninggalkan Numfor...]

Wish me :smile:

Pasien-pasien

Akhir Februari kemarin, Puskesmas kami mengadakan minilok [mini lokakarya], dengan berbagai agenda, salah satunya menentukan jadwal kegiatan luar gedung, contohnya Puskel dan Posyandu.

Puskel terutama dilaksanakan pada desa-desa di Numfor Barat Jauh yang penduduknya mengalami kesulitan transportasi untuk berobat ke Puskesmas. Ada 6 desa yang kami anggap memerlukan Puskel, yakni Desa Wansra, Pakreki, Saribi, Yenbeba, Sup Manggunsi dan Namber. Sedangkan Posyandu harus dilakukan untuk 17 desa yang masuk dalam wilayah kerja Puskesmas Numfor Barat.

Akhirnya diputuskan, bahwa pelaksanaan Puskel yang digabungkan, dan dilaksanakan di minggu pertama awal bulan, hari Selasa, Kamis dan Sabtu. Sedangkan pelaksanaan Posyandu ada yang digabungkan dengan Puskel [karena personil yang dibutuhkan lebih sedikit], agar lebih efisien dan tidak bolak-balik.

Ya, akhirnya minggu pertama bulan Maret kami lumayan kerja keras, 3 hari untuk pelayanan di Pkm, 3 hari lainnya berkeliling untuk puskel dan posyandu. Kadang-kadang pasiennya banyak sekali [diatas 50 orang], tapi kadang juga biasa saja [30-40 an orang]. Sakitnya apa saja sih? Yah…tentu saja malaria, batuk-beringus, sakit kepala, kecacingan, penyakit kulit, etc

Teman-temanku sering bertanya, selama aku PTT di Papua, sering mendapat kasus-kasus aneh kah? Apa saja?

Hmm… macam-macam deh…



Contohnya anak ini, anak laki-laki umur 5 tahun ini mempunyai kelainan pada matanya. Tepat di depan iris matanya, tumbuh jaringan lunak dari conjunctiva bulbi. Ibunya berkata matanya mulai begitu sejak tahun 2005, seminggu setelah terkena cacar air, tiba-tiba di matanya mulai tumbuh jaringan lunak itu.

Awalnya anak ini masih bisa melihat, namun karena jaringan itu menutupi pupil, lama kelamaan penglihatannya terganggu dan dia mulai tidak bisa melihat lagi. Karena di Biak tidak ada DSM [dokter spesialis mata], anak ini dibawa ke DSM di Jayapura , kata dokter tersebut, anak ini baru bisa dioperasi sesudah umur 10 th. Dalam hati kami juga bingung, mau diapain? Ini diluar kemampuan kami. Akhirnya Bafith memberikan penjelasan tentang penyakit tersebut, dan menyarankannya untuk tetap rutin memeriksakannya ke Jayapura.

Selain itu, pernah juga aku menemukan anak laki-laki berusia 10 tahun dengan osteomyelitis kronis di pinggul kirinya sehingga terjadi deformitas pada kaki kirinya. Awal mulanya anak ini jatuh saat berusia 5-6 tahun. Mungkin lukanya termasuk luka terbuka, namun saat itu dirawat sendiri, dan perawatannya tidak bersih [ibunya mengaku, mereka tidak membawanya ke Puskesmas untuk medikasi luka], akhirnya lama-lama lukanya menjadi borok.




Karena berlangsung bertahun-tahun dan tidak dirawat dengan baik [dibiarkan terbuka terus], lukanya semakin dalam dan mengenai tulang, terjadi deformitas [kelainan] pada tulang femur dan cruris, dan kaki kirinya tidak berkembang sesuai pertumbuhan badannya, jadinya kakinya pincang sebelah.

Aku hanya bisa mengurut dada, jengkel juga sama orang tuanya, kenapa dari dulu tidak dibawa ke puskesmas, atau sekalian dibawa ke Rumah Sakit. Padahal luka akibat jatuh itu bisa dicegah agar tidak berkembang sampai mengakibatkan kelainan seperti sekarang ini. Kasihan sekali… Akhirnya aku rujuk anak ini untuk ditangani Ahli Bedah di Biak.

Ada juga waktu home visite, ada pasien, Richard Mansumber [34tahun] yang mengeluhkan kaki kirinya sangat sakit bila digerakkan, sehingga dia tidak bisa berjalan. Sudah sebulan dia merasakan sakit saat pada kaki kirinya saat berjalan, namun tiba-tiba hari itu sakitnya semakin menghebat dan sampai akhirnya dia tidak kuat menahan rasa sakit itu, akhirnya hanya bisa berbaring di tempat tidur saja.

