Skip navigation.

Ulan Mengalun Suki-suka

Eh, nyambung ngga sih..

STICKY POST

*Warninya Warna dalam Bahasa Jepang



Tentang kata 'colors'..
Pada tahun 1994, ada Colors of the Wind dan Reflection di tahun 1998. Sedangkan di tahun 2005, ada Colours of Friends dan Colors of Johohoho di tahun 2007. Masih di tahun yang sama [kalau saya tidak salah :D] ada Colors of the Rainbow. Nah, kalau di tahun 2009 ini.. Bagaimana kalau saya membuat tulisan berkaitan dengan warna dalam Bahasa Jepang? :D

Japanese Colors.. Colors in Japanese.. Basic Colors in Japanese.. Variation Colors in Japanese..
Ah, kok saya jadi bingung? Saya kan tidak mungkin menuliskan semua warna dalam Bahasa Jepang? Humm.. Lil Things about Colors in Japanese.. Humm.. Humm.. Cari yang gampang saja deh. Warninya Warna dalam Bahasa Jepang.. :D'


Dalam Bahasa Jepang, warna terbagi dalam dua kelas. Yaitu, kata sifat dan kata benda. Kata sifat yang dimaksud adalah yang berakhiran ~i. Sedangkan sebagian warna yang termasuk ke dalam kata benda merupakan kosakata yang diadaptasi dari Bahasa Inggris.

Untuk mengetahuinya, kita perhatikan satu-satu yuk!

Macam-macam warna yang termasuk ke dalam kata sifat berakhiran ~i misalnya:
~ Akai: merah
~ Shiroi: putih
~ Kuroi: hitam
~ Kiiroi: kuning
~ Aoi: hijau atau biru


Bila kita ingin menggabungkannya dengan kata benda lainnya, maka kata sifat ini ditaruh di depan kata benda. Contoh:
- Kuroi kaban: tas berwarna hitam
- Shiroi hana: bunga berwarna putih

Macam-macam warna ini rupanya juga dapat diubah ke bentuk kata benda. Yaitu dengan cara menghilangkan akhiran ~inya. Tetapi untuk menggabungkan kata sifat [yang sudah berubah menjadi kata benda] ini dengan kata benda lainnya, maka kita perlu menambahkan partikel no di tengah-tengahnya. Walaupun kata sifat ini sudah berubah menjadi kata benda, hal ini tidak merubah makna warna tersebut.

Contoh:
- Aka no hon: buku berwarna merah
- Ao no kutsu: sepatu berwarna hijau

Tapi ada pengecualian untuk beberapa kata dimana kita tidak perlu menambahkan partikel no di tengah-tengahnya, misalnya:
- Aozora: langit biru
- Ao shingou: lampu hijau
- Aka shingou: lampu merah
- Kurokami: rambut hitam
- Akatsuki: senjakah, bulan merahkah, nama suatu kelompok dalam cerita Narutokah.. Subuh.


..
Ini cuma kesimpulan pribadi tentang bentuk negatif dari warna. Kesimpulan yang mungkin bisa sedikit menyesatkan. Jadi untuk kepastiannya, silahkan diresapi nuansanya masing-masing yaa.. :D

- Kurokunai: tidak hitam
- Kuro janai: hitam bukan?
..

Sekarang mari kita lanjutkan ke macam-macam warna yang tergolong dalam kata benda. Misalnya:

~ Chairo: cokoreeto coklat
~ Hairo: abu-abu
~ Daidai-iro: orange >> jingga
~ Mizuiro: hijau
~ Murasaki: ungu
~ Midori-iro: hijau [yang berhubungan dengan alam]
~ Pinku: merah jambu
~ Nebii buru: navy blue >> biru tua
~ Guree: grey >> abu-abu
~ Guriin: green >> hijau
~ Beeju: beige >> kuning abu-abu
~ Rabendaa: lavender >> lembayung
~ Ai*: blue jeans.. indigo.. nila
*walaupun berakhiran ~i, tapi saya kira warna yang satu ini masuk ke golongan kata benda



Dalam Bahasa Inggris, kita juga sering menambahkan ~ish pada warna. Misalnya, whitish, pinkish, yellowish. Nah, dalam Bahasa Jepang pun ada hal yang serupa. Yaitu dengan cara menambahkan ~ppoi di belakang kata warna tersebut. Atau dengan kata lain, si ~ppoi ini memiliki makna yang sama dengan ~ish. Misalnya:

- Shiroppoi: keputih-putihan
- Akappoi: kemerah-merahan
- Kuroppoi: kehitam-hitaman


Mulanya saya kira untuk menyambung dua warna yang berbeda, maka cukup disambung dengan ~kute, misalnya shirokute kuroi, sama halnya ketika saya menyambung dua kata sifat misalnya, amakute oishii. Tapi rupanya saya keliru.
Yang benar adalah: shiro to kuro.

Lalu bagaimana halnya kalau warna tersebut dirubah ke dalam bentuk lampau?
Gampang :D

- Shiro to kuro deshita
- Ai to ao no kutsu deshita

Bila ingin menyebutkan warna sebagai subyek atau obyek dari predikat, maka si warna ini haruslah berbentuk kata benda.

Misalnya:
- Kuro ga ii desu.
- Ao ga suki desu ka?


:: Nyontek dari The Complete Japanese Adjective Guide dari Ann Tarumoto

Apa saja warna pelangi itu? Aka, daidai, ki, midori, ao, ai, murasaki wa niji no iro desu. :D


Read more...

*Fungsi Partikel No dalam Bahasa Jepang itu Bagaimana sih?

Kalau disuruh menjawab pertanyaan judul di atas, jawaban pertama yang langsung terpikir di benak saya mungkin cuma, "Partikel no itu digunakan untuk menggabungkan dua kata benda atau lebih yang kemudian bila diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia perlu diambil kata terakhirnya terlebih dulu lalu maju ke kata benda berikutnya.. Selain itu partikel no juga bisa digunakan sebagai kata penegas ucapan yang biasanya dipakai dalam ragam bahasa perempuan Jepang.."

