Monday, 6. March 2006, 03:20:02
I have been thinking , instead of burrying all of my files resulted from my previous searching to find anything related with Dynax 7D, it is better to save them here so everyone who need could stop right here and got everything they want.
Recently, here are the list what I have got so far:
- Instruction Manual (.pdf)
Wednesday, 8. February 2006, 23:42:02
mother, love
When you were 1 year old she fed you & bathed you,
You thanked her by crying all night long.
When you were 2 years old she taught you to walk,
You thanked her by running away when she called
When you were 3 years old she made all your meals with love
You thanked her by tossing your plate on floor
When you were 4 years old she gave you some crayon
You thanked her by coloring the dining room table
When you were 5 years old she dressed you for the holidays
You thanked her by plopping into the nearest
When you were 6 years old she walked you to school
You thanked her by screaming "I am not going"
When you were 7 years old she bought you a baseball
You thanked her by throwing it through the next-door-neighbor's
window
When you were 8 years old she handed you an
ice-cream
You thanked her by dipping it all over your lap
When you were 9 years old she paid for your piano lessons
You thanked her by never even bothering to practice
When you were 10 years old she drove you all day, from soccer to
gymnastic to one birthday party to another
You thanked her by jumping out of car and never looking back
When you were 11 years old she took you and your friends to the
movies
You thanked her by asking to sit in a different row
When you 12 years old she warned not to watch certain TV shows
You thanked her by waiting until she left the house
When you were 13 she suggested a hair cut
You thanked her by telling her she had no taste
When you were 14 she paid for a month away in summer camp
You thanked her by forgetting to write a single letter
When you were 15 she came home from work
looking for a hug
You thanked her by having your bedroom door locked
When you were 16 she taught you how to drive her car
You thanked her by taking it every chance you could
When you were 17 she expected an important call
You thanked her by being on the phone all night
When you were 18 she cried at your high school graduation
You thanked her by staying out parting until dawn
When you were 19 she paid for your college tuition drove you to
campus carried your bags
You thanked her by saying good-bye outside the dorm so you wouldn't
be embarrassed in front of your friends
When you were 20 she asked whether you were seeing anyone
You thanked her by saying "It is none of your business"
When you were 21 she suggested certain careers for your future
You thanked her by saying "I don't want to be like you"
When you were 22 she hugged you at your college graduation
You thanked her by asking whether she could pay for a trip to Europe
When you were 23 she gave you furniture for your first apartment
You thanked her by telling your friends it was ugly
When you were 24 she met your fiancé and asked about your plans for
future
You thanked her by glaring & growling "Muuuuther Please"
When you were25 she helped to pay for your wedding and she cried and
told you how deeply she loved you
You thanked her by moving half way across the country
When you were 30 she called with some advice on baby
You thanked her by telling her "things are different now"
When you were 40 she called to remind you of a relative's birthday
You thanked her by saying you were "really busy right now"
When you were 50 she fell ill and needed you to take care of
her
You thanked her by reading about the burden parents become to their
children
And one day she quietly died and everything you never did come
crashing down like thunder on your heart.
Source: Anonym
Wednesday, 8. February 2006, 23:37:15
Panca Dahana Sastrawan, ekonomi kapitalis, hidup cukup
Bang Uki telah lebih dari 20 tahun berdagang nasi uduk di pinggir
Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Uduk yang sungguh enak. Tiap
pagi puluhan orang antre untuk makan di tempat atau dibawa pulang.
Paling lama dua jam saja seluruh dagangan Bang Uki–ada empal, telur,
semur daging, tempe goreng—ludes habis. Begitu setiap hari, 20 tahun
lebih.
Pertengahan 1980-an, ekonomi Orde Baru tengah menanjak ke puncak
ketinggiannya. Bang Uki, dengan ritme stabil batang pohon cabai yang
terus berproduksi, belanja pukul satu dini hari, masak mulai pukul
dua, berangkat pukul empat, dan seusai subuh telah menggelar barang
dagangnya. Tepat jam tujuh pagi, semua tuntas. Pukul sepuluh, ia sudah
nongkrong di teras rumah, lengkap dengan kretek, gelas kopi, dan
perkutut. "Tinggal nunggu lohor," tukasnya pendek.
Berulang kali pertanyaan bahkan desakan untuk membuka kios terbukanya
hingga lebih siang sedikit ditolak Bang Uki. "Buat apa?" tukasnya.
"Gua udah cukup. Anak udah lulus es te em. Berdua bini gua udah naik
haji. Apalagi?" Pernah sekali penulis jumpai ia sedang memasak di
rumahnya. Langit di luar masih gelap. Kedua mata Bang Uki terpejam.
Tangan- nya lincah mengiris bawang merah. Saya menegur. Tak ada
reaksi. "Abah masih tidur," istrinya balas menegur.
Kini, 15 tahun kemudian, Bang Uki sudah pensiun. Wajahnya penuh senyum.
Hidupnya penuh, tak ada kehilangan. Kami yang kehilangan, masakan
sedap khas Betawi. Kami sedikit tak rela. Bang Uki terlihat begitu
ikhlasnya. Wajahnya terang saat ia dimandikan untuk kali terakhirnya.
Dua jam berdagang, enam jam bekerja, telah mencukupkan hidupnya.
Dan Bang Uki tidak sendiri. Nyi Omah juga tukang uduk di Pasar Jumat,
Pak Haji Edeng tukang soto Pondok Pinang, pun begitu. Tukang pecel di
Solo, gudeg di Yogya, nasi jamblang di Cirebon, atau bubur kacang
hijau di Bandung, juga demikian. Mereka yang bekerja dan berdagang
untuk mencukupi kebutuhan hidup. Jika telah cukup, untuk apa bekerja
lebih. Untuk apa hasil, harta atau uang berlebih? "Banyak mudaratnya,"
kilah Pak Haji Edeng.
Mungkin. Apa yang kini jelas adalah perilaku bisnis dan ekonomi
tradisional negeri ini ternyata mengajarkan satu moralitas: hidup
wajib dicukupi, tetapi haram dilebih-lebihkan. Berkah Tuhan dan
kekayaan alam bukan untuk kita keruk seorang. Manusia adalah makhluk
sosial. Siapa pun mesti menenggang siapa pun.
Alternatif kapitalisme
Moralitas berdagang "Bang Uki" tentu bertentangan dengan apa yang kini
menjadi moral dasar perekonomian material- kapitalistik. Di mana
prinsip laissez faire atau free will dan free market digunakan tak
hanya untuk memberi izin bahkan mendesak setiap orang untuk
"mendapatkan sebanyak-banyaknya dengan ongkos sesedikit mungkin". Satu
spirit yang nyaris jadi kebenaran universal dan hampir tak ada daya
tolak atau daya koreksinya.