Kami melakukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan neurologist padanya, hanya kami dapatkan hiperestesi di bagian belakang paha. Well, kami tidak bisa menentukan diagnosa pastinya, tapi untuk meredakan rasa sakitnya kami memberikan injeksi Bcomp serta obat minum Tramadol. Keesokan harinya di pelabuhan kami bertemu dengan Pak Richard lagi, dan wow… dia sudah berjalan dengan normal lagi. Malah dia mendatangi kami dan meminta untuk disuntik lagi hahahaha :D

Salah satu kasus unik, ada anak laki-laki berumur 7 tahun datang dengan jari kaki luka-luka, sampai kuku jarinya itu terkelupas. Tebak deh kenapa?



Digigitin tikus!! Oh My God... Dia bilang waktu digigitin tikus dia sama sekali tidak merasa. Tak percaya deh... lha wong digigitin sampai habis gitu kok ndak kerasa... Kasihan bercampur geli...

Selain itu, kami di Pkm sering membuka “usaha konveksi” :smile: Sering datang pasien diluar jam kerja, dengan luka-luka akibat terjatuh, terkena batu, karang, dan parang. Aduh aduh…

Paling sebel kalau pasiennya rewel deh. Sudah dianestesi, masih teriak-teriak saja. Pernah tuh ada anak tetangga, Willem [9 tahun] yang jari kakinya terkena mata kail, masuknya cukup dalam. Sudah diinjeksi lidocain saja masih jerit-jerit, trus aku coba ulang lagi injeksi lidocain, malah nangis keras-keras…

Akhirnya karena tetap kesulitan untuk mengeluarkan mata kailnya, dan dikasi lidocain pun masih berteriak kesakitan, aku nekat saja. Dengan keringat berjatuhan, susah payah kukeluarkan mata kail itu dengan paksa tanpa memedulikan jeritan si Willem. Alhamdulillah mata kail itu bisa keluar, si Willem menangis sesengukan… Rasanya sehabis itu dia agak trauma dengan aku P:

Selain Willem, ada pula Maikel [10 tahun] yang tiba-tiba tangan kanannya membesar. Waktu aku tanya apakah tangannya habis tertusuk pakukah, duri ikan kah, atau duri babi? Dia hanya menggeleng. Dia bilang tidak tertusuk apa-apa, sejak tiba-tiba saja tangan kanannya [punggung tangan] membesar.

Kupegang tangannya, aih… keras sekali, dan hangat. Dia menjerit waktu tangannya kutekan, sakit sekali katanya. Kuperiksa, tidak ada bekas tertusuk di tangannya. Bingung deh… causanya apa… Karena kami lihat nanah belum terbentuk, kami tidak bisa “membukanya”, akhirnya memberinya obat antibiotic, analgetik dan antiinflamasi. Kami suruh dia kembali 3 hari lagi.

Ketika dia datang untuk ke 3 x nya, tangannya sudah teraba lunak, tapi jaringan sekitarnya masih tegang. Kuperintahkan untuk melakukan cross incision [insisi silang] padanya. Mas Aho, perawat Pkm yang melakukannya. Ketika diinjeksi lidocain, Maikel sudah menjerit-jerit, lebih karena ketakutan bukan karena kesakitan. Ketika dibuka, tidak langsung keluar nanah seperti biasanya. Akhirnya seperti melakukan punksi, kami mencoba menyedot nanah dengan jarum spuit [suntikan].

Wah… usaha yang lumayan sulit karena Maikel berontak terus. Butuh 3 orang untuk memeganginya. Setelah setengah jam berkutat dengan spuit, akhirnya nanahnya bisa dikeluarkan. Tapi tangannya masih bengkak. Akhirnya kami memasang semacam “drain” dari handschoen (sarung tangan), agar nanah dan darahnya mengalir. Kami menyuruhnya kembali keesokan harinya.

Keesokan harinya Maikel kembali ditemani ayahnya, kulihat bengkak ditangannya sudah mulai berkurang. Waktu kutanyakan apakah masih terasa sakit seperti sebelumnya, dia menggeleng. Kata ayahnya, akhirnya semalam Maikel bisa tidur nyenyak, tidak mengeluh kesakitan.