Tapi benarkah cuma seperti itu saja penggunaan partikel no?

Humm..
Untuk menjawab pertanyaan yang juga senada dari Aliffiani-san, kita nyontek sama-sama yuk.. :D

Read more...

*Tahun Baru di Jepang



Shougatsu

Perayaan tahun baru adalah perayaan terpenting yang cukup rumit di Jepang. Walau masing-masing keluarga memiliki kebiasaan berbeda, namun setidaknya mereka akan membersihkan rumah, menghiasinya dan merayakan hari libur panjang dengan berkumpul bersama keluarga, mengunjungi kuil dan melakukan kunjungan ke rumah teman atau orang yang dituakan. Tahun Baru dirayakan sejak tanggal 1 hingga 3 Januari saat hampir semua kantor tutup. Perayaan Tahun Baru disipakan untuk menyambut toshigami, dewa tahun baru mendatang. Persiapan bisa dimulai sejak 13 Desember, saat rumah mulai dibersihkan hingga akhir bulan. Rumah dihiasi dengan shimenawa, gabungan jerami berbentuk tambang bersama shide, helai kertas putih lipat yang menggantung di pintu masuk depan untuk menandai rumah persinggahan toshigami dan untuk mencegah roh jahat yang masuk. Biasanya hiasan kodamatsu, rangkaian potongan tiga batang bambu dipajang di pintu masuk bagian luar sebagai penanda pada dewa yang akan berkunjung membawa berkah. Sebuah altar khusus, toshidana [rak tahun] diletakkan di tempat yang agak tinggi bersama kagamimochi, ketan putih berbentuk bulat pipih, sake, buah jeruk dan beberapa jenis makanan untuk menghormati toshigami. Malam menjelang Tahun Baru, omisoka, rakyat berbondong mengunjungi kuil Budha untuk mendengarkan genta-joya no kane yang dibunyikan sebanyak 108 kali di pertengahan malam untuk melenyapkan roh jahat di tahun yang akan segera berlalu. Kebiasaan lain adalah, menyantap toshikoshi soba [mi yang melintasi tahun] sambil mengharapkan berlanjutnya keberuntungan keluarga seperti mi yang panjang.

Sumber: The Kodansha Bilingual Encyclopedia of Japan


Tahun Baru

Ganjitsu, hari pertama di tahun baru biasanya dilalui bersama anggota keluarga, termasuk berkunjung ke kuil Budha atau Shinto. Ketika matahari terbit keluarga kerajaan di istana akan melakukan ritual shihoohai memberi penghormatan ke empat arah mata angin sesuai dengan letak kuil dan kuburan keluarga kerajaan serta mendoakan kemakmuran seluruh negeri. Pada tanggal 2 rakyat diperbolehkan masuk ke halaman istana. Di hari kedua dan ketiga, kerabat, teman dan kolega bisnis saling berkunjung untuk nenshi bersilaturahmi dan toso-bersulang dengan sake khusus.

Hatsumode
[Kunjungan pertama ke kuil]

Pada tahun baru rakyat akan mengunjungi kuil Budha atau pun Shinto untuk memohon berkah. Pemilihan kuil ditentukan melalui perhitungan keberuntungan arah dan jarak rumah ke kuil [ehoo]. Kunjungan ke kuil ini juga dikenal istilah dengan ehoomairi. Namun belakangan ini rakyat lebih suka mengunjungi kuil terkenal dan mulai mengabaikan lokasi. Kunjungan ini dimulai sejjak tengah malam menjelang tahun baru.

Ooshogatsu dan Koshoogatsu

Shoogatsu mengacu pada bulan pertama di awal yang juga identik dengan libur tahun baru. Berbagai kegiatan yang telah dijelaskan sebelumnya juga dikenal sebagai rangkaian oshoogatsu [Tahun Baru Raya]. Karenanya istilah koshoogatsu [Tahun Baru Kecil] juga dikenal. Tahun Baru Raya/besar dihitung berdasarkan kalender Masehi sedangkan Tahun Baru Kecil dihitung berdasarkan perhitungan bulan. Karenya koshoogatsu dimulai saat bulan purnama pertama yang biasanya jatuh di tanggal 15 Januari dan di pelosok Jepang, toshgami diyakini sebagai dewa pertanian.

Sumber:
NUANSA
The Japan Foundation
Edisi Januari-Februari-Maret 2010

*Selamat Tahun Baru dalam Bahasa Jepang


Saat Adi [dari myo :D] dan saya membahas tentang Ungkapan Selamat Tahun Baru, saya menemukan bahasan ini dalam buku Pak Edizal.

Yes! Hidup nyontek! :D

-

Kebiasaan orang Jepang mengirimkan kartu ucapan selamat sekaligus terima kasih kepada kenalannya dua kali setahun yaitu ada pertengahan musim panas dan musim salju. Kartu yang dikirimkan pada musim salju adalah juga kartu tahun baru yanng tidak hanya ucapan selamat biasa melainkan juga berisi tanda terima kasih atas kebaikan yang diberikan pada tahun sebelumnya dan berharap bantuan yang sama pada tahun ini.

Ucapan biasa yang dapat disampaikan pada tahun baru ini adalah:
Shinnen omedetou gozaimasu
Akemashite omedetou gozaimasu

Umumnya orang-orang membedakan pemakaian kalimat yang ditulis dalam kartu tahun baru tersebut, apakah kepada kenalan biasa, sahabat atau orang yang mempunyai status lebih tinggi. Namun, ada bentuk umum yang sering digunakan , seperti berikut:

Shinnen omedetou gozaimasu .
Selamat Tahun Baru.
Sakunenchuu wa iro-iro osewa ni narimashita.
Terima kasih atas kebaikan yang diberikan pada tahun yang lalu.
Hinnen mo douzo yoroshiku onegai moshiagemasu.
Tahun ini pun saya mengharapkan hal yang sama.

