Skip navigation.

Luluch In OperA

the easiest way to speak Out!

Posts tagged with "travel"

Life in numfor

,

Aku dan Bafith bertugas di Puskesmas Kameri, distrik Numfor Barat. Puskesmas ini ber-lokasi di desa Pomdori. Desa ini berada di tepi pantai. Jadi Puskesmas dan kompleks perumahan pegawai Puskesmas ini berada di tepi pantai. Jadi kalau malam, suara latar belakang saat kami tidur tuh suara ombak. Keren hehe

Ombak ditepi Pomdori ini tidak sampai ke pantai, karena ada reef barrier sekitar 200-500 meter ditepi pantai. Jadi, lumayan untuk mengurangi abrasi, dan menunda waktu tsunami [bisa nyelametin diri ke darat dulu hehe P:]

Aku dan Bafith tinggal bersama perawat di kompleks Puskesmas. Sebenarnya untuk kami sudah disediakan 2 rumah dinas [rumdin], tapi masih dalam proses rehab. Sehingga, untuk sementara aku tinggal bersama 2 perawat pendatang [mbak Rosa dan Eka]. Sementara Bafith tinggal di rumah persis didepan rumah aku bersama pasangan suami istri Aho-Rani.

Rumah itu luasnya kurang lebih 50 m2, dengan 2 kamar dan 1 kamar mandi. Tapi sumur berada di luar. Ga ada pompa air maupun pipa, jadi tiap pagi dan sore aku harus olahraga, mengangkat air dari sumur ke rumah. Lumayan… jalan 10 meter sambil membawa 2 ember kanan-kiri hehehe

Secara teori, kami kerja mulai dari Senin-Sabtu, dengan jam kerja jam 08.00 WIT-14.00 WIT (kecuali Jumat dan Sabtu). Tapi pada kenyataannya, walaupun Pkm Kameri bukanlah Pkm DTP [Dengan Tempat perawatan], jam kerja bisa saja sampai kerja 7 hari seminggu, dan tetap harus siap-siap 24 jam. Karena pasien datang tidak tentu waktu

Tapi enak juga kalau tinggal didekat kompleks, tak perlu terburu-buru untuk berangkat kerja. Tinggal jalan 10 meter aja, udah nyampe Puskesmas. Kadang-kadang kalau sedang sepi pasien [paling rame cuma hari Senin], masih dalam jam kerja, kami pulang dulu, istirahat, nanti kalau ada pasien, baru dipanggil ma perawat..

Kadang-kadang juga kalau lagi nungguin pasien, kami duduk-duduk di depan Pkm, sambil menikmati pemandangan ke arah laut, diiringi angin sepoi-sepoi... menyenangkan sekali!

Kompeks-nya lumayan aman. Karena dikelilingi rumah penduduk desa Pomdori. Lagian Pak Kapuskes kami cukup disegani, jadi orang mau berbuat macam-macam dengan pegawai Puskesmas pun akan pikir-pikir.

Disini banyak sekali anjing!. Gila… jadi kalau habis makan n mau cuci piring di luar rumah. Dalam waktu sekejap, anjing-anjing akan merubung aku mengharapkan sisa makanan [apalagi kalau habis makan ikan]. Gimana nggak ngeri coba… Well, karena kami muslim, jadi yah lumayan “berhati-hati” dengan anjing-anjing itu.

Disini kan ga ada masjid, jadi ga ada adzan. Jadi kalau sholat, ngira-ngira sendiri waktunya. Yang lucu ya untuk nentuin waktu Maghrib, kami memakai patokan waktu listrik menyala. Jadi kalau listrik sudah menyala, well itulah saatnya Sholat Maghrib.