Dan siapa pun mafhum dengan segera, prinsip dan moralitas ekonomi
modern itu bukan hanya melahirkan orang-orang yang sangat kaya, bahkan
keterlaluan kayanya (semacam pembeli Ferrari seharga Rp 5 miliar yang
mubazir di Jakarta yang macet), tetapi juga sejumlah besar orang yang
hingga kini tak bisa menjamin apakah ia dapat makan atau tidak hari ini.
Moralitas kapitalistik hanya menyediakan satu jalur sosial berupa
filantrofisme, yang umumnya hanya berupa "pengorbanan" material yang
hampir tiada artinya dibanding kekayaan bersih yang dimilikinya.
George Soros, misalnya, dengan kekayaan 11 miliar dollar AS (hampir
sepertiga APBN Indonesia), mengeluarkan 400 juta dollar (hanya sekitar
4 persen atau setara dengan bunga deposito) untuk berderma dan
menerima simpati global di sekian puluh negara.
Dan siapa peduli, bagaimana seorang Bill Gates, Rupert Murdoch, Liem
Sioe Liong atau Probosutedjo menjadi begitu kayanya. Moralitas dasar
kapitalisme di atas adalah dasar "legal" untuk meng- amini kekayaan
itu. Betapapun, boleh jadi, harta yang amat berlebih itu diperoleh
dari cara-cara kasar, telengas, ilegal bahkan atau–langsung dan tak
langsung—dari merebut jatah rezeki orang lain.
Dan siapa mampu mencegah atau menghentikannya? Pertanyaan lebih
praktisnya adalah: Siapa berani? Tak seorang pun. Hingga sensus
mutakhir menyatakan adanya peningkatan jumlah harta orang- orang kaya
dunia sebanding dengan peningkatan jumlah orang yang papa. Belahan
kekayaan ini sudah seperti palung gempa yang begitu dalamnya.
Lalu di mana Bang Uki? Ia tak ada di belahan mana pun yang tersedia.
Ia ada dan memiliki dunianya sendiri. Yang mungkin aneh, alienatif,
marginal, tersingkir, luput, apa pun. Namun sesungguhnya, ia adalah
sebuah alternatif. Bukan musuh, lawan, atau pendamping kapitalisme. Ia
adalah sebuah tawaran yang membuka kemungkinan di tengah kejumudan
(tepatnya ketidakadilan) tata ekonomi dunia saat ini.
Ekonomi cukup
Prinsip "hidup yang cukup" Bang Uki adalah landasan bagi sebuah
"ekonomi cukup", di mana manusia tidak lagi mengeksploitasi diri
(nafsu)-nya sendiri, juga lingkungan hidup sekitarnya. Ia
mengeksplorasi potensi terbaiknya untuk memenuhi keperluan manusia,
sebatas Tuhan–yang mereka percaya—menganjurkan atau membatasinya.
Bagaimana "cukup" itu didefinisi atau dibatasi, tak ada–bahkan tak
perlu—ukuran dan standar. Seorang pengusaha dan profesional dapat
mengukurnya sendiri dengan jujur: batas "cukup" bagi dirinya. Jika
bagi dia dengan keluarga beranak dua, pembantu dua, tukang kebun,
satpam atau lainnya, merasa cukup dengan sebuah rumah indah, dua
kendaraan kelas menengah, mengapa ia harus meraih lebih? Mengapa ia
harus melipatgandakannya?
Apalagi jika usaha tersebut harus melanggar prinsip hidup, nilai
agama, tradisi dan hal-hal lain yang semula ia junjung tinggi?
Andaikan, sesungguhnya ia mampu menghasilkan puluhan miliar tabungan,
sekian rumah mewah peristirahatan bahkan jet pribadi, dapat dipastikan
hal itu hanya akan menjadi beban. Bukan melulu saat ia berupaya
meraih, tetapi juga saat mempertahankannya.
Bila pengusaha tersebut berhasil men- "cukup"-kan dirinya, secara
langsung ia telah mengikhlaskan kekayaan lebih yang tidak diperolehnya
(walau ia mampu) untuk menjadi rezeki orang lain. Ini sudah sebuah
tindak sosial. Dan tindak tersebut akan bernilai lebih jika "kemampuan
lebihnya" itu ia daya gunakan untuk membantu usaha atau sukses orang
lain. Sambil menularkan prinsip "ekonomi cukup", ia akan merasakan
"sukses" atau kemenangan hidup yang bernuansa lain jika ia berhasil
membantu sukses lain orang dan tak memungut serupiah pun uang jasa.
Maka, secara langsung satu proses pemerataan demi kesejahteraan
bersama pun telah berlangsung. Palung atau sen- jang kekayaan pun
menipis. Kesempatan meraih hidup yang baik dapat dirasakan semua
pihak. Pemerintah dapat bekerja lebih efektif tanpa gangguan-gangguan
luar biasa dari konflik-konflik yang muncul akibat ketidakadilan ekonomi.
Dan seorang pejabat, hingga presiden sekalipun, dapat pula
mendefinisikan "cukup" baginya: jika seluruh kebutuhan hidupku, hingga
biaya listrik, gaji pembantu hingga pesiar telah ditanggung negara,
buat apalagi gaji besar kuminta? Moralitas seperti ini adalah sebuah
revolusi. Dan revolusi membutuhkan keberanian, kekuatan hati serta
perjuangan tak henti.
Maka, "cukuplah cukup". Kita sederhanakan sebagai prinsip
hidup/ekonomi yang "sederhana". Kian sederhana, maka kian cukup kian
sejahteralah kita.
Ukurannya? Yang paling sederhana, usul saya: semakin tinggi senjang
jumlah konsumsi dibanding jumlah produksi kita sehari-hari, makin
sederhana, makin cukup dan sejahteralah kita.
Jika Anda mampu membeli Ferrari, mengapa tak mengonsumsi Mercedes seri
E saja, atau Camry lebih baik, atau Kijang pun juga bisa. Dan dana
lebih, bisa Anda gunakan untuk tindak-tindak sosial, untuk membuat
harta Anda bersih, aman, dan hidup pun nyaman penuh senyuman.
Beranikah Anda? Berani kita? Tak usah berlebih, kita cukupkan saja.
Radhar Panca Dahana Sastrawan
Friday, 30. December 2005, 00:18:30
keutamaan, anak perempuan
“Rumah yang di dalamnya terdapat anak-anak perempuan, maka setiap hari Allah menurunkan dua belas rahmat, para malaikat tidak terputus-putus mengunjungi rumah itu, dan para malaikat di setiap hari dan malamnya mencatat untuk kedua orang tuanya pahala sama dengan pahala ibadah tujuh puluh tahun ” (HR. Abu Ya’la).
“Barangsiapa menanggung (biaya hidup) seorang yatim, baik keluarga ataupun bukan keluarga, maka dia kelak berdampingan denganku di surga. Dan barangsiapa membiayai tiga orang putri yang diamanatkan Allah kepadanya, maka dia berhak masuk surga: Dan dia mendapat pahala seperti pahalanya orang yang berjihad di jalan Allah, yang siang harinya digunakan untuk berpuasa dan malam harinya di gunakan untuk beribadah sunat (HR. Bazar dari Abu Hurairah)”.
