IAIN di ambang kehancuran
Monday, 23. June 2008, 03:06:30
Pemurtadan di IAIN
Karya Hartono Ahmad Jaiz
هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ(33)
Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al Qur'an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai. (QS At-Taubah: 33).
Sabda Nabi saw: الْإِسْلَام يَعْلُو وَلَا يُعْلَى
Islam itu tinggi, tidak diungguli. (HR Al-Bukhari dalam Fathul Bari dan riwayat Ad-Daruqutni dengan sanad hasan).
Islam bukan untuk disejajarkan dengan agama-agama lain tetapi untuk dimenangkan. Dalam beramar ma’ruf nahi munkar serta mendidik dan berdakwah, tidak ada arah yang mensunnahkan penyejajaran Islam dengan agama-agama lain. Maka sangat aneh, bila kampus berlabel Islam dan dibiayai oleh umat Islam (lewat masyarakat dan negara) justru merendahkan Islam dengan cara menyejajarkan bahkan menyamakan Islam dengan agama-agama lain. Dan bukan sekadar aneh, namun sesat menyesatkan, bahkan memurtadkan; karena Islam jelas agama satu-satunya yang diridhoi oleh Allah swt. (lihat QS Al-Maaidah: 3), Islam satu-satunya agama di sisi Allah (lihat QS Ali Imran: 19), dan Islam satu-satunya agama yang (pengamalan pemeluknya) diterima oleh Allah swt, sedang yang lain ditolak. (lihat QS Ali Imran: 85). Maka siapa yang mengingkarinya, dinyatakan oleh Allah swt, mereka akan masuk neraka selama-lamanya. (lihat Al-Qur’an Surat Al-Bayyinah ayat 6).
Gejala sesat menyesatkan lewat jalur sistematis yaitu perguruan tinggi Agama Islam se-Indonesia sudah terdengar lama di masyarakat. Hanya saja selama ini belum ada tulisan yang sistematis mengemukakan bukti-bukti. Maka dalam hal menegakkan kalimatullah hiyal ‘ulya, kami memberanikan diri untuk menyampaikan gejala-gejala yang kami lihat secara lahiriyah maupun kami baca. Kemudian kami kemukakan kepada masyarakat dalam bentuk buku yang berjudul Ada Pemurtadan di IAIN.
Untuk terwujudnya buku ini, ada pertimbangan sebagaimana dalam kata pengantar buku Aliran dan Paham Sesat di Indonesia, saya tulis sebagai berikut:
Antara mengemukakan fakta kebenaran dan rasa risih ewuh pakewuh memang satu hal yang kadang menjadi kendala tersendiri dalam ber-amar ma’ruf nahi munkar. Sering-sering orang mengatakan, ikannya kena tapi airnya tidak keruh. Tetapi dalam praktik, tidak semudah itu. Hanya saja, sebagian dari rusaknya bahkan sesatnya manusia dalam beragama adalah lantaran ewuh pakewuh dan rasa risih yang mendominasi. Oleh karena itu, penyebutan nama atau lembaga, bagaimanapun adalah satu hal yang kaitannya bukan sekadar rasa risih ataupun ewuh pakewuh, namun ada kaitan-kaitan lain yang jadi pertimbangan perlu tidaknya. Maka kami mohon maaf bila hal ini terjadi.
Bila menegakkan kebenaran terlalu mempertimbangkan rasa risih dan ewuh pakewuh, maka kerusakan besar kemungkinan akan terjadi. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memberikan gambaran yang tegas dalam hal ini.
مَثَلُ الْقَائِمِ عَلَى حُدُودِ اللَّهِ وَالْوَاقِعِ فِيهَا كَمَثَلِ قَوْمٍ اسْتَهَمُوا عَلَى سَفِينَةٍ فَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَعْلَاهَا وَبَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا فَكَانَ الَّذِينَ فِي أَسْفَلِهَا إِذَا اسْتَقَوْا مِنْ الْمَاءِ مَرُّوا عَلَى مَنْ فَوْقَهُمْ فَقَالُوا لَوْ أَنَّا خَرَقْنَا فِي نَصِيبِنَا خَرْقًا وَلَمْ نُؤْذِ مَنْ فَوْقَنَا فَإِنْ يَتْرُكُوهُمْ وَمَا أَرَادُوا هَلَكُوا جَمِيعًا وَإِنْ أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِمْ نَجَوْا وَنَجَوْا جَمِيعًا
“Perumpamaan orang yang menegakkan hukum-hukum Allah dan yang melanggarnya adalah bagaikan suatu kaum yang mengadakan undian untuk naik sebuah kapal, maka jadilah sebagian mereka ada di atas dan sebagian lagi di bawah. Lalu orang-orang yang ada di bawah jika mereka hendak mengambil air maka harus melewati orang yang di atas mereka. Maka mereka berkata: “Seandainya kami melubangi kapal ini maka kami tidak mengganggu orang yang di atas kami.” Jika para penumpang kapal itu membiarkan apa yang mereka kehendaki itu maka semuanya akan binasa. Tetapi jika mereka mencegahnya maka selamatlah dan selamat semuanya.” (HR. Al-Bukhari)
Perumpamaan yang disampaikan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam itu jelas, pihak yang menegakkan kebenaran tidak boleh diam ketika pelaku kebatilan atau kesesatan akan beraksi. Diamnya penegak kebenaran hingga tak mau mencegah aksi kebatilan akan mengakibatkan binasa secara keseluruhan, bukan hanya pihak yang batil/sesat. Sebaliknya bila penegak kebenaran tetap mau mencegah aksi kebatilan/kesesatan, maka akan selamat semuanya.
Yang jadi persoalan, tukang-tukang penyesat ataupun orang-orang yang sudah terseret di kubangan kesesatan maka mereka mempunyai sifat dan karakter yang menganggap kesesatannya itu justru suatu kebaikan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan gambaran tentang mereka:
وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ(36) وَإِنَّهُمْ لَيَصُدُّونَهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ(37)
“Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al-Qur’an), Kami adakan baginya setan (yang menyesatkan) maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. Dan sesungguhnya setan-setan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk.” (Az-Zukhruf: 36-37)
Di ayat lain ditegaskan pula:
...وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيلِ فَهُمْ لَا يَهْتَدُونَ(24)
“…Dan setan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk.” (An-Naml: 24). )Kata pengantar buku Aliran dan Paham Sesat di Indonesia, halaman xvi-xvii).
Produk IAIN tak sesuai kebutuhan Islam dan umat
Sebenarnya, masyarakat sangat membutuhkan para alumni IAIN untuk membimbing keislaman. Namun kebutuhan itu tidak terpenuhi dengan baik, lantaran sajian yang diberikan oleh alumni IAIN, kebanyakan tidak sesuai standar ilmu Islam. Ilmu Islam itu materinya Al-Qur’an dan As-Sunnah, sedang manhaj (metode pemahamannya) yang selamat adalah manhaj salafus shalih. Yaitu metode pemahaman generasi terbaik dalam Islam, yakni Sahabat, Tabi’in, dan Tabi’it Tabi’in; yang semua itu sudah disusun ilmu-ilmunya oleh para ulama, dan sampai kepada kita sekarang ini. Semua itu bisa diverifikasi, mana yang benar dan mana yang salah, mana yang shahih dan mana yang dho’if/ lemah bahkan palsu (maudhu’). Sehingga sampai sekarang tetap ketahuan, mana yang benar-benar sabda Nabi saw dan yang bukan. Bahkan sampai perkataan para sahabat, tabi’in, tabi’it tabi’in dan ulama yang terkemuka pun bisa dilacak. Jadi keutuhan sumber Islam itu masih terjaga, bahkan penjelasan-penjelasannya pun masih terjaga dan bisa dideteksi shohih tidaknya.