Hari itu, kami mengulangi proses serupa, kali nanah keluar dengan lancar dan mulai keluar bercampur darah segar, Maikel masih terus menjerit-jerit. Dia menangis terisak-isak ketika kami membalut lukanya, kami memberinya obat dan memintanya dating keesokan harinya lagi untuk medikasi luka. Namun mungkin Maikel sudah kapok dan ketakutan, keesokan harinya sampai terakhir kemarin aku di Numfor, dia tidak kembali untuk kontrol. Aih… tak tahulah itu bagaimana kelanjutannya… Semoga saja tangannya sembuh seperti sediakala…

Yah itulah salah satu kesulitan kami dalam menangani pasien, kalau disuruh datang kembali untuk control, susahnya minta ampun… Padahal sudah kami jelaskan pentingnya memeriksakan kembali penyakit dan luka-luka mereka. Walaupun belum sembuh benar atau kadang ada jahitan yang belum dibuka, mereka tidak datang kembali ke Puskesmas untuk control… Benar- benar deh… Perlu diedukasi terus-terusan...

YAKOMINA MANGGARA

Akhir-akhir ini aku suka mengumpulkan anggrek. Apalagi di Numfor jenisnya cukup beragam, sampai-sampai depan rumahku di sana penuh dengan anggrek. Ada yang didapat dengan mencari sendiri, ada yang minta sama penduduk, ada pula yang diberi pasien, salah satunya Bu Yakomina Manggara

Pertama bertemu dengan ibu ini diakhir Januari. Saat itu kami dipanggil untuk home visite di desa Sup Mander, katanya ada ibu yang batuk darah. Akhirnya kami kesana. Pertama melihat rumahnya, aduuuhhh... rasa-rasanya ini salah satu rumah mengenaskan yang kulihat di Numfor

Rumah panggung kayu, dengan halaman tak terawat, rumputnya tinggi-tinggi. DiHal yang terlihat "modern" dari rumah itu, di sebelah kanan rumah ada bak tandon besar dan kamar mandi dari tembok [sepertinya dari bantuan pemerintah], "dihiasi" dengan berember2 cucian basah [buanyaaakkk sekali]. Ketika mausk ke rumahnya, agak was-was... sepertinya rumahnya sudah tua, takut rubuh.

Begitu masuk, aku lihat rumah itu tidak besar, hanya berukuran 4x6 m, disekat menjadi 3 ruang, berukuran 2x4 m. 1 dibelakang, sebagai dapur terbuka, 1 sebagai kamar [dan juga tempat penyimpanan barang kah?] dan satunya lagi untuk ruang tamu?

Keluarga ini sepertinya sangat miskin... Rumah itu hampir-hampir kosong... tak ada perabotnya, di ruang tamu yang sepertinya juga berfungsi sebagai ruang tidur cuma ada selembar tikar dengan bantal-bantal, selainnya itu? Ada toples penuh berisi obat-obatan. Ada juga puyer-puyer banyak sekali, dan ketika kami membuka toplesnya, sudah banyak obat yang berubah warna. Kami ngomel, sepertinya mereka berobat dan tidak menghabiskan semua obatnya, dan sisa obatnya tetap disimpan. Kadaluwarsa tho ya... Dan karena obat tidak habis... makanya sembuhnya juga tidak total... Pantesan malaria-nya relaps terus-terusan...

Waktu itu, aku melihat ibu itu terkapar dilantai, mengeluhkan batuknya yang berdarah. Kurus kering, awut-awutan, terlihat berumur 45-an [baru kemudian aku tahu kalau dia ternyata baru berumur 30th!]. Dia menujuk ke sala-sela lantai kayu dibawahnya. "Itu budok [panggilan "kesayangan" ku, bu dokter disingkat jadi budok], ludahan saya, tadi ada darahnya". Kami melongok kebawah, iya, ada dahak disertai sedikit darah, merah segar.

Dari anamnesa, dia batuk lama... Kami curiga dia menderita TBC, apalagi melihat profilnya yang kurus kering serta keadaan rumahnya yang jauh dari sehat... Kami periksa, suara parunya fine-fine saja... Selain itu dia juga sering tahan makan [telat makan] dan mengeluhkan nyeri ulu hati dan perut sakit. Mungkinkah ulcus pepticum? Tapi tidak menyingkirkan kecurigaan TB kami. Karena waktu itu dia demam, akhirnya kami beri ACT [Artesdiquine Combined Therapy] dan Primakuin

