Ekspedisi ke Gua Hambur Batu
Thursday, 13. March 2008, 01:59:57

Setelah membeli tambahan perbekalan di Sangatta, perjalanan dilanjutkan mengikuti rute jalan ke Bengalon.


Kondisi jalan tidak jauh berbeda dengan sebelumnya, malah di beberapa titik, jalan yang amblas sudah cocok untuk tempat kerbau berkubang. Mobil yang kami sewa, Toyota Kijang, juga sebenarnya kurang sesuai untuk melibas jalan yang rusak seperti ini dengan cepat.



Alhasil, kami baru sampai di Desa Hambur Batu pukul 14.00 dari rencana pukul 13.00. Namun sebelumnya kami sempatkan menghabiskan bekal makan siang yang dibawa Pak Yanto di sebuah pos keamanan di desa Tepian Baru. Hambur Batu kalau dilihat di peta (Map #01.pdf) terletak di tengah-tengah antara Sangatta dengan Muara Wahau.
Setelah bertemu dengan Pak Laus, pemilik restoran dan tempat penginapan di desa tersebut yang sebelumnya telah menjanjikan untuk mencarikan pemandu dan perahu ces yang bisa disewa, kami menurunkan barang-barang ke kamar.
Ngobrol punya ngobrol dengan beberapa penduduk setempat, ternyata ada gua di kecamatan Kong Beng yang jaraknya cukup dekat dari Hambur Batu, malah gua tersebut sudah dijadikan obyek wisata resmi . Hanya lokasi persisnya memang masih simpang siur, ada yang bilang sebelum Muara Wahau ada yang bilang sesudahnya. Tapi dari pada menghabiskan waktu sesorean di kamar, kami memutuskan untuk berangkat, hitung-hitung JJS!
Mulanya agak surprise juga sepanjang 5 km pertama jalannya mulus tidak ada yang rusak. Tapi sesudahnya sama saja. Berhubung kami berenam sama sekali tidak ada yang tahu dimana lokasi persisnya gua tersebut, perjalanan jadi terasa lama dan batas waktu 1,5 jam seperti diinformasikan Pak Laus pun sudah lewat. Hingga batas waktu tersebut tidak terlihat sama sekali tanda-tanda bahwa terdapat gua, terutama karena sama sekali tidak terlihat adanya pegunungan kapur seperti yang terlihat waktu kami mendekati desa Hambur Batu.
Namun kurang lebih 2 jam setelah meninggalkan Hambur Batu, di sisi kiri kami terlihat gerbang menuju gua wisata tersebut. Gerbang berbentuk khas Bali sehingga dugaan kami dusun didalamnya dihuni oleh orang Bali. Dugaan kami ternyata benar karena kami menemukan 1 pura yang cukup besar dan di depan hampir semua rumah penduduk terdapat tempat meletakkan sesajen. Jalan menuju gua masih tanah, tapi kondisinya cukup baik karena sudah dipadatkan. Hanya di 4-5 titik saja lembek karena tergenang air. Kurang lebih 3 km dari gerbang, terlihat pemandangan yang mirip dengan Ayers Rock di Australia. Hanya kalau di sekeliling Ayers Rock adalah padang pasir sehingga penampakkannya benar2 kontras, di Kong Beng sini gunung batunya dikelilingi oleh hutan dan padang ilalang. Namun mendapati pemandangan yang di luar dugaan cukup untuk membuat kami sangat terkesan. Ternyata Indonesia tidak kurangnya pemandangan yang indah-indah di seantero wilayahnya hingga yang terpencil sekalipun.
Jalan menuju ke gua semakin lama semakin kecil dan semakin rusak. Malah begitu mendekati gua terdapat satu jembatan darurat karena jembatan yang bagusnya belum selesai. Untuk mengurangi beban, semua penumpang turun meninggalkan Pak Mardi sendirian. Kuat dugaan semuanya terlihat merasa kecut melihat jembatan yang hanya terbuat dari balok kayu sementara bekas aliran air di bawahnya cukup dalam. Beruntung Pak Mardi sarat dengan pengalaman menghadapi situasi-situasi seperti ini ditambah kondisi tanah yang masih cukup kering sehingga tidak ada masalah dengan traksi. Sehingga jembatan yang tidak safety tersebut dapat dilalui tanpa kesulitan.
Setibanya di ujung jalan, terlihat beberapa bekas warung yang sekarang tinggal rangka kayunya saja. Agak kontradiktif dengan informasi yang kami terima bahwa gua ini sangat populer bagi penduduk yang tinggal di Muara Wahau atau Bengalon.
Jalan menuju gua pun tidak ada tanda-tanda sering dilalui orang karena ditumbuhi alang-alang yang cukup lebat. Namun tersedia jembatan yang cukup bagus untuk menyeberangi sungai dan di ujung jembatan itu lah terletak mulut gua.