Banyak pula orang yang menulis alinea pertama dengan menggambarkan iklim atau suasana pada saat tersebut sebagaimana juga yang terdapat dalam surat biasa. Karena tahun baru berada dalam naungan musim salju maka digambarkan keadaan yang dingin. Di samping itu, sering pula dilukiskan suasana menghadapi suasana musim semi.

Geishun.
Honnen mo mo douzo yoroshiku onegai moshiagemasu
.

Ungkapan Shinnen omedetou gozaimasu tidak digunakan kepada orang yang akan bepergian atau pamit sebelum tahun baru datang, walaupun maksudnya mengucapkan selamat tahun baru. Ungkapan ini hanya diucapkan setelah masuknya tahun baru. Sedangkan ungkapan yang sering digunakan pada situasi ini adalah:
Douzo yoi otoshi o omukae kudasai.
Selamat menikmati tahun baru.

Ungkapan ini kedengaran agak formal dan sering diucapkan pendek saja menjadi:

Douzo yoi otoshi o.

Ucapan selamat tahun baru yang lain yang dapat disampaikan kepada orang yang akan bepergian sebelum tahun baru menjelang adalah:
Rainen ga yoi toshi arimasu you nni.
Semoga tahun depan menjadi tahun yang cerah bagia anda.
--

Sumber: Edizal
UNGKAPAN BAHASA JEPANG
Pola Komunikasi Manusia Jepang
Kesaint Blanc, 1992


Read more...

*Antara "Arigatou" dan "Sumimasen"

Sebenarnya tulisan dari Pak Edizal ini cuma perpanjangan dari tulisan terjemahan saya yang lalu tentang Meminta Maaf sih.. :D

Arigatou gozaimasu

Ungkapan ini berarti “Terima kasih,” tapi secara harfiah mengandung arti “Sukar ini.” Makna dalamnya sangat dijiwai oleh orang Jepang yang berpandangan bahwa sedapat-dapatnya seseorang harus membalas kebaikan yang diberikan orang lain. Mengingat sukarnya membalas budi seseorang, mereka menyatakan kebaikan yang diterima tersebut merupakan sesuatu yang sukar dibalas.

Goshinsetsu arigatou gozaimashita.
Terima kasih atas kebaikan anda.

Arigatou saja dapat disampaikan kepada orang yang sederajat atau lebih rendah, tapi tidak untuk orang yang punya kedudukan lebih tinggi. Arigatou gozaimasu bisa diucapkan kepada atasan yang kedengaran lebih sopan bila ditambahkan dengan doumo menjadi:

Doumo arigatou gozaimasu.
Terima kasih banyak.

Kadangkala digunakan kata
Doumo saja di antara orang yang sudah akrab, dan kepada orang yang lebih rendah menggantikan ungkapan arigatou.

Untuk mengungkapkan rasa terima kasih atas kebaikan yang telah dan akan diterima, digunakan arigatou gozaimasu, kemudian arigatou gozaimashita untuk kebaikan yang sudah diterima.

Di samping itu, penggunaan kedua bentuk ini dipengaruhi pula oleh perasaan orang yang mengucapkannya. Apabila bentuk biasa arigatou gozaimasu yang digunakan, akan memberikan kesan bahwa kebaikan yang diterima akan mengendap lama dalam hatinya. Bentuk lampau digunakan, misalnya ketika mengembalikan buku seseorang yang dipinjam.

Seseorang yang memberikan pujian tidak lazim dibalas dengan ucapan arigatou gozaimasu melainkan dengan ungkapan lain.

A: Nihongo ga umai desu ne.
Bahasa Jepangnya bagus sekali.
B: Iie, mada-mada heta desu.
Tidak, masih bodoh.

Balasan ucapan terima kasih yang sering digunakan adalah iie, dou itashimashite (terima kasih kembali).
Ucapan iie saja sudah cukup menanggapi ucapan terima kasih yang disampaikan oleh seseorang tapi tidak diucapkan kepada atasan. Ada situasi yang tidak memerlukan balasan ucapan ini, misalnya pegawai toko atau pelayan restoran yang mengucapkan terima kasih kepada pengunjung. Dalam hal ini ucapan iie, dou itashimasite tidak diperlukan.

Orang yang banyak berhubungan bisnis sering mengucapkan Maido arigatou gozaimasu bila menerima telepon dari partner dagangnya. Sukar dicarikan terjemahan yang tepat dari ungkapan ini. Maido bisa diartikan sebagai “setiap kali, setiap waktu, sering” dan lain-lain. Jadi, ungkapan di atas mengandung makna “Terima kasih atas segala kebaikan yang selalu diberikan kepada kami.” Kadangkal hanya diucapkan Maido saja.

Sementara ungkapan ini mengandung suatu pengakuan terhadap budi yang diterima dari orang lain, pengembalian hutang budi tersebut perlu dipikirkan. Untuk suatu hal yang sepele, hal ini tidak akan menjadi beban pikiran betul. Tapi, suatu pengorbanan yang berarti yang diperbuat oleh orang lain atau suatu kebaikan yang menyentuh perasaan, tidak akan lenyap begitu saja. Oleh karena itu, tidak ada batasan sampai berapa kali atau sampai kapan seseorang itu mengucapkan terima kasih atas budi yang diterimanya. Seseorang yang merasa berhutang budi kepada dosen pembimbingnya sering menyampaikan ucapan terima kasih sekalipun dia sudah tamat dari sekolahnya, khususnya pada tahun baru.

Bila hendak menyatakan ucapan terima kasih yang mendalam kepada seseorang dapat ditambahkan kata lain yang ditempatkan sebelum ungkapan tersebut sebagaimana yang dapat dilihat dari contoh berikut, yang kira-kira berarti “Terima kasih banyak.”

Makoto ni arigatou gozaimashita.
Doumo arigatou gozaimashita.
Taihen arigatou gozaimashita.
Hontou ni arigatou gozaimashita
.

Pernyataan berhutang budi atas kebaikan seseorang tidak selalu harus disampaikan dengan ungkapan terima kasih bahkan pada situasi tertentu ucapan terima kasih dapat melukai perasaan seseorang. Ada perasaan tidak enak yang timbul setelah menerima ucapan terima kasih dari seseorang atas pertolongan yang seharusnya bukan kewajibannya.

