The God of Seiryuu Part 2
Thursday, September 30, 2010 11:37:48 AM
Author : moneil a.k.a mooEN (De moneila collections)
Genre : Adventure, Action, dan sedikit Comedy XDD
Fandom : Jrock (The Gazette, Alicenine, Vidoll, Girugamesh, Dir en Grey)
Rating : M
Last Edited : 29/09/2010
Disclaimer : Based on story of Fushigi Yuugi with modification of brain error.
Summary : ”Huuh. Jangan bicara seolah kau tahu apa bentuk yang akan keluar dari telur itu. Apa kau berharap seorang wanita cantik yang keluar lalu akan memelukmu, begitu?” Tora memutar bola matanya.
Let’s start
***
Keajaiban mulai terlihat sejak saat itu. Mulai menyentuh duniaku yang tak berarti apa-apa. Membawa kembali hembusan angin yang dulu pernah hilang. Angin yang kurindukan dalam perih tangisan hatiku selama ini.
Part 2
Reiita membuka pintu rumah Tora, lalu menutupnya dengan menggunakan sisi samping tubuh, tangannya penuh. Sebuah benda terbungkus jaket kulit ada dalam dekap sebelah tangannya, sementara tangan yang lain memegang barang belanjaan.
Tora yang menunggunya menghabiskan waktu dengan menonton acara tak penting, menoleh sejenak dari balik sofa malas di depan televisi.
”Kau lama sekali! Ini sudah jam berapa!? Pemuda itu protes sambil menunjuk jam dinding, pukul 11.50. ”Dewa Kematian hampir saja bertandang ke rumah ini tahu!” Sungutnya.
”Untung tidak jadi, yah.” Reiita terkekeh. ”Tebak! Aku bertemu dengan siapa?” Dia malah bertanya balik.
Tora mengerutkan dahi. ”Heeee?! Mana ku tahu! Kau bertemu dengan setan mungkin?! Sini-sini aku sudah lapar!” Ia melambai pada Reiita agar mendekat.
”Haaah! Kau menyumpahi ya?” Ia menghela ringan.”Tadi aku bertemu dengan pemimpin Cyclon dan dua temannya.” Reiita meletakkan belanjaan di samping Tora yang langsung saja main bongkar-bongkar mencari pesanannya.”Mereka menahanku cukup lama.” Reiita berdecak kesal.
”Ooow yayu ava aang heryadi?” Tanya Tora dengan roti isi daging yang penuh di mulutnya, yang seharusnya ’Lalu apa yang terjadi?’ XDD. Ia bangkit menuju dapur untuk membuat makan malamnya sendiri, secara praktis popmie lagi. Benar-benar manusia popmie lajang satu ini.
Reiita mengerutkan kening, mencoba menelaah pertanyaan Tora yang tak jelas.
”Haah, tidak ada yang penting dari pertemuan itu. Hanya penegasan tentang kesiapan mereka untuk menghadapi tim kita besok. Mereka yakin akan menang.” Jawab Reiita seraya mengambil remot televisi lalu memencet-mencet tombol untuk mencari acara yang lebih enak ditonton dari pada dorama keluarga menyedihkan yang ditonton Tora barusan.
”Heh! Sombong sekali! Besok mereka akan rasakan bagaimana kekalahan yang sebenarnya.” Tora menanggapi dari balik dapur yang hanya terpisah dengan sekat kaca dari ruang televisi.
”.....” Reiita terdiam sejenak sebelum ia bertanya balik pada Tora, ”Kau yakin kita bisa menang?” Tatapannya terpaku sejenak pada benda cokelat yang sedikit tersembul dari selimut jaket di samping sofa yang ia duduki.
”Aaaa, bicara soal itu...Tentu saja harus menang. Rei, kita akan berusaha maksimal untuk besok. Jadi jangan tanya hal meragukan begitu, tidak baik loh. Kita harus yakin pada kemampuan kita.” Jawab Tora mantap.
”Yah, kau benar!”
Tora berjalan mendekati Reiita, membawa seduhan popmie yang dalam beberapa menit akan siap santap.
”Huum...Tapi kau bertanya seolah tidak yakin. Ayo cerita yang jujur, sebenarnya si Shuu itu ngomong apa tadi?” Tanyanya.
”.......”
”Kok diam?” Tora heran. Ia duduk di samping Reiita.