Materi Islam yang memang masih utuh dan perlu didakwahkan kepada masyarakat itu tidak dimiliki oleh para alumni IAIN –kecuali sebagian kecil yang rajin menuntut ilmu sendiri--, karena memang di perguruan tinggi yang labelnya Islam itu tidak menyajikannya sedemikian itu. Justru di sana disajikan pemikiran-pemikiran dan sejarah budaya, sebagai mata kuliah dasar, yang itu semua bukan materi Islam, dan cara mengajarkannya tanpa sanad (pertalian riwayat), hingga bukan mengikuti manhaj islami. Pengajarannya secara liar, yaitu dibebaskan berkomentar semau pikiran masing-masing. Tidak mengherankan kalau ada mahasiswa yang dengan lantang mengecam Abu Bakar ra, Umar ra, Utsman ra dan sebagainya. Karena system pengajarannya tidak dirujukkan kepada Al-Qur’an dan Assunnah, dan tidak pakai manhaj yang ditempuh para ulama salafus shalih. Bahkan ketika membicarakan pemikiran sekte-sekte sesat, misalnya Ahmadiyah yang mengangkat nabi palsu Mirza Ghulam Ahmad pun tidak dirujukkan kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman yang benar, tetapi pakai pemahaman Ahmadiyah itu pula. Akibatnya, semua sekte sesat pun dianggapnya sah-sah saja. Dan itu kemudian ditingkatkan kepada pemikiran jenis tasawuf falsafi yang sampai menganggap alam ini perwujudan Tuhan, hingga menyembah patung pun dianggapnya menyembah Tuhan, karena patung itu perwujudan Tuhan. Faham wihdatul wujud ini jelas kufur. Dan itulah pemurtadan. Masih pula ditambah lagi dengan pemikiran filsafat, yang memasukkan Ar-Razi yang tak percaya kepada kenabian dan wahyu ke dalam mata kuliah filsafat Islam. Materi-materi yang memurtadkan itu diberi label Sejarah Pemikiran Islam, dan justru menjadi mata kuliah dasar, semua mahasiswa harus ikut. Dan kalau swasta harus ujian negeri. Akibatnya, ketika para alumni IAIN itu keluar, bergelar sarjana agama, master agama, dan doctor ilmu agama, mereka tidak berbekal materi Islam yang utuh –seperti uraian di atas--, tetapi hanya berbekal landasan pemikiran-pemikiran, sejarah budaya peradaban dan semacamnya. Hingga ketika dibutuhkan untuk menyajikan materi Islam yang utuh, mereka menggunakan logika-logika, bahkan ada yang pakai cerita-cerita rekaan dan duga-duga.
Ini bukan semata-mata kesalahan para alumni IAIN, namun adalah kesalahan system pengajaran, kurikulum, dan para dosennya. Karena system itu tampaknya diadopsi oleh Harun Nasution dan Mukti Ali (para petinggi di IAIN dan Departemen Agama masa lalu) dari orientalis Barat, sedang para dosen pengajarnya pun sebagian banyak asuhan orientalis di universitas-universitas Barat. Tambahan lagi, ketika kesalahan system itu didomplengi kepentingan-kepentingan yang arahnya justru menyamakan semua agama alias pluralisme agama, tidak membedakan Islam yang beraqidah Tauhid dengan yang lain berkeyakinan kekufuran, di situlah letak pemurtadannya.
Dalam masalah pendidikan tinggi Islam se-Indonesia ini kesalahan sistematis itu merupakan program yang dicanangkan dan dilaksanakan serta dibiayai. Pada gilirannya, masyarakat sudah mengetahui kesalahan fatal itu, lebih-lebih di dalam kalangan IAIN dan Departemen Agama itu sendiri, sebagian mereka sangat menyadari masalah ini.
Kini ada secercah sinar yang semoga akan jadi penerang ke jalan yang benar, disertai dengan program dan pelaksanaan yang tersusun rapi secara sistematis. Di antaranya Departemen Agama telah berkenan menghadirkan seorang ahli yang tak diragukan kepakarannya dalam membantah pembelokan-pembelokan para orientalis terhadap sumber-sumber utama Islam yakni Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dr Muhammad Mustafa Al-A’zami asal Hindia di Universitas King Saud Riyad telah dihadirkan ke Jakarta. Beliau berbicara di pameran buku Islam di Senayan Jakarta, di UIN Jakarta, dan di Departemen Agama RI, tanggal 2, 4, dan 5 April 2005. Menteri Agama H Maftuh Basuni tampak hormat dalam sambutannya, bahkan beliau mengemukakan contoh-contoh masalah yang menginterupsi Islam misalnya teori hermeneutika (metode penafsiran bible) yang di antaranya diusung oleh Nasr Hamid Abu Zayd. Sikap yang serupa dengan Menteri Agama tampaknya disandang pula oleh para doctor yang hadir dalam pertemuan di Departemen Agama 5 April 2005. Faham Islam Liberal benar-benar mereka soroti sebagai faham yang tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah dan membahayakan. Sampai-sampai Dr Nabila Lubis dari UIN Jakarta bertanya, adakah ayat yang membolehkan wanita muslimah dinikahi lelaki Kristen? Jawab Dr A’zami, Anda lebih hafal ayatnya, tetapi tentu saja tidak ada yang membolehkan itu.
Menteri Agama beserta jajarannya dan para pakar tampaknya menyadari betul masalah besar ini. Dan kini bukan masanya lagi seperti yang dikatakan Dr Roem Rowi dari IAIN Surabaya, bahwa Menteri Agama masa lalu hanya mengikuti apa kata Dr Harun Nasution. “Perkataan Harun Nasution seakan qoululloh (Firman Allah)”, ungkap Dr Roem Rowi waktu bedah buku ini di depan lebih dari 500 hadirin, menjawab pertanyaan tentang kurikulum IAIN, seberapa peran Menteri Agama.
Departemen Agama yang perannya bidang pembangunan rohani ini sering bisa berkilah bahwa hasil pembinaan rohani itu tidak segera bisa tampak. Lain dengan pembangunan fisik. Kini justru kondisinya tampak semua. Pembangunan fisik terutama ekonomi, makin njomplang. Yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin, plus makin tambah jumlah manusia yang di bawah garis kemiskinan. Sedang pembangunan rohani, makin tampak nyata adanya pemurtadan secara sistematis, lewat jalur pendidikan tinggi Islam, dengan bukti-bukti makin banyaknya faham bahkan praktek yang jauh dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Menghalalkan nikah antara Muslimah dengan lelaki Kristen dan Yahudi pun sudah terang-terangan dan dipraktekkan, baik untuk orang lain maupun puterinya sendiri di lingkungan dosen IAIN. Kilah bahwa pembangunan rohani tidak mudah tampak hasilnya, kini berbalik kata, yaitu perusakan rohani sudah tampak hasilnya.
Oleh karena itu, jalan terbaik adalah kembali kepada jalan yang benar. Manusia ini telah bisa diperbaiki hingga menjadi manusia teladan di dunia hanya dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Maka tidak ada jalan lain kecuali mengembalikan pendidikan Islam kepada pemahaman Al-Qur’an dan As-Sunnah secara manhaj yang benar, secara sistematis dan intensif. Wadahnya sudah ada, tenaga-tenaganya pun tinggal difungsikan serta direkrut; sedang sistemnya tinggal disusun lalu diprogramkan dan dilaksanakan.