“Seorang muslim yang diamanati Allah tiga orang anak putri, kemudian dididik dan dibimbing secara layak hingga dewasa, atau meninggal sebelum baligh, maka dia akan selamat dari siksa api neraka”. Sabda Rasulullah SAW, lalu ada seorang wanita mengajukan pertanyaan: Ya Rasulullah, bagaimana halnya kalau hanya dia diamanati dua orang anak putri? Jawab beliau: Dua orang anak putri yang dididik secara baik, bisa menjadi penyelamat dari siksa api neraka”. (HR. Thabrani dari Abdurrahman bin Auf)
“Barangsiapa memiliki tiga orang putri atau tiga orang saudara putri, atau memiliki dua orang anak putri atau dua orang saudara putri, kemudian ia mendidiknya dengan baik hingga memiliki ketaqwaan kepada Allah dan akhlak yang mulia, maka dia berhak masuk surga”. (HR. Tirmidzi)
“Barangsiapa diamanati Allah seorang putri, bila mati tidak ditangisi, dan bila hidup dididik secara baik, maka dia dapat jaminan surga” (HR. Abu Dawud, Hakim dari Ibnu Abbas)
“Barangsiapa menyenangkan (memanjakan) anak perempuan, maka ibarat menangis karena takut kepada Allah. Dan barangsiapa menangis karena takut kepada Allah, maka Allah mengharamkan jasadnya masuk kedalam neraka.” (HR. Abu Ya’la, Ahmad).
Thursday, 1. December 2005, 05:39:29
Nur Cholish Huda, Erich Fromm, menjadi, memiliki
Oleh: Nur Cholis Huda
Pak Sugiharto membangun villa megah di lereng bukit. Pemandangannya indah dan udaranya segar. Di tempat lain masih punya dua villa lagi yang juga megah. Belum tentu dua bulan sekali Pak Sugiharto sempat menginap di salah satu villanya karena ia sangat sibuk. Praktis villa itu sepi sepanjang hari.
Pak Kromo sekeluarga, orang yang dibayar untuk menunggu villa itu justru yang menikmati kemegahan bangunan dan kesegaran udaranya. Tetapi meskipun Pak Sugiharto jarang sekali bisa menikmati villanya, bahkan mengeluarkan uang untuk orang yang menunggu, dia tetap puas dan bangga karena dia yang memiliki villa itu.
Mengapa tidak menyewa saja, kalau hanya sesekali memerlukan santai di luar kota? Menyewa mungkin lebih praktis dan hemat, tetapi tidak memberi kepuasan karena tidak ikut memiliki.
Di rumahnya ada delapan mobil. Anggota keluarganya hanya lima orang. Maka ada mobil yang jarang terpakai yaitu mobil paling mahal. Mobil mahal itu dipakai hanya pada acara yang dianggap sangat penting dan prestisius.
Meskipun jarang dipakai, namun perawatan dan pajak mobil mahal menghabiskan biaya paling banyak. Tetapi dia puas karena dia sebagai pemilik. Kepuasan terletak pada pemilikan, bukan pemanfaatan.
Sementara Pak Hasan petani tua, suatu hari menanam pohon asam dan mangga di kebonnya dekat jalan. Pohon itu dirawat dengan cermat. Seorang saudagar yang lewat merasa heran karena pohon itu perlu waktu bertahun-tahun baru memberi hasil, sementara usia Pak Hasan sudah lanjut.
"Saya sekarang sudah bau tanah. Ketika pohon itu besar dan berbuah, mungkin saya sudah lama meninggal. Tetapi pohon itu akan tetap bermanfaat. Orang yang lewat bisa berteduh, anak-anak bisa bermain sambil memanjat dan memetik buahnya," kata Pak Hasan. Kepuasan Pak Hasan bukan karena memiliki tetapi karena dapat memberi.
Dalam hidup ini ada orang-orang yang puas karena dapat memiliki dan menguasai tetapi ada orang-orang yang menemukan kepuasan karena dapat memberi. Dua contoh di atas merupakan contoh sederhana dari dua orientasi hidup yang berbeda, yaitu orientasi "Memiliki" dan orientasi "Menjadi".
Perbedaan
Erich Fromm (1900-1980), pemikir kenamaan kelahiran Jerman, mencoba memahami, membuat diagnosis, dan memberi terapi penyakit pada zamannya yang tengah mengalami krisis. Karyanya banyak, di antaranya bukunya "To Have or To Be" yang terbit tahun 1976. Dalam buku ini, Fromm menjelaskan panjang lebar dua macam orientasi manusia dalam memberi makna hidupnya, yaitu orientasi Memiliki dan Menjadi.
Ciri utama dari orientasi "Memiliki" ialah kecenderungan memperlakukan setiap orang dan setiap hal menjadi miliknya. Memiliki berarti menguasai dan memperlakukan sesuatu sebagai objek. Segala sesuatu dibendakan atau diperlakukan seperti benda. Orang yang berorientasi "Memiliki" tidak bisa hidup dengan dirinya sendiri karena tergantung pada simbul-simbul yang menjadi miliknya.
Ketika miliknya itu lepas dari genggamannya, ia merasa eksistensinya hilang. Orang yang mengandalkan mobilnya, rumah, kursi, popularitas, jabatan, dan lain-lain sebagai simbol keberadaannya, maka terus-menerus berusaha agar simbol-simbol itu tetap dimiliki. Sebab ketika semuanya lepas, maka keberadaannya menjadi hilang. Semakin banyak yang dimiliki, maka ia merasa kehadirannya semakin kukuh. Semakin sedikit yang dimiliki, semakin kurang rasa percaya diri.
"Masyarakat yang serakah merupakan basis modus "Memiliki" kata Fromm.
Orientasi hidup Memiliki (To Have) berbeda dengan orientasi Menjadi (To Be). Orientasi Menjadi mendorong orang melakukan aktivitas yang tumbuh dari dirinya sendiri dengan tujuan yang jelas serta membawa perubahan yang berguna secara sosial. "Modus Menjadi menuntut agar kita membuang
egosentrisitas kita dan sikap mementingkan diri sendiri," kata Fromm. Orientasi Menjadi mengharuskan adanya kemauan memberi, membagi, dan berkorban.
Orang dengan orientasi Menjadi akan selalu melakukan aktivitas. Menurut Fromm harus dibedakan antara aktivitas dan kesibukan. Seorang tukang batu yang diupah untuk mengerjakan pos keamanan, dia melakukan kesibukan, tidak melakukan aktivitas. Sedang Pak Hasan, petani tua yang menanam pohon pada contoh di atas, dia melakukan aktivitas.
Tukang batu melakukan kegiatan karena digerakkan orang lain. Sedangkan keinginan Pak Hasan menanam pohon timbul dari kesadarannya sendiri, tidak disuruh orang lain. Motivasi itu yang membedakan aktivitas dan kesibukan.