*Well, pada akhirnya kami membuang idealisme kami setelah melakukan tes RDT ,<Rapid Diagnostic Test untuk Malaria>. Dulu bila pasien datang mengeluh sakit perut ya kami beri obat untuk sakit perutnya saja, belum berani memberi obat malaria. Padahal kami sudah dikasi tahu dengan dokter sebelumnya "kalau ada diare, atau kepala pusing, kasi saja obat malaria. Di Papua gejalanya sudah tidak khas lagi". Setelah ada RDT dan mengadakan pemeriksaan pada pasien ternyata dari kebanyakan pasien, walaupun tidak menunjukkan gejala klinis malaria, setelah di cek RDT, ternyata positif, nggak tanggung-tanggung, sering kami dapatkan mix-infection, artinya terinfeksi Malaria falciparum dan malaria jenis lain, entah ovale maupun vivax. Bahkan pernah kami temui pasien mengeluhkan sakit sendi terus menerus selama 1 bulan, trus Bafith iseng mengecek dengan RDT, eh positif malaria, mix lagi... Akhirnya sejak saat itu setiap pasien yang datang "di-malaria-kan"

Kembali ke Bu Yakomina, waktu itu kami sudah menyuruhnya untuk datang ke Kameri dan periksa dahak S-P-S [Sewaktu-Pagi-Sewaktu] untuk screening TB. Kami tunggu-tunggu, eh ternyata dia tidak datang. Aku memakluminya sih. Sup Mander itu setengah jam naik kendaraan dari Kameri. Dia tidak ada kendaraan, jadi kalau jalan kaki ya jauh banget, sementara dilihat dari kondisi keluarganya, mereka termasuk miskin, butuh biaya untuk sekedar naik ojek ke Kameri [50rb!]. Aku yakin, itu jumlah yang besar sekali buat mereka, harus mendapatkan 3-5 ikat ikan untuk mendapat uang 50rb...

Selama beberapa waktu, aku sudah hampir lupa padanya, sampai ketika ada orang datang meminta kami untuk pergi ke Sup Mander lagi, mereka bilang "ibu yang dulu batuk darah lagi". Oh i see... pasti Bu Yakomina lagi... Kali ini kami datang kesana malam hari, bersama kami ada pula Paman Simson [Kapuskes-ku], sekalian membawa wadah dahak.

Dimalam hari, rumah itu terlihat mengerikan [dan terlihat lebih tidak aman]. Paman komentar "sepertinya rumah ini akan rubuh". Kali ini kami masuk tidak lewat pintu depan, tangga masuknya dipindahkan via dapur, jadi kami masuk lewat belakang. Aih aih... ngenes deh melihatnya... perapian tungku yang menyala terus... ada anak kecil botak berumur 4 tahunan telanjang dada mengipasi tungku itu, rupanya mereka memasak papeda [makanan khas Papua].

Masuk ke ruang depan, ada orang terkapar! tapi ternyata kali ini yang terkapar Pak Sony Rumbruren (34th). Lelaki kurus yang juga terlihat jauh lebih tua dari umurnya ini demam-demam, panas tinggi, muntah-muntah dan lemas sekali. Wah... malaria nih...

Dan batuk darah? Ah ya... bu Yakomina juga batuk darah lagi. Akhirnya kami mengambil sampel dahaknya untuk diperiksa BTA-nya. Sambil menunggu dahak itu di-fixasi ke deck glass, kami memberikan obat malaria kepada pak Sony, kemudian kami berbincang-bincang dengan Bu Yakomina.

Dia bercerita kalau dia punya 6 anak, 1 meninggal. Yang sulung bernama Papua [laki-laki, 9th], kemudian menunjuk 2 anak kecil disampingnya, ada Ronice [perempuan, 2 tahun], dan Paiki [laki-laki, 9 bulan]. Kedua anak yang terakhir ini cakep2, putih bersih, dan lumayan gendut, cute [seperti Cina Serui, orang Papua yang kulitnya putih]. Kemudian anak yang tadi didapur keluar sambil memakan papeda-nya

Diterang lampu, terlihat jelas anak itu kurus sekali tapi perutnya besar sekali. Bafith menyuruhnya mendekat. Aku bertanya "ini laki-laki?". Ibunya menggeleng "Perempuan, namanya Chrisye". Bafith memeriksa perutnya dengan stetoskop dan menanyakan, pernah kah berak cacing?. Ibunya mengangguk, dan bercerita beberapa hari lalu si Chrisye ini berak cacing, dan banyak sekali sampai bu Yakomina muntah-muntah saat melihatnya [1 mangkuk!].