Dua masalah besar di IAIN
Paling kurang, ada dua masalah besar yang harus dipecahkan.
1. Sistem pendidikan di perguruan tinggi Islam.
2. Para pemberi materi dan dari mana mereka belajar.
Dalam hal system pendidikan Islam, sudah jelas bahwa fondasi Islam adalah Aqidah Tauhid. Sedang materinya adalah dua wahyu, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah. Maka system pendidikan yang Islami adalah menekankan Tauhid dan mendalami isi Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan aneka perangkat ilmunya.
Allah swt telah memberikan penegasan:
قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ(108)
Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik". (QS Yusuf: 108).
Imam Ibnu Katsir menjelaskan: Allah Ta’ala berfirman kepada Rasul-Nya saw, memerintahkannya agar mengabarkan kepada setiap manusia dan jin tentang jalan yang ditempuhnya: Inilah jalannya, caranya, metodenya dan apa-apa yang dia lakukan, dan jalan yang dimaksud adalah mengajak manusia untuk bersaksi dan mengamalkan لاإله إلا الله tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi kecuali Allah, Maha Esa, tidak ada sekutu baginya.[2]
Di sini ajakan itu kepada Tauhid, Mengesakan Allah swt. Metodenya sudah ada, tinggal mengikuti Rasulullah saw. Pendidikan Islam hakekatnya adalah mengajak kepada Tauhid ini. Namun kenyataannya, di Perguruan Tinggi Islam di Indonesia, materi Tauhid itu sendiri tidak diajarkan. Hanya ilmu kalam, yang itu termasuk dalam Sejarah Pemikiran Islam. Padahal Tauhid inilah landasan paling utama. Bila landasannya ini salah, keropos, atau bahkan bolong, maka rusaklah agamanya.
Semua itu sudah dituntunkan oleh Rasulullah saw. Tidak memerlukan teori-teori dari lain-lain, apalagi dari orang kafir ataupun yang membenci dan mempermasalahkan Islam.
Masalah kedua, pemberi materi yaitu para dosen dan dari mana mereka itu menimba ilmu. Masalah dosen pengajar dan dari mana mereka belajar ini sangat prinsipil untuk dicermati. Karena yang diajarkan itu adalah wahyu Allah swt. Sehingga tidak bisa pengajarnya itu sembarang orang, apalagi orang yang ragu-ragu bahkan tidak percaya wahyu. Masalah ini bukan hal sepele atau remeh. Hingga Imam Muslim memberikan bab tersendiri, dan mengutip pernyataan Imam Ibnu Sirin:
صحيح مسلم ج: 1 ص: 14
عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ قَالَ إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ
Riwayat dari Ibnu Sirin, ia berkata: Sesungguhnya ilmu (wahyu) ini adalah agama, maka waspadalah dari siapa kamu sekalian mengambil agama kalian. (Shohih Muslim juz 1 halaman 14).
Dr Muhammad Mustafa Al-A’zami, tamu Menteri Agama RI, dalam bedah bukunya tentang The History of The Quranic Text, di Pameran Buku Islam di Senayan Jakarta, 2 April 2005, saya tanya: Bolehkah belajar Islam kepada orientalis di Universitas Barat? Beliau menjawab, kalau belajar ilmu-ilmu teknis dunia, boleh. Tetapi kalau belajar aqidah Islam, maka tidak boleh.
Diagnose sudah dilakukan. Kesalahan fatal di Perguruan Tinggi Islam se-Indonesia sudah tampak nyata. Kini tinggal terapinya. Jalan untuk menempuhnya pun sudah ditunjuki oleh Allah dan Rasul-Nya. Tinggallah para pelaksana yang kini diamanati untuk mengemban amanah itu untuk menunaikannya dengan benar. Umat Islam pun menunggunya dengan setia.
Pernyataan dan Kenyataan yang membahayakan dari lingkungan IAIN :
1. Ajakan dzikir dengan lafal Anjing hu Akbar oleh mahasiswa senior fak ushuluddin/ filsafat IAIN Bandung kepada para mahasiswa baru dalam acara ta’aruf September 2004. (buku Ada Pemurtadan di IAIN/ APdI hlm 59).
2. Pernyataan selamat bergabung di area bebas Tuhan di acara yang sama (ibid).
3. Ada dosen (IAIN) yang di depan kelas dengan bangganya mengaku sudah tiga bulan tak shalat. (Tabloid Republika, Dialog Jumat, 22 Oktober 2004).
4. Kasus ajakan dzikir dengan lafal Anjing hu Akbar, dan ungkapan selamat bergabung di area bebas Tuhan itu justru dibela oleh pihak IAIN Bandung, hingga dekan Ushuluddin IAIN Bandung sampai merendahkan FUUI (Forum Ulama Umat Islam) Bandung yang mempersoalkan kasus itu dengan menyebut bahwa orang-orang FUUI itu S2 saja belum lulus. Ini adalah bentuk kesombongan yang sebenarnya, yaitu menolak kebenaran dan meremehkan manusia, menurut hadits riwayat Muslim, Abu Dawud, dan At-Tirmidzi. (ApdI, hlm 63).
5. Buku Harun Nasution berjudul Islam Dipandang dari Berbagai Aspeknya, diperuntukkan para mahasiswa IAIN ada pernyataan: Agama monotheisme adalah Islam, Yahudi, Kristen (Protestan dan Katolik) dan Hindu. (di buku Ada Pemurtadan di IAIN, halaman 115).
6. Pernyataan Abdul Munir Mulkhan, wakil Rektor IAIN (UIN) Jogjakarta/ petinggi Muhammadiyah: Surga Tuhan itu nanti dimungkinkan terdiri dari banyak “kamar” yang bisa dimasuki dengan beragam jalan atau agama.(Ajaran dan Jalan Kematian Syekh Siti Jenar, hlm 25). Itu bertentangan dengan QS Ali Imran 85: “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekaliu-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akherat termasuk orang yang rugi.” (buku APdI hlm 78-79).
7. Zainun Kamal dosen UIN Jakarta menikahkan Muslimah dengan lelaki Kristen di Hotel Kristal Pondok Indah Jakarta, Ahad 28 November 2004, yaitu Suri Anggerni dengan Alfin Siagian. Ini bertentangan dengan QS 60:10, mereka (perempuan muslimah) tidak halal bagi lelaki-lelaki kafir dan lelaki-lelaki kafir tidak halal bagi mereka (perempuan muslimah). Orang Kristen ataupun Yahudi termasuk kafir, karena telah ditegaskan dalam QS Al-Bayyinah ayat 6: Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (buku APdI hlm 83).
