Skip navigation.

Luluch In OperA

the easiest way to speak Out!

Posts tagged with "Papua"

Anggrek dari Numfor...

,



Papua sebagai salah satu pulau besar di Indonesia yang masih alami, memiliki kekayaan dan keanekaragaman hayati yang sangat berlimpah.

Hal ini saya saksikan sendiri ketika saya bertugas di pulau Numfor di wilayah Teluk Cendrawasih, Papua. Pulau dengan luas 331.26 Km2 ini bisa dibilang perawan. Hutan-hutannya didominasi pepohononan yang sangat tinggi dan rapat, dan belum terjamah [and I hope will not]. Banyak sekali saya jumpai tanaman-tanaman yang belum pernah saya saksikan sebelumnya, atau yang dulu hanya saya tahu dari ‘dengar-dengar” saja. Contohnya, “Buah Merah”, “Sarang semut”, “Keris papua”, dll

Selain itu, disini saya sering menjumpai anggrek. Ya, anggrek Papua dengan bermacam jenis. Mulai dari anggrek yang umum dikenal orang ; Anggrek Macan [Grammatophyllum speciosum], Anggrek daun bulat, Anggrek kelinci,dll. Hingga ke jenis-jenis lain yang saya tidak ketahui namanya.

Awalnya saya kurang begitu suka dengan tanaman, tapi berhubung teman perawat yang tinggal bersama dengan saya sangat menyukai bunga, akhirnya saya pun mulai menyukainya. Sampai-sampai halaman depan rumah kami penuh dengan berbagai jenis anggrek!

Sebenarnya tidaklah sulit untuk mencari anggrek di Numfor, selain penduduk rata-rata memeliharanya, kita juga dapat mendapatkannya sendiri dengan hunting di hutan. Karena hutan di Numfor masih sangat bagus dan belum dieksplorasi, cukup gampang untuk menemukan anggrek-anggrek liar tersebut.

Anggrek yang paling sering ditemui di Numfor ialah jenis Anggrek Macan dan Anggrek Daun Bulat. Anggrek Macan ini sangat cantik sekali, bunganya berwarna dasar kuning atau hijau dengan bintik-bintik coklat, mirip dengan totol macan!! Anggrek ini bila berbunga, tahan lumayan lama, dan tingginya bisa mencapai 1 meter lebih.




Anggrek daun bulat ini daunnya mirip daun anggrek ungu yang sering kita jumpai di Jawa. Namun anggrek daun bulat ini bunganya berwarna kuning. Bila sudah tua, dia tinggi sekali. Saya pernah menemukan anggrek daun bulat ini dengan tinggi hampir 2 meter!! Sangat besarrr… Pastilah umurnya sudah berpuluh-puluh tahun…



Anggrek daun kelinci [ Saya tidak tahu apakah benar ini anggrek kelinci, ini hanya berdasarkan penyebutan dari masyarakat Numfor] itu daunnya kecil-kecil, bunganya mirip dengan anggrek macan namun lebih kecil, berwarna dasar kuning dengan bintik-bintik jingga!! Sangat cantik.

Ada juga anggrek-anggrek lainnya seperti anggrek cendrawasih, anggrek rumput, dan anggrek-anggrek yang tidak saya ketahui namanya. Mulanya saya tidak percaya bahwa tanaman-tanaman itu anggrek [benar-benar seperti rumput biasa], namun ketika mereka berbunga. Wah, memang benar! cantik sekali…

Bila kita datang ke pelabuhan pada saat ada kapal perintis, maka kita akan melihat banyak anggrek yang hendak dibawa ke Biak ataupun Manokwari. Kebanyakan sih hendak dijual di kota, karena harganya lumayan mahal, apalagi yang sedang berbunga. Yang sering dibawa ya anggrek macan dan anggrek daun bulat yang sudah besar

Saya mendapatkan anggrek dengan meminta anak tetangga saya [Elis dan Maxsi]untuk mencarikan anggrek, selain itu bila saya puskel ke desa-desa, kadang saya meminta kepada mereka, kadang juga ada pasien-pasien saya yang membawakan saya anggrek [Seperti Bu Yakomina Manggara dan Bu Sarah], tapi saya juga pernah hunting ke hutan [tetap saja yang mengambil si Elis :D ]