Jika melihat sekuntum bunga harum semerbak, seorang yang berorientasi "Memiliki" akan memetik bunga itu untuk disimpan di kamarnya agar dia dapat menikmati keharumannya sepanjang waktu. Tetapi orang dengan orientasi Menjadi mungkin akan membiarkan bunga itu tumbuh, bahkan menyirami dan memelihara agar setiap orang yang lewat dapat menikmati keharuman baunya.
Bukan Pemilik
Orang yang berorientasi Memiliki jumlahnya cenderung sangat besar. Sedangkan yang berorientasi Menjadi jumlahnya kecil. Orientasi Menjadi serupa dengan apa yang disebut agama sebagai jalan mendaki, sedangkan orientasi Memiliki berarti jalan menurun.
Jalan mendaki adalah jalan pengorbanan dan memberi uluran pertolongan. Sedangkan jalan menurun adalah jalan mudah dan menyenangkan karena menuruti ego kita. Maka banyak orang memilih jalan menurun dan menghindari jalan mendaki.
Tetapi justru karena orientasi hidup Memiliki atau memilih jalan menurun, maka sering timbul krisis dalam banyak segi. Orientasi Memiliki, yang berarti memperlakukan segala sesuatu seperti benda dan ingin menguasainya, jika itu terjadi pada orang-orang "di atas", maka krisis yang ditimbulkan akan meluas dan mencakup banyak dimensi.
Atmosfir kehidupan serba materi yang sangat kental dewasa ini mendorong kita lebih memanjakan egosentris kita, memupuk orientasi Memiliki, memperlakukan segala sesuatu seperti benda, lalu menguasainya.
Jika kita kembali pada ajaran agama, maka kita tidak memiliki apa-apa, karena sekadar hak pakai. Bahkan diri kita sendiri juga bukan milik kita. Dalam kalimat "Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun", sangat jelas bahwa kita dan apa yang ada pada diri kita bukan milik kita melainkan milik Allah dan akan kembali kepada-Nya.
Karena itu orientasi hidup Memiliki sebenarnya tidak sesuai dengan kodrat kemanusiaan kita. Seharusnya kita memilih orientasi Menjadi, memilih jalan hidup Mendaki. "Carilah kebahagiaan dengan cara membahagiakan orang lain. Carilah kesenangan dengan cara menyenangkan orang lain," kata psikolog.
Yang sering terjadi justru sebaliknya. Kita mencari kebahagiaan dengan cara mengobankan orang lain. Kita mewujudkan kesenangan dengan cara merugikan orang lain. Lebih celaka lagi, kalau kita baru merasa senang kalau orang lain menjadi korban.
Tentu tak mudah memastikan apakah suatu perbuatan itu menunjukkan orientasi Memiliki atau Menjadi. Kesulitannya karena manusia pandai berpura-pura, membungkus motif yang sesungguhnya.
Memberi bantuan bisa saja bukan benar-benar ingin menolong, tetapi ingin memperoleh sesuatu yang lebih besar. Mungkin ingin memperoleh nama baik disebut dermawan. Mungkin agar orang yang dibantu berada dalam pengaruhnya. Mengajak damai ketika kondisi terpepet, boleh jadi karena ingin selamat, bukan karena cinta damai. Ketika keadaan sudah lapang, konflik akan disulut
lagi. Manusia pandai berpura-pura.
Karena itu agama menegaskan bahwa senyum yang tulus jauh lebih berharga daripada memberi materi dengan maksud tersembunyi atau menyakiti.
Bangsa ini sudah capek dengan pertengkaran dan kekerasan. Itulah korban dari orientasi hidup Memiliki. Itulah hasil dari jalan menurun dan menghindari jalan mendaki.*
Penulis adalah Sekretaris Muhammadiyah Jawa Timur.
Tuesday, 25. October 2005, 06:53:03
Oleh : Ahmad Syafii Maarif
Pada 19 Oktober 2005, pukul 01.57.43 dini hari, saya menerima SMS dari seorang pengamat sosial politik yang juga pengusaha sukses yang bunyinya sebagai berikut (bahasa sedikit saya ubah): ''Iblis minta pensiun muda. Allah bertanya: 'Wahai Iblis, kenapa kau kembali kepada-Ku, padahal engkau sendiri yang minta untuk menggoda manusia?' Iblis menjawab: 'Hamba yang ahli fikih mencuri dana umat, Mahkamah Agung yang seharusnya adil dan bijak malah memeras, terima sogok. Hamba khawatir justru kami yang tergoda oleh manusia. Maka kami minta pensiun dini saja'.'' Astaghfirullah al-'adzim.
Terus terang saja, saya geli tetapi terkagum-kagum membaca SMS yang cukup sinis dan tajam dalam menggambarkan kondisi masyarakat kita sekarang ini. Luar biasa hebat penciptanya. Sebenarnya, sebagaimana pernah saya katakan, kita hampir kehilangan kosa kata untuk melukiskan moral bangsa yang semakin memburuk dari hari ke hari. Apalagi aparat penegak hukum telah turut berperan untuk menjadikan keadaan semakin runyam, sekalipun kita belum tahu pasti apakah benar "orang-orang terhormat" itu telah menyalahgunakan posisinya untuk meraup benda haram.
Kutipan di atas adalah di antara cara kreatif bagaimana rakyat kita yang punya kepekaan batin menciptakan ungkapan-ungkapan sarkastik karena sudah tidak tahan menonton kondisi bangsa ini yang dirusak terus-menerus tanpa rasa dosa dan malu, sampai-sampai Iblis pun putus asa melihat kelakuan manusia karena telah mengalahkannya dalam perlombaan berbuat jahat, sehingga mohon pensiun muda.
Sarkasme semacam ini akan terus bermunculan setiap saat bilamana belum juga terbayang tanda-tanda positif dari pemerintah dan kita semua yang masih siuman untuk benar-benar berjibaku memperbaiki keadaan yang telah bobrok ini. Saya tidak tahu lagi apa sebenarnya yang dicari oleh kaum elite ini. Ada percaloan untuk mendapatkan dana untuk musibah, ada kerja berebut proyek (jika perlu dengan ancaman) dari sejumlah anggota DPR terhadap dirjen-dirjen basah agar diberi jatah.
Beberapa dirjen menyampaikan kepada saya, kelakuan mereka ini sama sekali tidak lagi menghiraukan sisi profesionalisme dalam membuat usul minta proyek. Itulah sebabnya saya pernah menulis, ''Dalam kelakuan, tidak ada lagi bedanya mereka yang mengaku percaya kepada wahyu dan mereka yang tidak hirau kepada agama.'' Semuanya disikat hahis, asal ada peluang untuk itu.
Itu belum lagi kita berbicara tentang proses pembuatan undang-undang, berapa upeti yang harus dikeluarkan oleh seorang menteri agar anggota DPR yang terhormat itu menjadi tenang dan enak tidur. Pokoknya minta diberi jatah untuk dirinya dan untuk partai. Kita bisa membayangkan betapa perihnya keadaan kita, dan jangan menyesal nanti jika yang tersisa dari harta negeri ini tinggal tulang belulang yang berserakan karena dagingnya telah dilahap habis.
