My Opera is closing 3rd of March

SKRIPSI KESEHATAN MASYARAKAT

, , , ,


FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN PENYAKIT TB PARU DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MARGOMULYO KECAMATAN MUARA SUGIHAN
KABUPATEN BANYUASIN


1.1 Latar Belakang
TB Paru adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh basil yang disebut Mycobakterium Tuberkulosis. Bakteri TB Paru untuk pertama kalinya ditemukan oleh Robert Koch pada 24 Maret 1882, oleh karena itu bakteri tersebut sering disebut bakteri Koch atau Mycobacterium tuberculosis. Tuberculosis dikenal dengan penyakit TB Paru, yaitu salah satu penyakit infeksi yang bersifat persisten dan menahun di Indonesia. Penyakit ini dikatakan sebagai penyakit menahun (kronik), sehingga gejala klinisnya baru muncul jika sudah parah. TB Paru adalah penyakit yang menyebabkan kematian terbesar kedua di Indonesia setelah penyakit jantung (Sudoyo, 2007:988).
Upaya penurunan angka penderita TB Paru yang telah dilakukan oleh pihak program hingga tahun 1995 berupa pemberian obat yang intensif melalui puskesmas ternyata kurang berhasil. Hal ini terjadi karena belum adanya keseragaman dalam pengobatan dan sistem pencatatan pelaporan di semua unit pelayanan kesehatan, baik pemerintah maupun swasta sehingga monitoring pengobatan yang dilakukan oleh pihak program terhadap penderita tidak berjalan dengan baik. Hal ini terlihat dari proporsi kematian oleh sebab TB paru telah terjadi peningkatan dari tahun 1980, 1986, 1992, berturut-turut 8,4%, 8,6% dan 9,9% dari seluruh kematian (SKRT, 1980, 1986, 1992).
Survey prevalensi yang dilakukan antara tahun 1979-1982 di 15 propinsi dengan hasil 200-400 penderita tiap 100.000 penduduk. Menurut WHO, pada manusia akan timbul 10,2 juta kasus TB Paru baru dalam tahun 2000. Dengan Makin memburuknya keadaan ekonomi Indonesia belakangan ini, kelompok penduduk miskin bertambah banyak, daya beli Makin menurun, kemampuan memenuhi kebutuhan pokok Makin berku-rang dan dikhawatirkan keadaan ini akan memperburuk kondisi kesehatan masyarakat khususnya penderita TB Paru. Disamping program pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan, penderita TB Paru juga perlu disembuhkan (http://www.nusaku.com.2007 ).
Jumlah kejadian sepanjang tahun 2008 mencapai total 120.009 kasus Inciden Rate (IR) = 35 kasus per 100 populasi dengan total meninggal mancapai 102 kasus Case Pertelity Rate (CPR) = 1 % keadaan TB Paru 2008 ini meningkat lebih tinggi apabila dibandingkan dengan keadaan kejadian penyakit TB Paru pada tahun sebelumnya (http://www.pusatpenyakitinfeksi.com).
Menurut Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI (2002) Di Indonesia penyakit TB Paru merupakan salah satu penyakit yang menjadi masalah kesehatan masyarakat. Diperkirakan setiap tahun 450.000 kasus TB Paru terjadi, di mana sekitar 1/3 penderita terdapat di sekitar puskesmas, 1/3 lagi ditemukan pada pelayanan rumah sakit/klinik pemerintah dan swasta, praktek swasta, dan sisanya belum terjangkau oleh unit pelayanan kesehatan. Kematian karena TB Paru diperkirakan 175.000 per tahun, di mana penderita TB Paru sebagian besar adalah kelompok usia produktif dan sebagian besar sosial ekonomi lemah (Ditjen PPM & PLP, 1999). Hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1995 menunjukkan bahwa tuberculosis merupakan penyebab kematian nomor 3 setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernapasan pada semua golongan usia dan nomor I dari golongan infeksi (http://www.nusaku.com.2007 ).
Di Sumatera Selatan menurut hasil survelans, situasi kasus TB Paru tahun 2008 jika dibandingkan dengan tahun 2007 terlihat meningkat dari 1.561 orang menjadi 2.280 orang (IR = 33 per 100.000 penduduk). Namun angka kematian menurun dari 8 orang (CFR = 0,56%) di tahun 2008 menjadi 2 orang (CFR=0,1%) http://www.sumsel/profilkesehatan.co.id).
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuasin, dilaporkan bahwa pada tahun 2006 jumlah kasus penyakit TB Paru dengan BTA positif adalah sebanyak 666 orang dan data BTA negatif sebanyak 67 orang. Pada tahun 2007 jumlah kasus penyakit TB Paru dengan BTA positif adalah sebanyak 711 orang dan data BTA negatif sebanyak 71 orang. Pada tahun 2008 jumlah kasus penyakit TB Paru dengan BTA positif adalah sebanyak 699 orang dan data BTA negatif sebanyak 90 orang.
Berdasarkan data dari Puskesmas Margomulyo Kecamatan Muara Sugihan pada tahun 2006, dilaporkan bahwa jumlah penderita TB Paru dengan BTA positif sebanyak 99 kasus, BTA negatif sebanyak 20 orang, pada tahun 2007 BTA posiftif sebanyak 113 kasus dan yang negatif sebanyak 39 orang, pada tahun 2008 dilaporkan BTA positif sebanyak 123 kasus dan BTA negatif sebanyak 45 orang.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis membuat rumusan masalah yaitu belum diketahuinya faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian penyakit TB Paru di wilayah kerja puskesmas Margomulyo kecamatan Muara Sugihan Kabupaten Banyuasin.