Anggrek yang saya kumpulkan waktu itu lumayan banyak, apalagi ditambah dengan yang diberi oleh pak Yoel Krey [terima kasih pak]. Bapa nya Eta Krey ini rela keluar amsuk hutan demi mencarikan anggrek untuk saya [“sebagai kenang-kenangan dok!”]. kaget juga waktu dating dengan membawa 2 karung anggrek [Oh My God…]. Saya bingung juga untuk membawanya. Akhirnya saya bawa ke Biak dan setelah dipilah-pilah, sebagian saya bagikan kepada teman-teman dokter PTT saya.

Saya lebih memilih membawa yang kecil-kecil, yang jarang didapat, serta yang mempunyai nilai historis bagi saya [anggrek yang diberikan oleh Elis, Maxsi, Bu Yakomina dan Bu Sarah]

Ayah saya [yang penggemar bunga] senang sekali ketika saya membawakan beliau anggrek. Anggrek-anggrek itu ditanam di belakang rumah, and so far so good… Mungkin tumbuh dengan bagus karena iklim di Purwodadi yang hampir sama dengan Numfor [sama panasnya]. Beberapa waktu lalu pun anggreknya sudah sempat ada yang berbunga. Wah… senang!! Selalu mengingatkan saya akan rumah tempat tinggal saya di Numfor yang halaman depannya dipenuhi dengan anggrek

Leaving Numfor...

, ,

Published by Luluch The Cinnamon on Tuesday, April 22, 2008 di 12:22 PM


2 hari lagi, aku akan pergi meninggalkan Biak Numfor, kembali lagi ke Jawa. Yap… masa tugasku sebagai dokter PTT di kabupaten Biak Numfor sudah hampir berakhir.

Aku turun dari Numfor tanggal 18 April lalu, naik Twin Outer bersama mbak Rani. Senang juga punya kesempatan naik Twin Outer ketika kembali ke Biak, soalnya biasanya dari Numfor ke Biak aku naik kapal Yapwairon.

Sejak dari sebulan lalu, sudah excited untuk pulang. Kasarnya sih “menghitung hari” hehehe. Seusai puskel dari Baruki, paman Simson mengadakan rapat kilat tentang kepulanganku. Disetujui bahwa akan ada acara perpisahan resmi dari Puskesmas, dan acara piknik bersama di pulau Manem.

Minggu, 13 April, aku pergi berkeliling Numfor naik motor bersama Bafith. Wah… my last chance to see all of Numfor. Tujuan pertama ke kepala air Warembi [mata air], kemudian diteruskan ke Teluk Duai-Bruyadori yang indah sekali… dari situ kami pergi ke pantai Manggari, diteruskan ke Mandori!! Wah… akhirnya kesampaian juga untuk pergi ke Mandori, ujungnya Numfor Timur Jauh.

Dari Mandori kami berputar ke Numfor Barat Jauh, ke Pakreki lagi untuk melihat “pulau Numfor” yang asli, terus ke Teluk Kopowi di Namber. Wahh… Teluk Kopowi ini my favourite place… cantik banget!!. Abis dari itu, kembali lagi ke Numfor Barat, pantai Asaibori… hehehe… walau capeknya naudszubillah… tapi puas…



Senin, 14 April, kami sibuk memasak untuk acara perpisahanku. Tidak hanya aku dan petugas Puskesmas saja, tapi juga dibantu oleh masyarakat sekitar. Hidangannya sederhana, ikan saus, “sayur kota” [sayur sop!], sayur singkong, tumis buncis, telur, es kelapa dan… babi kecap!

Jangan terperangah. I’m a moslem… I don’t intend it.