Saat itu kebetulan kami membawa obat cacing [cuma 1], akhirnya kami memberinya obat cacing. Kami menyuruh bu Yakomina untuk datang ke Kameri lagi hari berikutnya untuk periksa dahak lagi dan meminta obat cacing lagi bagi anaknya yang lain [anaknya 5 orang, dan kami curiga anak-anaknya yang lain juga cacingan].

3 hari kemudian mereka datang ke Pkm Kameri, kali ini pak Sony dan bu Yakomina sudah nampak segar. Bu Yakomina datang membawa dahak pagi harinya untuk diperiksa. kali ini si bayi kecil Paiki [artinya "bulan" juga sakit, sepertinya o. Selain paiki mereka juga membawa anak perempuan mereka yang satunya lagi, Christina [7th]. Anak ini hampir mirip dengan Chrisye, apalagi juga sama-sama dibotakin. Anak ini demam tinggi dan lemas menyandar dibahu ayahnya, its malaria again... Aih aih... akhirnya kami memberinya obat malaria, serta obat cacing untuk dia dan saudara-saudaranya... Dan setelah dahak Bu Yakomina di-cek, ternyata BTA negatif... tapi belum pasti bukan TBC juga [harusnya di-confirm lagi dengan foto rontgen]

Terus, beberapa waktu kemudian, aku ada puskel di Saribi, karena Sup Mander bersebelahan dengan Saribi, bu Yakomina juga datang berobat. Anak-anaknya batuk beringus dan masih berak cacing. Aih aih... cacingnya betah banget... Dan dia juga mengeluhkan kandungan turun [Hah!aku kaget, umurnya kan baru 30th!!]. Dia bilang kandungannya turun terutama sore hari saat pekerjaan berat, terutama mencuci [Ya iyaa... mengerjakan pekerjaan rumah tangga sendirian, mana anak-anaknya masih kecil-kecil pula]. Aku juga berpikir, ini juga gara-gara batuk lamanya, sering membuat Tekanan Inta Abdomen-nya meningkat, hingga jadi Prolaps Uteri.

Sedih juga... masih muda, 30th sudah Prolaps Uteri... She just five years older than me! Aku menganjurkannya ke Biak untuk pasang pesarium [cincin penahan} di Biak saja

Seusai puskel, aku jalan-jalan keluar sambil mencari anggrek [biasanya kalau lihat anggrek, aku langsung minta sama yang punya, biasanya sih langsung dikasih :D ]. Waktu itu aku melihat anggrek besaaaaarrr... eh pas ada Bu Yakomina

"cari apa?" tanyanya
"Anggrek"
"dirumah banyak" sambil menunjukkan kearah desa Sup Mander
"Boleh minta?"
"Tentu saja. Kenapa kemarin datang kerumah nggak bilang?Ada banyak dirumah"
"Waktu itu malam, gelap, lagian saya lihat dihalaman nggak ada anggrek"
"Iya, anggreknya dibelakang, banyak. Tiap ke kebun, ada anggrek, ya dibawa. mau diambilkan sekarang"
Aku senang banget tapi aku nggak enak merepotkan dia, tapi waktu itu nggak ada kendaraan juga, akhirnya aku bilang "saya mau ambil, tapi nggak ada kendaraan. nanti ya kalau saya ke dermaga, nanti mampir ke Sup Mander"

Bu Yakomina dan pak Sony mengangguk dan mengiyakan. Kemudian aku ingat kalau hari Minggunya aku mau ke Biak, naik kapal di pelabuhan Saribi. Ah sekalian saja...

"Oh ya, saya ada mau ke Biak hari Minggu, nanti saya ambil ya, sekalian saya bawa surat rujukan ke Biak buat bu Yakomina"
"Ah, itu sudah... nanti saya ke pelabuhan saja, sambil bawa anggrek buat dokter tho..."

Sepakat!

Hari Minggu siang aku ke pelabuhan, sudah ramai sekali. Aku mencari Bu Yakomina sambil membawa surat rujukannya. Kucari-cari nggak ada. Akhirnya aku naik ke kapal, dan menitipkan surat rujukan ke Paman Yance. Kemudian pas keluar, Bafith memanggil "Luch, kamu dicari bu Yakomina tuh, bawa anggrek, buesaarrrr"

Aku langsung turun kapal lagi, mencari Bu Yakomina. Kulihat ibu ini dari jauh, kudatangi. Ternyata dia datangnya bersama anaknya, Papua dan Christina sambil membawakanku 2 anggrek jadi, anggrek daun bulat yang cukup besar dan sudah berbunga. Aih... cantik sekalii...