Bila seseorang mengambilkan buku yang terjatuh, seolah-olah sudah merupakan tugasnya berbuat demikian sehingga tidak perlu disampaikan ucapan terima kasih kepadanya. Dalam hal ini lebih baik digunakan ungkapan Sumimasen yang bermakna permintaan maaf atas susah payah yang dilakukan dan juga mengandung rasa terima kasih. Sementara anak kecil lebih banyak mengucapkan arigatou pada hal-hal seperti ini, orang dewasa yang mengucapkan ungkapan yang sama sama akan kedengaran kekanak-kanakan.

Seseorang juga harus hati-hati menggunakan bentuk biasa dan bentuk lampau dari ungkapan ini, misalnya ketika mengakhiri suatu pembicaraan atau ceramah. Apabila diucapkan arigatou gozaimasu di akhir pembicaraan tersebut akan memberi pengertian kepada pendengar bahwa pembicaran belum lagi selesai dan akan dilanjutkan lagi. Pada situasi begini harus digunakan bentuk lampau menjadi arigatou gozaimashita.

Dalam buku Kamikaze buah tangan “Zabo” digambarkan tingkah laku unik manusia Jepang sehari-hari melalui karikatur. Pada salah satu bagiannya terlihat adegan seseorang yang membungkuk sambil mengucapkan terima kasih kepada ticket vending machine. Orang Jepang sendiri mengatakan bahwa hanya anak muda bodohlah yang mau berlaku demikian, tapi orang tua yang mengucapkan terima kasih kepada mesin tersebut setelah menerima karcis bukannya tidak ada.

Ada-ada saja ya.. :D'
Tapi yang menjadi pertanyaan saya adalah kenapa orang yang mengatakan terima kasih kepada mesin itu bisa saja ada, sedangkan berterima kasih pada pelayan toko atau restoran tidak perlu dilakukan? Mesin kan benda mati sedang pelayan toko atau restoran itu makhluk hidup..




Sumimasen

Kata kerja bentuk kamus dari ungkapan ini adalah sumu (selesai, berakhir, habis) yang berubah ke bentuk negatif Sumimasen. Dalam Koujien [Izuru Shinmura, Iwanami Shoten, 1986], ungkapan ini diartikan sebagai “Suatu hal yang tidak berakhir begitu saja, yang menyebabkan diri sendiri tidak akan tenang karenanya.” Makna yang tersirat di dalamnya adalah “Seseorang tidak merasa dan akan selalu mengenang kebaikan yang diterimanya atau kesalahan yang diperbuatnya.” Tidak diketahui apakah pernyataan tersebut benar-benar dihayati oleh manusia Jepang ataukah hanya sekedar basa-basi saja. Boleh jadi kedua-duanya berlaku.

Meskipun bermakna sedalam itu, dan Bahasa Indonesia dekat terjemahannya pada “Maaf.” Permintaan maaf ini disampaikan kepada orang-orang yang terganggu oleh suatu perbuatan. Atau perasaan bersalah yang muncul dalam hati sendiri sekalipun oraang tersebut tidak merasa terganggu.

Di tengah keramaian dianggap wajar saja bila terjadi perbenturan tubuh antara orang banyak dan tidak diperlukan suatu ucapan maaf. Namun, bila perbenturan tersebut menyebabkan seseorang agak terdorong atau menginjak kaki seseorang secara tidak sengaja maka pengucapan Sumimasen dengan segera sebagai ungkapan rasa maaf merupakan suatu kebiasaan yang baik. Begitu pula halnya bila sedang berbicara atau sedang melakukan sesuatu yang menyebabkan orang lain terganggu.
Seseorang yang kurang teliti mengerjakan sesuatu sehingga meninggalkan kerugian atau menyebabkan kegiatan lain terganggu dapat menggunakan ungkapan ini sebagai rasa penyesalan.

Fuchuui de hontou ni sumimasen deshita.
Saya mohon maaf atas kecerobohan saya.

Penambahan kata ga di belakang Sumimasen akan memperhalus ungkapan tersebut dan ini digunakan pula untuk menarik perhatian seseorang. Seorang bawahan akan memakai ungkapan ini bila hendak menanyakan sesuatu kepada atasannya.

Shain : Sumimasen ga.
Maaf, pak.
Sachou: Hai.
Ya.
Shain: Kouyuusho o kakunin shite hoshii no desu ga.
Tolong bapak sahkan surat pembelian ini.
Shachou: Hai.
Ya.

Dalam masyarakat Jepang ucapan Arigatou gozaimasu tidaklah selalu diucapkan pada seseorang yang telah berbuat kebaikan sebagaimana yang berlaku di Indonesia. Hal tersebut tergantung kepada situasi yang mengikutinya. Bahkan bila ungkapan terima kasih digunakan pada kasus tertentu akan dianggap tidak sopan. Jadi ada situasi dimana lebih baik digunakan ungkapan Sumimasen [Maaf] ketimbang Arigatou gozaimasu [Terima kasih].

A : Nani ka o ochimashita yo.
Barangnya ada yang jatuh.
B : A, doumo sumimasen.
Oh ya, terima kasih.

Pada kasus ini orang yang ketinggalan barang mengucapkan Sumimasen kepada orang yang memberitahukannya. Ungkapan ini mengandung makna terima kasih atas kebaikannya memberi peringatan dan bermakna maaf atas kesudian orang tersebut menyisakan waktu memberitahukan barang yang terjatuh. Makna kedua lebih kuat dibandingkan makna pertama, karena kelalaian tersebut adalah kesalahan sendiri dan bukanlah tugas atau pekerjaan orang lain memberitahukannya. Apabila diucapkan Arigatou gozaimasu, seolah-olah sudah kewajiban orang tersebut memperingatkan kita pada barang yang tertinggal.