Dan masakan babi kecap ini adalah suatu “keberuntungan” [buat orang-orang sekitar Puskesmas], karena saat paman bersama anak-anak sedang mengambil daun singkong di kebunnya Mbak Rosa, pas ], ada Babi Hutan. Si Gusti [anak tetangga sebelah] bawa parang, langsung dilempar kearah babi itu, kena kepala. Babinya semaput hehehe. Langsung deh dihantam Pak Simson… yah, inilah calon “hidangan utama” acara perpisahanku…

Walaupun yang membantu aku masak mayoritas beragama Kristen Protestan, mereka mengerti kalau babi itu haram buat kaum muslim. Mereka juga mengerti untuk tidak memasak dalam panci yang sama. Jadi kami memasak makanan lainnya di rumah Aho, babi itu dimasak di rumah paman Simson. Mereka berkata padaku bahwa aku sungguh beruntung, karena bisa mendapatkan babi untuk perpisahanku. Gratis pula! [kan babi tuh barang mehel]. Yah… I really-really appreciate it…

Perpisahan itu rencananya diadakan jam 19.00 WIT. Tapi sampai lewat waktu, tamu-tamu belum datang. Aduh… ternyata pak Camat mengadakan acara ibadah keret dirumahnya.

Wah… miskoordinasi nih… Jadi kami terpaksa menunggu sampai pak Hengky [pak camat] menyelesaikan acaranya baru kemudian menghadiri acara kami. Akhirnya kami baru bisa memulai acara pada jam 21.30 WIT, wah… too late… mana hujan pula… Jadi yang datang ke acara ya tidak terlalu banyak, tapi tetap lumayan rame.

Selasa, 15 April, seharusnya kami pergi ke pulau Manem hari ini. Langit cerah, tapi sejak pagi angin menderu-deru tidak berhenti. Acara pergi ke Pulau Manem batal! Namanya menyabung nyawa kalau tetap nekat ke Manem… Agak sedih sih… tapi berdoa biar esoknya cuaca cerah sehingga kami bisa pergi ke Pulau Manem.




Rabu, 16 April, akhirnya pergi ke Manem juga!! Tepat tengah hari, dengan naik Johnson, kami-petugas Puskesmas-dan beberapa masyarakat sekitar pergi ke Pulau Manem. Pulau Manem ini terletak tepat di depan Teluk Kopowi-Namber, bisa dicapai dengan naik perahu atau Johnson. Dari Kameri, kami menempuh 1,5 jam perjalanan naik Johnson.

Well, itu adalah pengalaman pertamaku naik Johnson. Serem juga… soalnya saat itu laut masih agak gelombang… Apalagi aku dan Bafith duduk didepan, goyangnya kapal terasa sekali… Dan so pasti basah kuyup terkena pecahan ombak. Huwahhh… asin!

Syukur Alhamdulillah kami sampai di Manem dengan selamat. No doubt, Manem memang indah. Kami langsung berjalan berkeliling mengelilingi Manem, 1 jam an saja. Sehabis itu, mandi-mandi di pantai sepuasnya… Oh ya, saat itu aku juga berkesempatan untuk makan lobster!! Hehehe… pas kebetulan ada yang dapat lobster saat “molo” [mencari ikan]. Tanpa dikasi bumbu apa-apa, lobster itu langsung dibakar saja. Tapi rasanya… wah… lezat luar biasa… senang deh…

Menjelang malam, kami kembali ke darat via Namber. Jadi kami naik Johnson dari Manem ke Namber, kemudian dari Namber kami naik mobil puskesmas ke Kameri. Di mobil kami semua diam saja, kecapekan…

Hari rabu, aku siap-siap packing. Beberapa barang yang kurang berguna buatku, kulungsurkan ke tuan rumahku [mbak Rosa, perawat yang tinggal bersamaku] dan masyarakat sekitar. Baju-baju dan barang lainnya cukup dimasukkan dalam 2 tas sedang saja… Tapi tentu saja aku tidak kembali ke Biak hanya dengan membawa 2 tas, tambahannya banyak!