Makan… numpang sama perawat. Maksudnya, nebeng masak gitu… Aku sudah siapin beras di rumah sih, tapi sampai sekarang belum digunakan mbak Rosa [ :? ]. Karena aku tidak bisa masak [coba masak nasi kemarin pun gosong hehe], jadi ya ngikuuuuutttt aja… Tapi sepertinya kalau rumah dinas sudah jadi, dan aku tinggal sendiri, aku harus belajar masak sendiri deh… kan tidak ada warung makan disini…

Minum... kami memakai air kemasan [tak usah disebut merk-nya]. Tapi untuk masak, ya ngikut yang masak ya... pake air asli. Tapi sebenarnya lumayan kok, masih mendingan kalau dibandingkan air asli Purwodadi :smile:

Oh ya… karena sebentar lagi mau pindah rumdin sendiri, akhirnya aku beli peralatan-peralatan rumah tangga. Emang sih ada bekas peralatan-nya dokter periode kemarin, tapi sepertinya kurang, jadi ya belanja lagi deh.

Disini tidak ada pasar. Adanya cuma toko-toko kecil. Kalau perlu sesuatu, biasanya kami pergi ke Yemburwo, dimana ada toko-toko yang lumayan besar [untuk ukuran Numfor], yang menjual sembako, alat kelontong, peralatan rumah tangga sampai alat pertukangan. Rata-rata pedagangnya orang Makasar dan mereka sudah hafal dengan kami [orang baru di Numfor tuh ketauan deh… saking kecilnya…].

Tapi kami jarang belanja di Numfor. Kebanyakan bahan makanan kami beli di Biak, karena harga di Biak lebih murah dan persediaan barangnya lebih lengkap dan bervariasi. Jadi besok ketika kami kembali ke Numfor, bisa dipastikan bagasi kami banyak sekali. Karena itu ketika berada di Numfor, bisa dibilang pengeluaran kami tidak terlalu banyak.

Kami lumayan sering bepergian, naik motor [biar irit bensin, disini bensin 1liter = 7rb, mahal ], mengunjungi teman-teman dokter yang tinggal di Yemburwo, atau jalan-jalan mengitari Numfor. Numfor itu indah banget lhooo…

Ada beberapa spot-spot yang sudah kami tandai dan aku sudah bertekad untuk mengunjunginya lain waktu.

Didekat rumah kami pun ada sebuat tempat favorit untuk bermain. Jembatan. Jembatan ini menghubungkan desa Pomdori dan desa Yenmanu. Jembatan ini terletak diatas kali [tak tahu apa namanya, cuma disebut kali saja]. Kali ini sepertinya merupakan hulu dari sungai, jadi airnya merupakan campuran air laut dan air tawar, arusnya cukup kuat. Pemandangan di Jembatan ini sangat indah sekali. Anak-anak sering main disini, saling unjuk kebolehan berenang atau melompat dari jembatan. Aku pun sering main disitu, pemandangannya saat matahari terbenam sangat indah.

So far, hidup disini lumayan enak. Masih ada listrik, masih ada sinyal, dan lingkungannya enak :smile:

Numforia Island...

, , ,

more bout Numfor island…

Pulau Numfor ialah bagian dari kabupaten Biak Numfor. Rencananya, tahun 2009-an gitu, Numfor akan menjadi kabupaten yang berdiri sendiri terpisah dari Biak. Pulau ini terletak di sebelah Barat Laut pulau Biak.

Pulau Numfor dapat dijangkau dengan pesawat maupun dengan kapal. Dengan pesawat Twin Otter dari Biak, memerlukan waktu tempuh 25 menit saja. Pesawat akan mendarat di bandara Yemburwo. Bandara ini kecil sekali, dan cuma ramai saat ada pesawat. Pesawat cuma ada hari Senin dan Rabu, kadang-kadang pada momen khusus [seperti Natal, et], akan ada penerbangan ekstra. Tapi karena seat terbatas [Cuma 17 seat], so ya harus booking dulu semingu sebelumnya.

Sedangkan perjalanan laut bisa ditempuh baik dari Biak maupun Manokwari. Secara geografis, Numfor ini lebih dekat ke Manokwari daripada ke Biak, sehingga waktu tempuh dengan kapal besar Yapwairon Cuma sekitar 5 jam, bandingkan bila ke Biak, paling cepat 7 jam.