Mereka membantu membawa anggrek itu masuk kedalam kapal. Kami sempat berbincang-bincang sebentar. Ketika kapal mau berangkat, mereka masih menunggui dipelabuhan, sambil melambai-lambaikan tangannya. Aduhh... terharu...

Terimakasih bu Yakomina...

BODY STATISTIC

I've found interesting fact about or body from CHIC Magz

Selama 24 jam setiap org dewasa dgn bobot tubuh rata2 akan memiliki aktivitas sbb: Jantung berdenyut 103689 x,darah menempuh perjalanan 168 juta mil,bernapas 23.040 x,menghirup udara 483 m3,menelan 1,5 kg makanan,minum 3,5 lt cairan,berkata-kata sebanyak 25.000 kata,menggerakan 750 otot,kuku tumbuh 0,00012 cm,rambut memanjang 0,94353 cm dan sel otak sebanyak 7.000.000 yg terus bekerja

PTT Biak Numfor April 2008

,

PTT periode 2008 dibuka. Wahhh... karena Biak Numfor ternyata juga ada bukaan dokter PTT, otomatis traffic blog meningkat, dna juga ada saja yang menghubungi tentang bagaimana kalau PTT di Biak Numfor.

Well, aku lihat di ropeg, Biak Numfor membuka lowongan dokter PTT 13 ST dan 8 T. But in fact, karena dari 13 dokter PTT kriteria ST, yang perpanjang tuh 6 orang, dan yang 2 lagi mau mengajak istri2 mereka [yang dokter juga, dan mendaftar PTT di Biak, kemungkinan besar lebih diterima], maka secara riil, cuma ada kosong 5 dokter PTT.

Kalau berdasarkan tempat yang lowong, maka Pkm yang kosong ada di Pulau Wundi [1], pulau pasi [2], Pulau Numfor [2] Warsa-Biak [1] dan Amponbukor-Biak [1]. Tapi karena 2 dokter yang mau membawa istri berada di Numfor, dan dr Mela [Mandori-Numfor] memutuskan untuk pindah ke Warsa, maka akhirnya di Numfor sepertinya tersisa 1 tempat kosong. Dan dr David dari Amponbukor juga memutuskan untuk pindah ke Pkm Pasi, Jadi... yang kosong tinggal Wundi [1], Amponbukor [2], Numfor [1], dan Pasi [1]

Paling enak?karena aku dapat di Numfor dan aku lumayan enjoy disana... yah otomatis aku bakal jawab paling enak di Numfor :smile:

Yah, buat yang daftar PTT di Biak NUmfor, gud luck aja. Dan cepat datang yaaa... jadi kami bisa cepat pulang hahaha :D

Gud luck!

Another Day in Biak Numfor

,

Tanggal 10 maret jam 1 pagi, akhirnya aku sampai di Biak juga... Woww... tak terkira senangnya, sampai di kota lagi...

Setelah kejadian gagal pulang beberapa kali itu, akhirnya kami berhasil kembali ke Numfor dengan naik Twin Otter. Haddduuuuhhh... saat itu lega sekali... Selama beberapa waktu kami tetap di pulau, baru sekarang ini kami turun lagi ke kota. Hmmm... dihitung2, hampir 2 bulan kami di pulau...

Masuk ke rumah pertama-tama kaget, TV-nya ilang. Eh... ternyata rusak... harus dibawa ke Biak... aih aih... akhirnya tra ada hiburan lagi, ga bisa mengikuti perkembangan dunia luar lagi... mana tra ada koran, majalah gitu kan...

Awal-awalnya sih masih bisa menyibukkan diri, pas kebetulan pasien banyak yang dateng setelah tahu dokter sudah kembali ke Numfor... kalau nggak jam kerja, main kartu! [Joker], atau jalan aja ke jembatan, atau ke pantai atau main aja sama anak-anak kecil... Tapi yah namanya juga pulau terpencil... pasti lama-lama bosen juga. Apalagi pas mbak Rosa [perawat yang tinggal bareng aku] dan Ayu [anaknya] turun ke kota... Aih aih... sepi sekali... Dan saat itulah kebosanan kronis benar-benar terasa...