Apa aja yang kubawa dari Numfor?Ada 2 kardus plus 1 karung anggrek!! Yap… sejak di Numfor kan aku jatuh cinta ma anggrek, maka selama ini aku semangat ngumpulin anggrek. Rata-rata sih dikasih, tapi ada juga beberapa yang beli. Ditotal sih ada sekitar 13 jenis anggrek yang kudapat hehehe. Tapi itupun belum cukup… ada beberapa tanaman yang kutaksir, aku sekalian bawa… jadi bagasiku banyak sekali hehehe

Oh ya saat itu aku dikasih ayam jago oleh mama Oce lho… Aduh… terharu… Niatnya sih mau nyumbang ayam jantan buat acara perpisahanku, tapi karena telat, kata beliau terserah deh mau diapain. Kalau naik kapal sih oke saja bawa ayam, tapi saat itu kan mau naik pesawat. Jadi untuk menjaga perasaan Mama Oce, aku tetap membawa kardus berisi Pyo [nama ayam jago itu hihihi :D ], tapi sesampainya di bandara, aku minta ayam itu dibawa pulang ke Kameri dan dimasak buat orang-orang Puskesmas saja… Terimakasih ya Mama Oce…



Aku pergi ke bandara dilepas oleh Bafith, Paman Simson, Bu Oce, Bu Gery, n Buce. Petugas puskesmas lainnya tidak bisa mengantar karena ada urusan mendesak berkaitan dengan masalah yang menimpa salah satu petugas Pkm kami.

Overall… selain senang, ada perasaan sedih juga. Kehilangan.

Bulan-bulan lalu mungkin aku sangat-sangat menunggu saat-saat ini. Tapi nggak disangka juga, saat menjelang pulang begini aku malah jadi malas-malasan buat pulang. Kalau bukan karena ada urusan-urusan yang harus segera dibereskan di Jawa, mungkin aku menunda waktu kepulanganku.

Waktu pesawat lepas landas, aku sedih… Thinking that maybe I wont see Numfor anymore [although I hope I have chance to visit Numfor again someday later]. Thinking that I left one of beautiful things in my life…

I left Pkm Kameri, I left Numfor, I left its beauties [things that I’ll keep forever in my memory]

I left Bafith, “dear soulmate”-ku di Kameri, yang walaupun kadang-kadang menyebalkan, tapi aku bisa bilang bahwa im so grateful that I was placed in Kameri with him. He helped me so much, kadang-kadang kemalasanku tercover olehnya hehehe. Thanks ya Fith

I left Puskesmas’people ; Paman Simson Kapisa, Pak Yance Sanggenafa, Mbak Rosa Tandana, Mas Aho beserta istri, Mbak Eka Winarsih, Bu Oce Kafiar, Bu Gerarda Noriwari, pak Yoel Krey, Pak Musa Marisan, Pak Klemens Kauyan, Buce Kamer, Hengki Mambraku. Thank you so much for all…

I left people in Numfor, which are very-very kind to me... Elis, Maxsi, Pati, Mama Rema, Mama Gusti, Mama Oce, Ibu Yakomina Manggara, etc…Thanks for everything…

And of course I left JOKER!! Permainan kartu yang sangat-sangat-sangat sering kami mainkan… Di Jawa kayaknya jarang deh yang main kartu Joker

Ahh… 6 bulan yang sangat-sangat-sangat kaya…

Sarat pengalaman dan kenangan, yang aku yakin bahwa ini akan menjadi modal berharga bagi hidupku kedepannya…

Numfor and its people have special place in my heart, they left beautiful memories in my life. And I hope that I left beautiful memories in Numfor too…

Numforia Island...

, , ,

more bout Numfor island…

Pulau Numfor ialah bagian dari kabupaten Biak Numfor. Rencananya, tahun 2009-an gitu, Numfor akan menjadi kabupaten yang berdiri sendiri terpisah dari Biak. Pulau ini terletak di sebelah Barat Laut pulau Biak.

Pulau Numfor dapat dijangkau dengan pesawat maupun dengan kapal. Dengan pesawat Twin Otter dari Biak, memerlukan waktu tempuh 25 menit saja. Pesawat akan mendarat di bandara Yemburwo. Bandara ini kecil sekali, dan cuma ramai saat ada pesawat. Pesawat cuma ada hari Senin dan Rabu, kadang-kadang pada momen khusus [seperti Natal, et], akan ada penerbangan ekstra. Tapi karena seat terbatas [Cuma 17 seat], so ya harus booking dulu semingu sebelumnya.