Alangkah buruk dan malang nasibmu wahai Indonesiaku. Anak-anakmu sendiri semakin tidak tahu diri. Filosofi mumpungisme telah menjadi agama mereka, sehingga Iblis menjadi tidak tahan dan kemudian minta undur diri karena sudah kalah bersaing dengan makhluk yang bernama manusia!
SMS di atas sampai kepada saya pada jam-jam menjelang sahur pada bulan yang serbasuci ini. Semula saya tidak mau bereaksi karena sudah jenuh mengkritik, tetapi saya ulang membacanya, batin saya tergerak lagi untuk mengulasnya. Siapa tahu dimulai bulan Ramadhan ini petualangan jahat oleh sejumlah pihak yang membuat kondisi bangsa babak belur akan berkurang. Dan tidak mustahil para petualang ini juga mahir memberikan ceramah tarawih, menasihati para jamaah agar hidup lurus, bermoral, dan jangan mencuri harta negara karena dapat berakibat runtuhnya bangsa ini.
Di sinilah peliknya situasi kita: Terjadi keretakan yang semakin parah antara kata dan laku. Kata bertutur agar orang berbuat baik, laku menempuh jalan menyimpang, semakin lama semakin larut dalam kubangan dosa dan dusta. Namun, Alquran masih menghibur kita. Kita salin misalnya makna ayat 53 dari surat al-Zumar: ''Sampaikan (Muhammad), 'Wahai hamba-hambaku yang telah melampaui batas atas diri-diri mereka [berkubang dalam dosa dan dusta], janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya [kecuali dosa syirik, lht. Al-Nisa: 48]. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun, Penyayang.''
Allah senantiasa membuka pintu tobat bagi mereka yang sungguh-sungguh menyesali kesalahan dan mau kembali. Dan bangsa yang sedang gerah ini menanti perubahan sikap itu dari kita semua. Siapa tahu akan ada hikmah Ramadhan tahun 1426 ini. Semoga.
Sunday, 23. October 2005, 23:55:09
Lebaran, Rasul, Ramadhan, Aisyah
...
Fajar 1 Syawal menyingsing, menandai berakhirnya bulan penuh kemuliaan. Senyum kemenangan terukir di wajah-wajah perindu Ramadhan, sambil berharap kembali meniti Ramadhan di tahun depan. Satu persatu kaki-kaki melangkah menuju tanah lapang, menyeru nama Allah lewat takbir, hingga langit pun bersaksi, di hari itu segenap mata tak kuasa membendung airmata keharuan saat berlebaran. Sementara itu, langkah sepasang khaki terhenti oleh sesegukan gadis kecil di tepi jalan.
"Gerangan apakah yang membuat engkau menangis anakku?" lembut menyapa suara itu menahan beberapa detik segukan sang gadis.
Tak menoleh gadis kecil itu ke arah suara yang menyapanya, matanya masih menerawang tak menentu seperti mencari sesosok yang amat ia rindui kehadirannya di hari bahagia itu. Ternyata, ia menangis lantaran tak memiliki baju yang bagus untuk
merayakan hari kemenangan. "Ayahku mati syahid dalam sebuah peperangan bersama Rasulullah," tutur gadis kecil itu menjawab tanya lelaki di hadapannya tentang Ayahnya.
Seketika, lelaki itu mendekap gadis kecil itu. "Maukah engkau, seandainya Aisyah menjadi ibumu, Muhammad Ayahmu, Fatimah bibimu, Ali sebagai pamanmu, dan Hasan serta Husain menjadi saudaramu?" Sadarlah gadis itu bahwa lelaki yang sejak tadi berdiri di hadapannya tak lain Muhammad Rasulullah SAW, Nabi anak yatim yang senantiasa memuliakan anak yatim. Siapakah yang tak ingin berayahkan lelaki paling mulia, dan beribu seorang Ummul Mukminin?
Begitulah lelaki agung itu membuat seorang gadis kecil yang bersedih di hari raya kembali tersenyum.
Barangkali, itu senyum terindah yang pernah tercipta dari seorang anak yatim, yang diukir oleh Nabi anak yatim. Rasulullah membawa serta gadis itu ke rumahnya untuk diberikan pakaian bagus, terbasuhlah sudah airmata. Lelaki agung itu, shalawat dan salam baginya.
***
Lebaran, bagi kita sangat identik dengan pakaian bagus. Tak harus baru, setidaknya layak dipakai saat bersilaturahim di hari kemenangan itu. Namun tak dapat dipungkiri, bagi sebagian besar masyarakat kita, memakai pakaian baru sudah menjadi budaya. Mungkin budaya ini merujuk pada kisah di atas, bahwa Rasul pun memakai pakaian yang bagus di hari raya. Tidak sedikit uang yang dikeluarkan untuk menyambut lebaran, bahkan bagi sebagian orang, tak cukup satu stel pakaian baru
disiapkan, mengingat tradisi silaturahim berlebaran di Indonesia yang lebih dari satu hari.
Tak ada yang salah dengan budaya baju baru itu, ambil sisi positifnya saja, bahwa keceriaan hari kemenangan bolehlah diwarnai dengan penampilan yang lebih baik. Sekaligus mencerminkan betapa bahagianya kita menggapai sukses penuh arti selama satu bulan menjalani Ramadhan. Baju baru bukan cuma fenomena, bahkan sudah menjadi budaya. Tetapi ada cara berlebaran Rasulullah yang tak ikut kita budayakan, yakni menceriakan anak yatim dengan memberikan pakaian yang lebih pantas di hari istimewa.
Anak-anak kita bangga menghitung celana dan baju yang baru saja kita belikan. Tak ketinggalan sepatu dan sandal yang juga baru. Dapatlah kita bayangkan betapa cerianya mereka saat berlebaran nanti mengenakan pakaian bagus itu. Tapi siapakah yang akan membelikan pakaian baru untuk anak-anak yatim? Tak ada Ayah atau Ibu yang akan mengajak mereka menyambangi pertokoan dan memilih pakaian yang mereka suka. Dapatkah kita bayangkan perasaan mereka berada di tengah-tengah riuh
rendah keceriaan anak-anak lain berbaju baru, sementara baju yang mereka kenakan sudah usang.
Rasulullah tak hanya berbaju bagus saat berlebaran, tetapi juga mengajak seorang anak yatim ikut berbaju bagus, sehingga nampak tak berbeda dengan Hasan dan Husain. Lelaki agung itu, tahu bagaimana menjadikan hari raya juga istimewa bagi anak-anak yatim. Mampukah kita meniru cara Rasul berlebaran?
