Skip navigation.

Ulan Mengalun Suki-suka

Eh, nyambung ngga sih..

STICKY POST

Salam Kenaaal..

..SE LA MAT DA TAANG..

Yep! Selamat datang di blog yang jarang saya isi ini.. Isi dari blog ini kebanyakan merupakan artikel yang bagi saya menarik yang saya ambil dari majalah, buku dan yang lainnya. Dan dari sebagian artikel-artikel ini merupakan terjemahan [maksudnya, saat ini saya sedang mencoba belajar menerjemahkan :D].

Artikel di blog ini memang tidak/belum banyak.. Tapi mungkin bagi para pengunjung blog yang mengalami kesulitan dalam menemukan artikel yang dimaksud, mungkin ada baiknya memeriksa pada bagian archive. Saya kira saya perlu menyebutkan ini demi menghindari hal yang bersifat mengecoh dari artikel yang anda cari.

Sepertinya masih ada banyak hal yang mesti saya perbaiki pada isi blog ini.. Tapi mungkin saya akan melakukannya sedikit demi sedikit [baca: semampu saya].



Salam,

-ulan-


*Kalauandaberminatmembacanyasayaakansenangsekali..*

**Aku Akrab, Saya Formal **


Sumber: J.S Badudu [hal.148-149]
Intisari Juli 2003 No. 480

__

Kata ganti aku menunjuk pada diri sendiri orang yang berbicara. Kata ini tidak selalu mengandung makna negatif, artinya kurang hormat. Terhadap teman akrab atau anggota keluarga seusia kata aku menunjukkan hubungan yang akrab, intim.

Tentu saja kata ini tidak boleh digunakan terhadap orang yang lebih tua atau yang dihormati, misalnya, kepada guru , atasan, atau terhadap orang yang bekedudukan atau berjabatan. Walaupun demikian di beberapa daerah di Sumatra, kata aku digunakan oleh anaknya terhadap orang tuanya. Dalam dunia sastra, dalam novel misalnya, sapaan terhadap diri sendiri terasa lebih akrab bila menggunakan aku daripada saya. Kata saya terasa lebih formal.

Bagaimana bila kita menyebut diri kita sendiri dalam surat? Sama saja dengan apa yang dijelaskan di atas itu. Terhadap orang yang akrab hubungannya dengan kita atau terhadap orang yang lebih rendah kedudukannya kita menyapa diri kita sendiri dengan kataaku . Terhadap orang yang seharusnya kita hormati atau orang yang tidak akrab hubungannya dengan kita, kita gunakanlah kata saya.

Kata sapaan saya itu sangat netral sifatnya sehingga terhadap presiden pun tidak dapat dianggap tidak hormat bila kita menyebut diri kita saya. Tidak perlu menggunakan kata hamba atau patik karena kata itu hanya biasa digunakan dahulu pada zaman feodal terhadap raja. Dalam alam demokrasi, kata-kata itu tidak dianggap layak dipakai karena terlalu merendahkan diri.

Bagaimana dengan kata kami yang digunakan untuk mengacu kepada diri sendiri? Memang ada anggapan bahwa untuk merendahkan diri kalau kita bercakap-cakap dengan orang yang dihormati sebaiknya kita menyebut diri kita sendiri kami. Namun, ini tidak umum. Kita boleh menggunakan kata kami untuk diri sendiri hanya kalau kita berbicara mewakili orang lain. Jadi, kata itu tidak hanya menunjuk kepada diri yang berbicara itu sendiri, tetapi juga menunjuk kepada orang lain yang diwakilinya. Kata kami di situ berarti “saya dan kawan-kawan saya”. Kata kami selalu mengandung pengertian “orang pertama jamak”.

Kata kita dalam Bahasa Indonesia baku mengacu kepada orang pertama dan kedua [yang diajak bicara] sekaligus. Jangan disamakan misalnya dengan kata kita dalam dialek Melayu Manado atau Jakarta. Kata kita boleh mencakup kata “saya + engkau”, "saya + kalian”, “kami + engkau”, dan “kami + kalian”.

Dalam surat-menyurat resmi biasanya digunakan kata kami karena di sini, si penulis itu bertindak mewakili atasannya atau jawatannya. Akan tetapi, kalau surat itu misalnya ditulis oleh kepala jawatan itu sendiri dan dia menunjuk kepada dirinya, dia seharusnya memakai kata saya saja. Misalnya, dia menulis, “Surat Saudara sudah saya terima dan dengan ini saya …” Dalam berpidato masalahnya lain lagi. Anda tidak dapat menggunakan kata kami, tetapi menggunakan kata saya saja. Seorang pejabat yang membuka suatu penataran misalnya, “Dengan ini saya resmikan penataran ini …”
Andaikata dia mewakili atasannya, maka seyogianya dia mengatakan, “Atas nama Bapak Menteri Pendidikan Nasional, saya resmikan penataran ini …”

Kata sapaan kau atau engkau, atau kamu hanya digunakan terhadap orang yang lebih rendah kedudukannya atau lebih muda usianya dari orang yang berbicara. Kepada orang yang sederajat pun kurang sopan rasanya menyapa orang itu dengan kau engkau, atau kamu. Kata itu sering kita ganti dengan sapaan Saudara atau kata baru yang diciptakan belum lama ini yaitu Anda. Misalnya, kalimat langsung “Silahkan Saudara/Anda menyampaikan pendapat Saudara/Anda.”