Kasus lain yang memerlukan penggunaan ungkapan ini adalah ketika seorang ibu yang mengucapkan Doumo sumimasen kepada seseorang yang telah memberi penganan kepada anaknya. Apabila digunakan Arigatou gozaimasu seolah-olah sang ibu memang menghendaki penganan tersebut diberikan kepada anaknya. Ungkapan maaf tidak menggambarkan kehendak yang demikian.

Ada pula situasi lain yang memungkinkan yang mana saja dari kedua ungkapan tersebut dapat digunakan. Agaknya kaum wanita lebih banyak mengucapkan Sumimasen untuk menyampaikan terima kasih dan maaf dibandingkan kaum laki-laki. Tingkat usia pembicara perlu pula dipertimbangkan di sini. Anak muda relatif lebih sering menggunakan Arigatou gozaimasu daripada orang dewasa yang menggunakan Sumimasen.


Sumber: Ungkapan Bahasa Jepang (Pola Komunikasi Bahasa Jepang) oleh Edizal,
Kesaint Blanc, 1992

Read more...

*Membicarakan Partikel Ni dalam Bahasa Jepang



Tulisan yang membahas tentang partikel ni dalam Bahasa Jepang ini saya rangkumkan sesuai pesanan seorang pengunjung blog dengan nama panggilan Bg Stand Ablaze-san


Secara lebih luas, semoga tulisan di bawah ini dapat sedikit membantu bagi yang membutuhkan penjelasan tentang partikel ni.


----

Sebelum membahas tentang partikel ni, sebaiknya kita membicarakan sedikit tentang pengertian partikel itu sendiri.

Dalam Bahasa Jepang, partikel disebut Joshi.
Iwabuchi Tadasu menjelaskan bahwa kelas kata seperti ga, ni, keredomo, made, ne, wa dan sebagainya dalam Bahasa Jepang disebut joshi. Oleh karena joshi dengan sendirinya tidak dapat membentuk sebuah bunsetsu, maka kelas kata ini termasuk kelompok fuzokugo. Joshi tidak mengalami perubahan [konjugasi/deklinasi]. Kelas kata seperti ini dalam Bahasa Inggris biasanya dipakai sebelum kelas kata lain, sedangkan dalam Bahasa Jepang dipakai setelah kelas kata lain [Tadasu, 1989:157].

Menurut teori yang lebih banyak berkembang, partikel dibagi dalam empat klasifikasi.
Yaitu fukujoshi, kakujoshi, setsuzokushi dan shuujoshi.

Nah, partikel ni yang akan kita bicarakan ini termasuk ke dalam kelas Kakujoshi.
Kakujoshi biasanya dipakai setelah taigen [meishi = nomina] untuk menyatakan hubungan satu bunsetsu dengan bunsetsu lainnya [Tadasu, 1989:48].
Dalam Kakujoshi, si ni ini memiliki teman-teman yang antara lain, de, e, ga, kara, no, o, to, ya, dan yori [ha? Ada Iorii..!! ^o^].
Sedikit lebih spesifik, partikel ni dipakai untuk menyatakan hubungan nomina yang ada sebelumnya dengan predikat pada kalimat itu.

Sekarang mari kita lihat, ngapain aja sih aktivitas ni di kelasnya?

a. Untuk menyatakan tempat beradanya seseorang, binatang atau benda-benda lainnya.
o) Gakkou no mae ni koen ga aru. [Di depan sekolah ada taman umum].
o) Kare wa ima demo engekikai ni kunrin shite imasu. [Bahkan sekarang pun ia masih mendominasi dunia pertunjukan.]

b. Dapat dipakai setelah kata-kata yang menyatakan waktu [jam, hari, tanggal, bulan, tahun]. Hal ini untuk menunjukkan bahwa pada saat yang disebutkan, telah atau sedang dilakukannya suatu aktivitas/kejadian tertentu.
o) Anata wa nangatsu nannichi ni umaremashita ka? Terjemahan bebasnya [Tanggal berapa anda lahir?]
o) Juu ichi-ji ni terebi o mimasu. [Saya nonton TV jam sebelas malam].

c. Partikel ni memiliki fungsi yang sama dengan partikel e yang menyatakan tempat tujuan [kalimat pertama], tempat pulangnya kembali [kalimat kedua] atau tempat kedatangan [kalimat ketiga].
o) Heya ni hairu. [Masuk ke kamar.]
o) Daidokoro ni modotte kita. [Datang kembali ke dapur.]
o) Roku-ji ni uchi e dete, shichi-ji ni kaisha ni tsukimashita. [Pergi ke luar rumah jam enam dan pulang kembali dari kantor jam tujuh.]

Ni juga dapat digunakan untuk menunjukkan arah.
o) Watashi no uchi wa nishi ni muite iru. [Rumah saya menghadap ke arah timur.]
o) Hidari ni magatte kudasai. [Tolong belok ke kiri.]

d) Untuk menyatakan jumlah sesuatu kata-kata yang menyatakan jumlah sesuatu untuk menunjukkan batas, standar atau taraf-taraf tertentu.
o) Juugofun ni ippon densha ga kuru. [Lima belas menit sekali keretanya datang.]
o) Sankagetsu ni ichido atsumarimasu. [Berkumpul tiga bulan sekali.]

e) Partikel ni dapat dipakai untuk menyatakan obyek suatu aktivitas.
o) Sensei ni shitsumon suru. [Bertanya pada guru.]
o) Shachou ni houkoku shimasu. [Memberi informasi pada atasan.]
o) Watashi wa Tanaka-san ni denwa o kakemashita. [Saya menelepon Saudara Tanaka.]

f) Partikel ni memiliki fungsi yang sama dengan partikel kara yang dapat dipakai untuk menyatakan asal suatu benda/perkara.
o) Tomodachi ni tegami o moratta. [Menerima surat dari teman.]

g) Partikel ni dapat dipakai untuk menyatakan tujuan dilakukannya suatu aktivitas.
o) Gorufu ni iku. [Pergi untuk main golf.]
o) Nihongo o benkyou shi ni gakkou e itta. [Pergi ke universitas untuk belajar Bahasa Jepang.]

h) Dipakai setelah nomina untuk menyatakan sebab-sebab atau alasan.
o) Ureshisa ni naite iru. [Menangis dengan bahagia.]

