My Opera is closing 3rd of March

The Moejaheedah

http://my.opera.com/lutfiah

Fwrd : BERUBAH

Adalah seorang sanguinis-populer yang sangat ceria, penggembira, ice-breaker, overacting, pelupa, semrawut, acak-acakan, terlalu easy going, sangat permissive dan lentur, cerewet luar biasa (ga tau kapan harus diam), teladan (telat dan lain-lain). Sekarang dia berubah. Well, masih memiliki sifat-sifat itu, hanya saja, dosisnya udah jauh berkurang, tak seheboh dulu. Aku tak terlalu heran dengan perubahannya yang ini. Biasa saja.

Perubahan lain yang pelan tapi pasti telah teradopsi dalam kebiasaannya sehari-hari juga tak terlalu mengejutkanku. Aku tahu sejak beberapa tahun terakhir ini dia mulai disiplin, mulai neat-freak, terstruktur, terjadual. Aku tahu dia mulai bisa meng-organized dirinya sendiri dan sedikit kegiatannya bersama sahabat-sahabatnya. Tapi keknya dia shock! Why? Karenaaa… *drum backsound*…. taraaa: hasil tes kepribadian Personality Plus ala Florence Littauer dalam One Minute Management Training: Character Based hari Minggu lalu di FLP Cabang Malang, kertas-kertas self-assesment itu menunjukkan hasil bahwa diaaa: …*drum sound lagi*… koleris-melankolis kuat. Dueeeeng!! Labelling yang sangat mengejutkannya. Why? Karena dulunya dia selalu membenci orang-orang koleris-melankolis. Selalu menjuluki mereka: orang-orang yang sok.

Ternyata makhluk sosial yang hidup bersama memang saling mempengaruhi. Berinteraksi dengan manusia-manusia lain di sekelilingmu akan, sedikit banyak, mewarnaimu. Taruhlah kau tinggal satu kos dengan temanmu yang seorang koleris-melakolis, yang sangat sistematis, sangat mendominasi, sangat bossy, tak pernah merasa salah sedikit pun, juga pemarah yang sangat tidak sabaran. Mungkin sifatnya yang paling parah adalah: selalu ingin mengubah orang lain seperti dirinya. Dan bila kau seorang sainguinis sejati, wew, itu pasti akan membuatmu sangat-sangat-sangat sebal –luar biasa sebal- dan merasa rendah dan merasa tak berharga dan merasa… dan merasa… dan merasa… karena setiap hari kau akan selalu dicekoki kritik dan kritik dan kritik yang disampaikan secara serampangan dan tidak konstruktif. Ya kan? Ngaku ajah p

Tapi seiring dengan waktu, sikap-sikap dominan yang kau benci itu ternyata terambil, secara sadar maupun tidak, sedikit demi sedikit menjadi kebiasaan barumu yang lama-lama menjadi kebiasaan yang menetap.

Menurut Maxwell Maltz, untuk menjadikan sebuah sifat atau aktifitas menjadi kebiasaan tetap, paling tidak diperlukan 21 hari untuk terus-menerus membiasakan sifat atau aktifitas baru itu pada seseorang. Salah seorang guru ngaji pernah mewajibkan kami, anggota kajian, untuk menjadikan satu amalan baru setiap bulannya. Satu bulan untuk menjadikan aktifitas itu menjadi istiqomah, menjadi kebiasaan. Misalnya bangun pagi buta, sebelum shubuh datang (dan tidak tidur lagi setelah shubuh wkwkwk).

Sungguh bukan hal yang mudah untuk memulainya. Walaupun sudah setel alarm, tetaaap saja susah. Bangun dengan separuh nyawa hanya untuk mematikan alarm, lalu nyungsep lagi dengan sukses. Haha. Di sinilah terasa betapa pentingnya sebuah komunitas, sebuah keluarga. Mereka menelpon, mengirim sms, mengingatkan untuk terus berusaha. Alhasil, berbulan-bulan kemudian (haha, lebih dari sebulan karena bulan-bulan awalnya masih belum bisa berturut-turut –istiqomah- setiap malam, sepertinya seharusnya dalam teori tadi) akhirnya jam biologis kita pun mulai terpola untuk bangun malam, kecuali sekali-sekali jika sedang tepar (tewas terkapar) karena aktifitas luar binasa seharian. Akhirnya, tanpa setel alarm pun, badan sudah terprogram untuk bangun malam, eh pagi buta.

Kembali ke koleris-melankolis tadi. Sahabatku ini tahu dan sadar, banyak sifatnya yang berubah. Alhamdulillah berubahnya ke arah yang lebih baik. Yah mungkin beberapa perubahan itu agak kebablasan. Terlalu rapi kadang membuatnya sulit puas terhadap hasil kerjanya sendiri (atau hasil kerja para co-worker). Dan kalau kritik tak membuat kerja rekan-rekannya menjadi lebih baik, akhirnya dia cuma bilang: “Ya sudahlah, terserahlah.” Atau, kalau memang urgent banget, dia ambil alih kerjaan itu, lalu diselesaikan sendiri. Terlalu ambisius dan percaya diri? Well, kadang sikap itu bisa menguntungkan, kadang bisa merugikan diri sendiri. Bisa berakibat stres terhadap target yang disetting sendiri secara membabi buta dan tidak feasible.

Untungnyaaa, masih ada beberapa sifat phlegmatis-damai dalam dirinya (walaupun minor banget) untuk mengimbangi si koleris-melankolis ini. Paling tidak, itu sudah cukup mencegahnya melakukan pembunuhan –secara harfiah maupun secara simbolik- terhadap orang-orang yang hasil kerjanya tidak memuaskan. Paling tidak, sisi phlegmatis-damai mencegahnya lebih dominan lagi. Seperti ini saja sudah cukup mengundang kebencian dari, terutama, para sanguin. Pasti parah jadinya kalau karakter phlegmatis tak bisa menetralisir si perfeksionis binti bossy tadi. Kurasa dia masih tertolong lah, masih sedikit berbeda lah dengan koleris-melankolis lain yang pernah kukenal. Thanks to si phlegmatis yang sudi muncul dalam diri sobatku ini.

Apakah si sanguinis benar-benar pergi darinya (karena dulunya dia kan sanguin)? Haha, ternyata tidak. Kekuatan dan kelemahan sanguinis masih nempel padanya, tapi sangat-sangat minor. Well, masih tetap harus disyukuri karena, paling tidak, sisi-sisi ceria dan penggembira masih bisa membantu hidupnya.

So, selamat Sob, kau berubah. Semoga ke depannya, sisi sanguinis dan phlegmatis makin bisa mengimbangi koleris-melakolismu yang cukup kuat ini. Biar kayak Muhammad saw. yang konon ke empat karakter itu bersanding seimbang dalam diri beliau yang mulia.

Oke, Sob. Keep it up!

Semangat, Kakak! ^_^\m/

We are what we repeatedly do. Excellence, then, is not an act, but a habit. – Aristotle

Strategi Menyusun Jadwalto : Mahasiswa NIIT

Write a comment

New comments have been disabled for this post.