__


Artikel ini saya temukan pada tanggal 12 Juni lalu. Saat itu, saya berkata pada diri sendiri, “Nah, ini dia..!!”
Kelihatannya saya berlebihan ya ^^
Tapi hal ini membuat saya berpikir tentang sesuatu.

Saya kira, seseorang yang memakai kata sapa [untuk diri sendiri] yang berbeda pada hampir waktu yang bersamaan, nampaknya kurang konsisten ya :D

Contoh kecilnya saja, pemakaian kata sapa orang pertama pada blog-blog saya :D'

Pada dua blog saya-salah satunya ya di Opera ini, untuk memanggil diri sendiri, maka saya memakai kata saya. Tetapi kalau di blog saya yang satu lagi, saya memakai kata sapa aku :D
Tanya kenNapa? Entahlah. Mungkin karena saya menganggap isi dari blog ini bersifat informatif [saya harap demikian :D], maka saya kira akan lebih baik bila saya juga bersikap sedikit lebih resmi. Sedangkan kalau di blog yang satu lagi karena sifatnya “cuma eksperimen dalam merangkai kata”, jadi rasanya lebih asyik saja bila saya memakai kata aku. Supaya kesannya lebih akrab saja :D

Haa..

Oh ya, pada artikel di atas disebutkan bahwa untuk kata ganti orang kedua, [misalnya kamu] hanya digunakan terhadap orang yang lebih rendah kedudukannya atau lebih muda usianya dari orang yang berbicara. Tetapi dalam pandangan saya, kata sapa itu juga dapat dipakai untuk memanggil seseorang yang hubungannya akrab dengan si pembicara walaupun si lawan bicara memiliki usia yang lebih muda dari si pembicara.

Walau begitu, untuk memanggil orang-orang yang akrab bagi saya, saya lebih nyaman memanggil nama mereka dibanding memakai kata kamu. Kesannya seperti melakukan pembicaraan dengan sesama anak kecil saja ya :D Tapi bagi saya hal itu lebih mengasyikkan. Yaa, mungkin itu cuma berhubungan dengan kebiasaan atau kenyamanan saja barangkali.
Tetapi tetap saja, untuk memanggil lawan bicara yang tingkatannya di atas saya, maka saya akan memanggilnya dengan jabatannya. Contoh mudahnya, “Ibu”, "Bapak", "Mbak" dan "Mas".

..






* RAMALAN BINATANG


Apakah anda termasuk orang yang percaya pada ramalan? :D

Kalau begitu ini ada sedikit informasi Waku-waku Nihongo dari NUANSA [Buletin Informasi terbitan Pusat Kebudayaan Jepang edisi April-Mei 2000] yang sudah lama saya ingin tulis di sini [waktu itu NUANSAnya sempat menghilang entah kemana]..

Kemungkinan artikel ini ditulis oleh Ibu Santi yang pada saat itu meneruskan sekolah tingginya di Universitas Kagoshima.

__

Bulan April adalah bulan yang menyenangkan. Udara menjadi hangat karena datangnya musim semi. Bunga-bunga bersemi menyambut tahun ajaran baru [tahun akademis mulai awal April]. Para lulusan baru pun mulai bekerja. Tidak seperti Indonesia para sarjana mulai bekerja kapan saja, di Jepang biasanya para sarjana baru ini mulai bekerja di awal tahun fiskal yaitu bulan april. Namun, yang tidak menyenangkan juga ada yaitu penyakit yang ditimbulkan oleh serbuk sari bunga. Orang yang tidak tahan dengan serbuk sari yang dibawa oleh angin akan bersin-bersin, pusing, mata berair dan gatal, rasanya seperti flu, tetapi lebih parah dan berat. Lazimnya keadaan ini berlangsung satu dua bulan lamanya. Ingin merasakannya? Mungkin lebih baik jangan ya.

Umumnya di akhir dan awal tahun majalah-majalah menampilkan ramalan nasib sepanjang tahun yang akan menjelang entah itu menurut zodiak atau shio. Di toko-toko buku juga beredar buku-buku yang mengulas peruntungan secara mendetil. Buku-buku semacam ini memang ada sepanjang tahun dan semakin marak menjelang pergantian tahun. Apa yang akan terjadi di masa depan memang selalu menarik minat setiap orang. Saya yakin anda pernah digelitik oleh pertanyaan tentang ‘jodoh’: siapa dia, seperti apakah dia, cantikkah, atletiskah tubuhnya, dan sebagainya. Atau mungkin anda bertanya-tanya profesi apakah yang paling cocok untuk anda. Lalu, dimanakah anda mencari jawabnya? Bisa jadi ramalan bintang yang hadir secara berkala di majalah-majalah, atau buku tentang 12 shio, atau buku yang memuat ulasan tentang garis tangan, bentuk wajah, atau mungkin primbon Jawa?

