Skip navigation.

P2KP Molokku Kie Raha

Menyapa Dunia Menebar Kasih dan Kebersamaan

WAJAH KEMISKINAN SAUDARA KITA DI DESA TONIKU HALMAHERA BARAT

Pernahkah kita dalam alam rahim meminta untuk dilahirkan di suatu tempat yang nyaman atau rumah yang mewah, “ tidak !!” tentu itu jawaban yang akan kita sampaikan. Tempat yang nyaman atau tidak nyaman, rumah yang mewah atau rumah gubuk dengan atap daun rumbia, dinding papan yang sudah lapuk dan berlantai tanah atau dimanapun kita dilahirkan, tentu kita akan menerima atas takdir ini.

Diri kita kah yang ada dalam gambar tersebut ?, “ ah ga mungkin itu adalah saya, kamu atau siapapun” tapi itu adalah wajah dua orang anak kecil dengan ibunya di samping rumahnya yang sederhana, “bukan….!, bukan …..!, bukan sederhana tapi sangat tidak layak”. Pernahkan sang ibu berharap untuk melahirkan dan membesarkan anak-anaknya di dalam rumah yang sangat tidak layak tersebut. Tapi itulah kenyataan, ia harus menjalani sepenggal kisah dari perjalanan kehidupannya, sambil terus berdo’a dan berusaha agar dapat merubah sepersekian perjalanan hidupnya.

Jamrud katulitiwa, itulah sebutan bagi negeri ini, tapi jamrud tersebut tak mampu memberikan pancaran kemewahan, jangankan kemewahan, kesederhanaanpun tak mampu untuk diraih oleh sebagian saudara-saudara kita yang kondisinya di bawah garis kemiskinan, seperti gambar sebagian masyarakat di desa Toniku ini.

“Bukan lautan hanya kolam susu, kail dan jala cukup menghidupimu”, sepenggal lagu Koes Plus yang hingga kini masih sering terdengar di telinga kita seakan meninabobokan kita, bahwa negeri kita adalah negeri yang kaya dengan lautannya yang luas dan kaya akan berbagai jenis ikan, namun kondisi saat ini, jangankan kolam susu, laut pun kini semakin pahit rasanya bagi sebagian nelayan desa Toniku. Laut kini tak bisa lagi menjanjikan akan manisnya hidup, jangankan untuk menghantarkan anak-anak agar bisa mengenyam pendidikan yang lebih tinggi, untuk membangun beranda tempat beristirahat saja susah.

Peresmian desa Toniku menjadi desa nelayan beberapa waktu yang lalu dari orang nomor satu Maluku Utara hanya merupakan selogan tanpa ada bukti yang menandakan bahwa desa ini adalah desa nelayan. Seharusnya suatu desa yang menandakan bahwa desa ini adalah desa nelayan. Seharusnya suatu desa nelayan yang diresmikan oleh orang nomor satu Maluku Utara ini dilengkapi dengan fasilitas-fasilitas yang dapat menunjang kegiatan para nelayan, jangankan Tempat Pelelangan Ikan (TPI), dermaga tempat bersandar para perahu nelayan saja desa Toniku tak punya. “Ironis…..!” hanya kata itu yang dapat terlontar. Ya….., ironis memang dengan kenyataan ini, karena para pejabat negeri ini lebih senang dengan memberikan sebutan, selogan dengan segala kegiatan seremonialnya. Sementara masyarakat harus tetap bersabar dan terus berusaha memperbaiki kehidupannya, sehingga hidup dan kehidupannya dapat tegak berdiri tak lagi miring seperti miringnya dinding rumah mereka.

Miringnya dinding rumah tidak lantas menggambarkan bahwa semangat masyarakat desa Toniku untuk membangun dan memperbaiki kualitas hidup akan roboh dan tidak lantas bahwa semangat untuk membangun desanya meskipun tanpa dibayar menjadi rebah. Semangat warga untuk membangun desanya dengan menjadi relawan masih dapat kita temui. Kerelawanan warga dengan semangatnya merupakan modal bagi mereka untuk membangun desa dan lingkungannya sehingga tak lagi harus menyaksikan lingkungan yang kumuh seperti ini.

KENAL LEBIH DEKAT EMPAT DESA PILOT PROJECT P2KP DI MOLOKKU KIE RAHA

Write a comment

You must be logged in to write a comment. If you're not a registered member, please sign up.

December 2009
S M T W T F S
November 2009January 2010
1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31