8. Kautsar Azhari Noer seorang dosen UIN Jakarta, penggema ajaran Ibnu Arabi dan pluralisme agama. Dr Kautsar Azhari Nur orang liberal dari Paramadina Jakarta ini dalam pidato Debat Fiqih Lintas Agama di UIN (Universitas Islam Negeri) Jakarta, 15 Januari 2004, berkata: “Akidah itu memang tidak sama. Akidah itu buatan manusia bukan buatan Tuhan.”[3] Komentara saya: Kalau aqidah itu buatan manusia, padahal fondasi dalam agama itu justru aqidah, dapatkah agama Allah yaitu Islam itu fondasinya hanya buatan manusia? Barangkali perkatan Dr Kautsar itu betul apabila yang dimaksud hanyalah agama buatan manusia, misalnya agama model Gatoloco dan Darmogandul, suatu kepercayaan di Jawa yang sangat menghina Islam dengan perkataan-perkataan porno dan jorok. Tentang aqidah, penjelasan ini bisa disimak: Wakil Sultan (di Suriah tempat Ibnu Taimiyah bermukim, pen) bertanya tentang iktikad (Aqidah), maka Ibnu Taimiyah ra berkata: Aqidah bukan datang dariku, juga bukan datang dari orang yang lebih dahulu dariku tapi dari Allah SWT dan Rasul-Nya, dan apa yang diijma’i oleh para salaf umat ini diambil dari kitabullah dan hadits-hadits Bukhari dan Muslim serta hadits-hadits lainnya yang cukup dikenal dan riwayat-riwayat shahih dari generasi salaf umat ini.[4] Anggapan pihak Paramadina bahwa aqidah mereka memang beda, yaitu pluralisme agama—menyamakan semua agama--, adalah berbeda dengan orang Muslim yang aqidahnya tegas bahwa hanya Islam lah yang benar. Al-Qur’an menyatakan sesembahan orang non Islam/ kafir itu bukan sesembahan orang Muslim dalam surat Al-Kafirun secara diulang-ulang. Tetapi dosen UIN Jakarta dan Paramadina ini berani mengatakan bahwa muslim tapi aqidahnya berbeda, yaitu pluralisme agama. Bagaimanapun, keyakinan orang pluralis bertentangan dengan Islam, di antaranya bertentangan dengan Al-Qur’an Surat Al-Kafirun. قُلْ يَاأَيُّهَا الْكَافِرُونَ(1)لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ(2)وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ(3)وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ(4)وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ(5)لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ(6)) , Katakanlah: "Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu, dan untukkulah, agamaku". (QS Al-Kafirun: 1-6). (buku APdI hlm 85-86).
9. Dr Nurcholish Madjid dosen IAIN Jakarta, pendiri Yayasan Paramadina Jakarta, alumni Barat (Chicago Amerika), telah menikahkan anak puterinya, Nadia, dengan lelaki Yahudi di Amerika, 30 September 2001, tidak dengan akad Islam, tapi akad universal, yaitu antara anak manusia dengan anak manusia.[5] (buku ApdI hlm 36).
10. Drs Nuryamin Aini, MA, pengajar Fakultas Syari’ah UIN Jakarta menyudutkan para ulama (sebenarnya menyudutkan Islam) yang mengharamkan pernikahan beda agama (Islam dengan non Islam). Penyudutan itu hanya dengan dalih hasil penelitiannya mengenai anak-anak hasil pernikahan beda agama, katanya lebih banyak yang ikut ke Islam. Ungkapan yang ditujukan kepada para ulama namun hakekatnya kepada Islam itu adalah hasil wawancara Ulil Abshar Abdalla kordinator JIL dengan Nuryamin Aini yang disiarkan lewat islamlib.com. Perlu dipertanyakan kepadanya, kalau anak-anak hasil dari pasangan zina justru banyak yang beragama Islam, apakah berarti larangan zina dalam Islam itu satu hal yang tidak benar? Betapa anehnya cara beristinbath (menyimpulkan hukum) model ngawur-ngawuran dan merusak agama seperti itu.
11. Dosen-dosen IAIN/ UIN yang tergabung dalam tim penulis Paramadina Jakarta, menulis buku Fiqih Lintas Agama, 2003, yang sangat merusak aqidah Islam, dari Tauhid diarahkan ke kemusyrikan dengan istilah pluralisme agama, dan memutarbalikkan hukum Islam, yang halal diharamkan dan yang haram dihalalkan. Tim Penulis Paramadina itu sebagian adalah dosen-dosen UIN Jakarta. Semuanya terdiri 9 orang: Nurcholish Madjid, Kautsar Azhari Noer, Komarudin Hidayat, Masdar F. Mas’udi, Zainun Kamal, Zuhairi Misrawi, Budhy Munawar-Rahman, Ahmad Gaus AF dan Mun’im A. Sirry. Buku yang menjungkir balikkan pemahaman Islam itu telah saya bantah dengan buku yang berjudul Menangkal Bahaya JIL dan FLA, 2004.
12. Dalam hal mengacak-acak Islam, ada yang lebih gila lagi. Journal Relief terbitan UGM (yang advisornya Achmad Mursyidi, dibiayai pula oleh The Asia Foundation) menyebarkan faham yang sangat memurtadkan, ditulis di cover belakang majalah/ journal Relief kutipan pernyataan seorang dosen IAIN Jogjakarta :
“…kenapa kita ribut menyalahkan orang ateis bahwa ateis adalah musuh orang ber-Tuhan. Padahal Tuhan sendiri ateis. Ia tidak ber-Tuhan.” (cover belakang Majalah Relief, vol 1, No 2, Yogyakarta, Mei 2003).
Ungkapan itu bertentangan dengan firman Allah:
لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ(23)
Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, dan merekalah yang akan ditanyai. (QS Al-Anbiya’: 23).
Ungkapan di majalah/ Journal Relief itu kalau dikaitkan dengan ucapan Iblis maka akan berbunyi : Kenapa saya (Iblis) disuruh bersujud kepada Adam, toh Tuhan sendiri tidak bersujud kepada Adam.
Kalau dikaitkan dengan perintah-perintah ibadah, menyembah hanya kepada Allah, maka akan diucapkan: Kenapa saya harus menyembah Allah, toh Allah sendiri tidak menyembah siapa-siapa.
Itulah logika yang lebih kurang ajar daripada Iblis itu sendiri. Na’udzubillaahi min dzaalik![6] (ApdI hlm 40-41).
Kenyataan itu bisa dicocokkan pula dengan Kitab Aqidah Mukmin, Syeikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi di antaranya membuat satu judul dengan sebutan golongan Iblisiah, walau keadaannya lebih buruk dibanding iblis. (Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, Aqidah Mukmin, Darul Fikr, Beirut, cetakan pertama, 1995, halaman 277).
Jakarta, Rabi’ul Awwal 1426H/ April 2005-04-14
Penulis:
Hartono Ahmad Jaiz
--------------------------------------------------------------------------------
[1] Dilaksanakan di Kampus UIN (Universitas Islam Negeri) Syarif Hidayatullah, Jakarta, Sabtu 7 Rabi’ul Awwal 1426H/ 16 April 2005.
[2] يقول تعالى لرسوله صلي الله عليه وسلم إلى الثقلين الجن والإنس آمرا له أن يخبر الناس أن هذه سبيله أي طريقته ومسلكه وسنته وهي الدعوة إلى شهادة أن لاإله إلا الله وحده لا شريك له
[3] (Hartono Ahmad Jaiz, Mengkritisi Debat fikih Lintas Agama, Pustaka Al-Kautrar, Jakarta, cetakan 1, Maret 2004, halaman 13).
[4] Fatawa Ibn Taimiyah 3/159.
[5] Kasus pernikahan puteri Nurcholish Madjid dengan lelaki Yahudi itu bisa dibaca di buku saya, Kursi Panas Pencalonan Nurcholish Madjid sebagai Presiden, Darul Falah, Jakarta, 2003, halaman 74-82.