Dari Biak ke Numfor kita bisa naik kapal besar Yapwairon, Papua Lima maupun Papua Satu dengan waktu tempuh bervariasi [sekitar 7-9 jam jika laut teduh], tapi kapal-kapal ini jadwalnya tidak bisa dipastikan, karena Numfor hanya merupakan salah satu persinggahan.

Lain halnya dengan kapal tetap Cendrawasih, kapal ini cuma PP Biak-Numfor, tapi kapal ini kecil, dan somehow… waktu tempuhnya lama sekali dari Biak ke Numfor, bisa sampai 12 jam. Ada juga kapal Bintang 23, Bintang19 dan kapal-kapal ferry lainnya. Tapi… aduhhhh… seraaaammmmm…

Kalau naik kapal, tidak perlu booking dulu, jadi langsung bayar diatas kapal. Rata-rata sih 35rb-40rb, klo VIP ya 90rb [Yapwairon]. Tapi ya… crowded bangeeeetttt… Musti rela desak-desakan, kadang harus sampai duduk menggelar terpal atau tikar di lorong-lorong maupun di dek. Lumayan menantang juga kan? hehe

Yang lain? bisa naik Johnson, ini model perahu yang umum di Biak. Perahu kayu dengan panjang bervariasi 10-12 meter dengan kayu penyeimbang [semang] di salah satu sisi maupun kedua sisi perahu kemudian dimodifikasi dengan ditambah mesin, sehingga lajunya kencang. Bila lautan sedang teduh, Numfor-Biak dapat ditempuh dalam jangka 6 jam, namun bila cuaca sedang tidak bersahabat, bisa sampai 12 jam!! Yang ini sih lebih seru lagi hehehe…

Bila bandara Yemburwo berada di Yemburwo yang mana merupakan “kota-nya” Numfor [dari Kameri sekitar 15 menit-an], maka pelabuhan berada di Saribi, distrik Numfor Barat [wilayah kekuasaan saya hohoho P:, dari Kameri sekitar 30 menit].

Di Numfor terdapat 2 distrik, yakni distrik Numfor Timur dengan pusat di Yemburwo, dan distrik Numfor Barat dengan pusat di Kameri [Kabarnya bakal ada peresmian distrik baru di Saribi]

Di Numfor Timur ada 2 Pkm yakni Pkm Yemburwo [DTP] dan Pkm Mandori di ujung Numfor Timur. Sementara di distrik Numfor Barat terdapat Pkm Kameri [Pkm-ku niy…] yang berada di desa Pomdori [nearby Kameri]

Jadi, seperti yang kusebutkan sebelumnya, Pkm Kameri melayani 18 desa, mulai dari Pyefuri sampai ke Masyara, 4400 jiwa. Di Pkm Kameri ada 6 perawat, 1 bidan dan 2 dokter. Terus masih ada pustu [puskesmas pembantu] dengan perawatnya di beberapa tempat, serta ada pula bidan desa.

Penduduk disini rata-rata berasal dari suku Biak. Ada pula yang dari pulau Serui [kab Yapen-Waropen], ataupun Manokwari. [Pendatang rata-rata berasal dari Makassar, Toraja, Jawa]. Campuran… jadi bisa dibilang ada akulturasi juga…

Nama-nama penduduk disini keren-keren lho… Alexandrina, Sefter, Dexter, Rachel, etc.Seperti laiknya orang Manado, mereka punya nama fam [nama keluarga alias marga klo bagi orang Batak]. Desa-desa tertentu biasanya juga rata-rata dihuni oleh fam tertentu. Jadi kadang kita bisa menebak asal desa pasien dengan nama fam-nya. Seperti di Pomdori, bakal banyak ditemui fam Kapisa, begitu juga di Yenmanu, banyak ditemui fam Abidondifu. Lain-lain…

Dan… satu hal yang sering dilihat di Papua… tradisi makan pinang!! Iya deh, pasti bakal ngeliat orang makan pinang dimana-mana… dan of course… gigi mereka jadi merah kecoklatan, dan kita bakalan banyak nemuin bekas ludahan pinang dimana-mana… Aku lihat, orang-orang disini sudah mulau makan pinang sejak kecil. Mungkin pinang semacam adat ber-sosialisasi juga, dan bahkan punya sifat adiktif sepertinya hehe P: Habis… sampai pas upacara HKN kemarin tuh pak Bupati meninjau RSUD Biak Kota sambil mengunyah pinang hohoho…