i) Dipakai setelah kata-kata yang menyatakan hasil suatu perubahan atau pekerjaan.
o) Nihongo no sensei ni naru. [Menjadi guru.]
o) Shingo ga aka ni kawaru. [Lampu merah berubah menjadi merah.]
*aka yang berarti merah ini merupakan konjugasi dari kata sifat berakhiran ~i ke kata benda

j) Dipakai dengan kata kerja 'non perbuatan' tertentu, yang subyeknya tetap berada pada tempat perbuatan atau kejadian
o) Yamada-san wa genzai Yotsuya ni sunderu. [Yamada-san tinggal di Yotsuya.].. ?
o) Terada-san wa Shinjuku no ginkou ni tsutomete iru. [Terada san bekerja pada bank di Shinjuku.]
* kata kerja semacam hataraku dan shigoto memakai partikel de
o) Anata wa boku no yume no naka ni nandomo dete kita. [Kau masuk ke alam mimpiku beberapa kali.] << eh kalimat abstrak ini sebaiknya ditaruh dimana ya?

k) Dipakai dengan kata kerja yang menunjukkan suatu perbuatan yang telah atau akan dilakukan dan keadaan yang akan atau telah terjadi dari perbuatan itu adalah statis
o) Ano isu ni suwatte hon o yonderu hito wa dare desu ka? [Orang yang sedang duduk dan membaca buku itu siapa?]
o) Yama no ue ni yuki ga tsumotte iru ne. [Salju tertimbun di puncak kan?]
o) Sumimasen ga, kabe ni kakatte iru watashi no kotto o totte kuremasen ka? [Maaf, dapatkah mengambilkan jaket saya yang tergantung di dinding.] [..]

l) Menunjukkan pengantar sebuah verba pasif [orang/benda yang menyebabkan perbuatan]
o) Ie ni kaeru tochuu de ame ni furareta. [Selama dalam perjalanan pulang, turun hujan.] [..]

m) Partikel ni dipakai untuk menunjukkan kata dasar yang dimaksudkan oleh suatu perbuatan yang dilakukan. Misalnya, motozuku [berdasarkan] dan yoru [ menurut, sesuai].
o) Ano eiga wa yuumei na shosetsu ni motozuite tsukuraremashita. [Film itu dinuat berdasarkan sebuah novel terkenal.]
o) Terebi no fukyu ni yotte gaikoku no yousu ga yoku wakaru you ni natta. [Berkat meluasnya siaran televisi, kami mengerti dengan baik keadaan negara-negara lain.]

n) Partikel ni dipakai untuk menunjukkan sepasang manusia atau benda yang biasanya disebut bersama-sama. Dalam Bahasa Indonesia dapat diartikan 'dan'.
o) Romeo ni Jurietto. [Romeo dan Juliette.]
o) Fuji-san ni geisha. [ Gunung Fuji dan geisha.] *ungkapan usang mengenai Jepang


Nah, sepertinya sekarang kita akan memasuki area berpusing-pusing ria nih..


Perbedaan Partikel Ni dengan Partikel De

A. Prinsipnya, partikel ni dipakai untuk menyatakan tempat suatu benda, sedangkan partikel de dipakai untuk menyatakan tempat dilakukannya suatu aktivitas. Maka, dalam hal ini partikel ni tidak dapat diganti dengan partikel de.

1) Partikel ni yang menyatakan eksistensi suatu benda.
a) Kare wa shokudou ni iru. [Dia ada di kantin.]
b) Tsukue no ue ni hon ga aru. [Di atas meja ada buku.]

2) Partikel ni yang secara konkret dan jelas menyatakan keadaan [keberadaan] suatu benda.
c) Yama no shita ni kawa ga unette iru. [Di bawah gunung, sungai meliuk-liuk] << terjemahannya sedikit sulit ya ^^
d) Ike no soba ni hana ga saite iru. [Di dekat kolam, ada bunga yang mekar.]

3) Partikel ni yang menyatakan bahwa keberadaan benda itu merupakan hal yang terlihat atau terasa.
e) Mukou ni yama ga mieru. [Di seberang terlihat gunung.]

Sebaliknya, karena partikel de pada kalimat (f) berfungsi menyatakan tempat dilakukannya aktivitas kare [dia], maka partikel de pada kalimat ini pun tidak mungkin diganti dengan partikel ni.
f) Kare wa mainichi koko de tenisu o suru. [Dia setiap hari main tenis di sini.]


B. Partikel ni dipakai untuk menyatakan tempat beradanya benda yang menjadi subyek suatu aktivitas atau perbuatan yang dilakukan oleh subyek/tema.

g) Watashi wa soko ni gomi o suteta.
h) Kare wa Shinjuku ni tochi o katta.

Partikel ni pada kalimat (g) dan (h) bisa diganti dengan partikel de seperti pada kalimat (i) dan (j). Namun sebagai akibatnya makna kalimatnya akan berubah.
i) Watashi wa soko de gomi o suteta.
j) Kare wa Shinjuku de tochi o katta.

Partikel ni pada kalimat (g) dipakai untuk menerangkan bahwa kata soko merupakan tempat yang dipakai untuk membuang sampah [menjadi tempat sampah]. Kalau partikel itu diganti dengan partikel de seperti pada kalimat (i), maka kata soko yang ada sebelumnya itu berubah maknanya menjadi tempat dimana subyek berada pada waktu membuang sampah. Jadi dalam kalimat (i), tidak jelas [tidak diketahui] ke [tempat] mana sampah itu dibuang. Hal ini juga terjadi pada kalimat (j). Dalam kalimat (j) dinyatakan bahwa kare [dia] sudah membeli tanah dan pembeliannya itu dilakukan di Shinjuku. Dalam kalimat ini tidak diketahui tanah yang ada dimana yang dibelinya itu [bandingkan dengan kalimat (h)].