[6] Hartono Ahmad Jaiz, Jejak Tokoh Islam dalam Kristenisasi, Darul Falah, Jakarta, 2004, halaman 168-169
Karya Hartono Ahmad Jaiz
هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ(33)
Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al Qur'an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai. (QS At-Taubah: 33).
Sabda Nabi saw: الْإِسْلَام يَعْلُو وَلَا يُعْلَى
Islam itu tinggi, tidak diungguli. (HR Al-Bukhari dalam Fathul Bari dan riwayat Ad-Daruqutni dengan sanad hasan).
Islam bukan untuk disejajarkan dengan agama-agama lain tetapi untuk dimenangkan. Dalam beramar ma’ruf nahi munkar serta mendidik dan berdakwah, tidak ada arah yang mensunnahkan penyejajaran Islam dengan agama-agama lain. Maka sangat aneh, bila kampus berlabel Islam dan dibiayai oleh umat Islam (lewat masyarakat dan negara) justru merendahkan Islam dengan cara menyejajarkan bahkan menyamakan Islam dengan agama-agama lain. Dan bukan sekadar aneh, namun sesat menyesatkan, bahkan memurtadkan; karena Islam jelas agama satu-satunya yang diridhoi oleh Allah swt. (lihat QS Al-Maaidah: 3), Islam satu-satunya agama di sisi Allah (lihat QS Ali Imran: 19), dan Islam satu-satunya agama yang (pengamalan pemeluknya) diterima oleh Allah swt, sedang yang lain ditolak. (lihat QS Ali Imran: 85). Maka siapa yang mengingkarinya, dinyatakan oleh Allah swt, mereka akan masuk neraka selama-lamanya. (lihat Al-Qur’an Surat Al-Bayyinah ayat 6).
Gejala sesat menyesatkan lewat jalur sistematis yaitu perguruan tinggi Agama Islam se-Indonesia sudah terdengar lama di masyarakat. Hanya saja selama ini belum ada tulisan yang sistematis mengemukakan bukti-bukti. Maka dalam hal menegakkan kalimatullah hiyal ‘ulya, kami memberanikan diri untuk menyampaikan gejala-gejala yang kami lihat secara lahiriyah maupun kami baca. Kemudian kami kemukakan kepada masyarakat dalam bentuk buku yang berjudul Ada Pemurtadan di IAIN.
Untuk terwujudnya buku ini, ada pertimbangan sebagaimana dalam kata pengantar buku Aliran dan Paham Sesat di Indonesia, saya tulis sebagai berikut:
Antara mengemukakan fakta kebenaran dan rasa risih ewuh pakewuh memang satu hal yang kadang menjadi kendala tersendiri dalam ber-amar ma’ruf nahi munkar. Sering-sering orang mengatakan, ikannya kena tapi airnya tidak keruh. Tetapi dalam praktik, tidak semudah itu. Hanya saja, sebagian dari rusaknya bahkan sesatnya manusia dalam beragama adalah lantaran ewuh pakewuh dan rasa risih yang mendominasi. Oleh karena itu, penyebutan nama atau lembaga, bagaimanapun adalah satu hal yang kaitannya bukan sekadar rasa risih ataupun ewuh pakewuh, namun ada kaitan-kaitan lain yang jadi pertimbangan perlu tidaknya. Maka kami mohon maaf bila hal ini terjadi.
Bila menegakkan kebenaran terlalu mempertimbangkan rasa risih dan ewuh pakewuh, maka kerusakan besar kemungkinan akan terjadi. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memberikan gambaran yang tegas dalam hal ini.
مَثَلُ الْقَائِمِ عَلَى حُدُودِ اللَّهِ وَالْوَاقِعِ فِيهَا كَمَثَلِ قَوْمٍ اسْتَهَمُوا عَلَى سَفِينَةٍ فَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَعْلَاهَا وَبَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا فَكَانَ الَّذِينَ فِي أَسْفَلِهَا إِذَا اسْتَقَوْا مِنْ الْمَاءِ مَرُّوا عَلَى مَنْ فَوْقَهُمْ فَقَالُوا لَوْ أَنَّا خَرَقْنَا فِي نَصِيبِنَا خَرْقًا وَلَمْ نُؤْذِ مَنْ فَوْقَنَا فَإِنْ يَتْرُكُوهُمْ وَمَا أَرَادُوا هَلَكُوا جَمِيعًا وَإِنْ أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِمْ نَجَوْا وَنَجَوْا جَمِيعًا
“Perumpamaan orang yang menegakkan hukum-hukum Allah dan yang melanggarnya adalah bagaikan suatu kaum yang mengadakan undian untuk naik sebuah kapal, maka jadilah sebagian mereka ada di atas dan sebagian lagi di bawah. Lalu orang-orang yang ada di bawah jika mereka hendak mengambil air maka harus melewati orang yang di atas mereka. Maka mereka berkata: “Seandainya kami melubangi kapal ini maka kami tidak mengganggu orang yang di atas kami.” Jika para penumpang kapal itu membiarkan apa yang mereka kehendaki itu maka semuanya akan binasa. Tetapi jika mereka mencegahnya maka selamatlah dan selamat semuanya.” (HR. Al-Bukhari)
Perumpamaan yang disampaikan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam itu jelas, pihak yang menegakkan kebenaran tidak boleh diam ketika pelaku kebatilan atau kesesatan akan beraksi. Diamnya penegak kebenaran hingga tak mau mencegah aksi kebatilan akan mengakibatkan binasa secara keseluruhan, bukan hanya pihak yang batil/sesat. Sebaliknya bila penegak kebenaran tetap mau mencegah aksi kebatilan/kesesatan, maka akan selamat semuanya.
Yang jadi persoalan, tukang-tukang penyesat ataupun orang-orang yang sudah terseret di kubangan kesesatan maka mereka mempunyai sifat dan karakter yang menganggap kesesatannya itu justru suatu kebaikan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan gambaran tentang mereka:
وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ(36) وَإِنَّهُمْ لَيَصُدُّونَهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ(37)
“Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al-Qur’an), Kami adakan baginya setan (yang menyesatkan) maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. Dan sesungguhnya setan-setan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk.” (Az-Zukhruf: 36-37)
Di ayat lain ditegaskan pula:
...وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيلِ فَهُمْ لَا يَهْتَدُونَ(24)
“…Dan setan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk.” (An-Naml: 24). )Kata pengantar buku Aliran dan Paham Sesat di Indonesia, halaman xvi-xvii).
Produk IAIN tak sesuai kebutuhan Islam dan umat
Sebenarnya, masyarakat sangat membutuhkan para alumni IAIN untuk membimbing keislaman. Namun kebutuhan itu tidak terpenuhi dengan baik, lantaran sajian yang diberikan oleh alumni IAIN, kebanyakan tidak sesuai standar ilmu Islam. Ilmu Islam itu materinya Al-Qur’an dan As-Sunnah, sedang manhaj (metode pemahamannya) yang selamat adalah manhaj salafus shalih. Yaitu metode pemahaman generasi terbaik dalam Islam, yakni Sahabat, Tabi’in, dan Tabi’it Tabi’in; yang semua itu sudah disusun ilmu-ilmunya oleh para ulama, dan sampai kepada kita sekarang ini. Semua itu bisa diverifikasi, mana yang benar dan mana yang salah, mana yang shahih dan mana yang dho’if/ lemah bahkan palsu (maudhu’). Sehingga sampai sekarang tetap ketahuan, mana yang benar-benar sabda Nabi saw dan yang bukan. Bahkan sampai perkataan para sahabat, tabi’in, tabi’it tabi’in dan ulama yang terkemuka pun bisa dilacak. Jadi keutuhan sumber Islam itu masih terjaga, bahkan penjelasan-penjelasannya pun masih terjaga dan bisa dideteksi shohih tidaknya.