Kini hadir satu macam ramalan lagi, namanya doubutsu uranai, sebut saja ‘ramalan binatang’ dalam Bahasa Indonesia. Ramalan baru ini mulai menyemarakkan dunia ramalan pada pertengahan tahun 1999 di Jepang, diserukan oleh convenience store LAWSON dengan menghadirkan mesin ramalan di toko-toko mereka. Selain kehadiran mesin ramalan, di toko-toko buku juga ada buku yang mengulas ramalan ini dengan mendetil. Kenapa disebut ‘ramalan binatang’? sebab manusia dibagi atas dua belas macam tipe, dan setiap tipe diwakili oleh satu binatang. Ramalan ini merupakan gabungan dari berbagai macam ramalan yang ada di dunia ini, demikian menurut penulis bukunya.
Unsur dalam ramalan ini tidak hanya dua belas binatang, tetapi ada juga empat bintang yang mempengaruhi sifat dan cara kedua belas binatang berhubungan dengan sesamanya. Kedua belas binatang yang menjadi cerminan manusia adalah: singa, cheetah, pegasus, gajah, monyet, serigala, koala, harimau, macan kumbang, domba, cerpelai, dan rusa. Kemudian empat bintang yang mempengaruhi sifat manusia beserta pembagiannya adalah sebagai berikut:

*) Matahari [taiyou]: selalu bersinar cemerlang, yaitu: singa, pegasus, cheetah, gajah.

*) Bulan purnama [mangetsu]: relasi dan informasi adalah harta, yaitu: macan kumbang, domba.

*) Bulan sabit [shingetsu]: tidak bisa menutup mata terhadap sekitar, yaitu: cerpelai, rusa.

*) Bumi [chikyuu]: seniman, idealis, berjalan menurut pemikiran sendiri, yaitu: monyet, harimau, serigala, koala.


Dikatakan juga bahwa ada empat pola tingkah laku dasar manusia yaitu:
a. Tipe pengejar target: grup bumi dan bulan purnama.
b. Tipe penyesuai keadaan: grup matahari dan bulan sabit.
c. Tipe pengejar target: grup matahari dan bumi.
d. Tipe pengejar target: grup bulan sabit dan bulan purnama.

Ramalan baru ini mengklaim dirinya merupakan ramalan yang paling bisa dipercaya karena kelengkapannya, karena dirinya merupakan gabungan segala sesuatu yang baik dan aneka ramalan. Misalnya, jika dalam ramalan lain sifat manusia hanya dipatokkan pada satu zodiak atau satu shio atau apa pun juga namanya, tetapi dalam ramalan ini dikatakan bahwa dalam diri manuaia sebenarnya terdapat lima macam binatang. Apa sajakah itu? Sebuah binatang utama [merupakan sifat yang sesungguhnya dari setiap personal] didukung oleh empat binatang lain: binatang permukaan [penampilan yang ditunjukkan kepada orang lain], binatang pemutus kehendak [membantu saat sedang memikirkan sesuatu], binatang cita-cita [yang memikirkan keinginan masa depan], dan yang kelima adalah binatang tersembunyi [muncul saat genting dan mendesak].

Seperti ramalan lainnya, ramalan ini juga memberitahu pasangan kerja, pasangan asmara yang cocok, dan jenis pekerjaan yang sesuai. Di samping itu juga ada uraian tentang situasi yang tidak disenangi dan kunci-kunci pengolahan diri untuk masa depan. Pada zodiak atau shio, dengan mudah kita dapat menentukan kelompok keberadaan dengan hanya mencocokkan tanggal lahir dan daftar zodiak atau shio. Akan tetapi, karena ramalan binatang ini diolah sedemikian rupa oleh komputer maka tidak ada suatu urutan yang sistematis untuk mengetahui ‘binatang’ kita. Untuk mengeceknya, buku pegangan menyediakan perhitungan untuk mereka yang lahir dari tahun 1929-1999, selebihnya dan sekurangnya tidak ada.

Apakah anda tertarik? Kami tidak dapat berbuat banyak, namun anda bisa mengunjungi website ramalan binatang ini untuk meneliti siapakah anda. [www.animarythim.com], [www.so-net.ne.jp/doubutsu]

__
Website itu berbahasa Jepang.. Hiks..

Humm.. Artikel ini kan ditulis pada tahun 2000. Kira-kira ramalan itu masih berlaku sampai sekarang tidak ya? *mikir

Haa.. Zehi, Nihon e ikitai naa..


*Cara Mengungkapkan Keinginan atau Pengharapan Dalam Bahasa Jepang



Kita nyontek lagi yuk! :D

__


Sumber: Namiko Abe


Dalam Bahasa Jepang, ada dua cara untuk mengungkapkan pengharapan atau keinginan. Ketika satu keinginan berkaitan dengan benda [misalnya: Saya ingin sebuah mobil, saya ingin uang dan lain-lain] maka yang dipakai adalah hoshi.

Contoh:

1.Kuruma ga hoshii desu. Saya ingin mobil.
2.Sono hon ga hoshii desu. Saya ingin buku.


Tapi ketika keinginan seseorang berkaitan dengan suatu aktivitas, [saya ingin pergi, saya ingin makan dan lain-lain], maka stem ~tailah yang dipakai.

