Thursday, January 24, 2013 5:09:35 AM
lirik lagu minang, ginyang mak taci, ginyang, mak taci
...
Ginyang Mak Taci
Ondeh lah ginyang bana Mak Taci ginyang
bana
Ondeh lah goyang bana Mak Taci goyang
bana
Lenggang malenggok Mak Taci madok ke
mudiak
Sarawa lapang Mak Taci baju lah cabiak
Katuntang bakatuntang,
Katuntang baduak tarawiah
Tatungkuik tatilantang,
Batang pisang dipanjek-e
Panjek sabuik panjeklah sigai
Lamang angek makan jo tapai
Gulai paku rancah jo patai
Urang balaki awak bacarai
Tu gadang makan jo lauak
Paruik kanyang mato mangantuak
Basobok jo Mak Apuak
Sugi sagadang paampok baruak
Yo alah.. yo alah.. yo alah.. yo alah..
Panjek sagu panjek gado
Mato kuyu potongan ulo
Kok bantuak bodoh suboto
Urang talengah inyo marosok
Tasabuik si Udin Binguang
Paruik buncik matonyo cakuang
Kok duduak dima tamanuang
Urang talengah inyo manyantuang
Yo alah.. yo alah.. yo alah.. yo alah..
*************
Lagunya lucu :-D
Thursday, January 24, 2013 4:54:07 AM
takicuah di nan tarang, lirik lagu, takicuah, minang
Lirik lagu minang
Jhon Kinawa - Takicuah di Nan Tarang
Tigo tahunlah denai nanti
Den siram bungo patang jo pagi
Tapi apo nan tajadi diak
Bungo den disiram kambang tak jadi
Bamulo cinto tumbuah dihati
Adiak bajanji ndak kabapisah lai
Tapi apo nan tajadi diak
Sabana padiah tapi didutoi
Reff:
Apo salah denai diak kanduang
Apo doso denai batinggakan
Manga pinangan urang nan batarimo
Takuik jo denai Adiak ka sansaro
Hilang di nan dikalam mungkin biaso
Takicuah di nan tarang hati taibo
Kamano malu diak kanduang ka denai bao
************
Sering dengar lagu ini. Jadi pengen tau lirik lengkapnya. Eh nemu :-)
Karena gw jarang ngeblog, bikin di blog aja biar ada isinya :-D
Monday, October 1, 2012 1:06:06 PM
kota padang, sakit, demam, suami sakit
...
Aku baru saja selesai mandi sore. Samar-samar ku dengar dering telepon genggamku. Dengan terburu-buru aku menjawab panggilan. Ternyata dari suamiku. Hari itu dia piket 24 jam di kantornya.
"Dek, uda pulang sekarang ya. Langsung berobat ke dokter. Gak tahan lagi. Badan sudah menggigil," kata suamiku dengan suara seraknya yang berubah akibat sakit demam. Langsung aku mengiyakan.
Setelah berpakaian dan menyiapkan uang untuk berobat, aku menunggu suamiku pulang dengan cemas. Apa dia baik-baik saja selama dalam perjalanan. Dia kan sedang sakit.
Saat aku mendengar suara mesin mobil butut kami, aku bergegas keluar. "Langsung pergi, dek?" tanyanya. "Iya," jawabku.
Tak henti-hentinya rasa cemas menggerogotiku. Melihat suamiku yang sakit mengemudikan mobil untuk berobat ke dokter.
Sesampainya di tempat praktek dokter, kami melihat papan berisi pemberitahuan bahwa dokter sedang istirahat shalat. Setelah mengisi daftar pasien, kami pun saling berpandangan. "Uda mau tidur?" tanyaku. "Iya," jawabnya. Kebetulan ruang tunggu pasien bisa dipakai untuk uda selonjoran, kursinya panjang. Dengan pahaku sebagai sandaran kepalanya, kami menunggu sampai setengah jam. Badan suamiku masih menggigil. Kemudian beberapa pasien berdatangan.
Pukul tujuh malam dokter membuka ruang prakteknya. "Ya, silakan pasien pertama masuk," kata dokter perempuan yang membuka pintu. Sambil dokter mengambil daftar pasien, kami masuk ke ruang prakteknya.