Sedangkan perjalanan laut bisa ditempuh baik dari Biak maupun Manokwari. Secara geografis, Numfor ini lebih dekat ke Manokwari daripada ke Biak, sehingga waktu tempuh dengan kapal besar Yapwairon Cuma sekitar 5 jam, bandingkan bila ke Biak, paling cepat 7 jam.

Dari Biak ke Numfor kita bisa naik kapal besar Yapwairon, Papua Lima maupun Papua Satu dengan waktu tempuh bervariasi [sekitar 7-9 jam jika laut teduh], tapi kapal-kapal ini jadwalnya tidak bisa dipastikan, karena Numfor hanya merupakan salah satu persinggahan.

Lain halnya dengan kapal tetap Cendrawasih, kapal ini cuma PP Biak-Numfor, tapi kapal ini kecil, dan somehow… waktu tempuhnya lama sekali dari Biak ke Numfor, bisa sampai 12 jam. Ada juga kapal Bintang 23, Bintang19 dan kapal-kapal ferry lainnya. Tapi… aduhhhh… seraaaammmmm…

Kalau naik kapal, tidak perlu booking dulu, jadi langsung bayar diatas kapal. Rata-rata sih 35rb-40rb, klo VIP ya 90rb [Yapwairon]. Tapi ya… crowded bangeeeetttt… Musti rela desak-desakan, kadang harus sampai duduk menggelar terpal atau tikar di lorong-lorong maupun di dek. Lumayan menantang juga kan? hehe

Yang lain? bisa naik Johnson, ini model perahu yang umum di Biak. Perahu kayu dengan panjang bervariasi 10-12 meter dengan kayu penyeimbang [semang] di salah satu sisi maupun kedua sisi perahu kemudian dimodifikasi dengan ditambah mesin, sehingga lajunya kencang. Bila lautan sedang teduh, Numfor-Biak dapat ditempuh dalam jangka 6 jam, namun bila cuaca sedang tidak bersahabat, bisa sampai 12 jam!! Yang ini sih lebih seru lagi hehehe…

Bila bandara Yemburwo berada di Yemburwo yang mana merupakan “kota-nya” Numfor [dari Kameri sekitar 15 menit-an], maka pelabuhan berada di Saribi, distrik Numfor Barat [wilayah kekuasaan saya hohoho P:, dari Kameri sekitar 30 menit].

Di Numfor terdapat 2 distrik, yakni distrik Numfor Timur dengan pusat di Yemburwo, dan distrik Numfor Barat dengan pusat di Kameri [Kabarnya bakal ada peresmian distrik baru di Saribi]

Di Numfor Timur ada 2 Pkm yakni Pkm Yemburwo [DTP] dan Pkm Mandori di ujung Numfor Timur. Sementara di distrik Numfor Barat terdapat Pkm Kameri [Pkm-ku niy…] yang berada di desa Pomdori [nearby Kameri]

Jadi, seperti yang kusebutkan sebelumnya, Pkm Kameri melayani 18 desa, mulai dari Pyefuri sampai ke Masyara, 4400 jiwa. Di Pkm Kameri ada 6 perawat, 1 bidan dan 2 dokter. Terus masih ada pustu [puskesmas pembantu] dengan perawatnya di beberapa tempat, serta ada pula bidan desa.

Penduduk disini rata-rata berasal dari suku Biak. Ada pula yang dari pulau Serui [kab Yapen-Waropen], ataupun Manokwari. [Pendatang rata-rata berasal dari Makassar, Toraja, Jawa]. Campuran… jadi bisa dibilang ada akulturasi juga…

Nama-nama penduduk disini keren-keren lho… Alexandrina, Sefter, Dexter, Rachel, etc.Seperti laiknya orang Manado, mereka punya nama fam [nama keluarga alias marga klo bagi orang Batak]. Desa-desa tertentu biasanya juga rata-rata dihuni oleh fam tertentu. Jadi kadang kita bisa menebak asal desa pasien dengan nama fam-nya. Seperti di Pomdori, bakal banyak ditemui fam Kapisa, begitu juga di Yenmanu, banyak ditemui fam Abidondifu. Lain-lain…