Jeleknya orang Indonesia adalah kebiasaannya untuk meninggalkan jejak. Gua inipun kelihatannya bukan pengecualian. Coretan-coretan, gambar-gambar gak puguh, dan sampah tersebar di seluruh pelosok gua. Terlihat sekali kalau gua ini tidak cukup dirawat dengan baik untuk ukuran sebuah gua wisata. Di dalam gua, ramai terdengar cicit burung. Karena saya sangat tidak ahli dalam perburungan, saya tidak tahu apa jenisnya. Hanya beberapa kali ada yang terbang melintas di depan saya. Head lamp yang saya pakai pun tidak cukup kuat untuk menerangi gua tapi dapat dipastikan bahwa gua ini memiliki beberapa cabang yang sangat dalam. Karena keterbatasan alat dan terutama waktu, kami memutuskan untuk tidak berlama-lama dan mengambil foto sekedarnya saja.
Seperti biasanya perjalanan pulang selalu terasa lebih cepat dibanding perjalanan menujunya. Di jalan sempat kami temui truk yang nyungsep ke lubang. Untungnya, solidaritas antar supir truk sangat tinggi sehingga tidak kurang dari 5 truk berhenti dan membantu truk sial tersebut keluar dari lubang.
Sesampainya di Hambur Batu, kami langsung memesan makan malam. Menu malam itu, bu Laus menyediakan ayam, ikan dan telur. Saya memilih ayam goreng dan tehh hangat. Selesai makan, saya dan beberapa teman memilih untuk mandi dulu sebelum tidur. Meskipun air yang ditampung di gentong kelihatannya berasal dari danau atau sungai yang airnya sama-sama keruh, mandi selalu berhasil membuat badan jadi terasa lebih segar. Setelah shalat, saya dan Irwan memilih untuk tidur di musholla karena kamar yang disediakn masih bau cat baru.
Untuk urusan tidur, kami berenam tidak ada masalah namun saya sempat terbangun pukul 02 karena suara truk besar-besar yang lewat di jalan dekat musholla. Parah sekali getarannya, dan itu tidak hanya sekali tapi beberapa kali sehingga saya tidak bisa tidur lagi hingga subuh.
Paginya, desa diliputi kabut tipis. Pemandangannya mengingatkan saya pada desa-desa di pinggir jalan antara Bandung – Garut.
Kami sempatkan untuk membuat foto bersama di beberapa tempat. Mengingat kondisi jalan, agak sulit membayangkan bahwa kami akan ke tempat ini lagi minggu depan atau bulan depan atau bahkan hingga bertahun-tahun ke depan.
Pagi itu bu Laus menyediakan menu sarapan nasi putih + telur ceplok + sambal. Sederhana, tapi rasanya uenak. Semula saya agak ragu makan sambal, tapi karena enak, potensi sakit perut kami kesampingkan dulu.
Sarapan sudah, barang-barang dan perlengkapan sudah kami kemas rapi jali, tinggal menunggu perahu ces yang kami belum tahu ukurannya seberapa besar. Begitu siap, saya sedikit was-was melihat ukurannya yang hanya sebesar ketinting yang suka saya sewa di Bontang Kuala kalau mau jalan ke Segajah. Namun kami sudah menyiapkan life jacket dan memang ini adalah tantangan yang kami cari! Tukang perahu kami adalah Aris yang juga merangkap sebagai tour guide dan Mas Sugih. Keduanya masih muda, umurnya belum kepala 3. Ketika berangkat, waktu sudah menunjukkan pukul 08 dan kalau lancar kami akan tiba di tempat start jalan kaki pukul 12.
Cuaca hari Sabtu sangat cerah, dan perjalanan berjalan lancar. Hanya lama-kelamaan pantat lumayan panas karena tempat duduk di perahu hanya papan saja tanpa alas. Kaki juga pegal karena tidak ada ruang untuk selonjoran. Tapi kami tetap menganggap itu sebagai pengalaman yang harus dinikmati.
Dua perahu yang kami sewa ditempati oleh saya, Pak Yanto, Oom Roy dan Didi di satu perahu, dan Irwan plus barang-barang di perahu lainnya. Namun karena mesinnya lebih kecil, perahu Irwan jauh tertinggal di belakang. Karenanya kami sempatkan untuk istirahat sekalian silaturahmi di satu pos sawmill di pinggir sungai.