Materi Islam yang memang masih utuh dan perlu didakwahkan kepada masyarakat itu tidak dimiliki oleh para alumni IAIN –kecuali sebagian kecil yang rajin menuntut ilmu sendiri--, karena memang di perguruan tinggi yang labelnya Islam itu tidak menyajikannya sedemikian itu. Justru di sana disajikan pemikiran-pemikiran dan sejarah budaya, sebagai mata kuliah dasar, yang itu semua bukan materi Islam, dan cara mengajarkannya tanpa sanad (pertalian riwayat), hingga bukan mengikuti manhaj islami. Pengajarannya secara liar, yaitu dibebaskan berkomentar semau pikiran masing-masing. Tidak mengherankan kalau ada mahasiswa yang dengan lantang mengecam Abu Bakar ra, Umar ra, Utsman ra dan sebagainya. Karena system pengajarannya tidak dirujukkan kepada Al-Qur’an dan Assunnah, dan tidak pakai manhaj yang ditempuh para ulama salafus shalih. Bahkan ketika membicarakan pemikiran sekte-sekte sesat, misalnya Ahmadiyah yang mengangkat nabi palsu Mirza Ghulam Ahmad pun tidak dirujukkan kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman yang benar, tetapi pakai pemahaman Ahmadiyah itu pula. Akibatnya, semua sekte sesat pun dianggapnya sah-sah saja. Dan itu kemudian ditingkatkan kepada pemikiran jenis tasawuf falsafi yang sampai menganggap alam ini perwujudan Tuhan, hingga menyembah patung pun dianggapnya menyembah Tuhan, karena patung itu perwujudan Tuhan. Faham wihdatul wujud ini jelas kufur. Dan itulah pemurtadan. Masih pula ditambah lagi dengan pemikiran filsafat, yang memasukkan Ar-Razi yang tak percaya kepada kenabian dan wahyu ke dalam mata kuliah filsafat Islam. Materi-materi yang memurtadkan itu diberi label Sejarah Pemikiran Islam, dan justru menjadi mata kuliah dasar, semua mahasiswa harus ikut. Dan kalau swasta harus ujian negeri. Akibatnya, ketika para alumni IAIN itu keluar, bergelar sarjana agama, master agama, dan doctor ilmu agama, mereka tidak berbekal materi Islam yang utuh –seperti uraian di atas--, tetapi hanya berbekal landasan pemikiran-pemikiran, sejarah budaya peradaban dan semacamnya. Hingga ketika dibutuhkan untuk menyajikan materi Islam yang utuh, mereka menggunakan logika-logika, bahkan ada yang pakai cerita-cerita rekaan dan duga-duga.
Ini bukan semata-mata kesalahan para alumni IAIN, namun adalah kesalahan system pengajaran, kurikulum, dan para dosennya. Karena system itu tampaknya diadopsi oleh Harun Nasution dan Mukti Ali (para petinggi di IAIN dan Departemen Agama masa lalu) dari orientalis Barat, sedang para dosen pengajarnya pun sebagian banyak asuhan orientalis di universitas-universitas Barat. Tambahan lagi, ketika kesalahan system itu didomplengi kepentingan-kepentingan yang arahnya justru menyamakan semua agama alias pluralisme agama, tidak membedakan Islam yang beraqidah Tauhid dengan yang lain berkeyakinan kekufuran, di situlah letak pemurtadannya.
Dalam masalah pendidikan tinggi Islam se-Indonesia ini kesalahan sistematis itu merupakan program yang dicanangkan dan dilaksanakan serta dibiayai. Pada gilirannya, masyarakat sudah mengetahui kesalahan fatal itu, lebih-lebih di dalam kalangan IAIN dan Departemen Agama itu sendiri, sebagian mereka sangat menyadari masalah ini.
Kini ada secercah sinar yang semoga akan jadi penerang ke jalan yang benar, disertai dengan program dan pelaksanaan yang tersusun rapi secara sistematis. Di antaranya Departemen Agama telah berkenan menghadirkan seorang ahli yang tak diragukan kepakarannya dalam membantah pembelokan-pembelokan para orientalis terhadap sumber-sumber utama Islam yakni Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dr Muhammad Mustafa Al-A’zami asal Hindia di Universitas King Saud Riyad telah dihadirkan ke Jakarta. Beliau berbicara di pameran buku Islam di Senayan Jakarta, di UIN Jakarta, dan di Departemen Agama RI, tanggal 2, 4, dan 5 April 2005. Menteri Agama H Maftuh Basuni tampak hormat dalam sambutannya, bahkan beliau mengemukakan contoh-contoh masalah yang menginterupsi Islam misalnya teori hermeneutika (metode penafsiran bible) yang di antaranya diusung oleh Nasr Hamid Abu Zayd. Sikap yang serupa dengan Menteri Agama tampaknya disandang pula oleh para doctor yang hadir dalam pertemuan di Departemen Agama 5 April 2005. Faham Islam Liberal benar-benar mereka soroti sebagai faham yang tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah dan membahayakan. Sampai-sampai Dr Nabila Lubis dari UIN Jakarta bertanya, adakah ayat yang membolehkan wanita muslimah dinikahi lelaki Kristen? Jawab Dr A’zami, Anda lebih hafal ayatnya, tetapi tentu saja tidak ada yang membolehkan itu.
Menteri Agama beserta jajarannya dan para pakar tampaknya menyadari betul masalah besar ini. Dan kini bukan masanya lagi seperti yang dikatakan Dr Roem Rowi dari IAIN Surabaya, bahwa Menteri Agama masa lalu hanya mengikuti apa kata Dr Harun Nasution. “Perkataan Harun Nasution seakan qoululloh (Firman Allah)”, ungkap Dr Roem Rowi waktu bedah buku ini di depan lebih dari 500 hadirin, menjawab pertanyaan tentang kurikulum IAIN, seberapa peran Menteri Agama.
Departemen Agama yang perannya bidang pembangunan rohani ini sering bisa berkilah bahwa hasil pembinaan rohani itu tidak segera bisa tampak. Lain dengan pembangunan fisik. Kini justru kondisinya tampak semua. Pembangunan fisik terutama ekonomi, makin njomplang. Yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin, plus makin tambah jumlah manusia yang di bawah garis kemiskinan. Sedang pembangunan rohani, makin tampak nyata adanya pemurtadan secara sistematis, lewat jalur pendidikan tinggi Islam, dengan bukti-bukti makin banyaknya faham bahkan praktek yang jauh dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Menghalalkan nikah antara Muslimah dengan lelaki Kristen dan Yahudi pun sudah terang-terangan dan dipraktekkan, baik untuk orang lain maupun puterinya sendiri di lingkungan dosen IAIN. Kilah bahwa pembangunan rohani tidak mudah tampak hasilnya, kini berbalik kata, yaitu perusakan rohani sudah tampak hasilnya.
Oleh karena itu, jalan terbaik adalah kembali kepada jalan yang benar. Manusia ini telah bisa diperbaiki hingga menjadi manusia teladan di dunia hanya dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Maka tidak ada jalan lain kecuali mengembalikan pendidikan Islam kepada pemahaman Al-Qur’an dan As-Sunnah secara manhaj yang benar, secara sistematis dan intensif. Wadahnya sudah ada, tenaga-tenaganya pun tinggal difungsikan serta direkrut; sedang sistemnya tinggal disusun lalu diprogramkan dan dilaksanakan.