Kalau kita mampu membeli beberapa stel pakaian untuk anak-anak kita, adakah sedikit yang tersisihkan dari rezeki yang kita dapat untuk membeli satu saja pakaian bagus untuk pantas dipakai oleh anak-anak yatim tetangga kita. Kebahagiaan 1 Syawal semestinya tak hanya milik anak-anak kita, hari istimewa itu juga milik mereka.
Maka, ikuti yuks! Gerakan LCR (Lebaran Cara Rasul). Gerakan ini, saya yakin sudah banyak yang melakukannya di berbagai tempat. Namun jika lebih banyak lagi orang-orang beruntung seperti kita yang mau membudayakan LCR ini, akan lebih banyak senyum anak yatim yang tercipta di hari bahagia.
Bayu Gawtama
0852 190 68581
http://gawtama.blogspot.com Note: Jika berkenan meneruskan tulisan ini ke berbagai milist dan komunitas, setidaknya Anda berkesempatan mengukir senyum anak-anak yatim. Apalagi jika ada yang bekerja di media, atau punya akses ke berbagai media cetak maupun elektronik, sehingga Gerakan LCR ini menjadi sebuah gerakan nasional. Akan indahlah dunia dengan berbagi. Maha Suci Allah.
Thursday, 20. October 2005, 05:39:17
Iseng-iseng ngetes site popularity pake
silktide, mau tahu score blog ini berapa?
Hehehehe ... commentnya: Your website is ranked #3,434 out of 52,315 SiteScores!

Not bad for 1 week old website
Thursday, 20. October 2005, 02:54:05
Hari Sabtu pagi, cuaca kurang begitu bersahabat. Awan mendung lumayan tebal dan betul saja, tidak berapa lama hujan turun dengan deras. Tapi orang Itali bilang no problemo lah, karena hujan memang tidak banyak berpengaruh pada kegiatan diving. Paling visibility di bawah air saja yang mungkin akan sedikit berkurang. Alhasil, para peserta fun dive hari itu, yang terdiri dari 10 orang anggota klub (Pak Monkerhey, Oom Roy, Pak Ichwan, Pak Sugiyanto, Pak Putut, Bu Elly, Pak Selamat, Irwansyah, Michael, dan saya sendiri) dan 2 orang dari Kodim tetap bersemangat memuati boat Lollypop dengan peralatan dan berbagai perbekalan: Bu Elly bawa nasi kuningnya komplit dengan sambal yang wanginya menyebar kemana-mana
, Pak Monkerhey membawa roti Prancis isi keju yang melihatnya saja sudah membuat keroncongan, saya sendiri bawa satu sisir pisang asli metik dari kebun sendiri. Hmmm, paling nikmat itu ya acara makan setelah capek menyelam. Pisang termasuk makanan wajib para diver karena kalau kata Bu Elly sih, meningkatkan efisiensi darah menyerap oksigen sehingga dengan asupan udara yang lebih sedikit kebutuhan tubuh akan oksigen sudah terpenuhi.
Setelah semuanya selesai diangkut, Lollypop mulai bergerak. Berhubung jam sudah menunjukkan pukul 10 dan Lollypop tidak bisa diajak ngebut, maka tujuan kami adalah perairan sekitar Pulau Kerindingan saja yang bisa dicapai dalam waktu kurang dari 20 menit.
Tidak berapa lama setelah meninggalkan Boathouse, cuaca mulai membaik. Laut di sekitar saat itu seperti di kolam, lembut dan tenang sekali. Beberapa kali Pak Putut, spesialis survey lokasi kami, nyebur ke laut untuk memastikan diving point yang akan kami terjuni memiliki view yang menarik. Akhirnya Lollypop dijangkar di suatu lokasi yang berdekatan dengan tambak nelayan. Dari atas airnya tampak bening sehingga gugusan koral di dasarnya terlihat jelas. Wahhh … laut Bontang lumayan juga ternyata. Lokasi ini belum pernah kami eksplorasi sebelumnya sehingga list diving point kami bertambah lagi.
Begitu berhenti, seluruh diver langsung sibuk mempersiapkan alat. Mulai dari memeriksa tabung, memasang BCD dan regulator, memeriksa tekanan tabung hingga memasang pernak-pernik lain seperti weight belt, fin dan masker. Urusan peralatan selesai, tinggal menentukan mau berpasangan dengan siapa. Berhubung kegiatan ini cukup beresiko, wajib hukumnya untuk melakukan diving secara berpasangan.
Setelah ditentukan yang siapa yang menjadi leader dan siapa berpasangan dengan siapa, satu per satu kami nyemplung ke laut. Sebelum turun disepakati dulu, ke arah mana kami akan pergi.
Saya yang berpasangan dengan Irwan, langsung menenggelamkan diri hingga kedalaman 15m. Tapi sayang sekali, meskipun di atas air laut jernih, di kedalaman visibility turun drastis karena pasir laut yang langsung beterbangan begitu kena tendangan fin-fin kami. Sempat terlihat beberapa ekor clownfish yang seperti biasanya bermain-main di sekitar anemone.
Setelah mengambil beberapa foto, saya memberi tanda untuk balik arah kembali ke kapal. Di tengah perjalanan kembali dengan rute agak memutar sama sekali tidak ada view yang bagus. Kondisi terumbu hampir 90% berantakan karena praktek pemboman yang dilakukan nelayan-nelayan lokal
Masalah ini sangat kami sayangkan karena terumbu karang tropis (tropical reef barrier) merupakan habitat dari banyak spesies ikan, kerang, udang dan fauna laut lainnya. Dengan rusaknya terumbu karang, berkurang juga potensi penerimaan nelayan. Belum kalau dihitung kerugian akibat semakin tidak menariknya pemandangan di bawah perairan Bontang sehingga tidak ada penyelam yang mau berwisata ke Bontang.
Karena masih belum menemukan lokasi yang OK, akhirnya saya putuskan untuk mengajak teman-teman naik ke atas. Rugi kan udara dalam tabung kalau hanya dipakai melihat pemandangan yang tidak seberapa. Di permukaan, Irwan mengusulkan untuk menjelajahi lokasi Lollypop buang jangkar. Untuk menghemat udara dan mengatasi ombak, kami berenang gaya punggung hingga tiba di lokasi. Wahhhh … capek juga
, jadi sebelum turun atur nafas dulu dengan bersnorkeling ria. Setelah pulih dari rasa lelah, saya dan Irwan turun ke dasar hingga kedalaman 10m. Di sini suasana dan visibilitynya jauh lebih baik dari lokasi pertama. Hingga 10m, air masih terlihat jernih dan terumbu karang 75% masih dalam kondisi baik
Macam-macam ikan terlihat di sini, tapi saya sendiri tidak hafal namanya. Yang jelas warna-warnanya cantik-cantik dan enak dilihat. Inilah salah satu kenikmatan diving. Pikiran suntuk betul-betul direfresh dengan pemandangan bawah laut yang menakjubkan. Apalagi ditambah dengan hobi fotografi yang saya tekuni. Betah sekali menunggu momen-momen yang pas sehingga tidak terasa stok udara di tabung sudah berada di wilayah merah alias harus segera angkat kaki.