Di sepanjang sungai Bengalon dapat ditemui banyak pos-pos, baik itu pos penjaga gua burung walet, pos sawmill, maupun pos pengumpulan kayu (kemudian hari kami baru dapat cerita dari Aris kalau ketika kami lewat banyak pekerja pengumpul kayu yang tiarap karena menyangka kami dari petugas kepolisian hutan). Rata-rata pos-pos tersebut berbentuk rumah panggung, dan di bawahnya ada tempat untuk binatang ternak dan anjing penjaga. Sikap mereka terhadap orang asing kentara sekali menjaga jarak dan waspada, meskipun kadang suasananya dengan segera menjadi cair setelah tahu maksud kedatangan kami. Tidak aneh mengingat profesi mereka baik sebagai pengumpul kayu maupun penjaga gua burung walet rawan terhadap gangguan keamanan, baik dari aparat pemerintah maupun perampok.
Bagaimanapun, pertemuan dengan kelompok profesi yang jarang kami temui sebelumnya selama di Bontang membuat kami semakin bersyukur dengan apa yang sudah kami peroleh. Terbersit juga lamunan bahwa mereka juga adalah saudara kita senegara setanah air yang seharusnya dapat menikmati penghidupan yang lebih layak sesuai dengan kerja keras mereka.
Dengan pemandangan alam yang sangat indah sepanjang tepian sungai Bengalon, bukan tidak mungkin perjalanan ini dapat dikelola menjadi wisata reguler bagi turis-turis yang mencari suasana berlibur yang lain, tinimbang sekedar menginap di hotel dan belanja di mall. Kira-kira mendekati jam 11, mulai tampak gunung batu kapur di pinggiran sungai. Pertanda kami sudah makin mendekati lokasi. Namun 30 menit sebelum lokasi, perahu Irwan terpaksa harus kami tarik karena mesinnya rusak.
Lokasi pendaratan perahu, di luar dugaan, ternyata tanah berlumpur lembek sehingga untuk melewatinya harus dibantu tali. Lelah setelah 5 jam tertancap di perahu membuat kondisi badan tidak lagi fit, apalagi kami harus membawa beban yang cukup berat. Sementara rute perjalananpun, lagi-lagi di luar dugaan, sangat berat untuk rombongan seusia kami (kecuali Didi yang baru 28). Medan berbatu2 tajam dan terus mendaki. Di beberapa tempat malah berupa tebing yang tegak lurus dan tidak dapat dilewati tanpa tali. Karena itu kami menyimpan barang-barang dan melanjutkan perjalanan dengan membawa yang benar-benar perlu seperti air dan kamera.
Tapi rupanya semakin ke atas tingkat kesulitan semakin tinggi. Dari GPS diketahui kalau kami sudah di ketinggian 140 meter dpl. Pada posisi tersebut tinggal saya dan Didi yang masih sanggup mendaki. Yang lainnya menyerah. Saya dan Didi mendaki tebing yang benar2 tegak lurus hingga ketinggian 155 meter dpl. Pada posisi tersebut, saya pun akhirnya memutuskan untuk menyerah juga. Sebetulnya tinggal 5 meter lagi, tapi pijakan untuk tangan dan kaki sangat tipis. Meskipun dibantu tali, tapi rasanya saya tidak akan punya cukup tenaga untuk naik. Alhasil, hanya Didi dan tentunya Aris si guide yang berhasil sampai ke gua …
Sedih juga, karena tinggal sependek 5 meter, tapi waktu itu nafas rasanya sudah tinggal separo. Didi saja yang masih muda, saya perhatikan kakinya gemetar ketika memanjat. Tidak heran sih karena kalau pegangan lepas, badan akan langsung terbanting hingga kurang lebih 20 meter di atas bebatuan yang runcing-runcing. Untungnya Didi cukup ahli memotret dan dengan menggunakan kamera saya foto2nya tidak kalah dengan foto2 yang saya potret sendiri. Salut buat Didi tapi tidak salut buat Aris! Mustinya kalau sudah tahu medannya seperti ini dia bisa lebih jujur menyampaikan keadaan yang sebenarnya.
Bagaimanapun, lewat foto yang dibuat Didi kami merasa cukup beruntung dapat mengetahui lokasi seputaran gua. Sementara saya, sambil menunggu Didi dan Aris turun, mengorek2 tanah dan menemukan beberapa cangkang keong laut. Ini membuktikan teorinya Didi, yang kebetulan seorang geolog, kalau gunung batu kapur ini dulunya terendam laut. Bila demikian adanya, bukan tidak mungkin gua tersebut dulunya terletak di pantai dan penghuninya berprofesi nelayan, bukan pengumpul kayu dan penjaga gua burung walet seperti keturunannya sekarang
Berbeda dengan gua Kong Beng, gua bekas rumah orang purba ini tidak ada tanda-tanda vandalisme. Bersih dari coretan dan hanya ada gambar telapak tangan. Kok mereka suka sekali ya menggambar tangan mereka sendiri? Kenapa? Untuk apa? Mengapa hanya telapak tangan? Mengapa tidak ada gambar muka? Pertanyaan-pertanyaan yang kelihatannya perlu diteliti lebih lanjut oleh para pakar arkeologi kelihatannya.