Dan… satu hal yang sering dilihat di Papua… tradisi makan pinang!! Iya deh, pasti bakal ngeliat orang makan pinang dimana-mana… dan of course… gigi mereka jadi merah kecoklatan, dan kita bakalan banyak nemuin bekas ludahan pinang dimana-mana… Aku lihat, orang-orang disini sudah mulau makan pinang sejak kecil. Mungkin pinang semacam adat ber-sosialisasi juga, dan bahkan punya sifat adiktif sepertinya hehe P: Habis… sampai pas upacara HKN kemarin tuh pak Bupati meninjau RSUD Biak Kota sambil mengunyah pinang hohoho…

Trus… bahasa Indonesia mereka bagus-bagus lho… mulai dari anak kecil sampai yang tua, bisa berbahasa Indonesia dengan baik. Katanya sih bahasa yang diajarkan pertama kali itu bahasa Indonesia, nanti kalau sudah diatas usia 5 tahunan gitu, baru diajarin bicara bahasa Biak

Di Numfor ini, orang-orang suka menyapa!! [kurasa sih di seluruh Papua juga begini]. Kalau ketemu pagi hari ya bilang “selamat pagi”, ketemu malam ya bilang “selamat malam”, hampir pada setiap orang, bahkan pada orang yang belum dikenal. Tidak seperti di Jawa kan, paling kalau menyapa cuma dengan senyum atau anggukan saja. Jadi ya kalau pas jalan ya pasti capek menyapa orang yang ditemui dijalan hehe

Oh ya, mereka juga punya kebiasaan menyingkat kata. Jadi kata saya menjadi “sa”, punya menjadi “pu”, sudah menjadi “su”, kau menjadi “ko”, pergi jadi “pi”. Lucu juga pas denger mereka bicara, awal-awalnya ga “ngeh” apa maksudnya.

Mungkin seperti gini “Sa pu anak su pi ke Biak kemarin”, jadi bingung kan, “apaan ini?”. Eh ternyata maksudnya tuh gini “Saya punya anak sudah pergi ke Biak kemarin”. Keqkeqkeq…

Hemmm… sekarang tentang infrastruktur. Sebenarnya bisa dibilang infrastruktur di Numfor bisa dibilang bagus. Saya pernah mengelilingi sebagian Numfor dengan motor bersama Bafith. Dengan rute Kameri-Yemburwo-Manggari-Masyara-Saribi-Namber-Kameri lagi dalam waktu sekitar 2 jam, menembus hutan [seruuuuuu…] dan kadang di tepi pantai. Sebagian besar jalannya ber-aspal, dan kalaupun belum, masih bisa dilalui oleh mobil. Cuma sayangnya… tidak ada transportasi umum, tidak ada bus maupun angkot.

Penduduk yang mempunyai kendaraan pribadi sangat sedikit, bahkan saya jarang melihat orang naik sepeda! Jadi kebanyakan orang kalau mau pergi harus jalan kaki atau naik ojek [bukan ojek seperti yang kita tahu, jadi kalau kita ngelihat ada orang naik motor, trus kita nebeng naik, kita bayar ma dia, ongkos bensin P: ]. So… this is the reason, kenapa frekuensi kunjungan ke Pkm ga terlalu banyak

Tapi hebatnya… bila pagi dan siang hari, pasti kita akan melihat banyak anak sekolah jalan kaki. Bila SD bisa ditemui dimana-mana, SMP pun tiap distrik ada, tapi khusus SMU, cuma ada di Kameri [SMU N 1 Numfor], dan SMK Kelautan di Numfor Timur [juauuhhhh], bisa dibayangkan dong gimana beratnya perjuangan untuk sekolah, harus jalan jauuuuuuuuhhhh sekali [berpuluh-puluh kilometer…]. Ada sih bus sekolah, tapi tidak mungkin bisa menjangkau seluruh anak sekolah

Listrik?ada dong… tapi terbatas, mulai dari jam 18.30 WIT sampai jam 22..30 WIT. , Cuma nyala 4 jam sih, tapi lumayan kan… Bisa charge hp, emergency lamp, nonton TV!! Walaupun belum semua desa di Numfor mendapatkan pelayanan listrik. Listrik ini merupakan program LisDes PLN, berasal dari BBM solar. Jadi ya… harus diirit-irit lah. Harga BBM di Numfor kan mahal sekali