Setelah kembali di Lollypop, makanan yang ada langsung diserbu para diver yang kelaparan. Nasi kuningnya Bu Elly yang dari semenjak start sudah tercium wanginya jadi menu favorit. Enak sekali Bu Elly, terima kasih ya
! Ditunggu buka warungnya
Setelah shalat dan istirahat, Pak Monkerhey mengajak saya untuk diving session ke-dua.
Karena itu kami langsung menyiapkan kembali peralatan. Pengecekan alat merupakan kewajiban seorang diver karena peralatan itulah yang mendukung keselamatan hidup diver. Seperti yang saya alami, sewaktu memeriksa tekanan tabung, terdengar desisan dari regulator first stage. Ketika dibuka, betul saja, O-ring di kepala tabung sudah copot hilang entah kemana.
Untuk sesi yang kedua, Pak Monkerhey mengusulkan menjelajahi wilayah sekitar tambak, siapa tahu ada jaring bocor jadi kami bisa dapat ikan gratis
Diving berdua dengan master diver seperti Pak Monkerhey sangat menyenangkan. Meskipun umurnya sudah sepuh, beliau masih sangat bugar sehingga terlihat lebih muda dari usia sebenarnya. Di lokasi sekitar tambak, kondisi terumbunya lebih baik lagi. Beragam ikan warna-warni dan ditambah lagi kami sempat menemukan beberapa jenis nudibranch (siput laut). Nudibranch termasuk hewan favorit diver karena warnanya yang sangat menakjubkan. Di laut Bontang sini nudibranch yang ada kebanyakan berwarna kombinasi oranye, putih dan biru tua. Tapi kami sempat menemukan nudibranch yang full oranye
! Cantik sekali
Kami juga menemukan lautan rumput laut yang cukup luas. Segarnya melihat warna hijau di dasar laut! Apalagi ditambah dengan sekawanan ikan bermain-main di atas lapangan rumput laut itu. Wahhh betul-betul pemandangan yang sangat menakjubkan
Sayang tidak berapa lama kepala saya terasa pening
Daripada terjadi apa-apa saya memberi sinyal acungan jempol tanda naik ke permukaan kepada Pak Monkerhey. Saya menduga setelan masker yang terlalu ketat adalah penyebabnya. Dan ternyata betul, di permukaan begitu masker saya buka, pusing langsung hilang. Ini pelajaran penting buat saya, harus lebih hati-hati menset masker. Setelah pusing hilang, saya mengajak Pak Monkerhey untuk pulang sambil diving mengingat rekan-rekan diver yang lain barangkali sudah bosan menunggu.
Perjalanan pulang dengan Lollypop terasa lebih cepat karena ada tambahan lagi beberapa anggota yang menyusul memakai speedboat yaitu Bu Debby (isteri Pak Ichwan), Oom Victor Tijouw dan anaknya yang cantik
, Vivi Tijouw.
Sampai di Boathouse sekitar pukul 15.30 WITA, waktunya bongkar dan mengembalikan peralatan. Beruntung seluruh anggota klub sudah sadar dengan pentingnya memelihara alat sehingga tidak perlu lagi diinstruksikan ini itu. Semua alat dengan hati-hati diangkut, direndam dan dicuci di kolam pembilas sebelumnya disimpan di gudang Badak Diving Club.
Teman-teman, sampai jumpa di fun dive BDC berikutnya!
Thursday, 20. October 2005, 02:39:32
Secara harfiyah, I'tikaf adalah tinggal di suatu tempat untuk melakukan sesuatu yang baik. Dengan demikian, I'tikaf adalah tinggal atau menetap di dalam masjid dengan niat beribadah guna mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Penggunaan kata I'tikaf di dalam Al-Qur'an terdapat pada firman Allah Swt:
"Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf di dalam masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat ayat-Nya kepada manusia supaya mereka bertaqwa (QS 2:187).
Di dalam Islam, seseorang bisa beri'tikaf di masjid kapan saja, namun dalam konteks bulan Ramadhan, maka dalam kehidupan Rasulullah Saw, I'tikaf itu dilakukan selama sepuluh hari terakhir. Diantara rangkaian ibadah dalam bulan suci Ramadhan yang sangat dipelihara sekaligus diperintahkan (dianjurkan) oleh Rasulullah SAW adalah I'tikaf. I'tikaf merupakan sarana muhasabah dan kontemplasi yang efektif bagi muslim dalam memelihara dan meningkatkan keislamannya, khususnya dalam era globalisasi, materialisasi dan informasi kontemporer.
Hukum I'tikaf
Para ulama telah berijma' bahwa I'tikaf khususnya 10 hari terakhir pada bulan Ramadhan merupakan suatu ibadah yang disyariatkan dan disunnahkan. Rasulullah SAW sendiri senantiasa beri'tikaf pada bulan Ramadhan selama 10 hari. Aisyah, Ibnu Umar dan Anas Radliallahu 'Anhum meriwayatkan :''Rasulullah SAW selalu beri'tikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan '' (HR. Bukhori dan Muslim)
Hal ini dilakukan oleh beliau hingga wafat, bahkan pada tahun wafatnya beliau beri'tikaf selama 20 hari. Demikian pula halnya dengan para shahabat dan istri Rasulullah Saw senantiasa melaksanakan ibadah yang amat agung ini. Imam Ahmad berkata: "Sepengetahuan saya tidak ada seorangpun dari ulama yang mengatakan bahwa I'tikaf itu bukan sunnah."
Keutamaan Dan Tujuan I'tikaf
Abu Daud pernah bertanya kepada Imam Ahmad: Tahukah anda hadits yang menunjukkan keutamaan I'tikaf? Ahmad menjawab: Tidak, kecuali hadits yang lemah. Namun demikian tidaklah mengurangi nilai ibadah I'tikaf itu sendiri sebagai taqorrub kepada Allah SWT. Dan cukuplah keutamaannya bahwa Rasulullah, para shahabat, para istri Rasulullah SAW dan para ulama salafusholeh senantiasa melakukan ibadah ini.
I'tikaf disyariatkan dalam rangka mensucikan hati dengan berkonsentrasi semaksimal mungkin dalam beribadah dan bertaqorrub kepada Allah pada waktu yang terbatas tetapi teramat tinggi nilainya. Jauh dari ritunitas kehidupan dunia, dengan berserah diri sepenuhnya kepada Sang Kholiq (Pencipta). Bermunajat sambil berdo'a dan beristighfar kepadaNya sehingga saat kembali lagi dalam aktivitas keseharian dapat dijalani secara lebih berkualitas dan berarti.
Ibnu Qoyyim berkata : I'tikaf disyariatkan dengan tujuan agar hati beri'tikaf dan bersimpuh dihadapan Allah, berkhalwat denganNya, serta memutuskan hubungan sementara dengan sesama makhluk dan berkonsentrasi sepenuhnya kepada Allah.