Trus… bahasa Indonesia mereka bagus-bagus lho… mulai dari anak kecil sampai yang tua, bisa berbahasa Indonesia dengan baik. Katanya sih bahasa yang diajarkan pertama kali itu bahasa Indonesia, nanti kalau sudah diatas usia 5 tahunan gitu, baru diajarin bicara bahasa Biak

Di Numfor ini, orang-orang suka menyapa!! [kurasa sih di seluruh Papua juga begini]. Kalau ketemu pagi hari ya bilang “selamat pagi”, ketemu malam ya bilang “selamat malam”, hampir pada setiap orang, bahkan pada orang yang belum dikenal. Tidak seperti di Jawa kan, paling kalau menyapa cuma dengan senyum atau anggukan saja. Jadi ya kalau pas jalan ya pasti capek menyapa orang yang ditemui dijalan hehe

Oh ya, mereka juga punya kebiasaan menyingkat kata. Jadi kata saya menjadi “sa”, punya menjadi “pu”, sudah menjadi “su”, kau menjadi “ko”, pergi jadi “pi”. Lucu juga pas denger mereka bicara, awal-awalnya ga “ngeh” apa maksudnya.

Mungkin seperti gini “Sa pu anak su pi ke Biak kemarin”, jadi bingung kan, “apaan ini?”. Eh ternyata maksudnya tuh gini “Saya punya anak sudah pergi ke Biak kemarin”. Keqkeqkeq…

Hemmm… sekarang tentang infrastruktur. Sebenarnya bisa dibilang infrastruktur di Numfor bisa dibilang bagus. Saya pernah mengelilingi sebagian Numfor dengan motor bersama Bafith. Dengan rute Kameri-Yemburwo-Manggari-Masyara-Saribi-Namber-Kameri lagi dalam waktu sekitar 2 jam, menembus hutan [seruuuuuu…] dan kadang di tepi pantai. Sebagian besar jalannya ber-aspal, dan kalaupun belum, masih bisa dilalui oleh mobil. Cuma sayangnya… tidak ada transportasi umum, tidak ada bus maupun angkot.

Penduduk yang mempunyai kendaraan pribadi sangat sedikit, bahkan saya jarang melihat orang naik sepeda! Jadi kebanyakan orang kalau mau pergi harus jalan kaki atau naik ojek [bukan ojek seperti yang kita tahu, jadi kalau kita ngelihat ada orang naik motor, trus kita nebeng naik, kita bayar ma dia, ongkos bensin P: ]. So… this is the reason, kenapa frekuensi kunjungan ke Pkm ga terlalu banyak

Tapi hebatnya… bila pagi dan siang hari, pasti kita akan melihat banyak anak sekolah jalan kaki. Bila SD bisa ditemui dimana-mana, SMP pun tiap distrik ada, tapi khusus SMU, cuma ada di Kameri [SMU N 1 Numfor], dan SMK Kelautan di Numfor Timur [juauuhhhh], bisa dibayangkan dong gimana beratnya perjuangan untuk sekolah, harus jalan jauuuuuuuuhhhh sekali [berpuluh-puluh kilometer…]. Ada sih bus sekolah, tapi tidak mungkin bisa menjangkau seluruh anak sekolah

Listrik?ada dong… tapi terbatas, mulai dari jam 18.30 WIT sampai jam 22..30 WIT. , Cuma nyala 4 jam sih, tapi lumayan kan… Bisa charge hp, emergency lamp, nonton TV!! Walaupun belum semua desa di Numfor mendapatkan pelayanan listrik. Listrik ini merupakan program LisDes PLN, berasal dari BBM solar. Jadi ya… harus diirit-irit lah. Harga BBM di Numfor kan mahal sekali