Misalnya:

1. Sono kuruma o kaitai desu. Saya ingin membeli mobil.
2. Sono hon o yomitai desu. Saya ingin membaca buku.


Dalam situasi yang tidak resmi, akhiran desu bisa dihilangkan.

Misalnya:
1. Okane ga hoshii. Saya ingin uang.
2. Nihon ni ikitai. Saya ingin pergi ke Jepang.

Dua pola kalimat di atas cuma dipakai oleh orang pertama dan untuk bertanya pada orang kedua.
Ketika menggambarkan keinginan orang ketiga, dipakailah hoshigatte imasu atau stem kata kerja ~tagatte imasu.

Kamera ga hoshii desu. Saya ingin kamera.
Menjadi:
Ani wa kamera o hoshigatte imasu. Kakak [laki-laki saya] ingin kamera.

Kono eiga o mitai desu. Saya ingin menonton film ini.
Menjadi:
Ken wa kono eiga o mitagatte imasu. Ken ingin menonton film ini.


Perlu diingat, bahwa obyek hoshii ditandai dengan partikel ga, sedangkan obyek hoshigatte imasu ditandai dengan partikel o.
Ungkapan ~tai tidak normal dipakai untuk menanyakan keinginan atasan kita/seseorang yang memiliki jabatan di atas kita.

-


..


*Angka Keberuntungan dan Angka Kesialan dalam Budaya Jepang


Si Angka Tujuh


Sumber: Namiko Abe
The Number Seven

Tampaknya setiap kebudayaan memiliki angka keberuntungan dan kesialannya masing-masing. Di Jepang, angka empat dan Sembilan diketahui sebagai agka kesialan karena cara pengucapan keduanya. Angka empat diucapkan shi yang memiliki kesamaan pengucapan dengan kematian. Angka Sembilan diucapkan ku yang memiliki kesamaan pengucapan seperti penderitaan atau penyiksaan.

Selain itu tidak ada pula tempat duduk nomor 4, 9, 13 dalam pesawat terbang di The All Nippon Airways [kenapa tulisannya dibuat kapital ya? Itu maksudnya nama sebuah pesawat terbang atau artinya ‘semua pesawat terbang Jepang’..].

Di sisi lain, nomor 8 dianggap sebagai sebuah angka keberuntungan. Ini dikarenakan bentuk dari karakter kanji angka 8 itu sendiri. Dua stroke yang besar di bawah seperti menunjukkan saat yang lebih baik atau hal-hal yang lebih baik di masa depan. << [lho kok jadi membicarakan angka 8? ^^]

Lanjuut..

Angka tujuh muncul sebagai angka keberuntungan universal atau angka yang suci. Ada banyak terminologi yang termasuk ke dalam angka tujuh., misalnya: tujuh keajaiban dunia, tujuh dosa yang mematikan, tujuh kebajikan, tujuh samudera, tujuh hari dalam seminggu, tujuh warna spektrum [maksudnya, warna pelangi, mungkin ya :D], tujuh kurcaci dan lain-lain.
“Tujuh Samurai” [Shichi-nin no Samurai] adalah film klasik jepang yang disutradarai oleh Akira Kurosawa yang kemudian dibuat ulang ke dalam judul “The Magnificent Seven [maksudnya, Si Tujuh Yang Mengagumkan, bukan yah :D]. Agama Budha mempercayai pada tujuh reinkarnasi. Orang-orang Jepang merayakan tujuh hari setelah kelahiran si bayi, dan masa berkabung selama tujuh hari dan tujuh minggu setelah kematian.


Shichi-fuku-jin

Shichi-fuku-jin [adalah dongeng Jepang tentang Tujuh Dewa Keberuntungan. Para dewa yang lucu-lucu ini sering digambarkan mengendarai kapal laut berharga [takarabune]. Mereka menjaga berbagai barang ajaib seperti sebuah topi yang tak kelihatan, kain brokat gulung, dompet yang tidak ada habis-habisnya [:D], sebuat topi hujan keberuntungan, jubah bulu burung, kunci-kunci untuk masuk ke dalam rumah berharta karun dan buku-buku penting dan banyak gulungan.

Di bawah ini merupakan nama-nama istimewa dari para Shichi-fuku-jin tersebut.

>> Daikoku adalah dewa kesehatan dan pertanian.
Ia membawa sebuah tas besar berisi harta karun di punggungnya dan uchideno-kozuchi [palu keberuntungan] di tangannya.

>> Bishamon adalah dewa perang dan prajurit.
Ia memakai baju baja, penutup kepala dan sebuah pedang di lengannya.

>> Ebisu adalah dewa dari para nelayan dan kesehatan.
Ia menjaga sebuah tai merah yang besar [jenis ikan segar di Eropa genus Abramis] dan batang kayu untuk memancing.

>> Fukurokuju adalah dewa panjang umur.
Ia memiliki kepala botak yang panjang dan janggut putih.

>> Juroujin adalah dewa panjang umur yang lainnya.
Ia memakai* janggut putih yang panjang dan topi pelajar dan sering ditemani oleh seekor rusa yang merupakan utusannya.