Dua masalah besar di IAIN
Paling kurang, ada dua masalah besar yang harus dipecahkan.
1. Sistem pendidikan di perguruan tinggi Islam.
2. Para pemberi materi dan dari mana mereka belajar.
Dalam hal system pendidikan Islam, sudah jelas bahwa fondasi Islam adalah Aqidah Tauhid. Sedang materinya adalah dua wahyu, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah. Maka system pendidikan yang Islami adalah menekankan Tauhid dan mendalami isi Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan aneka perangkat ilmunya.
Allah swt telah memberikan penegasan:
قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ(108)
Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik". (QS Yusuf: 108).
Imam Ibnu Katsir menjelaskan: Allah Ta’ala berfirman kepada Rasul-Nya saw, memerintahkannya agar mengabarkan kepada setiap manusia dan jin tentang jalan yang ditempuhnya: Inilah jalannya, caranya, metodenya dan apa-apa yang dia lakukan, dan jalan yang dimaksud adalah mengajak manusia untuk bersaksi dan mengamalkan لاإله إلا الله tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi kecuali Allah, Maha Esa, tidak ada sekutu baginya.[2]
Di sini ajakan itu kepada Tauhid, Mengesakan Allah swt. Metodenya sudah ada, tinggal mengikuti Rasulullah saw. Pendidikan Islam hakekatnya adalah mengajak kepada Tauhid ini. Namun kenyataannya, di Perguruan Tinggi Islam di Indonesia, materi Tauhid itu sendiri tidak diajarkan. Hanya ilmu kalam, yang itu termasuk dalam Sejarah Pemikiran Islam. Padahal Tauhid inilah landasan paling utama. Bila landasannya ini salah, keropos, atau bahkan bolong, maka rusaklah agamanya.
Semua itu sudah dituntunkan oleh Rasulullah saw. Tidak memerlukan teori-teori dari lain-lain, apalagi dari orang kafir ataupun yang membenci dan mempermasalahkan Islam.
Masalah kedua, pemberi materi yaitu para dosen dan dari mana mereka itu menimba ilmu. Masalah dosen pengajar dan dari mana mereka belajar ini sangat prinsipil untuk dicermati. Karena yang diajarkan itu adalah wahyu Allah swt. Sehingga tidak bisa pengajarnya itu sembarang orang, apalagi orang yang ragu-ragu bahkan tidak percaya wahyu. Masalah ini bukan hal sepele atau remeh. Hingga Imam Muslim memberikan bab tersendiri, dan mengutip pernyataan Imam Ibnu Sirin:
صحيح مسلم ج: 1 ص: 14
عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ قَالَ إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ
Riwayat dari Ibnu Sirin, ia berkata: Sesungguhnya ilmu (wahyu) ini adalah agama, maka waspadalah dari siapa kamu sekalian mengambil agama kalian. (Shohih Muslim juz 1 halaman 14).
Dr Muhammad Mustafa Al-A’zami, tamu Menteri Agama RI, dalam bedah bukunya tentang The History of The Quranic Text, di Pameran Buku Islam di Senayan Jakarta, 2 April 2005, saya tanya: Bolehkah belajar Islam kepada orientalis di Universitas Barat? Beliau menjawab, kalau belajar ilmu-ilmu teknis dunia, boleh. Tetapi kalau belajar aqidah Islam, maka tidak boleh.
Diagnose sudah dilakukan. Kesalahan fatal di Perguruan Tinggi Islam se-Indonesia sudah tampak nyata. Kini tinggal terapinya. Jalan untuk menempuhnya pun sudah ditunjuki oleh Allah dan Rasul-Nya. Tinggallah para pelaksana yang kini diamanati untuk mengemban amanah itu untuk menunaikannya dengan benar. Umat Islam pun menunggunya dengan setia.
Pernyataan dan Kenyataan yang membahayakan dari lingkungan IAIN :
1. Ajakan dzikir dengan lafal Anjing hu Akbar oleh mahasiswa senior fak ushuluddin/ filsafat IAIN Bandung kepada para mahasiswa baru dalam acara ta’aruf September 2004. (buku Ada Pemurtadan di IAIN/ APdI hlm 59).
2. Pernyataan selamat bergabung di area bebas Tuhan di acara yang sama (ibid).
3. Ada dosen (IAIN) yang di depan kelas dengan bangganya mengaku sudah tiga bulan tak shalat. (Tabloid Republika, Dialog Jumat, 22 Oktober 2004).
4. Kasus ajakan dzikir dengan lafal Anjing hu Akbar, dan ungkapan selamat bergabung di area bebas Tuhan itu justru dibela oleh pihak IAIN Bandung, hingga dekan Ushuluddin IAIN Bandung sampai merendahkan FUUI (Forum Ulama Umat Islam) Bandung yang mempersoalkan kasus itu dengan menyebut bahwa orang-orang FUUI itu S2 saja belum lulus. Ini adalah bentuk kesombongan yang sebenarnya, yaitu menolak kebenaran dan meremehkan manusia, menurut hadits riwayat Muslim, Abu Dawud, dan At-Tirmidzi. (ApdI, hlm 63).
5. Buku Harun Nasution berjudul Islam Dipandang dari Berbagai Aspeknya, diperuntukkan para mahasiswa IAIN ada pernyataan: Agama monotheisme adalah Islam, Yahudi, Kristen (Protestan dan Katolik) dan Hindu. (di buku Ada Pemurtadan di IAIN, halaman 115).
6. Pernyataan Abdul Munir Mulkhan, wakil Rektor IAIN (UIN) Jogjakarta/ petinggi Muhammadiyah: Surga Tuhan itu nanti dimungkinkan terdiri dari banyak “kamar” yang bisa dimasuki dengan beragam jalan atau agama.(Ajaran dan Jalan Kematian Syekh Siti Jenar, hlm 25). Itu bertentangan dengan QS Ali Imran 85: “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekaliu-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akherat termasuk orang yang rugi.” (buku APdI hlm 78-79).
7. Zainun Kamal dosen UIN Jakarta menikahkan Muslimah dengan lelaki Kristen di Hotel Kristal Pondok Indah Jakarta, Ahad 28 November 2004, yaitu Suri Anggerni dengan Alfin Siagian. Ini bertentangan dengan QS 60:10, mereka (perempuan muslimah) tidak halal bagi lelaki-lelaki kafir dan lelaki-lelaki kafir tidak halal bagi mereka (perempuan muslimah). Orang Kristen ataupun Yahudi termasuk kafir, karena telah ditegaskan dalam QS Al-Bayyinah ayat 6: Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (buku APdI hlm 83).