”Haaaaaahhh...” Reiita menghela.”Ini bukan soal Shuu ngomong apa. Memang akan sulit dipercaya, tapi kau dengarkan saja!” Ia setengah memerintah. ”Hal ini ada kaitannya dengan benda ini!” Reiita akhirnya menunjukkan benda dalam balutan jaketnya itu tepat di hadapan wajah Tora.
”Woaaaaah?” Tora ternganga, terkejut bercapur heran.” Apa ini? Telur? Besar sekali! Kau dapat dari mana?” Ia hendak memegangnya. Namun Reiita segera menepis tangannya, dan memandang seolah berkata ’Jangan sentuh sembarangan!’
”Betul, ini memang telur. Telur Naga!”
JDAAARRR
Tora melongo tak percaya. ”BUWAHAHAHAHA. Jangan bercanda Rei. Mana ada telur naga di zaman modern begini. Adanya hanya dalam kisah dongeng atau legenda masa lampau. Kau keracunan baca kisah dongeng yah.” Tawa Tora tak mau berhenti. Baginya hal itu sungguh konyol.
=,=
”Justru itu,” Urat marah Reiita berdenyut, ”DENGARKAN DULU CERITAKU!”
JDUUUUGGG
”Addaoooooooowww. Sakiiiiiiiiiiiiiiiiiitt! Dasar Bar-Bar!” Tora menjerit. Jitakan Reiita mendarat tepat di ubun-ubunnya.
”Kau tak diijinkan untuk tertawa! Cukup kau duduk manis mendengarkan, sambil kau isi perutmu. Paham!?” Reiita mendikte.
”Uuuh. Jahat! Sial kau!” Umpatnya.
Reiita tak memperdulikannya. Ia lalu menceritakan pengalaman ajaibnya ketika bertemu dengan makhluk dari Ras Dewa Naga, Seiryuu. Tentang misi dan kompensasi kekuatan yang didapatkan. Dituturkannya juga perihal Shuu yang mendapatkan misi serupa untuk membesarkan Byakko.
Mata Tora terbuka lebar. Antara percaya dan tidak. Ia sebenarnya masih ragu. ”Kekuatan seperti apa yang akan diterima si pengemban misi?” Tora meletakkan kemasan popmie yang telah kosong di atas meja di depannya.
”Entahlah. Aku tak tahu persis. Kata pria bertanduk itu, ketika telur ini menetas kita akan mendapatkannya.”
”Caranya?” Tanya Tora penasaran.
”Telurnya harus dihangatkan dengan suhu badan.” Reiita menjawab enteng.
”Jadi, kau akan memeluknya sepanjang malam?” Tora tersenyum geli.
”Untuk membuktikannya harus kita coba ’kan?”
”Iya juga. Tapi apa tidak mengerikan ketika menetas nanti Si Naga akan memanggangmu dengan api?” Pertanyaan konyol disertai gerakan khas seperti menyembur. Alih-alih yang keluar api, ini malah percikan air liur XD.
”Kau itu yah. Nampaknya kau yang terbawa oleh kisah dongeng, Tora.” Ia sedikit terusik. Pasalnya semburan liur itu liar memerciki wajahnya.
”Huuh. Jangan bicara seolah kau tahu apa bentuk yang akan keluar dari telur itu. Apa kau berharap seorang wanita cantik yang keluar lalu akan memelukmu, begitu?” Tora memutar bola matanya.
”Brengsek!” Reiita melempar jaketnya ke wajah Tora. ”Sudahlah, aku capek!” Ia bangkit meninggalkan Tora menuju satu-satunya kamar tidur di rumah itu.
”Hei...Tunggu! Itu kamarku!” Tora berteriak.
”Kali ini kau yang tidur di sofa. Kalau tidak setuju, perjanjian kita batal. Aku tidak mau menanggung tunggakan uang sewa kontrakanmu!” Sesaat kemudian Reiita keluar kamar sambil melemparkan bantal dan selimut ke arah Tora.
”Seenaknya saja kau...” Tapi Tora tak bisa berkata apa-apa lagi. Pintu kamar berdebam, tertutup.