Di Numfor bisa pake HP juga lho, walau cuma ada Telkomsel [Simpati dan AS, nggak promosi lho…]. BTS-nya hanya ada 1, di distrik Numfor Barat. Jangkauannya ya terbatas, paling ¼ pulau gitu. Tapi alhamdulillah Kameri masih dapat sinyal dengan bagus. Jadi komunikasi masih bisa jalan [walau saat ini BTS-nya masih rusak, kena sambar petir]

Sangat Terpencil?hehe, ya untuk sebagian desa. Tanpa listrik, tanpa sinyal. Untuk Kameri dan Yembuwo sih lumayan, jadi ga se-terpencil bagian Numfor lain. Cuma… akses untuk ke Numfor via kapal atau pesawat kan tidak tiap hari ada.

Rata-rata penduduk tinggal di desa-desa di tepi pantai. Bahkan Puskesmas tempat saya bekerja pun berada di tepi pantai. Lumayan keren juga, kalau pas senggang, duduk-duduk di depan Puskesmas sambil memandang lepas kearah pantai diiringi angina sepoi-sepoi… What a wonderful world… :D

Sebagian besar Numfor itu hutan, hutannya penuh dengan pepohonan tinggi dan bila kita melewati hutan, kita akan sering melihat burung-burung berwarna-warni terbang bebas [banyak kakatua juga!!very-very beautiful], katanya sih Numfor ini banyak ularnya [yup!! I watched it on my own…], kuskus [belum lihat…], binatang-binatang-binatang lain [saya pernah lihat kadal buesaaaarrrrrr di jalan, cari makan kali ya…], dan untungnya ga ada macamnya harimau gitu hehe P:

Rumah-rumah penduduk ini rata-rata sudah permanent, dari batako dengan atap seng [bangunan dengan atap genteng cuma pernah lihat di bangunan di pelabuhan Saribi], so… puanaaasss sekali… Tapi ada juga yang berupa rumah kayu [dari papan-papan].

Rumahnya kecil-kecil, tipe RSS gitu, dengan 2 kamar. Jaraaaaannnnnnggggg sekali aku melihat ada rumah besar atau rumah ”bagus”. Biasanya kamar mandi ada diluar [proyek Pemerintah gitu deh]. Ditiap-tiap rumah biasanya ada tandon air [bantuan juga] , untuk menampung air hujan untuk dipakai keperluan rumah tangga, tapi ada juga yang punya sumur sendiri.

Air sumur disini cukup bagus. Jernih!!dan walaupun dekat laut, tidak terasa asin. Karena rata-rata pemukiman dekat laut, maka sumur dengan kedalaman 5 meter saja sudah keluar air… [Jadi ga begitu capek kalo nimba hehe]

Mata pencaharian penduduk disini rata-rata nelayan dan petani. Tapi yang saya lihat disini tidak ada pertanian [sawah] disini!Yah… beras kan memang bukan makanan pokok orang asli sini [keladi, singkong…]. Yang ada hanya kebun-kebun yang kadang ditanami gandum, kacang hijai ataupun singkong, itupun scattered [tersebar], ditengah hutan.

Padahal saya lihat pulau Numfor ini sebenarnya subur, jauh lebih subur daripada pulau Biak [yang notabene merupakan pulau karang]. Ada pohon jeruk, kersen, kluwih, mangga, papaya. Cuma sayangnya… sepertinya kurang dimaksimalkan…

Di Numfor ini lumayan susah untuk mendapatkan sayur. Tidak ada yang menjual kentang, wortel, gitu. Paling banter kangkung, kacang panjang, daun katuk. Bayam, kobis, lombok ada, tapi terbatas…

Tapi ikan… wah… jangan tanya… murah sekaliii… fresh pula! Kami biasanya datang ke pelabuhan pada saat ada kapal, itulah saatnya para nelayan menjual hasil tangkapan mereka. Fresh from the sea!!