C. Partikel ni dipakai untuk menyatakan beradanya subyek pada suatu tempat sebagai hasil aktivitas atau pekerjaan yang sudah dilakukan.

k) Gakuseitachi wa isu ni koshikaketa. [Para murid telah duduk di bangku.]
l) Kare wa ano kawa ni ochita rashii. [Sepertinya dia terjatuh di sungai.]

Tetapi baik partikel ni maupun partikel de dapat dipakai seperti pada kalimat (m) dan (n) di bawah ini.
m) Kare wa ano beddo ni nette iru.
n) Kare wa ano beddo de nette iru.

Perbedaaan partikel ni dan partikel de pada kalimat di atas dititik-beratkan pada cara-cara kita mendeskripsikan kalimat-kalimat tersebut. Partikel ni dipakai pada kalimat (m) dan pemikiran bahwa kare [dia] pada saat itu ‘sedang berada’ di tempat tidur, sedangkan partikel de dipakai pada kalimat (m) dengan pemikiran bahwa kare pada saat itu ‘sedang melakukan aktivitas tidur’ di tempat tidur. Oleh sebab itu, biasanya akan lebih alamiah apabila kalimat (n) dilengkapi kata keterangan yang berkenaan dengan aktivitas atau perbuatan, misalnya dengan kata gussuri sehingga menjadi kalimat (o).

o) Kare wa ano beddo de gussuri nete iru. [Dia tertidur dengan lelap di tempat tidur.]


Perbedaan Partikel Ni dengan Partikel O

p) Kare wa ano michi ni itta.
q) Kare wa ano michi o itta.

Makna kedua kalimat (p) dan (q) di atas benar-benar berbeda. Perbedaan ini dikarenakan peran kata keterangan tempat ano michi yang dipakai pada kalimat (p) berbeda dengan kalimat (q). Kata ano michi pada kalimat (p) merupakan tempat sampai, tiba atau tempat kedatangan kare. Sedangkan kata ano michi pada kalimat (q) sebagai tempat yang dilalui/dilewati kare.
Sekarang perhatikanlah kalimat (r) dan kalimat (s). Keduanya tidak ada perbedaan seperti yang terjadi pada kalimat (p) dan (q).

r) Watashi wa ano yama ni noboru koto ga aru.
s) Watashi wa ano yama o nobotta koto ga aru.

Perbedaan antara kalimat (r) dan (s) adalah dalam kalimat (r) terdapat penekanan [titik berat] pada masalah tiba, sampai atau kedatangan di [puncak] gunung [ano yama]. Sedangkan dalam kalimat (s) terdapat penekanan pada proses pendakian gunung [ano yama]. Maka, kalau hanya untuk menyatakan ada-tidaknya pengalaman mendaki gunung tanpa mempermasalahkan proses pendakian, maka akan terasa lebih alamiah kalau dipakai kalimat (s).

Dalam kombinasi antara aktivitas dan tempat yang termasuk jenis ini terdapat juga ungkapan yang menitik-beratkan tempat sampai, tiba atau kedatangan seperti dalam kalimat-kalimat:
t) Kare wa nikai ni agatta. [Dia pergi ke lantai dua.]
u) Watashi wa chikasetsu ni orita. [Saya turun dari chikasetsu.]

Selain itu terdapat juga ungkapan yang menitik-beratkan tempat yang dilewati/dilalui seperti dalam kalimat:
v) Kare wa nagai kaidan o agatta. [Dia melakukan diskusi yang panjang.]
w) Ano saka o oriru toki wa, ki o tsukenasai. [Saat turun dari bukit, berhati-hatilah.]

Perlu kita perhatikan bahwa partikel ni pada kalimat (t) dan kalimat (u) tidak bisa diganti dengan partikel o. Namun kita tidak dapat mengatakan bahwa partikel o pada kalimat (v) dan (w) tidak mungkin diganti partikel ni.


Perbedaan Partikel To dengan Partikel Ni yang Menyatakan Objek pada Suatu Kalimat

Berikut perbedaan kedua partikel seperti yang disarikan Tomita Takayuki [1992:55-56].
1.a A-san wa B-san to kekkon shimashita.
1.b B-san wa A-san to kekkon shimashita.
2.a A-san wa B-san to kenka shimashita.
2.b B-san wa A-san to kenka o shimashita.

Seperti kita lihat pada contoh kalimat di atas, kalimat 1.a dapat diubah menjadi 1.b, begitu juga kalimat 2.a dapat diubah menjadi kalimat 2.b. Perubahannya terjadi hanya karena pertukaran posisi subyek dan obyek pada kalimat-kalimat itu. A-san sebagai subyek baik pada kalimat 1.a maupun 2.a ditukar dengan B-san yang pada mulanya berkedudukan sebagai obyek. Demikian juga B-san sebagai objek dapat ditukar dengan A-san yang pada mulanya berkedudukan sebagai subyek sehingga terjadilah kalimat 1.b dan 2.b. Walaupun kedua kalimat ini diubah posisinya, tetapi maknanya tetap sama.
Atau dengan kata lain, partikel to di sini menunjukkan bahwa si subyek dan si obyek memiliki peran yang sama. Baik A-san maupun B-san keduanya secara sadar, secara aktif dan dengan kemauannya masing-masing melakukan kegiatan yang sama. Baik A-san maupun B-san secara aktif menjadikan pasangannya sebagai obyek.
Karena partikel to menunjukkan aktivitas subyek dan obyek secara bersamaan, maka partikel to pada empat kalimat di atas tidak dapat diganti dengan partikel ni yang menyataan aktivitas yang sepihak.
Misalnya:
3.a A-san wa B-san ni kekkon shimashita. {x}
3.b B-san wa A-san ni kekkon shimashita. {x}
4.a A-san wa B-san ni kenka o shimashita. {x}
4.b B-san wa A-san ni kenka o shimashita. {x}

Sekarang perhatikanlah kalimat-kalimat berikut:
5.a A-san wa B-san ni denwa o kakemashita.
5.b B-san wa A-san ni denwa o kakemashita.
6.a A-san wa, sono koto o sensei ni shirasemashita.
6.b Sensei wa, sono koto o A-san ni shirasemashita.