"Siapa yang sakit?" tanya dokter itu dengan lembut. "Suami saya, dok," jawabku. "Bapak Alvin? Sakit apa, pak?" tanya dokter itu lagi.
"Saya demam, dok. Badan rasanya menggigil," jawab suamiku. "Saya periksa dulu ya, pak. Silakan berbaring di tempat tidur. Jaketnya dibuka dulu," kata dokter itu. Aku melihat papan nama yang melekat di jas putihnya, Dr. Dilla.
Suamiku kemudian diperiksa dengan seksama. Badannya terasa panas, tensinya normal, dan dadanya diperiksa dengan stetoskop.
Kata dokter kalo badan suamiku suhunya naik turun, dia khawatir bila suamiku kena DBD. Tapi dia tidak bisa memastikan sekarang, setidaknya dalam jangka waktu 4 hari. Kalau memang ingin tahu kepastian secepatnya, kami harus periksa darah ke laboratorium. Tapi kami memutuskan untuk menerima resep obat darinya. Dan berdo'a agar suamiku tidak terkena penyakit yang berbahaya tersebut.
Mungkin suamiku capek. Dengan cuaca Kota Padang yang panas terik, suamiku memperbaiki mobil butut kami. Kadang-kadang ada saja masalah mendadak dari mobil ini. Lalu malamnya ia demam. Setelah kuberi obat, paginya suamiku sudah kembali segar dan siap bekerja untuk 24 jam. Sayang sekali, saat itu ada acara di kantor. Suamiku harus bolak-balik dari satu ruangan ke ruangan lain untuk kepentingan acara tersebut. Saat istirahat siang badannya panas dingin. Karena hari itu piket dan hanya tugas sendiri di kantor, suamiku masih menahan rasa sakit setelah meminum obat yang biasa di minum saat demam. Sore menjelang maghrib, suamiku tak bisa menahan rasa sakit lagi. Lalu meneleponku untuk menemaninya ke dokter.
Sesampainya di rumah setelah diperiksa ke dokter, badan suamiku semakin menggigil. Dia meminta untuk diselimuti beberapa lapis. Kemudian dia juga merasa tangan dan kakinya kram. Rasanya jantungnya juga kesakitan. Aku panik. Aku berusaha semampuku menjaganya. Saat hampir tengah malam, barulah suamiku bisa tidur agak tenang. Sambil kuusap tangannya dengan air hangat agar ia tak kedinginan. Sebelumnya kakinya juga disiram air hangat.
Aku merasa sedih melihat keadaan suamiku yang kesakitan. Ada air mata yang menetes saat ku lihat dia menahan kesakitan yang amat sangat. Terlebih saat dia sulit bernapas berbarengan dengan menahan suhu badan yang dingin. Oh Tuhan, sembuhkanlah suamiku, pintaku dalam hati.
Suamiku tidak bisa lagi melanjutkan tugas piket di kantor. Dia meminta salah seorang temannya untuk menggantikan. Untunglah dia mau mengerti dan bisa menggantikan tugas suamiku.
Hari berikutnya, hari minggu. Untunglah hari ini kami tidak bekerja. Jadi kami bisa beristirahat. Dan keadaan suamiku semakin membaik. Terima kasih ya اَللّهُ.
Tuesday, September 11, 2012 2:14:49 PM
kripik, pedas, level
Kemaren itu pas lagi jalan-jalan sama suami n ponakan, nemu orang jual kripik. Kripiknya identik dengan rasa pedas. Dari yang level satu sampai level sepuluh. Dengan rasa penasaran yang begitu tinggi, aku membeli sebungkus yang level lima. Saat dimakan... rasanya... pedas gilaaaaa... Sesudah minum aja rasa pedasnya masih nempel.
Tadi di kantor, iseng nitip sama OB. Tanpa aku kasih tahu yang dibeli itu level berapa. Tanpa dinyana, dia membelikan yang level sepuluh!!! Astaga!!! Aku kaget bukan kepalang. Setelah kutanya, ternyata yang tersisa di swalayan tempat dia belanja tersebut memang hanya tinggal yang level sepuluh sebanyak 2 bungkus. Begitulah, kemudian krupuk itu dimakan rame-rame sama teman. Dan kami semua kepedasan...