Seharian aku cuma duduk saja, diam tapi gelisah, mencoba menelpon siapa saja untuk diajak bicara. Tahu sih paling kebosanan itu tidak akan bertahan lama, tapi rasanya... saat itu sudah tak sanggup lagi, nggak ada hiburan, nggak ada keramaian, nggak ada Tv, nggak ada koran-majalah, sudah bosan ma pantai... yah intinya saat itu ingin ke kota sih :smile:

yah, "zero point", aku rasa semua dokter PTT di tempat Sangat terpencil pasti akan mengalaminya. Apalagi yang berasal dari kota-kota besar, walaupun enjoy, pasti ada satu waktu yang terasa ngebosenin dan ngebete-in banget. Tapi keesokan harinya... ya sudahlah... perasaan bosan itu sudah jauh berkurang dan aku mulai enjoy lagi dnegan Kameri

Tapi, waktu 2 bulan itu lumayan exciting. Many things happened to me, and i've done lot of things...

Ada waktunya kami kebanjiran pasien, apalagi pasien luar jam kerja. Mulai dari yang malaria [yang biasa saja sampai yang cerebral], kaki-tangan luka entah kena beling, parang atau tertusuk bia [kerang]. Aih aih... inilah kehidupan dokter PTT yang tinggal ditempat :smile:

Ada juga saat hujan turun dengan deras, cuma datang 2 pasien saja... akhirnya menghabiskan waktu menunggui Puskesmas dengan main joker [hahahaha].

Selain bekerja, ada pula waktunya jalan-jalan dan bertualang :smile:

Waktu ke Saribi, aku iri ma anak-anak yang dengan cueknya melompat ke laut [dalam lho, 4-5 meteran mungkin], trus berenang ke pinggir. Pingin niru, dnegan berbekal pelampung aku akhirnya terjun pula.

Aduhhhh... jeburrrr... agak panik sedikit, tapi kemudian... woww... akhirnya aku bisa lompat juga... It feels good... kemudian aku berenang ke tepi.

Nah... saat berenang-renang ditepi inilah, karang-karang yang tajam menggores kakiku. Awalnya aku nggak sadar, waktu mengepakkan kaki cuma terasa perih saja. Kemudian aku lihat kebawah, kakiku berdarah, terus-terusan. Aku angkat kakiku keatas, aku lihat jempol kaki kiriku, Masya Allah... luka robek cukup dalam!

langsung berakhir deh session berenangnya. Waktu membersihkan luka, ada yang komentar "Aih aih... kaki tipis begini jangan coba-coba berenang tanpa alas kaki, karang tajam-tajam, jangan niru orang-orang sini"

Aduh... telat sekali nasihatnya... Tapi Alhamdulillah, memang regenerasi tubuh itu keren, lukaku sembuh sempurna, tanpa "dekok" sedikitpun.

Sehabis kaki luka, aku kena faringitis, parah sekali... mana pula buang ingus tak berhenti. Dan ketika pilek reda, aku demam tak henti-henti, lemas sekali... kepala pusiinggg... mulut terasa pahit. Yup, akhirnya aku terkena malaria! Aduh... orang-orang bilang saya sudah 1/4 Papua [diinisiasi dengan malaria P: ]

Nggak enak banget deh kena malaria, akhirnya aku minum Klorokuin 3 hari, plus Primakuin single dose. Hari berikutnya wah sudah segar bugar...

Tapi rupanya, buat Tanah Papua, itu semua belum lengkap. Entah karena habis amndi-mandi di kali atau ketularan dari pasien, akhirnya aku kena kaskado juga!
Hahaha... penyakit yang kubahas di postingan sebelumnya...

Aih aih... mulanya cuma bercak kecil saja ditangan kanan, kuberi klotrimazol, tapi mungkin karena selama faringitis dan malaria aku minum Dexametason, ada efek imunosupresan-nya dan kondisi tubuhku juga sedang ga fit banget, entah bagaimana bercak itu menyebar ke tangan sebelah

Mulanya masih rajin mengolesinya dengan salep saja. Tapi ketika bintik-bintik kecil merah itu semakin menyebar, meradang dan sangat gatal,a khirnya aku memutuskan minum Ketokonazol 1x200mg, kulihat seminggu... Alhamdulillah lesi masih terlokalisir ditangan saja, tapi masih tetap merah-merah dan gatal, akhirnya kunaikkan dosis ketokonazol menjadi 1x400mg. Rupanya cukup ampuh... lesi-lesi ini akhirnya kering sendiri dan mengelupas. yak... bentuk kelupasanya konsentris berputar-putar gitu... Inisiasi kedua... kaskado :smile:

Sekarang aku bisa mengerti kenapa lesi dianak-anak itu bisa menyebar keseluruh tubuh. Karena memang sangat gatal sekali, jadi kemungkinan digaruk terus-terusan, nha... dan tanpa dicuci mereka juga menyentuh bagian tubuh lainnya, nyebar deh... Ini namanya learning by undergoing :smile:

Selain "berkenalan" dengan penyakit-penyakit itu, hidupku jauh berwarna lagi dengan petualang jalan-jalanku...