Pada kalimat 5.a walaupun A-san dan B-san bersama-sama berbicara menggunakan pesawat telepon, yang pertama menelepon adalah A-san dan yang ditelpon adalah B-san. Begitu juga pada kalimat 6.a yang memberitahu adalah A-san sedangkan yang diberitahu adalah sensei. Partikel ni dalam kalimat itu menunjukkan kegiatan yang sepihak. A-san lah sebagai subyek yang melakukan kegiatan dan menjadikan B-san dan sensei sebagai obyek. Akibatnya, kedudukan obyek dan subyek pada kalimat ini tidak dapat diputarbalikkan. Kalau pun dipaksakan untuk diputarbalikkan, dimana subyek menjadi obyek dan obyek menjadi subyek, maka makna kalimatnya akan berubah.
Perubahan maknanya menjadi:
Bila sebelumnya A-san yang menelpon dan B-san yang ditelpon, sekarang berubah menjadi B-san yang menelpon dan A-sanlah yang ditelpon.

Sedangkan pada kalimat 6.a dan 6.b perubahan maknanya menjadi:
Bila pada kalimat 6.a A-san yang memberitahu Sensei, maka pada kalimat 6.b Senseilah yang memberitahu A-san.

Lalu bagaimanakah mengenai kalimat-kalimat berikut:
1.a A-san wa B-san to aimashita.
1.b A-san wa B-san ni aimashita.
2.a A-san wa kuruma o unten shite ite torakku to butsurikarimashita.
2.b A-san wa kuruma o unten shite ite torakku ni butsukarimashita.
3.a A-san wa kuruma o unten shite ite denchuu ni butsukarimashita.
3.b * A-san wa kuruma o unten shite ite denchuu to butsukarimashita. {x}

Pemakaian partikel to dan ni pada kalimat 1.a dan 1.b dapat dibenarkan; namun berdasarkan fungsi partikel pada penjelasan sebelumnya, maka kedua kalimat tersebut memiliki makna yang berbeda.
Pada kalimat 1.a baik A-san maupun B-san secara bersama-sama merasa ingin bertemu, bermaksud bertemu, mungkin juga kedua orang itu berjanji untuk bertemu di suatu tempat sehingga terjadilah pertemuan itu. Sedangkan pada kalimat 1.b, yang ingin bertemu ialah A-san. Secara sepihak A-san-lah yang merasa ingin bertemu dengan B-san, bermaksud bertemu B-san dan akhirnya pergi ke suatu tempat dimana B-san berada.

Hal ini hampir sama dengan kalimat 2.a dan 2.b. Kalimat 2.a memiliki makna bahwa mobil yang ditumpangi A-san dan truk [yang dikendarai oleh orang lain] kedua-duanya berjalan dari arah yang berlawanan lalu bertabrakan. Sedangkan kalimat 2.b memiliki makna bahwa mobil yang ditumpangi A-sanlah yang menabrak truk yang sedang berjalan dari arah belakang truk, atau mungkin juga menabrak truk yang sedang berhenti. Dengan demikian, tentu saja kalimat 3.a dapat dibenarkan sedangkan kalimat 3.b terasa tidak alamiah sebab tiang listrik tidak bisa berjalan sendiri.


Tentang made ni..

KB [waktu] made ni KK.
Menunjukkan batas waktu dimana perbuatan/aksi harus selesai; jadi perbuatan/aksi itu harus dilakukan sebelum batas waktu yang ditunjukkan oleh made ni itu.
1) Kaigi wa goji made ni owarimasu. [Rapat akan berakhir paling lambat sebelum jam lima.]

2) Doyoubi made ni hon o kaesanakereba narimasen. [Harus mengembalikan buku paling lambat sebelum hari Sabtu.

Dalam hal ini, made ni tidak bisa disamakan dengan kalimat seperti berikut:

Goji made hatarakimasu. [Bekerja sampai jam lima.]


Selain fungsi-fungsi yang telah disebutkan di atas, rupanya partikel ni juga dapat menyertai beberapa fukushi.
Mengenai fukushi yang dapat disertai dengan partikel ni ini, misalnya:
1) Jiki ni : dengan langsung, dengan segera, terus, lantas, sebentar lagi, dengan
selekas-lekasnya
2) Sude ni : sudah, telah, dulu, dahulu
3) Sugu ni : segera, langsung, lantas, serta-merta, dengan mudah, secepat-cepatnya, tidak lama
4) Tachimachi ni: dengan segera, lantas, langsung
5) Tadachi ni : dengan segera, lantas, langsung
6) Tagai ni : saling, satu sama lain
7) Tsui ni : akhirnya, kesudahannya, penghaabisannya.

Misalnya:
1)Ano futari wa tagai ni shiriai desu. [Kedua orang itu saling mengenal satu sama lain.]
2)Sugu ni yoru ga akeyou.
*.. sugu ni yoru ga akeru =cepat malam selesai =cepat datang pagi
yo ake=waktu lanjutnya berwarna sinar matahari
Berdasarkan penjelasan di atas, jadi mungkin artinya, “Lekaslah fajar.” :D

Kira-kira demikian yang dapat saya rangkumkan mengenai partikel ni..
Rupanya partikel ini banyak fungsinya ya.
..


Sekarang pertanyaannya adalah apakah partikel itu sulit?
Tergantung cara anda mempelajarinya. Tapi saya kira, akan banyak yang setuju kalau saya katakan bahwa cuma satu persen yang mengatakan bahwa partikel itu sangat mudah [kalau menurut buku yang saya baca, malah nol persen ^^] :D


*Adanya tanda-tanda baca yang tidak lazim merupakan kebingungan saya dalam menerjemahkan. Mohon maklum ya :D



--

Sumber:
Gramatika Bahasa Jepang Modern Seri A oleh Primus-senseiSudjianto, 1996
Gramatika Bahasa jepang Modern Seri B oleh Sudjianto, 2000
Partikel Penting Bahasa Jepang Naoko Chino, 1993
Minna no Nihongo I Terjemahan dan Tata Bahasa dalam Bahasa Indonesia

Read more...