Monday, September 10, 2012 1:28:51 PM
timnas, sepakbola
Nonton Timnas Indonesia akhir-akhir ini bikin rasa penasaran. Bukannya penasaran siapa yang bisa menjebol gawang lawan tapi, berapa gol yang akan masuk ke gawang kita. Mungkin saya agak pesimis tapi tim sepakbola kita memang belum bisa bermain sepakbola secara tim, teknik dan skil yang mumpuni. Semoga dengan seringnya mereka berlatih dan bertanding dengan lawan yang lebih berat, mereka dapat memetik kemenangan di pertandingan krusial.
Saturday, July 28, 2012 4:24:07 AM
ngantuk
Ngantuk... Kenapa datang disaat jam kerja? Ada banyak tugas yang perlu diselesaikan nih. Satu-satunya senjata yang bisa dipake adalah dengerin lagu. Stok lagu malah kebanyakan mellow, jadi ngantuk lagi deh. Udah bernyanyi walaupun bikin telinga orang yang dengar kembang kempis saking ancurnya suara gw. Yang ngantuk ini belum pergi juga.
Nggak mungkin ngunyah permen dong, kan lagi puasa. Apalagi makan yang pedas-pedas. Kayanya harus tidur nih!
*Lalu nekad tidur pulas* *Zzzzz... Zzzzz*
Friday, July 27, 2012 1:24:45 PM
film, review film, blog
Aaaaaa.... Baru aja nemu blog yang isinya review film. Aku jadi pengen juga bikin blog kaya gitu. Tapi sekarang jarang banget waktu buat nonton. Nggak tau mau review film apa. Atau aku ingat-ingat aja kali ya film yang udah ditonton?!?!
Wednesday, March 14, 2012 2:33:12 AM
bbm, pemimpin, zona satu waktu, ekonomi
...
Zona satu waktu Indonesia semoga tidak jadi dilaksanakan. Nyebelin banget deh yang punya pikiran kaya gitu. Kan harusnya jam 12 siang itu matahari tepat di atas kepala. Lagian bikin jam biologis yang udah dipake selama hidup jadi berubah drastis bagi pengguna WIB & WIT. Negara lain yang punya zona waktu lebih dari 3 (tiga) aja mereka ngga ngerepotin diri buat nyatuin. Ekonomi mereka juga baik-baik aja. Kayanya zona beda waktu ngga jadi masalah buat mereka. Trus ngapain kita repot-repot nyatuin zona waktu. Mereka ngga mikir apa tentang kehidupan sehari-hari yang dijalani selain bisnis? Jam sekolah, jam kantor, jam istirahat, dll? Ngga ada yang mikirin tentang perbaikan di negeri ini? Masalah korupsi misalnya? Kepemimpinan yang lebih baik, mungkin? Ngga nyadar apa kalo rasa menghargai pemimpin udah berkurang di negara ini? Mungkin karena kepemimpinannya ngga becus. Yang kaya makin kaya. Yang miskin makin merana. Masa memecahkan masalah mengorbankan rakyat biasa. Naikin harga bbm. Bukannya pilih opsi harga bbm tetap. Potong tuh gaji anggota DPR yang doyan dandan dan belanja. Belanja pribadi, belanja kantor DPR, bikin gedung baru... Bikin eneg aja. Apa iya mereka pantas dijadikan pemimpin?
Monday, February 20, 2012 10:56:04 AM
asap rokok, angkot, perokok pasif, perokok aktif
...
Pas di angkot tadi ada orang yang merokok. Bete banget. Langsung aja gw bilang, "Tolong matian rokoknyo, da." Dengan berat hati dia matiin. Pedulia amat!!! Perokok pasif kaya gw kan lebih banyak menghirup racun asap rokok dibandingkan perokok aktif. Gw ngga mau dong. Enak aja lu merokok sembarangan. Udahlah bau mengandung racun lagi.
Saturday, November 26, 2011 11:02:06 PM
hijriah, islam, tahun baru, selamat
Selamat Tahun Baru 1433 Hijriah... Semoga kita menjadi lebih baik
1 2 Next »