Atau kalau tidak, pada pagi hari sering ada nelayan lewat depan rumah sambil membawa ikan yang sudah di-renteng, kita tanya aja, dijual atau tidak… Atau kalau nggak, pesannnnnn…

Tidak seperti di Jawa, disini ikan dijual per-ikat bukan per kilo. Satu ikat bisa terdiri dari 6-7 ikan sedang, atau 2 ikan besar, atau kombinasi. Per ikat dihargai Rp 10.000. Murah sekali kan… ikan-nya segar-segar, dan lezat pula… Ikan yang sering dimakan ialah ikan samandar, ikan merah, ikan batu, ikan insamen, ikan kakatua dll. Banyak ikan yang sisiknya cantik-cantik!! [serasa makan ikan hias hehehe]

Di Numfor ini, terkenal sekali dengan kepiting kenari!!kepiting ini buesaaaarrrrr sekali. Saya belum pernah makan sih, karena belum musim. Biasanya kepiting ini turun ke darat untuk bertelur pada saat bulan purnama. Katanya sih uennnakkkkkk banget [belum pernah coba!]. Selain kepiting kenari, ada kepiting merah seperti yang biasa kita temui. Kalau sedang turun ke darat, maka kepiting-kepiting ini akan memenuhi jalan raya. Bila kendaraan mau lewat, tak ada jalan lain, selain menggilas mereka. Karena nggak mungkin untuk diusir [gimana coba ngusirnya?]

Kalau mau kepiting sih katanya harus ke Davy, desa di dekat Mandori, jauuuuhhhh sekali… Kalau di Kameri harus pesan sama seorag nelayan yang terkenal ahli menangkap kepiting kenari. Cuma sayangnya saat ini si bapak itu sedang berada di Manokwari, itulah sebabnya saya belum bisa menikmati kelezatan kepiting kenari…

Dari cerita penduduk sekitar, Numfor ini dulu pernah diduduki oleh tentara Sekutu dan tentara Jepang. World War II kan juga berlangsung di Timur Indonesia ini. Jadi masih banyak peninggalan-peninggalan tentara Sekutu dan Jepang. Konon, banyak bangkai kapal beserta dengan isinya di kedalaman laut dekat pulau Numfor. Masih banyak juga ditemukan mortir-mortir dan ranjau disini, sehingga tak jarang menyebabkan kecelakaan bagi penduduk Numfor

Di Saribi, saya pernah ditunjukkan goa-goa bekas tempat tinggal tentara Jepang. Bapak nelayan yang mengantar saya bilang ketika muda beliau sering main ke goa-goa ini. Dan pernah melihat ada tengkorak-tengkorak tentara Jepang yang tewas di goa-goa itu. Hiii… ngeri juga…

Pantai Asaibori yang indah di dekat Kameri [sekitar 3 km], juga merupakan bekas pangkalan tentara Sekutu. Kami pernah berjalan ke pantai Asaibori, terdapat jalanan ber-aspal [dari sejak jaman Perang Dunia II lho], yang katanya merupakan bagian dari landasan untuk pesawat perang tentara Sekutu.

Bahkan model jalanan di Numfor yang berlekuk-lekuk merupakan salah satu warisan perang Dunia II. Mereka sengaja membuat jalanan yang berkelok-kelok ditengah hutan. Karena diantara hutan-hutan, bila kita berbelok kan kita tidak dapat melihat langsung ada apa didepan kita, dan rupanya itulah “spot” yang tepat untuk menyergap tentara musuh.

Pertama kali datang ke Numfor, saya merasa ngeri dengan hutan-hutan di pinggir jalan. Pohonnya yang tinggi dan rapat-rapat serta gelap cukup memberikan rasa seram. Tapi lama kelamaan karena sering melewatinya, akhirnya saya terbiasa juga. Lama-lama saya menikmati juga kehidupan di Numfor. Bebas polusi, pemandangan yang indah, lingkungan yang bersahabat, dan tentu saja ikan-ikan yang segar… 

NB : Katanya, pulau Numfor ini aslinya bukan bernama Numfor, tapi pulau “Poiroi”. Sedangkan pulau Numfor yang asli merupakan sebuah pulau kecil di daerah Pakreki, distrik Numfor Barat.

Semoga suatu saat anda dapat berkunjung ke pulau ini dan menikmati keindahan pulau Numfor ini 

December 2009
M T W T F S S
November 2009January 2010
1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31