Perjalanan pulang yang menurun tidak lebih ringan dari perjalanan mendakinya. Malah kadang saya bingung, kok bisa mendaki setinggi itu. Sempat juga saya mengalami kecelakaan, terjatuh dari injakan dan terbanting ke sisi tebing yang sebelahnya. Beruntung saya berpegangan erat ke tali dan ada Irwan cukup sigap menangkap badan saya.
Kira-kira setelah 1 jam berjalan baru kami sampai ke lokasi perahu. Mengingat tidak ada lokasi yang cukup memadai untuk mendirikan tenda, kami memutuskan untuk mencoba lokasi pos-nya Blasius, temannya Aris yang menjaga satu gua sarang burung walet sekitar 30 menit berperahu dari lokasi pendaratan yang sekarang.
Tidak banyak penjaga sarang burung walet yang dapat menerima tamu asing, namun karena ada Aris dan mungkin juga melihat tampang serta potongan badan kami yang jauh dari profil perampok, Blasius mengijinkan kami untuk bermalam di pondoknya. Pondoknya Blas, panggilan dari Blasius yang orang Timor itu, sangat luar biasa. Teras belakangnya menghadap tebing gunung batu yang langsung menjulang dari permukaan tanah setinggi kurang lebih 300 meter. Sementara di bawahnya tumbuh subur tanaman pakis yang berwarna hijau segar. Luar biasa! Betul-betul luar biasa!
Kami sungguh sangat beruntung dapat menemukan lokasi seindah ini. Karena sudah sore, udara pun terasa sejuk dan mengingatkan kami kalau kami belum makan siang. Saya segara mengeluarkan seluruh perbekalan dan meminta ijin Blas untuk menggunakan tungkunya. Supaya cepat masak, saya tambahkan parafin ke dalam tungku. Tidak sampai 5 menit, Indomie rasa Kari Ayam favorit saya sudah siap disantap. Saya makan berdua dengan Irwan dan lauknya adalah rendang buatan mbak Dewi isteri Pak Yanto yang sangat enak. Highly recommended lah! Begitu disantap, rasanya tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata … sedap luar biasa! Padahal air yang kami gunakan untuk memasak adalah air sungai yang warnanya cokelat!
Karena lelah dan kenyang, malam itu kami semua kecuali Aris, Sugih dan Blas tidur cepat. Jam 8 semuanya sudah lelap. Apalagi dibantu dengan udara yang nyaman dan nyaris tidak ada nyamuk.
Paginya, setelah berkemas dan pamit pada Blas, kami memulai perjalanan pulang. Perahu pembawa barang terpaksa ditarik karena motornya tidak berhasil diperbaiki. Beruntung perjalanan pulang tidak seberat ke hulu karena dibantu oleh arus sungai.
Kira-kira 1 jam sebelum sampai di Hambur Batu, kami dibawa Aris ke satu gua sarang burung walet. Gua Batu Aji namanya. Gua ini lebih besar dari gua Kong Beng tapi sama-sama sudah dirusak oleh vandalisme. Coretan-coretan dan gambar-gambar tidak senonoh tersebar dimana-mana. Lantai gua ada yang batu, ada yang tanah namun sebagian besar tertutup lapisan kotoran burung. Variasi stalagtit dan stalagnit-nya lebih kaya dibanding gua Kong Beng. Selain itu terdapat banyak lorong baik yang mengarah ke atas maupun ke bawah. Sayangnya eksplorasi kami dibatasi oleh waktu karena Pak Mardi sudah kami minta supaya stand-by pukul 12 di warungnya Pak Laus.
Kedua perahu kami tiba dengan selamat di Hambur Batu pukul 13 dan berakhirlah ekspedisi tim “The Loosers” selama 3 hari 2 malam ini.
RINGKASAN PERJALANAN:
Bontang – Sangatta = 2,5 jam; jalan rusak
Sangatta – Hambur Batu = 3 jam; jalan rusak
Hambur Batu – Gua Kong Beng = 2,5 jam; jalan rusak + jalan tanah; kalau hujan tidak dapat dilewati kendaraan kecuali 4WD atau motor
Hambur Batu – Gua Batu Aji = 1 jam; sungai + jalan kaki 20 menit; medan = sulit
Hambur Batu – Gua PDI (pondoknya Blas) = 5 jam; sungai + jalan kaki 20 menit; medan = biasa
Hambur Batu – Gua Cap Tangan = 5 jam + 2,5 jam = 7,5 jam; sungai + jalan kaki 2 jam; medan = sangat sulit dan perlu tali, harness dan sepatu rock climbing.