Kalau dipikir-pikir untung rugi sih, lebih baik dia mengalah. Jujur sih dia benar-benar kesulitan uang saat ini. Bengkel tempatnya bekerja terancam bangkrut, karena kebakaran yang terjadi beberapa waktu lalu. Meskipun cepat ditangani, tapi beberapa aset peralatan dan kendaraan pelanggan yang diinapkan habis dilalap kobaran api. Sehingga pemilik bengkel harus menanggung ganti rugi untuk kendaraan tersebut. Lagi pula gaji bulanan juga tidak cukup besar untuk menanggung biaya hidup dan sewa kontrakan di Tokyo. Yah itu sebabnya dia mempertaruhkan uangnya dalam perlombaan balap motor bersama timnya.
”Haaaaah. Nasib!” Gumamnya, sambil mempersiapkan segala sesuatunya sebelum lelap menjemput.
***
Malam semakin larut. Anak manusia terlelap semakin dalam di dunia mimpi. Gelembung-gelembung mimpi beraneka corak atas pengalaman yang tergali kembali di masa lalu yang begitu membekas dan berkesan, merajai kesadaran semu baik dan buruk. Mimpi adalah bunga tidur semata. Namun terkadang adalah refleksi dari pengalaman-pengalaman yang pernah terjadi, entah penolakan atau ’harapan’. Hal yang ingin diwujudkan dalam kenyataan tetapi tak cukup ruang untuk bersanding dengan realita. Hal yang pahit bisa berubah manis dan hal yang manis bisa menjadi pahit. Mimpi adalah ruang semu, tempat mereka sang pemimpi mencurahkan harapan dalam buai dekapan malam.
Disini dia tertidur, gelisah. Peluh mengalir berguguran karena suhu tubuhnya yang memanas. Ada penolakan dalam tidurnya, mimpi yang tak ingin dilihatnya lagi berputar kembali di alam bawah sadar. Ia meracau tak jelas, mendesah dalam derita. Apakah sesuatu itu begitu membuatnya menderita? Bahkan sampai setetes air matanya menggembung dan pecah lalu membuat alur menuju pelipis. Dia menangis tanpa suara. Kesedihan apa yang sebenarnya dia alami dalam mimpi? Tentu kesedihan itu begitu mengakar lama dalam hatinya yang sengaja ia belenggu, hingga tak sadar terealisasi dalam beberapa malam ketika rapuh itu datang. Hatinya ternyata begitu rapuh, walaupun kekerasan hidup telah menempanya hingga kini. Kehidupan yang ia pilih untuk melupakan kesedihan, kemarahan dan sesalnya.
Ia inginkan sesuatu yang hilang, yang terenggut oleh kejamnya perpisahan. Tapi bagaimana pun ia berharap keinginan itu tidak akan pernah terkabul. Karena waktu mereka tak lagi sama, tempat mereka telah berbeda, dan jarak untuk menemuinya terlalu panjang secara logika. Dia yang sekarang tak bisa meraih orang itu. Alam mereka telah berbeda.
Walau kerap ia berpikir, tanpa menggunakan logikanya hanya bermodal kerinduan, bisa saja ia menemuinya kapan pun ia siap melepas duniawi. Tapi tidak! Ia tidak rela, sebelum membuktikan mereka yang terlibat memang bersalah, sebelum membalaskan dendam yang telah mengakar ini. Walau harus menentang siapa saja. Walau harus berseberangan dengan keluarganya sekalipun.
’Orang itu’ sangat berarti baginya. Sosoknya kadang masih setia menyambangi malam-malam ketika kerapuhan menggerogoti hatinya.
Erangan berselimut tangis pelan mulai terdengar, ”Ja..ngan...pergi. Jangan tinggalkan aku! Ruuuu, kumohon!” Ia memeluk benda bulat itu lebih kencang. Pemuda malang, bisakah telur itu menjadi sandaranmu? Bisakah benda berkulit keras itu merespon apa maumu?
Air matanya memburai kini, dalam penolakan kuat akan jeritan bawah sadarnya hingga sadarnya kembali. Terbangun ia, terduduk dengan napas terengah dan mata lebar menatap tak fokus pada bayang-bayang sosok ’dia’ yang telah memudar ditelan kenyataan.
Kembali ia menangis dalam diam, dalam kesendiriannya dan sepi malam. Berharap ia akan lega setelah menumpahkan semuanya agar esok ia bisa menjadi dirinya yang tegar dan percaya diri kembali.
Air mata bening itu bagai sungai yang mengalir, menetes melalui garis dagunya.