Di Numfor bisa pake HP juga lho, walau cuma ada Telkomsel [Simpati dan AS, nggak promosi lho…]. BTS-nya hanya ada 1, di distrik Numfor Barat. Jangkauannya ya terbatas, paling ¼ pulau gitu. Tapi alhamdulillah Kameri masih dapat sinyal dengan bagus. Jadi komunikasi masih bisa jalan [walau saat ini BTS-nya masih rusak, kena sambar petir]

Sangat Terpencil?hehe, ya untuk sebagian desa. Tanpa listrik, tanpa sinyal. Untuk Kameri dan Yembuwo sih lumayan, jadi ga se-terpencil bagian Numfor lain. Cuma… akses untuk ke Numfor via kapal atau pesawat kan tidak tiap hari ada.

Rata-rata penduduk tinggal di desa-desa di tepi pantai. Bahkan Puskesmas tempat saya bekerja pun berada di tepi pantai. Lumayan keren juga, kalau pas senggang, duduk-duduk di depan Puskesmas sambil memandang lepas kearah pantai diiringi angina sepoi-sepoi… What a wonderful world… :D

Sebagian besar Numfor itu hutan, hutannya penuh dengan pepohonan tinggi dan bila kita melewati hutan, kita akan sering melihat burung-burung berwarna-warni terbang bebas [banyak kakatua juga!!very-very beautiful], katanya sih Numfor ini banyak ularnya [yup!! I watched it on my own…], kuskus [belum lihat…], binatang-binatang-binatang lain [saya pernah lihat kadal buesaaaarrrrrr di jalan, cari makan kali ya…], dan untungnya ga ada macamnya harimau gitu hehe P:

Rumah-rumah penduduk ini rata-rata sudah permanent, dari batako dengan atap seng [bangunan dengan atap genteng cuma pernah lihat di bangunan di pelabuhan Saribi], so… puanaaasss sekali… Tapi ada juga yang berupa rumah kayu [dari papan-papan].

Rumahnya kecil-kecil, tipe RSS gitu, dengan 2 kamar. Jaraaaaannnnnnggggg sekali aku melihat ada rumah besar atau rumah ”bagus”. Biasanya kamar mandi ada diluar [proyek Pemerintah gitu deh]. Ditiap-tiap rumah biasanya ada tandon air [bantuan juga] , untuk menampung air hujan untuk dipakai keperluan rumah tangga, tapi ada juga yang punya sumur sendiri.

Air sumur disini cukup bagus. Jernih!!dan walaupun dekat laut, tidak terasa asin. Karena rata-rata pemukiman dekat laut, maka sumur dengan kedalaman 5 meter saja sudah keluar air… [Jadi ga begitu capek kalo nimba hehe]

Mata pencaharian penduduk disini rata-rata nelayan dan petani. Tapi yang saya lihat disini tidak ada pertanian [sawah] disini!Yah… beras kan memang bukan makanan pokok orang asli sini [keladi, singkong…]. Yang ada hanya kebun-kebun yang kadang ditanami gandum, kacang hijai ataupun singkong, itupun scattered [tersebar], ditengah hutan.

Padahal saya lihat pulau Numfor ini sebenarnya subur, jauh lebih subur daripada pulau Biak [yang notabene merupakan pulau karang]. Ada pohon jeruk, kersen, kluwih, mangga, papaya. Cuma sayangnya… sepertinya kurang dimaksimalkan…

Di Numfor ini lumayan susah untuk mendapatkan sayur. Tidak ada yang menjual kentang, wortel, gitu. Paling banter kangkung, kacang panjang, daun katuk. Bayam, kobis, lombok ada, tapi terbatas…

Tapi ikan… wah… jangan tanya… murah sekaliii… fresh pula! Kami biasanya datang ke pelabuhan pada saat ada kapal, itulah saatnya para nelayan menjual hasil tangkapan mereka. Fresh from the sea!!