>> Hotei adalah dewa kebahagiaan.
Ia memiliki wajah yang ceria dan memilki perut yang gembul.

>> Benzaiten adalah dewi musik.
Ia menjaga sebuah biwa [mandolin buatan Jepang].


Nanakusa

Nanakusa artinya tujuh tumbuhan. Di Jepang, ada semacam tradisi untuk memakan nanakusa-gayu [bubur nasi yang terdiri dari tujuh tumbuhan] pada tanggal 7 Januari. Tujuh tumbuhan ini disebut haru no nanakusa [tujuh tumbuhan dari musim semi]. Ini dikatakan bahwa tumbuh-tumbuhan ini akan menghilangkan setan dari tubuh dan mencegah penyakit. Juga, orang-orang Jepang biasanya makan dan minum terlalu banyak pada Tahun Baru, [jadi yang dibutuhkan adalah] makanan ideal yang ringan dan sehat dengan banyak vitamin.

Selain itu juga ada aki no nanakusa [tujuh tumbuhan dari musim gugur] tapi biasanya mereka tidak dimakan dan digunakan sebagai hiasan untuk merayakan panjangnya siang dan malam [selama] seminggu atau bulan purnama di September.

>> Haru no Nanakusa – Seri [Japanese parsley], Nazuna [shepherd’s purse], gogyou, hakobera [chickweed], Hotokenoza, Suzuna, Suzushiro.

>> Aki no Nanakusa - Hagi [bush clover], Kikyou [Chinese bellflower], ominaeshi, Fujibakama, nadeshiko [pink], Obana [Japanese pampas grass], Kuzu [arrowroot].


Pepatah yang Mengandung Angka Tujuh

“Nana-korobi Ya-oki secara harfiah berarti “jatuh tujuh bangkit delapan” [eh atau "tujuh jatuh bangkit delapan" ya? :D]. Kehidupan itu ada pasang surutnya, maka dari itu dibutuhkan keberanian untuk terus maju tak peduli beratnya kehidupan yang dijalani tersebut.
Shichiten-hakki adalah satu dari yoji-jukugo [gabungan empat karakter kanji] juga memiliki makna yang sama.


Di bawah ini tentang tujuh dosa besar yang mematikan [menurut budaya Jepang]..

>> Kebanggaan [Kouman]
>> Ketamakan [Donyoku]
>> Cemburu/Iri Hati [Shitto]
>> Kemurkaan [Gekido]
>> Nafsu Birahi [Nikuyoku]
>> Kerakusan [Boushoku]
>> Kemalasan [Taida]


Dan tujuh kebajikan..

>> Kepercayaan [Shinnen]
>> Harapan [Kibou]
>> Derma/Amal [Jizen]
>> Keuletan/Ketabahan
>> Keadilan [Seigi]
>> Kesederhanaan [Sessei]
>> Kebijaksanaan [Shinchou]

___

Wadduh.. Kok sulit sekali ya menerjemahkan artikel ini.. Sampai-sampai ada beberapa kalimat yang sengaja dibiarkan tetap dalam Bahasa Inggris saking mentoknya.. >_<

Empat, tujuh, tiga belas.. Haa..

Maap beribu maapp kalau masih ada kesalahan teknis dalam penerjemahan.. :Dv



Belajar dari Bocah Kecil

Kalau anak kecil diajar atau dididik oleh orang dewasa itu adalah hal yang wajar. Namun bagaimana halnya kalau anak kecil yang justru mencontohkan kebaikan pada orang dewasa ya? Saya kira anda tahu jawabannya =D
_

Suatu hari saya pergi bersama ibu. Pada waktu berangkat, kami tidak mengalami kendala apa-apa di kendaraan umum. Namun ketika pulang, kami menemui sedikit masalah. Kami sama sekali tidak menemukan tempat duduk. Kalau saya sih tidak masalah jika harus berdiri sampai rumah. Akan tetapi bagaimana dengan ibu saya yang kebetulan lagi tidak sehat?

Selama berdiri kami menoleh ke kanan dan ke kiri berharap ada yang berbaik hati memberikan kursinya kepada ibu. Sepuluh menit berlalu, namun orang baik hati itu belum berdiri juga. Hingga pada menit berikutnya seorang anak menawarkan tempat duduknya buat ibu. Ah, saya lega akhirnya ibu mendapat tempat duduk.

Namun, ibu tidak segera duduk. Sebab sebentar kemudian ibu dari anak tadi melarang niat baik si kecil. “Kamu itu masih kecil, kalau berdiri nanti capek,” begitu omelan singkat ibu. Harapan saya agar ibu memperoleh tempat duduk pupus sudah. Tiba-tiba ada tiga orang dewasa yang meniru tindakan anak kecil tadi. Kali ini ibu memilih satu di antaranya. Sedangkan aku yang masih berdiri tidak menjadi masalah untuk tetap berdiri.

