Mesennya Sedari Awal
Thursday, 21. August 2008, 08:47:36
Melanjutkan si tukang bubur, kalo mo lebih cepat lagi, pesen lah dari pagi-pagi. Sebelum dia pada didatengin pembelinya. Kita udah naro mangkok dan uang duluan. Begitu si tukang bubur membuka gerobaknya, maka kitalah pelanggan pertamanya.
Inilah saya bilang dengan sholat dhuha. Ketika para pencari dunia yang laen sudah berburu dunia, kita pun udah start. Tapi kita mampu nginjek rem. Kita berhenti sejenak. Dengan air wudhu yang sudah kita bawa dari rumah, kita kemudian tegakkan shalat dhuha. Subhaanallaah, tentunya Pemilik Dunia akan memilih kita untuk menggenggam dunia-Nya. Luar biasa kan? Pagi-pagi kita udah lapor sama bos. Ibarat tukang bubur yang udah dipesen dari pagi, ia akan memprioritaskan kita dulu dan akan lebih mengingat kita ketimbang pembeli yang lain.
Subhaanallaah. Maha Suci Allah yang ga pantes saya samakan dengan makhluk-Nya. Allah tentu saja Maha Mengingat. Tapi siloka nya seperti itu. Coba saja kita lakukan itu. Dhuha nya disiplinkan. Insya Allah,
perjalanan doa dan sedekah kita, akan tercapai dengan kecepatan yang mengagumkan. Apalagi Allah dan Rasul-Nya menjanjikan pahala kebaikan dhuha yang luar biasa.
Shalat dhuha 2 rakaat, merupakan pembuka pintu rizki yang masya Allah. Ia bahkan setara pahalanya dengan ibadah haji dan umrah yang makbul. Bayangkan, yang makbul! Sedangkan kita ibadah haji dan umrah benernya saja beloman tentu makbul. Dan segudang lagi fadhilah dhuha yang besar sekali manfaatnya dunia
akhirat. Kalo bisa, jangan 2 rakaat shalatnya. Tapi 4, 6 atau bahkan 8 dan 12. Insya Allah, jadilah hamba-Nya yang berbeda.
By: Ustadz Yusuf Mansyur