TES TES TES
Bahkan bukan hanya selimut yang menjadi basah, tetapi benda itu juga. Benda yang tak sadar ia peluk ketika terbangun, telur naga simbol perjanjiannya dengan Sang Seiryuu.
Dewa akan bertindak sekarang Reiita, mungkin saja harapanmu didengar olehnya.
Benda itu nyatanya bersinar, Reiita menyadari hal itu kala hangat berubah panas pada kulit dadanya yang telanjang. Refleks ia melemparkan benda itu, hingga terbanting cukup keras di lantai.
KRAK KRAK
Retak!
KRAK KRAK KRAK
Semakin melebar retakannya.
Reiita berdebar-debar karena penasaran. Telur itu sudah saatnya menetas. Naga seperti apa yang akan keluar dari dalamnya.
Ia membuka mata lebar-lebar ketika retakan itu telah merekahkan telur secara perlahan. Gugusan cahaya hijau terang terpancar menyilaukan mata, memenuhi ruang kamar itu. Memantulkan gradasi warna hijau kesegala penjuru sudut. Bahkan mampu menembus celah pintu kamar yang tertutup.
SREEEEENG
Memantul pada kaca pembatas dapur. Akibatnya gradasi berbagai warna muncul kejar mengejar hingga memenuhi seisi rumah itu.
Tora yang tertidur si sofa terbangun juga. Sambil memerjap tak percaya, menggosok-gosok matanya. Ia takjub melihat entah keajaiban atau keanehan yang terjadi di rumahnya. Indah memang.
”Astaga!!” Dia segera bangkit. Mungkin yang ada dalam pikirannya sekarang adalah ’ini semua ada kaitannya dengan telur itu’, lalu tanpa pikir lagi ia menuju kamarnya.
Pintu kamar menjeblak terbuka. Tora disambut cahaya hijau meyilaukan yang mengharuskannya beradaptasi sejenak.
Perlahan pandangannya mulai jelas. Ia melihat siluet keemasan di tengah warna hijau itu. Sedang menyelimuti temannya. ’Apa itu benar-benar naga?’ Tora berusaha menyakinkan dirinya.
Sayap hijau keemasan memeluk tubuh Reiita yang nampak tak sadar dengan kehadiran Tora. Reiita tenggelam dalam dunianya.
”Astaga itu benar-benar naga!!” Tora menatap horor, ketika pandangannya begitu jelas memaku sosok naga hijau keemasan itu sedang ’mencumbui’ temannya.
***
”Ugh...Aah...” Reiita mendesah saat sapuan-sapuan lidah berlendir itu menyapa kulit telanjangnya.Tubuhnya lengket oleh cairan hijau, dari makhluk bersosok naga dalam penglihatan Tora.
Ia menggeliat, matanya menatap dengan lembut sosok menakutkan seekor naga. Heran, ia tak merasa jijik atau ketakutan berdekatan dengan makhluk yang sepatutnya disebut monster itu. Apa sebenarnya visualisasi yang dilihat Reiita?
Apa yang dilihat Tora berbeda dengan apa yang dilihat Reiita. Semuanya menjadi jelas ketika di tengah-tengah desah napasnya Reiita menggumamkan suatu nama, yang mungkin pernah familir bagi Tora.
RUKI
Ya, nama itu. Ada dalam masa lalu Reiita.
”Reiita!!!” Tora berteriak memanggilnya, ”Sadarlah! Makhluk itu akan menelanmu sebentar lagi. Sosok aslinya adalah naga!! Bukan Ruki!” Walau sebenarnya merasa takut Tora memberanikan diri berteriak padanya.
Reiita tak bergeming. Ia masih terhanyut dalam tariannya dengan naga.
Tora berpikir cepat. Ia harus menolong Reiita. Instingnya mengatakan makhluk itu berbahaya. Diambilnya benda yang berada tak jauh darinya. Sebuah botol minuman melayang tepat mengenai punggung sang naga.
Sayap makhluk itu terentang. Kepalanya menyembul, menengok pada si pengganggu. Teriakan nyaring si makhluk terdengar sebelum ia menyerang pengganggunya.
Reiita terkulai pingsan.
Dan Tora tengah mengalami apa yang yang dilakukan makhluk itu barusan kepada Reiita. Mungkin dengan visualisasi yang berbeda.
Sampai akhirnya Tora pun tak sadarkan diri.
T.B.C