1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan terjadinya penyakit TB Paru di
wilayah kerja Puskesmas Margomulyo Kecamatan Muara Sugihan.

1.3.2 Tujuan Khusus
1) Diketahuinya hubungan antara pengetahuan penderita terhadap kejadian penyakit TB Paru di wilayah
kerja Puskesmas Margomulyo Kecamatan Muara Sugihan tahun 2009
2) Diketahuinya hubungan antara jenis kelamin penderita terhadap kejadian penyakit TB Paru di wilayah
kerja Puskesmas Margomulyo Kecamatan Muara Sugihan tahun 2009.
3) Diketahuinya hubungan antara status gizi penderita terhadap kejadian penyakit TB Paru di wilayah kerja
Puskesmas Margomulyo Kecamatan Muara Sugihan tahun 2009.m
4) Diketahuinya hubungan antara lingkungan fisik penderita terhadap kejadian penyakit TB Paru di wilayah
kerja Puskesmas Margomulyo Kecamatan Muara Sugihan tahun 2009


1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Untuk Institusi Pendidikan
Bagi Stikes Abdi Nusa dari hasil penelitian dapat dijadikan sebagai bahan masukan, pertimbangan terutama dalam upaya pencegahan dan penaggulangan penyakit TB Paru, dan dapat dijadikan sebagai bahan referensi tambahan dalam menambah judul bacaan serta menambah khasanah ilmu pengetahuan khususnya tentang penyakit TB Paru.

1.4.2 Untuk Penulis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sarana untuk menerapkan ilmu yang diperoleh selama dibangku kuliah dan menambah wawasan ilmu pengetahuan serta pengalaman penulis tentang ilmu pengetahuan dibidang kesehatan masyarakat.

1.4.3 Untuk Institusi Kesehatan Terutama Puskesmas Dan Dinas Kesehatan
Agar dapat memberikan informasi yang berguna dalam menyusun program-program serta cara penanggulangan dalam pemberantasan penyakit Tb Paru.

1.4.4 Untuk Peneliti Lain
Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan masukan guna melakukan penelitian lebih lanjut dari penelitian ini.
[/ALIGN][/ALIGN][/ALIGN][/ALIGN][/ALIGN][/ALIGN][/ALIGN][/ALIGN][/ALIGN][/ALIGN][/ALIGN][/ALIGN]

HIDUP DAN CINTA

Write a comment

New comments have been disabled for this post.

February 2014
M T W T F S S
January 2014March 2014
1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28