Saya tahu, mungkin jika anak kecil tadi itu tidak memberi contoh, niscaya ketiga orang dewasa tadi tidak akan memberikan tempat duduknya. Hari itu kebetulan saya membeli sekeranjang apel. Mengalami kejadian itu saya ingat iklan robot sebuah produk otomotif. Saya pun mengambil dua buah apel, satu saya berikan anak kecil baik hati, dan satunya buat orang yang memberi tempat duduk pada ibu.
[Nina Irawati, Jember]
__

Sumber: Intisari No. 512
Maret 2006

*Perbedaan antara Partikel Wa dan Ga dalam Bahasa Jepang




*..However [for my part] this article is still under construction..*
___


Sebenarnya pembahasan tentang partikel wa dan ga ini saya ambil dari salah satu artikel Namiko Abe yang berbahasa Inggris.
Namun karena ada beberapa kata Bahasa Inggris yang sepertinya rancu ditambah keterangan tentang wa dan ga ini gampang-gampang-sulit :D jadi saya kira untuk penjelasannya saya akan menggunakan terjemahan bebas versi saya..
..

Penunjuk Topik dan Penunjuk Subyek

Secara kasar, wa adalah penunjuk topik, dan ga adalah penunjuk subyek. Topik sering sama dengan subyek, tapi hal itu tidaklah penting. Topik bisa tentang apa saja yang diinginkan si pembicara [ini bisa saja tentang obyek, lokasi atau unsur tata bahasa lainnya]. Dalam Bahasa Inggris, hal ini artinya sama dengan "As for ~" atau "Speaking of ~."
Attau dalam Bahasa Indonesia, mungkin artinya seperti “Bagi ~” atau “Berbicara tentang~” :D
Misal:

Watashi wa gakusei desu.
Saya adalah seorang pelajar. [Bagi saya, saya seorang pelajar.]
Nihongo wa omoshiroi desu.
Bahasa Jepang menarik. Berbicara tentang Bahasa Jepang, Bahasa Jepang menarik.


Perbedaan Mendasar antara Ga dan Wa

Wa dipakai untuk menandakan bahwa sesuatu sudah diperkenalkan pada percakapan, atau sudah dikenal baik oleh si pembicara maupun si pendengar [kata benda atau nama seseorang]. Ga dipakai pada keadaan atau kejadian baru saja diberitahukan atau baru diperkenalkan. Misal:

Mukashi, mukashi, ojii-san ga sunde imashita. Ojii-san wa totemo shinsetsu deshita
Suatu hari, tinggalah seorang kakek-kakek. Sang Kakek adalah orang yang sangat ramah.

Pada kalimat pertama, kata ojii-san diperkenalkan pada pertama kali pembahasan. Pada kalimat kedua, menggambarkan tentang bagaimana sosok ojii-san yang disebutkan pada awal kalimat. Ojii-san di sini sekarang adalah topik dan ditandai dengan wa sebagai pengganti ga.


Wa yang Menunjukkan Bentuk Perlawanan/Pertentangan

Selain sebagai penunjuk topik, wa dipakai untuk menunjukkan pertentangan atau memberi penekanan pada subyek. Misal:

Biiru wa nomimasu ga, wain wa nomimasen.
Saya minum bir tapi tidak minum anggur.


Suatu kalimat bisa mengandung unsur perlawanan baik yang disebutkan atau tidak disebutkan, tapi dengan pemakaian yang seperti ini, tersirat bentuk pertentangan. Misal:

Ano hon wa yomimasen deshita.
Saya tidak membaca buku itu [walaupun saya membaca buku yang satunya lagi].


Partikel seperti ni, de, kara dan made dapat digabungkan dengan wa [dua partikel] untuk menunjukkan pertentangan. Misal:

Osaka ni wa ikimashita ga, Kyoto ni wa ikimasendeshita.
Saya telah pergi ke Osaka tapi tidak pergi ke Kyoto.
Koko de wa tabako o suwanai de kudasai.
Mohon tidak merokok di sini.

Apakah wa menyatakan topik atau bentuk pertentangan, hal itu tergantung pada konteks atau intonasi kalimat.


Ga Dipakai pada Kalimat Pertanyaan

Ketika sebuah kata tanya "siapa" dan "apa" adalah subyek dalam sebuah kalimat, maka akan selalu diikuti dengan ga, dan bukan dengan wa. Ketika menjawab pertanyaan pun, juga harus diikuti dengan ga. Misal:

Dare ga kimasu ka?
Siapa yang datang?
Yoko ga kimasu.
Yoko yang datang.

Ga sebagai Penegas

Ga dipakai untuk menegaskan atau membedakan dengan jelas pada seseorang atau sesuatu dari lain hal yang bersifat umum. Kalau sebuah topik ditunjukkan dengan wa, penafsiran adalah bagian yang terpenting pada kalimat. Di sisi lain, kalau subyek ditandakan dengan ga, maka subyeklah yang menjadi bagian penting dari kalimat. Misal:

Taro wa gakkou ni ikimashita.
Taro sudah berangkat ke sekolah.
Taro ga gakkou ni ikimashita.
Tarolah yang [sudah] berangkat ke sekolah./Yang [sudah] berangkat sekolah adalah Taro.