Macam macam I'tikaf
I'tikaf yang disyariatkan ada dua macam :
1. I'tikaf sunnah yaitu I'tikaf yang dilakukan secara sukarela, semata mata untuk bertaqorrub kepada Allah, seperti I'tikaf 10 hari terakhir pada bulan Ramadhan.
2. I'tikaf wajib yaitu yang didahului dengan nadzar atau janji, seperti ucapan seseorang "kalau Allah ta'ala menyembuhkan penyakitku ini, maka aku akan beri'tikaf di masjid selama tiga hari", maka I'tikaf tiga hari itu menjadi wajib hukumnya.
Waktu I'tikaf
Untuk I'tikaf wajib tergantung pada berapa lama waktu yang dinadzarkan, sedangkan I'tikaf sunnah tidak ada batasan waktu tertentu. Kapan saja, pada malam atau siang hari, waktunya bisa lama dan juga bisa singkat, minimal dalam madzhab Hanafi: sekejab tanpa batas waktu tertentu, sekedar berdiam diri dengan niat. Atau dalam madzhab Syafi'i: sesaat atau sejenak (yang penting bisa dikatakan berdiam diri), dan dalam madzhab Hambali, satu jam saja.
Terlepas dari perbedaan pendapat ulama tadi, waktu I'tikaf yang paling afdhal pada bulan Ramadhan ialah sebagaimana dipratekkan langsung oleh Baginda Nabi SAW yaitu 10 hari terakhir bulan Ramadhan.
Tempat I'tikaf
Ahli fiqh berbeda pendapat tentang tempat yang boleh dijadikan untuk I'tikaf, Abu Hanifah dan Ahmad berpendapat bahwa I'tikaf harus dilakukan di masjid yang selalu digunakan untuk shalat berjama'ah, sedangkan Malik dan Syafi'i berpendapat bahwa I'tikaf boleh dilakukan dimasjid manapun baik yang digunakan untuk shalat berjama'ah ataupun tidak, sedangkan pengikut syafi'iyah berpendapat bahwa sebaiknya I'tikaf itu dilakukan dimasjid jami' yang biasa digunakan untuk shalat jum'at, agar ia tidak perlu keluar masjid ketika mau melakukan shalat jum'at, dan lebih afdhol lagi bila I'tikaf itu dilaksanakan di salah satu dari tiga masjid; masjid al haram, masjid Nabawi atau masjid Aqsho. (lihat: Al Mughni 4/462, Fiqh Sunnah 1/402)
Syarat syarat I'tikaf
Orang yang I'tikaf harus memenuhi kriteria kriteria sebagai berikut:
1. Muslim
2. Berakal
3. Suci dari janabah (junub), haidh dan nifas
Oleh karena itu I'tikaf tidak sah dilakukan oleh orang kafir,anak yang belum mumaiyiz (mampu membedakan), orang junub, wanita haidh dan nifas.
Rukun I'tikaf
1. Niat yang ikhlas, hal ini karena semua amal sangat tergantung pada niatnya.
2. Berdiam di masjid (QS Al-Baqarah : 187)
Awal Dan Akhir I'tikaf
Bagi yang mengikuti sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dengan beri'tikaf selama 10 hari terakhir bulan Ramadhan, maka waktunya dimulai sebelum terbenam matahari malam ke-21 sebagaimana sabda Rasulullah Saw: "Barangsiapa yang ingin I'tikaf dengan aku, hendaklah ia I'tikaf pada 10 hari terakhir."
Adapun waktu keluarnya atau berakhirnya, yaitu setelah terbenam matahari pada hari terakhir bulan Ramadhan. Akan tetapi beberapa kalangan ulama mengatakan yang lebih mustahab (disenangi) adalah menunggu sampai akan dilaksanakannya shalat Ied.
Hal hal Yang Disunnahkan disaat I'tikaf
Disunnahkan bagi orang yang beri'tikaf untuk memperbanyak ibadah dan taqarrub kepada Allah SWT, seperti shalat sunnah, membaca Al-Qur'an, tasbih, tahmid, tahlil, takbir, istighfar, shalawat kepada Nabi Saw, do'a dan sebagainya. Namun demikian yang menjadi prioritas utama adalah ibadah-ibadah mahdhah. Bahkan sebagian ulama seperti Imam Malik, meninggalkan segala aktivitas ilmiah lainnya dan berkosentrasi penuh pada ibadah-ibadah mahdhah.
Dalam upaya memperkokoh keislaman dan ketaqwaan, diperlukan bimbingan dari orang orang yang ahli, karenanya dalam memanfaatkan momentum I'tikaf bisa dibenarkan melakukan berbagai kajian keislaman yang mengarahkan para peserta I'tikaf untuk membersihkan diri dari segala dosa dan sifat tercela serta menjalani kehidupan sesudah I'tikaf secara lebih baik sebagaimana yang ditentukan Allah Swt dan RasulNya.
Hal-Hal Yang Diperbolehkan
Orang yang beri'tikaf bukan berarti hanya berdiam diri di masjid untuk menjalankan peribadatan secara khusus, ada beberapa hal yang diperbolehkan.
1. Keluar dari tempat I'tikaf untuk mengantar istri, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah SAW terhadap istrinya Shofiyah Radliallahu 'Anhu (HR. Bukhori Muslim).
2. Menyisir atau mencukur rambut, memotong kuku, membersihkan tubuh dari kotoran dan bau badan.
3. Keluar ke tempat yang memang amat diperlukan seperti untuk buang air besar dan kecil, makan, minum, (jika tidak ada yang mengantarkan), dan segala sesuatu yang tidak mungkin dilakukan di masjid. Tetapi ia harus segera kembali setelah menyelesaikan keperluannya.
4. Makan, minum dan tidur di masjid dengan senantiasa menjaga kesucian dan kebersihan masjid.
Hal-Hal Yang Membatalkan I'tikaf
1. Meninggalkan masjid dengan sengaja tanpa keperluan, meski sebentar, karena meninggalkan masjid berarti mengabaikan salah satu rukun I'tikaf yaitu berdiam di masjid.
2. Murtad (keluar dari agama Islam)
3. Hilang Akal, karena gila atau mabuk
4. Haidh
5. Nifas
6. Berjima' (bersetubuh dengan istri), tetapi memegang tanpa nafsu (syahwat), tidak apa apa sebagaimana yang dilakukan Nabi dengan istri istrinya.
7. Pergi Shalat Jum'at (bagi mereka yang memperbolehkan I'tikaf di musholla yang tidak dipakai shalat jum'at).
Demikian ketentuan tentang I'tikaf yang menjadi panduan praktis, semoga pada Ramadhan tahun ini, kita dapat menghidupkan kembali sunnah I'tikaf sebagai bekal kita meraih nilai taqwa yang maksimal.
Sumber: Buku Ramadhan by Iman Santoso
« Prev 1 ... 8 9 10 11 12 13 14 Next »
Showing posts 121 -
130 of 134.