Didekat rumahku kan ada kali yang lumayan lebar. Selama ini bila aku berdiri diatas jembatan aku selalu bertanya-tanya seperti apakah ujung kali itu, bagaimana kah rasanya melalui kali ini dengan perahu. Penasaran.

Dan, akhirnya pertanyaanku terjawab, dengan menaiki sebuah perahu kecil [panjang 3 meter, lebar 0.5 meter lengkap dengan satu semang diseblah kanan] bersama Bafith, Sekap dan Maxsi, aku berkesempatan untuk menyusuri Kali Pomdori.

Wowww... benar-benar pengalaman menarik. Perahunya itu terasa sangat kecil sekali... goyang-goyang pula, untung saja ada semang [cadik] yang men-stabilkannya. Walaupun aku mengenakan pelampung terus terang saja aku takut jatuh. Aku membawa kamera [karena nggak water proof, maka aku membungkusnya dengan plastik, maka hasil fotonya tidak maksimal]. Selain itu... takut ular air... Hiii... aku sering melihatnya berenang di kali.

Tapi selain itu... Wah, pemandangannya keren banget. Pernah melihat artikel dan foto di Kompas tentang Frederick Sitaung, guru berdedikasi tinggi di pedalaman Merauke. Waktu itu ada fotonya sedang mendayung perahu di sungai ditengah hutan. Well, persis seperti itu, terkecuali bukan aku sendiri yang mendayung perahu, dan tidak ada buaya di kali [and i dont want it either] :smile:

Its so wonderful. Pengalaman 1 milyar!-ku P: Pohonnya tinggi-tinggi, dengan akar dibawah air, sementara banyak benalu hidup didahan-dahannya, termasuk pula sarang semut yang terkenal itu dan juga anggrek... Dan tak ketinggalan, biawak berjemur!

Iya, biawak!aku berkesempatan melihat reptil ini menyusuri pepohonan. hampir mirip seperti kadal, tapi jauh lebih besar dan sisiknya terlihat lumayan jelas. Aihhh... kerennn...

Selain menyusuri kali dengan perahu, dilain hari aku masuk menerobos hutan demi ke pantai. Seram juga...

Terus... sehabis home visite [mengunjungi pasien] di desa Namber, aku mampir sebentar ke teluk kecil didesa itu. Wowww... keren banget. Benar-benar cantik... Ini benar-benar area pilihan untuk dijadikan cottage... Lautnya berwarna hijau... dikelilingi pepohonan dna bukit-bukit rendah, semnatara didekatnya ada hunian rumah=-panggung diatas air. Cantik sekali! Aku dan Bafith sepakat, ini ialah salah satu tempat tercantik di Numfor

Selain ke Namber, ada pula "kepala air" Warembi [mata air tawar], yang ternyata muerupakan ujung dari kali Pomdori, ada juga pantai cantik berpasir putih di Ambermasi. Banyak deh jalan-jalan di Numfor-nya...

Aku bersyukur bertugas di Numfor, lebih senang lagi karena ditempatkan di Kameri. Karena Kameri nih letaknya dekat dengan obyek-obyek cantik. Kalau aku ditempatkan di Biak, aku mungkin tidak akan mendapatkan petualangan dan pengalaman yang sebanding dengan Numfor

Jumping!

Sensasi terjun dr dermaga Saribi (wlo msh pakai pelampung ;P) ternyata hrs kubayar mahal... Jempol kaki kiriku robek kena karang,"gumpil"<jd tdk bs dijahit :frown: >,dan berdarah2.Kedua telapak kakiku pun "beset2",perih sekali dibuat jalan.Yah...salah sdr sih,kaki tipis begini,nekat renang ga pakai alas kaki,pdhl dasar Saribi kan karang2 semua<gara2 sok niru org asli yg rata2 telapak kakinya tebal ;P >

Hm,kapok?
Ah...tentu tidaaaak :D
December 2009
M T W T F S S
November 2009January 2010
1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31