Ga yang Dipakai dalam Keadaan Khusus
Obyek dalam sebuah kalimat biasanya ditandai atau diikuti dengan partikel o, tapi pada beberapa kata kerja dan kata sifat [yang menyatakan perasaan suka/tidak suka, keinginan, kemampuan, kebutuhan, perasaan takut, iri dan lain-lain] memakai ga dipakai sebagai pengganti o. Misal:

Kuruma ga hoshii desu.
Saya ingin sebuah mobil.
Nihongo ga wakarimasu.
Saya mengerti Bahasa Jepang.


Ga pada Anak Kalimat Kedua [*subordinate bisa diartikan sebagai 'anak kalimat kedua' kan yah :D]

Subyek pada anak kalimat kedua, biasanya memakai ga untuk menunjukkan bahwa subyek pada anak kalimat pertama dan anak kalimat kedua berbeda.
Watashi wa Mika ga kekkon shita koto o shiranakatta.
Saya tidak tahu kalau Mika sudah menikah.

Nah.. Sekarang mari kita ambil kesimpulan dari cara pemakaian dua partikel tersebut..

Wa
>> Sebagai penunjuk topik
>> Sebagai bentuk perlawanan/pertentangan

Ga
>> Sebagai penunjuk subyek
>> Dipakai pada saat membuat kalimat pertanyaan [dan pada saat menjawab pertanyaan tersebut, hendaknya memakai partikel ini juga]
>> Untuk menunjukkan penegasan
>> Sebagai pengganti partikel o
>> Dipakai pada untuk menghubungkan dua anak kalimat yang berbeda dalam satu kalimat.

Humm.. Humm.. Humm.. Kira-kira masih ribet tidak ya..? :D

*Penggunaan ~to omou

Ketika mengekspresikan pemikiran, perasaan, pendapat dan perkiraan, ~to omou [saya kira]sering digunakan.
Partikel to mengindikasikan bahwa kalimat yang bersangkutan atau kata-kata merupakan semacam quote.

Sejak ~to omou selalu mengarah pada pemikiran seseorang, watashi wa biasanya diabaikan.

Ashita ame ga furu to omoimasu.
Saya kira besok akan turun hujan.

Kono kurum aw takai to omou.
Saya kira mobil ini harganya mahal.

Kare wa Furansu-jin da to omou.
Saya kira dia orang Perancis.

Kono kangae o dou omoimasu ka?
Bagaimana menurutmu anda tentang ide ini?

Totemo ii to omoimasu.
Saya kira ini sangat bagus.

………….

Oyogi ni ikou to omou.
Saya kira saya akan pergi berenang.

Ryokou nit suite kakou to omou.
Saya kira saya akan menuli menulis tentang perjalanan saya.

Untuk menunjukkan pemikiran atau pendapat, maka pada saat mengucapkan, bentuknya menjadi ~to omotte iru [saya kira saya akan~] sering digunakan ketimbang ~to omou.

Haha ni denwa o shiyou to omotte imasu.
Saya pikir, saya akan menelpon Ibu.

Rainen nihon ni ikou to omotte imasu.
Saya bermaksud pergi ke Jepang tahun depan.

Atarashii kuruma o kaitai to omotte imasu.
Saya kira saya ingin membeli sebuah mobil baru.

Kalau subyeknya adalah orang ketiga, ~to omotte iru digunakan secara khusus.
Kare wa kono shiai ni kateru to omotte iru.
Dia kira dia akan memenangkan pertandingan ini.

Mungkin untuk menyatakan bentuk negatif suatu kalimat yang menggunakan to omou bisa menggunakan to omowanai yang berarti [saya tidak berpikir bahwa~]. Tetapi walau bagaimanapun, hal ini akan lebih menunjukkan keraguan seperti “saya ragu bahwa~”

Maki wa ashita konai to omoimasu.
Saya kira Maki tak akan datang besok.

Nihongo wa muzukashikunai to omou.
Saya kira bahasa Jepang tidaklah sulit.


__
Sumber: Namiko Abe

Kata Ganti dalam Bahasa Jepang

Kata ganti orang adalah sebuah kata yang mengambil alih kata benda.
Dalam Bahasa Jepang ada banyak variasi kata ganti tergantung dari jenis kelamin atau gaya berbicara seseorang.

Kalau konteksnya jelas, orang Jepang memilih untuk tidak menggunakan kata ganti orang. Adalah hal yang penting untuk mempelajari cara menggunakannya, tapi juga penting untuk memahami bagaimana cara untuk tidak menggunakannya.

Berikut adalah kata ganti orang dalam Bahasa Jepang.

-
Berhubung saya masih belum tahu cara menampilkan tabel di sini, maka saya cuma akan menuliskannya sebisa saya saja ya =D
-


Saya
Watakushi
- sangat formal
Watashi - formal
Boku [gaya bicara laki-laki]
Atashi [gaya bicara perempuan] - tidak formal
Ore [gaya bicara laki-laki] - sangat tidak formal

Anda
Otaku - sangat formal
Anata - formal
Kimi - tidak formal
Omae [laki-laki] sangat tidak formal
Anta


Di antara sekian kata ganti, watashi dan anata yang sering digunakan.
Walau bagaimanapun, hal semacam itu sering diabaikan. Ketika ditujukan pada atasan anda, penggunaan anata tidaklah sesuai dan mesti dihindari. Sebagai pengganti gunakanlah nama seseorang.