Atau kalau tidak, pada pagi hari sering ada nelayan lewat depan rumah sambil membawa ikan yang sudah di-renteng, kita tanya aja, dijual atau tidak… Atau kalau nggak, pesannnnnn…

Tidak seperti di Jawa, disini ikan dijual per-ikat bukan per kilo. Satu ikat bisa terdiri dari 6-7 ikan sedang, atau 2 ikan besar, atau kombinasi. Per ikat dihargai Rp 10.000. Murah sekali kan… ikan-nya segar-segar, dan lezat pula… Ikan yang sering dimakan ialah ikan samandar, ikan merah, ikan batu, ikan insamen, ikan kakatua dll. Banyak ikan yang sisiknya cantik-cantik!! [serasa makan ikan hias hehehe]

Di Numfor ini, terkenal sekali dengan kepiting kenari!!kepiting ini buesaaaarrrrr sekali. Saya belum pernah makan sih, karena belum musim. Biasanya kepiting ini turun ke darat untuk bertelur pada saat bulan purnama. Katanya sih uennnakkkkkk banget [belum pernah coba!]. Selain kepiting kenari, ada kepiting merah seperti yang biasa kita temui. Kalau sedang turun ke darat, maka kepiting-kepiting ini akan memenuhi jalan raya. Bila kendaraan mau lewat, tak ada jalan lain, selain menggilas mereka. Karena nggak mungkin untuk diusir [gimana coba ngusirnya?]

Kalau mau kepiting sih katanya harus ke Davy, desa di dekat Mandori, jauuuuhhhh sekali… Kalau di Kameri harus pesan sama seorag nelayan yang terkenal ahli menangkap kepiting kenari. Cuma sayangnya saat ini si bapak itu sedang berada di Manokwari, itulah sebabnya saya belum bisa menikmati kelezatan kepiting kenari…

Dari cerita penduduk sekitar, Numfor ini dulu pernah diduduki oleh tentara Sekutu dan tentara Jepang. World War II kan juga berlangsung di Timur Indonesia ini. Jadi masih banyak peninggalan-peninggalan tentara Sekutu dan Jepang. Konon, banyak bangkai kapal beserta dengan isinya di kedalaman laut dekat pulau Numfor. Masih banyak juga ditemukan mortir-mortir dan ranjau disini, sehingga tak jarang menyebabkan kecelakaan bagi penduduk Numfor

Di Saribi, saya pernah ditunjukkan goa-goa bekas tempat tinggal tentara Jepang. Bapak nelayan yang mengantar saya bilang ketika muda beliau sering main ke goa-goa ini. Dan pernah melihat ada tengkorak-tengkorak tentara Jepang yang tewas di goa-goa itu. Hiii… ngeri juga…

Pantai Asaibori yang indah di dekat Kameri [sekitar 3 km], juga merupakan bekas pangkalan tentara Sekutu. Kami pernah berjalan ke pantai Asaibori, terdapat jalanan ber-aspal [dari sejak jaman Perang Dunia II lho], yang katanya merupakan bagian dari landasan untuk pesawat perang tentara Sekutu.

Bahkan model jalanan di Numfor yang berlekuk-lekuk merupakan salah satu warisan perang Dunia II. Mereka sengaja membuat jalanan yang berkelok-kelok ditengah hutan. Karena diantara hutan-hutan, bila kita berbelok kan kita tidak dapat melihat langsung ada apa didepan kita, dan rupanya itulah “spot” yang tepat untuk menyergap tentara musuh.

Pertama kali datang ke Numfor, saya merasa ngeri dengan hutan-hutan di pinggir jalan. Pohonnya yang tinggi dan rapat-rapat serta gelap cukup memberikan rasa seram. Tapi lama kelamaan karena sering melewatinya, akhirnya saya terbiasa juga. Lama-lama saya menikmati juga kehidupan di Numfor. Bebas polusi, pemandangan yang indah, lingkungan yang bersahabat, dan tentu saja ikan-ikan yang segar… 

NB : Katanya, pulau Numfor ini aslinya bukan bernama Numfor, tapi pulau “Poiroi”. Sedangkan pulau Numfor yang asli merupakan sebuah pulau kecil di daerah Pakreki, distrik Numfor Barat.

Semoga suatu saat anda dapat berkunjung ke pulau ini dan menikmati keindahan pulau Numfor ini 

December 2009
M T W T F S S
November 2009January 2010
1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31