8. Kautsar Azhari Noer seorang dosen UIN Jakarta, penggema ajaran Ibnu Arabi dan pluralisme agama. Dr Kautsar Azhari Nur orang liberal dari Paramadina Jakarta ini dalam pidato Debat Fiqih Lintas Agama di UIN (Universitas Islam Negeri) Jakarta, 15 Januari 2004, berkata: “Akidah itu memang tidak sama. Akidah itu buatan manusia bukan buatan Tuhan.”[3] Komentara saya: Kalau aqidah itu buatan manusia, padahal fondasi dalam agama itu justru aqidah, dapatkah agama Allah yaitu Islam itu fondasinya hanya buatan manusia? Barangkali perkatan Dr Kautsar itu betul apabila yang dimaksud hanyalah agama buatan manusia, misalnya agama model Gatoloco dan Darmogandul, suatu kepercayaan di Jawa yang sangat menghina Islam dengan perkataan-perkataan porno dan jorok. Tentang aqidah, penjelasan ini bisa disimak: Wakil Sultan (di Suriah tempat Ibnu Taimiyah bermukim, pen) bertanya tentang iktikad (Aqidah), maka Ibnu Taimiyah ra berkata: Aqidah bukan datang dariku, juga bukan datang dari orang yang lebih dahulu dariku tapi dari Allah SWT dan Rasul-Nya, dan apa yang diijma’i oleh para salaf umat ini diambil dari kitabullah dan hadits-hadits Bukhari dan Muslim serta hadits-hadits lainnya yang cukup dikenal dan riwayat-riwayat shahih dari generasi salaf umat ini.[4] Anggapan pihak Paramadina bahwa aqidah mereka memang beda, yaitu pluralisme agama—menyamakan semua agama--, adalah berbeda dengan orang Muslim yang aqidahnya tegas bahwa hanya Islam lah yang benar. Al-Qur’an menyatakan sesembahan orang non Islam/ kafir itu bukan sesembahan orang Muslim dalam surat Al-Kafirun secara diulang-ulang. Tetapi dosen UIN Jakarta dan Paramadina ini berani mengatakan bahwa muslim tapi aqidahnya berbeda, yaitu pluralisme agama. Bagaimanapun, keyakinan orang pluralis bertentangan dengan Islam, di antaranya bertentangan dengan Al-Qur’an Surat Al-Kafirun. قُلْ يَاأَيُّهَا الْكَافِرُونَ(1)لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ(2)وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ(3)وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ(4)وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ(5)لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ(6)) , Katakanlah: "Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu, dan untukkulah, agamaku". (QS Al-Kafirun: 1-6). (buku APdI hlm 85-86).
9. Dr Nurcholish Madjid dosen IAIN Jakarta, pendiri Yayasan Paramadina Jakarta, alumni Barat (Chicago Amerika), telah menikahkan anak puterinya, Nadia, dengan lelaki Yahudi di Amerika, 30 September 2001, tidak dengan akad Islam, tapi akad universal, yaitu antara anak manusia dengan anak manusia.[5] (buku ApdI hlm 36).
10. Drs Nuryamin Aini, MA, pengajar Fakultas Syari’ah UIN Jakarta menyudutkan para ulama (sebenarnya menyudutkan Islam) yang mengharamkan pernikahan beda agama (Islam dengan non Islam). Penyudutan itu hanya dengan dalih hasil penelitiannya mengenai anak-anak hasil pernikahan beda agama, katanya lebih banyak yang ikut ke Islam. Ungkapan yang ditujukan kepada para ulama namun hakekatnya kepada Islam itu adalah hasil wawancara Ulil Abshar Abdalla kordinator JIL dengan Nuryamin Aini yang disiarkan lewat islamlib.com. Perlu dipertanyakan kepadanya, kalau anak-anak hasil dari pasangan zina justru banyak yang beragama Islam, apakah berarti larangan zina dalam Islam itu satu hal yang tidak benar? Betapa anehnya cara beristinbath (menyimpulkan hukum) model ngawur-ngawuran dan merusak agama seperti itu.
11. Dosen-dosen IAIN/ UIN yang tergabung dalam tim penulis Paramadina Jakarta, menulis buku Fiqih Lintas Agama, 2003, yang sangat merusak aqidah Islam, dari Tauhid diarahkan ke kemusyrikan dengan istilah pluralisme agama, dan memutarbalikkan hukum Islam, yang halal diharamkan dan yang haram dihalalkan. Tim Penulis Paramadina itu sebagian adalah dosen-dosen UIN Jakarta. Semuanya terdiri 9 orang: Nurcholish Madjid, Kautsar Azhari Noer, Komarudin Hidayat, Masdar F. Mas’udi, Zainun Kamal, Zuhairi Misrawi, Budhy Munawar-Rahman, Ahmad Gaus AF dan Mun’im A. Sirry. Buku yang menjungkir balikkan pemahaman Islam itu telah saya bantah dengan buku yang berjudul Menangkal Bahaya JIL dan FLA, 2004.
12. Dalam hal mengacak-acak Islam, ada yang lebih gila lagi. Journal Relief terbitan UGM (yang advisornya Achmad Mursyidi, dibiayai pula oleh The Asia Foundation) menyebarkan faham yang sangat memurtadkan, ditulis di cover belakang majalah/ journal Relief kutipan pernyataan seorang dosen IAIN Jogjakarta :
“…kenapa kita ribut menyalahkan orang ateis bahwa ateis adalah musuh orang ber-Tuhan. Padahal Tuhan sendiri ateis. Ia tidak ber-Tuhan.” (cover belakang Majalah Relief, vol 1, No 2, Yogyakarta, Mei 2003).
Ungkapan itu bertentangan dengan firman Allah:
لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ(23)
Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, dan merekalah yang akan ditanyai. (QS Al-Anbiya’: 23).
Ungkapan di majalah/ Journal Relief itu kalau dikaitkan dengan ucapan Iblis maka akan berbunyi : Kenapa saya (Iblis) disuruh bersujud kepada Adam, toh Tuhan sendiri tidak bersujud kepada Adam.
Kalau dikaitkan dengan perintah-perintah ibadah, menyembah hanya kepada Allah, maka akan diucapkan: Kenapa saya harus menyembah Allah, toh Allah sendiri tidak menyembah siapa-siapa.
Itulah logika yang lebih kurang ajar daripada Iblis itu sendiri. Na’udzubillaahi min dzaalik![6] (ApdI hlm 40-41).
Kenyataan itu bisa dicocokkan pula dengan Kitab Aqidah Mukmin, Syeikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi di antaranya membuat satu judul dengan sebutan golongan Iblisiah, walau keadaannya lebih buruk dibanding iblis. (Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, Aqidah Mukmin, Darul Fikr, Beirut, cetakan pertama, 1995, halaman 277).
Jakarta, Rabi’ul Awwal 1426H/ April 2005-04-14
Penulis:
Hartono Ahmad Jaiz
--------------------------------------------------------------------------------
[1] Dilaksanakan di Kampus UIN (Universitas Islam Negeri) Syarif Hidayatullah, Jakarta, Sabtu 7 Rabi’ul Awwal 1426H/ 16 April 2005.
[2] يقول تعالى لرسوله صلي الله عليه وسلم إلى الثقلين الجن والإنس آمرا له أن يخبر الناس أن هذه سبيله أي طريقته ومسلكه وسنته وهي الدعوة إلى شهادة أن لاإله إلا الله وحده لا شريك له
[3] (Hartono Ahmad Jaiz, Mengkritisi Debat fikih Lintas Agama, Pustaka Al-Kautrar, Jakarta, cetakan 1, Maret 2004, halaman 13).
[4] Fatawa Ibn Taimiyah 3/159.
[5] Kasus pernikahan puteri Nurcholish Madjid dengan lelaki Yahudi itu bisa dibaca di buku saya, Kursi Panas Pencalonan Nurcholish Madjid sebagai Presiden, Darul Falah, Jakarta, 2003, halaman 74-82.
[6] Hartono Ahmad Jaiz, Jejak Tokoh Islam dalam Kristenisasi, Darul Falah, Jakarta, 2004, halaman 168-169