Anata juga digunakan oleh para istri untuk memanggil suami mereka. Omae sering digunakan oleh para suami untuk memanggil istri mereka, walaupun hal ini terdengar sedikit kuno.

Kata ganti untuk orang ketiga adalah kare [dia-lelaki] atau kanojo [dia-perempuan]. Dibanding menggunakan kata-kata tersebut, lebih dipilih menggunakan nama seseorang atau menggambarkan mereka sebagai ano hito [orang itu]. Dalam hal ini tidaklah penting untuk menyertakan jenis kelamin.

Kyou Jon ni aimashita.
Saya melihat Jhon hari ini.

Ano hito o shitte imasu ka?
Apakah anda mengenal orang itu?

Kare atau kanojo sering diartikan sebagai "kekasih”.

Kare ga imasu ka?
Apakah anda memiliki kekasih?

Watashi no kanojo wa kangofu desu.
Kekasih saya adalah seorang perawat.

Untuk menyatakan jamak, akhiran ~tachi ditambahkan misalnya pada watashi-tachi [kami] atau anata-tachi [kalian]. Akhiran ~tachi dapat ditambahkan bukan hanya pada kata ganti tapi juga beberapa kata benda yang berhubungan dengan orang. Sebagai contoh, kodomo-tachi yang berarti “anak-anak”.

Untuk kata anata, akhiran ~gata kadang digunakan sebagai pengganti ~tachi. Anata-gata lebih formal dibanding anata-tachi. Akhiran ~ra juga digunakan untuk kare seperti karera [mereka].

--
Sumber: Namiko Abe

*Akhirnya dipublikasikan pada tanggal 12 November 2008

*Meminta Maaf dalam Budaya Jepang



Secara umum, mengenai kata maaf, entah kenapa saya pribadi sering [sekali] mengucapkannya.

~~~~
Secara khas, orang-orang Jepang menyatakan permintaan maaf lebih sering dibanding orang Barat. Mungkin hal ini disebabkan adanya perbedaan kebudayaan di antara keduanya. Orang Barat tampak enggan untuk mengakui kegagalan mereka. Sejak meminta maaf berarti mengakui kegagalan atau kesalahan seseorang, maka hal itu dianggap bukan yang terbaik dilakukan bila masalah tersebut dapat diselesaikan melalui meja pengadilan.

Meminta maaf dianggap sebagai suatu kebajikan di Jepang. Meminta maaf menunjukkan bahwa seseorang bertanggung jawab [pada sesuatu hal] dan menghindari situasi saling menyalahkan satu sama lain. Ketika seseorang meminta maaf dan menunjukkan penyesalannya, maka orang Jepang bersedia memaafkan. Bila dibandingkan dengan negara Barat, maka di Jepang jarang ditemukan kasus pengadilan.
Ketika meminta maaf, orang Jepang sering menundukkan badan. Semakin anda merasa bersalah, semakin dalamlah anda menundukkan badan.

Di bawah ini merupakan beberapa pernyataan untuk meminta maaf.

Sumimasen
Mungkin ini adalah ungkapan yang paling umum untuk menyatakan permintaan maaf. Beberapa orang Jepang mengucapkannya sebagai “Suimasen”. Sejak “Sumimasen” dapat digunakan dalam beberapa situasi yang berbeda [ketika meminta sesuatu, berterima kasih pada seseorang dan lain-lain], dengarkan baik-baik pada kalimat yang diucapkan. Kalau anda meminta maaf pada sesuatu yang telah anda lakukan, “Sumimasen deshita” dapat digunakan.

Moushiwake arimasen
Ungkapan ini bersifat sangat formal. Biasanya diucapkan pada orang yang kedudukannya lebih tinggi dibanding kita. Ungkapan ini menunjukkan perasaan yang lebih kuat dibanding “Sumimasen”. Ketika anda meminta maaf pada sesuatu yang telah anda lakukan, “Moushiwake arimasen deshita” dapat digunakan. Sama seperti “Sumimasen”, “Moushiwake arimasen” dapat digunakan pula untuk mengungkapkan terima kasih.

Shitsurei shimashita
Ungkapan ini formal, tapi kesannya tidak sekuat seperti “Moushiwake arimasen”.

Gomen nasai
Ungkapan ini bersifat umum. Tidak seperti “Sumimasen”, penggunaannya terbatas untuk meminta maaf saja. Sejak kesan yang dimiliki kurang formal dan terkesan seperti kekanak-kanakan jadi tidak cocok bila digunakan pada orang yang lebih tinggi kedudukannya.

Shitsurei
Memiliki tingkatan yang biasa. Ungkapan ini biasanya digunakan dalam bahasa laki-laki. “Shitsurei” juga dapat berarti “Permisi”.

Doumo
Bersifat umum. Ungkapan ini juga dapat digunakan untuk menyatakan “Terima kasih”.

Gomen
Tingkatannya sangat biasa. Penambahan dengan partikel akhiran “Gomen ne” atau “Gomen na” [bahasa laki-laki] juga digunakan. Ungkapan ini hanya dapat digunakan kepada teman dekat atau anggota keluarga.

__
Sumber: Artikel Namiko Abe